Chapter 4

The Past I

*

Sebuah sore yang cerah, secerah suasana Yoongi dan Seokjin yang masih remaja. Mereka tertawa riang berjalan beriringan di trotoar jalanan tak jauh dari sekolah memengah mereka, lagi-lagi mereka berhasil mengelabuhi supir yang menjemput mereka karena ingin ikut bertanding basket dengan tim basket jalanan yang biasa mereka kunjungi diam-diam, tentu karena kakek mereka yang melarang demi alasan keselamatan. Namun Yoongi dan Seokjin remaja bukanlah tipe remaja yang penurut tentunya. Mereka berdua sangat suka basket terlebih Yoongi, dia bahkan menjadi kapten tim basket jalanannya dan tak jarang memenangkan pertandingan dan memenangkan taruhan. Bukan uang yang mereka cari, mereka keturunan konglomerat jadi taruhan bukan tujuan mereka, melainkan kesenangan, kepuasan mengalahkan tim lawan yang mereka cari.

"kau lihat wajah Kang ajusshi hyung? Hahahaha sungguh lucu sekali, wajah gugupnya itu benar-benar membuatku sakit perut Hahaha" tawa Yoongi masih meledak disamping Seokjin yang juga tak kalah, tertawa terbahak.

"Hahaha iya. Kurasa kita perlu meminta maaf pada kang ajusshi saat pulang nanti Yoongi. Kasian, hehehe" Seokjin menimpali dan menepuk sebelah bahu Yoongi, pun Yoongi mengangguk setuju masih dengan tawanyanya yang tersisa sedikit-sedikit.

Namun belum sampai pada tempat tujuan, langkah mereka berdua terhenti, karena melihat kejadian tak menyenangkan. Diujung gang sempit yang mereka lewati seorang pemuda dipojokkan oleh segerombolan pemuda yang berseragam sama seperti Yoongi dan Seokjin.

"Beri tahu kami Jeon, apa ayahmu merampok sebuah bank, huh? apa ayahmu seorang koruptor? kenapa keluarga kalian bisa kaya mendadak?" Todong salah satu dari gerombolan pemuda yang memojokkan si pemuda yang terpojok, mendorongnya hingga punggungnya menabrak dinding ujung gang sempit.

"T-Tidak ayahku bukan seorang seperti itu" Jawab pemuda itu tergugup takut "Usaha kami hanya berhasil, sunbaenim, kumohon lepaskan aku" pemuda itu memohon.

"Tidak!!! orang sepertimu tidak pantas ada disekolah kami, kami tidak akan berhenti menindasmu sampai kau keluar dari sekolah kami, Jeon Jungkook" Ujar salah seorang lagi sembari menarik kerahnya kasar.

Ddduukkkk~

Yoongi yang sudah tidak tahan dengan kelakuan mereka langsung melemparkan bola basket yang sedari tadi digendongnya ke kepala pemuda yang menarik kerah baju Jungkook. Reflek dengan kesal para segerombolan pemuda menoleh ke arah Yoongi dan Seokjin berdiri.

"Beraninya kalian mengeroyok anak kecil tak berdaya" Teriak Yoongi.

Sang pemuda yang terkena lemparan bola Yoongi berdecak "Bukan urusan kalian"

"Memang bukan, tapi tingkah kalian mempermalukan seragam sekolah kita" Kali ini Seokjin yang bicara.

"Bukan kami yang kau maksud dengan mempermalukan sekolah, tapi bocah ini" pemuda itu menuding Jungkook yang berdiri ketakutan, terpojok. "Dia bermimpi bisa menjadi seperti kita, dia hanya kaya dalam semalam apa itu mungkin?"

"Memangnya apa yang salah dari itu, toh dia kaya tidak mencuri uang kalian kan?"

Kalimat Yoongi semakin menyulut amarah para gerombolan pemuda itu, perkelahian pun tak terelakan, mereka saling baku hantam. Meski kalah jumlah Yoongi dan Seokjin mampu mengatasi para gerombolan itu meninggalkan seorang pemuda yang berdiri resah dan ketakutan diujung gang. Ternyata ada untungnya juga setiap hari sabtu dan minggu, Yoongi dan Seokjin selalu ikut les bela diri yang berguna dalam keadaan terdesak seperti ini.

Pihak Yoongi dan Seokjin menang, para gerombolan itu sudah tumbang, namun saat Seokjin berjalan mendekati Jungkook untuk menolongnya, seorang pemuda yang masih sanggup berdiri hendak menghantam Seokjin dengan balok kayu namun dihentikan Yoongi dengan mengorbandirinya yang terkena pukulan balok itu.

Seokjin yang mendengar pekikan suara kesakitan Yoongi yang ambruk dibelakangnya langsung berbalik dan menghajar pemuda yang menyerang Yoongi hingga kewalahan dan para gerombolan itu mulai pergi satu per satu dengan tubuh babak belur.

"Yoongi kau tidak apa-apa?" Tanya Seokjin lalu menopang tubuh Yoongi untuk berdiri, Yoongi hanya mengangguk sambil menahan rasa sakit dipunggungnya.

"T-terima kasih" ujar Jungkook mendekati mereka berdua.

"Sama-sama" Seokjin membalas tersenyum "Apa kau bisa membantu aku membopong adikku, kita harus segera membawanya pulang untuk diobati" Seokjin ikut mengernyit melihat raut wajah Yoongi yang sudah pucat namun masih menahan sakit, mungkin pukulan pemuda tadi cukup keras, entah alasan apa yangvakan diberikan Seokjin pada kakeknya kala sampai rumah nanti.

Jungkook mengangguk dengan cepat lalu meraih sebelah lengan Yoongi yang bebas dari Seokjin untuk disampirkn dipundaknya.

Mereka bertiga pun berjalan mengimbangi Yoongi yang berjalan tertatih karena sakit dipunggungnya.

"Oh ya, ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya Seokjin disela perjalan mereka.

"Jungkook, Jeon Jungkook. Aku pindah seminggu yang lalu disamping rumah kalian" Jawab Jungkook dia sempat melihat Yoongi dan Seokjin saat kepindahannya disebelah rumah mereka hanya mereka saja mereka yang tak menyadari kepindahan Jungkook, tentu Jungkook hanyalah orang kaya baru yang tidak akan mencuri perhatian anggota keluarga Min.

"Oh ya??? Kalau begitu kita searah. Kau bisa membantuku sampai rumah" Jungkook mengangguk senang menjawab Seokjin.

"Jadi... kau si cinderella yang menjadi kaya hanya dalam waktu semalam?"

Celetuk Yoongi yang langsung membuat Jungkook merasa sedih mengingat bagaimana ia ditindas karena statusnya sebagai orang kaya baru dan buru-buru mendapat lirikan tajam dari Seokjin "Yoongi..." tegurnya.

Yoongi hanya tersenyum lalu mengusap kepala Jungkook dengan tangannya yang tersampir dipundak Jungkook, "Tenang saja... Cinderella punya teman sekarang"

Jungkook tersenyum penuh haru kepada Yoongi dan Seokjin, memperlihatkan gigi kelincinya yang terlihat sangat manis dengan mata penuh binar seperti anak kecil yang mendapat hadiah. Sejak saat itulah Jungkook berkawan baik dengan Yoongi dan juga Seokjin sebagai tetangganya.

*

*

*

*

*

"Hyung!!!" Jungkook langsung memeluk Yoongi yang muncul diruang tamu. "Aku rindu" ujarnya kala mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Yoongi.

"Aku juga" balas Yoongi tersenyum menepuk-nepuk punggung lebar Jungkook, Jungkook yang dulu polos lebih kecil dari Yoongi kini berubah menjadi pemuda kekar yang menawan membuat Yoongi sedikit merasa bangga atasnya. "Sekarang lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas"

Jungkook tersenyum sadar jika ia memeluk Yoongi terlalu erat, lalu melepaskan pelukannya baralih menggenggam kedua tangan Yoongi dalam kedua tangannya. Menatap penuh binar Yoongi seolah tidak percaya jika ia benar-benar bertemu dengan Yoongi, hingga melupakan bahwa ia tidak datang sendirian, seorang pemuda berdiri diantara mereka berdua dan berdeham, menyadarkan kembali Jungkook.

"Oh ya hyung, perkenalkan ini suamiku. Kim Taehyung" perkenalkan Jungkook menuntun suaminya menghadap Yoongi.

Taehyung mengulurkan tangannya kearah Yoongi yang langsung disambut olehnya "Perkenalkan, aku suami Jungkook, Kim Taehyung. Jungkook selalu menceritakanmu dan tentang kerinduannya yang ingin bertemu denganmu hyung" ujar Taehyung sembari melirik istrinya yang sudah malu-malu yang membuat Taehyung gemas dibuatnya, Teahyung melepaskan jabatan tangannya dengan Yoongi kemudian.

"Ngomong-ngomong dimana suamimu hyung? Park Brengsek Jimin" Yoongi hampir tersedak tawanya mendengar panggilan Taehyung kepada Jimin, dia merasa setuju dengan panggilan itu, ternyata bukan dirinya saja yang menganggap bahwa Jimin itu brengsek.

"Dia ada diruangannya" Jawab Yoongi menahan tawa, menunjuk ruang dari ia keluar.

Taehyung mengangguk lalu berjalan menuju ruangan yang ditunjuk Yoongi.

"Ngomong-ngomong apa hubunganmu dengan Jimin?" Tanya Yoongi menghentikan Taehyung untuk berbalik menghadapnya.

"Aku?" Taehyung menunjuk dirinya sendiri "Aku malaikat baik hati yang mau berteman dengan iblis seperti Jimin" Jawabnya yang lalu berjalan meninggalkan Yoongi dengan Jungkook berdua diruang tamu. Yoongi lagi-lagi tersenyum dibuatnya, bertemu manusia nyentrik yang menyenangkan seperti suami Jungkook itu.

*

"Katakan hyung apa yang sudah terjadi? aku melihat beritamu di TV? aku juga tidak bisa menghubungimu? kurasa mereka memberikan informasi yang salah dengan nomer telponmu? aku juga tidak melihatmu di pemakaman pimpinan Min? Seokjin hyung juga berubah?" Tanya Jungkook memberondong Yoongi.

Yoongi hanya menghela nafas panjang lalu menarik Jungkook untuk duduk bersama disofa ruang tamu yang besar. "Ceritanya panjang Kook-ah"

"Aku punya banyak waktu hyung"

Dengan jawaban Jungkook itupun, cerita Yoongi mengalir dari mulutnya bagai air terjun. Bagaimana ia tidak tahu tentang kematian kakeknya, tentang ia yang diusir saat baru kembali ke Seoul, pamannya dan sepupu yang selama ini ia sayangi tak peduli padanya, bagaimana kakeknya secara rahasia menikahkannya, membuatnya terjebak bersama Jimin dalam istananya.

Jungkook yang medengarkan dengan sangat lamat merasa simpatik, ia berakhir kembali memeluk Yoongi.

"Aku tak mengira mereka tega kepadamu hyung, Jin hyung..." Jungkook tak melanjutkan kalimatnya, masih tak percaya dengan apa yang didengarnya, setahu Jungkook, Seokjin dan Yoongi saling menyayangi sebagai saudara tapi tidak disangka, harta dan kekayaan memang dapat mengubah seseorang. Pantas jika ia tak bisa menemui Seokjin sejak kematian kakek mereka, ternyata ada banyak hal yang terjadi yang ia tidak tahu.

"Lalu..." Jungkook melepaskan pelukannya "Bagaimana dengan Jimin? Aku mengenalnya karena dia teman Taehyung. Dia sangat arogan dan sarkastik. Dia bukan tipe orang yang peduli dengan orang lain, apa lagi sampai membantumu. Apa tujuannya hyung?"

Jungkook benar, meski baru mengenal Jimin beberapa hari, Yoongi tahu bagaimana searogannya seorang Jimin. Pertanyaan Jungkook menjadi pertanyaan pada dirinya juga saat ini. Jimin pernah mengungkit tentang dirinya yang menjadi imbalan tapi apa alasan yang membuat Jimin menginginkan dirinya sebagai imbalan pun Yoongi tidak tahu.

Yoongi hanya mengangkat bahunya kepada Jungkook, tak berniat menceritakan tentang perjanjian mereka kepada Jungkook, mungkin belum saatnya untuk bercerita.

*

*

"Aku mendengarmu Kim Kurang ajar Taehyung" Sambut Jimin mendapati Taehyung yang baru masuk kedalam ruangan kerjanya dia tinggal sendiri dalam ruangan, Hoseok sudah meninggalkannya sesaat sebelum Taehyung masuk.

Taehyung hanya menyengir sambil lalu berjalan mendekati meja kerja Jimin dan duduk di kursi di depan Jimin bekas Yoongi duduk tanpa dipersilahkan terlebih dulu oleh Jimin.

Jimin hanya menghembuskan nafas kasar, inilah kenapa dia tidak ingin menerima tamu dirumahnya, terlebih Taehyung dengan segala sikap kekurang ajarannya hanya akan mengganggu suasana rumahnya yang damai.

"Kau tidak adil Jimin" keluh Taehyung menyila tangannya didada dengan duduk bersandar di kursi yang ia duduki.

Jimin mengerlingkan keningnya, apa yang dimaksud dengan tidak adil oleh Taehyung.

"Aku menikah mengundangmu, sedangkan kau menikah tak mengundangku, sungguh teman yang setia" Bibir Taehyung mengerucut kesal.

Jimin hanya memutar bola matanya jengah "Tidak usah kekanakan, kau tahu jelas bagaimana pernikahan ini bisa terjadi"

Raut wajah Taehyung berubah sepenuhnya mendengar jawaban Jimin, dari wajahnya yang kesal kekanakan menjadi wajah serius menatap Jimin, duduknya juga beruba menjadi tegap sekarang.

"Aku masih tidak mengerti bagaimana seorang Jimin yang tak peduli dengan orang lain bisa dengan mudah menyetujui permintaan tolong dari seorang saingannya"

"Kau tahu kalau niatku untuk menghancurkan perusahaan mereka" Jimin masih ogah-ogahan menanggapi kalimat Taehyung, dia hanya kembali sibuk dengan berkas-berkas dihadapannya.

"Alibi... Kau bisa saja mengahancurkan perusaan mereka setelah kematian pimpinan Min, hanya dia sainganmu, anaknya tak sehebat dirimu, Yoongi hyung tidak perlu terlibat dalam hal ini"

Jimin menghela nafas panjang, lelah dengan ocehan Taehyung, diletakkan berkas yang ia lihat di atas meja.

"Sudahlah... Apa kau kesini hanya ingin mengulang percakapan yang sama?" alis Jimin tertarik satu, tanganya sudah mulai mengeras diatas meja.

Taehyung melihat itu, jika sudah seperti ini Taehyung hanya bisa berhenti, berhenti mengganggu Jimin dengan rasa keingintahuannya kepada Jimin.

"Tentu tidak, aku memiliki informasi mengenai keluarga Min dan..." Taehyung terlihat menimbang sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya "... Juga keluargaku"

Alis Jimin yang satu ikut naik mendengar informasi dari Taehyung apa hubungannya keluarga Yoongi dengan keluarga temannya ini.

"Min Yoonsik berencana menjodohkan putranya dengan kakakku, Min Seokjin akan dijodohkan dengan Kim Namjoon. Kau tahu apa itu artinya? perkawinan dua perusahaan" jelas Taehyung yang langsung membuat atensi Jimin menyorot tajam.

"Apa ayahmu sudah gila? bagaimana dia bisa menerima perjodohan itu?"

Taehyung hanya mengangkat bahu tak tahu "Ku rasa Min Yoonsik ahli merayu"

"Apa rencanamu selanjutnya Jim?"

Pertanyaan Taehyung yang serupa dengan Yoongi membuat Jimin kembali mengingat kejadian malam kemarin dikamar Yoongi, membuat bibirnya menyunggingkan sebuah seringaian penuh tanya "Entahlah" jawabnya asal.

Dan Taehyung hanya berakhir dengan banyak spekulasi di kepalanya dengan jawaban Jimin.

*

*

*

*

*

To be continoued

-

Maaf masih gak bisa buat chapter lebih panjang, susah kalau per chapter punya judul itu. Hehehe emang otaknya dangkal ajah kepikiran nulis cuma segini.

Yang sabar ya buat para reader, saya nulisnya berdasarkan mood, ini update makin kesini makin lama.

Semoga masih ada yang mau baca dan berbagi review.

Khamsahamnida

Jibangie