Chapter 5

The Meeting

*

Yoongi bermimpi, ini pasti mampi. Yoongi bermimpi mendaki gunung Seorak bersama Seokjin dan Jungkook sama seperti saat mereka dulu. Mungkin setelah pertemuannya dengan Jungkook sampai terbawa ke alam mimpi, mereka bertiga bersama mendaki, mencapai puncak gunung Seorak, tersenyum bersama menikmati pemandangan indah dari puncak gunung.

Yoongi memandang bergantian Seokjin dan Jungkook yang berdiri di samping kiri-kanannya, harusnya seperti ini, mereka bertiga harusnya masih bersama menjadi sahabat dan saudara Yoongi, harusnya. Jika ini mimpi biarkan Yoongi selamanya bermimpi kalau begitu.

Tatapan Yoongi berubah jadi sedih sosok Seokjin dan Jungkook mulai pudar disampingnya, Yoongi panik ingin mencegah bayangan mereka yang memudar tapi tak bisa tangan Yoongi hanya meraih udara kosong bersamaan hilangnya Seokjin dan Jungkook sepenuhnya.

Saat dirinya menoleh ke sekitar pemandangan indah gunung Seorak sudah berubah menjadi sebuah pemandangan air terjun yang Yoongi ingat ia pernah tersesat ke sini saat pendakiannya bersama Seokjin dan Jungkook dulu, air terjun Yukdam, yang anehnya ia berdiri diatas aliran sungai tepat menghadap tirai air terjun Yukdam yang mengalir dari atas. Ia takut bukan main, meski sadar bahwa ia bermimpi tapi mimpinya terasa menakutkan, ia takut akan tersesat sendirian, ia benci sendirian. Ia menoleh ke kanan-kiri mencari Seokjin dan Jungkook namun hanya kesunyian yang didapat hanya suara gemericik air terjun yang menemani Yoongi.

Namun rasa takutnya hilang begitu saja kala kemumculan sosok dari balik tirai air terjun, sosok itu keluar menembus aliran air terjun yang jatuh ke bawah, sosok pemuda bersurai coklat terang yang basah, dengan kemeja putih dan celana hitamnya yang juga basah karena melewati air terjun. Yoongi memicingkan mata mengenali sosok pemuda itu sebagai sosok Jimin, namun seolah ada sesuatu yang menenangkan dalam dirinya, ia hanya berdiri tak menghindar saat Jimin tengah berdiri dihadapannya diatas permukaan aliran sungai, membelai sebelah bahu bagian atasnya dengan tangan dingin Jimin menuruni garis panjang lengannya hingga jari-jarinya bertemu dengan jari-jari Jimin dan menautkan kedua jari mereka.

Jimin bergerak semakin mendekatinya, wajahnya sudah berada diceruk leher Yoongi, mengendusnya dengan nafas yang dingin membuat Yoongi bergidik. Tanpa sadar Yoongi mengigit bibir bawahnya saat Jimin menciumi setiap permukaan kulit lehernya, terasa nyata dan nikmat, sungguh mimpi yang erotis. Yoongi membiarkan Jimin membuka bajunya perlahan melanjutkan bibirnya yang terus mengecupi tubuh Yoongi.

Lenguhan Yoongi lolos saat bibir dingin Jimin bertemu dengan sebelah putingnya, Jimin menyesapnya seduktif, Yoongi pasrah kenikmatan mempengaruhinya, tangannya menggapai-gapai surai rambut Jimin sebagai pelampiasan. Bibir Jimin mulai semakin turun ke bagian bawah tubuhnya, terus turun hingga bibir Jimin bertemu puncak kenikmatan Yoongi, miliknya yang entah bagaiman sudah terbebas dari celana yang dipakainya sebelumnya.

*

Yoongi membuka matanya lebar, benar-benar membuka matanya, ia bangun. Tapi Jimin masih tetap disana mulai mengulum miliknya yang menegang, ternyata bukan hanya didalam mimpi, Jimin benar-benar mencumbunya saat dirinya tidur. Yoongi panik, dia ingin bangkit namun pinggulnya ditahan oleh Jimin.

"Jangan bergerak, biarkan aku mengurus ini terlebih dulu" gumamnya dengan suara serak dipagi hari, yang langsung kembali memasukkan milik Yoongi ke dalam mulutnya dalam hingga milik Yoongi bisa merasakan tenggorokan Jimin. Kepala Yoongi terhempas kebelakang seketika karena nikmat, tangannya sudah meremas seprai dibawah tubuhnya, merasakan mulut lembut Jimin menyesap miliknya, ditariknya milik Yoongi yang sudah mengeras sepenuhnya keluar masuk mulutnya dengan tanganya yang juga sibuk meremas bokong kenyal Yoongi.

Oh Yoongi gila dibuatnya, dia tidak tahan untuk mendesah kenikmatan, dia sudah dekat, dia hampir sampai Jimin bisa mersakannya, Jimin semakin cepat menghisap milik Yoongi dan...

Putih menjemput Yoongi, dia telah sampai pada puncaknya, kenikmatan yang tak pernah Yoongi rasakan.

Hasratnya keluar banyak dimulut Jimin hingga lumer-lumer dibibirnya, Jimin menegak semuanya tak bersisa, Yoongi yang terengah-engah menyaksikan Jimin yang melepaskan mulutnya dari miliknya, menjilat bibir bawahnya karena tumpahan hasrat Yoongi.

Jimin bangkit dari tubuhnya, menyeringai puas "Rasanya sangat manis" ujarnya sembari menarik selimut menutupi tubuh telanjang Yoongi, dia hanya merapikan pakaiannya yang berantakan sedikit lalu pergi meningglkan Yoongi dengan sisa-sisa kepuasannya.

Yoongi yang masih linglung atas apa yang baru saja terjadi, tak berdaya, tubuhnya lemas hanya meringkuk memeluk selimutnya erat, selimut ini, ranjang ini, ini di kamar Jimin. Yoongi ingat semalam sepulangnya Jungkook dan taehyung, ia mempelajari berkas-berkas yang ditunjukkan Jimin tentang rencana bahwa ia akan datang ke kantor kakeknya, ia mungkin tertidur karena kelelahan, mungkin Jimin memindahkan dirinya ke kamarnya saat Yoongi tertidur diruang kerjanya dan yang tak habis Yoongi pikir, Jimin berhasil membangunkannya dengan blow jobnya di pagi buta. Sungguh manusia brengsek yang Yoongi pernah temui. Lagi-lagi Yoongi hanya bisa membiarkan Jimin dengan segala perilaku kurang ajarnya.

*

Jimin menutup pintu kamarnya setelah meninggalkan Yoongi, punggungnya lalu bersandar di daun pintunya, dadanya naik turun menarik nafas berantakan. Seteleah perbuatan nekat yang dilakukannya, nafsunya juga sudah tidak bisa di tahan, awalnya dia hanya ingin membangunkan Yoongi yang terlihat bermimpi buruk dengan menggodanya, tapi tak disangka reaksi tubuh Yoongi terhadap sentuhannya menyambut baik, dan pada akhirnua terjadilah begitu saja Jimin memancing nafsu Yoongi yang masih terlelap.

Dia melirik ke bagian bawah celananya, disana miliknya juga sudah menegang, ingin sekali memasuki lubang Yoongi dan melampiaskan semua hasratnya di dalam tubuh Yoongi, tapi dia masih harus menahannya, dia tidak bisa melampiaskan nafsunya begitu saja pada Yoongi, karena Yoongi bukanlah pelacur-pelacur yang pernah Jimin tiduri. Jimin hanya ingin memiliki Yoongi sepenuhnya jika saatnya tiba.

Tapi sebelum itu, sepertinya Jimin harus mengurus miliknya terlebih dulu.

*

*

*

Yoongi selesai bersiap, dia mengenakan setelan jas hitam dan kemeja putih dengan dasi hitam tergantung rapi dikerah kemejanya, lengkap dengan sepatu fantovel hitam di kakinya, rambut hitamnya disisir rapi memperlihatkan sedikit kening mulusnya. Dia memandang bayangan dirinya di kaca meja rias samping ranjangnya. Jangan ditanya kenapa Yoongi sudah kembali ke kamarnya, tentu karena dia tidak ingin berlama-lama di kamar Jimin, atau hal-hal kurang yang tak diinginkannua bisa terjadi lagi, setelah sisa-sisa kesadarannya kembali dari pelepasan kenikmatan, cepat-cepat ia kembali ke kamarnya setelah mengenakan pakaiannya yang dibuang Jimin berantakan di lantai.

Suara ketukan pintu kamarnya menydarkan Yoongi, menghapus kenangan kejadian buruk yang baru saja terjadi.

"Yoongi... apa kau sudah siap. Jimin sudah menunggumu untuk sarapan" itu suara Hoseok yang sudah mengetuk pintu.

Yoongi menghela nafas dalam, lagi-lagi dia harus menghadapi Jimin. Entah kenapa Yoongi merasa nyalinya menciut, dia tidak bisa bersitatap dengan wajah Jimin, itu hanya akan mengingatkan akan kebodohannya di pagi tadi yang membiarkan Jimin membantu pelampiasan hasratnya. Oh Yoongi bisa gila dibuatnya, dia memijat-mijat kepalanya yang sebenarnya tidak pusing itu, masih merutuki dirina sendiri.

"Yoongi..." Hoseok memanggil lagi karena tak mendapat jawaban dari Yoongi.

"Iya... sebentar lagi aku turun" teriak Yoongi dari dalam kamarnya, berusaha menenangkan dirinya untuk bersikap normal dan melupakan apa yang sudah terjadi.

*

*

Bukan Jimin namanya kalau benar-benar menunggu Yoongi hanya untuk sarapan, herannya kenapa dia harus selalu meyuruh Hoseok memanggilnya jika sebenarnya dia tak berniat untuk makan berama, dan yang lebih mengherankan lagi kenapa juga ada perasaan tak nyaman mengetahui bahwa Jimin tidak berniat makan bersama dengannya.

Selebihnya monoton seperti biasa, mereka sibuk menyantap hidangan sarapan meraka tanpa suara.

"Jangan buat kesalahan" tegur Jimin saat mereka selesai dengan sarapan mereka.

"Khawatirkan saja dirimu" Jawab Yoongi santai sembari membersihkan bibirnya dari sisa makanan yang mungkin belepotan dibibirnya.

"Jangan mudah terpancing emosi nanti, lakukan dengan tenang. Hoseok akan menemanimu"

Kalimat Jimin berhasil merebut atensi Yoongi, dia terlihat antusias karenanya "Benarkah... Ah kau baik sekali" Yoongi senang dia tidak harus sendirian saat bertemu pamannya nanti.

"Dan kau baru tahu!!!" Jawab Jimin sinis "Apa sebegitu senangnya kau pergi dengan Hoseok?"

Yoongi mengangguk cepat menanggapi Jimin "Hoseok lebih baik daripada dirimu" celetuk Yoongi asal namun Jimin menanggapi terlalu serius, dia bangkit berdiri tergesa membuat derit bunyi kaki kursi bersentuhan dengan lantai begitu keras, dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan, Yoongi hanya acuh mengangkat bahu, bukankah Jimin memang selalu bersikap semaunya, biarkan saja kalau begitu.

*

*

Hoseok mempersilahkan Yoongi masuk ke dalam mobil, namun Yoongi tidak langsung menurut, dia berdiam diri melihat sekali lagi rumah mewah Jimin dihadapannya, aneh kenapa dia menunggu untuk bertemu Jimin sebelum ia pergi.

"Tuan Jimin sudah berangkat terlebih dulu Yoongi"

Yoongi berkedip sadar mendengar ucapan Hoseok "Aku tidak bertanya" Jawabnya kesal, kenapa juga Hoseok harus menyadari tingkah anehnya, dia masuk ke mobil dengan cepat dan membanting pintunya keras, meninggalkan Hoseok yang tersenyum, merasa lucu dengan tingkah Yoongi, sebelum ia mengambil duduk di kursi depan disamping supir. Mobil mereka melaju menuju kantor kakek Yoongi.

*

*

*

Ruangan rapat mulai kedatangan satu per satu dewan direksi perusahaan Min, ada sekitar 20 orang duduk melingkar di meja rapat yang cukup besar menyisahkan dua kursi utama di ujung meja, kursi pertama milik pimpinan Min yang sekarang sudah berpindah menjadi kursi milik anak keduanya Min Yoonsik dan yang kedua kursi Seokjin yang saat ini sedang tidak hadir dalam rapat.

Beberapa menit berlalu, para dewan direksi masih menunggu kedatangan direktur utama mereka, pembahasan rapat kali ini tentunya menenai pantas atau tidak kembalinya sang cucu utama keluarga Min bergabung dalam perusahaan. Namun pastinya dengan sengaja paman Yoongi tidak memberitahu Yoongi tentang adanya rapat tersebut agar Yoongi tidak berulah dan semuanya berjalan dalam genggamannya. Kalau bukan karena kekuasaan Jimin yang memiliki informan dimana-mana Yoongi pasti tidak akan tahu. Membiarkan Yoongi hadir dalam rapat itu merupaan salah satu dari rencana Jimin.

Yang ditunggu-tungi tiba, pintu ruang rapat terbuka, Min Yoonsik datang bersama seorang laki-laki dibelakangnya, sekertarisnya, yang lalu mengambil tempat duduknya, para dewan direksi membungkuk memberi salam sejenak lalu kembali duduk pada kursi masing-masing.

"Jadi bisa kita mulai meetingnya sekarang" Min Yoonsik memulai terlebih dulu, para dewan direksi mengangguk setuju.

Min Yoonsik mengambil nafas panjang sembelum bicara "Seperti yang kalian ketahui, keponakanku telah kembali dan menjadi istri dari saingan berat kita selama ini Park Company".

"Apa anda tidak tahu tentang ini direktur, mereka menyebutkan pernikahan mereka jauh sebelum pimpinan Min meninggal" sahut salah seorang dewan direksi yang Min Yoonsik kenali sebagai salah seorang yang sudah lama mengabdi pada ayahnya, tidak kaget jika ia memihak cucu kesayangan ayahnya yang entah tidak jelas keberadaanya. Tunggu saja sampai saat dimana ia benar-benar menguasai perusahaan, dia kan menyingkirkan setiap orang yang berada dipihak ayah dan keponakannya itu.

Dan tepat pada saat ia akan menjawab, pintu ruang rapat yang dibuka secara tiba-tiba mengehentikannya. Dia menoleh mencari tahu dan betapa terkejutnya ia saat melihat Yoongi, keponakannya yang datang bersama seorang pemuda yang tak dikenalinya, bukan sesuatu yang begitu menggangunya, melainkan kedatangan Yoongi sendiri yang menggangunya, bagaimana ia bisa tahu, berani-beraninya keponakannya ini kembali setelah diusirnya.

Yoongi membungkuk memberi salam dihadapan pamannya, menyeringai saat melihat wajah kaget pamannya, dalam batin Yoongi cukup puas melihatnya.

"Selamat pagi" salamnya kepada paman dan dewan direksi yang lain yang juga tak kalah terkejutnya dengan pamannya "Saya harap, saya tidak menggangu rapat kalian"

Yoongi mengambil tempat duduk kosong yang kebetulan berada di samping pamannya kursi milik Seokjon, meninggalkan Hoseok yang berdiri setia dibelakangnya. Pamannya memandangnya penuh kekesalan dibuatnya.

"Maafkan saya karena datang terlambat" Yoongi mulai bicara, sesuai instruksi Jimin dia harus tenang dan tidak membuat kekacauan, meski dalam hatinya ia sudah sangat ingin sekali meneriaki pamannya, marah atas apa yang sudah dilakukannya kepada dirinya.

"Tuan Min Yoongi, kenapa anda baru muncul setelah sekian lama Pimpinan Min meninggal, bukankah seharusnya anda menggantikan posisi pimpinan Min, mengingat anda cucu utama keluarga Min?" tanya salah seorang dewan direksi, Yoongi sudah sedikit mempelajari tentang perusahaannya dari Jimin, setidaknya dia tahu siapa saja para dewan direksi yang hadir pada rapat tersebut. Sebelumnya ia memang belum berniat bargabung dalam perusahaanya, dipikirnya kakeknya akan berumur panjang mengingat bagaimana ia memcintai perusahaannya sama seperti kakeknya mencintai dirinya, sehingga dia tidak perlu bersusah payah bergabung di perusahaan di usianya yang masih muda.

"Jangan bicara seperti itu, saat putra kedua keluarga Min berada disini Tuan Lee. Bukankah pamanku lebih pantas menjadi penerus kakekku?" Yoongi tersenyum ke arah pamannya seolah terlihat bangga, Yoongi harus memuji aktingnya ini, harusnya dia menjadi aktor saja dan memdapar predikat aktor terbaik karenanya. Pamannya membalas dengan senyuman tertahan kepadanya.

"Tapi anda adalah penerus sah keluarga Min, Tuan Min Yoonsik hanyalah anak dari istri simpananannya"

Bagus, topik ini yang Yoongi tunggu, mempermalukan pamannya, selama ini dia tidak pernah mengungkit tentang status sesungguhnya pamannya ini, bagi Yoongi pamannya tetaplah keluarganya meski pamannya merupakan anak dari perselingkuhan kakeknya, Yoongi dulu menyayanginya terlebih Seokjin sepupunya. Dan sekarang Yoongi harus bertindak sejauh ini juga karena ulah pamannya sendiri.

Min Yoonsik bangkit berdiri dari duduknya merasa tersinggung atas pernyataan yang baru saja terlontar dari salah satu dewan direksi. Yoongi ikut bangkit dari duduknya, menepuk pundak pamannya untuk lebih tenang.

"Jika saya jadi anda, saya tidak akan bertanya seperti itu jika saya sayang pekerjaan saya, tuan Lee" Yoongi membalas berpura-pura membela pamannya, tolong beri tepuk tangan yang meriah atas akting Yoongi ini.

Tuan Lee yang bertanya merasa ciut atas jawaban Yoongi, bibirnya terkatup rapat, takut. Yoongi mengisyaratkan pamannya untuk kembali duduk, iapun ikut duduk, karena pertunjukan belum selesai.

"Benar, kita tidak bisa mengabaikan apa yang sudah dilakukan direktur pada perusahaan saat Tuan Min Yoongi sendiri belum berbuat apapun pada perusahaan" salah seorang lagi menyahut, Yoongi tahu jika orang itu berpihak pada pamannya.

"Dan juga kenapa tuan Min Yoongi diam-diam menikah dengan saingan terberat perusahaan kita, apa anda diam-diam berencana menghancurkan perusahaan. Dan juga jangan lupakan fakta tentang ketidak hadiran tuan Min Yoongi saat pemakaman Pimpinan Min, apa anda sudah tidak peduli pada Pimpinan Min dan lebih memilih suami anda? Apa jangan-jangan Pimpinan Min meninggal karena tidak setuju dengan pernikahan anda?"

Min Yoonsik tersenyum puas mendapat pembelaan dari salah seorang kepercayaanya, habislah kau Yoongi.

Yoongi menunduk seolah bersedih, fakta bahwa ia tidak ada saat kakeknya meninggal memang membuatnya sedih, tapi Yoongi tidak boleh lemah, dia harus melanjutkan pertunjukan yang menjadi rencana Jimin ini.

Dia menghela nafas sejenak sebelum mengajadap para dewan direksi "Kami hanya saling jatuh cinta... pernikahan kami sepenuhnya mendapat restu dari kakek, bukan begitu paman?" Paman Yoongi yang mendapat pertanyaan mendadak hanya mengangguk samar mengikuti permainan Yoongi, ia berbohong, mana pernah ia jatuh cinta dengan Jimin saat bertemu dengannya saja tidak pernah "Kakek dan kami merahasiakan pernikahan ini karena waktu itu keadaan belum memungkinkan mengingat status kedua keluarga sebagai saingan, kami menunggu saat yang tepat untuk publikasi. Namun ternyata takdir berkata lain Tuhan menjemput kakek terlebih dulu" air mata Yoongi mulai turun, yang merupakan sebagian dari aktingnya, meski sebenarnya ia benar-benar bersedih akan kematian kakeknya.

"Saya yang masih di Amerika terlalu syok memdengar kabar kematian kakek, saya menderita depresi, dan harus menjalani perawatan selanjutnya, sehingga saya tidak bisa langsung pulang ke korea" skenario ini Jimin yang membuat, Yoongi bahkan sampai merasa mual saat diceritakan skenario ini semalaam oleh Jimin.

"Tentu paman menutupi keadaan saya demi perusahaan, bukan begitu paman?" lagi-lagi dia melibatkan pamannya dalam pertunjukannya. Pamanmya kemabali mengangguk ragu.

"Maaf sepertinya saya tidak sanggup melanjutkan meeting ini, saya masih belum bisa pulih dari kematian kakek, saya mohon pengertiannnya. Pamanku pasti memimpin perusahaan jauh lebih baik daripada saya, jadi... saya serahkan semuanya kepada beliau. Permisi" Yoongi berlalu pergi meninggalkan ruang rapat dengan begitu drama, dengan Hoseok yang setia mengekor dibelakangnya.

Pamannya yang sadar akan apa yang sudah dilakukan Yoongi merasa sangat kesal, kedua tangannya sudah mengepal sempurna menahan amarah, beraninya Yoongi muncul dan mengacaukan segala rencananya, beraninya dia mempermalukannya didepan para dewan direksi seperti ini. Min Yoonsik tidak terima dia pasti kan membalas Yoongi nanti.

*

*

*

*

*

To be continoued

Ini meetingnya kepanjangan ini!!! penting gk penting juga sebeenarnya, but this is part of the story

Saya selipin sedikit naena hehehe, buat yang udah baca novel karya Lisa Kleypas Devil in Winter pasti gk asing sama adegan mimpi terus dinaenain itu, thats my favorit part soalnya. sedikitnya cerita ini juga terinspirasi dari novel favorit sepanjang masa, hanya terinspirasi lho ya bukan remake isinya bener2 beda coba baca kalau gk percaya #maksa

sudah sekian dulu, buat yang masih baca jangan lupa review ya

Khamsahamnida

Jibangie