Chapter 6

Similarity

*

Seokjin keluar dari sebuah hall room presentasi dengan kesal, map dokumen yang ia bawa ia lemparkan begitu saja ke tempat sampah dekat pintu, menendang tempat sampah itu kesal kemudian sambil mengutuk tak jelas.

"Jangan terlalu kesal!!!" seseorang menegurnya, dia menoleh mendapati Jimin tengah berdiri di belakangnya dengan pandangan menghina "Mungkin... keberuntungan berpihak pada orang yang tepat"

Sengaja atau tidak Jimin hanya menambah kekesalan Seokjin. Mereka berdua memang tengah selesai melakukan presentasi mewakili masing-masing perusahaan mereka, bersaing mendapatkan proyek kerja sama dengan perusahaan asing yang ternama, itu sebabnya Seokjin tidak berada pada rapat dewan direksi keluarga Min ssat Yoongi datang menemui pamannya, dan Jimin tahu itu, akan lebih mudah jika Yoongi hanya berhadapan dengan pamannya saja dari pada harus berhadapan dengan Seokjin, mengingat Yoongi dulu begitu dekat dengan Seokjin, Jimin tidak yakin rencananya hari ini akan berjalan lancar.

Lagi pula jika dibandingkan dengan pimpinan Min, Seokjin bukanlah lawannya dalam proyek ini, terlalu mudah, jadi Jimin sendiri yang akan mengahadapi Seokjin.

Dan benar saja meski Seokjin telah berusaha sekuat tenaga dalam presentasinya ia tetap tidak bisa mengalahkan Jimin, dan proyek besar itu jatuh pada perusahaan Jimin. Padahal ayahnya sudah menaruh harapan yang besar padanya, apa yang akan ia katakan saat pulang nanti.

"Kau sudah berusaha dengan keras kakak ipar" sindir Jimin menepuk-nepuk pundak Seokjin yang hanya melirik tangan Jimin dipundaknya, merasa terhina, Jimin sudah mengoloknya.

"Jangan terlalu bersedih, kau bisa mencobanya lagi nanti" Jimin kembali menepuk pundak Seokjin lalu beranjak pergi.

"Tunggu..." Namun panggilan Seojin menghentikannya sejenak tanpa berbalik mengahadap Seokjin.

Meski kesal setengah mati karena telah dikalahkan oleh Jimin, namun tetap saja ada suatu hal yang sangat ingin ditanyakannya "Bagaimana Yoongi?" dan pertanyaan itu keluar dari bibirnya langsung.

Jimin sedikit tersenyum mendengar pertanyaan Seokjin merasa lucu, dia bertanya tentang orang yang sudah dibuangnya, apa dia ingin memastikan kalau Yoongi menderita setelah mereka buang, sungguh ironis.

Jimin menoleh enggan "Coba kakak ipar tanyakan pada paman Min, hari ini istriku Yoongi mengunjunginya ku rasa" bola mata Seokjin melebar mendengar jawaban Jimin namun tak bisa bereaksi lebih.

"Kalau begitu aku permisi dulu kakak ipar" Jimin mengangkat sebelah tangannya "sampai bertemu lagi" setelah menyunggingkan seringaian puas Jimin lantas berbalik meninggalkan Seokjin yang terpaku ditempat penuh dengan perasaan kacau.

*

*

*

Yoongi masih senyum-senyum sendiri duduk di bangku penumpang dibelakang mobil sepanjang perjalanan selesai dari kantornya, Hoseok yang melihat bayangannya dari kaca depan spion ikut tersenyum karenanya. Dia menoleh ke belakang untuk melihatnya secara langsung.

"Kau terlihat sangat senang Yoongi" Yoongi yang tiba-tiba ditegur menutup mulutnya sadar jika dirinya sudah tersenyum berlebihan.

"Kau lihat wajahnya tadi Hoseok" Yoongi kembali menahan senyum "Harusnya ku rekam dan kujadikan tontonan setiap malam"

Hoseok tersenyum mengangguk menyetujui ide Yoongi itu, dia senang akhirnya Yoongi bisa terlihat senang dan bersemangat setelah keterpurukannya akhir-akhir ini.

"Tuan Jimin pasti juga senang melihatnya Yoongi" ujar Hoseok kembali menghadap ke depan.

Mendengar nama Jimin disebut Yoongi kembali diam, teringat akan sesuatu "Hoseok-ah"

"Iya?" Hoseok kembali menoleh ke belakang tanpa pikir panjang.

"Sudah berapa lama kau mengenal Jimin?" tanya Yoongi ingin tahu, merasa penasaran juga bagaimana Hoseok bisa tahan jadi bawahan Jimin.

"Sudah sangat lama" Hoseok terlihat menerawang "aku dan tuan Jimin tumbuh besar bersama" sebelah alis Yoongi tertarik semakin ingin tahu, "ayahku dulu orang kepercayaan tuan besar Park, ayah tuan Jimin. Jadi sejak kecil aku tinggal di rumah keluarga Park sebagai teman dan penjaga tuan Jimin hingga sekarang" Hoseok tersenyum bangga selesai menjelaskan.

Yoongi hanya mengangguk-angguk mengerti "kalau begitu kenapa tidak memanggilnya Jimin saja? kau bilang kau juga temannya. Lagi pula dia terlihat lebih mudah darimu" Ya Yoongi tahu itu, bahkan jika dari melihat penampilan Jimin, dia mungkin jauh lebih mudah dari Yoongi sendiri, tapi kelakuannya sungguh tak pernah menghargai orang yang lehih tua.

Hoseok hanya mengangkat bahu "mungkin karena sudah terbiasa, keluarga Park sangat menjunjung tinggi kasta, meski aku yakin tuan Jimin tidak akan keberatan jika aku memanggilnya hanya dengan sebutan nama"

Yoongi hanya kembali mengangguk, pantas jika Jimin terlihat kaku, arogan dan egois, mungkin sudah turun temurun keluarga Park seperti itu, beruntung keluarganya tidak sekolot itu meski sama-sama kaya.

"kalau begitu... kita mampir dulu ke kedai es krim Hoseok-ah, aku ingin sesuatu yang manis dan segar setelah belerja keras" aktingnya dikantor kakeknya lah yang dimaksudkan Yoongi dengan bekerja keras itu, dan bagi Yoongi sudab cukup menguras tenaganya jadi dia butuh sesuatu untuk healing.

"Tapi tuan Jimin..." Yoongi mengacungkan jari telunjuknya menghentikan sanggahan Hoseok.

"Tidak ada tapi, aku tidak peduli dengan Jimin" jawabnya dan sudah menjadi keputusan final Yoongi, maka Hoseok juga tidak bisa menolak selain menuruti, mungkin Jimin akan mengerti nanti, atau mungkin dia hanya akan diam mengahadapi kemarahan Jimin karena sudah menuruti kemauan Yoongi tanpa seijinnya terlebih dulu.

*

*

*

Dan disinilah mereka, Yoongi dan Hoseok duduk saling berhadapan di sebuah kedai es krim, mereka mengambil spot dekat jendela kaca besar yang langsung memperlihatkan jalanan kota Seoul sedikit padat di sore hari.

Sebenarnya Hoseok sama sekali tak berniat ikut juga memesan es krim bersama Yoongi, namun karena kehendak Yoongi yang terkesan memaksa maka berakhirlah ia duduk bersama Yoongi menikmati hidangan es krim yang dipesankan Yoongi untuknya. Kalau dipikir-pikir sungguh lucu, Yoongi dan Jimin meski keduanya terlihat memiliki sifat yang berbeda, sesungguhnya mereka berdua ini mirip, sama-sama pemaksa, apapun yang jadi kehendak mereka harus terpenuhi, atau memang dasar sifat keturunan keluarga kaya memang begitu. Tapi diluar itu semua Hoseok senang mereka berdua sama-sama mau menganggapnya sebagai teman mereka dan bukan hanya sebagai bawahan mereka.

"Hhhmmm... ngomong-ngomong" Yoongi mendadak berhenti menyantap es krimnya "Tiba-tiba saja bulu kudukku merinding" Yoongi menyentuh tengkuk lehernya memeriksa bulu kuduknya yang berdiri tiba-tiba "Seperti ada aura gelap yang datang, apa kau juga merasakannya?" Yoongi menanyai Hoseok memastikan jika bukan hanya dia saja yang merinding.

Namun ternyata benar, Hoseok mengangguk menjawab Yoongi, reflek Hoseok juga ikut meraba tengkuk lehernya.

Yoongi berpikir tak pasti, dia hanya mengedikkan dagunya sedikit, mungkin hanya perasaan mereka saja. Namun saat ia hendak menyendok es krim yang ada di hadapannya itu, tiba-tiba seseorang menarik mangkuk es krimnya ke pinggir meja dijauhkan darinya.

"OH ASTAGA" Yoongi yang mengikuti arah mangkok es krimnya bergeser terlonjak kaget mendapati Jimin dengan setelan jas All-Blacknya sudah berdiri di samping meja tempat ia duduk, "kau mengagetkanku" pantas saja jika ia merasa ada aura gelap yang datang sebelumnya ternyata itu Jimin, lantas ia melirik Hoseok curiga, bagaimana Jimin bisa datang ke sini pasti Hoseok yang sudah melaporkan ke Jimin.

Hoseok hanya tersenyum masam meminta maaf sebagai jawaban.

Yoongi hanya membuang nafas, lalu berniat mengambil mangkuk es krim nya kembali, namun pegangan Jimin pada mangkuk ternyata sangat kuat dan detik berikutnya Jimin merebut sendok Yoongi dari tangannya lalu duduk sembarangan di samping Hoseok, dan menyantap es krim Yoongi kemudian.

"YA..." teriak Yoongi kesal, Jimin ini bisa tidak kalau tidak mengganggunya, dia sudah kehabisan kata-kata malas menhadapi Jimin, lalu dia manarik mangkuk es krim Hoseok merebutnya, menyantapnya dengan penuh kesal.

Jimin melirik aksi Yoongi itu, alisnya terangkat satu, tidak mengira jika Yoongi justru merebut es krim milik Hoseok dan bukan miliknya, Yoongi benar-benar bukan pemuda yang biasa, maksud hati dia ingin mengerjai Yoongi, namun nampaknya Yoongi bukan pemuda yang mudah dikerjai. Hoseok yang melihat hanya berkedip terlihat bingung, harus bagaima ia sekarang tanpa es krim dan duduk diantara suami istri yang tak pernah akur ini.

Jimin hanya menghela nafas malas setelahnya, ia menyerahkan mangkuk es krimnya kepada Hoseok yang baru disendoknya sekali. Namun Hoseok juga tak berani menyantapnya setelah itu, jadi lah mereka berdua yang diam memandangi Yoongi yang masih sibuk menyantap es krimnya.

"Ku dengar... kau berhasil membuat Min Yoonsik kesal" suara Jimin menginterupsi Yoongi berhenti dari es krimnya, lagi-lagi dia melirik Hoseok, pasti dia juga yang sudah melaporkan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan pamannya kepada Jimin, Hoseok kembali tersenyum masam mengiyakan lirikan tajam Yoongi.

"Aku ingin orang seperti Hoseok satu, apa bisa?" sindir Yoongi atas kesetiaan Hoseok pada Jimin.

Jimin paham maksud Yoongi dia hanya tersenyum sinis "kau harus jadi Park Jimin dulu"

Yoongi memutar bola matanya malas, lagi-lagi Park Jimin menyombongkan dirinya. Sudahlah biarkan saja Jimin seperti itu, Yoongi hanya ingin berkonsentrasi menyantap es krimnya, es krim Hoseok lebih pastinya sampai habis.

*

*

Mereka bertiga selesai sehabis senja menjelang malam, Jimin telah selesai dengan pembayaran menu es krim yang di pesan Yoongi dan Hoseok, saat mereka hendak keluar pintu kedai, seseorang menabarak bahu Yoongi, membuatnya hampir terjatuh, namun Jimin yang siaga berjalan dibelakangnya berhasil menahan tubuh Yoongi sehingga tidak jadi terjatuh, sedang Hoseok yang sebelumnya bersama mereka sudah berjalan terlebih dulu di depan Yoongi .

Yoongi terksiap, entah kenapa tangan kekar Jimin yang menahan tubuhnya membuatnya nyaman, namun ia tak mau membiarkan itu terlalu lama, ditariknya tubuhnya dari pegangan Jimin canggung sedikit berdeham pelan.

Jimin yang tak sadar akan kecanggungan Yoongi sudah bersiap memarahi seseorang yang menabrak Jimin.

"Ah kalian..." seru orang itu mengangkat kepalanya selesai membungkuk meminta maaf kepada Yoongi, orang itu Kim Taehyung teman Jimin.

Jimin lupa untuk marah kepada orang yang sudah menabrak Yoongi yang ternyata temannya sendiri itu.

"Kalian sudah mau pulang? Ah sayang sekali..." wajah Taehyung terlihat kecewa, mungkin jika dia datang lebih awal dia akan memiliki waktu mengobrol yang lebih lama dengan mereka sambil menikmati es krim mungkin.

"Jungkook tak ikut?" tanya Yoongi, mengingatkan Taehyung akan tujuannya datang sendiri kesini.

"Ah... dia bermalas-malasan di rumah dan menitip untuk dibelikan es krim saat aku pulang kerja" Taehyung tersenyum miris mengingat permintaan istrinya via telpon tadi.

Yoongi tersenyum melihat Taehyung dia menepuk pundah Taehyung "Anak itu... dulu dia lebih manis dari yang sekarang, sabarlah menghadapinya" Yoongi menyemangati Taehyung namun dalam hati dia juga menertawakannya mau saja diperbudak Jungkook, mungkin dimasa depan dia bisa meniru Jungkook memperbudak Jimin, dan oh apa yang baru saja dipikirkannya, pernikahaanya dengan Jimin jelas berbeda dengan pernikahan Jungkook dan Taehyung yang penuh cinta itu.

"Oh ya Jimin..." untung Taehyung segera bersuara menyadarkan Yoongi akan segala pemikiran konyolnya itu.

"Kebetulan sekali kita bertemu, ada sesuatu yang harus ku beritahukan padamu" sejenak Taehyung melirik ke arah Yoongi lalu menatap Jimin penuh isyarat, Yoongi menangkap gelagat aneh Taehyung itu.

Jimin juga sekilas meliriknya, semakin membuat Yoongi curiga jika pembicaraan Taehyung akan ada sangkut pautnya dengannya.

"Ada apa?" Yoongi yang akhirnya curiga bertanya.

Taenyung menimbang sejenak, melirik Jimin seolah meminta ijin.

"Sebaiknya kau pulang dulu bersama Hoseok" perintah Jimin.

"TIDAK" lantang Yoongi menjawab tegas. Dan Jimin hanya mengehela nafas beratnya, tahu jika Yoongi sama sekeras kepalanya dengan dirinya dan tidak akan mudah diperintah begitu saja jika dia sudah punya kemauan.

*

*

*

*

*

Yoongi menatap bayangan dirinya di kaca meja rias samping ranjangnya, dia mengenakan jas mahal brand ternama dengan motif garis emas di salah satu lengan jasnya dengan hanya memiliki dua kancing senada di sebelah sisi depan jasnya dan sebelah sisi lagi memiliki empat kancing yang tak ia kancingkan, ia biarkan terbuka begitu saja memperlihatkan kaus hitamnya, dia mengenakan celana jeans hitam namun masih mengenakan sepatu fantovel, terlihat casual namun formal dan elegan bersamaan, rambutnya hitamnya ditata sedikit bergelombang dan sedikit sentuhan make up di wajahnya.

Penampilannya sungguh sempurna, siap dengan rencana lain Jimin.

"Sudah siap rupanya" suara Jimin mengagetkan Yoongi, lagi-lagi Jimin datang tanpa di duganya, kenapa juga dia harus lupa mengunci pintu kali ini?

Yoongi berbalik untuk menghadap Jimin, dilihatnya Jimin juga tak kalah tampannya, dia juga mengenakan setelan jas dari brand ternama sama seperti Yoongi hanya saja setelan jas Jimin memiliki desain sederhana yang di padankan dengan kaus putih dan sepatu fantovel, rambutnya yang sudah berubah warna menjadi coklat gelap di sisirnya santai dengan poni jatuh ke depan, manis, santai namun tetap elegan dengan pembawaan Jimin yang wibawa itu.

"Apa ini tidak apa-apa?" tanya Yoongi meragu.

Jimin mengangkat sebelah bahunya "Perjodohan itu tidak boleh terjadi, kita akan sulit menghancurkan mereka nantinya"

Iya, perjodohan antara Seokjin dan Kim Namjoon tidak boleh terjadi. Kemarin saat tidak sengaja bertemu Taehyung di kedai es krim, dia memberitahukan bahwa malam ini akan ada pertemuan keluarga Min dan Kim mengenai perjodohan kedua putra mereka dalam acara jamuan makan malam, dan Jimin memutuskan tidak akan membiarkan itu terjadi begitu saja. Mau tak mau Yoongi juga menyetujui rencana Jimin, mereka berdua akan datang pada jamuan makan malam itu dan sedikit mengacaukannya.

Sebenarnya kalau boleh jujur Yoongi tidak yakin, dia harus kembali bertemu dengan pamannya, mengahadapinya terlebih sekarang ada Seokjin sepupunya yang pernah sangat disayanginya atau mungkin masih, Yoongi tak yakin.

"Tenanglah... kita hanya akan ikut begabung makan malam, santailah sedikit" ujar Jimin seolah menyadari kecemasan Yoongi.

Yoongi membuang nafasnya berat, benar dia harus tenang, dipikirkannya saat paman dan sepupunya itu mengusirnya tempo hari, dia harus menggagalkan apapun rencana pamannya itu.

Jimin menekukkan sikunya memberi isyarat pada Yoongi untuk menggandengnya, Yoongi menuruti, ia mengamit lengan Jimin itu selanjutnya. "Have fun, Baby" bisik Jimin menggoda ditelinganya, Yoongi menutup matanya sejenak, selalu ada sensasi dalam setiap bisikan Jimin, bagai dorongan semangat dalam diri Yoongi.

Dia mengangguk mantap, "Ayo!!!"

Dan mereka berdua pergi dari kamar Yoongi berjalan beriringan dengan tangan Yoongi bergelantung pada lengan Jimin, siap datang untuk mengacaukan acara jamuan makan malam keluarga Min dan Kim.

*

*

*

*

*

To be continoued

-

Maaf lama!!! ide itu selalu ada tapi ngembangin ceritanya itu susah jadi butuh banyak inspirasi, habis ini juga mau semedi dulu buat nulis bagian acara makan malam keluarga Min dan Kim, harap bersabar ya!!!

Mind to review...

Khamsahamnida

Jibangie