Chapter 7
Broken Agreement
*
Seokjin duduk tenang disamping ayahnya di sebuah ruangan khusus salah satu hotel keluarga Min tempat diadakannya jamuan makan malam antara keluarga Min dan Kim, meski begitu setidaknya terlihat gurat kegugupan diwajah Seokjin, karena jamuan makan malam ini bersangkutan dengan perjodohannya dengan putra pertama keluarga Kim, Kim Namjoon.
"Rileks Seokjinie" seru ayahnya menggenggam tangannya diatas meja makan menenangkan. Seokjin sedikit tersenyum menanggapi, merasa sedikit lebih tenang.
Pintu ruangan di ketuk, sontak Seokjin dan ayahnya berdiri menyambut kedatangan tamunya, keluarga Kim pastinya. Seokjin yang sempat tenang mendadak dadanya sedikit berdebar gugup namun masih bisa ditahannya.
Namun bagai petir di siang hari, justru Yoongi dan Jimin lah yang datang ke dalam ruangan mengejutkan Seokjin dan ayahnya. Wajah Min Yoonsik merah padam seketika menahan amarah.
"Selamat malam paman, kami belum terlambat kan?" sapa Jimin dengan Yoongi di gandengannya ikut tersenyum menyapa seolah tak ada permusuhan di antara mereka.
Tanpa permisi Jimin menarik salah satu kursi disamping Seokjin untuk Yoongi duduk, lalu diikuti dirinya duduk di samping Yoongi, mengabaikan Seokjin dan ayahnya yang masih berdiri terpaku.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Min Yoonsik terdengar suaranya sedikit meninggi.
"apa yang paman maksud? ini kan hari yang penting untuk kakak ipar, tentu kami datang, meski paman tidak mengundang" Jawab Jimin santai. Yoongi melihat itu, topeng Jimin sungguh sempurna, tenang namun dingin memiliki banyak maksud dibaliknya, pantas jika Jimin mampu memimpin kerajaan Park-nya sendirian diusianya yang masih terbilang muda. Ngomong-ngomong tentang kedua orang tua Jimin, Yoongi pernah mendengar bahwa kedua orang tua Jimin meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang yang melakukan perjalanan bisnis saat putranya masih belia, berita itu menjadi topik utama semua saluran berita di TV saat itu. Kalau dipikir lagi Jimin memang hebat meskipun ditinggal kedua orang tuanya, dia mampu bertahan dan memimpin perusahaannya dengan baik, berbeda dengan dirinya yang ditinggal kakeknya dia hampir hancur saat itu, jika tidak ada Jimin entah apa yang terjadi pada dirinya. Pemikiran itu tiba-tiba membuat hatinya sedikit menghangat, juga merasa bangga kepada Jimin, entah kenapa.
Min Yoonsik hendak akan melontarkan kalimat-kalimat kemarahannya namun terhenti oleh suara pintu yang diketuk kemudian terbuka menampilakan empat orang laki-laki, dua orang yang Yoongi kenali sebagai Jungkook dan Taehyung, berjalan di balik dua pria lagi, yang satu pria berwibawa setengah baya dan yang satu lebih muda, dengan postur badan yang tinggi tegap dengan rambut coklatnya yang disisir rapi ke belakang begitu rupawan, ini pasti keluarga Kim, ayah Taehyung dan kakaknya Kim Namjoon.
Min Yoonsik menyambut mereka ramah dan mempersilahkan mereka bergabung untuk duduk bersama, Seokjin yang masih berdiri juga ikut duduk di kursinya melihat Yoongi dan Jungkook bergantian, seolah ada tatapan menyesal dari matanya. Matanya sempat bertemu dengan mata Jungkook yang dengan cepat Jungkook mengalihkan pandangannya kearah Yoongi, menyapanya dengan senyuman hangat, ah memang sudah sepantasnya Jungkook mengabaikannya pasti dia sudah tahu apa yang sudah terjadi dari Yoongi.
"Aku tidak tahu keponakanmu akan datang, juga suaminya. Jimin sudah lama sekali kita tidak bertemu" pria setengah baya dari keluarga Kim memulai obrolan, ayah dari Kim Namjoon dan juga Kim Taehyung.
Min Yoonsik sempat kaget karenanya tidak mengira jika pimpinan keluarga Kim juga mengenal Jimin.
"Maafkan aku Paman, akhir-akhir ini aku semakin sibuk" senyum Jimin meminta pengertian.
"Aku mengerti, mengurus perusahaan besar sendirian dan memiliki istri semenawan Min Yoongi pasti menyita semua waktumu" Pimpinan Kim menggoda melirik Yoongi disebelah Jimin, perhatian semua orang yang ada disana juga teralih kepada Yoongi, yang membuatnya tersipu, ada rona merah di pipinya.
Jimin menggenggam tangan Yoongi lembut, melihatnya seolah penuh cinta, Yoongi semakin bersemu kerananya "Paman selalu mengerti" jawabnya. Taehyung dan Jungkook yang tahu situasi diantara mereka hanya memutar bola mata mereka malas melihat sandiwara Jimin, bahkan Namjoon, Seokjin dan ayahnya yang tidak tahu apa-apa juga terlihat risih melihatnya,sedang Pimpinan keluarga Kim sedikit tertawa memanggapi.
Min Yoonsik berdeham untuk mengehentikan keramah tamaan diantara mereka sudah terlalu muak menyaksikannya "Ku rasa, kita bisa memulai acara makan malamnya"
"Tentu tuan Min" Pimpinan Kim menyetujui dan acara makan malam pun dimulai, Min Yoonsik memberi aba-aba dan beberepa pelayan datang bergantian sesudahnya menghidangkan beberapa menu mewah di meja makan, tak lama mereka saling menikmati hidangan masing-masing.
*
*
Setelah acara makan malam berakhir, meja makan selesai dibereskan, pembicaraan mengenai perjodohan pun dimulai. Awalnya memang terasa hangat dan kekeluargaan, kedua kelarga saling berbagi rencana tentang perjodohan dua keluarga, sesekali Yoongi melirik Seokjin disampingnya yang terlihat malu-malu setiap kali masalah perjodohan dibahas, tampaknya diam-diam Seokjin benar-benar mengharapkan perjodohan ini, bukan hanya soal tentang kerjasama antar keluarga namun sepertinya Seokjin memang tertarik kepada Namjoon.
Entah bagaimana dengan Namjoon sendiri, pemuda itu hanya diam bersikap dingin penuh wibawa benar-benar mewarisi Pimpinan Kim, berbeda dengan Taehyung yang terlihat sedikit lebih berwarna kepribadiannya. Namjoon tanpa merespon pembicaraan diantara mereka namun tetap menyimak.
Hingga sampai pada Pimpinan Kim menyinggung soal keluarga Park, situasi yang ada mendadak berubah.
"Aku memang menikah dengan Yoongi, tapi bukan berarti perusahaan kami akan bergabung. Biar bagaimanapun perusahaan Park dan Min akan tetap bersaing, lagipula istriku sudah menyerahkan seluruh wewenang perusahaan pada paman Min, jadi… kita masih akan bersaing secara professional. Bukan begitu paman?" Jimin mengarahkan pandangannya pada Min Yoonsik yang sudah sangat menahan kesal itu, namun tetap ditahannya tersenyum agar tidak kehilangan kesannya di depan keluarga Kim.
"Dan karena… keluarga Kim akan melakukan pernikahan dengan keluarga Min sebagai bentuk kerja sama kedua keluarga, hmm…" Jimin mengelus dagunya agar terlihat berpikir "Mungkin aku akan menarik diri dari perusahaan keluarga Kim yang sudah saling menjadi relasi selama ini, mungkin aku akan fokus dengan proyek baruku yang tidak berhasil didapatkan kakak ipar kemarin" sambung Jimin dengan santainya.
Pimpinan Kim hanya tersenyum, sedikit mengagumi hebatnya seorang Park Jimin, dia tahu jika Jimin sengaja mengatakan itu semua agar dirinya mundur dari perjodohan ini. Perusahaan Kim dan Park memiliki ikatan relasi yang terjlin sudah cukup lama dan saling menguntungkan, tentu Pimpinan Kim bukan kacang yang lupa akan kulitnya, yang akan membuang relasi lamanya hanya karena mendapat relasi baru, terlebih dia juga sempat mendengar itu, jika Jimin mendapat proyek baru dengan perusahaan asing ternama yang pastinya akan menguntungkan perusahaanya sebagai relasi, sedang perusahaan Min yang ditinggalkan pimpinannya yang hebat dan digantikan oleh anak hasil perselingkuhan belum begitu menjanjikan bagi perusahaan Kim, tentu pimpinan Kim akan mendengarkan peringatan dari Jimin.
"Sepertinya kedua keluarga masih berselisih, Namjoon-ah…" Pimpinan Kim melirik putra sulungnya "Kurasa… kita akan mencari pendampingmu nanti" Namjoon hanya mengangguk patuh, dia juga memahami situasi yang sedang berlangsung, tahu jika keputusan ayahnya memanglah tepat.
Pimpinan Kim bangkit dari duduknya, yang kemudian diikuti oleh Namjoon,dan kemudian diikuti Taehyung dan juga Jungkook. "Maafkan kami tuan Min, kami mengundurkan diri terlebih dulu"
Min Yoonsik panik seketika, begitu juga Seokjin, Jimin hanya duduk santai dikursinya sambil menimati sisa wine miliknya, sedang Yoongi yang melihat apa yang terjadi hanya terbengong-bengong sedikit tidak memahami suasana.
"Tunggu tuan Kim… pembicaraan kita belum selesai" Min Yoonsik mencoba menahan kepergian keluarga Kim, namun percuma setelah mengucapkan permintaan maaf seluruh keluarga Kim pergi meninggalkan ruangan satu per satu.
Min Yoonsik yang naik pitam langsung menghampiri Jimin, menarik kasar kerah jas Jimin yang tidak ditanggapi olehnya.
"Beraninya kau brengsek menghancurkan rencanaku huh?" teriak Min Yoonsik di depan wajah Jimin yang masih tak menanggapi perlakuan kasarnya.
"Paman… apa yang paman lakukan lepaskan Jimin" Yoongi yang berusaha mengehentikan pamannya, merasa jika pamannya tidak pantas berlaku kasar kepada suaminya itu.
Seokjin ikut bangkit berdiri berusaha menarik ayahnya menjauh dari Jimin "Sudahlah ayah… mari kita pulang, percuma saja ayah marah, keluarga Kim sudah pergi" ayahnya masih berontak tapi dengan sekuat tenaga Seokjin berusaha menarik ayahnya pergimeninggalkan Jimin dan Yoong, menjauh dari mereka berdua.
Yoongi melihat kepergian mereka dengan miris, lihatlah mereka hanya memikirkan tentang perusahaan yang kini menjadi milik mereka, tanpa peduli akan kehadirannya selama disamping mereka, apa mereka benar-benar tidak menganggap Yoongi sebagai keluarga mereka lagi, apa memang harta dan kekuasaan lebih penting bagi mereka.
*
*
*
Entah sudah berapa lama Yoongi teridur dalam perjalanan pulang mereka, dia terbangun saat merasa ada guncangan pada mobil mereka mungkin karena permukaan aspal jalanan yang tidak rata. Dia terbangun dalam posisi kepalanya bersandar pada pundak kokoh Jimin saat mobil mereka masih melaju, kepalanya mendongak ke atas mendapati Jimin yang sudah menatapnya sadar atas dirinya yang terbangun.
Entah karena efek yang masih mengantuk atau pandangan tajam Jimin itu terlalu menusuk, mampu memerangkap pandangannya hanya tertuju kepada Jimin, dadanya berdesir hangat, ditatap lelaki hebat seperti Jimin,dan lelaki itu adalah suaminya.
Mereka saling bersitatap pandangan tanpa ada yang mau melepaskan, hingga tanpa sadar Yoogilah yang semakin mendekat, mengikis jarak diantara keduanya dengan Jimin yang masih hanya menatapnya, dan hingga pada akhirnya bibir Yoongi mendarat tepat di bibir Jimin. Yoongi memejamkan matanya ketika mencoba menyesap bibir bawah Jimin, sensasi nikmat dan hangat langsung menjalari setiap nadinya, seolah memang sudah lama tubuhnya menantikan sensasi ini. Sedang Jimin hanya membiarkan, pandangannya mengamati Yoongi yang menikmati bibirnya. Jimin membuka mulutnya saat Yoongi mulai semakin menekan bibirnya meminta lebih, dia membiarkan bibir Yoongi mengeksplor setiap bagian bibirnya sesekali membalas ciuman Yoongi dengan lidah mereka yang saling bertemu, entah setan apa yang sudah merasuki Yoongi tapi Jimin benar-benar berterima kasih pada setan itu jika memang benar-benar dia merasuki Yoongi saat ini, dan ciuman mereka terus berlangsung seperti itu tanpa peduli jika sedari tadi ada dua manusia yang juga ada di dalam mobil mereka, sang supir dan tentunya penjaga setia Jimin, Heosok, melirik malu bayangan mereka berdua yang berciuman mesra terpantul pada kaca spion depan mobil, sama-sama terdiam kikuk agar tak menganggu.
*
*
*
*
*
Paginya Yoongi terbangun dengan suasana hati yang ringan, entahlah ada sedikit rasa bahagia di hatinya yang tidak tahu kenapa. Tidak jangan salah paham, setelah ciuman mesra di mobil semalam, di antara mereka berdua tak terjadi apapun selanjutnya, setelah sampai di kediaman Jimin, mereka berlalu kekamar masing-masing tanpa saling menegur, denganYoongi yang tersipu sangat malu, sadar akan apa yang sudah dilakukannya, dia, mencium Park Jimin terlebih dulu, yang tak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya sebelumnya.
Saat Yoongi keluar dari kamarnya, ia langsung menghadap tangga lantai dua, dia mengamati ujung tangga di atas sana berharap Jimin muncul dan turun dari sana, ada perasaan dalam dirinya menantikan itu.
"Tuan Jimin sudah pergi pagi-pagi sekali Yoongi…" suara seorang dari belakang Yoongi mengagetkannya, dia bahkan hampir mengumpati orang itu, tentu orang itu adalah Hoseok.
"Aku tidak mencarinya" jawab Yoongi kesal dan berlalu melewati Hoseok untuk duduk di sofa ruang santai kediaman keluarga Park, kenapa dia liagi-lagi kepergok oleh Hoseok, jangan lupakan kalau Yoongi tahu Hoseok juga berada dalam mobil saat dirinya mencium Jimin kemarin. Pasti setelah ini Hoseok akan semakin rajin meledekinya.
"Ini…" Hoseok menyerahkan sebuah ponsel layar sentuh bermerk dipangkuan Yoongi.
Yoongi mendilik bertanya untuk apa Hoseok memberikan ponsel padanya.
"Tuan Jimin memberikannya padamu Yoongi, kau bisa menggunakannya saat kau merindukannya" Baru juga Yoongi membatin Hoseok sudah meledeki dirinya, dasar sialan.
Yoongi meletakkan ponsel itu asal di atas meja "Tidak butuh"
Hoseok tertawa keras karenanya, dia mengambil lagi ponsel itu dan meletakkan kembali di atas pangkuan Yoongi.
Yoongi sudah siap menolak namun dengan sigap Hoseok menahannya "Tuan Jimin sedang di Inggris untuk urusan proyek barunya Yoongi, jika ada keperluan penting atau mendesak kau bisa menggunakannya dengan ponsel ini" mendengar penjelasan Hoseok yang tanpa ejekan itu membuat Yoongi akhirnya menerima ponsel itu.
Jimin meninggalkannya untuk beberapa hari? Dengan jarak yang cukup jauh? Kenapa hatinya pula yang sedih, memang ada yang aneh dalam dirinya sejak semalam. Apa mungkin dia sudah mulai menganggap Jimin sebagai suaminya, suami yang sesungguhnya. Entahlah Yoongi tidak mau memikirkan itu lebih lama.
*
*
*
*
*
To be Continoued
-
Langsung dilanjutkan chapter selanjutnya biar gk ngerasa ini sedikit…
Tapi jangan lupa review dulu ya!!! :D
Maaf baru update juga jika ada typos
Jibangie
