Chapter 8
The Past II
*
Saat itu usia Yoongi masih 11 tahun saat ditinggal kedua orang tuanya untuk selamanya, dimana terjadi kecalakaan beruntun yang menewaskan nyawa ayah dan ibunya saat itu juga. Yoongi mungkin memang bukanlah anak yang manja. Namun ia seorang anak yang sangatlah menyayangi keluarganya, meski dirinya sangat sering ditinggal kedua orang tuanya karena pekerjaan bersama kakeknya, namun Yoongi bisa memahami itu, dia tetaplah menyayangi keluarganya. Tapi ketika orang tuanya meninggalkannya pergi untuk selamanya ia tak mampu mengerti, menyesali betapa sedikitnya waktu kebersamaan mereka dan sekarang sudah harus berpisah untuk selamanya. Bahkan Yoongi tak sempat mengucapkan selamat tinggal dan menyampaikan betapa ia sangat mencintai kedua orang tuanya, dan sekarang orang tuanya sudah pergi.
Hal itu membuatnya tak mengerti, ia sudah menjadi anak yang baik selama ini, tak pernah mengeluh saat orang tuanya jarang menemaninya, tapi mereka tetap pergi, Yoongi tak bisa mengerti.
Tragedi itu mengubah kepribadian Yoongi sepenuhnya, bila sebelumnya dia anak yang manis dan sering tersenyum namun sekarang tidak lagi. Dia berubah menjadi pribadi pendiam, dingin, penyendiri dan tak pernah tersenyum bahkan jika menonton acara komedi sekalipun tak sedikitpun membuat bibirnya tersenyum.
Hal itu yang menjadi kecemasan utama Min Yoonsuk, kakeknya. Bahkan sebanyak mungkin kakeknya meluangkan waktu untuk cucu kesayangannya itu namun Yoongi tetaplah begitu. Hingga sampai pada titik putus asanya, Min Yoonsuk yang kebetulan berhasil menemukan anaknya yang lain dari hasil perselingkuhannya dulu saat diawal-awal pernikahannya saat dimana sebelum ia dikaruniai ayah Yoongi, yang ternyata juga sudah memiliki putra selisih setahun lebih tua dari Yoongi. Min Yoonsuk memutuskan membawa mereka pulang untuk tinggal bersama di kediamannya, mungkin dengan kehadiran anggota keluarga baru mampu mengembalikan Yoongi cucunya yang manis itu.
"Perkenalkan aku Seokjin, kau pasti Yoongi kan?" Seokjin cucunya yang lain dari anak selingkuhannya itu mengulurkan tangannya dengan riang kepada Yoongi saat pertama kali ia dan ayahnya menginjakkan kakinya di kediaman keluarga Min. "Seperti yang diceritakan kakek, kau sangat manis Yoongi-ah"
Yoongi masih diam belum merespon salam perkenalan Seokjin yang hangat itu, namun kakeknya tak diam,memegangi kedua bahu Yoongi untuk semakin mendekati Seokjin. "Yoongi ayo sambut paman dan sepupumu, mulai sekarang mereka akan tinggal bersama kita"
Perlahan tangan Yoongi meraih jabatan tangan Seokjin masih dengan wajah datar yang ragu-ragu "Yoongi" singkat ia memperkenalkan dirinya lalu menarik tangannya dengan cepat dari tangan Seokjin. Min Yoonsuk dan Min Yoonsik serta Seokjin tersenyum, setidaknya ini awal yang bagus, Yoongi sudah mau mengenal orang lain dan berharap Yoongi akan lebih membuka dirinya untuk anggota keluarga barunga itu.
*
Dan ternyata usaha Min Yoonsuk membuahkan hasil, hari-hari berlalu sejak Seokjin dan ayahnya datang ke kediaman keluarga Min, mereka dengan sangat mudah dekat dengan Yoongi, merubah sedikit demi sedikit diri Yoongi yang terpuruk dan kembali menjadi pribadi yang lebih bersemangat, meski tidak sepenuhnya Yoongi menjadi semanis dan sehangat dulu namun itu sudah cukup bagi Min Yoonsuk.
Biar bagaimanapun penerus seluruh kerajaan Min tinggallah Yoongi setelah anak dan menantunya meninggal, Yoongi perlu disiapkan untuk menjadi sang pewaris namun itu akan sulit jika keadaanya dalam terpuruk, tapi diluar itu semua dia sangatlah menyayangi cucunya itu, jadi dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Yoongi, cucunya. Meskipun dengan begitu dia harus membawa orang lain masuk ke dalam lingkungannya. Iya, baginya meski Min Yoonsik juga putranya tapi tetaplah dia orang lain bagi Min Yoonsuk, putra tanpa ikatan pernikahan tak akan pernah menjadi penerus keluarga Min begitu pula cucunga yang lain, Seokjin.
Min Yoonsuk membawa mereka berdua sebagai penyembuh Yoongi, memberikan tempat tinggal yang layak dan juga bayaran yang memuaskan layaknya pegawainya atau bawahannya yang lain, bukan sebagai anggota keluarga Min, tentu itu diluar sepengetahuan Yoongi.
"Ternyata kalian cukup bisa diandalkan..." ujar Min Yoonsuk yang duduk di kursi ruang kerjanya, singgahsananya, dimana Seokjin dan ayahnya duduk diseberang mejanya menghadapnya. Min Yoonsuk, seorang kakek yang sangat menyayangi cucunya, rela melakukan apapun demi cucu kesayangannya itu, namun dia tetaplah seorang pebisnis yang berhati dingin, maka urusan anak haram dan cucunya ini tetaplah menjadi urusan bisnis baginya.
"Jangan lupakan kebaikanku yang telah menampung kalian... Kalau tidak mungkin kalian akan menjadi gelandangan sekarang, karena kau Yoonsik" dia mengacungkan jarinya menunjuk anaknya "kebiasaan judimu itu bisa membunuhmu kau tahu, juga anakmu ini. Jangan permalukan darah Min yang mengalir ditubuhmu itu" lalu dia menunjuk Seokin.
Mereka berdua hanya menunduk mendengarkan, dengan Yoonsik melirik di ujung penglihatannya, memandang Min Yoonsuk penuh sirat.
"Tetap lakukan tugas kalian dengan benar, dan jaga Yoongi jangan sampai ia kembali bersedih atau bahkan terluka. Kalian mengerti???" Yoonsik dan Seokjin hanya mengangguk patuh meski gejolak pada diri masing-masing tidak bisa dihindari, mereka juga anak dan cucunya, darah dagingnya tapi diperlakukan sebagai bawahannya. Jika bukan karena terpaksa terhimpit kebutuhan ekonomi mereka tidak akan sudi menjadi seperti iti.
*
*
*
Tapi nyatanya... meskipun Min Yoonsuk seorang pebisnis berdarah dingin dia tetaplah manusia yang memiliki hati nurani, jauh setelah Yoongi baik-baik saja dia tidak kembali membuang Min Yoonsik dan Seokjin pada akhirnya, meski biar bagaimanapun nama mereka berdua tidak akan ada dalam daftar pewaris keluarga Min.
Bahkan saat Yoongi mulai kuliah di Amerika, Yoonsik dan Seokjin tetap dibiarkan tinggal bersamanya di kediamannya. Mungkin usianya yang semakin tua mendorong sifat sentimentilnya tumbuh lebih besar dibanding arogansinya semasa muda, biar bagaimanapun mereka, Yoonsik dan seokjin juga darah dagingnya meski dia belum juga mengakuinya secara langsung.
Terlebih saat ia tahu bahwa dirinya mengidap penyakit jantung, yang sadar jika usianya tidak akan lama, ia lantas berpikir jika nanti dia pergi setidaknya Yoongi tidak akan sendirian, setidaknya ada paman dan juga sepupunya yang nanti akan menemaninya.
Namun disaat ia menyadari kesalahannya dan mencoba menerima Yoonsik dan Seokjin sebagai keluarganya, benar-benar keluarganya. Sepertinya dia sudah terlambat, sudah sangat - sangat, tanpa ia sadari ia sudah menaburkan kebencian terlalu besar pada diri anak dan cucunya itu. Dia menetahui rencana pembalasan dendam Yoonsik dan Seokjin kepadanya dan juga Yoongi.
Semua memang berawal dari dirinya sendiri, maka disaat ia juga sudah tidak mampu melawan anak dan cucunya itu dan melindungi Yoongi yang masih kuliah di Amerika, munculah ide gila lain di otaknya.
Dia ingin menyerahkan Yoongi pada orang yang lebih kuat, yang mampu menjaga Yoongi saat dirinya sudah tidak ada. Dan kandidat utamanya ialah Park Jimin, satu-satunya penerus keluarga Park yang merupakan rival sejatinya, entahlah ide itu muncul begiti saja di saat-saat keputus asaanya tentang Yoongi, lagi-lagi pilihan dalam keadaan putus asa. Dan dia tahu meminta seorang Park Jimin untuk menjaga Yoongi tidaklah mudah, maka dia harus memberikan tawaran yang luar biasa agar Jimin mau bekerja sama dengannya.
Maka terjadilah siang itu di salah satu restoran berbintang milik keluarga Park, pertemuan Min Yoonsuk dan Park Jimin berlangsung tanpa sepengetahuan Yoonsik dan seokjin.
"Jadi... Kau bermaksud menyerahkan cucumu padaku?" tanya Jimin tanpa menurunkan honorifiknya karena mereka berdua masihlah rival, setelah penjelasan panjang lebar Min Yoonsuk.
"Seperti yang sudah ku jelaskan" jawabnya.
Jimin menyunggingkan seringaiannya "Apa kau sebegitu putus asanya? kenapa kau mau dikalahkan oleh anak dan cucu harammu?"
Seperti yang Yoonsuk kira ini tidak akan mudah.
"Aku tidak akan melawan mereka, mereka juga keluargaku, semua memang berawal dari salahku, jika memang mereka mengambil semua milikku maka akan kuberikan, tapi tidak dengan menyakiti Yoongiku" raut wajahnya penuh keseriusan dan tersirat kesedihan disana, Jimin bisa melihat itu.
"Yoongi memang anak yang kuat dan pemberani tapi dia sangat rapuh di dalam, aku tidak bisa bayangkan saat kutinggalkan nanti, dia pasti akan terpuruk sama seperti saat kedua orang tuanya meninggal dulu, belum lagi penghianatan paman dan sepupunya..."
"Apa yang membuatmu mempercayakan cucu kesayangannmu itu padaku?" sela Jimin yang tidak tahan dengan keluh kesah rivalnya itu, baginya itu masalah keluarga Min kenapa pula dirinya harus terlibat "Apa keuntungan yang kudapatkan setelahnya?"
Min Yoonsuk tersenyum melihat betapa tidak sabarannya seorang Park Jimin di hadapannya ini.
"Selain kehancuran keluarga Min yang pastinya sudah sangat kau nantikan sejak dulu... kau tau kalau Yoonsuk bukan pengelola perusahaan yang baik, dia masih suka berjudi meski skalanya berbeda kau bisa dengan mudah menghancurkannya, bukan?"
Jimin menggaruk dagunya yang tidak gatal itu, berpikir jika ucapan Min Yoonsuk masuk akal juga bagi dirinya.
Min Yoonsuk tersenyum sedikit merasa lega sepertinya Jimin mendapatkan umpannya. Tapi bukan hanya itu, dia masih punya sesuatu yang akan membuat Jimin tidak akan menolak tawarannya.
Yoonsuk merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar foto dari sana untuk kemudian diserahkan kepada Jimin.
Jimin yang awalnya acuh, perhatiannya seketika tertarik dengan foto di hadapannya itu.
"Ini... Yoongiku" Min Yoonsuk tersenyum bangga menunjukkannya "Selama ini memang wajahnya di rahasiakan dari publik demi kepentingan keselamatan. Dan inilah Min Yoongi, penerus sah kekayaan keluarga Min, cucuku"
Tangan Jimin terulur maraih foto dihadapannya, dengan pelan jari telunjuknya meraba seringan bulu foto tersebut, pandangannya memperhatikan foto seorang Min Yoongi penuh maksud.
Min Yoonsuk kembali tersenyum pasti, Jimin sudah pasti akan menerima tawarannya ini "Aku akan segera mengurus pernikahan kalian secara resmi dimata hukum" Ujarnya tanpa menunggu jawaban dari Jimin yang masih diam memandangi foto Yoongi "Tolong jaga Yoongiku"
*
*
*
*
*
Yoongi yang tidak memiliki kegiatan apapun pada siang itu hanya duduk menyila kaki di atas ranjangnya sembari membaca buku tentang manajement yang beberapa hari ini tengah dipelajarinya, sambil sesekali melirik ponselnnya yang ia letakkan asal diatas meja nakas samping ranjanvnya, bodoh memang jika sebenarnya ia menunggu poselnya berbunyi, ini sudah seminggu sejak perjalan bisnis Jimin ke inggris, tidak ada yang tahu jika dia punya ponsel baru selain Jimin dan juga Hoseok, jadi saat ia menunggu poselnya berbunyi itu berarti ia menunggu Jimin menghubunginya terlebih dulu, siapa lagi saat Hoseok juga tak perlu repot-repot menghunginya karena mereka tinggal di tempat yang sama.
"Hheeuuhhh" Yoongi membanting bukunya di ranjang, menyadari betapa bodohnya ia mengharapkan telfon dari Jimin, ia lalu merebahkan tubuhnya santai di atas ranjang, pasti ada yang tidak beres pada otaknya atau justru pada hatinya sekerang ini, puncaknya setelah acara makan malam itu.
Entahlah dia ingin selalu melihat Jimin yang sudah tidak ditemuinya seminggu ini, setidaknya mendengar suaranya sedikit lebih baik? Tapi tunggu apa yang ia maksud dengan lebih baik? Apa itu artinya dia merindukannya, Yoongi merindukan Jimin?
Dia mengacak rambut hitamnya frustasi, merasa ada yang salah dengan dirinya dan tepat bersamaan dengan itu polselnya berbunyi nyaring lengkap dengan getarannya di atas meja nakas.
Reflek tangannya meraih poselnya, menggeser tombol hijau pada layar poselnya yang lebar itu dan didekatkannya ketelinganya "Halo!!!"
"Menunggu telponku Nyonya Park?" terdengar kekehan Jimin diseberang sana, terdengar sangat senang karena Yoongi menjawab telponnya dengan sangat cepat.
Dan sekarang Yoongi menyesal dengan gerak refleknya yang luar biasa itu, pasti Jimin sudah sangat senang disana, menertawakan dirinya, sungguh kebodohan yang tak termaafkan.
"Aku tidak menunggu" Jawabnya cepat lalu menyentuh tombol merah di layar poselnya secepatnya juga.
Dan apa ini? kenapa juga dia harus mematikan sambungan telpon Jimin? Sungguh kekanakan, entahlah mungkin Yoongi kurang tidur, sepertinya dia butuh tidur sekarang.
Dia membanting poselnya di ranjang tak jauh dari bukunya untuk kemudian ia kembali berbaring rebahan.
Tak lama setelah itu poselnya berbunyi lagi, terdengar sedikit teredam karena posisinya yang tergeletak di atas ranjang juga getarannya. Yoongi hanya melirik, dia bisa melihat nama Jimin muncul diatas layar ponselnga namun di abaikannya, tidak kali ini cukup, sudah terlalu banyak kebodohan yang dibuatnya.
Setelah hanya dibiarkan ponselnya berdering, akhirnya berhenti dengan sendirinya juga, Yoongi pastikan Jimin kesal saat ini karena panggilannya di abikan olehnya, dan Yoongi merasa sedikit puas karena itu, konyol memang.
Tak lama ponselnya berkedip sekali, Jimin mengirimkan pesan, Yoongi sempat melirik pesannya di notifikasi yang terbaca "Cepat angkat telponnya" yang juga diabaikan Yoongi begitu saja, biarkan saja.
Tapi tak cukup di situ ponselnya terus kembali berkedip, menampilkan pesan-pesan dari Jimin yang sangat mengganggu dirinya yang mencoba untuk tidur. Dan sekarang justru telpon rumahnya yang berada diatas meja nakasnya yang berdering lebih, siapapun tolong angkag telponnya, sungguh Jimin yang keras kepala.
Yoongi menghela nafas malas, sebelum akhirnya bangkit dari rebahannyan untuk menganggkat telpon.
"Ada apa?" Jawabnya ketus.
"Yoongi..." panggil seorang di seberang sana yang membuatnya terkejut, itu bukan suara Jimin, itu suara...
"Seokjin hyung" panggilnya lirih. Bagaimana bisa Seokjin menelpon rumah Jimin.
"Apa aku mengganggumu Yoongi?"
Yoongi hanya mengangguk, lalu menggeleng tanpa bersuara, tak sadar jika Seokjin tidak dihadapannya, tidak bisa melihat responnya itu.
"Aku... Aku hanya ingin berbicara denganmu berdua saja Yoongi. Setelah itu aku janji tidak akan mengganggumu"
Yoongi menimbang, haruskah ia memenuhi permintaan Seokjin ini. Apa yang sudah direncanakannya lagi kali ini? apa dia tahu jika Jimin sedang tidak bersamanga saat ini, dan berusahan menyerang Yoongi sendirian? Oh cukup! pemikirannya sudah terlalu jauh.
"Aku mohon Yoongi... "
Yoongi menurunkan bahunya yang sempat menegang itu "Baiklah... Tapi itu tidak akan lama" jawabnya pada akhirnya.
"Tidak apa Yoongi, tidak masalah, yang terpenting kita akan bertemu" suara Seokjin terdengar girang di ujung sana, jujur Yoongi juga ingin bertemu dengan sepupunya itu hanya berdua, seperti dulu.
"Ku tunggu besok di jam makan siang di tempat favorit kita dulu" Seokjin lalu mengakhiri sambungan telpon mereka.
Tempat favorit? Apa Seokjin masih mengingat tempat favorit mereka dulu?
*
*
*
*
*
To be Continoued
Sorry for late updating semoga masih ada yang baca
langsung review ajah karena cerita ff ini udah kayak sinetron indonesia, maaf juga jika banyak typol malas baca ulang!!!
Jibangie
