Chapter 9

Brave

*

Seokjin masih mendrible bola basket saat mendengar langkah seseorang mendekatinya, yang ia yakini itu pasti Yoongi. Sampai pada ia berhasil melesakkan bola ke ring basket dengan lemperan sempurna, Seokjin kembali mengambil bolanya yang jatuh melewati ring basket barulah ia menoleh kepada Yoongi, langsung melempar bola yang ada di tangannya ke arah Yoongi yang reflek langsung menerimanya.

"mau bertanding???" ajak Seojin masih dalam posisinya yang berdiri cukup jauh dari Yoongi.

Alis Yoongi terangkat sebelah "Jangan bercanda?"

Seokjin lalu melihat jauh ke balik punggung Yoongi, tersenyum getir sesudahnya "Ah... aku ingat kau punya cidera punggung saat itu" angannya kembali pada saat dimana dulu ia dan Yoongi menolong Jungkook yang di bully dan berakhir Yoongi yang terluka karena menghadang balok kayu dari salah satu pemuda yang akan menyerangnya, tidak dia tidak akan melupakan itu, salah satu kenangan buruk Seokjin yang di dapatkan setelahnya ia juga akan terus mengingatnya, kenangan saat ia balas di pukuli oleh kakeknya karena dianggap mencelakakan cucu kesayangannya, tentu tanpa sepengetahuan Yoongi. Ia masih ingat saat harus menahan sakit, berpura-pura baik-baik saja dihadapan Yoongi keesokan harinya, padahal tubuhnya remuk redam oleh pukulan kakeknya, ayahnya yang melihat perbuatan tersebut bersumpah akan membalasnya suatu hari nanti, dan hari itupun datang.

Kalau dipikir-pikir semua kekacauan ini memang berasal dari kakeknya yang dulu bersikap tidak adil kepada dirinya dan ayahnya, tapi sekarang justru Yoongi yang harus menanggung semuanya. Kasihan Yoongi, jauh di dalam lubuk hatinya Seokjin sangat menyayanginya, tidak, dia tidak bisa menyakiti Yoongi lebih jauh lagi.

Melihat Seokjin yang hanya diam saja Yoongi lalu melempar bola basket itu menggelinding di kaki Seokjin "Kalau tidak ada hal penting, aku akan pergi"

"Tunggu" seru Seokjin setengah berteriak saat Yoongi akan pergi.

"Yoongi..." yang dipanggil hanya diam tidak berbalik.

Seokjin menggigit bibir bawahnya menahan kegugupannya, takut kalau-kalau Yoongi tidak mau mendengarnya "Aku- Maafkan aku Yoongi"

Mata Yoongi melebar sekilas, namun ia tetap belum ingin berbalik mengahadap Seokjin, ia ingin menunggu lebih dulu, kata maaf saja baginya belum cukup.

"Maafkan hyung... sudah bersikap sangat jahat padamu" dan detik saat Seokjin menyebutkan dirinya sebagai hyung Yoongi, air mata Yoongi meluncur begitu saja tanpa peringatan, membawa kenangan lama mereka yang menyesekkan hatinya, hyung sepupunya yang selalu ia sayangi.

"Aku tahu kau tidak akan bisa memaafkanku dan juga ayahku, tapi ku mohon jangan terlalu membenci kami, banyak hal terjadi tanpa sepengetahuanmu Yoongi yang membuat kami jadi seperti ini, jahat kepadamu" jelas Seokjin penuh penyesalan berharap Yoongi mau memaafkannya.

Sejenak Yoongi menghapus bekas air mata di pipinya lalu berbalik menghadap Sekjin "Dan hal apa itu yang tidak aku ketahui"

Dan cerita masa lalu Seokjin bersama kakek mereka yang memiliki banyak kenangan buruk mengalir begitu saja di ceritakannya, Yoongi mendengarnya hampir frustasi merasa sangat tidak percaya atas apa yang di ceritakan Seokjin, yang ia tahu kakeknya sangat menyayangi keluarganya yang berarti juga Seokjin dan pamannya meski mereka ada karena hubungan gelap. Yoongi hanya merasa, kakeknya menjadi orang asing dengan pengakuam cerita Seokjin, berbeda sekali dengan apa yang dilihat Yoongi selama ini.

"Tapi... pada akhirnya hyung tahu kakek menyesal disisa akhir hidupnya, hyung bisa melihat penyesalan di mata kakek sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir, meski tidak diucapkan hyung merasa kakek meminta maaf kepada kami. Tapi semua rencana sudah dipersiapkan, niat balas dendam ayah terlalu besar, hyung tidak bisa memcegah, terlebih rasa sakit hati juga mengusai akal sehatku, hyung tidak berpikir tentang dirimu yang tidak tahu apa-apa justru menjadi korban balas dendam kami. Maafkan hyung Yoongi"

Entah, Yoongi masih belum bisa memproses semua ucapan Seokjin, dengan langkah cepat dia mengahantam pipi Seokjin dengan tinjuan kerasnya seolah semua kekesalannya dilampiaskan saat itu juga.

"BRENGSEK... Jangan mengarang cerita untuk memutupi keburukan kalian, aku tidak bodoh, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan kalian. Silahkan ambil semuanya dan aku tidak akan membiarkan hidup kalian tenang" ujar Yoongi setengah berteriak lalu bergegas pergi meninggalkan Seokjin.

"Kau tahu kalau aku tidak berbohong Yoongi... Meski semuanya sudah terlambat tapi aku ingin berhenti dari semua ini, walau aku tidak tahu caranya untuk berhenti, hentikan kami Yoongi" Seokjin hampir menjerit putus asa mengatakannya karena Yoongi yang terus berjalan menjauh darinya, setidaknya dia sudah mengatalan apa yang ingin ia sampaikan pada sepupunya itu. Tangannya meraba pipi bekas pukulan Yoongi yang terasa berdenyut-denyut nyeri, dia pantas menerima itu, bahkan lebih.

Kenyataan lain bahwa ia harus kehilangan kesempatan menikah dengan sosok yang sudah lama ia kagumi, Kim Namjoon tidak seberapa dibandingkan dengan Yoongi yang mendapatkan penghianatan dari keluarganya sendiri, dirinya dan juga ayahnya

*

*

*

Yoongi tidak tadak tahu apa yang ia pikirkan, otaknya kosong, hatinya bingung, ingin tetap menentang yang dikatakan Seokjin tapi sesuatu dalam dirinya percaya, hingga panggilan supir taxi yang ditumpanginya mengembalikan kesadarannya.

"Sudah sampai, tuan" kata supir taxi, Yoongi pergi menemui Seokin secara diam-diam tanpa berpamitan dulu kepada Heosok sebelumnya, itulah mengapa dia duduk dibangku penumpang sebuah taxi sekarang ini, tidak seperti biasa yang selalu diantar jemput oleh supir Jimin dan di dampingi Hoseok sesuai perintah Jimin.

Yoongi memandang keluar pagar putih rumah Jimin yang tinggi menjulang sangat kokoh bagai istana-istana dalam negeri dogeng, pula bangunan rumah dibalik pagar itu memanglah lebih pantas disebut istana dari pada rumah, yang sudah ia tinggali beberapa minggu kemarin, teringat tentang apa saja yang sudah terjadi dan berakhir di istana ini bersama Jimin, pikirannya kacau, semua terjadi begitu cepar, tujuan awal dan apa yang dipikirkannya sekarang berantakkan, dia butuh menenangkan diri, dan itu tidak akan ia dapatkan diistana Jimin.

"Tolong antarkan aku ke suatu tempat paman" pintanya pada supir taxi, setidaknya ia harus menenangkan diri dulu, menata kembali perasaanya yang kacau beberapa hari ini, mungkin juga karena Jimin atau entahlah itu. Dengan begitu mobil taxi yang ia tumpangi kembali melaju meninggalkan pagar depan istana milik Jimin.

*

*

*

Tanpa tujuan, disinilah Yoongi, rumah abu kakek dan kedua orang tuanya. Duduk meringkuk memeluk lutut, menyembunyikan wajahnya disela kedua lututnya. Apa yang dirasanya saat ini dan apa yang akan ia lakukan entahlah dia juga tidak tahu, perasaan benci dan balas dendamnya tiba-tiba saja menguap, pergi entah kemana setelah pertemuannya dan pengakuan dari Seokjin, tinggal lah perasaan lelah yang sangat berat dihatinya. Apa dia harus berhenti dengan rencana balas dendamnya itu atau apa? karena pada dasarnya rasa dendamnya timbul karena rasa dendam lain yang dirasakan Seokjin dan juga pamannya, akankah dia akan puas setelah rencana balas dendam itu selesai, atau justru akan menimbulkan rasa dendam lain dikemudian hari? Yoongi masih tidak tahu, dia lelah untuk berpikir, terlebih perasaan aneh yang ia rasakan kepada Jimin akhir-akhir ini, debaran-debaran halus menyenangkan saat Jimin disampingnya dan perasaan rindu saat Jimin tidak berada disampingnya. Apa yang baru saja ia pikirkan? apa baru saja ia menyebutkan kata rindu kepada Jimin? Pikirannya pasti benar-benar kacau saat ini.

Lelah dengan pikiran kacaunya, Yoongipun diserang rasa kantuk dan perlahan terlelap dengan jejak air mata dipipinya yang mengalir begitu saja saat ia larut dalam pikirannya. Hingga sampai samar ia merasakan sebuah lengan kekar menopang punggung dan bawah lipatan kedua lututnya, tubuhnya diangkat bebas oleh lengan kekar itu, terasa nyaman dan mengayomi, aroma tubuh yang femiliar ia kenali tahu benar siapa yang sudah menggendongnya, Park Jimin, namun menolak membuka mata karena rasa kantuknya yang luar biasa berat itu Yoongi hanya menikmati aroma khas Jimin dalam lelapnya. 'Ahhh~ ia jadi tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini' dengan semakin menyamankan diri dalam gendongan lengan kekar Jimin, ia memantapkan hatinya dan kembali terlelap.

*

*

*

*

*

"Ada yang ingin aku bicarakan Jimin" Yoongi sudah duduk di sofa panjang ruang tamu Jimin, sedang yang diajak bicara masih berdiri bersendekap diujung sofa, alisnya terangkat sebelah.

"Ada yang ingin kutanyakan juga" kini kedua tangannya sudah turun masuk kedalam saku celana satinnya. "Kenapa kau pergi tanpa berpamitan kepada Hoseok, apa supirku tidak bisa mengantarmu?"

Nada ketus pertanyaan Jimin sedikit menyulut amarah Yoongi yang memang tidak ingin mengatakan kemana sebenarnya ia pergi "Aku bukan anak kecil, aku bisa pergi kemanapun aku mau sendiri tanpa harus berpamitan dengan Hoseok ataupun diantar supirmu, dan hei... bukan ini yang ingin aku bicarakan, ada hal yang lebih penting"

"dan hal penting apa itu?" Jimin menatapnya tajam, hatinya jadi berdebar karenanya, lagi-lagi perasaan itu datang, inilah Jimin yang sudah satu minggu lebih tidak ditemuinya, sosok yang ia rindukan?

Yoongi berdeham gugup mengembalikannya dari lamunan akan Jimin, ada hal yang sangat ingin ia katakan "A-Aku~" suaranya sedikit menggantung ragu untuk melanjutkan "Aku ingin berhenti" ujarnya dalam satu tarikan nafas.

Jimin mengerutkan dahi tidak memahami ucapan Yoongi, menangkap wajah tidak mengerti Jimin Yoongipun melanjutkan "Aku ingin berhenti dari semua rencana balas dendam kita dengan sepupu dan pamanku, dan aku... " Yoongi sedikit melirik mata Jimin yang melebar terkejut, membuatnya berhati-hati untuk kalimatnya selanjutnya "Aku ingin kita bercerai" Inilah keputusan akhirnya, dia hanya lelah, dia hanya ingin hidup normal tanpa rasa dendam, dan Jimin... pernikahannya dengan Jimin hanyalah perlindungan yang diberikan kakeknya, maka jika tidak ada balas dendam maka dia juga tidak menginginkan pernikahan dengan Jimin, karena jujur, dalam hati Yoongi sudah tumbuh perasaan lebih terhadap Jimin, namun dirinya yang sering sekali merasakan kekecewaan, kematian kedua orang tuanya, kematian kakeknya, penghianatan sepupu dan pamannya, dia jadi takut dengan perasaan barunya kepada Jimin, takut kalau Jimin hanya mempermainkannya karena dia keturunan rivalnya, maka demi kedamaian hatinya ia juga ingin menghentikan semuanya dengan Jimin, sebelum perasaannya jauh berkembang untuk Jimin, dia harus mengubur dalam-dalam perasaanya itu.

"Jangan bercanda" Jimin sempat menyelusuri wajah Yoongi saat Yoongi mengutarakan keiinginannya mencari kebenaran akan permintaan itu dan yang Jimin lihat Yoongi benar-benar bermaksud dengan keiinginannya itu. Tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba Yoongi ingin mengakhiri semuanya? dan tentu jiwa kompetitif seorang Park Jimin itu menolak pengunduran diri itu, ingin sekali menentangnya "Kau lupa kita sudah buat kesepakatan dan setelah apa yang sudah kulakukan kau ingin berhenti begitu saja ck~" dengan cepat dia mebanting tubuh Yoongi tiduran diatas sofa dengan dirinya yang menindih tubuh Yoongi.

"Kalaupun balas dendam ini selesai, aku tidak akan melepasmu, ingat kau sudah menyerakan dirimu padaku"

Yoongi menelan ludah kasar melihat tatapan tajam Jimin lewat apa yang baru saja ia katakan. Tidak, dia tidak lupa dengan kesepakatan mereka diawal, tapi Yoongi pikir jika balas dendam itu tidak sepenuhnya terjadi, dia masih bisa membatalkan kesepakatannya bukan?.

"A-Aku... Hhmmppfft" belum sempat ia berbicara bibir Jimin sudah menyubal mulutnya, menciumnya dengan kasar, Yoongi berontak, kedua tangannya menahan dada Jimin untuk mendorongnya menjauh, namun Jimin tak bergeming, hingga tanpa berpikir panjang ia langsung menggigit bibir Jimin keras, dan berhasil, Jimin langsung menarik bibirnya, Yoongi dapat melihat darah sedikit mengalir yang lalu dijilat seduktif oleh Jimin bekas gigitannya, dan sedetik kemudian Jimin justru menyeringai jahat.

"Kau ingin bermain kasar rupanya... sesuai permintaanmu Yoongi sayang!!!" langsung tanpa aba-aba bibir Jimin kembali menyerang bibir Yoongi yang berusaha menoleh untuk menolak serangan Jimin namun kemudian kepalanya ditahan bergerak oleh sebelah tangan Jimin yang membuatnya semakin tak berkutik, Jimin benar-benar tidak main-main dengan ucapannya, siapapun tolong dirinya, dia tidak menginginkan ini, kalaupun dia menginginkan Jimin, itu tidak dalam paksaan seperti ini, namun karena dia benar-benar ingin menyerahkan segenap raga dan jiwanya kepada pria brengsek yang menindihnya saat ini, si Iblis Jimin.

"Tu..." dari ujung penglihatannya Yoongi melihat Hoseok yang datang dengan beberapa pelayan terlihat sangat kaget dengan apa yang dilihat mereka, sejenak ia mengingat bahwa dirinya dengan Jimin masih diruang tamu, area terbuka yang siapa saja bisa melihat apa yang mereka berdua lakukan, Jimin sudah tak terkendali, tangannya sudah bergerilya disekujur bagian atas tubuh Yoongi, kancing bagian atas kemejana sudah dibuka paksa oleh Jimin. Tubuh Yoongi bergetar, air matanya banjir begitu saja, merasa harga dirinya sudah dilecehkan dihadapan orang banyak, meski orang-orang itu pelayan dari Jimin, itu sangat melukai harga dirinya, dan dengan mendapat kekuatan entah dari mada, kedua tangannya yang rapuh berhasil mendorong tubuh Jimin ambruk terjengkang dilantai, dengan cepat ia bangun dari sofa dan meraih vas bunga panjang diatas meja, memecahkannya di ujung meja, lalu mengarahkan sisa pecahan kaca pada saluran nadi ditangannya.

"Berani mendekat, maka kupastikan yang kau dapatkan hanyalah jasadku" teriak Yoongi putus asa saat melihat Jimin yang bangkit hendak mendekatinya. Tubuh Yoongi masih bergetar takut dengan air mata yang terus banjir, namun dikuatkannya hatinya demi melawan Jimin, membela harga dirinya, Hoseok yang berdiri bersama beberapa pelayan hanya tercengang tidak tahu harus berbuat apa.

"Kalau kau tetap menginginkan diriku, maka kau bisa memiliki jasadku" Yoongi hendak menggerakkan pecahan kaca itu untuk menyayat saluran nadi ditangannya.

"Tidak... Jangan..." teriak Jimin dan Hoseok bersamaan yang lalu menghentikan pergerakan Yoongi.

"Apa yang kau inginkan???" tanya Jimin panik. Yoongi sempat bingung kenapa Jimin menghentikannya membunuh dirinya sendiri, bukankah akan sangat menyenangkan melihat keturunan rivalmu mati dihadapanmu, maka Yoongi menganggap jasadnya tidak menarik bagi Jimin dan akan merepotkannya bukan.

Maka dengan lantang ia berucap "Sudah kukatakan aku ingin berhenti, aku tidak ingin balas dendam, aku ingin bercerai denganmu dan keluar dari istana brengsek milikmu ini, aku ingin terbebas darimu. Kau dengar itu?"

Jimin mengusap wajahnya kasar lalu menghela nafas berat, merasa frustasi menghadapi Yoongi. "Baiklah... Pergi! Pergilah kemanapun kau mau... kau bisa kembali pada keluarga Min brengsekmu itu, dasar tidak tahu terima kasih"

Mendadak Yoongi meragu dengan perkataan Jimin "Aku... tidak akan kembali pada mereka" lirihnya "tapi kau tidak perlu khawatir, apapun caranya aku akan membalas pertolongan yang sudah kau berikan selama ini"

"Terserah dengan omong kosongmu" Jimin mengibaskan tangannya lalu meninggalkan ruang tamu bersama orang-orang yang masih tertinggal disana.

Yoongi langsung merosot begitu saja dilantai, pecahan kaca vas bunga yang ia pegangi tergeletak begitu saja dilantai, ketegangan ditubuhnya sudah menghilang begitu saja, datang perasaan lega yang dirasakan.

"Yoongi..." Panggil Hoseok pelan berusaha mendekati Yoongi, melihat kondisinya, namun Yoongi cepat sadar dari kelegaannya dan langsung bangkit berdiri dengan cepat mengancing semua kancing baju yang terbuka akibat perbuatan Jimin.

"Aku pergi Hoseok... terima kasih atas kebaikan kalian selama ini" Yoongi mebungkuk kepada Hoseok dan beberapa pelayan di hadapannya lalu berbalik pergi menuju pintu keluar rumah Jimin.

"Tunggu Yoongi, kau mau pergi kemana..." teriak Hoseok namun diabaikannya, menghilang dari balik pintu, keluar tanpa tujuan kemana kaki membawanya.

*

Hoseok yang bingung langkahnya tertahan antara menyusul Yoongi, atau bicara kepada Jimin terlebih dulu, namun setelah menimbang dia akhirnya menyusul Jimin di ruangannya.

"Apa yang sudah kau lakukam Jimin? Kau membiarkannya pergi" untuk pertama kalinya Hoseok memanggil Jimin hanya dengan namanya tanpa embel-embel tuan di depannya, itu berarti Hoseok benar-benar marah dengan sikap Jimin membuatnya menginggalkan rasa hormatnya pada majikannya itu.

"Ikuti dia tanpa sepengetahuannya, dan bawa dia kembali bila saatnya tepat" Perintah Jimin menghentikan Hoseok yang hendak meneriakinya lebih meminta penjelasan, namun dengan perintah seperti itu Hoseok tahu Jimin tidak bermaksud dengan apa yang sudah terjadi, Jimin tidak menginginkan Yoongi pergi, Hoseok tahu itu.

"Baik... Tuan Jimin, saya permisi" Hoseok membungkuk pamit lalu meninggalkan Jimin dalam mode berpikirnya.

*

*

*

Setelah lelah berjalan bermil-mil jauhnya dari rumah Jimin, akhirnya rasa lelahnya menuntun kakinya untuk duduk dibangku halte bus, yang ia tidak tahu entah daerah mana dari kota Seoul itu, dia tidak begitu mengahafal jalanan Seoul karena kuliah lama di Amerika. Dia sudah memutuskan tidak akan kembali ke rumah sepupu dan pamannya, tapi dia tidak punya tujuan saat ini, mengingat penyesalan Seokjin kemarin mungkin Seokjin akan membantunya saat ia meminta tolong? tapi bagaimana dengan pamannya? pasti pamannya masih membencinya. Jungkook? Yoongi tidak punya personal kontaknya, terlebih dia tidak membawa handphone yang diberikan Jimin padanya. Akhirnya dia hanya bisa membiarkan beberapa bus melewatinya karena tidak ada uang sepeserpun disakunya.

Dia mengagumi keberaniannya melawan Jimin tadi, tapi dia juga menyesali kebodohannya yang pergi begitu saja tanpa perbekalan apapun, dia kembali meruntuki dirinya, Jimin mana memperbolehlannya membawa apapun, dia dulu datang diculik Hoseok juga tanpa membawa apapun. Kau benar-benar hebat Min Yoongi sekarang mau pergi kemana dirimu.

Tak lama perutnya berbunyi meraung kelaparan, bahkan perutnya pun tidak mendukung keadaanya saat ini. Dia mengelus perut datarnya yang belum sempat sarapan karena meminta berbicara dengan Jimin pagi sekali, satu lagi kebodohan yang disesalinya.

Tidak, dia harus mencari cara, dia harus bekerja untuk menghasilkan uang, harga dirinya kan sangat tinggi, pasti dia tidak akan membiarkan dirinya mati begitu saja atas segala kebodohannya. Dan selangkah saat dia hendak beranjak dari halte bunyi klarkson mobil terdengar nyaring dibelakangnya. Dia menoleh saat sebuah mobil berhenti disamping jalannya. Merasa terkejut saat pintu kaca kemudi mobil tersebut bergerak turun melihatkan seorang Yoongi kenali itu sebagai Kim Namjoon, kakak dari Taehyung teman Jimin, yang itu artinya kakak ipar Jungkook dan anak pertama dari perusahaan Kim yang akan jodohkan dengan Seokjin. Meski hanya sekali bertemu tentunya Yoongi tidak mudah melupakan pesona seorang Kim Namjoon itu.

Namjoon melepas kacamata hitamnya penuh pesona saat sebelum bicara "Ku pikir aku salah mengenali, ternyata kau benar Min Yoongi, atau bisa kupanggil sekarang Park Yoongi" Namjoon tersenyum menyapa. Yoongi juga membalas tersenyum sopan.

"Apa yang dilakukan Jimin membiarkanmu sendirian disini? atau kau sedang menunggunya?"

Dengan cepat Yoongi mengibaskan tangannya "Tidak... Aku tidak menunggunya aku..." dia jadi bingung apa yang harus ia katakan kepada Namjoon, dia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.

"Ahhh~ Kalian pasti sedang bertengkar kan?" Yoongi sedikit terkejut dengan kesimpulan yang dibuat Namjoon sendiri, tapi kurang lebih kesimpulan itu tidak jauh dari kenyataan, dan Yoongi tidak berniat menjelaskan lebih lanjut, maka biarkan saja Namjoon berspekulasi sendiri.

"Kau mau pulang? aku bisa mengantarmu?" tawar Namjoon yang melihat Yoongi terlihat linglung itu.

Yoongi hanya menggeleng, "Tidak aku tidak ingin pulang ke rumah Jimin"

"Hhmmmm... pertengkaran yang cukup hebat berarti" Namjoon menggaruk dagunya terlihat berpikir, Yoongi tidak tahu Namjoon seorang yang ramah seperti ini mengingat dipertemuan malam itu dia hanya duduk berwibawa mendengar semua perbincangan.

"Kalau begitu aku bisa mengantarmu kemanapun tujuanmu, ayo cepat naik"

Yoongi hanya berdiri linglung, dia sendiri tidak punya tujuan kalau boleh jujur. Namun ternyata perutnya lebih dulu menjawab dengan berbunyi sebegitu kerasnya dihadapan Namjoon, yang membuat pipinya merona, malu setengah mati.

Namjoon tentu tersenyum menertawainya "Kurasa kita perlu ke restoran terlebih dulu" dan Yoongi tidak tahu harus menolak apa menerima ajakan yang menggiurkan dari Namjoon itu.

*

*

*

*

*

To be Continoued

-

Annyeong!!!! saya kembali dari lama gk update

Maafkan saya ya... untuk update selanjutnya tidak perlu ditunggu, mungkin makin ngaret. Maaf juga kalau banyak typo.

Saya ucapin banyak terima kasih buat yang udah review, follow atau favoritin ff gk mutu ini, semoga masih ada yg baca

Khamsahamnida !!!

Jibangie