Chapter 10

No Option

*

*

*

Mengutamakan privasi Namjoon sengaja menyewa ruang khusus untuk hanya mengajak Yoongi makan siang di restoran ternama di Seoul, tipikal orang kaya. Nyaman bagi Namjoon tapi tidak bagi Yoongi. Berada dalam satu ruangan dan hanya berdua dengan Namjoon membuatnya sedikit merasa... canggung, lagi pula dia juga tidak terlalu mengenal Namjoon, dan bagaimana jika Jimin tahu akan hal ini.

Tunggu dulu... Memang kenapa kalau Jimin tahu dia sedang bersama pria lain? Yoongi sudah meminta cerai bukan? Lagi pula Namjoon hanya berbaik hati pada dirinya yang menyedihkan ini. Tunggu... cukup ia berpikir sudah terlalu jauh.

"Kau tidak suka makan disini?" suara Namjoon yang sadar gerak gerik tak nyaman Yoongi menginterupsi.

"Tidak... Tidak masalah dimanapun, asal bisa makan"

Namjoon tertawa terbahak mendengar jawaban santai Yoongi, yang membuat Yoongi berpikir apa ada yang lucu dari ucapannya.

"Oh... maafkan aku, aku tidak bermaksud menertawakanmu, kau bicara seperti seorang gelandangan yang butuh makan"

Dan memang begitulah dirinya sekarang, gelandangan yang butuh makan.

Yoongi hanya tersenyum datar menanggapi.

Tak lama sesudahnya seorang pelayan wanita memasuki ruangan mereka mengihidangkan menu yang sebelumnya di pesan Namjoon, hanya saja Yoongi sedikit terganggu ketika si pelayan menata dua gelas cawan masing-masing disisi Namjoon dan Yoongi dan menuangkan wine di keduanya.

"Wine?" tanyanya.

"Kenapa? Aku sedang ingin meminumnya, kalau kau tidak suka abaikan saja, kau bisa pesan yang lain pada pelayan" Namjoon menoleh ke arah pelayan disampingnya sekilas, seolah memberi instruksi siap membawakan apapun yang dipesan Yoongi.

Tidak, bukannya Yoongi tidak menyukainya hanya saja... Yoongi jadi teringat pada Jimin yang juga sering meminum wine, tidak pagi, tidak siang atau malam Yoongi sering melihat Jimin meminum Wine dibanding minuman lain, dia jadi kembali teringat saat ia menyetujui bersekutu dengan Jimin di malam itu di kamar Jimin juga sedang menikmati winenya saat Yoongi mendatanginya dan bayangan hal yang terjadi setelahnya, tanpa sengaja membuat pipinya bersemu, lagi-lagi Jimin kembali menerobos pikirannya tanpa permisi.

Namjoon yang sekilas menyadari perubahan wajah Yoongi hanya tersenyum, merasa Yoongi tidak ingin memesan yang lain, lalu mengisyaratkan sang pelayan untuk pergi meninggalkan mereka.

"Aku tahu kau pasti tidak akan menolaknya..." lagi-lagi Namjoon tersenyum, yang hanya membuat Yoongi semakin merona, benar Yoongi memang juga sedang ingin minum wine, setidaknya rasa manis dari minuman mahal itu dibutuhkannya saat penat seperti ini.

*

Tidak banyak yang mereka bicarakan selama acara makan siang mereka, topik-topik umum yang menjadi bahan perbincanngan mereka, seperti cuaca, politik, bursa saham dan lainnya, sepertinya Namjoon mencoba membuat Yoongi merasa nyaman dulu sebelum akhirnya menanyakan hal yang sebenarnya ingin Yoongi hindari, tapi ia juga sadar setidaknya Namjoon perlu sedikit penjelasan. Namjoon sudah sangat baik dengannya, memberinya makan dan mengobrol dengannya, setidaknya obrolan singkat mereka sedikit meringankan beban pikirannya yang rumit.

"Apa yang membuat kalian bertengkar?" ingat jika Namjoom memyimpulkan sendiri tentang kondisinya dengan Jimin adalah pertengkaran dalam rumah tangga, dan Yoongi tidak membantahnya, kerena kurang lebih begitulah keadaanya.

"Ini masalah yang rumit" sangat rumit hingga Yoongi bingung bagaimana menjelaskannya.

"Tidak masalah jika memang rumit... Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur masalah kalian, hanya saja aku ingin kau tahu, bersama Jimin mungkin adalah hal yang terbaik bagimu"

Yoongi bingung, apa yang membuat Namjoon berpikiran seperti itu.

Namjoon tertawa ringan sejenak melihat ekspresi kebingungan Yoongi lalu melanjutkan ucapannya "Aku ingat ketegangan yang sangat mencekam saat makan malam keluarga waktu itu, kami tahu perseteruan apa yang terjadi di keluarga Min, Taehyung sempat menceritakannya sebelum acara makan malam, dan itu menambah semangat ayah untuk acara perjodohan itu, kalian yang lengah karena persekutuan mungkin dianggap sebagai celah bagi ayahku. Aku hanya menuruti karena kupikir itu bukan ide yang buruk, lagipula aku dan Seokjin juga saling mengenal..."

Yoongi langsung menatap tajam Namjoon penuh tanda tanya.

"Kami satu kampus dulu" jelasnya. Dan Yoongi jelas tidak tahu itu, dia yang berkuliah di Amerika sedang Seokjin di korea.

"Lalu kenapa kalian membatalkan perjodohan itu jika bagi ayahmu itu menguntungkan?"

Namjoon mengangkat bahu ringan "Ketika sekutu kami mengancam maka tidak ada yang bisa dilakukan, biar masih sangat muda, Jimin sangat kompeten, kami tidak mau kehilangan sekutu seperti Jimin hanya demi sekutu lain yang belum jelas kemampuannya seperti pamanmu, jujur waktu itu kami sangat terkejut dengan kehadiran kalian berdua, kupikir kalian tidak diundang"

"Memang tidak" Yoongi jadi tersenyum kering mengingat bagaimana ia dan Jimin bisa hadir malam itu, semua memang rencana Jimin, kalau dipikir Jimin sudah melakukan banyak hal untuknya sesuai kesepakatan mereka diawal, dan Yoongi dengan seenaknya ingin mengakhiri semuanya.

Sekejap saja keheningan tercipta diantara mereka. Yoongi yang terdiam membuat Namjoon mengikuti.

"Dengar Yoongi... aku tahu aku tidak berhak menasehatimu seperti ini, tapi situasimu saat ini sangat sulit, dan Jiminlah tempat terbaik untukmu berlindung"

"Tidak, dia sangat arogan dan manipulatif, membuatku tidak nyaman, aku hanya ingin ketenangan, aku juga sudah tidak perduli dengan pamanku, Seokjin hyung ataupun keluarga Min, aku hanya ingin hidup biasa"

"Hidup biasa? Hidup seperti apa yang kau maksud Yoongi?"

Yoongi hendak menjawab tapi tidak bisa... dia tidak memiliki jawabannya, hidup biasa? makan, minum, bekerja, tidur? ya itu terdengar biasa memang tapi benarkah kehidupan seperti itu yang diinginkannya, apa dia bisa? Setelah sebegitu megahnya kehidupannya sebelumnya.

Namjoon hanya tersenyum mendapati Yoongi yang lagi-lagi terdiam. "Jangan terlalu mempersulit diri... Orang-orang seperti kita tidak ditakdirkan untuk hidup biasa seperti yang kau sebutkan tadi, apa kau punya rencana dengan hidup biasa itu, kau bahkan tidak punya apa-apa saat ini, untuk hidup biasa itu juga tidak mudah Yoongi, kau pikir Pamanmu dan Jimin akan membiarkanmu hidup biasa? Orang seperti pamanmu tidak akan berhenti sampai kau benar-benar hancur, dan Jimin... Apa kau pikir dia akan diam begitu saja setelah apa yang telah dilakukannya untukmu? dan pada akhirnya kau hanya bisa memilih di hancurkan oleh siapa"

Yoongi melirik tajam Namjoon merasa sedikit tidak suka dengan gaya biacara Namjoon saat ini, dia yang terlihat ramah diawal ternyata tidak beda jauh dengan Jimin, angkuh dan penuh tipu muslihat, kalimatnya seolah membuat Yoongi pada akhirnya tersudut, memperlihatkan pada Yoongi bahwa dia tidak punya pilihan lain, dan sialnya Yoongi merasa terpengaruh juga dengan ucapan Namjoon.

*

*

*

Tak lama setelah itu, Hoseok menemui Jimin di ruangannya yang duduk dengan santainya disinggahsananya.

"Sudah mendapatkan kabar?" tanya Jimin tepat sasaran.

"Sudah tuan"

Jimin tersenyum miring, memang Hoseok benar-benar bisa diandalkan, kemampuannya sudah tidak diragukan lagi.

"Yoongi... " panggilan Hoseok kepada Yoongi tidak berubah sesuai permintaan Yoongi meski di depan Jimin saat ini, dan Jimin sedang tidak ingin memusingkan masalah sepele seperti itu. "Dia saat ini sedang berada di apartement tuan Namjoon..." Jimin menatap tajam seolah kaget, bagaimana bisa mereka bertemu, jika ada orang yang paling sedikit kemungkinannya bertemu dengan Yoongi, itu adalah Namjoon.

"Setelah pergi dari sini tidak sengaja Yoongi bertemu dengan tuan Namjoon, setelah makan siang tuan Namjoon mengantarkan Yoongi ke apartemenntya, sepertinya untuk sementara ini Yoongi akan tinggal di sana mengingat dia tidak punya tempat tujuan lain"

Jimin menghela nafas, berpikir sejenak.

"Mungkin ini memang sudah ditakdirkan Tuhan, cepat atau lambat Yoongi pasti mengingatnya"

Hoseok mengangguk menyetujui kalimat Jimin.

"Cepat siapkan mobil, kita ke apartement Namjoon sekarang"

*

*

*

*

*

To be Continoued...

Hhhhaaaaiiiiii... adakah yg masih ingat cerita ini????

maaf kelamaan update malah keseringan update di lapak wattpad

maaf juga kalau pendek setelah sekian lama gk update

tetap menunggu comentnya buat penyemangat

Jibangie