MY MATE

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

KUROKO NO BASUKE © TADATOSHI FUJIMAKI

Genre : Romance, Fantasy

Rate : T

Pairing's : Sasunaru, Akakuro, Itakyuu, and others

Warning : AU, OOC, Devils Seme, typo(s), Tidak sesuai EYD, cerita pasaran, gaje, alur maju-mundur, alur cepat, femUke, Human Uke, absrud, dan segala kekurangan lainnya.

"Don't Like, Don't Read"

Chapter 2 : awal pertemuan part 2

Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela menerpa paras manis gadis baby blue yang masih terbuai mimpi, Kuroko Tetsuya menyibak selimutnya namun kehangatan itu masih ada dan semakin membuatnya nyaman. Sang gadis baby blue itu menggeliatkan tubuhnya berusaha bangun namun, tidak bisa seakan ada yang mencegahnya bangun. Manik aquammarine indah itu melihat ke arah perutnya dimana sepasang lengan kekar melingkar erat seakan tak ingin lepas dipinggangnya. Paras manis sang baby blue semakin merona merah ketika mendapati pemuda berwajah tampan masih memejamkan matanya damai senyum tipis tak luntur terlukis di bibir tegasnya sejak semalam.

Kuroko Tetsuya mengangkat sebelah tangannya untuk mengelus paras rupawan didepannya tak menyangka akan seseorang yang tidur di ranjangnya sementara lelaki yang mendekapnya semakin nyaman dan tidak ingin bangun untuk sementara. Gadis baby blue tersebut mengalihkan pandangannya dari sang pemuda untuk melihat jam berapa sekarang, manik azurenya membulat saat menyadari dirinya hampir terlambat ke sekolah. Segera dia bangun dan menyingkirkan lengan pemuda itu di pinggangnya perlahan tidak ingin mengganggu tidur lelap sang pemuda penolongnya tadi malam. Akan tetapi, gerakkan pelan sang gadis ternyata mampu membuat pemuda dengan surai merah itu bangun.

Manik heterochrome yang tersembunyi keindahannya menampakkan diri dan menatap gadis itu lembut saat bertemu pandang dengan pasangannya. Tangan kekar seputih porselen itu membelai lembut surai langit yang disukainya, bibir tegas sang pemuda mengecup lembut kening sang gadis Kuroko. Akashi Seijuurou tak pernah mengalami hal yang membuatnya bahagia selain gadis dengan marga Kuroko didepannya, gadis inilah selama ratusan tahun belakangan dicarinya semenjak peperangan antar klan berakhir.

Tak ingin lebih lama lagi Kuroko Tetsuya segera melesat ke kamar mandi, meninggalkan pemuda dengan surai scarlet yang terkekeh geli melihat sang gadis terburu-buru ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian samg gadis sudah rapi dengan seragam sekolahnya namun, tidak mendapati pemuda scarlet itu di kamarnya. Kuroko Tetsuya berjalan keluar kamarnya mencari sang pemuda yang ternyata berada di dapur tengah memasak sarapan untuk keduanya. Akashi Seijuurou yang merasakan kehadiran sang gadis menolehkan kepalanya ke belakang hanya untuk memberi senyuman selamat pagi pada gadisnya.

"Ohayou, Akashi-kun!"

"Ohayou mo, Tetsuya!"

Walaupun Akashi Seijuurou seorang pangeran iblis tetapi, karena seringnya ia kabur ke dunia manusia jadi sang Akashi sudah hafal dengan kebiasaan manusia termasuk memasak. Pemuda itu melangkah ke meja makan sederhana dengan dua porsi nasi goreng buatannya dan memulai sarapan dalam keheningan. Kuroko Tetsuya masih memperhatikan paras tampan pemuda di depannya ia merasa sangat familiar sekaligus asing dengannya. Akashi Seijuurou tahu sang gadis menatapnya intens namun, masih ada yang mengganjal di hati pemuda tersebut karena gadisnya tidak mengenali dirinya sebagai pasangan hidup gadis itu. Kuroko Tetsuya memincingkan manik azurenya, merasa malu saat di tatap sepasang heterochrome itu intens dan senyum lembut terpatri di bibir tipis Sang Akashi. Senyuman itu entah kenapa membangkitkan perasaan rindu yang mendalam di hati gadis baby blue tersebut, membuat Kuroko Tetsuya merasa aneh dengan perasaannya rindu ini ditunjukkan kepada siapa dirinya juga tidak mampu menjawabnya.

"Akashi-kun?" Panggil gadis baby blue pelan ketika selesai sarapan.

"Ya, Tetsuya?" Balas Pemuda Akashi dengan senyum lembut terukir indah dibibirnya.

"Sia-" Pertanyaan Kuroko Tetsuya terputus karena dobrakan keras di pintu depan apartemennya membuat sang gadis menghela napas lelah sedangkan, pemuda didepannya mengenyitkan keningnya heran.

BRAKK!

"Tetsu-nee!" Seorang gadis bersurai pirang keemasan menerjang pemilik apartemen dengan erat hingga terhuyung, tak memperdulikan pemuda dengan surai semerah darah menatapnya tidak suka karena terlalu intim dengan matenya.

"Naru, ada apa kau kesini?" Kuroko Tetsuya sangat heran dengan kedatangan mendadak gadis Namikaze tersebut.

"Ayo berangkat sekolah bersama, Tetsu-nee!" Ajak Naruto Namikaze semangat tanpa peduli dengan aura mencekam Sang Akashi yang berdiri di samping Kuroko Tetsuya.

"Tetsuya, kau akan berangkat sekolah bersamaku!" suara baritone Sang Akashi menginterupsi percakapan keduanya.

"Tapi, Akashi-kun?"

"Aku tidak menerima penolakan, Tetsuya!" Akashi Seijuurou tegas tidak mau gadisnya menolak perintahnya.

"Hm." Sahut Sang gadis ketus.

Naruto yang menyaksikan perdebatan keduanya hanya memiringkan kepalanya bingung, sang kakak kelas yang selalu berekspresi datar itu mampu membuat raut cemberut terimut di depan pemuda scarlet tersebut. Gadis bersurai sky blue itu menghela napas kasar tidak mengerti dirinya akan menjadi orang berbeda jika berhadapan dengan pemuda Akashi yang saat ini tengah menyeringai tampan. Naruto Namikaze menggenggam lembut tangan kanan sang gadis untuk meredakan sedikit emosinya, Kuroko Tetsuya menghela napas panjang menyadari perilakunya telah di luar kebiasaannya dan tidak sepatutnya ia terlalu akrab dengan lelaki yang baru dikenalnya kemarin.

Pemuda dengan surai scarlet itu masih menyeringai kepadanya walau tatapannya melembut ketika kedua manik azurenya bertemu pandang dengan sepasang iris heterochrome menawan sang Akashi. Kuroko Tetsuya segera memalingkan wajahnya ke arah lain selain paras tampan sang scarlet. Akashi Seijuurou menatap lembut manik kembar aquamarine didepannya seakan tidak ingin menyakiti orang yang sangat berharga di hatinya. Sang Namikaze hanya dapat mengamati kedua insan yang tengah berdebat didepannya dengan raut bingung di paras manisnya.

Naruto Namikaze langsung saja meraih tangan mungil sang gadis Kuroko untuk berangkat ke sekolah dan mengacuhkan keberadaan pemuda scarlet yang menatapnya tajam seakan tak terima matenya di bawa kabur oleh sang blonde. Kuroko Tetsuya hanya bisa pasrah di seret adik kelasnya keluar dari apartemennya, sembari melempar senyum sarat permintaan maaf pada pemuda tampan bersurai merah yang terdiam di dapur merangkap ruang makan apartemennya. Akashi Seijuurou menghela napas lelah sembari berjalan santai memasuki apartemen matenya, setelah ikut mengejar sang istri yang di seret oleh Namikaze bungsu keluar apartemen Kuroko Tetsuya. Sang Akashi membersihkan bekas sarapan keduanya sebelum gadis Namikaze itu mengganggu momentnya dengan sang istri walau gadis baby blue tersebut tidak mengenali dirinya.

Skip time!

Mobil mewah keluarga Namikaze berjalan pelan keluar dari komplek apartemen Kuroko Tetsuya, sang gadis Kuroko hanya memandang ke luar jendela tidak berniat memecah keheningan dalam mobil yang mereka tumpangi tersebut. Naruto Namikaze merasa aneh dengan keterdiaman sang baby blue, tak biasanya seorang Kuroko Tetsuya menjadi pendiam walau paras manisnya tetap sedatar jalan yang mereka lewati.

"Naru-chan?" Suara lembut memanggil nama Sang Blonde setelah hening yang cukup lama di dalam kendaraan mewah tersebut.

"Ada apa, Tetsu-nee?" Balas Naruto riang walau tak mampu menutupi raut khawatir di paras manisnya.

"Kamu merasa aneh tidak dengan laki-laki yang menolongku kemarin, Naru-chan?" Bukannya menjawab gadis baby blue tersebut malah mengajukan pertanyaan.

"Memangnya ada apa dengan pemuda itu, Nee-chan?" Sang Namikaze masih tidak mengerti dengan maksud sang kakak kelas.

"Entahlah. Aku hanya merasa pemuda penolongku itu memiliki aura berbeda dan anehnya hanya perasaan nyamanlah yang kurasakan saat berada disampingnya. Sungguh semua ini tidak kumengerti, Naru-chan." Jelas Kuroko Tetsuya lirih perlahan mengungkapkan kegundahan hatinya.

"Mungkin ada sesuatu yang kakak lewatkan maupun lupakan selama ini atau bisa jadi pemuda itu adalah orang yang kakak tunggu-tunggu kehadirannya. Tapi, ini hanya perkiraanku saja Tetsu-nee." Penjelasan panjang dari Naruto Namikaze sedikit melegakan perasaan Sang Baby blue.

"Ya, sudahlah. Ayo turun kita sudah sampai di sekolah, Naru-chan!" Ajak Kuroko Tetsuya lembut ketika sadar mobil yang mereka tumpangi telah berhenti di depan pintu gerbang Konoha high school.

"Ha'i, Tetsu-nee."

Kedua gadis cantik itu berjalan santai di halaman sekolah yang luas setelah turun dari mobil mewah sang gadis Namikaze, Sang Baby blue tetap tenang berjalan di samping Naruto tidak memperdulikan tatapan kagum maupun memuja setiap siswa pada keduanya. Paras manis kedua gadis itu berseri-seri untuk Namikaze bungsu dan ekspresi datar Kuroko Tetsuya walau binar kebahagian terpatri di sepasang aquamarine miliknya, mengacuhkan keadaan di sekelilingnya tanpa menyadari sepasang onyixs tengah mengawasi keduanya intens. Seorang pemuda bersurai raven dengan bagian belakangnya melawan gravitasi (red: pantat ayam) tengah mengawasi dua orang gadis yang sedang berjalan santai dibawahnya. Senyum yang jarang ia perlihatkan pun terukir tipis di bibir pemuda itu, pandangannya tak pernah lepas dari dua gadis pirang dan baby blue tersebut.

Seringai tampan kembali terukir di sudut bibir tegas sang raven seakan telah menemukan apa yang selama ini dicarinya. Sepasang onyxs yang sekarang berubah merah dengan tiga tomoi berputar cepat tengah melayangkan deathglare mematikan kepada semua manusia disekeliling kedua gadis itu. Setiap orang yang masih menatap lapar kedua gadis tersebut bergidik ngeri, jantung mereka berdebar kencang seakan ingin meloncat dari tempatnya. Pemuda raven itu masih berdiri tegap di atas atap gedung sekolah itu dengan sayap hitam terbentang lebar dipunggung kekarnya. Mata merahnya yang dinamakan sharingan tetap mengawasi Namikaze Naruto dan Kuroko Tetsuya sampai keduanya menghilang di balik tembok kelas masing-masing.

"Akhirnya kutemukan kau, Dobe!" seringainya tak kunjung pudar dari bibir tipis pemuda itu.

Pemuda reven itu tidak lain adalah Sasuke Uchiha sang pangeran iblis yang ikutan kabur ke dunia manusia, tak memperdulikan keadaan para penguni Kerajaan Uchiha yang tengah panik setengah mati mencari pangerannya karena menghilang tiba-tiba tersebut. Sang Pangeran Iblis dari Klan Uchiha itu dengan cepat berbalik ketika merasakan aura kuat di belakang punggungnya, kini terlihat pemuda tampan bersurai merah tepat berdiri didepannya dengan sepasang heterochrome menatap mata sharingannya tajam. Akashi Seijuurou menatap pangeran dari Kerajaan Uchiha itu intens dengan seringaian tak kalah mengerikan dari Sang Uchiha. Sasuke Uchiha membalas tatapan sang Akashi datar namun, tidak dengan bibirnya yang memperlihatkan seringai tipis membuat sang pemuda scarlet menghela napas lelah.

"Apa yang kau lakukan disini, Sasuke?" Tanya Sang Akashi sambil menatap pemuda raven di depannya tajam.

"Hanya ingin mengawasi mateku, Seijuurou-san." Balas Sasuke Uchiha santai.

"Kau kabur, Sasuke?" Tanya sang Akashi tenang.

"Hn." Tukasnya acuh.

"Apa tujuanmu, Sasuke? Apa yang kau cari?" Tanya Sang Pangeran Akashi dengan sepasang manik heterochrome menatap tajam sharingan didepannya.

"Sama sepertimu, Seijuurou-san." Balasnya tenang tak terpengaruh aura intimidasi sang scarlet.

"Jadi, kau sudah menemukan pasanganmu ya." Tanya atau bisa dianggap pernyataan karena sang Akashi tidak menyertakan tanda tanya di kalimatnya.

"Hn."

"Untuk sementara biarkan mereka disini kita akan pikirkan cara yang tepat untuk membawanya kembali ke dunia iblis. Sebelum itu aku ingin mengembalikan ingatan istriku yang hilang saat terlempar dari dunia iblis. Sasuke, hal itu juga berlaku untuk matemu dia tidak akan mengenalimu sebagai pasangannya, ada sesuatu yang menyebabkan memori mereka terkunci. Jadi, kita hanya bisa mendekati mereka pelan-pelan dan melindunginya dari jauh." Penjelasan panjang Akashi Seijuurou sedikit membuatnya paham mengapa kekasihnya tidak mengenalnya walau pasangan SasuNaru tersebut sudah berpapasan beberapa kali.

"Hn."

Pemuda scarlet melangkahkan kakinya mendekati Sang Uchiha lalu menepuk bahu kekarnya pelan, seraya ingin menunjukkan rasa simpatinya pada sang Raven yang bernasib sama sepertinya tidak dikenali oleh pasangannya. Akashi Seijuurou membentangkan sayap hitamnya dan terbang tinggi kembali ke apartemen sang gadis Kuroko, untuk menyiapkan rencananya yang akan menjadi salah satu guru baru di sekolah istrinya. Setelah kepergian sang Akashi pemuda raven itu ikut terbang meninggalkan atap sekolah tersebut, Sasuke Uchiha terbang melintasi rumah-rumah warga seraya mengamati aktivitas para manusia dengan seksama. Sampai tak sengaja manik merahnya melihat seseorang gadis berambut pirang tengah berjalan sedirian, senyum lembut terpatri di bibirnya sepasang onyixs memandang paras manis sang gadis.

Namun, tatapanya berubah tajam ketika gadisnya diganggu berandalan di jalan tersebut. Segera pemuda raven itu menukik turun lalu mendarat di sudut agak jauh dari tempat kejadian, Sasuke Uchiha menatap nyalang para berandalan itu manik hitamnya menajam gigi gemeletuk menahan murka. Gadis pirang yang tidak lain Namikaze Naruto sedikit panik karena tidak menyangka dirinya di cegat sekelompok penjahat. Di sekitar jalan itu memang sepi dan sering para berandalan berkeliaran, Naruto yang hendak ke toko untuk membeli perlengkapan kelas harus melakukkannya sendiri karena teman-temannya tengah sibuk membersihkan kelas mereka. Terpaksa sang gadis melawan semua berandalan yang mengepungnya, kebetulan dirinya bisa bela diri walau hanya sedikit. Namun, ia tak yakin bisa melawan delapan orang laki-laki itu sendirian.

Naruto terus melawan dengan sengit namun, kekuatannya tak sebanding sudah beberapa kali tubuhnya kena pukulan. Gadis bersurai pirang itu meringis sakit memegangi lengan kirinya yang terkena sayatan, ternyata lawan-lawannya membawa senjata tajam. Naruto berusaha menghindar serangan pisau yang mengincar perutnya namun, gerakkannya kurang cepat sehingga pisau tersebut menggores pinggangnya membuat gadis blonde itu mundur selangkah sembari memegangi pinggangnya yang terluka. Pemuda bersurai raven yang menyaksikan penyerangan gadis Namikaze tampak menggeram marah. Tanpa pikir panjang pemuda itu menerjang para brandalan tersebut dengan beringas, pukulan dan tendangan mendarat telak di tubuh mereka hanya dalam waktu singkat Sang Raven menumbangkan seluruh penyerang gadisnya.

Sepasang manik onyxsnya berkilat mengerikan tanda sang pangeran tengah murka, tangannya terkepal di samping kanan-kiri tubuh tegapnya. Setelah menenangkan hatinya Sasuke Uchiha berjalan santai menghampiri sang gadis Namikaze, lengan kekarnya melingkar erat di pinggangnya menuai ringisan perih dari gadisnya. Tangan Sasuke yang memeluk pinggang sang kekasih bersinar redup berwarna hijau pudar di sekitar luka gadis itu, hanya butuh satu menit proses penyembuhan sang kekasih mengingat yang mengobati adalah pangeran iblis terkuat.

"Kamu tidak apa-apa, Naru?" Tanya lembut sang raven ingin memastikan keadaan sang kekasih.

"Iya. Sudah lebih baik." Sahut sang gadis lirih namun, masih terdengar jelas di telinga tajam sang raven.

"Syukurlah, Dobe." Perasaan lega menghampiri hatinya pemuda itu mengeratkan dekapannya pada sang gadis.

"Tapi, kamu siapa?" Raut bingung jelas terpahat di paras manis sang blonde.

"Aku tunanganmu, Naruto." Balas Sasuke lembut namun, tak mampu menyembunyikan rasa sakit di hatinya.

"Benarkah?"

"Benar, Sayang"

Pertemuan yang telah ditakdirkan antara sepasang anak manusia (walau salah satinya tak bisa dikatakan manusia karena dia iblis) tidak dapat dihindari maupun dielakkan, karena benang merah sudah mengikat kuat di jari kelingking keduanya. Dengan bertemunya kembali sepasang kekasih itu menjadi tanda dimulainya perjalanan panjang menanti keduanya. Naruto semakin menenggelamkan wajah cantiknya di dada bidang sang pangeran membuat senyum lembut terukir indah di bibir tegas sang raven. Setelah puas berpelukkan di tengah jalan itu keduanya berjalan santai meninggalkan para berandal yang terkapar dengan tangan saling bertautan. Bagaimana selanjutnya? Akankah ingatan yang hilang dapat kembali?

T.B.C

Review?

Kritik dan saran dinantikan untuk kelanjutan fic ini maaf jika semakin gaje, jujur author lagi puyeng dan cepat-cepat menyelesaikan cerita ini. Apdetnya tidak bisa ditentukan karena tergantung mood.

See you next chapter!

Sign,

Syabaku