Celebrity Conflict © AzuraLunatique
Spin Off of Stalker Conflict
Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate
Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life
Rate is T
.
Summary
Aku adalah seorang idola terkenal, penyanyi juga baru-baru ini merambah dunia acting. Kehidupanku yang adem ayem hilang karena kedatangan Onee-san baru yang membuatku ingin memilikinya. TAPI, yang lebih parah, adalah munculnya cewek gila yang membuat kepalaku pusing juga… senang? Entahlah, setiap bertemu dengannya, aku merasa nyaman.
.
Happy Reading! :D
.
Fuuto POV
Hari ini berakhir dengan jadwal interview untuk salah satu majalah yang populer di kalangan remaja cewek. Dan aku beruntung sekali bisa berjalan pulang dengan seorang wanita seksi. Hm, moga wanita ini mau menemaniku malam ini.
Aku berjalan sambil berbincang-bincang ringan dengan wanita itu selama perjalanan menuju Hotel. Dan beruntungnya aku ketika mendapati wanita itu juga tertarik padaku. Haha, lucky me!
Tapi, tiba-tiba aku merasa bahwa ada orang lain di sekitarku. Karena sudah cukup lama di dunia entertainment, aku jadi cukup kebal dengan beberapa paparazzi yang biasanya menguntit di belakang.
Aku meraih beberapa helai rambut wanita seksi yang bersamaku itu, tampak seperti ingin menggoda wanita itu. Saat itu juga, aku melirik sedikit ke belakang dan-
Haaaaa!?
Ngapain cewek gila itu ada disini?
Tanpa bisa kutahan, suara cekikikan lepas dari mulutku.
Dia lagi meranin stalker apa?
"Hm, ada apa Fuuto-kun?" tanya wanita seksi itu sambil membungkukkan badannya dengan posisi yang benar-benar aduhai. Wanita ini benar-benar sedang menggodaku ternyata.
"Nggak! Anda cantik sekali malam ini. Saya sampai nggak percaya anda mau saya, antar" jawabku sambil berusaha fokus dengan wanita seksi ini.
Wanita seksi itu tersenyum malu tapi gerakan badannya masih jelas, berusaha untuk menggodaku.
Kami berdua pun sampai di Lobby hotel tempat kami menginap. Malam ini aku memang memesan satu kamar untuk konsentrasi membuat lagu. Di rumah, teriakan-teriakan menganggu cukup membuatku nggak bisa fokus.
"Terima kasih ya sudah mau mengantarkan saya balik ke hotel. Kalau mau, Fuuto-kun mau mampir dulu ke kamar saya? Saya bawa daun teh yang bagus loh," ajak si wanita seksi.
Aku tersenyum. Ah, wanita ini pengen aku bermalam rupanya.
Aku melirik sekilas ke belakangku.
Cewek itu masih membuntutiku.
"Suatu kehormatan untuk bisa minum teh bersama. Tapi saya ada urusan. Lain kali saja bagaimana?"
Wanita itu tampak kaget. Yah, awalnya aku memang mengajak wanita itu untuk bersenang-senang. Tapi…
Aku tak bisa melewatkan keberadaan cewek ini.
Terlalu menarik untuk dilewatkan.
Aku pun mengantar wanita itu ke kamarnya yang satu lantai dengan kamarku, lalu aku pun pergi ke kamarku tapi tidak menutup pintu rapat-rapat. Aku pun menunggu cewek itu lewat sambil mengintip dari celah pintu.
Dan cewek itu pun lewat.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik cewek itu ke dalam kamar dan mendorongnya ke dinding. Cewek itu merintih. Aku menguncinya dengan kedua tanganku. Kalau tidak dikunci, aku yakin banget cewek ini bisa kabur.
"Sedang apa kau disini cewek gila?"
Cewek itu membelalak kaget. Sepertinya ia tak menyangka aku tahu kalau dia membuntutiku.
Aku nyengir, menunggu reaksi cewek ini.
"Hai, Fuuto!" dia menyodorkan kresek yang dibawanya, "Mau susu segar?"
…
"BUAHAHAHAHAHA!" –dan tawaku pun lepas dengan gila-gilaan.
.
.
.
Sinar matahari menyerebak masuk melalui jendela yang tidak ditutupi oleh gorden. Pagi ini, aku terbangun dengan perasaan yang anehnya… sangat nyaman. Didalam rengkuhan tanganku, aku bisa melihat si cewek gila tidur dengan pulas.
Aku rasanya ingin kembali tertawa ketika mengingat kejadian tadi malam. Ya ampun! Ini pertama kalinya seumur hidup, ada nyanyian yang bisa bikin aku ketawa terbahak-bahak. Cewek ini benar-benar menarik. Aku tak salah untuk menolak tawaran wanita seksi tadi malam. Bersama cewek ini, segalanya menjadi lebih menyenangkan.
Cewek ini bisa jadi mainanku jika aku jenuh. Ah, ide yang bagus.
Aku kembali menatap dengan teliti wajah tertidur yang ada di hadapanku. Bulu mata lentik. Kulit putih yang terlihat segar. Hidung mancung serta bibir dengan rona merah yang… sial! Kenapa aku jadi pengen nyium ini cewek?!
Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan deru jantung yang sangat bikin tidak nyaman.
Tiba-tiba, lenguhan pelan terdengar dari cewek gila dan aku spontan menarik cewek ini lebih dalam ke dalam pelukanku. Aku pun berpura-pura tidur karena tiba-tiba saja sebuah ide jahil terlintas di kepala.
Cewek gila itu sedikit meronta pelan.
Aku dengan sengaja mempererat pelukanku.
"Fu-Fuuto," desis cewek itu sambil berusaha keluar dari pelukanku.
Aku pun memulai rencanaku.
"Cewek… gila…" gumamku pelan, masih dengan berpura-pura tidur. ceritanya, aku sedang ngelindur.
Badan cewek itu menegang. Aku tersenyum dalam hati. Cewek itu kembali berusaha untuk melepas diri.
"Ehmmmm…. Ja-Jangan…" lanjutku.
Badan cewek itu tak hanya menegang, tapi kini juga sedikit gemetar.
"Ehmmm… Dasaaar… mesum… cewek… gila…" gumamku lagi.
Kali ini, badannya cewek itu gemetar hebat. Aku rasanya sudah ingin tertawa tapi kutahan, namun aku sudah tak tahan.
Aku pun membuka mataku sambil melemparkan cengiran terbaikku. Ketika membuka mata, aku menemukan wajah yang sudah bersemburat merah dengan mata terbelalak.
"Hehehe…. Kamu mikirin apa cewek gila?" Aku kembali terkekeh. "Dasar mesum."
Cewek itu cengo. Tapi aku bisa lihat kemarahan mulai tampak di wajahnya yang merah dan-
BAKKK! – sebuah pukulan di perutku.
"Aw!" rintihku, kesakitan.
Cewek itu menatapku horor.
Perutku sakit tapi…
"Hahahaha!" aku tertawa dengan sesekali diselingi rintahan, "Aduduh. Hahahaha!"
Wah wah, cewek ini benar-benar menarik tapi… aw, kuat juga dia.
Sakit.
.
.
.
Aku mendengus kesal ketika melihat betapa dekatnya kini Nee-san dengan saudara-saudaraku yang lain. Tidak apa kalau mereka hanya menganggap Nee-san sebagai saudari, tapi kalau lebih, itu nggak boleh! Aku sudah menetapkan bahwa Nee-san akan jadi milikku. Karena bagiku, Nee-san satu-satunya yang mengerti diriku.
.
.
.
Aku menghela nafas panjang ketika seorang kakak kelas yang ternyata adalah ketua OSIS Hinode mengatakan bahwa aku akan memiliki seorang manager yang akan menjagaku di sekolah.
Yang benar saja. Aku nggak butuh. Aku baik-baik saja. Aku bisa jaga diri. Emangnya aku anak kecil?
"Dia yang akan melindungimu dari hal-hal yang mungkin tidak baik untukmu. Dia cukup disegani di sekolah ini bahkan mungkin idola bagi sebagian banyak siswa disini," jelas sang Ketua OSIS.
Idola? Wow.
"Cewek atau cowok?" tanyaku. Pengennya sih cewek. Cowok kemungkinan besar akan menyebalkan.
"Cewek."
"Oh. Namanya?"
"Haruno Aika. Kelas 3-1. Dia cantik kok. Banget. Kalau kamu ketemu dia, kamu pasti langsung tahu kalau itu dia," jelas sang Ketua OSIS lagi, tapi kali ini ada binar kekaguman di matanya.
Haruno Aika? Rasanya pernah dengar… tunggu! Aika! Itu kan nama cewek gila! Dan cewek gila itu memang temannya Nee-san. Berarti…
Aku termenung sejenak. Perkataan yang entah apa itu yang dikatakan sang Ketua OSIS tak kudengarkan. Dalam pikiranku, hanya ada : Sekolah pasti menyenangkan jika ada cewek gila itu.
.
.
.
Uwah. Jelek banget wajahnya.
Di hadapanku, si cewek gila berdiri dengan tangan berkacak pinggang juga wajah super cemberut. Mulut cewek itu monyong banget. Aku yakin itu mulut lama-lama bisa dower. Dan ketika kutatap matanya, aku sempat tertegun.
Cewek gila habis nangis? Kenapa?
Sudahlah…
"Kenapa wajahmu jelek gitu, sen-pai!" seruku sambil menekankan kata senpai. Tak lupa seringaian terpampang di wajahku.
"Kamu daritadi kemana saja?" tanya si cewek gila sambil mengurutkan keningnya. "Aku keliling sekolah tau buat nyari kamu!"
"Kenapa nyari aku? Mau minta tanda tangan? Atau-"
"SIAPA YANG MAU BODOH!" teriaknya, tampak kesal.
Bodoh? Ck, ck. Cewek ini berani banget sih.
"Terus?"
Cewek gila itu menghela nafas. "Kamu belum dengar dari Seitokaichou kalau aku bakal jadi manager-mu di sekolah?" Kini, cewek gila kembali tenang.
Jadi beneran si cewek gila yang jadi manager-ku? Aku menatap lekat-lekat penampilan si cewek gila yang katanya adalah idola sekolah. Rambut panjang hitam ikal yang tergerai manis di punggungnya. Beberapa helai tersingkap ke depan dan aku yakin kalau rambutnya pasti halus dan lembut. Tak lupa wajah cantik namun yang menurutku lebih ke imut juga mata bulat yang tajam serta bibir yang… ehem, lumayan membuatku ingin, ehem, menyentuhnya. Aku menatap keseluruhan penampilan si cewek gila. Badannya nggak tinggi tapi aku tahu badan cewek gila itu cukup berlikuk dan dadanya lumayanlah… besar.
Aku tak mau mengakuinya, tapi, cewek gila memang cantik… banget.
Tapi, bagiku cantikan Nee-san.
"Kamu ngapain bengong?" tanya cewek gila.
"Eh? Aku hanya senang saja karena dengan begini aku selalu bisa bersamamu senpai."
"A-Apa maksudmu?" Cewek gila tampak gugup.
Seringaianku melebar. "Karena sekolah bakal menyenangkan dengan adanya senpai." Aku memajukan tubuhku lalu dengan cepat mencium pipi kanan cewek gila.
Cewek gila itu melotot. "Kamu ngapain bodoh?"
"Uang muka untuk menjadi manager-ku. Kalau kurang senpai boleh minta lagi kok."
"OGAH!"
Aku terkikik senang. "Yoroshiku onegaishimasu, Haruno Aika-senpai!" Aku mengedipkan sebelah mataku.
Cewek gila menatapku jijik. "Yo-Yoroshiku!"
.
.
.
To be continued…
.
1389 words.
July of 10th 2014.
.
Author's Note :
Sorry for the late update!
Thank you for your apreciation purpleYumi and BlackLapiz!
And also thank you for all of you who reads my fic.
See you! #bow
