Celebrity Conflict © AzuraLunatique
Spin Off of Stalker Conflict
Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate
Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life
Rate is T
.
Happy Reading! :D
.
Fuuto POV
Hari ini adalah hari keduaku di SMA. Seperti yang kuduga, banyak cewek-cewek yang mengintip kelasku. Bahkan setiap aku melewati suatu kelas, pasti ada yang memanggil namaku. Aku cukup senang dengan ketenaran ini tapi juga sebal. Berasa nggak punya privasi. Selalu ada yang mengganggu.
Ketika itu lah aku melihat sosok cewek gila di ujung koridor yang sedang berbincang dengan beberapa cewek.
Dan, tentu saja, tanpa berpikir panjang, aku menghampiri cewek itu dan menepuk pundaknya. "Ohayou, senpai!"
Cewek gila terkejut seperti dugaanku dan melangkah mundur, menjauhiku. Wajahnya menyiratkan ketidaksukaannya atas kehadiranku, berbeda sekali dengan cewek-cewek yang tadi berbincang dengannya. Cewek-cewek itu menatapku dengan mulut mangap kayak ikan.
"Mau apa kau?" tanya si cewek gila, tampak tak tertarik.
Ck. Kenapa sih dengan cewek ini? Aneh. Nggak ada apa kebanggaan bisa berdekatan denganku?
"Aku hanya mau nyapa senpai kok!" jawabku sambil memasang senyuman terbaikku.
Dan nggak disangka, cewek gila itu merona.
"A-Apa-apaan sih? Liar!" serunya, tergugup-gugup dengan wajah yang begitu lucu. Pfft, dasar tsundere.
"Aku nggak bohong senpai. Ah, apa senpai mau makan siang bareng? Aku kesepian," ajakku.
"Ogah. Lagian, kesepian apanya? Kan banyak tuh, fans yang mau sama kamu!" ujarnya sambil memonyongkan mulutnya dengan begitu imutnya. Aish, aku gemes.
"Senpai! Masa nggak nangkep sih?"
Ia mengerutkan keningnya. "Apaan?"
Aku geleng-geleng kepala. "Aku…" aku mendekatkan wajahku ke cewek gila, "mau makannya bareng senpai doank."
Cewek gila itu membelalakkan matanya sesaat sebelum memalingkan wajahnya dengan tampang kesal tapi terlihat kalau kedua pipinya makin merona. "Itu takkan mempan padaku! Daripada bareng aku, mending kamu bareng Ema-chan aja! Aku yakin kamu pasti lebih senang bareng dia!" Dan cewek gila itu pun meninggalkanku tanpa aku sempat membalas ucapannya.
Nee-san? Ah, kenapa aku bisa lupa?
.
.
.
Aku memandang Nee-san yang sedang asik memasak dengan Ukyo-niisan. Mereka tampak bahagia dan aku bisa melihat kalau Ukyo-niisan menatap Nee-san lebih dari sekedar hanya seorang adik.
"Masak apa?" tanyaku, mengagetkan mereka berdua.
"Fuuto! Okaeri! Gimana Fukuoka?" tanya Ukyo-niisan, basa-basi.
"Biasa saja," jawabku.
"Kami masak daging sapi. Makan di rumah kan?" tanya Nee-san dengan wajah berharap.
Aku memandang Nee-san, berpikir betapa tidak beruntungnya aku dengan banyaknya saingan yang ada di rumah dan jarangnya aku di rumah.
"Tentu saja! Kalau Nee-san sebegitu inginnya aku memakan makananmu, aku bersedia."
Nee-san tertawa geli sedangkan Ukyo-niisan geleng-geleng kepala.
"Tapi kalau makanannya nggak enak, Nee-san harus tanggung-jawab," lanjutku sambil menyeringai.
Nee-san berhenti tertawa. Aku senang dengan kecepatan Nee-san untuk mengerti maksudku.
Tapi…
"Nggak hanya Ema loh yang masak. Berarti aku juga harus tanggung jawab, Fuuto?" tanya Ukyo-niisan sambil tersenyum dengan senyuman yang menyebalkan.
"Nggak perlu," jawabku, cepat. Aku menggeram dalam hati. Kenapa sih, nggak bisa hanya aku yang tertarik pada Nee-san?
.
.
.
Malam yang melelahkan dan entah karena apa Masa-niisan memintaku untuk berkumpul di ruang tamu. Jangan bilang kumpul keluarga lagi? Masa-niisan memang punya agenda untuk kumpul bersama setiap beberapa bulan sekali semenjak banyak yang memiliki kesibukan di luar rumah bahkan ada yang sudah tak lagi tinggal di rumah.
Ketika aku sampai di ruang televisi, semuanya sudah hadir dan pada duduk di sofa. Mereka sedang asik mengobrol. Di atas meja depan sofa, banyak jenis makanan. Dugaanku benar, sepertinya. Ck.
"Fuutan udah datang!" seru Wataru sambil menunjukku dengan semangat.
"Yo," sapaku, malas.
"Telat kamu!" seru Tsubaki-nii-san sambil mencibir.
Aku nggak peduli aku telat atau enggak, intinya seharusnya mereka tahu aku malas.
"Meski kamu malas, tapi kamu datang juga Fuuto," ujar Hikaru-niisan, mengagetkanku. Aku menatap wanita jadi-jadian itu lama. Bagaimana dia bisa membaca pikiranku?
Aku menghempaskan badanku di ujung sofa. Aku menemukan Nee-san di tengah-tengah sofa dan di kanan-kirinya sudah penuh oleh Tsubaki-niisan, Kaname-niisan, Wataru juga Yuusuke-niisan. Ketika Yuusuke-niisan melihatku, ia memasang muka kesal.
Kenapa lagi Yuusuke-niisan mukanya jelek gitu? Seingatku, aku belum melakukan apa-apa.
"Fuuto-kun mau kaarage?" tanya Nee-san sambil menatapku dan sepiring Karaage, bergantian.
Aku tersenyum. "Tentu saja. Suapin juga dong, Nee-san."
"Jangan mimpi!" koor beberapa suara secara bersamaan.
Aku mendecih, sebal. "Bilang aja kalau kalian juga mau. Ck."
Natsume-niisan tertawa. "Fuuto! Kau nggak berubah juga. Dasar bocah menyebalkan!"
"Bilang aja kalau kalian iri padaku," balasku, sambil mencomot sebuah karaage.
"Siapa yang bakal iri idiot!" seru Yuusuke-niisan, tampak jijik.
"Idiot berteriak idiot. Aneh sekali," ejekku. Setelahnya aku memasukkan karaage itu ke mulutku.
"TEME!" teriak Yuusuke-niisan sambil beranjak dari duduknya.
Kaname-niisan langsung mencegat Yuusuke-niisan. "Oy, oy! Kalian bisa nggak sih, nggak adu bacot setiap kali ketemu? Dan kamu Yuusuke, tenang lah. Fuuto kan selalu begitu."
Yuusuke-niisan kembali ke posisi duduknya sambil menggerutu.
"Kalian udah ketemu Aika-chan?" tiba-tiba Tsubaki-niisan mengubah topik.
Hampir semuanya berseru 'sudah' kecuali Louis-niisan.
"Eh? Jangan… bilang… hanya… aku?" ucap Louis-niisan tampak sedih.
"Louis belum ketemu? Wah, sayang sekali! Padahal dia cantik banget loh!" seru Tsubaki-niisan.
"Imut," tambah Azusa-niisan.
"Unik," tambah Hikaru-niisan.
"Pandai masak juga," kali ini Ukyo-niisan.
"Pintar banget!" seru Wataru.
"Aku suka dia," gumam Iori-niisan. Semuanya langsung menoleh ke arah Iori-niisan. Tampak kaget karena Iori-niisan jarang menyukai seseorang dan kali ini ia dengan gamblang menyatakannya.
"Dia pernah membantuku memperbaiki sepedaku. Meski dia sedikit pemaksa," jelas Iori-niisan yang akhirnya menjawab rasa penasaran orang-orang yang memandangnya takjub.
"Wah…" Louis-niisan tampak tertarik.
"Tapi, meski begitu, cewek satu itu kalau disuruh olah-raga, payah banget!" ucap Yuusuke-niisan sambil nyengir. Aku cukup terkejut dengan nada suara yang menyiratkan kalau Yuusuke-niisan dekat dengan si cewek gila.
"Oh iya. Yuusuke dekat dengan Aika-chan ya?" tanya Masa-niisan.
"Deket banget. Yakin cuma teman?" goda Ukyo-niisan.
Dekat? Teman? Si payah ini dekat dengan si cewek gila?
"Aku dan dia cuma teman!" seru Yuusuke-niisan dengan wajah sedikit memerah, yang membuat apa yang dikatakannya sangat meragukan.
"Nggak percaya. Aika-chan aja sampai membuat pesta ulang tahun buatmu kan?" ujar Masa-niisan.
"Pesta ulang tahun? Kapan?" tanya Hikaru-niisan.
"Maret kemarin. Hanya aku, Masaomi-niisan dan Ema yang hadir. Tapi, saat itu jelas banget kalau kalian begitu dekat," goda Ukyo-niisan lagi.
Yuusuke tampak kesal juga malu. Wajahnya kini lebih memerah daripada sebelumnya. "Sudah kubilang kami cuma sahabat! Kalian ini menyebalkan banget!"
Beberapa tertawa senang, karena berhasil menggoda Yuusuke-niisan yang memang gampang banget digoda.
Tapi aku entah kenapa nggak suka dengan perbincangan ini. Baru saja aku mau bertanya apa ada dari mereka yang pernah mendengar si cewek gila bernyanyi, aku langsung mengunci mulutku. Apa sebaiknya aku beritahu mereka? Atau menyembunyikan hal ini agar hanya aku yang tahu? Aku terdiam sesaat tapi akhirnya aku penasaran apa ada yang pernah mendengar si cewek gila itu bernyanyi.
"Apa ada yang pernah mendengar dia bernyanyi?" tanyaku. Semua perhatian yang ada di ruangan berpindah padaku.
"Aika-chan maksudmu?" tanya Subaru-niisan memastikan.
Aku mengangguk. "Iya."
Beberapa menggeleng. Yang lainnya hanya terdiam.
Wataru memiringkan kepalanya. "Memangnya kenapa, Fuutan?"
Aku mengidikkan bahuku. "Pengen tahu aja."
"Oooh."
Setelahnya mereka kembali membincangkan sesuatu.
Aku bersiul senang. Aku memutuskan untuk menjadikannya rahasia yang hanya aku yang tahu.
"Oh, aku ingat!" seru Hikaru-niisan tiba-tiba. Wajahnya berbinar karena teringat sesuatu. "Salah satu temanku ternyata ada yang pernah pacaran dengan Aika-chan loh!"
Beberapa suara terkejut terdengar.
"Eh?" Kini Kaname-niisan tampak kaget tapi setelahnya ia tersenyum geli. "Di tempatku bekerja juga ada yang mantan pacar Aika-chan. Dua orang pula."
Kini suara-suara terkejut itu makin tinggi.
"Tunggu dulu!" Yuusuke-niisan tampak bingung. "Yang aku dengar dari Aika, ia juga pernah pacaran dengan empat cowok tapi empat cowok itu beda sekolah. Kalau teman Hika-nii dan teman Kana-nii juga mantan pacarnya, berarti Aika-chan pernah pacaran dengan banyak cowok dong? Maksudku, benar-benar banyak!"
Semuanya terdiam. Tampaknya kaget dengan informasi yang baru saja mereka dapat. Jujur saja, aku juga kaget. Cewek gila itu ternyata laku juga.
"Wah, jadi selain si Nigashi-san, Aika pernah punya mantan pacar sebanyak itu?" gumam Natsume-niisan, lebih kepada dirinya.
Semuanya langsung menoleh ke Natsume-niisan.
"Seriuuus?" Tsubaki-niisan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tampak tak percaya.
"Tapi Aika-chan nggak main dua kan?" tanya Hikaru-niisan pada Yuusuke-niisan.
Yuusuke-niisan menggeleng. "Nggak pernah. Dan dia sendiri nggak pernah nembak. Semuanya si cowok yang nembak. Dan dia menerimanya karena cowoknya maksa. Lagipula, dia sendiri juga sedikit berharap jika salah satu dari mereka bisa membuatnya jatuh cinta."
"Ada yang berhasil?" tanya Azusa-niisan.
Yuusuke-niisan kembali menggeleng. "Sayangnya nggak."
Semuanya kembali terdiam kecuali Wataru yang teriak-teriak 'Wah, Aika-neechan hebat!'.
"Apa dia pernah jatuh cinta sebelumnya?" tanya Kaname-niisan tampak penasaran. Pertanyaan pun kali ini tertuju pada Yuusuke-niisan.
Ceh, sejak kapan Yuusuke-niisan jadi tempat informasi si cewek gila itu sih?
Yuusuke menggaruk-garuk rambut merahnya lalu menatapku.
"Apa?" tanyaku sambil nyengir. "Jangan bilang si cewek itu jatuh cinta padaku?"
"NGGAK MUNGKIN!" seru Yuusuke-niisan tampak kesal.
"Lah, terus kenapa menatapku begitu?"
"Aku hanya berharap Aika takkan dekat denganmu!"
Aku terkekeh geli. "Sayangnya nggak bisa!"
"Kubilang jauhi dia!" Yuusuke-niisan tampak marah.
"Masa Yuusuke-niisan nggak pernah dengar kalau Aika-senpai jadi manager-ku di sekolah?"
Yuusuke-niisan terdiam. Wajahnya memucat. Oh, aku suka wajahnya itu.
"Aika-chan jadi manager-mu?" tanya Azusa-niisan.
"Ya. Dia ditunjuk sekolah dan OSIS untuk membantuku selama berada di sekolah dan dia juga memang dihormati sama murid-murid di sekolah. Mereka bilangnya kalau Aika-senpai adalah idola mereka. Jadi mereka patuh-patuh aja sama si cewek itu," jelasku panjang lebar, masih sedikit tak percaya dengan kenyataan yang memang aneh itu.
Sebenarnya cewek itu sehebat apa sih? Sampai satu sekolah takluk sama dia.
Yuusuke-niisan memalingkan wajahnya yang kesal. Aku sedikit senang dengan kemenanganku ini.
Tiba-tiba suara tawa Nee-san yang lembut menarik perhatianku. Tidak, bukan hanya aku, tapi juga semua yang ada di ruangan.
"Sejak SMP Aika-chan memang terkenal. Dia sangat baik, pintar, bijaksana dan bisa dipercaya. Semua masalah pasti selesai kalau ditanyakan kepadanya. Dia juga peduli walau sampai ketaraf level suka ikut campur, tapi dia baik. Aika-chan juga cantik banget. Waktu SMP saja, aku sampai nggak bisa ingat sudah berapa banyak yang pernah pacaran dengannya dan memang dia sendiri nggak ambil pusing. Tapi sayangnya, tak pernah ada yang bertahan lama."
"Tapi sejak setahun lalu, aku nggak pernah dengar kalau dia berpacaran lagi," ujar Yuusuke-niisan dengan nada heran.
"Oh," Nee-san tampak ceria. "Sejak temenan dengan Yuusuke, Aika-chan memang tak pernah pacaran lagi!"
Yuusuke-niisan melotot. Yang lainnya langsung tersenyum menggoda ke arah Yuusuke-niisan.
"Sumpah! Aku yakin bukan karena aku!" teriak Yuusuke-niisan frustasi karena daritadi dia jadi bahan godaan. "Aku bisa taruhan kalau bukan karena aku ia berhenti pacaran!"
"Bohong!" goda Tsubaki-niisan.
"Ciee, Yuusuke malu," goda Hikaru-niisan.
"Kubilang bukan aku!" teriak Yuusuke-niisan lagi.
"Terus siapa?" tanya Masa-niisan sambil tersenyum menggoda.
"Aku nggak akan bilang!" seru Yuusuke-niisan sambil memalingkan wajahnya.
"Eeeh, kenapa?" rengek Wataru.
Dan perdebatan pun terjadi. Semuanya tampak keasyikan menggoda Yuusuke-niisan.
Aku beranjak ke dapur, meninggalkan perdebatan seru itu. Aku ingin mengambil es krim yang kubeli kemarin di kulkas. Aku geleng-geleng kepala.
Aku salah sangka. Kukira dia cewek biasa saja. Aku nggak tahu kalau dia bisa mempengaruhi orang sebanyak itu. Pantas saja nggak ada yang marah ataupun membencinya jika ia bersamaku. Malah mereka menatapku dan si cewek gila dengan pandangan berseri-seri.
Aku menghela nafas panjang.
Sepertinya kepopuleranku di sekolah masih kalah dengannya.
.
.
.
To be continued…
.
1782 words.
July of 14th 2014.
.
Author's Note :
Wahahaha, akhirnya aku bisa menulis chapter dimana para Asahina membicarakan Aika. Puasss.
Menanggapi yang dikatakan BlackLapiz di chapter yang lalu-lalu, Aika pernah ngasih tau kan kalau ia sudah suka Fuuto jauh sebelum ia terkenal. So, Aika still hasn't forgotten Fuuto.
Anyway, I want see your drawing! Aaa~
Thank you BlackLapiz and purpleYumi for the appreciation…
Sebenarnya, rencana fic ini update setiap hari, tapi karena kemarin habis keluar kota, baru sekarang deh. Chapter berikutnya akan saya usahakan untuk update cepat.
So stay tune!
See you! #bow
