Celebrity Conflict © AzuraLunatique

Spin Off of Stalker Conflict

Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate

Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life

Rate is T

.

Happy Reading! :D

.

Fuuto POV

Pencocokan kostum untuk perfilman adalah salah satu bagian yang kusuka. Apalagi jika salah satu staff-nya adalah Louis-niisan. Bagiku, Louis-niisan adalah yang terbaik dalam pekerjaannya.

"Uuuh…" Louis-niisan menggerutu.

"Ada apa?" tanyaku pada Louis-niisan yang sedang berusaha memasang obi di yukataku.

"Daritadi obinya… nggak rapi-rapi. Kenapa ya?"

"Tumben Louis-niisan tidak bisa melakukan sesuatu dengan sebuah baju," ucapku, sedikit heran.

"Entahlah. Mungkin… hari ini bukan hari… keberuntunganku…" jawab Louis-niisan. "Aku akan memanggil Rika-san." Louis-niisan beranjak berdiri lalu melangkah menuju pintu. "Aku nggak lama kok."

Dan Louis-niisan pun meninggalkan ruangan. Aku melirik kaca super besar dengan ukuran full-body. Aku tersenyum bangga. Meski obiku berantakan, aku masih terlihat luar biasa. Hmm, kadang kala, gaya berantakan juga bisa tampak seksi. Aku memang keren.

Ckreek! –terdengar suara pintu dibuka.

"Baliknya cepat sekali, Louis-niisan. Sudah menemukan ca-" aku mengerutkan keningku tatkala menemukan siapa yang ada diambang pintu. "Cewek gila? Sedang apa kau?"

"Hai," sapanya, ragu-ragu.

Tak bisa ditahan, bibirku membentuk cengiran senang. "Ada urusan apa kamu? Aku nggak yakin kau sedang melakukan pedekate denganku." Kau kan tidak menyukaiku.

Dia memonyongkan mulutnya, terlihat kesal. "Siapa yang mau pedekate? Mimpi aja kamu!"

"Jadi, apa tujuanmu?"

Cewek gila itu tak langsung menjawab. Kedua mata bulatnya menatap lekat-lekat diriku. Cewek gila itu menghampiriku lalu meraih obiku yang berantakan.

Dia mau ngapain? Ada apa dengan obiku?

Cewek gila itu tiba-tiba menarik dengan lembut obi yang kukenakan lalu tampak seperti merapikannya.

Oh, dia mau merapikan obiku ternyata.

Aku langsung mengangkat kedua tanganku, untuk mempermudah pekerjaannya.

Cewek gila itu menarik, menggulung, melipat dan melakukan beberapa hal dan itu menyenangkan. Karena pekerjaan ini, aku dapat mencium aroma tubuhnya yang begitu dekat denganku. Bau apa ini? Buah? Herbal? Aromanya… sedikit memabukkan.

"Selesai," ucapnya, terlihat puas. Wajahnya yang bersinar tampak sangat manis.

Aku memajukan tubuhku agar bisa lebih dekat dengan si cewek gila. "Aika-san ternyata datang untuk menggodaku ya."

Wajahnya yang tadinya bersinar kini berkilat marah. "Aku kesini untuk berdiskusi."

"Hm~ oh iya, kamu penulis naskah film ini ya. Hee~ lalu?"

"Bagaimana interpretasimu mengenai peran Yuuya? Sudah cukup kenal dan menguasai?" lanjutnya, dengan mata menyelidik.

Yuuya ya? Cowok yang menjadi orang ketiga di film ini juga adik si tokoh utama. Kalau dipikir-pikir, posisiku dengan Yuuya tak jauh berbeda. Jadi aku mengerti perasaannya. Perasaanya yang berusaha untuk disembunyikan. Perasaan terhadap kakak perempuannya.

"Aku cukup mengerti karakter Yuuya, tapi…" ada rasa mual yang menggelenyar di dadaku,"Aku tidak suka dengan pilihan dia pada akhirnya."

Si cewek gila memutar kedua bola matanya. Ada kesan jijik di raut wajahnya. "Maksudmu, ketika ia mengalah?"

"Tuh, tahu."

"Hmph! Aku berani bertaruh, kamu pasti nggak bakal mau menterahkan gadis yang kamu suka pada orang lain ya? Meskipun gadis itu tak menyukaimu."

Aku tertawa geli, sedikit kagum dengan tebakannya atas karakterku. "Kamu benar-benar mengerti aku."

"Tapi, itu menunjukkan seberapa dangkal cintamu padanya," lanjutnya dengan nada mencemooh.

Aku berhenti tertawa. "Apa maksudmu?" Aku benar-benar mencintai Nee-san. Aku tak peduli apa ia mencintaiku atau tidak saat ini. Aku tak peduli. Karena aku yakin aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku! Aku yakin! Aku adalah Fuuto! Tak ada cewek yang nggak takluk denganku. Kecuali cewek gila nggak waras dan aneh sepertimu, Aika-san!

Si cewek gila mendesah panjang lalu menatapku dengan tatapan nanar, membuatku berhenti mencecarnya dalam hati.

"Ketika kita mencintai seseorang, hal yang paling penting adalah kebahagiaan orang itu. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Tapi,itu menurutku sih. Kalau menurut kamu itu adalah caramu mencintai, "si cewek gila kembali menghela nafas, "aku nggak punya hak lebih untuk berkomentar. TAPI, kamu harus ingat, Yuuya berbeda denganmu. Mengerti?"

Aku meneliti baik-baik sosok yang ada di hadapanku. Aku entah kenapa emrasakan aura kesedihan ketika si cewek gila berbicara tadi. Sorot matanya tak se-jenaka yang biasanya. Cinta kah? Si cewek gila berbicara cinta. Cinta yang terbalas.

"Hei, Aika-san. Apa ni berdasar pengalaman?"

Ia menggigit bibir bawahnya, matana terlihat mendung untuk sesaat tapi ia menggelengkan kepalanya lalu ekspresinya berubah datar. "Tidak. Ini berdasarkan buku-buku yang kubaca."

Bohong! Jelas sekali kalau ia pernah patah hati.

Aku melangkah mendekati cewek itu. Aku tak tahu kenapa tapi aku ingin menyentuhnya. Menyentuh hatinya yang patah. Cewek itu kalang kabut. Cengiranku melebar melihat kegugupan yang diperlihatkan cewek itu.

"Ma-Mau aoa kamu?"

Aku menglurkan tanganku, meraih pipinya yang sedikit merona. Kedua matanya yang bulat menatapku takut. Wajahnya yang ketakutan begitu eksotis di mataku. Aku-

Ckrek! –suara pintu dibuka.

"Fuuto, Rika-san bakal kembali sepuluh menit lagi. Ah. Hemmmm…" wajah Louis-niisan berkilat senang. "Aika-chan?"

"Louis-san?" seru si cewek gila, tampak lega.

Argh! Bad timing, Nii-san!

Sial.

.

.

.

Cewek itu begitu terlihat bahagia. Rambut ikal coklatnya bergoyang kesan-kemari. Wajahnya terus menerus menampakkan senyuman. Tapi, senyuman itu tak hanya ditujukan untukku dan tak hanya diriku yang jatuh dalam pesonanya. Nee-san benar-benar kejam. Seharusnya hanya aku yang boleh tertarik padanya dan hanya aku yang seharusnya ia berikan senyuman itu.

"Fuutan!" seru Wataru sambil melompat ke arahku.

"Ada apa Wataru? Aku lagi pengen sendiri!" seruku sambil mendorongnya menjauh.

Bukannya menjauh, bocah tengik itu malah makin mempererat pelukkanya pada lenganku.

"Fuutan! Aku mau tanya!"

"Ceh, tanya apa?"

"Aku pengen buat Nee-san jatuh kepadaku. Apa yang harus kulakukan?" tanyanya, dengan sangat polos. Matanya berbinar dengan rasa penasaran tinggi.

Sial. bahkan bocah tengik ini aja juga jatuh dalam pesona Nee-san? Ini benar-benar tak bisa dilewatkan begitu saja! Aku harus melakukan sesuatu.

Harus.

"Fuutan! Jawa donk!"

Aku melirik Wataru dengan malas.

"Tarian hawai. Lakukan dan coba hanya pake dedaunan. Pasti keren banget dan sangat menggoda," jawabku asal.

"Serius?"

"Iya."

Wataru terdiam, tampak berpikir keras.

Aku nyengir.

Bohong lah bodoh. Nggak mungkin tarian hawai terlihat seksi.

.

.

.

Sekolah hari ini begitu ramai oleh kesibukan juga suasana semangat nan membara. Beberapa hari lagi akan ada festival sekolah dan itu terdengar sangat menyenangkan. Apalagi akan ada photoshoot mengenai keseharianku di sekolah. Ah, ini kesempatan untuk menjadi lebih terkenal dan lebih charming. Aku yakin akan ada banyak fans baru jika melihat fotoku di sekolah.

Dan hari ini, aku makin senang ketika seorang cewek datang padaku dan mengatakan bahwa klub-nya, yang ternyata adalah fans club-ku, akan membuat stand tentang diriku. Wow. Aku memang terkenal.

"Tentu saja boleh," jawabku sambil tersenyum menggoda pada cewek manis berkacamata itu. Beberapa cewek yang ada di belakang cewek berkacamata itu juga ikut merona. Ah, emang susah jadi cowok keren. Pesonaku terlalu memabukkan.

Cewek itu merona dengan manisnya lalu mengangguk dengan cepat. "Kami juga ingin membuat event handshake dengan para pengunjung. Event ini bertujuan untuk menambah pengunjung festival. Aku yakin Fuuto-kun pasti akan sangat menarik banyak orang ke festival nanti. Apalagi jika ada event handshake-nya!"

"Hmmm, akan kupikirkan. Nanti kutanyakan ke manager-ku. Itu ide yang cukup menarik." Walau melelahkan.

"Terima kasih banyak! Info selanjutnya akan kami beritahukan lagi!"

"Hei, kalian!" seorang cewek tiba-tiba menghampiri bangkuku. Ah, si ketua kelas. Aku lupa namanya. "Kalian juga harus izin ke Aika-sama. Dia manager Fuuto-kun. Ingat?"

"O-Oke," jawab cewek kacamata sedikit ketakutan. Aku melirik cewek ketua kelas. Hmm, memang sedikit menakutkan dan mengintimidasi. Tapi, tunggu! Aika-sama? Aika-SAMA? Si cewek gila itu dipanggil dengan sebutan seperti itu?

"Kami permisi kalau begitu," pamit cewek berkacamata itu. Setelahnya, mereka langsung meninggalkan kelasku.

Aku melirik cewek yang merupakan ketua kelasku itu dengan heran. Cewek itu ternyata juga sedang menatapku. Aku tersenyum manis. "Ada yang bisa kubantu?"

Cewek itu menggeleng. "Tidak ada." Cewek itu membalikkan badannya lalu pergi begitu saja. Tapi sebelum pergi, aku masih bisa mendengar cewek itu menggumam. "Ck. Aika-sama masih lebih keren daripada cowok udang ini."

Co-cowok udang?

Dasar cewek sialan! Apa maksudnya itu? Dan lagi… cewek ini fans-nya si cewek gila ya?

Ceh, ternyata benar. Cewek gila itu memang punya beberapa fans yang sama gilanya.

Dasar, gila.

.

.

.

Ting! –pintu lift terbuka.

Aku melangkah keluar lift lalu dengan langkah gontai berjalan menuju pintu kamarku. Baru saja mau memasukkan kunci, seseorang menepuk pundakku.

"Masaomi-niisan?"

"Fuuto! Lain kali, kalau kasih saran jangan sembarangan," ujar Masaomi-niisan dengan wajah kesal. Tapi aku bisa melihat kalau Masaomi-niisan tak sepenuhnya kesal.

Aku mengerutkan keningku. "Saran?"

"Tadi sore, Wataru tiba-tiba menari kayak orang hawai."

"Eh?"

"Dan dia telanjang! Nggak telanjang bulat sih, ada daun pisan melilit di pinggangnya tapi tetap saja, itu nggak baik! Lain kali jangan ngasih saran yang aneh-aneh. Oke?"

Aku nyengir sambil berusaha untuk tidak tertawa lepas. "O-Oke."

"Tapi yang tadi lucu juga sih. Ukyo sampai memfoto Wataru. Kenang-kenangan katanya."

"Hahaha. Nanti aku liat ya?"

"Minta aja ke Ukyo. Sudah ya. Oyasuminasai."

"Oyasumi."

Hahaha, dasar Wataru bodoh. Mau-maunya percaya. Nanti aku bohongin lagi ah.

.

.

.

To be continued…

.

1361 words.

July of 19th 2014.

.

Author's Note :

Alohaaa!

Thank you for the reviews, follow and fave. Muach!

Tentu saja ada adegan di atap sekolah. Itu terlalu menarik untuk dilewatkan.

So stay tune!

See you! #bow