Celebrity Conflict © AzuraLunatique

Spin Off of Stalker Conflict

Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate

Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life

Rate is T

.

Happy Reading! :D

.

Fuuto POV

Pria berkacamata yang merupakan manager-ku itu tersenyum puas ketika melihat lampiran proposal festival sekolahku.

"Sekolah pilihanmu ini hebat juga. Ide mereka untuk memasarkanmu bisa dibilang oke. Persiapannya pun matang. Oh. Jadwal hari ini kamu ada photoshoot juga handshake event. Sisanya kamu bebas," jelas manager-ku itu.

Aku mengangguk mengerti.

"Kamu ceria sedikit dong. Ini festival loh! Seharusnya kamu bersenang-senang!" seru manager bodoh itu sambil menepuk-nepuk pundakku.

Aku memutar bola mataku.

"Semoga aja ada yang menarik hari ini. Semoga."

.

.

.

Tanda tangan itu sesuatu yang gampang dan cepat. Tapi, kalau kamu melakukannya ribuan kali, aktivitas sesimpel tanda tangan bisa memuakkan juga. Aku terus menampakkan senyumanku meski dalam hati aku menggerutu. Aku bosan. Sial.

Secara bergantian, para cewek yang mengantri didepanku bergilir. Wajah mereka bersinar, tampak bahagia. Ck, aku jadi ingat. Meskipun ini membosankan tapi nggak terlalu menyebalkan. Wajah-wajah bahagia fans-ku ini cukup menyenangkan untuk dilihat.

Aku terus mendatangi kertas-kertas ataupun merchandise yang dibawa oleh cewek-cewek penggemarku sampai sebuah sosok menarik perhatianku. Sebuah badut kostum kelinci berwarna pink menghampiriku.

Aku mengerutkan keningku. Ini kelinci datang dari kebun binatang mana?

"Halo Mr. Rabbit! Ada perlu apa denganku?" sapaku ketika badut itu sudah di dekatku.

Badut kelinci itu tak menjawab. Namun, tiba-tiba kelinci itu mencubit hidungku. Aku melotot. Apa-apaan ini kelinci? Tak hanya itu, kelinci jadi-jadian ini juga mencubit kedua pipiku lalu memainkannya. Saking shock-nya, aku hanya terpaku sambil menatap lekat-lekat kelinci merah jambu itu.

Setelah tampaknya puas dengan pipiku, kelinci itu menyodorkan sebuah brosur.

Aku menerima brosur itu lalu membacanya. "Rumah Hantu Kelas 3-1?"

Kelinci merah jambu itu mengangguk.

Rumah hantu. Kelas 3-1.

Seseorang yang punya nyali untuk memainkanku dari kelas 3 yang mengadakan rumah hantu cuma satu.

Si cewek gila.

Oh, bukan cewek gila.

Cewek gila ini sudah naik pangkat jadi usagi. Ya, Usagi.

Aku melirik kelinci itu lalu menyeringai puas. Aku tahu siapa kelinci jadi-jadian ini.

Seperti mengerti arah pikiranku, kelinci itu tampak panik lalu berusaha untuk pergi. Dengan sigap, aku menangkap lengan kelinci merah jambu itu. "Mr. Rabbit mau kemana? Oh, salah. Ms. Rabbit?" bisikku penuh keyakinan.

"Ohoho, saya pria loh," jawab kelinci itu dengan nada suara bass yang aneh. Tampaknya ia sedang berusaha untuk dianggap sebagai seorang laki-laki. Huh, emang aku bisa ditipu?

Aku terkikik pelan. "Heee, kalau begitu, buka kostum kepalanya!" Aku menjulurkan kedua tanganku, meraih kepala kelinci yang besar itu. "Lepaaaas," desisku.

"Jangaaan," cicit si kelinci, sambil mempertahankan kepalanya.

Aku menarik dengan sekuat tenaga tapi si kelinci tampaknya tak mau kalah. Untuk sesaat, kami saling menarik kepala kelinci, tapi-

Plop! –kepala kelinci itu pun lepas.

Cewek yang merupakan usagi, sesuai tebakanku, memejamkan matanya sesaat. Wajahnya seperti kepiting rebus. Aku yakin ia kepanasan tadi, dan langsung kaget ketika udara segar menampar wajahnya yang kepanasan.

Aku nyengir karena tebakanku benar.

Ah, cewek gi- salah salah. Ulang.

Ah, Usagi memang nggak pernah mengecewakanku. Selalu penuh kejutan.

.

.

.

Aku nggak pernah nyangka kalau Usagi punya bakat acting. Jadi, aku hanya bisa terpaku ketika melihat pementasan drama yang di dalamnya ada Usagi. Peran yang dibawakan Usagi begitu kuat dan menarik, dan Usagi membawakan peran itu dengan sangat baik. Meski aku sempat tertawa menyadari kalau gaun yang dikenakannya sedikit kepanjangan. Cukup kepanjangan.

Tanpa bisa kutahan, dorongan kesenangan yang begitu besar menyeruak begitu saja. Aku yakin, senyuman di wajahku ini sangat aneh. Untungnya ruangan aula gelap.

Aku terus menatap lekat-lekat setiap kali Usagi tampil. Entah karena apa, aku begitu suka melihatnya di atas panggung. Badan Usagi bergerak dengan indahnya, membuatku ingin drama ini berjalan lebih lama, agar aku bisa menatap Usagi lebih lama lagi.

Drama pun selesai dan diakhiri dengan tepuk tangan yang bergemuruh dan suara-suara penuh kagum dari penonton. Aula penuh dengan orang-orang baik itu dari para murid maupun pengunjung. Dan aku agak yakin kalau banyaknya murid yang hadir dikarenakan ada Usagi. Ck, Usagi itu memang cukup terkenal juga.

Aku beranjak dari kursiku lalu melangkah ke pintu keluar.

Namun, aku terdiam sebentar dan menoleh kembali ke sekelilingku. Aku terkekeh geli ketika ada sorak sorai yang meminta Usagi untuk jadi pacar bahkan istri. Yang benar saja.

"Yuusuke! Awas kau!" sebuah teriakan dari atas panggung menarik perhatianku.

Aku melihat Usagi sedang mencak-mencak sambil menunjuk-nunjuk seseorang. Aku menoleh ke tempat yang ditunjuk Usagi dan mendapati Yuusuke-niisan yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Aku mendecih sebal.

Apa-apaan sih mereka. Kayak pasangan bodoh.

Menyebalkan.

Menyebalkan.

Menyebalkan!

Ck.

.

.

.

Aku meregangkan kedua tanganku ke atas. Angin dari Air Conditioner di kamar hotel ini terasa lebih dingin dari biasanya.

"Akhirnya selesai juga!"

Aku terkekeh sambil menatap partitur OST Flaminggo Dress.

Aku kembali teringat wajah dan kata-kata itu, ketika hari pencocokan baju.

"Aku menunggu lagu di film ini yang kamu buat."

"… Jangan buat aku kecewa!"

Aku meletakkan punggung tanganku di bibirku, berusaha menahan senyuman yang membuat pipiku pegal.

Tunggu saja Usagi! Aku akan membuatmu tak bisa berkata-kata.

.

.

.

Udara cukup dingin di atap gedung malam ini. Aku menatap ke bawah dimana murid-murid sedang menyiapkan acara penutupan festival.

Ck, dimana sih kelinci-setengah-kucing itu?

Aku jadi teringat tadi siang. Usagi bodoh itu mana mungkin bisa menyembunyikan dirinya dibalik kostum yang berbeda dariku. Dengan sekali liat, aku bisa langsung tahu kalau badut kucing siang tadi itu isinya si Usagi-bodoh. Aku nggak tahu kenapa, tapi aku tahu.

Aku menggeram kesal.

Usagi lama banget sih.

Aku juga bisa-bisanya lupa ngasih tahu waktunya. Aaargh.

Suara pintu dibuka menyadarkanku dari rentetan pikiran mumetku. Usagi berjalan mendekatiku lalu berdiri di sampingku.

"Kamu telat," desisku, sebal.

"Kamu nggak bilang waktu pastinya, kan? Nggak usah ngawur deh."

Cewek ini, ada aja jawabannya. Kalau Nee-san pasti hanya diam tanpa membalas yang nggak penting kayak si Usagi ini.

"Kamu beda sekali dengan Nee-san. Nee-san hanya akan terdiam. Ia takkan berani untuk melawan perkataanku."

Terdengar suara decakan kesal. Aku menoleh mendapati wajah manyun di sampingku. "Aku Aika! Haruno Aika!" serunya dengan lantang. "Tentu saja beda dengan Ema-chan. dan, jangan berani-berani lagi kamu membandingkanku dengan Ema-chan."

Ada sekelebat kesedihan yang kutangkap dari kata-katanya tadi, tapi aku nggak ambil pusing. Yah, nggak ada seorang pun yang menyukai jika dirinya disamakan dengan orang lain.

"Heee," gumamku.

"Kamu ada urusan apa? Cepetlah. Aku ingin bergabung dengan yang lain di bawah."

Aku segera mengambil gitar yang ada di sampingku lalu duduk bersila dan bersender ke pagar pembatas. "Duduk di depanku," perintahku.

"Ha?"

"Ck. Cepetan, Usagi!"

Usagi pun duduk dengan ogah-ogah di depanku. Namun, kedua mata bulatnya menatapku penasaran.

Aku menghela nafas panjang, lalu mulai bernyanyi sambil memetik gitarku. Aku menyanyikan lagu yang akhirnya berhasil kuselesaikan tadi malam. Aku terus bernyanyi sambil sesekali melirik Usagi. Mendapati Usagi yang berbinar ketika melihatku bernyanyi membuat dadaku penuh dengan kepuasan.

Nyanyian pun berakhir. Aku meletakkan gitar di sampingku lalu kembali menghadap Usagi. "Gimana?" tanyaku, penuh harap dan percaya diri.

Usagi memonyongkan mulutnya. Ck, kenapa ketika usagi manyun seperti itu aku malah berpikir kalau dia imut? Aku buta apa?

"Ba-Bagus," jawab Usagi pada akhirnya. Dan jawaban itu sukses membuatku nyengir lebar.

"Lagunya yang bagus! Kamu nggak perlu senang begitu!" tambah Usagi.

Ck, dasar Tsundere.

"Yang buat lagu itu kan aku. Lagunya cakep gitu, pembuatnya juga cakep donk!"

"Buu, narsis kamu!"

"Kamu sendiri harusnya bersyukur dan bangga."

"Ha? Why should I?"

Aku dengan gemas menyentil dahi Usagi yang putih dan mulus. "Karena kamu orang pertama yang mendengar lagu ini. Be proud, Usagi."

Mulut Usagi menganga dengan jeleknya. Matanya berbinar antusias. "Se-Serius?"

"Iyalah."

"SERIUS?" teriak Usagi, tampak masih tidak percaya. Wajahnya berseri. Mulutnya mengembang dengan sempurna. Membuatku kembali berpikir, betapa manisnya Usagi saat ini.

Ck, otakku kayaknya lagi rusak. Tapi.

Aku sontak cekikikan ketika melihat wajah Usagi yang kayak orang ngeliat sesuatu yang mengagumkan. Okeh. Aku memang mengagumkan. "Mulut kamu lebar juga buat tubuh mungil gitu."

Usagi termenung sebentar tapi ia tak mengatakan apa pun. Tampaknya ia masih terlalu bahagia karena menjadi pendengar laguku yang pertama.

Aku mendadak menyadari udara dingin yang terus bersemilir. Mungkin karena tubuhku yang sudah rileks, aku jadi mulai menyadari cuaca yang sedikit tak bagus buat tubuh ini. Aku melirik badan Usagi dan mendapati jaket kebesaran yang menurutku bukan gaya Usagi. Jaket dengan potongan manly itu membuat keningku berkerut. Rasanya aku mengenali jaket itu.

"Usagi! Jaket itu rasanya pernah liat," ucapku, penasaran.

"Iyalah. Kan ini jaket Yuusuke," jawab Usagi, membuat dadaku tertohok sempurna. Yuusuke katanya?

"Dia ngasih aku karena tau aku kedinginan," lanjut Usagi, tampak begitu tersentuh atas perlakuan kakak paling bodoh yang kupunya itu. Wajah Usagi berseri, membuat mataku gatal.

"Yuusuke baik deh! Nggak kayak orang yang di depanku ini." Sial. Sial. Berhenti membicarakan Yuusuke-niisan seperti itu! Berhenti!

"Waktu drama, perkataan Yuusuke juga membuatku tenang. Nggak kayak orang di depanku ini!" lanjutnya, membuatku kesal bukan main. Dadaku berdegup dengan menyakitkan. Sial. Sial. Sial.

"Pokoknya, Yuusuke-"

Syuut. BRAKK! –aku menghempas tubuh Usagi hingga tubuh pun kini berada di atasnya.

Aku terdiam sesaat, bingung dengan tindak keputusanku. Tapi, persetan dengan itu! Yang harus kulakukan sekarang ada membuat mulut Usagi-bodoh ini berhenti meracau tentang Yuusuke-niisan. Ya, aku harus membungkam mulut sialan itu.

Aku manatap bibir Usagi yang terus meneriakkan kekesalannya karena aku sukses menahan tubuhnya yang terus memberontak. Sepasang bibir itu penuh, tampak kenyal dan merah ranum. Aku tahu ini aneh. Aku bahkan tak berani mencium Nee-san tapi…

Dengan lembut aku mencium bibir Usagi. Tanpa bisa kucegah, sebuah aliran aneh mengejutkanku, membuatku dadaku berdesir. Sepasang bibir ini begitu memabukkan. Aku sudah pernah mencium banyak wanita, tapi bibir Usagi sejauh ini adalah yang paling nikmat.

Tubuh yang berada di bawahku menegang. Usagi tampak terkejut dengan perlakuanku. Usagi merapatkan bibirnya hingga aku tak bisa menjelajah lebih jauh. Ck, mau melawanku rupanya. Dengan sedikit kasar, aku menggigit bibir bawah Usagi, membuatnya terkejut dan membuka mulutnya. Pada celah itu, aku langsung memasukkan lidahku dan mengabsen setiap gigi yang ada di mulut Usagi. Usagi tampak kesal dan mulai membalas ciumanku dengan liar.

Dadaku berdegup kencang. Ciuman ini begitu panas dan menggairahkan. Usagi adalah cewek yang sejauh ini paling semangat untuk membalas ciumanku. Begitu kuat, memaksa, dan penuh dengan niatan untuk mengalahkanku. Sesekali Usagi berhasil memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.

Adu lidah pun terjadi. Yang bisa kudengar saat ini hanyalah decakan lidah yang beradu juga desahan Usagi yang membuat perutku melilit.

Sial.

Aku nggak bisa berhenti.

You are a good kisser Usagi. Damn.

.

.

.

To be continued…

.

1724 words.

August of 26th 2014.

.

Author's Note :

Hai.

Maaf saya sempat menghentikan penulisan CelebCon dikarenakan sedang memastikan ulang plot Fuuto POV. Sebagian juga karena memang ada yang belum bisa ditampilkan sebelum di bagian StaCon diberi tahu.

Terima kasih karena sudah membaca. Buat yang follow, fave bahkan rev, thanks a lot!

Well, stay tune and see you! #bow