Hidden Affection
( by Bay05 © 2013 )
Pairing :
KyuSung Slight! YeWon, KyuMin
Cast :
Yesung, Kyuhyun, Siwon, Sungmin
Genre :
Romance, Friendship ….maybe?
Rate : T
Disclaimer :
Boys Love, Crack Pair, Alur Ngebut, OOC, Typo(s)
.
.
Enjoy! ^^
.
.
Bunyi denting garpu dan piring yang bersentuhan terdengar begitu nyaring dan mendominasi di ruangan empat kali lima meter bernuansa putih itu. Ruang makan yang bisa kau katakan cukup mewah itu benar-benar kelewat hening. Agaknya kedua namja yang berada disana tidak ada yang berminat –atau berani– barang hanya untuk memulai pembicaraan.
Baik si manis maupun si tampan sebenarnya tidak ada yang benar-benar menyukai ketenangan yang lebih cocok disebut canggung dan kaku seperti ini. Lagipula, sebenarnya namja jangkung dengan surai ikal yang sok serius dengan jjangmyeon-nya itu mempunyai segudang pertanyaan tentang sikap Yesung yang hampir membuatnya mati kesenangan kemarin.
Agaknya si pemilik onyx sabit itu dapat menangkap kegelisahan Kyuhyun, terima kasih pada Yuri –sahabat psikolognya. Sehingga pemuda menggemaskan dengan surai raven itu menjadi si pemecah keheningan "Ada masalah, Cho Kyuhyun?"
Yang ditanya sedikit tersentak kaget karena seolah ditarik paksa dari alam imajinasinya. Dengan senyum lebar yang menghiasi bibir tebalnya, Kyuhyun mendongak. "Tidak apa-apa, Yesung-ah."
Keadaan kembali menjadi hening dan canggung setelah itu. Bunyi alat-alat makan kembali mendominasi ruangan tersebut.
"Ehem," yang lebih pendek kembali membuka suara.
Telunjuk mungil yesung menunjuk bergantian gelas dan mangkuk besar Kyuhyun dengan pandangan tidak suka. "Apakah itu jjangmyeon dan segelas susu vanilla?" Si pemilik iris caramel itu mengangguk semangat, agaknya ia berpikir bahwa Yesung akhirnya benar-benar menganggap satu hal yang dilakukan olehnya itu benar.
"Kau mau mencobanya, Yesung-ah?"
Penyandang marga Kim itu menggeleng keras. "Astaga! Orang macam apa yang mencampur jjangmyeon dengan susu vanilla! Itu benar-benar menjijikkan!" Yesung berkata sedikit berteriak, membuat harapan Kyuhyun yang tadi sudah melayang indah harus terhempas ke tanah dengan cukup keras.
Namun yang lebih tinggi hanya tersenyum menanggapinya, nampaknya sudah mulai terbiasa dengan sikap menyebalkan Kim Yesung. "Mungkin ini terlihat sedikit menjijikkan, namun sebenarnya ini enak, kok."
Air muka Yesung semakin jijik melihatnya. "Kau ini benar-benar aneh." Yang lebih pendek langsung mengambil beberapa lembar tissue di hadapannya dan mengelap noda di mulutnya, kemudian berdiri. "Selamat, kau telah menghilangkan selera makanku, Cho." sarkartisnya.
Pemilik surai dark chocolate itu kembali mengulum senyum tanpa mengatakan apapun. Tidak ada protes dari mulutnya walaupun ia menyadari bahwa makan pagi Yesung memang sudah seluruhnya di makan oleh si namja manis itu.
Bahkan hingga punggung Yesung menghilang di balik tembok, Kyuhyun masih memilih untuk tidak bersuara dan hanya menyelesaikan makan paginya.
.
Hari Sabtu. Kecuali kau memiliki tugas yang menumpuk, remidial atau janji dengan dokter, hari ini adalah hari yang sempurna. Pergi ke taman atau taman bermain dengan kekasihmu, ke restaurant bintang tiga bersama sahabat, atau mungkin hanya berjalan di sekitar tempat tinggal untuk beberapa hirup udara segar. Bagaimana kau bisa tidak menyukainya? Semua orang menyukai hari Sabtu. Atau semua orang –kecuali Cho Kyuhyun.
Sejak kecil si pemilik iris caramel ini tidak pernah benar-benar menyukai hari keenam dalam putaran minggu ini. Bukan apa-apa, ia hanya tidak –belum– menemukan cara yang tepat untuk menghabiskan hari liburnya selain dengan bercengkrama dengan benda persegi berwarna hitam berisi entah berapa puluh game yang sudah ia selesaikan jutaan kali.
Sebenarnya si namja jangkung ini ingin mengajak teman sekamarnya –si manis Yesung– untuk keluar, bahkan ia sudah membeli dua tiket premiere pemutaran film perdana untuknya dan Yesung.
Tapi itu tadinya, sebelum namja atletis dengan dimple smile, Choi Siwon berlari ke kamar mereka dengan mengacungkan dua tiket drama musikal untuk dia dan Yesung, dengan mudahnya menghancurkan semua rencana apiknya dalam hitungan detik.
Dan akhirnya disinilah ia sekarang. Hanya bermalas-malasan di kasur diri. Sebenarnya si namja aegyo –Lee Sungmin– beberapa menit lalu mengiriminya pesan singkat bahwa ia ingin menghabiskan akhir minggu dengan Kyuhyun. Namun, entah mengapa si namja Cho ini sama sekali tidak berminat untuk memenuhi ajakan Sungmin. Bahkan berdiam diri di kasur terlihat lebih menarik untuknya.
Drrtt...
Bahkan ia tidak lagi mempedulikan ponselnya yang sudah bergetar untuk yang kesekian kalinya. Tanpa melirik pun Kyuhyun tahu bahwa itu adalah pesan lain dari Sungmin yang menanyakan keberadaannya.
Kelopak matanya tertutup, menyembunyikan iris caramel beningnya. Ia menghembuskan nafas pelan. Dalam hati ia sedikit berpikir dan berharap, bahwa suatu saat Yesung-lah yang mengirim pesan enam kali dalam satu menit menanyakan keberadaan dan kabarnya. Semua sikap acuh tak acuh si manis malah membuatnya penasaran dengan namja dengan iris sabit itu.
Ah, pasti akan menyenangkan bila suatu saat nanti ia dan Yesung–
Ting!
Kyuhyun hampir saja terjengkal ke belakang saat suara bel itu menggema di kamarnya dan Yesung. Ia mendengus kecil. Astaga, siapa yang menganggu lamunannya tentang Yesung?
Terbesit di otaknya, mungkinkah itu Sungmin? Ah, tapi bukankah Sungmin tidak tahu dimana ia sekarang? Namun Kyuhyun memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing. Perlahan, ia bangkit dari tidurnya dan berjalan perlahan menuju pintu.
Mungkin saja itu ulah seorang penggemar Yesung yang dengan iseng meletakkan surat cinta di depan pintu. Ia sudah terlampau sering mendapatkannya. Menurut perintah si manis, ia lebih baik langsung membuang surat itu ke tong sampah bersama dengan puluhan surat cinta lainnya.
Kriett...
Hal pertama yang ditangkap oleh kedua caramelnya adalah seorang wanita bertubuh tambun, mungkin usianya sekitar akhir tiga puluhan atau mungkin awal empat puluhan dengan wajah yang begitu masam. Ia membawa paket coklat yang cukup besar di tangan kanannya.
"Kau Cho Kyuhyun?" suara serak wanita itu terdengar membuat Kyuhyun sedikit bergidik ngeri. Astaga, wanita macam apa yang berbicara dengan suara seperti itu?
Kedua alis Kyuhyun menyatu, kemudian ia mengangguk "Ya? Ada yang bisa kubantu?"
Wanita itu menyerahkan paket coklat yang dibawanya pada Kyuhyun. "Itu paket untukmu. Lain kali, jika kau mau berkirim barang dengan temanmu, ambilah sendiri di ruang pengurus asrama!" Wanita itu mendengus kesal. Belum sempat Kyuhyun mengatakan apapun, ia sudah berpaling dan pergi.
Meninggalkan si tampan yang masih bingung tentang paket yang dibawanya. Ia memutuskan untuk masuk dan mencari tahu isi paket tersebut di dalam.
Perlahan, ia meletakkan paket berat itu sebelah kasurnya. Masih heran tentang paket itu. Seingatnya ia tidak memesan apapun pada siapapun belakangan ini. Namja jangkung itu pun duduk di sebelah paket tersebut dan mengecek alamat pengirimnya. Sebelah alisnya langsung terangkat ketika ia mengetahui paket tersebut berasal dari rumahnya.
Jemari panjangnya membuka paket tersebut dengan cepat. Sedikit kaget ternyata paket tersebut berisi sekitar setengah lusin bingkisan yang penuh dengan makanan. Astaga, untuk apa eommanya mengiriminya makanan sebanyak ini? Butuh beberapa saat bagi namja Cho ini untuk menyadari bahwa ada selembar kertas kecil diantara bingkisan-bingkisan tersebut.
Kyuhyun-ah, kau sudah menerima bingkisan dari eomma? Bingkisan berisi makanan ini bukan untukmu, tetapi untuk ahjumma-mu yang juga tinggal di daerah sekitar sekolahmu. Jangan menolak, eomma sudah mencoba mengantarkan bingkisan ini namun dikembalikan. Jadi, kau tidak keberatan untuk mengantarkannya, 'kan? Alamatnya ada dibalik kertas ini.
Eomma
Kyuhyun mendengus kesal. 'Eomma sudah mencoba mengantarkan bingkisan ini namun dikembalikan'. Alasan macam apa itu? Tentu saja dengan otak jeniusnya Kyuhyun tahu bahwa eommanya sedang berbohong. Hubungannya dengan keluarga dari eomma-nya memang tidak begitu baik, begitu canggung. Pasti eommanya ingin ia bertemu dengan saudara-saudaranya.
Ya ampun, bahkan terakhir kali Kyuhyun mengunjungi ahjummanya itu adalah ketika usianya belum genap dua belas tahun. Walaupun eomma-nya sudah memberikan alamat rumah ahjummanya, itu tidak akan banyak membantu mengingat ia baru beberapa hari menginjakkan kaki di Seoul.
Hembusan nafas terdengar. Mau bagaimanapun juga, eommanya tidak akan bisa dibantah. Ia pun memutuskan untuk meminta bantuan Yesung nanti ketika si manis Kim itu sudah pulang.
.
Sudah hampir jam delapan malam ketika Yesung masuk ke kamar mereka dengan wajah yang begitu lelah dan langsung merebahkan dirinya di kasur tanpa mempedulikan teman sekamarnya yang memandangnya heran.
Kaki panjang Kyuhyun berjalan mendekati Yesung. "Bagaimana tadi?"
Yang sedang bermalasan di kasur sedikit berjengit kaget. Mungkin ia tidak menyadari kehadiran Kyuhyun sedari tadi. Onyx sabitnya yang tadi sempat terpejam kembali sedikit terbuka. "Melelahkan, namun menyenangkan. Siwon tadi mengasyikkan sekali."
Namja Cho itu hanya tersenyum dan mengangguk walaupun ia merasa sedikit –sangat– tidak nyaman ketika Yesung membicarakan Siwon. Namun detik berikutnya ia teringat akan paket yang ia dapatkan tadi siang. "Ah ya, Yesung-ah, aku mendapat sebuah paket tadi siang."
Sebelah alis Yesung terangkat. "Apa yang membuatmu berpikir aku ingin mengetahuinya?"
Kyuhyun mengelus tengkuknya. "B-bukan seperti itu. Hanya saja eommaku menyuruhku untuk mengirimkan paket tersebut pada ahjumma-ku. Dan aku hanya berpikir apakah kau mengetahui alamat ini?" ia menyodorkan kertas berisi alamat pada Yesung.
Namja Kim itu terduduk dengan malas, kemudian membaca sekilas kertas yang diberikan Kyuhyun. "Ah ini tidak terlalu jauh. Kau hanya perlu keluar lewat gerbang belakang, lalu berjalan sekitar tujuh blok, lalu belok kiri. Jalan lurus sekitar seratus meter, lalu belok kiri lagi. Di persimpangan jalan yang ketiga, kau belok kanan. Dari situ berjalanlah lurus hingga menemukan blok ini. Kalau tidak salah sekitar empat blok. Belok kanan, dan sekitar dua puluh meter dari situ, itulah rumah yang kau maksud."
Kyuhyun menelan ludah. "Ngg... Yesung. Bisakah kau ikut menemaniku mencari rumah ini?"
Terlihat kerutan di dahi yang lebih pendek. "Kyuhyun, aku sangat lelah sekarang. Kau ini namja, memangnya apa masalahnya kalau kau mencari sendiri? Jika kau masih bingung, kau bisa bertanya pada security di bawah. Sekarang, aku ingin tidur dan sebaiknya kau tidak mengangguku."
"B-baiklah. Terima kasih, Yesung-ah." Yang lebih tinggi mengulum senyum sebelum akhirnya keluar dari kamar mereka dengan paket dari eommanya.
.
.
.
.
Bay05
.
.
.
.
Brak!
Suara memekakkan itu terdengar satu detik setelah si tampan Cho melepaskan genggamannya pada kardus yang sudah dibawanya berkeliling selama hampir dua jam terakhir. Empat menit lagi waktu akan menginjak pukul sepuluh malam. Dan ia punya waktu sekitar sembilan belas menit untuk berlari kembali ke asrama sebelum pintu asrama ditutup pada jam sepuluh lebih lima belas.
Menurut perhitungan otak jeniusnya, ia bisa saja berlari kembali ke asrama beberapa detik sebelum pintu ditutup dengan berlari. Namun, tentu saja ia masih menyayangi kedua telinganya dan tidak ingin mendengar omelan eomma-nya di pagi hari nanti.
Namja dengan iris caramel itu menghembuskan nafasnya kesal. Ia yakin benar ia sudah mengikuti petunjuk Yesung dengan benar. Namun rumah di hadapannya ini tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan ciri-ciri rumah ahjumma-nya.
Berjalan tanpa henti selama dua jam terakhir ini membuat kakinya hampir copot, karena itu Kyuhyun memutuskan untuk duduk di pinggir jalan dengan kardus paket sebagai singgasananya. Persetan jika kardusnya rusak atau bahkan isinya, ia sudah lelah sekarang dan membutuhkan alas untuk duduk.
Ditopangnya dagu tajamnya asal. Bahkan Kyuhyun berani bertaruh keadaan tidak akan bisa menjadi lebih buruk daripada ini. Bayangkan saja, bagaimana–
Jresh!
Entah bagaimana datangnya, hujan deras tiba-tiba memenuhi seluruh langit dan mengguyur tubuhnya dengan massal. Menghentikan bayangannya akan hari yang indah. Great, nampaknya fortuna benar-benar tidak berpihak padamu, Cho Kyuhyun!
Ah, tapi tidak masalah. Kau mempunyai banyak waktu untuk mengumpat pada sang langit, Cho!
.
Yesung menggigit kukunya gelisah, kebiasan buruk yang memang sering ia lakukan ketika ia merasa panik, khawatir maupun gelisah. Dari awal ia tidak pernah benar-benar tertarik ataupun menyukai Kyuhyun. Namun bagaimanapun, Kyuhyun adalah teman sekamarnya. Plus, namja Cho itu sudah begitu sering memperlakukannya dengan baik tidak peduli seberapa dingin sikapnya.
Onyx-nya kembali melihat benda bulat di dinding. Hanya beberapa detik sebelum jam sepuluh malam. Ia tidak dapat memungkirinya, ia benar-benar khawatir pada teman sekamarnya yang ia anggap berantakan itu.
Si manis Kim itu menghela napasnya berat, kemudian memejamkan matanya. Sedang meyakinkan dirinya akan sesuatu, agaknya.
Detik berikutnya, namja pemilik surai raven itu berdiri dan mengambil payung dengan gambar kura-kura kekanakan di sudut ruangan. Ia kembali menghela napas sekali lagi, kemudian langsung melangkah keluar.
Tanpa kuberi tahu, kalian sudah tahu kemana si manis Kim itu menuju bukan?
Entah di dasari rasa kasihan, khawatir atau mungkin kasih sayang, Yesung berjalan keluar tanpa memedulikan ia memiliki kemungkinan untuk terkurung diluar bersama Kyuhyun sepanjang malam dengan keputusannya ini.
Hm, rasanya cinta memang serumit yang dikatakan orang-orang.
.
Pada awalnya Kyuhyun merasa bahwa ia sedang bermimpi ketika ia merasakan tidak ada lagi air yang menyentuh tubuhnya. Ia mendongak ke atas, melihat payung yang cukup familiar dengannya. Walaupun baru sekitar tiga kali melihat payung tersebut, Kyuhyun tidak ragu akan siapa pemilik payung tersebut.
Kim Yesung. Dan omong-omong, jika Kim Yesung mau meluangkan waktunya untuk keluar diatas jam sepuluh ditengah guyuran hujan hanya untuk Cho Kyuhyun, agaknya kali ini namja tampan itu benar-benar bermimpi.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?"
Caramel Kyuhyun berkedip. Sepertinya suara ketus tadi benar benar seperti suara Yesung. Namun, bukankah teman sekamarnya itu–
"Astaga, Cho Kyuhyun!" Namja Cho itu terlonjak, kemudian ia berbalik. Kyuhyun mengedipkan matanya beberapa kali, namun Yesung tidak pergi dari hadapannya. Astaga, nampaknya apa yang ada di depannya ini bukanlah sebuah halusinasi. "Yesung-ah?"
Namja di depannya menggerutu kesal. "Tentu saja, kau pikir aku ini siapa?"
Kyuhyun mengangguk cepat, sedikit malu tentang sikapnya yang seperti orang bodoh tadi. "Kenapa kau disini, Yesung-ah?" Yesung memutar bola matanya, agaknya sebentar di bawah guyuran hujan membuat otak jenius Kyuhyun luntur. "Kalau bukan karena kau yang belum datang hingga jam sepuluh malam, aku tidak akan kerepotan seperti ini, Kyuhyun."
Namja jangkung itu menggaruk tengkuknya. "M-ma-maaf." ia berkata kikuk.
Yesung tidak mengatakan apapun, sedikit merasa bersalah juga bicara sebegitu kasar pada Kyuhyun. "Jadi, kau tidak bisa menemukan alamatnya, huh?" Yang lebih tinggi hanya mengangguk.
Si raven tidak mengatakan apapun, hanya berbalik. "Sebaiknya kita bergegas, kau harus berganti baju. Dan kita akan mendapat masalah jika kita kembali terlalu larut." Yesung berkata pelan, kemudian sedikit mendekat pada Kyuhyun untuk membagi payung kecil yang ia bawa. Salahkan saja kepanikannya yang membuatnya tidak menyadari bahwa yang ia bawa hanyalah payung yang cukup untuk satu orang.
Ditambah lagi, ia harus sedikit berjinjit mengingat Kyuhyun lebih tinggi darinya. Sang brunette tertawa kecil menyadari kesulitan Yesung. Ia kemudian melangkah menjauh. "Kau saja yang memakai payungnya, Yesung-ah."
"Kyu, kau tidak perlu–"
"Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah basah. Payung itu tidak akan bermanfaat untukku. Lagipula ayo, seperti yang kau katakan, kita bisa mendapat masalah jika kembali terlalu larut."
Dan Yesung tidak mengatakan apapun setelah itu.
Butuh sekitar empat menit bagi keduanya untuk sampai di rumah ahjumma Kyuhyun. Yeoja cantik itu datang dengan senyum yang begitu lebar di bibir tipisnya. Ia sedikit tergopoh-gopoh ketika berlari. Dengan cepat ia membuka pagar untuk keponakannya yang sudah lama tidak dilihatnya itu. "Kyuhyun-ah! Akhirnya kau datang juga,"
Kyuhyun tersenyum, "Ne, tadi aku tersesat, ahjumma." Yeoja itu mengangguk. "Kau basah kuyup. Mau ganti di dalam? Ahjumma bisa meminjamkanmu baju." Kyuhyun menggeleng dengan sopan. "Aku buru-buru, harus segera kembali ke asrama sebelum malam makin larut.
"Ah, baiklah kalau begitu."
Yeoja itu menoleh, sedikit kaget ketika menyadari Kyuhyun tidak datang sendiri. Namun detik berikutnya ia langsung tersenyum hingga matanya membentuk lengkungan indah. "Kau manis sekali, siapa namamu?"
Si raven sedikit kaget, tidak menyangka ahjumma Kyuhyun akan begitu hangat padanya. "S-saya Kim Yesung, ngg..."
"Panggil saja ahjumma, seperti Kyuhyun." Yesung mengangguk, lalu membungkuk untuk memberi hormat.
Iris caramel bening ahjumma Kyuhyun yang persis seperti milik keponakannya itu kembali pada Kyuhyun. "Dia manis sekali, dia siapa? Kekasihmu, hm?" Ahjumma-nya berkata dengan nada menggoda.
"Y-Yah! Bukan, ahjumma! Dia hanya temanku."
Yeoja dengan keriput samar di beberapa bagian wajahnya itu tertawa kecil. "Aku hanya bercanda, Kyu-ah." Si jangkung Cho mengusap-ngusap tengkuknya, wajahnya pasti sudah cukup memerah sekarang. "Ya sudah, bukankah tadi kau bilang kau harus kembali ke asrama?"
Kyuhyun mengangguk. "Baiklah, aku pergi dulu, ne?"
Ahjumma-nya mengangguk. "Hati-hati di jalan, Kyuhyun-ah, Yesung-ah." keduanya pun tersenyum kemudian mengangguk.
.
Hujan sudah sedikit reda ketika Kyuhyun dan Yesung berjalan menuju asrama. Yesung pun memutuskan untuk tidak memakai payung lagi. Keduanya juga tidak terburu-buru, toh gerbang utama asrama pasti sudah ditutup sejak mereka sampai di rumah ahjumma Kyuhyun.
"Yesung-ah,"
"Hng?" Yesung berkata tanpa melihat Kyuhyun. Ia masih sibuk menendangi kerikil basah di hadapannya. "Apakah kau membenciku?"
Yesung langsung memandang yang lebih tinggi dengan cepat dan pandangan tajam. "Apa yang kau bicarakan?" Kyuhyun mengangkat kedua bahunya, lalu memandang Yesung dalam. "Aku merasa seperti itu. Maksudku, kita adalah teman sekamar. Aku hanya ingin agar suasana tidak menjadi canggung diantara kita."
Si raven memutus kontak mata diantara keduanya "Aku tidak membencimu, Kyuhyun. Kurasa aku hanya tidak menyukai penampilanmu yang begitu berantakan. Bukan apa-apa, maksudku, aku dibesarkan di keluarga yang begitu menjaga kebersihan dan penampilan. Jangan tersinggung tentang ini. Kurasa aku hanya kurang nyaman berada di dekatmu."
Dengan tiba-tiba Kyuhyun berhenti berjalan. "Apakah itu akan mengubahku?"
Yesung seolah membeku di tempatnya ketika ia mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut Kyuhyun. "Aku masih menyukai fisika, aku masih seorang namja yang hanya bisa menghabiskan waktu dengan PSP-nya di hari Sabtu, aku masih seorang yang sangat menyukai jjangmyeon. Aku masih Cho Kyuhyun yang sama."
"Apakah itu akan mengubahku, Yesung?" Yesung memejamkan matanya mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Kyuhyun.
Tentu saja Kyuhyun benar, ia sama sekali tidak mempunyai hak untuk menghakimi Kyuhyun dari bagaimana ia berpenampilan. Di luar penampilannya, Kyuhyun sudah bersikap begitu baik pada Yesung meskipun namja dengan surai raven itu sama sekali tidak pernah menghargai Kyuhyun.
Namja dengan iris sabit itu menghela napasnya pelan. Ia tidak yakin bagaimana harus bersikap, sehingga pada akhirnya ia hanya kembali berjalan. "Kita harus bangun pagi besok, Kyu. Sebaiknya kita bergegas."
.
.
.
.
Bay05
.
.
.
.
Keduanya menghela napas lega ketika akhirnya mereka bisa mengendap-ngendap masuk ke kamar asrama lewat pintu belakang tanpa ada satu orang pun yang mengetahui. Yesung menyalakan lampu, dan detik berikutnya, ia menganga di tempat.
Ya ampun, bagaimana tadi ia bisa begitu bodoh?
Tadi ketidakberadaan Kyuhyun benar-benar membuatnya hampir tidak waras, sehingga ia langsung menyusul namja Cho itu, tidak peduli bahwa saat itu tengah hujan deras dan ia lupa menutup jendela kamar mereka.
Dan lihatlah sekarang, akibat ulahnya, kini seluruh kamar menjadi basah. Tidak seluruhnya sebenarnya, hanya sebagian besar 'wilayahnya' dan sedikit wilayah Kyuhyun. Namun, kasurnya benar-benar basah sekarang, dan mungkin tidak akan bisa ditiduri untuk beberapa hari kedepan.
"Wow, kita punya masalah disini," yang lebih tinggi berkata. Lalu dengan sigap ia mengambil kain di sudut ruangan dan mengepel sebagian lantainya yang basah. Tidak butuh waktu yang lama mengingat air di 'daerahnya' hanya sebatas selayaknya air mineral botol kecil yang tumpah.
Sementara Yesung masih berdiri di tempatnya, tidak melakukan apapun. Ia tidak mungkin melakukan hal yang sama dengan Kyuhyun. Bukan apa-apa, hanya saja air di daerahnya ini begitu banyak. Akan membutuhkan beberapa jam untuk mengepelnya.
"Yesung-ah," suara bass Kyuhyun terdengar, membuat Yesung sedikit mendongak untuk menoleh pada teman sekamarnya itu. "Lewatilah garisnya."
"Masuklah ke wilayahku, untuk beberapa malam ke depan kau bisa tidur di kasurku. Aku akan tidur di lantai." Onyx Yesung membola sempurna, apa yang baru saja Kyuhyun katakan?
Si raven menggeleng cepat. "Tidak, tidak perlu. Aku bisa menumpang di kamar Siwon atau–"
"Kau tahu itu melanggar peraturan, Yesung-ah. Kita akan terkena masalah. Lagipula, ini sudah terlalu larut. Siwon pasti sudah tidur. Sebaiknya kau tidur di kasurku saja." Kyuhyun berkata sedikit dingin. Bukan apa-apa, ia hanya tidak begitu menyukai ketika Yesung menyebut nama Siwon di hadapannya.
Yesung sendiri hanya bisa mendesah kecil, Kyuhyun benar. Ia akan mendapat masalah jika ia pindah kamar dan meninggalkan Kyuhyun karena masalah yang ia buat sendiri. Terlebih lagi, walaupun Siwon pasti tidak keberatan bangun di tengah malam untuknya, ia merasa tidak enak jika harus menganggu tidur namja Choi itu.
Tanpa menunggu jawaban Yesung, Kyuhyun langsung mengambil matras tipis sewarna scarlet di sudut ruangan lalu menaruhnya di sebelah kasurnya. Namja jangkung itu menuju toilet dan mengganti baju basahnya dengan cepat. Hanya butuh lima menit sebelum ia keluar dari toilet dengan baju kering dan berjalan menuju matras 'nyaman'nya.
Ia pun berbaring di matras tersebut. Tidak nyaman memang, kulitnya bahkan masih bisa merasakan lantai dingin beberapa milimeter di bawahnya. Namun ketika ia mengingat bahwa ia melakukan ini untuk Yesung, entah mengapa keluh kesah itu menguap.
"Tidurlah di kasurku, lewati saja garisnya." kedua sudut bibir tebal Kyuhyun tertarik, membentuk senyuman yang begitu menawan.
Sementara si manis Kim masih menundukkan kepalanya. Sungguh, ia sudah bersikap menyebalkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak mengerti, mengapa Kyuhyun masih bersikap begitu baik padanya? Ia hanya merasa bahwa Kyuhyun tidak seharusnya bersikap sebaik ini padanya. "S-sebaiknya aku saja yang tidur di matras,"
Namja jangkung itu bangkit dari tidurnya. "Apa?"
"Kasurku yang basah. Seharusnya aku yang tidur di bawah. Kau sudah begitu membantu dengan memperbolehkanku tidur di wilayahmu. Jadi–"
"Yesung-ah, kita ini teman sekamar. Tentu saja wilayahku adalah wilayahmu juga. Jadi, aku sama sekali tidak keberatan dengan ini. Ayolah, besok kita harus bangun pagi." Yesung menggeleng pelan. "Aku yang lupa menutup jendela, Kyu-ah. Lagipula ini sepenuhnya salahku, jadi sebaiknya aku saja yang tidur di matras."
Kyuhyun tertawa kecil. "Sudahlah, Yesung-ah. Aku ini kuat, jadi sebaiknya aku saja yang tidur dibawah. Jangan menyela lagi, okay? Sekarang tidurlah karena kita benar-benar harus bangun pagi besok, Yesung."
Yang lebih pendek mengelus tengkuknya. "Nggg... aku tidak tahu bagaimana mengatakannya Kyu-ah. Tetapi terima kasih atas segala yang kau lakukan. Maksudku, aku sudah bertingkah menyebalkan dan kau masih begitu baik padaku." Kyuhyun mengulum senyuman. "Sama-sama, Yesung-ah. Sekarang, bisakah kita tidur?"
Si raven mengangguk canggung. Ia berbaring di kasur Kyuhyun perlahan. Yesung memejamkan matanya, menghirup dalam aroma Kyuhyun yang tercium kental di kasur namja Cho itu. Aroma mint kasual yang terasa begitu manly.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Si manis Kim masih terus bergerak di kasurnya. Ia lelah dan mengantuk, namun entah mengapa ia tidak dapat menyelami alam mimpinya. Sementara Kyuhyun sendiri sudah terlelap jauh dalam tidurnya sejak beberapa detik ia berbaring di matras scarlet tersebut. Agaknya namja tampan itu benar-benar kelelahan.
Yesung menghembuskan nafas pelan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang bisa ia lakukan sekarang. Untunglah–
"AAAAAAAAAAA!" suara baritone merdu Yesung terdengar, membuat teriakan yang begitu memekikkan. Tiba-tiba saja lampu di ruangan bernuansa cerah itu mati tanpa aba-aba. Dan Yesung benar-benar tidak menyukai ini. Ia benci kegelapan, benar-benar benci.
Sementara namja yang tidur di bawah bangun perlahan. Ia langsung terduduk karena kaget mendengar teriakan. Ia mengucek matanya perlahan, kemudian berusaha mengumpulkan nyawanya. Sedikit bingung karena sekitarnya benar-benar gelap saat ini. Untunglah saat ini bulan sedang purnama, sedikit banyak hal itu cukup membantu melihat sekitarnya walaupun hanya remang-remang.
Ia dapat mendengar suara pergerakan resah di sampingnya, yang ia asumsikan sebagai gerakan gelisah dari Yesung. Kyuhyun pun memutuskan untuk menoleh ke samping, ia tidak benar-benar bisa melihat Yesung, jadi ia memicingkan matanya. "Yesung? Kau tidak apa-apa?"
Detik berikutnya ia dapat merasakan sebuah gerakan tiba-tiba dan sepasang tangan yang memeluknya erat seperti tidak ada hari esok. Sementara pemilik tangan tersebut meringkuk dan bergetar hebat dengan kepala yang ia benamkan di dada bidangnya. Sosok dalam pelukannya terisak begitu kencang.
Kyuhyun seolah membeku di tempatnya. Yesung memeluknya.
Tidak yakin bagaimana harus bersikap, akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk mengelus punggung Yesung lembut, berusaha memberi kenyamanan pada pria yang lebih kecil darinya ini. "Ssshh... tidak apa-apa Yesung, ini hanya mati lampu." jemari panjangnya mengelus surai raven Yesung penuh kasih sayang.
Sebenarnya ia sudah mengira. Dengan hujan sederas itu, kemungkinan besar memang listrik akan padam untuk beberapa saat di tengah malam. Namun Kyuhyun memperkirakan Yesung pasti sudah tidur, jadi tidak akan ada masalah.
Kyuhyun dapat merasakan si mungil dalam dekapannya menggeleng. "A...aku t-takut, K-kyu..." Yang lebih tinggi mengeratkan dekapan mereka. "Tidak apa-apa, sekarang tidurlah, okay? Aku akan ada disini, kau tidak perlu takut. Aku akan menunggumu sampai kau tidur."
Butuh sekitar dua puluh menit sampai akhirnya Kyuhyun dapat mendengar helaan nafas teratur dari Yesung. Ia tersenyum, akhirnya namja manis ini bisa tidur juga. Merasa begitu lelah, Kyuhyun pun menyusul Yesung ke alam mimpi.
.
.
.
.
Bay05
.
.
.
.
Keesokan harinya, Kyuhyun bangun karena sinar matahari yang mengusik tidurnya. Yesung masih berada dalam dekapannya, masih tertidur dengan lelap. Namja Cho itu sedikit kaget, kemarin ia begitu lelah sekaligus lega ketika Yesung sudah tidur, sehingga ia lupa untuk menidurkan Yesung kembali di kasurnya.
Hanya untuk berjaga-jaga, namja Cho itu mengulurkan tangannya ke dahi Yesung. Dan astaga! Suhunya sangat panas. Yesung terkena demam tinggi.
Dengan buru-buru Kyuhyun memindahkan Yesung ke kasur, kemudian menyelimuti tubuh mungil Yesung dengan selimut yang cukup tebal. Ia sangat bersyukur listrik sudah menyala sekarang. Caramel-nya melihat ke benda bulat di tembok. Masih ada cukup waktu baginya untuk menyiapkan sarapan untuk teman sekamarnya.
Si brunette memutuskan untuk membuat creamy soup dan teh hangat sederhana untuk Yesung. Tidak lupa untuk menulis sebuah note singkat, sebelum akhirnya mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Untuk terakhir kalinya sebelum ia berangkat sekolah, Kyuhyun kembali mengecek keadaan Yesung. Bibir tebalnya membentuk senyuman ketika melihat posisi tidur Yesung yang begitu tenang layaknya malaikat. Yesung terlihat begitu manis tanpa kerutan di wajahnya maupun ekspresi kesal yang sering ia tunjukkan ketika ia bersama Kyuhyun.
Entah mendapat keberanian dari mana, Kyuhyun membelai surai raven Yesung dengan lembut. Ah, akan begitu nyaman jika wajah tanpa cela di hadapannya ini menjadi miliknya. Caramel Kyuhyun melirik bibir cherry Yesung sebentar.
Ah, tidak.
Ia tidak ingin mencuri ciuman dari Yesung. Ia akan mencium Yesung, jika namja Kim itu mengetahui dan menginginkannya.
"Baiklah, Yesung-ah, aku pergi dulu, ne? Cepat sembuh." Kyuhyun kembali tersenyum sebelum akhirnya keluar untuk pergi ke sekolah.
.
.
.
.
TBC
Annyeong~! /lambai lambai/. Lama banget ya, update-nya? /dipelototin/. Iya, iya... Bay minta maaf, ne, Bay nggak bisa update secepat yang readers pengen. Bay juga jadi ngerasa bersalah banget sama readers yang nungguin ff ini berabad-abad T^T, sampe banyak yang nanyain kabar ff Bay lewat PM. Mianhaeee /bow/
Tapi kayaknya habis ini Bay bakal dikenal sebagai author yang lelet, jadi biasain aja ya. /slap/ ^^v. Oke oke, Bay bercanda. Bay bakalan tetep berusaha buat nyelesaiin ff secepet yang Bay bisa, tapi Bay juga harus ngurusin urusan sekolah Bay. Jadi Bay gabisa update kilat terus.
Makannya, Bay minta review dari readers biar Bay jadi semangat juga^^)9. #modus.
Special Thanks To :
Kim Raein – – Aimikka Cloudy – ajib4ff – – ErmaClouds – GaemCloud – Niiraa – rina afrida – 24 – this is me – cloud3024 – iwsumpter – i'm the cutest sparkyu – Kei Tsukiyomi – Cloud246 – dewicloudsddangko – .9 – AsHa Lightyagami kisslicksucks– nin nina – lilis kepo – Dewi CloudSparkyu – dera elf – aku suka ff – ranimaharsi – kyusung 0324 – Zee – lukyuky – satya – Tata – Jeremykim63424 – beberapa 'Guest'
