hello chingu, udah pada nungguin?
mian y lama, coz aq kemaren2 gk bisa buka nih ffn :(
oh ya. ff ini udah pernah aq post di fb
happy reading...
WhirlWind
Chapter : 2
Sehun hampir berlari menuruni tangga karena ia sangat semangat. Ia senang membayangkan hanya akan ada 3 orang dimeja makan. Eommanya, Luhan dan dirinya sendiri. Pasti akan sangat menyenangkan sarapan sambil bercanda dengan eommanya. Sehun juga sudah merencanakan akan sedikit berdamai dengan Luhan. Bagaimanapun juga Luhan sangat baik padanya selama ini.
Kaki Sehun berhenti di anak tangga paling bawah ruang keluarga. Telinganya mendengar suara tawa dan canda yang sungguh tak ingin ia dengar saat ini. Tanpa sadar kakinya melangkah menuju ruang makan dimana sumber suara-suara itu berasal. Diruangan itu sudah ada ibu dan kakaknya. Dan juga anggota keluarga yang lain. Semuanya lengkap pagi ini. Bahkan ayahnya pun yang jarang berada dirumah sudah ada disana.
Diruang makan itu ayahnya duduk bersebelahan dengan ibunya. Luhan duduk disebelah kiri ibunya. Didepan ayah Sehun ada paman Zang, suami dari adik ayahnya (suami dari bibi Sehun). Sedangkan bibi Sehun duduk didepan Ibu Sehun. Dan Lay anak dari paman dan bibinya duduk didepan Luhan. Neneknya duduk disebelah sudut meja sedangkan disudut yang lain ada kakeknya. Sungguh suasana hangat itu membuat Sehun muak.
"Brengsek. Kenapa mereka sudah kembali pagi-pagi begini ?!" Sehun mengumpat dalam hampir berbalik pergi ketika ibunya memanggil.
"Sehun-a. ayo sini?"
Seketika ruangan itu mendadak dingin saat nama Sehun disebut. Sehun melangkah berat dan menghampiri satu-satunya kursi yang masih tersisa. Tepat disebelah kiri Luhan. Lalu mereka sarapan dengan suasana yang sangat kaku. Setidaknya itu lebih baik daripada biasanya. Tapi itu tak bertahan lama.
"Nae dongsaeng, tadi aku meletakkan kado ulang tahun di nakasmu. Kau sudah melihatnya?" celetukan Luhan itu membuat orang-orang dimeja makan menatap tajam pada Sehun.
Sehun menelan makanannya yang tiba-tiba tersangkut ditenggorokan dengan susah payah. Ia berusaha mengabaikan tatapan-tatapan tajam itu dan tetap tak menjawab pertanyaan Luhan. Luhan sendiri merasa bersalah dengan kalimatnya barusan. Padahal Luhan mengucapkan itu dengan niatan mencairkan suasana. Tapi yang terjadi justru ia semakin memperburuknya.
"Cih…..ternyata anak haram ini ulang tahun ya." Kalimat menusuk dari bibinya itu membuat Sehun menggertakkan giginya. Ia sebisa mungkin menulikan telinganya untuk meredam amarah.
Nyonya oh, ibunda Sehun meremas roknya sendiri. Bukan karena ia tersindir tapi karena ia tak rela putranya diperlakukan seperti itu. Nyonya Oh menyenggol pelan pinggang Luhan. Mengisyaratkan untuk cepat-cepat membawa Sehun pergi dari sana.
"Sehun-a, ayo berangkat sekarang. Aku rasa kita akan terlambat jika tidak cepat-cepat berangkat." Kata Luhan pertanda ia mengerti isyarat ibunya.
"Lay, apa kau mau berangkat dengan kami?" tawar Luhan pada sepupunya itu. Mereka memang tidak satu sekolah tapi mereka searah.
Luhan, Lay dan Sehun akhirnya meninggalkan ruangan itu. Sehun mengepalkan tangannya yang ia masukkan kedalam saku celana. Jika dulu ia memikirkan dirinya sendiri setiap diperlakukan secara tidak adil oleh keluarganya, sekarang ia lebih memikirkan ibunya. Ibunya pasti akan terpojokkan jika pembicaraan tentang anak haram dimulai.
Luhan sekilas melirik Sehun yang berjalan disebelahnya. Ia sangat tidak tahu perasaan Sehun saat ini. Sedangkan Lay berjalan cepat didepan. Ia memang tak banyak bicara dan tak mau ikut campur dalam masalah ini. Ia merasa tak berhak mencampurinya.
###
Lay tak banyak tahu tentang apa yang terjadi pada keluarga ibunya. Ia tinggal di China bersama neneknya (ibu dari ayahnya) sejak kecil. Lay hanya sedikit mendengar bahwa Sehun adalah anak hasil perselingkuhan. Ia pernah tak sengaja mendengar saat ibu dan ayahnya membicarakan itu.
Dulu saat pertama mendengarnya, Lay sangat penasaran dengan sosok Sehun. Karena Lay tak bisa membayangkan bagaimana ada orang yang akan tahan diperlakukan tidak adil didalam keluarganya sendiri. Apalagi orang tersebut mendapat cap anak haram.
Ketika pertama kali menginjakkan kakinya di korea setahun yang lalu dan bertemu dengan Sehun untuk pertama kalinya, Lay berfikir untuk berteman dengan Sehun. Ia ingin dekat dengan Sehun agar Sehun tak terlalu terkucilkan dalam keluarga itu. Setidaknya Lay ingin menjadi sepupu yang baik, Lay ingat kejadian malam itu saat ibunya berkata tepat dihadapan Sehun dan anggota keluarga yang lain.
"Lay, ini Luhan sepupumu. Dan itu disebelahnya adalah adiknya, tapi kau tak perlu mengenalnya. Bahkan kau tak perlu tahu namanya." Ibunya berkata sambil mengenalkannya pada Luhan.
"Jangan hiraukan anak haram itu." Tambah kakeknya.
Lay sangat terkejut hingga tak sadar mulutnya menganga.
"Hei aku Luhan. Senang bertemu denganmu. Ini sebenarnya sedikit konyol dan aneh. Kita sepupu tapi tak pernah bertemu sekalipun." Luhan menyodorkan tangannya untuk mengajak Lay berjabat tangan.
Lay tersenyum dan menyambut uluran tangan Luhan.
"Dan ini adikku. Sehun." Kata Luhan setelahnya.
Lay baru saja akan mengulurkan tangannya pada Sehun tapi tangan neneknya segera menampik tangan Lay dengan kasar.
"Jangan kotori tanganmu." Kata neneknya dengan suara tuanya. Kalimat itu begitu singkat tapi sangat menusuk. Seketika Lay sangat merasa tidak enak dengan Sehun. Mereka baru bertemu sekali tapi kesannya sangat buruk. Lay melirik sekilas pada Sehun dan mendapati ekspresi dingin yang sangat mengerikan.
Beberapa detik kemudian Sehun pergi dari sana masih dengan ekspresi yang sama. Luhan mengejar Sehun dan mereka tak muncul hingga keesokan harinya.
"Jangan tiru sifat membangkang Luhan." Itu peringatan keras dari kakeknya.
Lay dimasukkan ke sekolah yang berbeda dengan Luhan dan Sehun, itu sedikit membuat Lay kecewa. Tapi sekarang ia sudah terbiasa, karena itu sudah berlangsung setahun sejak pertama kali ia pindah ke Korea. Sekarang Lay kelas 3 di SM High School. Sementara Luhan kelas 3 dan Sehun kelas 2 di Exo High School.
"Jangan melirikku seperti itu." Tegur Sehun pada Lay yang ketahuan mencuri-curi pandang padanya.
"Maaf." Kata Lay merasa bersalah. Lay duduk disamping Sehun didalam mobil yang membawa mereka menuju sekolah. Sedangkan Luhan duduk didepan samping kursi kemudi. Kali ini Luhan menyuruh supir untuk mengantar mereka.
"Kenapa hari ini bukan Hyung yang menyetir?" Tanya Lay pada Luhan.
"Aku sedang malas menyetir." Jawab Luhan sambil tersenyum kearah Lay.
"Kenapa kau tak membiarkan aku saja yang menyetir?." Saut Sehun.
"Aku akan membiarkan kau melakukannya lain kali, Nae dongsaeng."
"Tolonglah jangan panggil aku seperti itu." Sehun mempoutkan bibirnya. Hal yang sangat jarang ia lakukan. Bahkan hampir tak pernah. Itu membuat muka Sehun kelihatan imut. Lay menahan senyum gemasnya dan segera memalingkan wajahnya kearah jendela. Ini kali pertama ia melihat Sehun seperti itu. Dan ia takut jika ia ketahuan sedang tersenyum karena Sehun, nanti Sehun akan berubah dingin lagi.
Luhan juga menahan senyumnya dikursi depan.
"Kalian menertawakanku?" Tanya Sehun kesal.
"Tidak." Jawaban cepat dari Lay dan Luhan yang serentak itu semakin membuat Sehun kesal. Sehun semakin memanyunkan bibir tipisnya itu. Seketika tawa Lay dan Luhan meledak. Mereka tak bisa menahan tawanya melihat wajah lucu Sehun.
Luhan hampir saja bertepuk tangan karena kehilangan control akan tawanya ketika senggolan Lay dari belakang menggangunya. Luhan menengok sekilas kearah Lay yang memberikan kode untuk diam. Lalu ia mengalihkan pandang matanya pada Sehun. Dibelakangnya Sehun sudah memasang tatapan evilnya. Itu membuat Luhan cepat-cepat menghadap kedepan dan berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.
Sehun tersenyum dalam hati. Entah kenapa pagi ini ia merasa akrab dengan kakak dan sepupunya. Sehun berharap mereka bisa seperti itu untuk kedepannya.
###
Tao sedang asik menyalin tugas fisika dari buku D.O. Dan tiba-tiba saja dikejutkan oleh namja yang berdiri didepan mejanya. Namja itu memang belum mengatakan apapun. Tapi gestur tubuhnya cukup membuat Tao mengetahui siapa namja itu.
Tao mendongak untuk memastikan dan benar saja namja itu adalah Sehun. Mulut Tao menganga karena tidak percaya akan penglihatannya. Biasanya selalu dia yang menghampiri Sehun terlebih dahulu. Tapi kali ini Sehun yang menghampirinya. Dan sekarang mata sipit Sehun sedang menatap matanya lekat.
"Mianhae." Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Sehun. Dan setelah mengucapkannya ia pergi begitu saja. Membuat Tao semakin menganga. D.O yang sedari tadi hanya diam memandang Tao dan Sehunpun ikut menganga lebar saking terkejutnya.
"Apa Sehun kerasukan?" Itu komentar yang keluar dari mulut D.O ketika Sehun sudah menghilang dibalik pintu kelas.
"Ku….kurasa begitu." Balas Tao sebelum ia menghambur keluar untuk mengejar Sehun.
"Sehun-ah!" panggil Tao kepada namja tinggi berkulit putih yang berjalan beberapa meter didepannya.
Sehun berhenti melangkah, tapi tidak menoleh sedikitpun kepada namja panda yang memanggilnya.
"Oh Sehun." Panggil Tao lagi ketika sudah berhasil berdiri disamping Sehun, tapi kali ini lebih pelan. Sehun memutar tubuhnya kesamping agar bisa berhadapan dengan Tao. Dan itu justru membuat Tao gugup hingga membuatnya menunduk. Memandang sepasang kakinya sendiri.
Sehun mengangkat dagu Tao agar namja itu menatap matanya.
"Mianhae." Sehun mengulang kata seperti yang ia ucapkan dikelas tadi. Tao semakin gugup dan membuatnya semakin tak mengerti.
"Ap…..apa maksudmu?" tanyanya gugup saat Sehun sudah melepaskan dagunya.
"Hanya permintaan maaf, kau tahu maksudnyakan? Tolong setelah ini jangan menyukaiku lagi. Itu akan menyakiti hatimu sendiri."
"Aku tidak menyukaimu, tapi aku mencintaimu." Tao mengucapkannya dengan sangat yakin.
"Baiklah. Kalau begitu jangan mencintaiku. Berikan saja cintamu itu pada orang lain."
"Tapi kenapa?"
"Karena aku tidak mencintaimu."
Kalimat terakhir Sehun cukup membuat hati Tao hancur berkeping-keping. Air mata mulai menggenang dipelupuk mata pandanya. Diam-diam Tao mengutuki dirinya sendiri. Kenapa dirinya sangat cengeng. Bahkan untuk sekedar kalimat yang ia sudah kira sebelumnya.
"Uljima. Kau tak pantas menangis untuk orang sepertiku." Sehun langsung berbalik pergi setelah mengucapkan kalimat itu. Ia tak menoleh lagi dan membiarkan Tao tergugu ditempatnya.
###
To : rival
Aku sudah pulang, jadi jangan menungguku.
Sehun mengirim pesan singkat untuk Luhan. Bahkan didalam pesanpun kalimat itu masih terkesan dingin. Sehun memang sengaja menyimpan nomer Luhan dengan nama "Rival'. Karena menurut Sehun, Luhan adalah saingannya. Tentunya saingan dalam mendapatkan kasih sayang dari keluarganya.
Saat ini Sehun sedang menyusuri rak-rak didalam sebuah minimarket dekat sekolahnya. Ia sengaja mampir disana untuk membeli keperluan pribadinya. Tangannya hampir meraih botol shampoo didepannya ketika tiba-tiba ada seorang namja yang menabraknya dari arah samping. Tubuh Sehun sedikit terhuyung kesamping. Ia dengan cepat menstabilkan keseimbangannya.
"Ommo." Desah kaget namja yang menabraknya.
"Gwaenchanha?" Tanya namja berkulit kecoklatan itu pada Sehun.
"Gwaenchanha. Tapi seragamku basah." Jawab Sehun dingin sambil mengusap-usap jas seragamnya yang tak sengaja ketumpahan minuman yang dibawa namja disebelahnya.
Namja berkulit coklat yang menabrak Sehun segera mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam saku celana dan membantu Sehun membersihkan jasnya.
"Mian. Aku tak sengaja."
"Tak apa. Biar aku bersihkan sendiri." Sehun menampik halus tangan namja itu. Dan saat itu pandangan mata mereka bertemu. Sehun terpukau dengan namja berkulit coklat dihadapannya. Namja itu beberapa senti lebih pendek dari Sehun. Dan kulit coklatnya itu membuatnya terlihat manis. Namja itu memang bukan tipe yang cantik seperti Luhan atau menawan seperti Lay. Justru namja itu terkesan manly, tapi itu semua terlihat mempesona dimata Sehun.
"Maaf. Aku benar-benar tak sengaja."
"Tak apa."
"Oh ya. Naneun Kai imnida." Namja itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Oh Sehun imnida." Sehun tak mengindahkan tangan kai yang terulur dan membiarkannya tetap menggantung diudara. Itu memang kebiasaan Sehun saat memperkenalkan dirinya pada orang lain. Ia tak pernah menjabat tangan orang yang diajaknya berkenalan. Dan itu memang tak sopan.
Kai segera menarik tangannya yang terulur sia-sia. Ia memang sedikit kaget dengan sikap Sehun, tapi entah mengapa ia merasa mengerti dengan sikap dan ekspresi dingin namja tinggi itu.
"Namja bernama oh Sehun ini unik. Apa dia tak memiliki ekspresi lain selain ekspresi dingin yang mengerikan itu?" tanya kai dalam hati.
"Kim Jongin. Ayo pulang!" teriak wanita paruh baya yang berdiri dekat kasir.
"Eommaku sudah memanggil. Aku pergi dulu ya Hyung. Maaf soal seragammu yang kotor."
"Oh. Ne."
Sehun memandangi punggung Kai yang menghilang dibalik pintu. "Hyung? Memangnya aku lebih tua darinya?" Sehun heran dan bertanya dalam hati. "Kai. Kim Jongin. Nama yang bagus."
###
TeBeCe
###
buat yg pengen kontak aq:
fb: ulvia kyeopta shaxo
twitter ulviarahmawati
