EYAAAAAAAAAAAA...
ini chap 3'nya
happy reading...
WHIRLWIND
Chapter : 3
Hangatnya musim semi sudah sedikit tergantikan dengan panasnya matahari musim panas. Kai mengusap peluh yang meleleh didahinya. Ia merasa menyesal telah memutuskan untuk berjalan kaki sepulang sekolah menuju rumahnya. Seharusnya ia tadi naik bus saja. Kai sedikit menggerutu karena hari ini namja chingunya tak bisa menjemput.
Kai menghentikan petak langkahnya dan sekali lagi mengusap peluhnya. Ia menoleh pada toko alat tulis yang berada tepat disamping kanannya. Matanya sedikit membulat saat menangkap objek didalam toko itu.
"Namja itu." Mulutnya menggumam. Lalu tanpa sadar kakinya melangkah berniat memasuki toko. Kai membuka pintu kaca didepannya.
Namja tinggi berkulit putih dan memiliki dagu panjang itu menjadi objek utama mata Kai. Membuat Kai tanpa sadar terus melangkahkan kakinya mendekati namja itu. Namja itu Oh Sehun, orang yang ditabrak Kai dimini market bulan lalu. Kai sedikit berbelok ketika langkah kakinya sudah mendekati tempat Sehun berdiri. Ia mengamati gerak-gerik Sehun dari balik rak buku, tindakannya itu persis seperti penguntit.
Tangan Kai sembarangan mengambil buku yang ada paling dekat dengannya saat ia melihat Sehun membayar dikasir. Ia bergerak cepat mengikuti Sehun, tapi tetap berada dijarak yang pas. Tidak terlalu dekat atau terlalu jauh. Kai bahkan sembarangan mengeluarkan uang saat membayar sebuah buku yang tadi sembarangan ia ambil.
"Hai nak. Ini uang kembalianmu."
Kai tak peduli dengan teriakan pemilik toko. Matanya sibuk mencari keberadaan Sehun. Ia kehilangan jejak Sehun dan itu membuatnya panik. Panik? Kenapa Kai panik? Mungkin karena kai berfikir tidak selalu punya kesempatan untuk bertemu namja tadi.
Kai lelah dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia memilih jalan kecil menuju rumahnya. Jalan itu juga melewati sebuah taman yang penuh dengan pohon sakura. Kai mendongakkan kepalanya itu melihat pohon sakura yang beberapa minggu lalu dinaungi bunga-bunga yang bermekaran. Pohon itu masih menyisakan kesegaran musim semi.
Disalah satu sudut tampaklah seorang namja yang sedang asik mendudukkan bokongnya dibawah pohon sakura. "Aku menemukanmu." Kai tersenyum ceria melihat Sehun disana. Lalu ia bersembunyi dibalik pohon sakura beberapa meter jauhnya dari tempat Sehun. Ia terus bertahan diposisi itu untuk mengamati kegiatan Sehun.
Sehun menghentikan kegiatannya menulis catatan didalam buku agenda yang baru saja dibelinya. Ia merasa sedari tadi ada yang memperhatikan gerak-geriknya dari jauh. Firasat itu membuat Sehun menajamkan penglihatan. Ekor matanya menangkap sosok dibalik pohon sakura tak jauh dari tempatnya duduk. Sehun pura-pura tak memperhatikan dan kembali menulis. Tapi ekor matanya masih melirik kearah orang yang memperhatikannya itu.
Sehun mengambil tindakan ketika sosok yang menguntitnya sedikit lengah. Ia berjalan cepat dan tiba-tiba berdiri di belakang namja penguntit itu. Sedangkan Kai yang belum sadar Sehun sudah ada dibelakangnya justru celingak-celinguk mencari namja itu.
"Apa yang kau cari Kai?" tanya Sehun tepat dibelakang kepala Kai.
"Ne?" Kai yang sangat tekejut reflek memutar badannya. Pergerakan itu justru membuatnya menubruk tubuh Sehun yang berada sangat dekat dengannya.
Sehun juga sedikit terkejut hingga buku agenda dalam genggamannya terlepas.
"Oh Sehun Hyung?" mata Kai membulat sempurna. Lalu ia buru-buru memungut buku agenda Sehun yang terjatuh. Ia sangat merasa bersalah karena lagi-lagi ia menabrak Sehun. Kai berjongkok sedikit lama hanya untuk mengambil agenda itu. Itu membuat Sehun penasaran.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ah tidak. Ini bukumu. Maaf aku menabrakmu lagi."
Kai tersenyum manis dan mengembalikan buku Sehun.
"Kau menguntitku?"
"Iya…Eh Aniyo. Em maksudku…itu…" kai menggaruk leher belakangnya gugup. Ia tertangkap basah. Sehun mengangkat alisnya melihat tingkah laku Kai. Kai sungguh sangat menggemaskan dimata Sehun. Membuat Sehun tersenyum kecil, hal yang sangat jarang ia lakukan.
"Jangan panggil aku Hyung."
"Ne?"
"Sepertinya aku tidak lebih tua darimu."
"Ne? memangnya kau kelas berapa?"
"Kelas dua."
"Oooh…..aku kira….."
"Mungkin karena aku lebih tinggi darimu. Jadi kau menganggap aku lebih tua."
"Hehehe…..sebenarnya begitu." Kai nyengir. Mulai memberanikan diri melihat raut wajah Sehun.
"Wajahku lebih imut darimu."
Kalimat Sehun barusan membuat Kai segera mengalihkan pandangannya.
"Eh…iya memang." Kai gugup lagi. "Sehun-ssi, kenapa….kau….em…..selalu berekspresi dingin seperti itu?"
"Ne?"
"Ah aniyo. Lupakan. Mian aku mengganggumu. Sampai jumpa lagi." Kai langsung berlari menuju jalan setapak. Ia merasa bodoh telah bertanya seperti itu pada Sehun.
'Dasar Kai phabo.' Rutuknya.
Sehun melongo melihat Kai yang berlari meninggalkannya. Tapi diam-diam ia tersenyum. Entah bagaimana sosok Kai begitu mempesona dimatanya. Kai yang lucu. Kai yang malu-malu. Kai yang manis dengan kulit coklatnya. Warna kulit yang jarang dimiliki oleh orang Korea kebanyakan.
"Kenapa detak jantungku begitu kencang?" Sehun memegangi dada kirinya. Lalu menghirup udara sebanyak mungkin untuk menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh itu.
"Sepertinya aku jatuh cinta dengan namja itu."
###
Malam sudah merangkak naik sejak beberapa jam yang lalu. Kembali membuat kota Seoul dipenuhi warna gelap. Kai masih menyalakan lampu belajarnya walau ia sudah selesai mengerjakan PRnya beberapa menit yang lalu. Kai sekarang beralih pada buku agenda coklat didepannya. Ia tersenyum misterius. Ia lalu membawa agenda ke spring bed empuknya, mematikan lampu belajar dan menyalakan lampu utama.
Kai mulai membuka lembar demi lembar agenda coklat itu. Alisnya sedikit berkerut saat ia tak menemukan goresan tinta sedikitpun didalamnya.
"Aku yakin tadi dia menuliskan sesuatu disini?" ia bergumam sendiri.
Ditempat lain diwaktu yang sama, Sehun membolak-balikkan buku agenda barunya dengan gusar. Ia bingung kenapa buku agendanya masih kosong melompong tanpa ada tulisan sedikitpun. Sehun sangat yakin tadi saat ditaman ia sudah menulis agenda coklat itu dengan beberapa kalimat perkenalan.
Iya, itu adalah kebiasaan Sehun. Tiap kali ia membeli buku agenda baru, pasti ia langsung menulis kalimat perkenalan dihalaman terkahir buku agendanya. Sehun yakin seyakin-yakinnya tak melewatkan hal satu itu. Otaknya terus berputar untuk meemukan kejanggalan apa yang terlupakan olehnya.
"Ya Tuhan, namja itu." Sehun menepuk jidatnya ketika sudah menemukan jawaban atas agenda barunya.
###
Oh Sehun imnida.
Aku kelas 2 di Exo High School. Satu sekolah dengan hyungku. Sekolah dimana aku dikucilkan. Tak jauh beda dengan keadaanku dirumah. Hanya saja disana lebih menyenangkan karena kau bisa bertemu banyak orang walau tetap tak bisa berteman.
Aku lahir tanggal 12 April 1994, yah aku baru saja merayakan ulang tahunku bulan lalu. Tentu saja aku merayakannya hanya dengan eomma dan hyungku. Tidak mungkin anggota keluarga yang lain mau merayakannya. Mereka selalu menyebutku anak haram. Aku tak menampik hal itu.
Aku tak memiliki teman. Karena dari kecil cap anak haram selalu menempel pada diriku. Mungkin ada tulisan dikepalaku hingga mereka semua mengetahuinya. Julukan itu hilang saat aku masuk Exo High School. Aku tak tahu mereka benar-benar tak mengetahuinya atau memang pura-pura tak tahu. Tapi aku sudah tak mau peduli. Aku sudah tak memiliki keinginan untuk berteman dengan siapapun. Aku tak membutuhkannya jika itu hanya akan berakhir penghinaan.
(0812041994)
Kai menyalin nomor ponsel yang tertera dipojok bawah, menyimpannya dalam phone book ponselnya. Ia merasa puas dengan tindakannya sendiri. Tak sia-sia ia menukar agenda milik Sehun dengan agenda miliknya.
Iya, saat Kai tak sengaja menabrak Sehun ditaman dan membuat agenda Sehun terjatuh, ia berniat segera mengambilkan agenda itu dan meyerahkannya pada Sehun. Tapi saat ia berjongkok meraih agenda coklat itu, ia sadar bahwa agenda miliknya ternyata sama persis dengan milik Sehun. Padahal ia tak sengaja menyambar sembarangan agenda itu saat ditoko alat tulis. Dan Kai yakin Sehun membelinya ditoko yang sama.
Mengetahui bahwa Sehun telah menuliskan sesuatu didalam agenda itu, otak jail Kai kambuh. Lalu ia menukar agendanya. Ia menyerahkan agenda miliknya yang masih kosong kepada Sehun. Dan Sehun tak menyadarinya. Kai yakin agenda itu akan sangat berguna. Setidaknya dengan agenda yang sengaja ia tukar ini, ia akan punya alasan untuk bertemu Sehun lagi. Apalagi sekarang Kai sudah memiliki nomor ponsel Sehun.
"Kim Jongin memang cerdas." Kai mendekap erat agenda coklat milik Sehun sebelum sang mimpi menjemputnya. Meninggalkan lampu kamar yang masih menyala.
###
Sehun menatap ponselnya yang dari tadi terus bergetar. Ia baru selesai rapat OSIS beberapa saat yang lalu. Dan saat ini ia sangat lelah menanggapi seseorang yang menelfonnya sedari tadi. Nomor tak dikenal itu sudah berusaha menelfon Sehun hingga 5 kali panggilan tanpa ada satupun yang diangkatnya.
Sehun berdecak marah karena merasa terganggu. Dengan sangat berat hati ia mengangkat telfon itu.
"Yeobosaeyo.'
"…"
"Yeobosaeyo." Ulangnya karena orang diseberang sana tak kunjung menjawab.
"Sehun-ssi."
"Nugusaeyo?"
"Kai."
Sehun terkejut dan menjauhkan ponselnya. Ia menatap deretan angka yang tertera disana. Kai? Bagaimana ia bisa mendapat nomor ponselku?" tanyanya dalam hati.
"Sehun-ah. Eh aku boleh memanggilmu seperti itukan?"
"Eh ya. Tentu saja." Baru kali ini Sehun gugup.
"Eodiseo?"
"Masih disekolah. Bagaimana kau mengetahui nomor ponselku?"
"Seharusnya kau tak perlu menanyakan itu Oh Sehun. Kau pasti sudah mengetahui jawabannya."
Sehun teringat pertemuannya dengan kai beberapa minggu yang lalu ditaman. Dan fikirannya langsung tertuju pada agenda coklatnya.
"Ah ne. kau menukar buku agendaku kan? Kembalikan milikku."
"Tentu saja. Aku berniat mengembalikannya. Tapi jemput aku disekolah, Ne?"
"Mwo? tapi aku tak tahu sekolahmu."
"Ya, Sehun-ah. Apa kau phabo?. Kau pernah melihatku memakai seragam sekolah."
Klik. Sambungan terputus. Sehun cengo ditempatnya. Ia mengaduk isi otaknya. Mengingat sragam apa yang dipakai Kai. Ia tak perlu berfikir lama karena sebenarnya Sehun sangat mengenal seragam itu. Seragam Kai sama dengan seragam milik Lay. Pasti SM High School.
Sehun mengendarai Sedan hitam milik ibunya membelah jalanan kota Seoul. Hari ini ia memang tidak membawa Ferrari merahnya. Tadi saat berangkat Luhan dan Sehun menggunakan mobil yang berbeda. Itu dikarenakan mereka tak mau repot dengan jam pulang mereka yang berbeda. Sehun harus pulang terlambat karena ia harus rapat OSIS terlebih dahulu.
Sebenarnya Ferrari merah yang sering ia gunakan itu adalah milik Luhan. Ayahnya memberikannya sebagai hadiah ulang tahun Luhan tahun lalu. Tapi Luhan menyuruh Sehun untuk mengakui Ferrari itu miliknya juga. Jadilah Ferrari itu milik mereka berdua. Walau sebenarnya pemilik sahnya adalah Luhan.
SM High School
Digerbang depan sekolah, Kai menjulur-julurkan kepalanya untuk menengok jalanan. Menunggu namja yang sangat ingin ia temui. Ia menunggu dengan tak sabar.
"Kai." Dari belakang Lay menepuk pelan bahu Kai.
"Ah Hyung." Kai sedikit terkejut dengan kedatangan sunbaenya itu.
"Bukankah dia takkan menjemputmu hari ini?"
"Memang tidak." Kai nyengir lebar. Sedetik kemudian perhatiannya teralih dengan sms yang masuk. Dari Oh Sehun yang memberitahukan nomor plat mobilnya. Maksudnya agar Kai tahu mobil yang dipakai Sehun.
"Aku dijemput temanku hari ini." Katanya kemudian.
Sedan hitam berhenti tepat beberapa meter dari tempat Kai dan Lay berdiri. Kai segera melambai pada orang didalam sedan itu sebagai isyarat bahwa ia tahu sedan itu milik Sehun.
"Hyung aku pergi dulu ya. Itu aku sudah dijemput." Kai berlari dan masuk kedalam sedan dengan semangat.
"Bukankah itu mobil bibi Oh?" Tanya Lay dalam hati.
"Tadi pagi mobil itu dipakai Sehun. Jadi, apa tadi itu Sehun?" Lay mengedikkan bahunya.
###
Sehun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik Kai yang duduk disebelahnya.
"Gangnam-gu." Ucap Kai.
"Em?"
"Rumahku di gangnam-gu."
"Kau mengatakan itu seolah aku ini sopirmu."
"Aku tidak menganggapmu begitu." Kai menatap keluar jendela.
"Kenapa kau mengambil agendaku?"
"Hanya iseng."
"Kau sering melakukannya?"
"Tidak. Eh apa maksudmu?"
Sehun tak menjawab. Terus konsentrasi pada jalanan didepanya.
"Apa kau hanya memiliki 1 ekspresi?" Tanya Kai.
"Apa maksudmu?"
"Kau sangat dingin."
Mobil Sehun mulai memasuki gangnam-gu. Kai menyebutkan alamat rumahnya dan Sehun mengemudikan sedan itu ke rumah Kai. Agenda milik Sehun ada dikamar Kai sehingga Kai harus mengambilnya dan mengembalikannya pada Sehun.
"Sudah sampai. Tunggu disini, aku akan mengambilkannya." Perintah Kai pada Sehun. Sehun hanya mengangguk dan mengamati Kai. Lalu pandangannya menelisik bangunan rumah milik Kai. Rumah itu tak kalah mewah dengan rumah Sehun. Banyak kesamaan model bangunannya. Kai tak tahu bahwa sebenarnya Sehun juga tinggal di gangnam-gu. Hanya saja memang jaraknya lumayan jauh karena rumah Kai ada diujung sedangkan rumah Sehun ada diujung lainnya.
"Ini." Kai melongokkan kepalanya dari jendela mobil tanpa membuka pintunya. Sehun akan meraih agendanya tapi Kai menariknya kembali.
"Mana milikku?"
"Aku meninggalkannya dirumah." Jawab Sehun.
"Mana bisa seperti itu, kau harus mengembalikan punyaku juga."
"Aku akan mengembalikannya besok."
"Kalau kau mengembalikan agendaku besok, aku juga akan mengembalikan punyamu besok." Kai langsung berlari masuk kedalam rumah tak mempedulikan teriakan Sehun dibelakangnya.
"Yak Kai. Kau tak bisa melakukan ini padaku !" Sehun mengacak rambutnya sendiri karena kesal. Ia tak habis fikir dengan sikap Kai. Kenapa ada namja menyebalkan seperti Kim Jongin itu.
Sehun mulai menyalakan mesin dan mulai meninggalkan rumah Kai. Sayang ia tak memperhatikan bahwa ada mobil lain yang masuk ke halaman rumah Kai sesaat setelah ia keluar dari sana. Andai saja ia tahu. Ia pasti akan tahu siapa Kai sebenarnya.
###
TeBeCe
###
Garing ya? Pasti kalian sudah tau Kai itu siapa. Sebenarnya aku pengen buat FF ini hanya jadi beberapa chapter. Tapi keknya ini bakal molor lagi kek FF "Last Tears in the Last Spring." Targetku Cuma 6 chapter. Semoga gak lebih panjang dari itu.
oh ya, mian klo aq gak bisa bales review kalian satu2
yg mau kontak aq
fb : Ulvia Kyeopta Shaxo
twitter: ulviarahmawati
