HELLO, Vie balik lagi...
oke, gak banyak cuap2 deh
Happy Reading...
WHIRLWIND
Chapter 4
Kau begitu indah. Terlukis rapi dibenakku tanpa ada cacat yang menodaimu. Satu warna yang kau bawa, cukup membuat warna lain tak terlihat olehku. Kau seperti angin yang menghembuskan segala ketakutan yang akhir-akhir ini menggangguku. Tapi sepertinya waktu tak berpihak pada kita. Kita bertemu pada keadaan yang salah.
###
Terik cahaya mentari pagi sedikit terhalang pepohonan yang sedikit rimbun ditaman itu. Sehun menendang-nendang kaleng bekas minumannya dengan kasar. Hari minggu adalah hari yang paling dibencinya. Karena ia tak bisa pergi ke sekolah dan terpaksa harus mencari kegiatan lain. Berdiam diri dirumah tentu tidak akan menjadi pilihannya. Anggota keluarganya pasti akan berkumpul dirumah dan itu adalah hal yang paling dibenci Sehun.
Kai menangkap kaleng dengan kakinya saat tak sengaja kaleng itu tertendang kearahnya. Ia memungut kaleng itu dan melemparkannya ke tempat sampah. "Kau bisa dimarahi penjaga taman jika ketahuan menendang-nendang kaleng seperti itu." Ucapnya kearah Sehun.
"Kenapa kau lama sekali huh?" rutuk Sehun pada Kai.
"Kau saja yang tak sabaran. Akukan hanya telat sepuluh menit." kai manyun. "Duduk sini." Kai menepuk pelan bangku taman, mengajak Sehun untuk duduk disebelahnya. Dengan ekspresi dingin yang masih sama, Sehun duduk disebeleah kiri Kai. Kai tak tahu dibalik ekspresi dingin Sehun tersimpan banyak emosi didalamnya. Bahkan saat ini detak jantung Sehun sangat tak beraturan.
Kai menggoyang-goyangkan kakinya dan kepalanya sibuk menengok kesana kemari." Taman ini bagus ya. Kau sering kemari?"
Sehun menoleh kearah Kai. Menelisik setiap inci wajah Kai. Menyelami setiap ekspresi yang tergambar disana. Kai menyadari sepasang mata yang memperhatikannya. Lalu ia menoleh dan matanya bertemu pandang dengan mata sipit Sehun. Sehun mengalihkan pandangan matanya pada rumpun mawar didepannya. Ia tersenyum tipis lalu ikut menggoyang-goyangkan kaki panjangnya meniru Kai.
"Kau tampan saat tersenyum seperti itu Oh Sehun."
"Banyak yang bilang aku tampan." Sahut Sehun PD.
Kai mencibir mendengar tanggapan Sehun."Ayo kita berteman!" Kai menyentuh tangan kanan Sehun.
Sehun menoleh dan mendapati senyum lebar Kai serta mata yang berbinar. Tersirat ketulusan dimata itu. Sehun menganggukan kepalanya. Lalu Kai menyodorkan jari kelingkingnya didepan muka Sehun. Sehun menyambutnya dan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Kai. Warna kulit Sehun begitu kontras dengan warna kulit Kai yang coklat. Tapi mereka tak mempedulikannya. Mereka menyambut pertemanan itu dengan senyum yang menghias bibir masing-masing.
Sehun merasakan sesuatu yang begitu asing. Sebuah rasa bahagia yang belum pernah ia dapat sebelumnya. Ada berjuta warna asing yang ikut singgah dalam hatinya. Hingga membuat perutnya bergejolak seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan didalamnya.
"Kau membawa agendaku?" Tanya Sehun disela penguasaan emosinya.
"Tidak." Jawab Kai enteng.
"Ne? aku menyuruhmu kemari untuk menagih buku agenda yang kau bawa."
"Aku tidak akan mengembalikannya."
"Mwo?"
###
Pertengahan Desember
Sehun terus merapatkan mantel tebalnya. Menaikkan syal hingga menutupi mulutnya. Ia sangat kedinginan tapi namja disampingnya terus menarik lengannya dengan semangat.
"Ayolah cepat sedikit oh Sehun!" Kai menarik lengan Sehun dengan tak sabar.
"Kau tidak lihat aku kedinginan? Sebenarnya kau mau mengajakku kemana?" Sehun kesal dengan Kai yang menariknya dengan paksa.
Kai selalu seperti itu. Sangat hiperaktif hingga Sehun kewalahan dibuatnya. Memang awalnya Sehun tak terbiasa. Tapi sekarang sifat Kai yang seperti itulah yang membuat Sehun selalu merindukannya. Kai mewarnai kehidupan Sehun beberapa bulan terakhir. Eomma Sehun bahkan sudah menangkap kejanggalan yang terjadi pada putranya.
Sikap Sehun banyak berubah semenjak bertemu dengan Kai. Sekarang Sehun sudah bisa tersenyum dengan tulus. Ekspresi dinginnya sudah jarang terlihat. Sehun juga mulai banyak bicara dengan Luhan. Bahkan terkadang ia juga membuka percakapan dengan Lay. Eomma Sehun sangat senang melihat pancaran kebahagiaan pada diri Sehun. Akan tetapi Sehun masih tutup mulut tentang kedekatannya dengan tak cerita pada siapapun termasuk pada eommanya.
"Sudah sampai." Kai tersenyum lebar kearah Sehun.
"Ice skating?" Tanya Sehun menunjuk bangunan didepannya dengan lampu warna-warni bertuliskan "Ice Skating" dibagian depan.
"E'em. Ayo main!" Kai menarik tangan Sehun kembali.
Kai memakaikan sepatu skat dikaki Sehun dengan paksa. Sehun sendiri sudah berhenti memberontak. Ia biarkan namja berkulit tan itu melakukan apapun sesuka hatinya. Sehun putuskan untuk memenuhi keinginan Kai. Tak akan ada masalah jika malam ini ia bersenang-senang.
Sehun dan Kai menikmati permainan mereka. Kai sibuk menari-nari diatas es dan menampilkan ekspresi-ekspresi lucu pada Sehun. Beberapa kali Kai hampir terjatuh tergelincir karena terlalu aktif. Hal itu membuat Sehun tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan Kai. Beberapa yeoja yang ada disekitar mereka tekadang melirik iri pada Sekai. Bahkan ada juga yeoja yang tanpa sadar bergumam sendiri memuji ketampanan Sehun maupun Kai. Andai saja Sekai tidak terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Pasti yeoja-yeoja itu sudah pdkt pada mereka.
Seketika otak jail Sehun menyentilkan sedikit idenya. Sehun ingin sedikit mempermainkan Kai. Ia mendekati salah satu yeoja cantik bermata bulat didekatnya.
"Jogiyeo." Yeoja itu menoleh mendengar sapaan Sehun.
"Ah. Naega?" ia menunjuk dirinya sendiri sambil menatap Sehun bingung.
"Ne. neomu yaepeo. Siapa namamu? Nan Sehun imnida."
"Ah Sehun oppa. Nan wendy imnida."
Lalu Sehun terlihat melontarkan lelucon yang membuat gadis bernama wendy itu tertawa disampingnya.
Melihat itu Kai sangat ingin menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Tapi ia tak mungkin melakukannya diatas es. Ia hanya bisa mempoutkan bibirnya dan berbalik kearah berlawanan dari tempat Sehun. Sehun senang bisa melihat Kai kesal seperti itu. Segera Sehun menghentikan basa-basinya dengan wendy. Ia menggerakkan kaki panjangnya menghampiri Kai. Kai sendiri tak tahu Sehun sudah ada dibelakangnya.
Pukk…..
Tepukan tangan Sehun berhasil mendarat dipantat seksi Kai. Tentu saja Kai terkejut dengan sentuhan didaerah terlarangnya. Ia jatuh terduduk karena kehilangan keseimbangan. Melihat posisi jatuh Kai yang sangat tidak elit itu melihat Sehun tertawa terbahak-bahak.
"Bwahahaha…phabo." Sehun tertawa dengan evilnya.
"Yak…oh Sehun." Wajah Kai sudah semerah kepiting rebus saat itu. Bukan hanya karena scene jatuhnya, tapi juga karena ia sadar bokongnya sudah ternodai dengan sentuhan tangan Sehun.
Malam bersalju itu diakhiri oleh kejar mengejar Sekai. Canda tawa mereka memenuhi suasana malam yang dingin. Menyisakan kenangan yang akan terpatri dihati mereka.
###
Masih dipertengahan Desember yang membeku. Beberapa hari menjelang natal. Keluarga Oh sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk natal bulan ini. Tentu tanpa melihatkan Sehun didalamnya. Sehun hanya memperhatikan kesibukan yang terjadi diruang keluarga. Ia stay dilantai dua dan memperhatikannya dari sana.
Kakek neneknya sangat membanggakan Luhan dan menyayangi Lay. Ayahnya terlihat bercanda dengan Luhan. Ibunya bersama bibinya tak terlihat, mungkin mereka sedang sibuk membuat kue. Paman Zang belum pulang masih berkutat dengan bisnisnya. Tak beberapa lama ia melihat Luhan berpamitan dan beberapa menit kemudian ia mendengar suara mobil Luhan dinyalakan. Sepertinya kakaknya itu ada acara dengan kekasihnya.
Sehun memutuskan untuk pergi kekamarnya. Tak ada gunanya ia berdiri seperti orang bodoh disana. Sehun ingin mengirim pesan atau menelfon Kai malam ini. Suasana kamarnya yang nyaman membawa kedamaian tersendiri baginya. Sehun mengutak-atik hpnya dan mengetikkan beberapa kalimat.
"Hai susu coklat sedang apa kau?"
Sehun memang menyebut Kai "susu coklat" karena ia pikir Kai itu cukup manis walau warna kulitnya sedikit gelap. Setelah menunggu beberapa menit tak ada balasan dari Kai, Sehun sedikit kecewa. Biasanya Kai langsung membalas setiap pesan yang dikirim Sehun.
"Apa aku menelfonnya saja?" Tanya Sehun lebih kepada dirinya sendiri.
Tut…..tut….tut…
Kai tak mengangkat panggilan dari Sehun. Sehun mengulanginya sekali lagi. Tapi kali ini malah Kai menolak panggilannya. Sehun menatap layar ponselnya nanar. Kai tak pernah melakukan ini sebelumnya. Sebenarnya ada apa?
Sehun tergeragap dari lamunanya ketika ia mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Lalu diikuti kepala Lay yang menyembul dari baliknya.
"Oh Sehun. Kenapa kau tak bergabung di lantai bawah?" Tanya Lay.
"Kau tahu mereka tak menginginkanku." Jawabnya dingin.
"Cobalah turun. Mungkin kali ini akan berbeda."
"Dulu aku sering mencobanya. Dan hasilnya tetap sama. Sekarang aku sudah berhenti mencoba."
Lay hanya mendengus pelan. Ia tak bisa memaksa Sehun. Jika ia ada diposisi Sehun ia juga pasti sudah menyerah untuk bertahan dikeluarga ini.
"OK. Panggil aku jika kau ingin aku menemanimu." Lay menutup kembali pintu kamar Sehun.
Sekitar jam setengah satu malam, Sehun mendengar suara mobil Luhan memasuki gerbang. Sehun memaksakan matanya untuk terbuka dan mengabaikan rasa kantuknya. Ia menyalakan lampu kamarnya dengan terhuyung-huyung lalu berjalan menuju jendela lebar yang menghadap halaman depan. Sehun sedikit menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas apakah mobil barusan benar mobil Luhan. Benar saja, ia melihat Luhan keluar dari garasi dan sedang berjalan menuju pintu depan.
"Kenapa Luhan Hyung baru pulang?" gumam Sehun . "Ah sudahlah kenapa aku harus peduli?"
Sehun mengucek matanya pelan lalu melangkah mendekati tombol lampu. Ia akan mematikan lampu kamarnya lagi dan tidur. Tapi belum sampai tangannya menyentuh tombol lampu, terdengarlah ketukan pelan di pintu kamarnya.
"Sehunnie." Terdengar panggilan Luhan yang sangat pelan. Sehun kira ia salah dengar karena suara Luhan barusan terdengar pelan dan lemah. Maka Sehun tetap mematikan lampu kamarnya. Detik berikutnya ia sudah berbaring di spring bed empuknya bersiap tidur.
"Sehunnie." Terdengar panggilan lagi masih dengan suara pelan.
"Hyung?" sehun balik memanggil menggunakan nada Tanya .
"Ini aku. Bisa kau buka pintunya?"
Sebenarnya Sehun ingin tidak peduli karena pada dasarnya ia tak menyukai Luhan. Tapi hati kecilnya tetap berkata lain. Jauh dibalik lubuk hatinya, ia sangat menyayangi Luhan. Dengan berat Sehun menyeret kakinya menuju pintu. Sebelumnya ia menekan tombol lampu telebih dahulu. Kembali membuat kamarnya terang benderang.
Sehun memutar kunci dan membuka pintunya sedikit.
"Waeyo?" tanyanya pada Luhan yang berdiri didepan pintunya.
"Biarkan aku masuk. Jebal."
Sehun tak tega melihat Luhan memohon padanya. Jadi, ia mengijinkan Luhan masuk kekamarnya. Lalu ia mengunci pintunya kembali. Luhan duduk diranjang Sehun dengan kepala tertunduk. Sehun hanya menatap Hyungnya itu sambil bertanya-tanya dalam hatinya."Ada apa dengan Luhan hyung?"
Diam cukup lama. Sehun tak ingin bertanya lebih dulu. Ia membiarkan Luhan yang memulainya.
"Nae namjachingu." Akhirnya Luhan mulai bicara. Tapi hanya sebatas itu. Sehun memutar bola matanya, tak sabar menungggu kalimat yang akan keluar dari mulut Luhan selanjutnya.
"Ia memutuskanku."
Sehun tetap bungkam. Tidak menanggapi Luhan. Luhan sering bercerita kepada Sehun. Luhan menceritakan apapun yang terjadi dalam hidupnya pada Sehun. Termasuk tentang namja chingunya. Walaupun tak pernah Sehun menanggapi semua cerita Luhan, Luhan tetap bercerita. Itu membuat Sehun mengetahui hampir semua masalah yang terjadi pada diri Luhan.
"Waeyo?" kata tanya itu meluncur begitu saja dari mulut Sehun. Luhan mendongak untuk memastikan bahwa Sehun memang sedang bertanya padanya. Ini kali pertama Sehun mau menanggapi Luhan.
"Waeyo hyung?" Sehun bertanya lagi.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja ia meminta putus dariku."
"Apa kau membuat kesalahan?"
"Kurasa tidak."
"Kau yakin?"
"Aku tadi sudah bertanya padanya apa kesalahanku hingga ingin putus. Tapi ia berkata aku tak memiliki kesalahan apapun. Kesalahan ada pada dirinya. Itu membuatnya tak bisa terus bersamaku. Dia terus menangis dan memohon padaku. Aku bingung harus bagaimana."
"Jadi kau menyutujuinya?"
"Aku bingung Sehun-ah. Aku tak tega ia menangis seperti itu, jadi aku menganggukkan kepalaku tanpa menyadarinya."
"Kenapa kau tak meminta penjelasannya?"
"Aku sudah meminta penjelasan tapi ia bilang tak bisa menjelaskannya."
"Phabo. Neo. Phabo hyung. Kau terlalu baik. Makanya kau diperlakukan seperti ini."
Luhan menatap Sehun dengan mata berkaca-kaca. Mungkin benar ia terlalu baik. Bukan, ia terlalu bodoh. Tapi Luhan memang hanya bersikap baik pada siapapun. Ia tak pernah tega melihat orang lain menangis dihadapannya. Itu adalah kelemahannya. Jika seperti itu, Luhan akan lebih memilih menyakiti dirinya sendiri dari pada tetap membiarkan orang lain menangis.
Sehun memeluk Luhan yang mulai menitikkan air mata. Seketika itu ego dalam dirinya runtuh. Ego seorang Oh Sehun yang selama ini membentuk sikap acuh kepada siapapun termasuk Luhan kini runtuh. Hanya karena satu tetes air mata yang keluar dari mata sipit Luhan.
Tak heran jika itu mampu mengoyak ego Sehun. Ini kali pertama Luhan menangis. Selama bertahun-tahun Luhan tak pernah membiarkan air matanya jatuh. Luhan ingin menjadi kuat untuk orang-orang yang disayanginya. Itu sebabnya ia tak pernah menangis. Tapi malam ini air matanya jatuh untuk cinta pertamanya. Cinta pertama yang memutuskan untuk meninggalkannya.
###
"Sehun-ah." Panggil Kai pelan.
"Em." Sehun yang ada disampingnya hanya menyahut pelan.
"Oh Sehun."
"Ne."
"Kau tak menagih buku agendamu?"
Sehun teringat agenda coklat yang menjadi awal kedekatannya dengan Kai."Aniyo. jikapun aku memintanya, kau pasti tak mau mengembalikannya."
Kai memilih memandang Sehun. Melihat wajah tampan Sehun dari samping. "Aku akan mengembalikannya sebentar lagi."
"Jjinjayo?" Tanya Sehun pada Kai yang kini sedang menerawang manatap langit malam.
"Em. Aku pasti akan mengembalikannya. Tapi tidak sekarang." Kai menggosok-gosok telapak tangannya yang kedinginan. Sehun meraihnya dan memasukkan tangan kiri Kai kedalam saku mantelnya, menggenggamnya erat didalam sana.
"Masukkan tangan kananmu kedalam saku mantelmu jika kau kedinginan." Perintah Sehun.
Kai menurutinya dan memasukkan tangan kanannya yang menganggur kedalam saku mantelnya. Sedangkan ia merasakan tangan kirinya sedang diremas oleh Sehun didalam saku mantel milik namja tinggi itu.
Hening cukup lama, kai dan Sehun terdiam menikmati dinginnya angin malam yang berhembus dimusim dingin itu. 1 hari menjelang tahun baru itu mereka habiskan untuk bersama. Karena di malam tahun baru nanti mereka harus berkumpul dengan keluarga masing-masing. Hal yang paling dibenci Sehun tentunya.
Kehangatan dari tangan Sehun terus mengalir ketubuh Kai. Perutnya terus bergejolak dan jantungnya berdetak sangat cepat. Tapi ia menikmati semua sensasi yang muncul. Begitupun dengan Sehun. Sehun menikmati aliran aneh yang merasuk dalam tubuhnya. Detak jantungnya juga tak beraturan.
"Apa selamanya kita bisa berteman?" Tanya Kai. Ia menatap wajah Sehun disampingnya.
"Teman?" Sehun sedikit tak terima dengan status itu. Ia menatap mata Kai. Berharap Kai mengoreksi kalimatnya.
"Em chingu. Apa kau mau terus menjadi temanku?" Tanya Kai yakin.
"Shireo." Penolakan Sehun membuat Kai membulatkan matanya.
"Wae?" Tanya Kai.
Sehun diam. Ia menarik nafas beberapa kali dan berkata dengan cepat. "Karena aku mencintaimu."
"Ne?" Kai terkejut dan menarik tangannya dari saku Sehun. Kai menyadari perasaannya kepada Sehun. Tapi ia tak menyangka Sehun memiliki perasaan yang sama.
"Saranghae." Sehun mengatakannya dengan sangat jelas.
Kai menatap matanya sejenak. Mencoba menenangkan debar jantungnya. " Nado saranghae oh Sehun. Hajiman…."
"Jadi ini alasanmu memutuskanku Kai?" dari balik pohon sakura ditaman itu, munculah namja yang beberapa hari lalu masih menjadi kekasih Kai.
"Apa ini alasanmu?" namja itu menuntut.
"Hyung…hyung?" panggil Sehun terbata, Kai menoleh menatap Sehun.
"Oh Sehun. Apa dia alasanmu Kai? Tanya Luhan masih terus mendesak Kai. Tangan kirinya menunjuk Sehun.
"Bu….bukan begitu." Kai gugup mendapati kedatangan Luhan yang tiba-tiba.
"Jadi apa rasa cintamu padaku sudah habis dan sekarang kau memberikan cintamu itu pada adikku?" Luhan terus bertanya sambil menekan suaranya yang mulai bergetar.
"Mwo? Adikmu?" mata Kai membulat sempurna. Sedangkan Sehun hanya terpaku di tempatnya.
###
TeBeCe
oh y, jngn jadi silent reader ya
yg mau kontak aq
fb : Ulvia Kyeopta Shaxo
twitter : ulviarahmawati
