hello nae comeback

cepet ya? hehe iya soalnya nih ff sebenernya udah jadi. tinggal update aja

aq takut besok2 gk ada waktu, jadi aq buru2 update

oh y, mian yg review'nya gk ke bales

Happy reading...

WhirlWind

Chapter 5

Cinta. Aku mengenalnya tanpa maksud melukaimu. Ia datang dengan sendirinya dan mengenalkanku apa itu bahagia. Tapi sayangnya aku telah tumbuh bersama egoku. Hingga aku menjadikan cinta itu sebagai alat untuk melukaimu. Maafkan aku. Jeongmal Mianhada.

###

"Hyung. Luhan hyung. Dengarkan aku dulu, jebal" Kai mengejar Luhan yang bergerak menjauh. Ia berusaha menahan kepergian Luhan dengan mencekal pergelangan tangannya.

"Tak perlu kau jelaskan Kai. Aku sudah mendengarnya dan aku mengerti." Luhan berusaha melepaskan genggaman tangan Kai.

"Ani. Aniyo. Kau tak mengerti. Bukan ini alasanku memutuskanku." Kai menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil terus meyakinkan Luhan.

"Lalu apa?"

"Aku….." Kai tak bisa meneruskan kalimatnya. "Aku….."

"Kau…..kenapa? kau mencintai Sehun?'

"Aku memang mencintai Sehun. Tapi…."

"Kau mencintai Sehun. Itu sudah jelas Kai. Arasseo." Luhan berlari pergi meninggalkan Kai. Ia tak bisa terlalu lama lagi berada disana. Luhan menangis sambil berlari menghampiri mobilnya. Dengan kasar ia menghapus air mata yang mengalir dipipi mulusnya. Tidak, ia tak boleh menangis.

"Kenapa kau tak bilang jika Luhan itu hyungmu?" Kai menghampiri Sehun yang mematung dengan pikiran campur aduk sedari tadi.

"Seharusnya kau yang bilang bahwa kau sudah punya namja chingu." Sehun membalasnya dengan nada dingin yang menusuk.

"Aku hanya bermaksud berteman denganmu. Jadi aku tak perlu memberi tahumu jika aku punya kekasih." Kai kini menunduk.

"Dan kau membiarkan cinta kita tumbuh begitu saja?" kai mendongak takut-takut mendengar pertanyaan yang Sehun lontarkan.

"Jika aku tahu kau sudah punya namja chingu dan itu adalah Luhan hyung, pasti aku tidak akan bertindak sejauh ini." Sehun menohok Kai dengan tatapan mautnya.

"Kau tahukan betapa aku sangat membenci Luhan hyung? Kau tahu banyak tentang aku dan keluargaku karena aku sering menceritakannya padamu. Dan akhir-akhir ini aku mendengarkan nasehatmu untuk berbaikan dengan hyungku. Aku mendengarkan nasehatmu Kai. Bahkan aku sudah bisa sedikit membuka hatiku untuk menerimanya. Tapi sekarang kau justru membuatku semakin membencinya. Aku benci karena kami mencintai orang yang sama."

"Seharusnya kau bilang padaku jika hyungmu adalah Luhan. Kenapa selama ini kau tak menyebutkan namanya saat menceritakannya padaku." Kai berusaha memotong kalimat panjang Sehun. Mata Kai kini sudah digenangi air mata yang hampir tumpah. Sejujurnya ia merasa bersalah.

"Jadi sekarang kau menyalahkanku Kai? Arasseo. Memang aku yang salah. Aku yang salah tidak memberi tahumu siapa hyungku. Apa sekarang kau puas?" Sehun berbalik pergi meninggalkan Kai ditaman itu dengan cuaca yang sangat dingin. Bahkan Sehun tak menengok kebelakang lagi.

Kai merasakan kakinya lemas saat itu. Sepasang kakinya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Ia merosot dan jatuh terduduk di tanah. Air matanya kini tumpah membasahi pipi tirusnya. Bahunya naik turun seiring dengan isak tangisnya.

"Kenapa aku sangat bodoh? Kenapa aku begitu kejam? Kenapa aku justru melukai orang-orang yang aku sayang. Aku tak pernah bermaksud seperti itu. Mianhae Luhan hyung. Mianhae Sehun-ah." Kai terus terisak tanpa menyadari ada cairan hangat yang keluar dari hidungnya. Cairan kental berwarna merah itu menetes pada punggung tangan Kai. Seketika ia berhenti menangis. Tangan kanannya memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Sedangkan tangan kirinya bergerak menyeka darah yang terus mengalir dari hidung kecilnya.

Penglihatan Kai semakin mengabur seiring denyut menyakitkan dari kepalanya. Ia berusaha bangkit berdiri. Tapi itu justru membuatnya tersungkur ke tanah. Kai pingsan ditaman yang sepi tanpa seorangpun tahu.

###

Keluarga Oh memilih pulau jeju sebagai tempat untuk merayakan tahun baru. Lay sedang bercanda dengan Luhan dibawah pohon maple disudut halaman villa. Terlihat tawa Luhan yang sangat dipaksakan sedari tadi. Kakek, nenek, ayah Sehun dan paman Zang duduk mengelilingi meja dimana diatasnya sudah ada beberapa minuman dan makanan ringan.

Eomma Sehun dan bibinya sibuk memanggang daging. Sedangkan Sehun hanya duduk memeluk lututnya disalah satu sudut halaman yang agak gelap. Ia sengaja menjauhkan diri dari anggota keluarga lain.

Saat anggota keluarga Sehun sudah berkumpul untuk menikmati daging panggang buatan Eomma dan bibinyapun, Sehun tetap duduk menyendiri disana. Tak ada niatan untuk berkumpul dengan yang lain. Toh anggota keluarganya tak akan ada yang mencarinya atau sekedar menanyakannya.

Nyonya Oh menyadari bahwa sedari tadi kedua putranya tak saling menyapa. Bahkan Luhan juga tak menemani Sehun yang duduk menyendiri. Biasanya Luhan selalu terlihat perhatian dengan Sehun walau Sehun sendiri tak pernah menanggapinya. Nyonya Oh hampir menyuruh Luhan untuk mengajak Sehun bergabung. Tapi ia urung karena itu akan merusak kehangatan suasana malam ini. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri Sehun.

"Kau tak mau bergabung disana Sehun-ah?" Nyonya Oh duduk disebelah putranya.

"Aniyo Eomma. Eomma tahu mereka takkan menerimaku."

Nyonya Oh mengelus puncak kepala Sehun. "Mian. Eomma membiarkanmu lahir dikeluarga ini."

"Ini bukan salah Eomma."

"Tentu ini salah Eomma. Dulu Eomma sangat serakah."

Nyonya Oh menerawang mengingat kejadian 20 tahun yang lalu. Ketika ia meninggalkan Luhan kecil yang tertidur lelap dikamarnya. Ia menyelinap keluar dari rumah megah suaminya ditengah malam. Saat itu suaminya sedang ada perjalanan bisnis ke Jepang. Sedangkan penghuni rumah yang lain sudah tertidur lelap dan berkelana di dalam mimpi.

Nyonya oh menemui lelaki tampan seumuran dengannya. Lelaki yang amat dicintainya tapi tak berakhir dipelaminan. Lelaki yang terpaksa ia tinggalkan demi lelaki lain yang dijodohkan orang tuanya dengan dirinya. Nyonya Oh bersenang-senang dengan lelaki itu hingga ia tak sadar telah melakukan perbuatan terlarang. Bercinta dengan lelaki lain yang bukan suaminya.

1 tahun kemuadian lahirlah Baby Sehun. Dan entah dari mana berita perselingkuhan itu terkuak dengan sendirinya. Sehun kecil menjadi bahan perdebatan dan hampir dibuang ke panti asuhan. Ayah kandung Sehun pergi begitu saja dan Nyonya Oh tak bisa menemukannya.

Kalau saja Nyonya Oh bukan dari keluarga yang memiliki derajat tinggi dan terpandang. Dan ia bukan penentu kekayaan dikeluarga Oh, pasti ia sudah didepak dari keluarga itu. Satu-satunya alasan Nyonya Oh dan Sehun bisa bertahan adalah jumlah kekayaan yang dimiliki Nyonya Oh.

"Jika Eomma tidak serakah. Aku tidak akan terlahir didunia." Sehun menggenggam tangan Eommanya.

"Eomma sudah menyiapkan sesuatu untukmu. Kau jangan khawatir. Jika waktunya tiba, Eomma akan memisahkanmu dari keluarga ini."

"Maksud Eomma?" tanya Sehun. Ia menyelami mata teduh Eommanya dan menemukan sebuah kesungguhan disana.

"Kau pasti tahu maksud Eomma. Em?" Nyonya Oh membelai lembut rambut Sehun. "tunggu disini. Kau pasti laparkan? Eomma akan mengambilkan makanan untukmu.

Beberapa saat kemudian Luhan datang membawa piring dan gelas. Ia menyerahkannya kepada Sehun tanpa mengucapkan apapun. Sehun menerimanya dan meminum minuman hangat pada gelas itu.

"Duduklah hyung" Kata Sehun ketika Luhan hampir berbalik pergi.

"Aku kesini hanya karena disuruh Eomma untuk memberikan itu padamu. Aku ingin kembali kesana lagi."

"Temani aku disini hyung." Sehun memohon. Semarah-marahnya Luhan dengan Sehun. Ia tetap tak akan tega melihat Sehun seperti itu. Luhan duduk disebelah Sehun dan menghembuskan nafasnya pelan.

"Hyung Mianhae." Sehun menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Aku memang tak menyukaimu hyung. Kau tahu alasanku. Tapi sungguh aku tak tahu bahwa Kai adalah namjachingumu. Aku selalu mendengar cerita tentang namja chingumu tapi aku benar-benar tak tahu bahwa itu Kai. Kau juga tahu bahwa aku tak tertarik dengan semua ceritamu. Bahkan aku selalu acuh. Itu membuatku semakin tak mengira bahwa Kai itu namja chingumu. Apalagi kau tak pernah menyebutkan namanya." Sehun mengambil jeda sesaat.

"Kai sosok yg menarik. Ia orang pertama yang bisa membuatku tertawa terbahak-bahak. Ia sosok yang memberi warna-warna cerah dalam kehidupanku yang selama ini hanya dipenuhi warna gelap. Kai mampu membuatku melupakan kepedihan yang aku alami. Kai mengenalkanku dengan sesuatu yang disebut cinta dan bahagia. Tapi disaat yang sama kai membuatku patah hati. Kau tahu kenapa?" Sehun menoleh pada Luhan yang diam membisu.

"Kai menegaskan bahwa kami adalah teman. Memang malam itu saat kau memergoki kami, kau mendengar Kai juga berkata jika ia mencintaiku. Namun apakah kau mendengar ia berkata "Hajiman" diakhir kalimat? Aku sangat ingin mendengar apa kelanjutan dari kalimat Kai yang terputus itu."

"Hyung. Selama ini aku tak pernah meminta apapun darimu. Apa kali ini aku boleh meminta 1 hal?" Luhan menoleh pada Sehun dan melihat senyum tipis dibibir Sehun.

"Em" luhan menjawab singkat.

"Boleh aku memiliki kai?"

###

Masih diawal januari yang bersalju. Hawa dingin menyelimuti kota Seoul. Kai duduk dan bersandar diatas ranjangnya. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk beraktivitas. Ia melewatkan malam tahun baru beberapa hari yang lalu dengan stay dikamarnya. Kini ia sudah mulai bosan.

Tok...tok...tok...

"Masuklah!" perintah Kai pada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.

Seorang maid cantik masuk dan menunduk memberi hormat pada Kai... " Teman anda sudah datang tuan."

"Suruh saja dia masuk. Dia bukan orang asing."

Maid itu keluar sebentar untuk memanggil seseorang. "Masuklah tuan Luhan. Tuan Kai sudah menunggu didalam."

Luhan masuk kedalam kamar nyaman milik Kai. Sedangkan maid yang menyambutnya tadi telah menutup pintu dari luar. Luhan megedarkan pandangannya pada kamar bernuansa krem itu. Kamar Kai luasnya hampir sama dengan kamar Luhan. Luhan sudah tak terkejut dengan kamar mewah semacam itu.

"ini kali pertama kau masuk kamarku hyung." Kata Kai tetap tak beranjak dari posisinya.

"Em. Aku sering datang kesini tapi kau tak sekalipun mengajakku masuk ke kamarmu." SahutLuhan lalu duduk diranjang kai.

"Kau tak marah padaku kan Hyung?" tanya Kai.

"Kau tahu aku tak bisa marah."

"Ne. Arasseo. Tapi pasti kau kecewa." Kai menunduk dan meremas ujung selimut yang menutupi kakinya.

"Kau terlihat pucat Kai. Apa kau sakit?" tanya Luhan.

Kai tersenyum miris."Pasti akan terlihat bodoh jika aku berkata aku baik-baik saja."

Luhan memperhatikan Kai dengan seksama. Kai memang tidak terlihat baik-baik saja. Ia terlihat sangat pucat. "Apa kau sudah pergi kedokter?" Luhan cemas melihat keadaan Kai.

"Sudah hyung. Aku memintamu kesini memang untuk membicarakan ini." Kai melempar senyum tipis kearah Luhan. "Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena telah memutuskan hubungan kita secara sepihak. Dan tentang Sehun, dia tak tahu apa-apa hyung. Jadi kau jangan membencinya." Kai sedikit berat saat menyebut nama Sehun.

"Sehun bukan alasanku memutuskanmu. Ada hal lain yang lebih penting dari itu."

"Tapi kau mencintainya kan?" Luhan mengambil jeda Kai untuk menyela.

Kai menelan ludahnya yang tersangkut ditenggorokan. "Mianhae. jeongmal mianhaeyo. Cinta itu datang tanpa aku menyadarinya. Awalnya aku hanya ingin berteman dengan Sehun. Aku tak pernah bermaksud melukai siapapun. Tapi, jika aku tak pernah bertemu Sehunpun. Aku tetap akan mengakhiri hubungan kita hyung.

"Wae?" Luhan menatap wajah pucat Kai dan berhenti dimanik matanya.

"Karena aku sakit." Kai mengatur sedikit nafasnya. "Leukimia."

"Mwo?" mata Luhan membulat sempurna.

"Aku sudah menderitanya sejak bertemu denganmu 3 tahun yang lalu hyung. Kejadiannya hamper sama dengan pertemuanku dengan Sehun. Awalnya hanya berniat berteman. Tapi cinta menyerangku begitu saja. Dulu aku pikir aku akan sembuh. Ternyata tidak, penyakit ini semakin parah menggerogoti tubuhku. Aku sungguh tak ingin berkata waktuku tak lama. Tapi itu kenyataannya.

"Kau pasti sembuh Kai." Luhan berkata seperti itu seolah untuk meyakinkan dirinya sendiri.

"Aku sudah tak berharap banyak hyung." Kai tersenyum miris. "Luhan hyung. Apa aku boleh meminta tolong padamu?"

"Katakan apa yang yang bisa aku bantu. Aku akan mengabulkannya untukmu." Luhan tak bisa berkata apa-apa lagi selain itu. Ia hanya takut kehilangan Kai tanpa memberikan kenangan yang dapat membahagiakannya.

Kai menyibak selimut dan mengambil benda yang tersembunyi dibaliknya. "Tolong kembalikan ini pada Sehun. Kembalikan buku agenda ini padanya saat ulang tahunnya nanti."

###

Tengah malam yang dingin Ferrari merah itu terparkir Rapi dihalaman rumah Kai. Salju tipis melayang turun menambah dinginnya malam itu.

"Kau tak ikut kedalam hyung?" Tanya Sehun pada Luhan.

"Ani. Kau sendiri saja yang masak. Tadi aku sudah meminta ijin pada orang tua Kai agar kau diijinkan masuk. Turunlah. Palli."

Sehun turun dari Ferrari merah itu. "Hyung Gomawo." Katanya ketika Luhan akan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.

"Em. Lakukan yang terbaik." Lalu Luhan melajukan Ferrari itu meninggalkan Sehun.

Sehun masuk ke dalam rumah Kai dengan sangat mudah. Sudah ada yang membukakan pintu tanpa ia repot2 menekan bel. Luhan memang sudah menyiapkan semua ini untuknya. Sehun naik ke lantai dua menuju kamar Kai. Ditangannya sudah ada kue tart berukuran sedang dengan lilin berangka 19.

Sehun sedikit menahan tangan maid yg akan membukakan pintu untuknya. "Sebentar tunggu beberapa menit lagi." Sehun mengecek jam tangan dipergelangan tangannya. Ia menunggu jam itu menunjukkan pukul 00.00"

Setelah menunggu beberapa saat, jam itu menunjukkan waktu yang tepat. Sehun mengangguk pada maid cantik disebelahnya. Dan maid itu membuka kamar Kai dengan sangat pelan. Sehun masuk kedalam kamar gelap itu sendirian. Sedangkan maid tadi menutup pintunya dari luar. Hanya ada sinar lilin dari kue yang dibawa Sehun dikamar itu.

Sehun menyibak selimut yang dipakai Kai. Ia memperhatikan wajah polos Kai yang diterangi sinar lilin. Kai terlihat sangat tampan saat tidur.

"Kai Irona." Sehun berbisik lembut ditelinga Kai.

Kai sedikit menggeliat. Matanya sedikit terbuka. Tapi lalu membulat sempurna ketika ia melihat wajah Sehun yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Sehun tersenyum melihat ekspresi lucu Kai. Ia menjauhkan wajahnya dari Kai agar Kai bisa bangun.

"Saengil chukha hamnida. Saengil chukha hamnida. Saranghaneun kim jongin. Saengil chukhahamnida." Sehun menyanyi dengan suara lirih tapi masih terdengar merdu.

Kai bangun perlahan masih dengan keterkejutannya. Ia mendudukkan dirinya. Sehun ikut duduk diatas ranjang Kai.

"Berdoalah. Lalu tiup lilinnya." Kata Sehun.

Kai mengangguk. Ia menyalakan lampu tidurnya terlebih dahulu sebelum make a wish dan meniup lilin. Ia tak ingin kamarnya gelap gulita saat ia sudah meniup lilin. Setelah ia meniup lilin berangka 19 itu, matanya beralih pada mata sipit Sehun. Ketika itu juga ada getaran aneh yang menjalari setiap inci tubuhnya. Getaran itu lebih hebat daripada saat ia bersama Luhan. Menyadari itu, air mata Kai mulai menggenang disudut matanya.

"Uljima. Kenapa kau malah menangis, em?" sehun mengusap air mata yang meleleh dipipi Kai. Kai justru semakin terisak mendapat perlakuan Sehun yang seperti itu. Sehun sedikit bingung dengan tingkah Kai. Jujur saja Sehun tak pernah berhadapan dengan seseorang yang menagis terisak-isak seperti itu.

Sehun segera meletakkan kue tart yang ada ditangannya keatas meja kecil dikamar itu. Ia lalu mendekap Kai kedalam pelukannya. Meletakkan kepala Kai didada bidangnya.

"Uljima." Sehun mengusap-usap punggung Kai lembut. Kai menangis dipelukan Sehun selama beberapa menit. Saat tangisannya mereda, ia melepas pelukan Sehun. Dan melempar sen

yum manis pada namja yang memeluknya tadi.

Sehun ikut tersenyum melihat senyuman Kai. "Kau ingin aku melakukan apa malam ini untuk merayakan ulang tahunmu?"

"Eobseo" saut Kai.

"Eobseo?" Sehun memastikan.

"Ne. Ayo kita tidur saja. Aku hanya ingin tidur dipelkanmu."

"Ne?" sontak Sehun terkejut dengan permintaan Kai.

"Kau tidak keberatankan?" Kai mendesak.

Sehun terlihat menimbang-nimbang ajakan Kai. Ia sama sekali tak keberatan. Hanya saja, pasti ia tak bisa menetralkan gemuruh detak jantungnya yang seakan ingin keluar dari dadanya.

"Ayolah." Kai menarik lengan Sehun pelan. Akhirnya Sehun mengangguk.

Sehun dan Kai berbaring berhadapan. Tangan kiri Sehun digunakan sebagai bantalan kepala Kai sedangkan tangan kanannya memeluk pinggang Kai. Kai juga mendekap Sehun dan menyentuhkan wajahnya didada Sehun.

"Aku suka wangi Sehun." Gumam Kai.

Sehun memejamkan matanya untuk menahan sensasi-sensasi yang muncul dan membuat perutnya bergejolak. Lalu ia mengecup singkat puncak kepala Kai. "Tidurlah."

Kai mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Begitulah akhirnya mereka tertidur dibalik selimut dan saling memeluk. Menyalurkan kehangatan yang membawa sensasi aneh namun memabukkan. Mereka hanya berharap malam bisa mengulur waktunya lebih lama lagi. Dan pagi lebih lambat datang.

###

TeBeCe

Jangan jadi Silent Reader ya...

yg gk punya akun ffn, bisa tinggalin komen d fb aq: Ulvia kyeopta ShaXo

twitter : ulviarahmawati

oh ya, agak oot nih. kan lagi pada heboh2nya regis exo-L. UDAH PADA DAFTAR?

aku udah dong