hello ini chap end. mian agak lama

siapin tisu y

happy reading...

WhirlWind

Chapter 6/ End

Kau datang dan pergi bagai angin. Begitu cepat menghilang. Meninggalkan hawa dingin yang memeluk tubuh dan perasaanku. Kau bahkan sudah tak nampak didepan mataku. Tapi dinginnya masih menusuk tulang serta jantungku. Sungguh aku ingin mengusir dingin yang menyakitkan ini. Lalu bergelung dalam selimut keegoisanku lagi. Namun hati kecilku melakukan sebaliknya. Ia tetap menyimpanmu dalam kotak yang rapi. Sekarang aku sudah terbiasa dengan hawa dingin yang kau tinggalkan. Nan Gwaenchanha.

###

Tok….Tok….Tok…

"Nugu?" Sehun bertanya dengan suara beratnya. Ia baru bangun tidur. Bahkan ia belum sempat turun dari ranjang.

"Ini Eomma." Sahut suara dari luar kamar Sehun.

Sehun segera beranjak saat tahu yang mengetuk pintu kamarnya adalah Eommanya.

"Ada apa Eomma?" Tanya Sehun ketika Eommanya sudah masuk kedalam kamar. Nyonya Oh duduk di sofa dekat jendela lebar dikamar itu.

"Kau ingat malam tahun baru kemarin Eomma berkata bahwa Eomma sudah mempersiapkan sesuatu untukmu?" nyonya Oh bertanya sambil memberi isyarat pada Sehun agar duduk disampingnya.

"Em." Sehun menjawab singkat. Ia duduk disamping kiri Eommanya dengan tangan kanan yang mengusap-usap matanya sedikit gatal.

Nyonya Oh menyibak poni Sehun. "Eomma akan memberikannya padamu sekarang." Lalu nyonya Oh memberikan sebuah kunci pada Sehun.

"Ige mwoya?" Tanya Sehun yang masih bingung.

"Kunci apartemen."

"Ye?' mata Sehun seketika membulat.

Nyonya Oh membelai lembut puncak kepala Sehun. "Apartemen itu milikmu. Surat kepemilikannya atas namamu. Kau bisa pindah kesana secepat yang kau mau. Jangan berfikir Eomma mengusirmu dari rumah ini. Hanya saja ….kau tahu maksud Eomma kan?"

Sehun mengangguk sangat pelan. "Arasseo eomma. Gomawo. Jeongmal gomawo." Sehun langsung memeluk eommanya erat. Memang ini yang diinginkan Sehun. Ia sangat ingin memiliki tempat tinggal dimana ia tidak harus satu rumah dengan orang-orang yang membencinya.

"Apartemennya tidak jauh dari sini. Masih di gangnam-gu. Eomma tidak ingin berada jauh darimu. Eomma janji jika kau sudah pindah pasti eomma akan sering menengokmu." Sehun semakin mengeratkan pelukannya.

"Eomma punya satu lagi." Nyonya Oh melepas pelan pelukan Sehun.

"Eomma membuka sebuah club dance atas namamu. Kau bisa menggunakannya sebagai sebuah usaha. Eomma ingin kau mandiri. Karena eomma…" kalimat Nyonya Oh terpaksa terpotong karena pelukan Sehun yang tiba-tiba.

"Eomma. Eomma Saranghae."

###

Seoul Hospital pertengahan Mei.

Sehun berjalan tergesa-gesa mencari sebuah ruangan di rumah sakit yang luas itu. Ia masih menggunakan seragam sekolah saat ini. Ia baru saja keluar dari gerbang sekolahnya ketika mendapat telefon yang mengharuskannya segera pergi kerumah sakit ini.

"Bagaimana keadaan Eomma, Hyung?" tanyanya pada Lay yang duduk dikursi tunggu dekat ruang ICU.

"Molla. Dokternya belum keluar. Sebaiknya kau duduk dulu" jawab Lay.

Sehun duduk disebelah Lay. Ia melihat ayahnya mondar-mandir didepan ruangan. Sedangkna kakek neneknya sedang duduk sambil menenangkan diri. Sehun tak melihat paman dan bibinya. Mungkin mereka sedang ada perjalanan bisnis.

"Kau tak mau melihat Luhan dulu? Dia ada diruangan disekolah sana. 3 ruangan dari sini." Lay menunjuk ruangan tempat Luhan dirawat.

"Kau bisa mengantarkanku hyung?'

Lay mengangguk sebagai ganti jawaban.

"Kai?"

Sehun menengok ketika ia mendengar Lay menyebut nama Kai.

"Ah hyung." Sahut Kai.

Sehun sedikit terkejut ketika matanya menangkap sosok namja yang baru keluar dari ruangan disebelah kamar Luhan. Kai sedang apa kau disini?" mata Sehun menelisik tubuh Kai yang saat ini terbalut pakaian rumah sakit.

Kai salah tingkah. Ia hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Apa kau sakit?" Sehun melontarkan pertanyaan lagi pada Kai. Terlihat raut khawatir diwajah Sehun. Ketika itu Luhan keluar dari kamarnya dengan membawa tabung infus. Tangan kanannya masih terpasang selang infus.

"Luhan hyung." Kai menatap Luhan yang menggunakan pakaian rumah sakit yang sama dengan dirinya. Kai melupakan pertanyaan Sehun yang masih menggantung.

Luhan sendiri kaget dengan keberadaan Kai disana. "Apa sakitnya Kai sudah semakin parah?" tanyanya dalam hati.

"Hyung. Sehun ingin mendengar kronologi ceritanya darimu." Ucap Lay memecah keterkejutan diantara mereka.

"Em masuklah." Luhan membuka pintu kamar inapnya sedikit lebar. Agar mereka bisa masuk.

"Hyung. Apa aku boleh ikut?" Tanya Kai pada Lay. Lay mengangguk memberi persetujuan.

"Apa yang terjadi?" Tanya Sehun ketika mereka semua sudah ada didalam.

"Tadi aku mengantar Eomma pergi belanja."

"Ceritakan garis besar kejadiannya saja hyung." Sehun memotong kalimat Luhan. Ia benar-benar sudah tak sabar.

Pagi tadi Luhan mengantar eommanya belanja disalah satu supermarket yang ada di Seoul. Luhan sudah selesai ujian kelulusan jadi ia punya waktu untuk mengantar eommanya. Saat dalam perjalanan pulang. Mobil Luhan yang melaju dengan kecepatan sedang tertabrak truk yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.

Truk itu memang tidak stabil karena sopirnya yang mengantuk. Pengemudi truk itu sudah mencoba menghindar tetapi itu justru membuatnya menabrak samping kanan mobil Luhan. Tepat dibagian eommanya duduk. (ingat ya. Mobil korea kan setirnya dikiri). Kejadian itu sangat cepat membuat Luhan tak bisa berfikir banyak.

Sehun hanya mematung mendengar penuturan Luhan. Tak ada ekspresi apapun diwajahnya. Hanya datar dan tatapan kosong dimatanya. Kai yang ada disamping Sehun mengusap bahu Sehun pelan. Mencoba menyalurkan kekuatan agar Sehun kuat menerima semua ini.

###

Sehun duduk dibangku taman rumah sakit. Ia tak bisa duduk menunggu didepan ruang ICU. Jadi ai lebih memilih duduk dihalaman ini. Menikmati musim semi yang hampir berakhir.

"Sehun-ah." Lay menyentuh bahu Sehun dari belakang.

"Kai. Duduklah."

Kai duduk disamping Sehun. "Eommamu pasti baik-baik saja." Ucap Kai.

"Em. Semoga." Jawab Sehun. "Kau sakit apa? Kau sangat pucat." Tanya Sehun sambil membelai lembut pipi tirus Kai. Kai menyentuh tangan Sehun yang berada dipipinya. Ia tersenyum kecil. Ini bukan waktu yang tepat untuk memberi tahu Sehun tentang penyakitnya.

Sehun melihat tangan Kai yang menyentuh tangannya. "Kenapa ada bintik-bintik merah dikulitmu Kai?"

"Ah. Ini hanya bekas gigitan nyamuk."

Sehun tahu Kai bohong. Tidak mungkin bekas gigitan nyamuk sebanyak itu. Sehun membuka mulutnya untuk bertanya lagi pada Kai. Tapi panggilan Lay menghentikannya.

"Sehun-ah. Ayo masuk. Palli." Lay terihat tergesa-gesa, Sehun merasa ada yang tidak beres. Jadi ia langsung menyeret Kai dan mengejar Lay yang sudah berlari didepannya. Kai sendiri berusaha mengimbangi ritme langkah Sehun yang saat ini menarik tangannya.

Diruang ICU kini penuh isak tangis. Ayah Sehun menangis disamping sesosok tubuh yang sudah tertutup kain putih. Luhan mematung dan menangis dalam diam. Sedangkan kakek neneknya menghalangi Sehun yang ingin melihat jasad ibunya.

"Haraboji. Biarkan aku melihat eomma. Jebal." Sehun memohon pada kakeknya yang saat ini sedang mencengkeram pergelangan tangannya.

"Haraboji. Halmoni. Biarkan Sehun melihat eommanya." Lay membantu Sehun.

Akhirnya kakek dan nenek Sehun membiarkan Sehun melihat eommanya untuk yang terkahir kali. Sehun berjalan melewati ayahnya dan berdiri disamping jasad ibunya. Tangan kanannya perlahan menyibak kain putih yang menutupi jasad ibunya.

"Eomma." Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir tipisnya ketika melihat wajah cantik ibunya yang kini penuh dengan luka memar dan bekas darah. Ia tak sanggup berkata apapun lagi. Bahkan ia juga tak sanggup megeluakan air mata.

Semua kenangan tentang eommanya berkelebat cepat didalam otaknya. Eommanya yang selalu melindunginya. Eommanya yang selalu menguatkannya. Eommanya yang selalu memberikan rasa aman untuknya. Bahkan Sehun baru saja pindah ke apartemen dan diantarkan eommanya. Tapi kini eommanya sudah meninggalkannya untuk selamanya.

Kai yang sedari tadi hanya menyaksikan kejadian itu berjalan pelan kearah Sehun. Ia menyentuh lengan Sehun pelan. Ia sendiri tak mampu mengucapkan kalimat penghiburan apapun. Sehun berbalik menatap Kai, lalu sedetik kemudian ia jatuh dipelukan Kai. Ia masukkan wajahnya ke ceruk leher Kai. Menumpahkan segala kesedihannya disana. Masih tanpa air mata dan tangisan.

Luhan mencoba memalingkan wajahnya dari pemandangan didepannya. Mereka tak tahu bahwa disini Luhanlah yang paling terpukul. Eommanya meninggal karena dirinya dan sekarang ia harus melihat orang yang dicintainya sedang memeluk adiknya sendiri.

Luhan menggerakkan kakinya yang kebas keluar dari ruangan itu. Ia sungguh tak tahan dengan ini semua. Lay yang menyadari kepergian Luhan langsung mengejarnya.

"Hyung."

Luhan berhenti mendengar panggilan Lay. Air matanya kini menderas. Bahkan sekarang ia terisak. Lay segera merengkuh Luhan kedalam pelukannya. Mengusap-usap punggung Luhan yang bergetar. Membiarkan ia terisak seperti itu.

Sehun berdiri dibalkon apartemennya. Sinar matahari sore yang hangat menyentuh kulit putihnya. Ia sedari tadi berdiri mematung disana sejak pulang dari pemakaman eommanya beberapa jam yang lalu.

Derrrrrt…

Sehun meraih ponsel disaku celananya. "Rival calling." Begitulah yang tertera dilayar ponselnya. Dengan malas Sehun menerima panggilan itu.

"Ne hyung." Jawabannya malas.

"eodiseo?" Luhan bertanya diseberang sana.

"Apartemen."

"Cepat kembali kerumah sakit sekarang." Suara Luhan terdengar panik.

"Waeyo?"

"Kai….."

Sehun segera menutup sambungan telefon ketika ia mendengar Luhan menyebut nama Kai. Ia langsung teringat Kai yang dirawat dirumah sakit yang sama dengan Luhan. Perasaanya mendadak jadi tak enak.

Seoul Hospital

Sehun terus berlari menuju ruangan tempat Kai dirawat. Ia tak peduli dengan tatapan orang-orang yang memperhatikannya sedang berlari kesetanan. Saat ia sudah sampai didepan kamar Kai pun ia langsung menerobos masuk. Tak peduli orang tua Kai yang terkejut dengan kedatangannya Luhan yang sudah ada didalam diam saja.

Pemandangan yang sama seperti sore kemari. Sesosok tubuh yang tertutup kain putih hingga menutupi puncak kepala. Dengan orang-orang yang menagis disampingnya. Seketika itu Sehun kehilangan sikap tenangnya. Tangannya dengan kasar menarik kain putih yang menutupi seseorang yang terbaring kaku disana.

"Kai." Tangan Sehun menyentuh pipi Kai yang sudah mendingin.

"kai. Irona. Irona jebal. Palli." Tangannya mulai mengguncang-guncang tubuh kaku Kai.

"Irona. KAI IRONA. JEBAL." Ia mulai berteriak. Tangannya kini mengguncang tubuh Kai dengan kasar. Luhan mencoba menjauhkan tangan Sehun dari sana.

"Lepaskan aku hyung. Kai harus mendengarkanku. Kai harus bangun. Ia hanya tertidurkan? Kai harus bangun sekarang." Sehun berusaha menyentuh tubuh Kai lagi.

"Irona Kai. Irona. Jebal. Bangun sekarang juga Kai. Jebal." Kini tubuh Sehun mulai merosot ke lantai. Ia tak sanggup berdiri. Luhan menangkap tubuh Sehun dan mendudukkannya di kursi samping ranjang Kai. Sehun terisak disana. Air mata yang sedari kemarin ditahannya kini tumpah.

"Waeyo? Wae? Kenapa kau meninggalkanku juga? Irona. Kau tak bisa pergi seperti ini. Sebenarnya kau kenapa, em? Jelaskan padaku Kai. Irona." Sehun harus berusaha berbicara pada Kai. " Irona. saranghae."

Orang tua Kai keluar dari ruangan itu. Mungkin mereka sedang memberikan kesempatan pada Luhan dan Sehun untuk bicara. Luhan menyentuh bahu Sehun pelan. Tapi Sehun menampiknya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Sehun dengan air mata yang masih mengalir dipipinya.

Luhan menghela nafas berat. Matanya bahkan bengkak karena terus menangis sejak kemarin.

"Mianhae. Hyung tahu ini sudah telambat."

"Jangan bertele-tele. Cepat katakan." Kesabaran Sehun sudah habis.

"Tubuh Kai sudah tak bisa bertahan dengan penyakitnya. Ia sudah bertahan sejak 3 tahun terakhir dan kini ia sudah tak bisa menahannya lagi. Kai menderita Leukimia."

"Mworagu?" Sehun seakan tak percaya.

"aku juga baru mengetahuinya beberapa hari sebelum ulang tahunnya Januari yang lalu."

"Dan kau tidak memberi tahuku?"

"Aku sedang mencari waktu yang tepat."

"Apa menurutmu sekarang adalah waktu yang tepat?"

Luhan terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Sehun.

"Kai sudah tidak akan bangun lagi hyung. Aku bahkan tidak bisa melihat senyumnya untuk terakhir kali. Kenapa kau membuatku menjadi seperti orang bodoh? Kenapa kau tak memberi tahu ku sejak kemarin-kemarin. Jadi apakah sekarang adalah waktu yang tepat?

"Mianhae." Luhan menyesal dan ingin memeluk tubuh Sehun. Dengan kasar Sehun mendorong tubuh Luhan hingga membentur dinding dibelakangnya.

"Terlambat hyung. Semuanya sudah telambat. Aku benci kau Luhan hyung. Aku benci kau yang selalu jadi pusat perhatian. Aku benci kau yang selalu mendapat kasih sayang. Aku benci kau yang punya segala-galanya. Aku benci kau yang menyimpan rahasia ini dariku. Dan aku benci kau yang telah membunuh eomma. Kau pembunuh."

Luhan terkesiap mendengar kalimat terakhir Sehun. Ia tak pernah menyangka Sehun akan berkata seperti itu padanya.

"Aku tak mau melihatmu lagi setelah ini. Pergi jauh dari hidupku."

Luhan segera keluar dari ruangan itu setelah mendengar kalimat pengusiran dari Sehun. Sehun sendiri tak sadar jika Luhan akan benar-benar pergi dari hidupnya.

###

Sehun P.O.V

"Tuhan. Berikanlah tempat yang terbaik untuk eomma dan kai. Mereka adalah warna yang pernah mengisi kehidupanku. Tolong katakan pada mereka bahwa aku sangat mencintai mereka." Aku menelan ludah yang tersangkut ditenggorkan dan mulai mengucapkan doaku yang kedua.

"Jika aku boleh meminta. Aku mohon pertemukan aku kembali dengan Luhan hyung. Tidak seharusnya aku mengusirnya waktu itu. Aku hanya ingin meminta maaf padanya. Dan mengatakan bahwa aku menyayanginya. Jika ia membenciku. Aku janji tak akan marah. Karena Luhan hyung tak pernah marah saat aku membencinya dulu. Bahkan ia tak marah saat aku merebut Kai darinya. Ia tak marah saat aku mengusirnya. Luhan hyung mianhae."

Aku meniup lilin berangka 21 yang mulai meleleh. Kubaringkan tubuhku dilantai apartemen yang dingin. Membuka buku agenda yang sedari tadi kugenggam. Lembar buku itu sudah mulai lecek karena terlalu sering kubuka. Tulisannya mulai memudar karena bekas air mataku yang jatuh disana. Tapi semuanya masih jelas terbaca.

Sehun-ah. Oh Sehun.

Kau bilang jika kau mencintaiku, em? Ne, nado saranghae. Hajiman….

Kau pasti tahu kelanjutannya kan? Kita hanya teman. Sampai kapanpun kau akan jadi temanku. Mianhae. Aku tak pernah berniat untuk menyakitimu ataupun Luhan hyung. Semua terjadi begitu saja.

Awalnya aku hanya ingin menghapus gurat luka yang ada diwajahmu. Tapi aku justru terjebak dengan cinta yang mengalir diantara kita. Jika aku bisa memutar waktu, pasti aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi.

Untuk sebuah rahasia yang aku tutupi darimu., Luhan hyung akan menyampaikannya padamu. Aku tidak sanggup mengatakan langsung padamu. Aku takut.

Jika aku pergi. Jangan terlalu lama menangisiku, Ne? aku tahu kau bisa. Kau hebat Oh Sehun. Kau bisa mengahadapi dunia yang kejam ini. Fighting. Perlihatkan senyum indahmu pada orang-orang diluar sana. Buat mereka terpikat oleh pesonamu.

Sarnaghae.

Kim Jongin

Oh Sehun

Mian hyung menulis ini dibawah tulisan jongin. Hyung hanya mau bilang jika hyung pergi. Seperti keinginanmu. Hyung tak akan kembali ke korea lagi. Hyung tak akan mengganggu hidupmu. Oh Sehun haengbokkhae. Saranghae.

Luhan.

Klik…..

Tombol play MP3 player yang ada disaku celanaku tertekan tanpaku sengaja. Lagu The Letter milik davichi melantun dari sana. Aku meringkuk dan memeluk kedua lututku. Memejamkan kedua bola mataku erat. Berharap jika aku membukanya lagi, semua rasa sakit ini sudah berlalu.

Semoga…..

###

End

###

oh y mian lagi, aq gak bisa bales kalian satu2

thank udah nyempetin baca ff aq

sampe jumpa d ff aq berikutnya

i love u all, mumumumumu :*