Perpustakaan kerajaan Vongola adalah surganya buku-buku mengenai catatan riwayat Jepang secara lengkap, philosophy-philosophy dari berbagai negeri yang pernah tumbuh dan berkembang dalam sejarah, hingga ilmu militer, dagang ekonomi dan sosial, semuanya ada diruangan ini. Catatan arsip pribadi Kerajaan Vongola juga berjejer rapi dirak-rak tua tersebut. Inilah yang menjadikan Vongola sebagai salah satu kerajaan dengan berbagai literatur yang beragam.

Namun perpustakaan kerajaan tidak hanya sebagai tempat timbun ilmu, disini, Sawada Tsunayoshi memanfaatkan tempat ini sebagai tempat digelarnya rapat-rapatnya dengan para guardian terpilihnya.

Sebelah kanan Tsunayoshi, tangan kanan kepercayaan Vongola, penasihat, sekretaris pribadi raja, sekaligus Guardian of Storm, Gokudera Hayato. Duduk dengan satu kaki disilangkan dengan kaki yang lain, sambil menyilangkan tangan didepan dadanya.

Sebelah kiri Tsunayoshi, salah satu jendral besar Vongola yang memegang pasukan atas 2000 prajurit, Guardian of Rain, Yamamoto Takeshi. Duduk sambil tetap mempertahankan senyum seribu watt-nya.

Disebelah Gokudera, duduk seorang jendral besar juga, sama dengan Yamamoto, namun memegang pasukan atas 3000 prajurit, guardian terkuat dalam Kerajaan Vongola, Guardian of Cloud, Hibari Kyoya. Nampak duduk dengan tenang sambil sesekali menguap.

Disebelahnya, seorang berjubah hijau lumut duduk dengan malas, merupakan salah seorang prajurit yang bernaung dalam cakupan Yamamoto, Guardian of Lightning, Lambo Bovino, dan disebelahnya salah satu eksekutor dan penjaga garis wilayah Vongola dari ancaman luar, Guardian of Sun, Sasagawa Ryohei.

Lalu disebelah Yamamoto, dua orang kembar rambut dengan mengenakan jubah indigo, merupakan kepala bagian spriritualitas kerajaan. Guardian of Mist, Mukuro Rokudo dan Chrome Dokuro.

Semuanya sudah lengkap. Tsunayoshi berdehem sejenak, untuk menenangkan situasi.

"Baik, minna, ada kabar yang baru saja kudengar.."

.

.

LEGEND OF ARCOBALENO

Genre : Adventure, supernatural, mystery, action

Rate : T…?

Setting : AU!Kingdom, current!Verse (except Lambo)

Warnings : Typo(s) , [Spoiler] KHR Chapter ARCOBALENO CURSE, tata bahasa berantakan, OOC nyelip, alur maju-mundur, de-el-el

.

.

#HappyReading!

.

.

Katekyo HItman Reborn © Amano Akira

FanFiction © Arco Deverde Reborn

Para guardian dengan seksama mendengarkan kesaksian raja mereka. Tsunayoshi pun mengambil napas untuk menjeda perkataanya sejenak, lelah.

"Jadi begitulah, aku hanya ingin kalian bersiap-siap, kita tidak akan tahu kapan ksatria itu akan tiba…, dan bagaimana caranya bisa masuk, yang jelas siap-siap saja.." Ujar Tsuna.

"Hn, itu tidak penting, " Hibari mendelik tajam kesekeliling ruangan, menimbulkan tatapan bingung para penghuni rapat, "Cepat atau lambat, hari ini, orang itu akan datang." Ujarnya.

Tsuna mengerjap kaget, "Ha—hari ini…?"

"HIEEE, HARI INI?! NANDE?!" Mulut Tsuna menganga lebar.

Mukuro tertawa nista sebelum menopang dagunya malas, "Oya oya, dari mana kau tahu hal itu, wahai jendral..?" Tanyanya dengan selipan sarkastik. Hibari sejenak mendelik tajam pada pemilik rambut bergaya unik itu.

"Auranya mulai tidak mengenakkan sejak jam makan siang tadi lewat, harusnya intuition-mu juga mengatakan hal yang sama, herbivores." Hibari balik mendelik Tsuna, menimbulkan lenguhan 'hiee' dari Tsuna.

Gokudera menghentakkan kaki kanannya diatas meja dengan kesal, "Teme! Jangan seenaknya memanggil juudaime!"

"Hayato, tenanglah.." Tsuna memijit keningnya sejenak, "Aku memang sudah merasakannya sejak selesai makan siang tadi, sepertinya benar yang Hibari-san katakan.."

"KYOKUGEN! INI SANGAT MENARIK!" Teriak Ryohei dengan semangat. Membuat Lambo yang duduk disebelahnya menyumpal telinganya dengan kapas.

"Oya, ada kemungkinan aliansi kita akan balik menyerang kita karena masalah ini.." Ujar Mukuro tiba-tiba. Membuat suasana kembali hening.

"Be—benarkah..?" Tanya Tsuna gugup.

Mukuro mengangguk sejenak, memainkan Mist earing-nya sejenak, "Kufufufu, Kita tidak akan tahu siapa lawannya…, Varia? Cavallone? Atau bahkan MIllefiore? Itu masih tertutup tirai, Tsunayoshi-kun.." Ujarnya, diakhiri dengan tawa nistanya.

"Benar juga, The Strongest Seven bisa memilih kerajaan pilihannya, dan kerajaan yang terpilih itu berarti lawan bagi kita.." Gumam Gokudera.

"Kufufufu, kau setuju denganku, Guardian of Storm.."

"Kalau begitu, kita hanya perlu berbenah, karena waktu hari ini tinggal sedikit, jadi bersiaplah.., rapat ditutup." Tsuna menutup rapat dan beberapa guardian segera menghilang dari tempat. Hanya tersisa Tsuna, Gokudera, dan Yamamoto.

Gokudera memutuskan membuka pembicaraan, "Jadi? Bagaimana, juudiame?"

Tsuna memandang sejenak, menatap ruangan yang remang-remang itu, "Aku…jujur aku takut hal ini terjadi, Hayato, Takeshi.." Ujarnya nanar. Membuat dua lawan bicaranya mengangkat sebelah alis mereka.

"Intuition-ku mengatakan akan ada pertumpahan darah yang besar, dan aku..tidak mau rakyat maupun aliansi kita menjadi korban.." Sambung sang raja lagi.

"Anda sungguh baik, juudaime…" Puji Gokudera sopan, ditambah anggukan setuju dari Yamamoto.

"Maa, justru aku merasa akan ada rahasia besar yang tersibak disini.." Ujar Yamamoto santai.

"Ya, legenda ksatria terkuat The Strongest Seven yang telah tersegel selama 4 abad lebih, akan ada banyak hal yang kita tidak ketahui…" Tambah Gokudera. Yamamoto nyengir senang.

"Kira-kira…apa yang akan didapat Vongola…?" Gumam Tsuna dalam tanya.

.

.


Varia Palace; Varia Kingdom Teritory—

Walau Varia adalah kerajaan baru dan tergolong kerajaan kecil, namun Varia adalah kerajaan yang kuat dan sama berjayanya dengan Vongola. Dengan persenjataan yang lengkap, sumber daya manusianya yang berlimpah, serta kekuatan militer yang luar biasa, menjadikan mereka sebagai Eyes of Vongola yang ganas. Raja mereka, Xanxus, adalah raja muda yang kadang beringas, namun penuh perhitungan.

Saat ini rumor ksatria The Strongest Seven juga telah menyeruak diantara para penduduk Kerajaan Varia. Mereka mempertanyakan hal yang sama perihal kedatangan ksatria itu, Apa? Siapa? Dan akhirnya? Banyak yang penasaran dengan rupa para ksatria terhebat itu.

"Shishishi, tapi tidak sehebat pangeran ini.." Ujar seorang berjubah hitam panjang dengan pinggiran bergaris merah menyala seraya tertawa nyaring. Dibelakang jubah itu terjahit logo Kerajaan Varia. Surai blonde-nya menutupi setengah wajahnya, termasuk matanya. Sementara orang berjubah sama disebelahnya, berambut tosca, memutar bola matanya bosan.

"Kau 'kan pangeran palsu, Bel-senpai.., pasti akan langsung jadi debu saat melawan prajurit itu.." Ujar sang tosca malas. Alhasil ia mendapat jitakan manis dari sang senpai.

"Shishishi, dasar kodok.." Cengiran Belphegor naik tingkat dua kali lebih menyeramkan.

"Sudahlah, Bel-senpai, Xanxus-sama memanggil kita.." Ujar sang tosca lagi. Mereka pun berjalan beriringan, dibarengi kalimat sarastik dan lemparan pisau dari kedua pihak

.

Para petinggi tertinggi Varia kini telah berkumpul dalam ruang rapat. Pertama, sang raja, Xanxus. Ia duduk seraya mengangkat kedua kakinya angkuh. Sang singa peliharaan, Bester, duduk disebelah tuannya dengan tenang.

Disebelahnya, tangan kanan Xanxus, Squalo Superbi, Guardian of Rain, panglima atas 3000 prajurit dan seorang ahli pedang terhebat. Surai peraknya tergerai dengan indah hingga ke punggung. Ditangan kirinya tersemat sebilah pedang panjang yang tajam dan nampak berkilauan.

Disebelah Squalo, Guardian of Lightning, kepala pengurus penjara dan para algojo, Levi A Than, duduk dengan tenang. Lalu Lussuria berada disebelahnya. Lussuria adalah seorang Guardian of Sun, mage sekaligus petarung tangan kosong. Lalu yang terakhir, Belphegor dan Fran, Guardian of Storm dan Guardian of Mist yang baru dilantik beberapa bulan lalu.

"Voi, kalian sudah mendengar rumor mengenai ksatria terkuat The Strongest Seven?" Squalo membuka rapat. Semua mengangguk dalam diam.

"Mou, aku sangat penasaran dengan rupa ksatria itu…" Ujar Lussuria bersemangat. Ia membayangkan sang ksatria adalah sosok anak kecil seumuran Fran yang lucu dan baik, atau seorang gagah berani, berotot, dan rupawan.

"Yang jelas tidak seperti yang kau pikirkan, Lussuria.." Tukas Levi, menghancurkan bayangan indah Lussuria, "Mou, Levi kau jahat sekali~" Ujar Lussuria pundung.

"Voi, jangan ribut sendiri!" Hardik Squalo, lalu ia mengalihkan pandangannya pada sang raja, "Voi, menurutmu bagaimana?" Tanyanya. Sang raja hanya membuka sebelah matanya—tidak tertarik.

"Sampah, siapapun yang kita dapat, yang penting rekrut dia jadi prajurit kita.." Ujarnya setengah malas. Semua lantas sweatdrop.

Tiba-tiba Fran berujar, "Apa kita akan melawan Vongola?"

Hening. Xanxus lalu bangkit dari posisinya dan menopang dagunya, "Pasti. Lagipula tidak apa, aku penasaran seperti apa kemampuan Sawada Tsunayoshi itu.." Ujarnya sambil menyirengai licik.

"Terserah Anda sajalah, Xanxus-sama.." Gumam Fran pasrah.

.

.


Cavallone Palace; Cavallone Kingdom Teritory—

Sementara Kerajaan Cavallone adalah kerajaan yang sama tuanya dengan Vongola, berdiri dan berkembang diperbatasan garis pantai Jepang sebelah selatan, menjadikan Kerajaan Cavallone surga akan pantai dan hasil baharinya yang melimpah. Rakyatpun hidup makmur sebagai nelayan dan pembuat ikan asin. Tapi tidak menutup kemungkinan banyak yang bekerja menggarap agrari juga.

Sang raja, Dino Cavallone, yang masih mempunyai keturunan darah dengan Tsunayoshi, kini sedang sendiri diruangannya, mengamati deburan ombak pantai yang lembut dari atas balkon istananya. Tenang, indah, dan juga memikat. Inilah yang selalu ia banggakan dari kerajaannya. Dan ia bersumpah akan melindunginya sampai ia turun tahta nanti, bahkan setelah ia turun tahta.

Tiba-tiba suara ketukan pintu memasuki indera pendengaran Dino. Romario, penasihat serta sekretaris pribadi kerajaan, masuk kedalam sambil membungkuk sopan pada Dino.

"Nee, Romario, apakah kau sudah mendengar desas-desus yang beredar..?" Tanya Dino menginterupsi keheningan itu. Romario mengangguk sopan sebagai jawaban.

"Ya, Yang Mulia, kabar itu telah mencapai istana ini.." Ujarnya. Dino tetap tak bergeming dari posisinya. Seakan dapat membaca arah pikiran Dino, Romario pun kembali membuka mulutnya,

"Apakah Yang Mulia mengkhawatirkan Yang Mulia Sawada..?" Dino melirik sebentar Romario, sebelum menghela napas putus asa.

"Daripada bertarung dengannya, aku lebih memilih kalau kami bekerjasama untuk memenangkan pertarungan ini.." Balas Dino. Romario hanya mengangguk sopan.

"Akan lebih baik jika begitu, Yang Mulia, saya juga berpikir, bahwa mungkin tidak semua ksatria The Strongest Seven adalah orang yang jahat…" Tukas Romario bijak, dibalas anggukan singkat Dino.

"Rahasia dibalik kemunculan The Strongest Seven, alasan mereka disegel, siapa yang menyegel, dan bahaya apa yang dibawa mereka..ini semua masih merupakan misteri.." Gumam Dino, kembali menatap deburan ombak yang bergulung lembut.

.

.


Isola di Silenzio; Japan's Northwest Forest Island—

Hutan itu adalah satu-satunya hutan di Negara Jepang yang tidak terjamah sama sekali oleh manusia untuk dijadikan sebagai wilayah pertanian maupun pemukiman. Hutan itu adalah Isola di Silenzio, atau yang lebih banyak warga mengenalnya dengan nama 'Pulau yang sepi' . Mengapa pulau? Karena satu pulau kecil yang terletak disebelah barat laut Jepang, isinya adalah hutan belantara semua. Tidak ada yang menghuni tempat itu, dan tidak ada yang mau menempatinya. Hutan pulau itu dianggap sangat sakral.

Sejauh mata memandang, zamrut itu terbentang luas, meninggalkan sejuta misteri didalamnya. Ketenangan sekaligus ketakutan menghiasi atmosfer hutan itu. beberapa hewan bernyanyi lantang, menyuarakan suara bahwa hutan itu adalah milik mereka.

"Cih, berisik sekali mereka, " Okey, sepertinya aku salah. Rupanya hutan pulau ini ada yang menghuni.

Helaian kuning pucatya itu terlihat. Si empunya surai sedang leha-leha disalah satu dahan sebuah pohon yang sangat besar. Pohon itu terletak ditengah hutan Isola di Silenzio yang luar biasa lebat. Batangnya yang besar dan kasar itu berdiri dengan kokoh, ditopang oleh akar-akar yang besar hingga mencuat ke permukaan. Dahan-dahan besar pohon itu dipenuhi oleh dedaunan hijau yang lebat dan indah. Diperkirakan umur pohon ini sudah ribuan tahun, namun pohon itu masih dapat bertahan hidup.

"Ken, turunlah, bantu aku mencari makanan.." Ujar suara yang pelan dan dingin dari arah tanah. Si surai kuning pucat yang sendari tadi tidur-tiduran diatas dahan, mendongakkan kepalanya kebawah, menatap sosok yang memanggilnya tadi.

"Mengapa harus mengajakku juga? Bukankah Kaki-pi bisa melakukannnya sendiri…" Keluh orang yang bernama Joshima Ken itu kesal. Sementara orang yang dipanggil 'Kaki-pi' itu, atau Kakimoto Chikusa, hanya mendengus pasrah mendengarnya.

"Terserah, biar saja kau kelaparan karena tidak dapat bagian.." Perkataan Chikusa yang acuh itu lantas membuat Ken turun dari dahan pohon itu, tersenyum usil.

"Hehehe, ayo pergi!" Ujarnya sambil berlari kencang mendahului Chikusa.

Chikusa yang pasrah hanya mendengus sambil menaikkan bingkai kacamatanya yang sedikit melorot. Temannya itu memang selalu begitu, disuruh mencari makanan tidak mau, begitu diancam, ia langsung melesat bak pemain sepakbola dari fandom seberang.

"Ttaku, dia merepotkan sekali.." Ujarnya pasrah. Chikusa pun menyibakkan jubah hijau gelapnya dan memutuskan mencari makanan dan Ken.

Ia tidak menyadari kalau sendari tadi, secercah cahaya emerald mengawasinya dibalik rimbunnya dedaunan Isola di Silenzio.

.

.


Park of Peaceful; Millefiore's Palace Park; Millefiore Kingdom Teritory—

Taman itu hanyalah taman bunga dibelakang istana Kerajaan MIllefiore. Sang Guardian of Rain, Bluebell-lah yang menanam semua ini, tentunya dengan bantuan para guardian lainnya. Bunga-bunga itu bermekaran dengan indahnya, menyerbakkan wangi yang harum, ketenangan tiada tara.

Kini Bluebell tengah duduk-duduk dipinggir kolam air yang berair tenang. Kolam itu dibuat ditengah taman bunga itu, untuk sekedar menjadi tempat untuk bersantai atau tempat minum para burung yang lalu-lalang di Kerajaan Millefiore yang terkenal dengan lokasi alamnya yang alami.

CLUP

Bluebell merasakan sensasi dingin dan menyegarkan tatkala kakinya ia celupkan kedalam air kolam. Rasanya, nyaman. Bluebell menutup matanya, meraskan riakan air yang sengaja ia buat dengan kakinya. Tenang sekali rasanya.

"Ah, " Suara Bluebell keluar dari mulutnya, "Aku ingin mencoba sihir baruku!" Ujarnya senang. Ia pun bangkit dari posisi duduk menjadi berdiri di pinggiran kolam.

Ia tarik napasnya, mengembalikan konsentrasinya. Ia buka matanya yang berwarna biru langit, menatap air kolam yang kembali tenang.

"The one who sleep deep in the sea, Dewa Pisces dan Aquarius, Oh Dea della Fortuna, prego ci protegga sempre! Dragon Roll!" Ucap Bluebell lantang. Dan aura berwarna biru langit mulai mengelilingi tubuh kecil Bluebell.

Setelah mantera itu diucapkan, nampaknya kembali tenang, namun sejerumus kemudian, riak dalam kolam itu mulai menggila. Terdengar buni bergemuruh yang besar, getaran Bumi terasa, sebelum air dalam kolam itu berubah menjadi dua sosok naga besar yang terbuat dari air itu meraung keras. Bluebell tercekat. Ia tahu ia belum menguasai jurus yang satu ini.

'Sial sial! Mereka mulai mengamuk!' Rutuk Bluebell ketakutan. Dua ekor naga itu menatap Bluebell dengan mata mereka yang transparan garang. Mereka siap menerjang Bluebell.

Dengan sekali hentakan, dua ekor naga itu lansung bergerak liar menerjang Bluebell. Bluebell menutup matanya, berharap ini hanyalah ilusi. Ia sudah berusaha mematahkan sihirnya, namun gagal.

"Kh—"

….

"….eh?" Dengan ragu, Bluebell membuka kedua matanya. Memberanikan kedua maniknya meratapi hal didepannya. Dan ia sungguh terbelalak.

Didepannya kini, secercah cahaya berwarna orange bening melayang-layang diudara kosong, menghadang kedua moncong makhluk mitologi itu untuk maju lebih jauh lagi. Perlahan, cahaya itu berubah menjadi sesosok anak kecil perempuan berusia 13 tahun. Rambutnya tergerai panjang dengan helaian hitam legamnya menari-nari tertiup angin.

"Rompere." Ujar sang anak dalam logat italia, dan seketika naga air didepannya berubah kembali menjadi butiran-butiran air yang melayang dan akhirnya jatuh berhamburan diatas tanah, dan terserap kedalam.

"Eh? Kau? Siapa kau?!" Bluebell bertanya secara bertubi-tubi pada sosok yang muncul dihadapannya beberapa saat lalu. Sosok itu membalikkan badannya, menunjukkan sepasang iris navy blue yang berkilat hangat. Dilehernya terkalung sebuah batu Kristal berwarna orange terang berbentuk pacifier. Senyumnya hangat.

"Ciao, aku datang atas nama The Strongest Seven.." Ujarnya dengan nada ceria.

.

.


Pasture; Varia Kingdom Teritory—

Tumben-tumbennya raja mereka yang bertampang preman ini mengajak mereka menuju padang rumput ini. Angin semilir berhembus pelan, membawa kedamaian tersendiri. Padang rumput itu terletak tak jauh dari Pegunungan Varia, disebelah selatan pegunungan itu. Padang rumput itu biasa digunakan rakyat untuk memberi makan ternaknya, atau sekedar duduk-duduk diatas rerumputan itu.

"Pasti Xanxus-sama hangover lagi, makanya membawa kita ketempat ini.." Ujar Fran lagi. Ia berjalan pelan kepinggir padang itu, dan duduk diatas rumput itu.

"Shishishi, aku benci mengakuinya, tapi aku setuju sama kodok ini.." Kata Guardian of Storm lengkap dengan cengiran anehnya itu.

"Voi, masih baik dia mau memberi kita waktu istirahat.." Tukas Squalo, matanya masih terkunci pada kertas yang ia genggam. Berisi tentang jadwal latihan mereka yang harusnya, sekarang diadakan.

"Mou yang Squalo katakan benar, memang harusnya kita beruntung.." Tambah Lussuria, disambut anggukan singkat dari Levi.

Mereka kembali terdiam. Menikmati angin yang bergerak pelan, memainkan sedikit rambut mereka. Terdiam sebentar, mengangumi sebentar betapa indahnya kerajaan yang sudah mereka bangun dengan tangan mereka sendiri. Memang sedikit membosankan mengingat kehidupan ini terkesan flat tanpa adanya peperangan yang membakar semangat mereka, tapi terkadang merepotkan juga menghadapi situasi tersebut—

Entah mengapa, mereka memikirkan kemunculan ksatria The Strongest Seven itu.

"Apakah…ksatria itu membawa sesuatu yang baik bagi kita..?" Gumam Fran. Namun gumamannya itu cukup keras sehingga bisa didengar seluruh anggota Varia disana.

"….aku tidak tahu, Fran-chan, tapi sepertinya mereka membawa sesuatu yang baik dan juga yang tidak baik bagi kita.." Ujar Lussuria. Levi hanya diam membisu, sementara Bel dna Squalo terdiam sambil berpikir.

WUUSH

Tiba-tiba secercah cahaya flame mengudara didepan mereka, mereka lentas bangkit berdiri dan masuk dalam posisi waspada, memperhatikan gerak-gerik cahaya berwarna indigo itu. sepetinya itu flame element mist.

Setelah cahaya itu berpendar sebentar, muncullah sosok seorang—bayi, yang keluar dari cahaya itu. Anak itu mengenakan jubah dengan tudung berwarna hitam. Tudungnya itu menutupi setengah wajahnya, termasuk mata anak itu, membuat matanya tidak bisa terlihat. Ia melayang-layang beberapa meter diatas tanah. Dan yang paling menarik perhatian mereka adalah, adanya Kristal berbentuk pacifier berwarnr indigo terkalung di leher kecilnya.

Squalo tercekat, mungkinkah, "…jangan-jangan dia…" Lussuria menutup mulutnya tidak percaya. Levi terdiam dengan tatapan sinis, Fran tetap dengan wajah teflonnya, sementara Bel menyeringai senang.

"Mou ciao, aku datang atas nama The Strongest Seven.." Ujar anak itu.

.

.


Vongola's Dining Room; Vongola Kingdom Teritory—

Jajaran makanan tertata rapi diatas meja makan jati yang panjang itu. Bau makanan yang menggugah selera itu membuat siapa saja ingin segera mencicipinya. Apalagi kalau dibuat trio koki istana, Bianchi, Sasagawa Kyoko dan Miura Haru (jangan tanya mengapa Bianchi ikut andil dalam masakan ini…) . Mata para petinggi Vongola itu berbinar-binar senang.

"Ahahahahaha, kebetulan aku sudah lapar sekali…" Celetuk Yamamoto lengkap dengan cengiran andalannya. Perkataannya mendapat sikutan 'manis' dari kawan badainya.

"Yakyuu-baka, bisakah kau sopan sedikit?" Tanya sang badai dengan nada rendah dinginnya. Yamamoto hanya membalasnya dengan tawa khasnya.

"DASAR JANGAN TERTAWA SEPERTI ITU, AHO!"

"AYO KITA MAKAN TO THE EXTREME!" Ini lagi. Ryohei berteriak dengan semangat '45, membuat Gokudera semakin naik pitam.

"SHIBAFU ATAMA DIAMLAH! KITA HARUS TUNGGU JUUDAIME!"

"APA KAU BILANG, TAKO-HEAD?!"

"BERISIK KAU, SHIBAFU ATAMA!"

TRING

"Kalian…., " Terasa aura hitam-hitam menguar dari dalam tubuh sang Guardian of Cloud yang sudah minim kesabaran, "Kalian, diam, atau kamikorosu!" Ujarnya dengan nada super dingin. Membuat semua (kecuali Yamamoto) berjengit ngeri dan segera bungkam.

"HIEEE!" Teriakan tak kalah kencang bergema didekat lorong menuju ruang makan. Mereka kenal suara ini, ini jeritan Tsuna.

"JUUDAIME!" Gokudera baru akan menyusul Tsuna ketika tiba-tiba pintu ruangan itu meyeblak.

Pintu itu menyeblak lebar, dan sesosok bayangan hitam terlempar tepat saat pintu itu terbuka, dan sosok itu tersungkur dengan wajah mengenai lantai terlebih dulu. Rupanya itu Tsuna, tapi, mengapa ia bisa seperti ini—

"JUUDAIME! ANDA TIDAK APA-APA?!" Gokudera segera berlari menghampiri sang raja dan membantunya berdiri, sementara Tsuna hanya mengelus wajahnya sambil menggumamkan kata 'itte' .

"Herbivores, ada apa?" Satu pertanyaan dari Hibari, dan sosok lain muncul. Semua tertegun melihatnya. Sosok ini sangat berbahaya, pikir yang lain.

Sosok itu mengenakan setelan jas hitam yang ditutupi sebuah jubah hitam dengan topi fedora bertengger menutupi kepalanya. Diatas fedora itu seekor bunglon kecil berwarna hijau bertengger dengan manis ditopi majikannya. Dan yang lebih aneh lagi, orang itu, seorang bayi. Seorang bayi.

Tsuna yang melihat sosok baru itu muncul langsung menghardiknya, "Omae, kenapa kau menendangku secara tiba-tiba, hah?!" Katanya dengan sedikit nada tidak suka didalamnya. Sementara sosok itu hanya menyirengai licik.

"Kau seharusnya tidak boleh berkata seperti itu pada ksatria yang baru saja memilihmu, dame Tsuna." Ujar sang bayi lalu mengangkat fedora-nya, menampilkan sepasang manik hitam kelam.

"Ksatria? Yang memilihku?" Entah memang dame atau dia sedang kelaparan, entah mengapa Tsuna tidak bisa mencerna apa yang bayi itu katakan. Membuat seringai diwajah anak itu makin menyeramkan.

Anak itu tanpa suara menyibakkan jubah hitamnya, dan nampaklah sebuah kristal berwarna kuning terang berbentuk pacifier, bercahaya dengan terangnya.

Guardian yang lain menelan ludah, rupanya, yang selama ini dirumorkan telah datang.

"Ciaossu, aku datang, atas nama The Strongest Seven. Namaku Reborn.." Kata anak itu—Reborn—memperkenalkan dirinya.

Tsuna tertegun. Tertegun lama, hingga manik coklatnya membulat sempurna.

"HIEEEE!"

==TBC==


Lelah sekali…ini sumpah pertama kali Ameru bkin chapter dng words 2000+ _( :'3 saya lelah~ tpi sekaligus puas karena chapter ini sudah jadi~

Ameru jujur merasa senang bisa menghadirkan action sihir yg bagus, soalnya pengalaman, Ameru selalu gagal membuat adegan action. Ini memang berkat pengalaman, benar kata pepatah, pengalaman adlh guru terbaik :'3

Nah, sampai jumpa di chapter 003!

.

.

btw, review ;) ?