Tsuna dan para guardian masih memandang heran dan terkejut sosok bayi yang baru saja mengaku sebagai ksatria The Strongest Seven.
Memangnya bayi seperti ini adalah ksatria…? Itulah yang dipikirkan semua disana—minus Yamamoto—
"Jangan salah paham, karena tubuh asliku diambil, makanya aku mengambil sosok bayi.." Ujar Reborn dengan nada santai sambil melompat dan duduk dipundak Yamamoto.
Semua sweatdrop. Ini bayi bisa membaca pikiran juga.
Tsuna yang sudah kembali sadar membuka pembicaraan, "Jadi, kau benar-benar memilih kami..?" Tanyanya.
"Tentu. Kalian adalah kerajaan terkuat dijaman ini. Tidak ada salahnya, bukan, aku memilih Vongola..?" Tanya Reborn polos.
"Te—tentu saja tidak…" Jawab Tsuna sambil menggaruk pipi canggung. Gokudera kini maju, "Jadi? Hanya kau yang memilih kami..?" Tanyanya dengan kilatan mata tajam. Reborn mengeluarkan smirk mengerikannya, membuat Tsuna berteriak 'hiee' sesaat.
"Setiap ksatria hanya boleh memilih satu kerajaan. Tujuh kerajaan, tujuh ksatria, bukankah itu terdengar indah..?" Mulailah kalimat melankolis dari Reborn. Hibari berdecak kesal.
"Boleh kami tahu sedikit tentang temanmu yang lain..?" Kali ini Tsuna yang angkat bicara, "Tentu saja, kau malah berhak untuk tahu, " Ujar Reborn santai.
"Kami, The Strongest Seven, terdiri dari tujuh orang ksatria terkuat selama empat abad lebih…, boss kami, adalah seorang healer, pemegang sky pacifier, lalu dilanjutkan aku, pemegang sun pacifier, aku adalah seorang hitman dan penembak jitu, " Ujar Reborn, lalu tangan kirinya menengadah dan Leon berada diatas tangannya, sontak berubah menjadi sebuah revolver bergradasi antara hitam dan hijau lumut.
"Ah, senjatamu revolver dan peluru rupanya. Menarik, bocah Arcobaleno.." Ujar Mukuro lengkap dengan wajah tertariknya. Tsuna berbalik menatap kedua iris beda warna itu, "Arcobaleno?"
Reborn mengusap pistol Leon itu sebentar, "Kau bisa memanggil kami begitu.., karena tujuh warna dari elemen dunia ini membentuk tujuh warna pelangi.." Katanya. Tsuna ber'ooh' ria.
"Ini akan sulit, karena kita berhadapan dengan tujuh ksatria terkuat.." Ujar Ryohei, dengan nada seriusnya. Dibalas anggukan yang lain.
Reborn menurunkan fedora-nya sedikit, menyembunyikan tatapan matanya yang sulit dibaca, "Tentu saja. Ini, akan menentukan nasib kerajaan kalian.." Ujarnya dengan smirk yang tidak bisa dibaca pula maksudnya.
.
.
LEGEND OF ARCOBALENO
Genre : Avendture, supernatural, action, mystery
Rate : T…?
Setting : AU!KingdomPalace, current!Verse (except Lambo)
Warnings : Typo(s) , SPOILER! , bahasa dan alur berantakan, OOC nyelip, sho-ai nyelip, de-el-el
.
.
#HappyReading!
.
.
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
FanFiction © Ameru-Genjirou-Sawada
—King's Room; Millefiore Kingdom Teritory—
Byakuran Gesso hanya terdiam dengan wajah datar seraya meneliit sosok baru yang menyelamatkan Bluebell tadi. Sementara anak yang kurang lebih berusia 13 tahun hanya terdiam sambil tetap menyunggingnya senyum.
Byakuran sendiri masih berkutat dengan pikirannya. Baginya, anak didepannya ini bukanlah anak biasa, karena tidak sembarang orang bisa mematahkan sihir seperti yang ia lakukan barusan. Apalagi ia memiliki kristal pacifier dalam genggamannya, berarti, ia adalah orang yang telah dirumorkan selama ini, dan kalau ia datang berarti—
"Ada yang salah dariku, Byakuran-sama..?" Tanya anak itu akhirnya. Byakuran segera tersadar dari lamunannya dan hanya menggeleng, lalu senyum innocent-nya kembali.
"Tidak, kau bukan musuh. Dan, apa benar kau ksatria yang dirumorkan selama ini..?" Tanya Byakuran dengan lembut, dibalas anggukan dari anak itu.
"Ha'i, saya boss dari ksatria terkuat, The Strongest Seven, yaitu Arcobaleno, nama saya Yuni, salam kenal, Byakuran-sama.." Ucapnya seraya memperkenalkan dirinya. Byakuran kemudian berdiri, menyibakkan jubah light violent-nya sejenak, sebelum berdiri tepat disebelah kanan Yuni, "Jadi, kau memilih kami demi memenangkan tubuhmu, hm~?" Tanyanya. Manik violent-nya berkilat senang.
"Ha'I desu, tapi…tidak hanya itu saja.." Yuni menatap wajah samping Byakuran dengan polos.
"Hm~?" Gumam Byakuran, "Jadi apa yang kau inginkan~?" Tanyanya dengan nada innocent-nya. Yuni mengangguk senang.
.
.
—Unknown Place—
Gelap, dan tidak ada apapun disana. Hanya terang cahaya bulan biru yang menerangi tempat itu. Terlihat, tembok-tembok yang mengelilinginya sudah berlubang dan retak. Retak, dikarenakan erosi oleh air yang nampak mengalir pelan menerobos retakan itu.
Ditengahnya, sebuah air terjun besar mengalir pelan. Disekitarnya, tumbuhan merambat serta lumut banyak tumbuh dan menutupi tempat itu, menambah kesan misterius pada tempat itu. Dan aliran sungai kecil dari air terjun itu nampak tenang, namun menghanyutkan.
Terdengar suara 'tap' kecil, dan seketika muncullah sosok baru ditempat itu. Ia berpijak pada sebuah batu besar yang berada ditengah aliran sungai itu. Jubah hitamnya membuat bayangan wajahnya tertutup. Ia menatap bulan biru yang menangunginya.
"Permainan kini telah dimulai.." Ucapnya pada dirinya sendiri, masih menatap bulan biru itu. Lalu ia terdiam sejenak, menyadari kalau sesosok bayangan lain sudah setengah berlutut dibelakangnya, seringai kecil terlihat diwajahnya.
"Persiapan telah siap, " Ujar bayangan dibelakangnya. Wajahnya menengadah sedikit, dan terlihatlah kedua manik coklat gelap yang menatap dengan penuh kekosongan. Bayangan didepannya mengangguk singkat.
"Pertarungan yang sudah lama hilang, kini, akan bangkit dan ambisiku selama ini akan tercapai.." Sambil melebarkan kedua tangannya, ia hirup udara kala itu. Lalu terdengar tawa yang lengking membahana ditempat itu.
"Ya, Anda benar sekali…, " Ujar sang bawahan dibelakangnya, ia turunkan tudung yang menutupi wajahnya, dan kali ini helaian dark navy blue yang panjang menjuntai kebawah, dan diwajah sebelah kanannya terlihat bekas luka bakar.
.
.
—Unknown Forest; Around Vongola Kingdom Teritory—
Terdengar suara 'tap' beraturan yang menggema diantara dedaunan hutan yang hening. Suara itu lalu berhenti, kaki tegap sosok bertudung itu memijak salah satu dahan pohon yang kokoh, menyokongnya agar tidak jatuh ke tanah.
Napasnya tersengal, manik sapphire-nya mengitari sekitarnya dengan awas. Sejenak ia terdiam sambil tersengal, lalu ia mengelap peluh yang mengucur deras dari keningnya. Ia sibakkan tudungnya itu, dan nampaklah helaian blonde cerah. Bandana bercorak hijau gelap dan hitam terlilit dikeningnya.
"Haah, haah, sedikit lagi, kora.." Gumamnya. Ia ambil napas dalam lagi, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Tidak peduli dengan pertempuran memperebutkan tubuh, kora, aku harus segera bertindak.." Tambahnya lagi pada dirinya sendiri. Kedua irisnya meredup sejenak.
"Kerajaan Vongola, sudah didepan.." Lalu ia kembali berdiri dari posisinya, setengah berlutut. Tangannya ia tumpukan pada batang pohon yang ia pijaki. Matanya menerawang jauh, memastikan bahwa ia ada dalam jalan yang benar.
Seketika ia sudah terbang, berpijak dari satu dahan ke dahan lain. Menyibakkan jubah lusuhnya dan memerlihatkan benda bening yang bersinar ketika cahaya matahari menerpanya.
Kristal pacifier berwarna biru langit.
.
.
—Guardians' Room; Varia Kingdom Teritory—
Xanxus menatap malas sosok bayi yang kini berdiri diatas meja rapat. Bayi itu, memiliki kristal pacifier berwarna indigo dan berpenampilan seperti para dark gypsy. Walaupun mencurigakan, Xanxus yakin bayi didepannya ini bukanlah musuh. Energy yang dipancarkan bayi ini juga tidak biasa. Kuat, pikirnya. Xanxus berdehem singkat.
"Kau menarik, sampah, " Ujsar Xanxus seraya membetulkan posisi duduknya, "Tapi aku tidak peduli dengan tujuanmu, kau kuat, bergabunglah dengan kami.." Tambahnya. Ucapannya menimbulkan keterkejutan dari guardian lain.
"Muu, namaku Mammon, " Bayi itu memperkenalkan dirinya singkat, "Aku ingin, tapi apakah itu bisa diwujudkan, itu masih misteri.." Ujar Mammon.
"Kenapa tidak?" Tanya Squalo.
"Karena kalau aku kalah, maka aku akan menghilang.." Balas Mammon dengan wajah datar. Para guardian terhenyak, lupa akan akibat bila mereka kalah dalam pertempuran ini.
Xanxus tertawa keras.
"Xanxus-sama?" Mammon hanya mentap Xanxus dengan datar.
"Sampah, " Xanxus kembali berujar, lengkap dengan smirk-nya yang mengerikan, "Aku raja, dan kau tidak bisa melawanku, apalagi kau hanya bocah, sampah.." Kali ini nadanya terdengar mengintimidasi.
Squalo menghela napas lelah, 'Orang ini, begitu ambisinya muncul, apapun akan ia lakukan, dasar bodoh..' Gumamnya seraya facepalm.
"Tapi, Xanxus-sama…" Mammon hendak berujar lagi, namun manik ruby yang menatapnya tajam dan berbahaya mengurungkan niatnya untuk buka mulut, "Muu, mungkin itu bisa dicoba.." Kilahnya. Namun walaupun ia berbicara seperti itu, keraguan merayapi diri Mammon.
Ia memilih kerajaan yang berbahaya.
Dan Xanxus tersenyum penuh kemenangan.
.
.
—Palace's Royal Garden; Vongola Kingdom Teritory—
Tsuna hanya diam dan terduduk diatas tanah berumput itu, mencoba mencerna semua kejadian yang terjadi. Ia pijit keningnya yang berdenyut sakit. Intuition-nya mengatakan bahwa tidak hanya Reborn yang akan datang padanya, namun ada lagi yang lebih mengejutkan.
Melihat kedatangan Reborn, itu berarti secara tidak langsung pertempuran telah dimulai. Itu menurut pemikiran Tsuna, karena sampai sekarang tidak ada laporan penyerangan dari masing-masing batalyon. Entah karena masing-masing Arcobaleno tidak mengetahui posisi rekan mereka, atau karena mereka kini telah menyusun strategi yang absurd dikepala Tsuna.
'I—ini berbahaya! Apa nantinya aku akan melawan aliansiku sendiri…, tapi, itu berarti nyawa rakyat ada dalam bahaya?! Gaah, aku pusing!' Batin Tsuna meracau. Ia meringis kesakitan, merasakan denyut dikeningnya makin menjadi.
'Dari informasi yang Reborn berikan, sang boss adalah seorang wanita, lalu ada lagi seorang dari mereka yang merupakan master matrial arts, ada juga daripada mereka yang merupakan seorang ksatria militer, seorang genius, seorangnya lagi mempunyai kemampuan seperti Mukuro, dan seorang lagi adalah orang yang tidak pernah terluka walau sudah dihujam ledakan…., mereka benar-benar berbahaya…' Batin Tsuna lagi.
Benar, mendengar kesaksian Reborn, nampaknya ini akan menjadi sulit. Apalagi mengetahui kemampuan Arcobaleno lain semakin menyudutkan Tsuna. Ia tahu kerajaannya adalah kerajaan besar dan kuat, tapi tetap saja ia juga berhadapan dengan kerajaan yang mungkin setingkat dengan Vongola.
KRESEK
"Ha—ah?!" Tsuna terperanjat dari lamunannya. Sepertinya, ia tidak sendirian disana.
Tsuna hunuskan pedangnya pelan dari sarungnya, lalu berjalan mendekati semak-semak yang bergemerisik tadi. Pandangannya waspada, dan terus meaju selangkah demi selangkah. Seketika ia sudah beberapa sentimeter didepan semak-semak itu. Semak itu kembali bergemerisik.
"TUNGGU, KORA!"
"HIEEEE!" Teriakan khas terlontar dari mulut Tsuna tatkala dari semak itu muncul sosok bayi yang berteriak padanya. Apa? Tunggu, bayi?
Tsuna segera tersadar, "Ano, kau…bicara padaku barusan..?" Tanyanya pada sosok itu. Bayi itu keluar dari semak dan membersihkan debu dijubahnya sebentar, kemudian mengangguk dalam diam.
"Aku mencarimu, Raja Vongola kesepuluh, " Bayi itu menyibakkan jubahnya dan nampaklah kristal pacifier berwarna biru langit, Tsuna menganga, "HEE?! KA—KAU ARCOBALENO?!" Jeritnya makin menjadi.
"Kau berisik sekali, kora, " Sindir bayi itu sambil menutupi lagi kristalnya lagi dengan jubahnya, "Kau benar, aku salah satu ksatria Arcobaleno, Collonello, kora.." Katanya memperkenalkan diri. Tsuna balas dengan anggukan.
"Tapi, kerajaanku sudah dipilih oleh ksatria lain…" Tsuna menggaruk pipinya canggung, ia tidak ingin menyinggung orang didepannya ini.
"Aku tahu, kora, " Balas Collonello, yang mengejutkan bagi Tsuna, "Ka—kau sudah tahu..? lantas—"
"Aku datang kesini untuk beraliansi dengan Vongola, kora, " Potong Collonello, "Kau boleh tahu, aku beraliansi dengan kakak jauhmu.." Tambahnya.
'Ah, rupanya dia memilih Cavallone…' Batin Tsuna. Tapi dalam hatinya, ada rasa penasaran yang menggelitik Tsuna, ia pun hendak membuka mulut.
"Kau disini, Collonello, " Namun suara yang Tsuna kenal memaksanya untuk menutup mulutnya. Itu Reborn.
Kedua bayi itu berdiri berhadapan dengan tatapan sengit. Kalau secara imajiner, terlihat petir kecil menyambar dari kedua mata mereka.
"Aku tahu kau akan datang, Collonello, " Ujar Reborn sambil menjedukkan keningnya ke kening Collonello, "Kau pikir aku tidak tahu, kora, " Balas Collonello plus hantaman kearah Reborn.
"Kupikir begitu, karena dari dulu, otakmu itu pentium.." Hantaman lagi dari Reborn.
"Otakku masih bagus, kora, " Hantaman lagi.
"Ohya? Kau 'kan idiot, " Hantaman lagi.
"Aku bukan idiot jadi maaf.." Hantaman lagi. Kali ini sebuah tangan merengkuh dan memisahkan kedua rival itu.
"Ma—maaf, mungkin kita bisa bicara didalam.." Ujar Tsuna yang masih ber-sweatdrop melihat aksi Reborn dan Collonello yang aneh.
"Dame Tsuna benar, kita kedalam.." Titah Reborn dan sesaat kemudian ia melompat turun dari gendongan Tsuna dan berjalan mendahului kedua orang itu.
Tsuna sweatdrop.
.
.
Semua guardian telah berkumpul disekitar meja bundar itu, tak terkecuali Hibari dan Mukuro—yang notabene akan menghindari pertemuan semacam ini. Collonello dan Reborn duduk diatas meja, sementara Tsuna menengahi mereka—antisipasi aksi hantam-menghantam kepala diantara mereka.
"Aneh, " Gokudera membuka pembicaraan, "Bukankah para Arcobaleno saling bertarung dalam pertarungan ini? Mengapa kau malah meminta aliansi pada kami..?" Tanyanya dengan nada penuh kecurigaan. Collonello menghela napas.
"Pertama, karena jika aku beraliansi dengan sesama Arcobaleno, keuntungan akan berlipat." Jelas Collonello sambil melipat tangan. Kini gantian Yamamoto yang bingung, "Keuntungan berlipat?"
"Itu benar, Guardian of Rain, " Jawab Collonello, "Kalau kita menggabungkan kekuatan, risiko kekalahan akan berkurang, dan kerajaan kalian tidak akan begitu tersudut.." Tambahnya. Dibalas anggukan dari para guardian.
"Kedua, karena Raja Cavallone kesepuluh sangat menyayangi Vongola, " Collonello kembali mengutarakan ucapannya, "Ia tidak ingin bertarung dengan Vongola, maka dari itu ia memintaku memberitahukan ini pada kalian.."
Tsuna menghela napas. Setidaknya, ia tidak akan bertarung dengan kakaknya sendiri.
"Hahaha, Dino-san sangat baik..!" Ujar Yamamoto girang.
Tapi kembali, sesuatu yang mengganjal bergejolak dihati Tsuna, "Tapi, apa ini…tidak melanggar aturan..?" Tanyanya ragu.
"Heh, dame, " Balas Reborn sarkastik, membuat Tsuna agar kecut karenanya, "Selama tidak ada yang melihat, sah saja jika bekerjasama.." Ujarnya penuh keringanan.
"Lagipula aku tidak ingin melihat kerajaan lemah kalah begitu saja, aku patut kasihan.." Ujar Reborn—yang sangat sarat akan sarkas.
'TEME, KERAJAAN KAKAKKU TIDAK SELEMAH ITU! KALAU KAU BUKAN BAYI YANG KUAT SUDAH KUPATAHKAN LEHERMU..!' Batin Tsuna dengan nada psikopatik. Namun racauan batinnya tercekat setelah mendapat tatapan maut gratis dari Reborn.
"Hooh, kau mau mematahkan leherku, hm..?" Tsuna menganga nelangsa, ia lupa kalau Reborn bisa membaca pikiran.
BUAK
"ITTE! MA—MAAFKAN AKU, DEH! LEPASKAN AKU!" Teriak Tsuna nelangsa ketika Reborn menendangnya dan memelintir lengannya kearah belakang. Lalu kehebohan pun pecah.
"JUUDAIME!"
"Ahahaha, sepertinya menyenangkan..~"
"YAKYUU-BAKA, INI BUKAN HAL YANG MENYENANGKAN!"
"KYOKUGEN!"
"Kufufu, kalian berisik sekali.."
"Nanas, kau diam, atau kamikorosu."
"Hooh, kau mau duluan..?"
Collonello facepalm mendengar riuh pertengkaran yang 'sangat' akrab ini. Sejenak pandangannya menanar, Collonello sangat akrab dengan perasaan dan keadaan ini. Hangat. Dulu, ia dan teman-temannya sesama Arcobaleno juga melakukannya bersama. Bercanda selayaknya anak kecil.
BRAK
Pintu ruang rapat itu terbuka dan membuat semua penghuni didalamya terdiam. Seorang pengawal berjubah hitam pekat datang dan membungkuk singkat pada Tsuna.
"Ada apa?" Tanya Tsuna. Pengawal itu mengangguk.
"Ha'i. Byakuran Gesso-sama, dari Kerajaan Millefiore, ingin bertemu dengan Anda, juudaime." Lapor sang pengawal. Alis Tsuna naik sebelah.
"Byakuran..?"
==TBC==
Makin greget aj neh crita -.- makin lelah juga nulisnya wkkwk
Ga nyangka udah nyampe perkenalan maha singkat Arcobaleno! Adegan actionnya emng blom ditampilin disini, smoga dichapter brikutnya bnyk adegan actionnya! Biar greget! Banzai! *nari samba sambil bawa bendera*
Sampai jumpa dichapter berikutnya~!
