Dislcaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning: OOCness, Typos, Crack, AU, supranatural.
a/n: tadinya saya mau bikin 2 shoot, tapi ternyata ngga bisa. Mungkin bakal jadi 3 chap. Warning, chap ini Madahinanya sedikit. :p
.
.
Prodigy merupakan sebutan bagi mereka yang mempunyai bakat laten tertentu dalam suatu hal. Sebuah pengecualian. Keajaiban yang hanya datang seratus tahun sekali, ~atau lebih. Uchiha Itachi merupakan salah satu yang mengantongi sebutan itu. Presisinya dalam membuat rencana, mengetahui resiko, menanggulangi kerugian seminimal mungkin sudah menjadi insting baginya.
Jika menyelesaikan masalah pribadinya saja dia tidak bisa, bagaimana pertanggung jawabannya atas gelar itu?
Wajahnya masih sekaku biasa, cenderung angkuh. Hanya Hinata yang mampu melihat ekspresi sejati Uchiha sulung ini. sekalipun kini otaknya bisa memastikan kemungkinan Hinata masih bernapas hanya 0,00002% dia tidak akan menyerah.
"Bagaimana, Sasuke?" tanyanya sambil bersedekap di mobil.
"Tim investigasi menemukan sobekan baju di sungai. Kemungkinan itu baju Hinata. Tapi sungai itu bermuara ke laut, dan sebelum itu ada air terjun yang arusnya deras. Meskipun saat jatuh Hinata masih hidup, dia tidak mungkin selamat melewati air terjun, lagipula dia tidak pandai berenang. Maaf …," ucap Sasuke lamat-lamat sambil memperhatikan wajah kakaknya yang berkerut makin dalam.
Tiba-tiba seseorang berpakaian hitam membawa anjing menyantroni mereka.
"Uchiha-san, kami menemukan ceceran darah di jalan setapak tidak jauh dari sungai. Dilihat dari tingkat kekeringannya, diperkirakan waktunya cocok dengan waktu kejatuhan."
Itachi tersenyum samar. Sasuke benci harus mematahkan semangat kakaknya, tapi dia mencegah Itachi berharap lebih jauh. Karena pasti sakit sekali jika jatuh lebih dalam pada harapan kosong.
"Apa itu bukan darah binatang?"
Seperti sudah menyiapkan jawaban dari pertanyaan Sasuke orang itu menjawab, "Kami sudah memastikan bukan. Kalau boleh saya tahu, apa golongan darah Hyuuga-san?"
"A, resus Negatif," jawab Itachi.
"Kalau begitu besar kemungkinan itu darah Hyuuga-san. Darahnya A dan resus negatif. Jika Uchiha-san belum yakin kita bisa melakukan tes dna di rumah sakit pusat Tokyo."
Itachi bergumam. "Man proposes, God disposes. Tidak, aku yakin itu Hinata. Telusuri saja jejaknya."
"Hai."
.
.
.
Fajar sudah menyingsing. Cahaya mentari berpendar melalui ventilasi kecil yang ditempatkan hampir menyentuh langit-langit. Hinata terbangun dengan merasakan perih di sekujur tubuhnya, jarinya sudah tak berdarah namun kotor oleh debu. Tubuhnya tidak biasa berolahraga tapi tiba-tiba bisa berenang melawan arus. Lalu akhir perkelahian dengan Hikari menimbulkan memar di kaki yang baru saja timbul.
Gadis itu merintih menahan ngilu, nyeri dan perih di sekujur tubuhnya pada saat bersamaan. Saat mengendarkan pandangan, rasa sakitnya digantikan takut yang hebat.
Dia berada di neraka.
Tengkorak memakai baju bergelimpangan di lantai dansa. Udaranya pengap sekali, tertutup debu orang mati. Ketika menoleh dia histeris melihat tengkorak lain di sampingnya. Dari bajunya dia mengenali tulang itu sebagai Madara.
"Hikari?" ucapnya pelan. Tidak ada jawaban.
Dia kini benar-benar sendiri. Hinata ketakutan. Dia merasa Hikari sedang berduka di sudut sempit pikirannya. Menggelung diri bagai bola.
Aku tidak bisa begini terus. Aku harus keluar sebelum matahari terbenam.
.
.
Investigasi selama beberapa jam berhasil membawa Itachi ke depan puri. Puri yang mengerikan karena tak terurus. Namun terlihat masih kokoh. Dia bertanya-tanya, apa mungkin Hinata ada di tempat seperti ini?
Mobil yang berderet-deret di depan puri menarik perhatian seseorang. Pak tua berwajah sendu ingin tahu apa yang dilakukan orang asing dengan memandangi puri milik tuannya. ~mantan tuannya.
Pandangannya tertuju pada dua orang Uchiha. Karena sudah berpengalaman hidup lebih lama, tidak sulit mencari orang yang paling berkuasa dengan mata cokelatnya yang menjorok ke dalam.
"Summimasen, saya Kosuke Maruboshi. Ada keperluan apa tuan-tuan datang kemari?"
Sasuke menoleh. "Kami mencari seorang gadis. Apa kau pernah melihatnya di sekitar sini?" Sasuke menyodorkan foto Hinata.
Kosuke Tersentak. Foto gadis itu terjatuh.
"H-hikari-sama?!" Itachi yang tadi hanya memperhatikan kini menaruh perhatian terhadap yang dikatakan Kosuke.
"Apa Maksud Anda? Siapa Hikari?"
Kosuke menelan ludah yang terasa berduri. Dia masih mencoba memulihkan diri dari keterkejutan.
"Gadis ini … dia sudah lama meninggal, tuan." Sasuke mengerutkan dahi.
"Dia calon isteri kakakku, baru kemarin dia terjatuh dari tebing. Mana mungkin dia sudah lama meninggal!" tukas bocah berambut pantat bebek itu kasar. Sejatinya dia tidak percaya hal-hal konyol supranatural. Apa yang terlihat itulah adanya. Pengagung materialis.
"Kosuke-san, tolong jelaskan apa maksud anda, kami diburu waktu mencarinya."
.
.
Hinata melucuti baju abad pertengahan yang dia pakai. Menggantinya dengan gaun pendek yang memudahkannya bergerak. Warnanya hitam selutut. Walaupun dikibas berkali-kali tetap saja berdebu. Juga sepatu yang ukurannya begitu pas.
"Maaf, Hikari, aku pinjam baju dan sepatumu."
Gadis itu menggelung rambutnya denga tusuk indah berhias bunga.
"Maaf Hikari, aku pinjam tusuk rambutmu."
Dia tidak akan menyerah. Dia tahu Itachi mencarinya. Dia harus selamat keluar dari sini. Sekali sudah bertekad dia adalah tipe yang tidak bisa mundur hingga tercapai tujuan. Tekadnya kokoh bagai baja.
Kini dia tahu kebenarannya. Dia dijadikan inang oleh roh tersesat karena tubuhnya begitu mirip, mungkin wajahnya juga. Semua itu memusingkan, tapi Hinata mengabaikannya. Dia bisa memikirkan itu setelah berhasil keluar hidup-hidup dari puri setan ini.
Langkahnya menggema di lorong. Dia membuka pintu satu per satu. Menemukan kamar besar dengan perpustakaan tinggi. Laboratorium yang hancur. Dapur yang dulunya mungkin indah. Dan terakhir dia mencari alat-alat pertukangan yang biasa diletakkan dalam ruang sempit di dapur.
Ini pertama kalinya dia memegang kapak. Gaganya terasa mantap. ~walau berdebu. Hampir saja Hinata mulai terbiasa dengan apapun yang berdebu ketika dia sentuh. Sebelum keluar dia menyempatkan mencuci muka. Beruntung airnya jernih. Dia meneguknya banyak-banyak setelah kehabisan cairan. Tenggorokannya sudah basah. Dan kini dia punya sedikit tenaga.
Hinata memutari puri, mencari pintu lain selain pintu tempat dia masuk. Karena mustahil menghancurkan pintu setinggi dua meter berbahan kayu setebal mungkin tujuh senti.
Nihil. Ternyata memang itu satu-satunya jalan keluar dan masuk. Puri ini pasti ditempati orang yang gila privasi.
Meskipun harus melewati tulang belulang, dia maju menghantam engsel pintu sekuat tenaga. Tidak terjadi apapun. Dia mengumpulkan tenaga untuk pukulan kedua.
.
.
.
Kosuke menatap jauh ke titik imajiner, berusaha menggali kenangan lama yang suram.
"Hari itu Senin, tanggal dua belas Maret. Mungkin sekitar tahun 78, karena ingatan saya yang sedikit kabur. Tapi saya tidak salah tanggalnya. Madara-sama mengadakan pesta pertunangannya dengan Hikari-sama di puri itu. Hanya saya satu-satunya pelayan yang dia punya. Madara-sama~, dia sulit sekali percaya pada orang. Tapi saya diangkat dari jalanan dan diselamatkan, saya berhutang nyawa padanya," Kosuke meresapi kalimatnya, terdapat kerinduan dalam bola mata cokelat kabur itu.
"Dia membuatkan saya rumah di ujung jalan ini, jadi saya mudah mendatanginya jika dia punya keperluan. Ah … saya melantur. Jadi, hari itu saya menyiapkan berbagai jenis hidangan, musik dinyalakan pelan, pesta topeng digelar. Itu permintaan Hikari-sama. Dia orang yang sedikit aneh dan tertutup, cenderung kasar, tapi tidak pada Madara-sama. Madara-sama dan dia saling mencintai. Seaneh apapun permintaan Hikari-sama, Tuan saya selalu menuruti, terkadang hingga batas tertentu. Sayang sekali orang tua Hikari-sama tidak menyukai Tuan saya." pak tua itu menghirup napas karena terlalu banyak bercerita.
"Apa yang terjadi?" tanya Sasuke tidak sabaran.
"Cuacanya terlihat seperti hari ini, sedikit mendung."
Sasuke melihat awan. Begitu cerah. Orang tua ini pasti ling-lung.
"Madara-sama menunggu gadis itu. Terlalu lama hingga para tamu ingin pulang. Tetapi karena Madara-sama punya otoritas dan pancaran kharisma yang kuat, para tamu enggan. Mereka menunggu hampir lima jam, terus berdansa. Saya masih ingat mereka memutar prelude C major, Bach. Madara-sama menyuruh saya pulang entah kenapa, tapi saya tidak perlu bertanya, jadi saya mematuhinya. Tiba-tiba ketika berjalan saya mendengar suara ledakkan yang keras. Saya berlari menghampiri sekuat tenaga. Di sana, mobil yang sangat saya kenal, mobil Hikari-sama terbakar hebat. Saya berusaha menyelamatkan Hikari-sama, dia memang bisa keluar, tapi sudah tidak punya waktu lagi. Dia meminta maaf karena tidak tepat janji pada Madara-sama. Orang-orang dari klan Hyuuga berdatangan."
"Tunggu, kenapa Hyuuga punya urusan?"
"Ah … memang insiden itu cukup mengerikan, tidak pernah dipublikasi, tapi Hikari-sama merupakan bagian dari klan Hyuuga. Tentu saja mereka mengurus Hikari-sama."
Itachi terlihat berpikir. Hyuuga, ya?
"Sangat berat menyampaikan berita duka ketika Tuan saya sedang berbahagia. Tapi seakan sudah tahu~, ketika saya mengetuk pintunya, dia menampakkan wajah duka yang tidak pernah saya lihat. Dia menyuruh saya pulang tanpa menanggapi kabar yang saya bawa. Dia berpesan kepada saya untuk datang tiga hari kemudian. Saat itu saya berpikir cara apa yang mungkin dilakukan Madara-sama untuk membubarkan pesta itu."
"Sebentar, apakah Madara itu seorang Uchiha?"
Kosuke terperangah mendengar Itachi, Sasuke sendiri terperanjat atas pertanyaan konyol kakaknya. Itachi mengingatkan Kosuke akan seseorang. "Ya, bagaimana Anda tahu?" Itachi tidak menanggapi. Hanya terus menyuruh Kosuke melanjutkan cerita.
"Ya, jadi saya hanya menunggu selama tiga hari. Saya kembali datang mengetuk pintu Madara-sama tapi tidak ada jawaban. Saya tidak tahu apa yang menunggu di balik pintu, tetapi saya merasa ketakutan. Saat saya membuka pintu …," Kosuke terlihat tak mampu melanjutkan cerita, tapi dia berusaha. Karena sepertinya dia perlu bercerita.
Sosok lelaki berpakaian hitam berbadan kekar mendekati mereka untuk mengintrupsi.
"Uchiha-san, proses penghancurannya akan segera dimulai."
Kosuke menganga. Pertama karena mendengar marga itu setelah sekian lama, yang kedua karena puri tuannya akan dihancurkan?
"Segera lakukan, sepertinya benar apa katamu, hari akan hujan," sahut Sasuke. "Jadi apa yang ada di balik pintu, Kosuke-san?" tanya Sasuke.
"Tuan saya ilmuwan. Dia sering melakukan percobaan aneh pada hewan. Terkadang saya melihat tulang tikus di laboratorium, katak mati kering padahal baru sehari~ saya tahu karena saya yang membawakannya hewan-hewan itu. Intinya Madara-sama menciptakan sesuatu yang jauh dinalar entah untuk apa dan untuk siapa. Jadi ketika saya membuka pintu, saya menyaksikan gelimpangan manusia mati kering. Raganya yang sehat bagai terhisap entah kemana hanya dalam waktu tiga hari. Mereka semua seperti mumi. ~begitu pula Tuan Madara, dia bertengger apik di kursi kekuasaannya menonton orang-orang itu. Mereka mati, tanpa pernah membusuk, tanpa bau, seperti sudah dibalsem berabad-abad. Begitu pula Madara-sama. Hidup tanpa Hikari baginya mungkin neraka, Hikari-sama adalah heroinnya. Dan saya kira kisah yang sama terulang lagi di sini. Apa mungkin wanita yang anda cari merupakan Hyuuga?"
Itachi tersenyum. "Anda benar. Dia Hyuuga, seorang heiress."
"Tapi aku bertaruh Hyuuga sudah lebih longgar menerima Uchiha, selalu ada pelajaran dari tiap kejadian."
"Anda benar lagi. Tidak ada halangan aku mencintai Hinata."
Kosuke berbalik pelan. "Yah … sayang sekali, andai saja Madara-sama hidup di masa yang berbeda. Mungkin dia akan menemukan kebahagiaan seperti anda, saya permisi."
"Kosuke-san, anda tidak keberatan puri ini saya hancurkan?"
"Sekalipun saya keberatan, saya tidak yakin Uchiha-san peduli. Karena begitulah Uchiha bertindak. Saya permisi. Pintu itu sudah lama tertutup, dari dalam. Kalau boleh saya meminta, kuburkan Madara-sama dengan layak. Saya tidak berani menyentuhnya, hidup atau mati. Dia tuan saya yang berharga."
"Kosuke-san, kenapa kau tidak menguburnya sendiri?" Sasuke menyuarakan rasa penasarannya.
Kosuke tersenyum sambil berlalu. "Madara-sama hanya menyuruh saya melihat. Tidak menyuruh saya berbuat apapun, tugas pelayan hanya patuh pada tuannya. Dan sepertinya dia lebih senang begitu. Menunggu Hikari-sama datang."
.
.
.
Benar saja, cahaya matahari berangsur ditutupi awan tebal, Itachi berlindung ke dalam mobil tapi terus menyuruh sepasukan orang menghantam pintu dari luar. Sedikit demi sedikit usaha itu membuahkan hasil. Dan hujan pun turun deras sekali disertai Guntur menggelegar. Sasuke menyuruh orang-orang itu berhenti.
Hinata mendengar orang mengkapak dari luar. Itu, Itachi! Itu pasti Itachi!
Hinata diliputi rasa tenang. Tapi hanya sebentar karena setelah itu dia melihat cahaya matahari hilang dari ventilasi. Semuanya kembali gelap. Gadis itu ingin menangis. Perlahan music prelude no. 1 major C karya Bach mengalun dari gramofon. Menciptakan kekosongan yang dalam bagi siapapun yang mendengar. Kakinya bergetar, lumpuh lalu terjatuh ke lantai dingin penuh debu.
Lampu dinyalakan dengan tepukan. Sosok itu kembali bangkit dari kematian.
"Hikari …," panggilnya pada gadis yang terduduk di lantai.
Para hadirin kembali berdansa dengan gubahan Bach. Hinata mengkerut. Semua kegilaan ini terhidang di hadapannya. Bagaimana dia harus bersikap?
"Hikari … kekasihmu kembali …," kata Hinata pelan. Tapi gadis di kepalanya terus bergelung rapat.
Madara melingkarkan lengannya di belakang punggung Hinata, menarik tubuhnya mendekat hingga jarak wajah mereka hanya sejengkal.
"Kemana dia?"
"Tidak tahu … dia tidak mau bicara padaku."
.
.
.
To be continue
An: arigatou reviewnya minna. Maaf ngga bisa bales satu-satu. Maaf juga chap ini madahinanya seupil *_*. Jika tidak ada halangan, chap terakhir diupdate dalam waktu seminggu.
