.

Internet university dot com

A SasuSaku fiction

Naruto©Masashi Kishimoto

Internet university dot com©Nurama Nurmala

Warning : Typo(s), OOC, Alternate Univers, Another 'abal' story


Cerita sebelumnya….

DRAP!

DRAP!

DRAP!

Terdengar dengan jelas suara derap langkah Sakura ketika dirinya berlari menyusuri koridor asrama. Beberapa siswa yang sedang berjalan-jalan memandang Sakura dengan rasa penasaran yang tinggi, namun Sakura tak memedulikannya, ia terus saja berlari hingga sampai di belokan.

"Aku tak menyangka kau juga akan berada di sini," Sakura segera menghentikan langkahnya setelah mendengar seseorang sedang berbicara di balik belokan koridor. Dengan ragu, Sakura berusaha mendekat dan menempelkan tubuhnya di sisi dinding yang lengang.

"Kau juga, bukankah kau sibuk dengan perusahaanmu?" si lawan bicara menanggapi dengan jawaban tak kalah ketusnya. "Apa Hinata juga ada di sini?"

"Itu bukan urusanmu," suara satunya menjawab dengan nada sinisme. "Hati-hati dengan langkahmu, karena kudengar… Itachi juga berada di sekolah ini," ia melewati tubuh lawan bicaranya, lalu melenggang pergi meninggalkannya sendirian.

Sakura yang salah tingkah; tak tahu harus berbuat apa menjadi heboh sekali ketika lelaki berambut lurus panjang itu berjalan melewatinya. Dengan pandangan yang sulit diartikan, Hyuga Neji; salah satu lelaki yang sedang berdialog itu melewati Sakura dengan pandangan yang tak lepas dari perempuan berambut merah muda itu.

"Hhhh…" Sakura mengembuskan napas lega ketika Hyuga Neji sudah berjalan menjauhinya. "Nyaris saja…"

"Apanya yang nyaris?"

DEG!

Sebuah suara yang terdengar dalam menggelitik telinganya. Celaka! Kali ini dia dipergoki siapa lagi?

"Penguping," lelaki itu kembali mendaratkan kata-kata hinaan di belakang tubuh Sakura. Sececepat kilat Sakura memutar tubuhnya, hingga pandangannya menangkap sosok lelaki yang sudah dua kali ia lihat hari itu.

"Sasuke-kun?" alis mata Sasuke saing bertaut ketika mendengar suara Sakura yang memanggil namanya.

"Menyingkir dari hadapanku."

"E-eh?"

"Perempuan menjijikan," setelah berkata seapatis itu, ia pun pergi meninggalkan Sakura yang diam mematung.

"Ap-pa?" Sakura yang tak menyangka akan dihina sebegitu rupa oleh Sasuke mengepalkan kedua tangannya keras. Runtuh sudah rasa kagumnya pada lelaki dingin tersebut, kini perasaannya telah digantikan oleh perasaan lain yang lebih membuncah dan berkecamuk,

yaitu… perasaan benci.


Internet University dot com

3rd Chapter

Ganteng bolehlah… tapi menyandang sikap congkak, jujur saja, Sakura jadi jengah melihatnya. Bahkan memandang wajahnya saja ia enggan.

Contohnya seperti pagi ini, semua murid berkumpul kembali untuk sarapan pagi, manik emerald-nya menangkap kemilau sang Uchiha di sudut ruangan dengan beberapa temannya yang diketahui bernama Kabuto dan Shikamaru. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa para perempuan yang menggilai orang itu tak melihat kecacatan besar dalam dirinya? Yaitu… dia tak lebih dari seorang berhati iblis, yang bahkan tak pantas untuk dilihat. Tak sadarkah mereka? Perempuan berambut merah muda itu kembali mendengus tak senang.

"Kau kenapa sih Sakura? Dari tadi uring-uringan sendiri?" Ino yang memang selalu mengedepankan kejujuran akhirnya bertanya bingung, disandang sang gadis Hyuuga yang setuju disertai anggukkan, mereka merapat ke sisi kiri dan kanan Sakura.

"Kalian coba lihat itu," Sakura mendelik cepat ke arah Sasuke, diikuti oleh tatapan Ino dan Hinata. "Aku benar-benar tak suka padanya. Mengganggu mata saja."

Ino hanya merengut tak mengerti lalu menggeleng dan mengerling bosan, sedangkan Hinata hanya menundukkan kepalanya dalam. "Bisa saja saat ini kau bilang benci padanya, suatu hari kau pasti jatuh cinta padanya," kata-kata merupakan sebuah doa. Namun saat ini, mereka bertiga belum sadar atas rencana takdir kepada mereka. Sakura kembali mendengus sebal, lalu menatap Ino tak percaya.

"Mana bisa?" ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tertawa garing. "Tak mungkin, dan tak akan pernah. Lagipula… sisi mana yang terlihat bagus dari dia selain wajah sarkastiknya?" Sakura seketika menghentikan adu ideologinya, lalu menyipitkan mata dan memandang Ino dengan seringai curiga. "Jangan-jangan malah kau yang suka padanya, Ino? Sampai kau membelanya seperti ini."

"Apa?" kali ini Ino yang membeliak tak percaya. "Dia bukan tipeku," jawabnya tak suka. "Aku tak suka lelaki seperti dia."

"Oh, ya? Lalu tipemu?" Ino berpikir seketika. Namun ketika jari telunjuknya teracung, dan mulutnya membuka untuk mengeluarkan sepatah kata, tindakannya seketika terinterupsi oleh gumaman seseorang.

"Sasuke-san itu… sebenarnya adalah orang baik."

Sakura dan Ino berpandangan tak percaya; shock.

"Apa?" Sakura mengangkat alisnya, lalu memandang Hinata; yang masih berjibaku dengan kegugupannya dengan tatapan yang menginterogasi. "Kau kenal dia Hinata?"

Hinata mengangguk pelan. "Orang tua Sasuke… dan orang tuaku adalah teman lama," Sakura akhirnya menjauhkan wajahnya dari Hinata dan ber-hm disertai anggukan.

"Baik bagaimana? Dia bisa baik juga?" ternyata pernyataan Hinata tentang Sasuke tak cukup untuk meruntuhkan imej buruk Sasuke di mata Sakura.

Hinata bergumam ragu, wajahnya bersemu merah, namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang tipis, hingga Sakura dan Ino kembali mendesah dalam. Ya, ternyata… si lelaki iblis itu memang tak punya kebaikan dalam dirinya. Sakura tersenyum menang.


Internet University dot com

3rd Chapter

Siang hari di Hokkaido tak ubahnya ketika malam datang dan mencumbui Kasukabe, apalagi ini adalah musimnya Hokkaido; musim dingin, bersalju, dan suhu berada di bawah 10 derajat celcius. Auditorium dari bangunan megah itu kini telah disesaki ratusan murid yang ramai-ramai melepaskan mantel hangatnya dan menyampirkannya di kulit kursi.

Of Cures.

Penjelasan mengenai silabus sekolah pendek ini harus disampaikan secepatnya. Semua murid terlihat sangat antusias dalam menyambutnya. Murid-murid duduk berdasarkan pembagian kelas dan urutan prestasi yang jujur saja… deskriminatif. Seluruh murid kelas D berada di sayap kiri auditorium, lalu murid kelas C pada sayap kanan auditorium, sementara murid kelas A dan B berada di tengah-tengah; mendapat posisi paling strategis untuk mengamati.

"Selama siang, semua," pertemuan hari itu dibuka oleh suara seorang wanita tegas berambut pirang, yang seterusnya akan dikenal sebagai wakil kepala sekolah; Tsunade-sama. "Oke, langsung saja pada topik hari ini—"

Di tempat lain.

Krriiieeetttt….

Pintu dari kayu yang dicat itu terbuka perlahan, mencuri perhatian dari semua orang yang terduduk penasaran di ruangan bernama "Rasamala" itu.

Perlahan, sosok tinggi berambut perak menampakan diri di antara sela daun pintu. Wajahnya seolah meradiasikan sikap "Aku tak mau tahu". Dengan tatapan pasrah, dan sebuah buku yang terlunta-lunta diapitan jari tengah dan jari telunjuknya, ia memasuki ruangan itu lalu tampil di tengah sorotan mata yang penuh dengan tanda tanya.

"Kalian semua… murid kelas E?" sebuah suara yang cukup merdu mengalun terdengar melalui masker hitam yang menutupi setengah wajahnya. Beberapa dari mereka mengangguk. "Namaku, Kakashi. Aku yang akan bertindak sebagai penanggung jawab kelas ini dalam dua bulan ke depan."

"Maksudnya… Anda adalah wali kelas kami?" seorang pria dengan kacamata bulat dan warna rambut tak jauh dari Kakashi-Sensei itu pun angkat bicara.

"Ya, bisa dibilang begitu," ia menatap lelaki berkacamata itu sekilas, lalu kembali mengedarkan pandangannya menjarah seisi kelas untuk kemudian mendesah param. "Baiklah, jumlah siswa di kelas E ini…" ia mengambil sebuah tablet PC dari tas yang disampirkannya di belakang punggungnya, lalu tampak menyentuhnya untuk mendapatkan data. "Ada 12 orang," ia mengernyitkan alisnya. "Hm… lebih banyak dari angkatan tahun sebelumnya," semua orang hanya bisa terdiam dan merekam dengan sungguh-sungguh gerak-gerik Kakashi-Sensei dengan kedua atensi mereka.

"Apa kalian tahu kenapa kalian ditempatkan di kelas ini?" ia kembali bertanya.

"Yang jelas, bukan menjadi yang terbodoh," seorang lelaki bermimik dingin menimpali pertanyaan itu sekenanya. Rambut panjangnya terurai, membuat Sakura kembali teringat pada kejadian sehari sebelumnya ketika lelaki itu berbicara dengan pemuda Uchiha yang sangat ia benci.

"Ya, benar," Kakashi-Sensei terlihat memejamkan matanya; berpikir. Entah apa yang ia pikirkan, semuanya hanya bisa meraba-raba. "Kalian tahu seperti apa orang-orang di kelas A?"

"Mereka adalah sekumpulan orang pintar," seorang pria yang sedang bertopang dagu (terasa aura kemalasannya menguar) menimpali dengan setengah hasrat.

"Ya, benar. Dan kalian?"

Semua diam; bingung, tak ada jawaban.

"Kita adalah sekumpulan orang-orang tangguh!" seorang pria berambut spike kuning meneriakkannya dengan lantang, membuat semua orang terkesima, lalu mengulum senyum tipis di bibir mereka.

Kala itu… sepasang emerald tampak bersinar-sinar memandangi sosok yang sangat menyilaukan itu.

"Benar," dari perubahan ekspresi di matanya yang sipit, sudah dipastikan ia tengah tersenyum di balik masker hitamnya. Ia berjalan perlahan mendekat menuju baris pertama. "E, bukanlah sebuah tingkat kelas. Bukan berarti kualitas kalian berada di bawah kelas D," sebagian besar dari mereka mengangguk; menyadari potensi masing-masing yang tidak dimiliki orang lain. "E-Class, adalah singkatan dari… Expert Class."

Semua pasang mata itu berbinar, sementara seulas senyum bangga terlukis ketika mendengar perkataan dan pengakuan Kakashi-Sensei.

Expert Class….

Expert Class….

Expert Class….

Expert Class….

Selama seharian itu, kata-kata yang ucapkan Kakashi-Sensei dengan penuh kebanggaan, terus terngiang di telinga mereka sampai mereka memeluk bujuk rayu mimpi.


Internet University dot com

3rd Chapter

...

"Oke? Apa ada yang ingin ditanyakan?" semua orang terdiam setelah mendengarkan penjelasan lelaki berambut perak itu tentang apa yang akan mereka lakukan selama dua bulan.

"Berburu… harta karun?" pemuda berambut spike itu membeliakkan matanya tanda semangat.

"Ya."

"Maksudmu, dalam dua bulan ini, kita akan… BERBURU HARTA KARUN?"

Kakashi-Sensei menutup kedua cuping telinganya, lalu sekali lagi menjawab dengan jawaban yang sama, "Ya."

"KEREEEEENNNNN!" dia melompat dari kursi sementara kedua lengannya mengepal keras meninju udara dengan semangat. Yang mana apa yang ia lakukan sudah menjadi pusat perhatian dari tadi.

"Oke, aku belum selesai menyampaikan semua informasinya, harap semua kembali duduk di kursinya masing-masing," seorang wanita bercepol dua segera menarik baju lelaki berambut spike itu, dan menyuruhnya untuk tidak membuat keonaran. "Oke, terima kasih," Kakashi-Sensei memandang wanita itu sekilas, setelah wanita itu menyunggingkan sebuah senyuman, ia pun meneruskan kata-katanya lagi. "Kalian akan membentuk sebuah tim dalam berburu," semua tampak mengerutkan alis, namun tetap setia pada kebisuan. "Satu tim terdiri dari dua orang. Dan dua orang yang terpilih dalam tim itu akan terus bekerja sama selama dua bulan ini, tanpa terkecuali," ia menekankan kata-kata terakhirnya bak sebuah ancaman di muka.

"Dan… apakah harta karun yang disebut sebagai hadiah itu?" salah seorang murid bertanya, namun Kakashi-Sensei hanya menggeleng, lalu mengangkat satu jari telunjuknya.

"Sesuatu yang teramat berharga, dan akan berguna hingga kalian semua tua."

Semuanya terdiam, tergugu dan sibuk dengan pemikiran masing-masing.

"Baiklah!" Kakashi-Sensei memecah keheningan yang menyelimuti mereka semua dengan tepukan, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi beberapa lipatan kertas kecil-kecil. "Enam orang dengan skor tertinggi akan mengambil sebuah kertas yang berisi nama enam orang sisanya. Dan orang yang mengambil kertas bertuliskan nama itu akan ber-partner dengan orang yang namanya tertulis disana. Apa semuanya paham?"

"Hai!" sebuah bentuk sepakat akhirnya terdengar.

"Oke," Kakashi-Sensei mengangkat kotak kecil transparan itu, lalu menyodorkannya di depan mereka. "Dimulai dari… Uchiha Sasuke."

Semua mata saling melirik liar, mencari seorang pemuda bernama Uchiha Sasuke. Ketika Sakura kembali mendengus, seorang lelaki yang duduk di kursi paling belakang akhirnya berdiri. Dan ketika kedua emerald itu mengerling bosan, lelaki itu berjalan pelan ke depan kelas; berjalan menuju Kakashi-Sensei yang menantinya.

"Jangan aku. Jangan sampai aku. Jangan sampai aku berpasangan dengan orang menyebalkan macam dia. Oh, Kami-Sama… jangan sampai aku…" Sakura yang tengah sibuk merapal mantera memejamkan matanya keras; radiasi tekad diri yang terpancang kuat. Sementara tangannya saling bergumul dalam kegelisahan.

"Uchiha Sasuke, ayo pilih partner-mu," tak membuang waktu, Sasuke mulai mengulurkan tangannya, lalu meraih secarik kertas secara acak dari kotak itu dan membukanya. Ia terdiam; tak berekspresi. "Siapa rekanmu?" ia membalikkan kertas itu, lalu memperlihatkannya pada Kakashi-Sensei.

"Seseorang benama Haruno Sakura."

HEG!

Terkejut. Gadis berambut soft pink itu… membatu.

"Sakura!" pukulan Ino di bahu gadis itu kembali menariknya ke dalam realitas. Perlahan, Uchiha Sasuke membalikkan tubuhnya, lalu memandang Sakura dengan tatapan merendahkan. Beberapa detik tatapan mereka bertemu. Berusaha menyembunyikan ekspresi kagetnya, Sakura memalingkan mukanya ke sisi kiri meja.

Sasuke kembali melabuhkan pandangannya dan menatap Kakashi-Sensei dengan tatapan dingin. "Aku tak ingin ber-partner dengan gadis itu," tuturnya jujur, langsung, dan KEJI.

Semua yang berada di ruangan itu terkejut.

"Kenapa?" dengan bijak Kakashi-Sensei menanyakan alasannya terlebih dahulu sebelum melarang.

"Aku bisa melakukannya sendiri," dengan tatapan kesal ia berjalan menuju pintu kelas.

"Tunggu dulu, Sasuke. Ini adalah peraturan, kau tidak bisa bersikap semaumu," Kakashi-Sensei menginterupsi langkah Sasuke. Menaati peraturan tidaklah semenyenangkan itu. Dia sadar. Tapi setidaknya, ia harus meruntuhkan ego Uchiha yang satu ini dan menempatkannya dalam derajat yang sama dengan semua orang yang berada dalam kelas itu.

"Baik, aku akan mengundurkan diri dari program ini."

Ucapan Sasuke sebelum menghilang dari balik pintu sukses membuat semuanya tertegun.

"APPPAAAA?" tanpa sadar Sakura menggebrak mejanya.


Internet University dot com

3rd Chapter

Entahlah, apakah keputusan ini dapat diterima oleh ayahnya atau tidak. Tapi ia tidak bisa terus berada dalam situasi dan permainan konyol seperti ini. Waktu dua bulan dihabiskan hanya untuk berburu harta karun bodoh bersama seorang gadis bodoh?

Lebih baik ia tidur selama dua bulan.

Oh, ayolah. Kegiatan ini sangat tidak masuk akal bagi seorang Uchiha Sasuke. Dalam waktu dua bulan ia dapat melakukan banyak hal berguna daripada ikut kompetisi semacam ini. Ya, dia dapat mengemukakan alasan itu pada Tou-san-nya. Dan Tou-san-nya pasti akan setuju.

Saat itu semua murid masih dibekali sebuah materi mengenai pelajaran-pelajaran formal yang akan mereka dapatkan di samping berkompetisi mencari harta karun hingga semua pelataran tempat hang out kosong; tak ditempati siapapun, begitupun kamar-kamar hunian yang akan mereka tempati selama dua bulan.

Tok!

Tok!

Tok!

Hanya tinggal mengecek semua barang-barang penting yang akan ia informasikan pada bell boy untuk dikemasi, seseorang di balik pintu datang dan menginterupsi kegiatannya. Dengan langkah cepat Sasuke sudah mencapai pintu dan menarik gerendel pintu kamar itu untuk melihat wajah si pemilik urusan.

Dan ternyata, yang lagi-lagi mengganggu Uchiha Sasuke adalah… ya, benar.

"Kau lagi?" kali ini nada bicaranya naik satu oktaf; keheranan bercampur kesal yang sangat tajam di setiap biramanya. Sasuke hendak menutup pintu, namun dihalangi oleh tangan kanan Sakura.

"Aku ingin berbicara padamu," ia mengutarakan maksudnya secara langsung. Terlihat sekali ia mati-matian menahan emosinya karena telah merendahkan harga dirinya dengan cara yang enggan ia ingat untuk sepuluh tahun ke depan.

"Ada apa?" sadar ia tak akan bisa menang tekad dengan gadis bebal ini, Sasuke pun melangkah mundur masuk kembali ke dalam kamar untuk meneruskan aktivitasnya yang sempat tertunda.

"Kenapa kau begitu egois?" setelah menutup pintu kamar Sasuke, ia berjalan pelan menuju Uchiha bungsu yang hanya menampakkan punggungnya. "Kenapa kau begitu manja?" masih tak ada reaksi. Sakura kembali meneruskan tuturan tajam itu. "Kenapa kau begitu menyebalkan?" ia menyerah. Entah kenapa ia ingin sekali menerjang lelaki di depannya dan melayangkan beberapa tinju di wajahnya yang rupawan.

"Bukan urusanmu," satu kata yang sebenarnya tak bisa menyelesaikan masalah apapun di dunia ini pun keluar sebagai pembelaan diri. What?

Srreeettt….

Dilihatnya ada dua tempat tidur lain di kamar ini. Ya, sama seperti kamarnya yang memang ditujukan untuk tiga orang. Namun daripada duduk di sisi kasur yang agak berjauhan, Sakura lebih memilih duduk di sisi kasur yang terdekat dengan Sasuke. Ya, ia duduk di tempat yang pernah dijadikan alas tidur dari pria berdarah dingin itu.

"Perlu kau tahu, aku juga sangat tak ingin berpasangan denganmu, percayalah, rasa engganku lebih besar dari ketidakinginanmu," ia mengerling dan memerangkap sosok Sasuke dalam kebenciannya. "tapi sikapmu barusan, benar-benar tidak etis sebagai manusia yang bertanggung jawab. Kau tidak bisa menentang peraturan yang ada, mengemukakan kenginanmu, lalu pergi begitu saja. Kau adalah orang paling tidak bertanggungjawab yang pernah kutemui!"

Sakura harap usahanya berhasil.

Seseorang dengan harga diri yang sangat tinggi biasanya tidak akan terima dikatai seperti itu. Ia akan kembali dan membuktikan bahwa dirinya tidak setara dengan sampah walau dengan emosi dan kebencian mendalam pada gadis berambut pink itu. Bagi Sakura hal itu tak jadi masalah. Toh lelaki berambut raven ini memang sudah membencinya lebih dulu.

Asal ia tidak menghancurkan pencapaian yang bahkan belum ia capai, ia akan bersabar untuk dua bulan ke depan berpasangan dengan anak iblis ini.

Namun… entah Sasuke yang tak ingin menanggapi omongan tak penting dari gadis bodoh di sampingnya, atau ia memandang bahwa tingkah gadis ini adalah sebuah kesia-siaan terbesar yang pernah ada; memaksa Uchiha bungsu ini untuk melakukan hal yang tak ingin ia lakukan.

Tapi Uchiha satu ini belum mengenal Haruno Sakura kita.

Tak tahukah ia bahwa Sakura adalah seorang gadis batu yang keras tekadnya? Ia tidak pernah meloloskan apa yang diinginkannya selama ini.

Terkecuali… kematian ayah dan ibunya yang tak bisa terelakkan.

Darah sudah mencapai ubun-ubun Sakura.

STOP!

Akalnya tak lagi berkonklusi. Ia sudah kehilangan kesabaran dan ia siap menerkam siapa saja.

GREP!

Dicengkramnya lengan Uchiha bungsu itu sekuat tenaga, lalu ditariknya hingga ia ambruk di atas kasur. Dengan lengan yang bebas, ia mengunci leher Sasuke; mencekiknya, sementara lengan kirinya masih menahan bahu kiri Sasuke.

Tatapannya menggarang, sementara desah napas itu berteriak menguar irama konstan. "Dengarkan aku," ia berbisik parau; menahan diri agar tak memukuli orang yang akan menjadi rekannya nanti. "Kalau kau menghancurkan rencanaku ini… aku tidak akan ragu lagi, aku akan membencimu seumur hidupku," ia berhenti sejenak, lalu menatap onix itu dengan tatapan mengintimidasi. "Kemarahanku tak hanya berhenti di situ. Aku juga… akan menghancurkan hidupmu!"

"Haaahh… haahh… haahh…" tarikan napas Sakura terdengar jelas di ruangan sepi itu. Sementara tingkah laku dan kata-kata Sakura tengah membuat lelaki dingin itu terdiam.

Sementara rantai rasionalitas kembali merajut dalam pelan, sebuah kejadian yang tak mereka sangka malah muncul di tengah kondisi yang tidak tepat.

Kriiieeetttt!

"Sasuke, bagaimapun juga, kau jangan sampai—"

Seorang pemuda berambut kuning yang diikuti dua orang lain di belakangnya seketika membatu setelah mereka membuka grendel pintu tanpa permisi.

Pemandangan tabu yang seharusnya tak mereka lihat telah tersajikan dalam angle yang sangat tepat.

"Jadi… mereka pacaran?"

Itulah hal pertama yang berkelebat dalam pikiran mereka setelah melihat Sakura dan Sasuke tengah bergumul di tempat tidur.

Dan paniknya Sakura, bahwa salah satu dari ketiga orang yang memergoki kejadian yang tak disengaja itu adalah seorang lelaki berambut kuning yang telah menyita perhatiannya selama beberapa menit sebelum ini.

"BUKAN! INI BUKAN SEPERTI YANG KALIAN PIKIRKAN!"

Raungan Sakura sukses membuat kamar Sasuke gaduh untuk 30 menit kemudian.


Internet University dot com

3rd Chapter

Untungnya mulut lelaki tak sebocor mulut perempuan. Walau ia risih dengan tatapan Naruto, Kiba, dan Shikamaru yang kemarin sore memergoki perbuatannya, ia tak bisa menghindar dari judgement mereka; Sakura adalah pacar Sasuke.

Ia meraung, berteriak, dan sukses membuat semua bantal di kamarnya (termasuk milik Ino dan Hinata) hancur karena kemarahannya. Karena kejadian kemarin, kini bertambahlah alasan kebencian Sakura pada pemuda berambut raven itu.

Walau Kakashi-Sensei yang tengah menerangkan mata pelajaran Geologi bercuap ingar di depannya, namun perhatiannya kini tetap tak teralihkan dari mimpi buruk kemarin. Oke, tak jadi masalah sekarang Sasuke mau keluar dan menolak menjadi partner-nya. Ia tak berkeberatan. IA AKAN SENANG SEKALI. SUNGGUH-SUNGGUH AKAN SENANG SEKALI!

Sebuah pengharapan baru akhirnya ia toreh untuk diazamkan, namun kerlingan maksud takdir tak bisa ditentang oleh seorang Haruno Sakura sekalipun.

Perlahan, pintu kelas itu berderak terbuka, dan sebuah sosok terbingkai indah menyedot semua perhatian. Uchiha Sasuke… berdiri di samping pintu.

"Sasuke? Bukankah kau mengundurkan diri?" tanya Kakashi-Sensei bingung.

Namun Sasuke tak langsung menjawab. Pandangannya teralih pada sosok wanita berambut pink yang tengah memandangnya dengan tatapan sengit bercampur bingung.

"Tidak," ia menimpali. "Aku berubah pikiran."

Semua orang yang berada di sana terkesima dengan penuturan Sasuke yang bisa dikatakan sebagai sesuatu yang mustahil.

"Kenapa?"

Sasuke memandang Sakura lebih lekat, dengan sebuah tatapan yang sulit untuk diartikan. "Di sini… ada sesuatu yang menarik."

Tanpa menghilangkan ekspresi sarkastik dalam dirinya, dengan mempertahankan ego dan harga dirinya, ia berjalan dengan pasti menuju meja paling belakang.

"APA YANG IA RENCANAKAN?"akhirnya inner Sakura berteriak frustasi menghadapi keputusan ganjil yang sudah dibuat raven iblis itu.

To be continued….


Sebentar lagi lebaran. Dengan updatenya , semoga bisa membawa nuansa baru kepada Anda semua ya :)

Akhir kata, Taqoballohu minna waminkum, siamana wa siamakum. Taqobal ya kariimm…

Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin semua… ^^

Sampai bertemu lagi chapter depan ;)