.
Internet university dot com
A SasuSaku fiction
Naruto©Masashi Kishimoto
Internet university dot com©Nurama Nurmala
Warning : Typo(s), OOC, Alternate Univers, Another 'abal' story
Cerita sebelumnya…
Ketika Sakura tengah menapaki ceruk tangga dan sampai pada anak tangga teratas, sebuah tangan menariknya cepat hingga tubuhnya yang tak siap pada kejadian mendadak ikut tersungkur dan menghilang di balik pintu.
Napasnya tersengal karena kaget sementara manik matanya bergerak lincah mendeteksi dimana ia berada sekarang.
Ruangan sepi, kosong, dan banyak peralatan musik di sini.
Seraut wajah dengan rahang tegas menatap Sakura intens. Sontak membuat gadis berambut merah muda itu mundur dua petak. "Apa yang kau lakukan?" ia membentak Sasuke dengan urat-urat biru di sekitar lehernya.
BRRAAAKKK!
Rupanya kali ini Sasuke juga tak kalah emosi. Ia memegang leher dan bahu kiri Sakura, persis seperti yang dilakukan Sakura pada dirinya kemarin malam. Tubuh Sakura terhimpit pada sisi dinding yang dingin.
"Apa yang kau lakukan dengan Hyuuga sialan itu?" pertanyaan itu dilontarkan dengan dingin, kejam, dan sarat dengan kebencian.
"Bukan urusanmu!" tukas Sakura cepat; tak ingin memandang wajah menjijikan yang masih menjarahnya bak gumpalan daging yang siap disantap.
"Dia adalah musuhku! Aku tak ingin kau dekat dengannya, mengerti?" bagai dipacu timer pengungkapan, pandangan Sasuke tak lagi jernih jika menyangkut pemuda Hyuuga itu. Napasnya kian memburu sementara onyx itu masih memancangkan pandangan pertentangan.
"Kenapa? Kenapa aku tak boleh dekat dengan dia? Kenapa kau sok mengatur?" kewarasan Sakura pun terenggut. Ia tak sudi diatur oleh pemuda yang dibencinya. Tak ingin dan tak sudi. Sedangkan alasan Sasuke melarang hubungan dekat antara Neji dan Sakura adalah karena… bisa jadi, Neji memanfaatkan Sakura untuk menjatuhkannya dalam kompetisi ini. Karena Sakura adalah partner Sasuke, mau tidak mau kini Sakura menjadi bagian dari Sasuke.
"Dia… berbahaya," akhirnya Sasuke berucap. "Dia bisa menghancurkan hidupmu," Onyx itu bergerak-gerak lincah menangkap pergerakan Emerald yang tertawan pada sosoknya. "Dia pernah melakukannya… pada hidupku!"
Sakura… terdiam.
Ekspresinya tampak bingung, namun jauh di pikirannya ia tengah mempertimbangkan segala kemungkinan.
Ya, jika diingat lagi, cara No Face memergokinya ketika ia sedang melakukan hacking itu… sangat tidak wajar. Ia tipikal orang yang obsesif. Dan itu agak berbahaya. Kedua alis mata Sakura beradu padan ketika ia memikirkan kemungkinan itu.
"Syukurlah kalau kau sudah paham," Sasuke mengendurkan pegangannya pada Sakura, lalu menarik napas panjang. Bagaimana ia tidak sepanik ini? Sakura, yang merupakan rekan satu timnya akan berada di sampingnya selama kurun waktu dua bulan. Sedikit banyaknya ia akan tahu tentang Sasuke dan hal itu sudah pasti diendus oleh Neji. Entah ada dendam apa antara mereka di masa lalu, namun masing-masing dari mereka tak bisa melepaskan pengawasan di antara satu sama lain.
Yang paling mengenali dirimu… musuhmu.
Mungkin pepatah itu benar. Namun kita belum melihat kebenarannya dalam kisah ini.
Mata Onyx itu tertawan oleh sesuatu yang mengganggu dirinya. "Bibirmu kering," ucapnya sekilas ketika melihat beberapa petak dan retakan bagai grafiti abstrak di bibir Sakura.
Sakura segera menutup bibirnya dengan lengan, lalu berlalu di depan Sasuke menuju pintu keluar namun sebelumnya bibir yang kering itu sempat menjawab, "Ini gara-gara kamu!" jawabnya kesal.
Ini gara-gara kamu. Karena sikap menyebalkanmu itu aku jadi harus bersumpah serapah dan berdecih setiap detik.
Namun sebelum ia bisa menyampaikan rangkaian ucapan itu dengan lengkap, sebuah suara dari speaker menginterupsi kegiatan mereka.
"Tempat tertinggi adalah palung bunuh diri yang terbaik. Namun jasadku sendiri malah tertanam dalam nyanyian riak air. Tak dapatkah aku melihat matahari yang menyinari Hokkaido lagi? Berkatku… masih tertinggal di tempat terakhirku mengembuskan napas."
Yang terdengar dari speaker adalah suara seorang wanita. Sakura yang tak mengerti kenapa ada siaran misterius secara tiba-tiba hanya berdiri dengan menangkupkan mulutnya.
"Apa maksudnya?" gadis Emerald ini akhirnya bertanya.
"Maksud dari siaran itu adalah… perburuan harta karun, telah dimulai!"
Internetuniversity dot com
Chapter 5
"Apa?!" Sakura berteriak kaget. Emerald-nya bergerak-gerak cepat sementara kedua tangannya terkepal menggenggam semangat. "Tempat tertinggi adalah palung bunuh diri yang terbaik, itu sudah pasti atap gedung ini 'kan? Lalu, lalu, jasadnya masih tertanam dalam nyanyian riak air mungkin adalah sungai, sumur, atau sebuah kolam?" Suaranya bergetar, pandangannya berapi-api. "Mungkin harta karunnya ada di sana, ayo Sasuke!"
"Tunggu."
"Apa?" Sakura yang sudah mulai menjejakkan langkahnya terkunci dan kembali berbalik memandang Sasuke dengan tatapan heran. "Kenapa? Ayo cepat sebelum didahului yang lain!"
"Palung bunuh diri, nyanyian riak air, berkatku… rasanya aku pernah membaca atau mendengar semua itu di suatu tempat," Sasuke terdiam—berpikir.
"Ap—" sebelum Sakura usai bertanya, Sasuke dengan terburu-buru berjalan keluar melewati iangan pintu. Ia tergesa berjalan melewati lorong. Sakura yang tidak bisa meninggalkannya begitu saja bergegas mengikuti Sasuke dengan berbagai umpatan yang terus ia gaungkan.
Mereka sempat berpapasan dengan beberapa pasangan yang sama seperti mereka; sedang bergegas ke sebuah arah. Tapi satu kejelasan yang pasti, mereka berjalan berlawanan arah dengan Sasuke dan Sakura. Dan itu justru menambah kegelisahan Sakura.
"Tunggu Sasuke," Sakura dengan cepat menarik tangan Sasuke hingga Sasuke akhirnya memandang Emerald itu secara langsung. "Katakan kita mau kemana?" Terlihat sekali Sakura sudah mulai kesal dengan sikap Sasuke yang selalu semaunya sendiri dan bertindak secara individu tanpa pernah memandangnya sebagai rekan.
"Ke kamarku."
"APAAAA?!" Jawaban Sasuke sukses membuat Sakura terkaget-kaget. Ruangan itu menyimpan kenangan buruk. Kejadian itu. Ya, kalian pasti ingat kejadian ranjang yang membuat Sakura menjadi bahan gunjingan rahasia para lelaki. Setidaknya itulah yang Sakura pikirkan.
"Aku tidak mau ke sana!" Sakura melancarkan jurus penolakkannya. Mungkin bagi lelaki wajar, ketika mendapatkan jawaban seperti itu, mereka akan melunakkan diri dan beralih mengalah kepada Sakura dengan mengusung senyum permintaan maaf. Tapi sayangnya Sasuke bukan seperti lelaki kebanyakan.
"Terserah," setelah mengeluarkan kata-kata sarkasme dengan senyum meremehkan, Sasuke berlalu seolah tidak pernah terjadi apa-apa di depannya.
Sakura… diam mematung.
Sedetik kemudian ia membungkuk, lalu melepaskan sepatunya. Dengan sekuat tenaga, sepatu itu ia lemparkan menuju pria berambut riak-riak yang masih berjalan semakin menjauh darinya.
BUGGHHH!
"Jangan apatis seperti itu dasar lelaki tak peka!" Sakura yang marah memandang Sasuke yang seketika menghentikan langkahnya dengan mata berapi-api.
Sasuke… hanya diam.
Dia tidak berteriak-teriak marah, dia pun tidak berbalik. Sudah barang jelas reaksi Sasuke membawa feedback yang kurang mengenakkan kepada Sakura. Masa dia mati cuma gara-gara lemparan sepatu yang mendarat di kepalanya sih? Batin Sakura bertanya-tanya.
DEG!
Sakura kembali dikejutkan ketika lelaki raven itu berbalik dengan wajah menahan amarah, lalu melenggang mendekat ke arah Sakura dengan mantap.
Sakura ingin melarikan diri dari pria itu sejauh yang ia bisa! Namun ini tidak boleh terjadi! Bagaimanapun kondisinya, seorang Haruno Sakura tidak boleh lari dari sebuah keadaan. Ia harus menghadapinya dengan berani. Jika kau terus saja melarikan diri, kapan masalah itu akan terurai dan selesai sesuai ekspektasimu?
GREP!
Dengan kasar Sasuke menggenggam tangan mungil itu, lalu menariknya dengan cepat.
"Tu-tunggu! Lepaskan aku Sasuke! Lepaskan!" Sakura meronta sekuat tenaga, namun Sasuke tidak bergeming dan terus menyeretnya dengan paksa. Aksi Sasuke yang heboh itu segera mengundang tatapan penasaran dari berpasang-pasang mata yang berpapasan dengan mereka. "Lepaskan aku dasar kau bocah setan!" Makian tidak mempan pada Sasuke. Sakura yang sudah mulai memerah karena marah akhirnya menggigit bahu Sasuke dengan kasar.
"Ugh!"
Sasuke yang terkejut segera mengendorkan pegangannya. Namun ia paham bahwa ini hanyalah taktik dari si gadis bublegum, ia tidak memberikan kesempatan kepada Sakura. Dengan cepat ia segera kembali mengeratkan pegangannya lagi.
"Apa maumu gadis bebal?!" Sasuke balas menghardik gadis cherry itu dengan tatapan tak terelakkan. Sakura yang merasa tidak punya salah balik menatap Sasuke dengan tatapan menyalang.
Dengan muka yang semakin memerah akhirnya Sakura berteriak sekeras yang ia bisa, "SEBELAH SEPATUKU MASIH DI SANA DASAR BODOOOOOOOOOOH!"
Internetuniversity dot com
Chapter 5
"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa sedari tadi terus mengotak-atik laptop?"
"Hn."
"Memangnya hantunya ada di sana?"
"Hn."
"Grrr… aku kesal! Pasti harta karunnya sudah didapatkan yang lain!"
"Hn."
"Kau tidak kesal? Kau tidak ingin menang?"
"Hn."
"Sasuke brengsek."
"Hn."
Sakura kesal dengan jawaban Sasuke yang sebenarnya sangat abstrak. Ia sudah berguling-guling selama satu jam di sebuah kasur di kamar Sasuke tanpa melakukan apapun. Ia berguling ke kiri, kali ini memandang Sasuke yang masih memunggunginya dengan senyum mengembang di wajahnya. "Sasuke, Sakura cantik ya…."
"Hn," seperti yang diharapkan, Sasuke menjawab seperti sebuah kebiasaan. Namun tiba-tiba jemarinya berhenti menari di atas keyboard hingga bunyi tik-tik itu sudah tak terdengar lagi. Ia terdiam, lalu memutar tubuhnya setengah lingkaran. "Apa barusan?"
"Hehehe… kau sudah melakukan sebuah kebaikan dengan berkata jujur," timpal Sakura dengan senyum manisnya.
Sasuke bergegas berbalik lalu melanjutkan aktivitasnya. "Jangan membuatku mengatakan sebuah fitnah."
BUGH!
Gumaman Sasuke sukses membuat Sakura melemparkan bantal dengan teramat keras ke kepala Sasuke. "Dasar iblis es!"
Sakura kembali berguling-guling di kasur yang berada paling sudut itu. Ia telungkup, telentang, lalu berselonjor dan berongkang dengan bosan. Sprei, bantal dan selimut sudah tidak berada di tempatnya semula. Ketika Sasuke berbalik badan, ia mengembuskan napas berat. "Kalau mau mengacau, kacaukan saja dua kasur di sana."
"Memangnya kenapa?" Sakura menanggapi dengan sewot. "Kiba dan Shikamaru tidak ada urusannya denganku. Aku mau merepotkan siapa terserah aku 'kan?"
Sasuke yang tidak ingin memperpanjang pertengkaran hanya memandang gadis yang masih tidur-tiduran dengan santai itu dalam diam.
"Aku sudah menemukan tempat harta karunnya," gumaman tidak jelas Sasuke sukses membuat Sakura terduduk dengan kaget lalu memandang Sasuke dengan mata berbinar-benar.
"Benarkah Sasuke-samaaaaaaaaaaaaaaaa?"
Sasuke kembali terdiam lalu memandang gadis merah muda itu dengan tatapan tak percaya. Benarkah dia barusan memanggilku dengan… Sasuke-sama?
"Ya, ikut aku. Dan kali ini, jangan berisik."
Internetuniversity dot com
Chapter 5
"Kita kemana?" Sakura yang mulai gelisah masih berjalan membuntuti Sasuke dengan langkah kecil-kecil.
"Palung kematian adalah sebuah kalimat pengikat ketika upacara bunuh diri dalam sebuah novel berjudul Left For a While yang ditulis oleh Yoshimura Akai. Di sebuah halaman yang menceritakan eksekusi di palung kematian, ada sederet angka yang menjadi central proses upacara itu. Angka itu adalah 1111."
"Huh?" Sakura yang tidak mengerti dengan penjelasan Sasuke menatap Sasuke dengan tatapan tak paham.
"The Ultimate Soul adalah karya kedua Yoshimura Akai di tahun 1986. Ada sebuah halaman yang khusus mendeskripsikan nyanyian riak air di novel itu, yaitu halaman 110."
"Eh? Yoshimura Akai lagi?"
"Ya. Karena curiga petunjuk ini berhubungan dengan Yoshimura Akai, aku mencari karya-karyanya yang lain. Yang barangkali bisa menjadi petunjuk selanjutnya."
"Eh, lalu?"
"Aku tidak menemukannya," ucap Sasuke dengan masih bergegas.
"Jadi bagaimana sekarang?!" Sakura kembali dalam fase paniknya.
"Aku menyelidiki kehidupan pribadinya. Cara meninggalnya agak tragis, mungkin dikarenakan selama ini ia menulis novel horror atau novel tentang prosesi pemujaan iblis. Sebelum meninggal, ia berkata bahwa 'berkatku masih tertinggal di dalam karya-karyaku' kepada anak dan istrinya."
"E-eh? Me-mengerikan!"
"Ia meninggal bunuh diri, diprediksi waktu kematiannya adalah pada tengah malam. Tepatnya pukul 00.10."
"Heeeee?"
"Kau ingat angka apa saja yang kutemukan?" Sakura mengangguk. "Itu semua… adalah bilangan biner. Yang jika dikonversi ke hexadecimal, maka…."
"1111 adalah… 0F?" Sakura menebak.
TAP!
Langkah mereka berhenti di sebuah pintu. Sebuah papan putih kecil terpatri kuat di pintunya.
Ruang F.
Sakura sedikit bersemangat sekarang. Sasuke memutar kenop pintu, dan voila! Tidak dikunci. Sakura berdebar-debar dan tetap patuh berjalan di belakang Sasuke.
"Lalu 0110?" Sasuke berhenti, lalu memandang ke seisi ruangan yang penuh dengan berpuluh-puluh rak berisi berbagai macam barang yang diawetkan di dalam air. Kodok mati, kadal berwarna warni, jempol kaki. Eh? Yang terakhir sedikit membuat Sakura bergidik.
"0110 jika dikonversi ke dalam hexadecimal menjadi… 06?" Seolah diintruksikan, atensi mereka berlabuh pada tempat yang sama. Rak keenam….
Sambil berjalan menghampiri rak keenam, Sakura tiba-tiba berucap parau—karena tegang dan bersemangat. "Lalu maksud waktu kematiannya yang terjadi pada pukul 00.10 atau dengan kata lain 0010 itu berarti… 02?"
Sasuke memandang Sakura, nyaris tersenyum! "Benar," ia berujar pelan. "Benda yang berada di urutan kedua di rak keenam ini kemungkinan besar adalah harta karunnya."
Sakura semakin bersemangat, ia mulai menghitung benda dengan dada yang terus saja berdegup. Ketika jari telunjuknya menunjuk sebuah arah… ada satu benda—yang wujudnya terlalu berbeda jika dibandingkan dengan benda lain yang berada di sana.
"Sebuah… cincin?" Sakura mengerutkan dahinya. "Cincin adalah… harta karunnya?"
Sasuke kemudian mengulurkan tangannya lalu mengambil cincin itu dan menelitinya dengan cermat. "Ini asli dari blue garnet. Harganya lumayan mahal, sekitar 1,5 juta dolar Amerika perkaratnya."
"E-e-e-eeeehhhhhhhh?" Sakura yang mendengar penjelasan Sasuke syok seketika. "Be-benar-benar… harta karun?"
Grek…
Sasuke tiba-tiba bertindak aneh. Ia memegang tangan Sakura, lalu menaruh jari telunjuk di bibirnya. Sakura mengangguk dengan tatapan waspada, lalu mengikuti giringan Sasuke untuk bersembunyi di balik sebuah lemari besar.
"Jadi… di sinilah letak harta karunnya?" Sebuah suara terdengar. Suara perempuan.
"Aku perkirakan begitu," sebuah suara lain menyahuti. Sasuke dan Sakura langsung berpandangan dalam diam. Mereka paham, mereka tahu bahwa suara barusan… adalah suara Neji!
"Dimana harta karunnya?" Perempuan itu menyamakan langkah dengan Neji, ia perempuan dengan rambut cokelat yang sengaja diikat membentuk lingkaran lucu. Mungkin ia berasal dari Cina. Sakura mengenali perempuan itu dengan nama Tenten. Ia dari kelas E.
"Benda itu… tidak ada di sini," Neji terdiam.
Samar-samar Sasuke mencium bau manis yang jarang ia cium menguar dari gadis merah muda yang berdiri berdekatan dengannya. Ia memandang Sakura yang masih memandang Neji dan Tenten dengan tatapan waspada. Ah, tidak terlalu ia pedulikan. Sasuke kembali fokus pada sosok pria di depannya; Neji.
"Apa? Bagaimana bisa?" Tenten yang merasa tak percaya mengecek sekali lagi tempat seharusnya harta karun itu tergolek. "Seseorang pasti sudah mendahului kita!"
"…" bunyi gertakan gigi jelas terdengar. Neji sekarang pasti kesal sekali. Sedangkan Sasuke? Sakura menengadahkan wajahnya, lalu melihat wajah Sasuke yang jarang ia lihat. Sasuke sedang tersenyum dengan puas? Dasar psiko! Umpat Sakura.
Neji yang marah karena merasa terdahului bergegas keluar ruangan itu dengan langkah menghentak. Tenten kemudian mengikuti dengan langkah ringan. Dari luar terdengar dengan jelas suara Tenten yang berusaha menghibur Neji. Lambat laun… suara ringkih itu buyar dan tidak terdengar lagi.
"Mereka sudah pergi," Sasuke memberi tanda agar mereka bisa keluar dengan leluasa sekarang.
"Well… well… lihat, sekarang siapa yang senang?" Sakura berujar dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada dan dengan sebuah senyum mengejek.
"Berisik," Sasuke yang tidak nyaman dengan kalimat Sakura yang sebenarnya rada menohok itu memalingkan mukanya.
"Tapi memang harus kuakui, Sasuke. Kau hebat!" Tanpa ragu dan dengan begitu lurus, Sakura meluncurkan pujian dengan ikhlas.
"Eh?"
"Kau sangat hebat. Bisa memikirkan itu semua dalam waktu yang singkat. Mencari di beribu macam halaman, mencoba berbagai teknik konversi," langkah Sakura mendekat. Kali ini hanya 1 meter jarak yang memisahkan mereka.
PUK!
Sakura mengusap rambut raven Sasuke dengan lembut. "Kau hebat!"
BLUSH!
Kejadian yang tidak pernah terjadi padanya ini… entah kenapa membuat mukanya panas. Sasuke yang terkejut, Sasuke yang sudah merenggut rasionalitasnya lagi dengan paksa kini memalingkan muka. Enggan menatap Sakura dan enggan menerima perlakuan Sakura.
"Hentikan! Memalukan. Memangnya aku anjing?"
"Eh? Aku tidak bermaksud begitu, hanya saja—" belum selesai Sakura memberikan penjelasan, Sasuke menarik tangan Sakura, lalu menaruh cincin blue granet itu di telapak tangannya.
"Aku tidak membutuhkan ini," setelah berucap seperti itu, Sasuke lekas berlalu dan meninggalkan Sakura.
"EEEEEHHHHHH? Ini untukku?" Sakura… tak percaya dengan apa yang dikatakan dan dilakukan Sasuke barusan. "Sasuke!" Dengan langkah ringan dan cepat Sakura mengejar dan berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Sasuke. "Benar ini untukku? Benar? Kau tidak akan menyesal?"
"Ambil saja, aku tidak butuh."
"Kyyyyyaaaaaa! Terima kasih Sasuke-samaaaaaaaaaaaaa!"
GREP!
Spontanitas Sakura yang saat itu langsung memeluk Sasuke sukses membuat Sasuke merasa risih. "LEPASKAN GADIS BODOH!"
"ISH! Jangan berteriak begitu kencang Iblis Es!" Sakura yang kaget menerima hardikan Sasuke menjauh beberapa langkah darinya. "Hei…" suara Sakura melunak sekarang. Ia berjalan di samping Sasuke. "Di kesempatan lain, jangan berjuang sendirian. Biarkan aku membantumu, oke?"
"Kau akan cukup membantuku dengan tidur seharian saja."
DOENG!
"DASAR KAU IBLIS ESSSSSSS! TERNYATA BENAR, KITA TIDAK AKAN PERNAH BISA AKUUUUUURRRR!"
Hari itu penuh dengan semangat dan keringat. Siswa yang berbondong-bondong mencari harta karun di atap gedung, di sungai, kolam renang, sumur-sumur, bahkan lewat video dan buku harus merelakan harta karun yang menjadi milik orang lain ketika Tsunade-Sensei mengumumkan bahwa harta karun itu sudah ditemukan—tanpa menyebutkan siswa yang menemukannya melalui interkom.
Hinata berendam seharian karena capek dan Ino melampiaskan rasa frustasinya dengan makan. Kiba merutuk partner-nya yang dinilai memperlambat dirinya hingga keduluan orang lain sementara Shikamaru yang memang tidak berusaha mencari harta karun menyerah ketika ia berhasil menemukan kode pertama.
"Aku tidak begitu suka membaca buku begituan," itulah komentar Shikamaru ketika ditanya Kiba perihal dirinya yang bersantai-santai saja di bawah pohon ketika orang lain sedang sibuk mencari harta karun. Jawaban sederhana Shikamaru tidak tertangkap oleh Kiba dan Kiba memandang bahwa jawaban Shikamaru adalah kode yang misterius. Kiba curiga bahwa Shikamaru lah yang sudah mendapatkan harta karun itu.
"Eh?" Atensi pemuda jabrik cokelat itu tertawan pada tubuh setengah telanjang Sasuke yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Sasuke…" ia kemudian mengalihkan tatapannya pada ranjang Sasuke yang jarang sekali berantakan, lalu sekali lagi mengamati tanda merah di bahu Sasuke.
"Apa?" Sasuke bertanya tak mengerti.
BLUSH!
Wajah Kiba seketika memerah.
"Sudahlah Kiba, jangan memikirkan hal itu. Kau bisa pingsan nanti," komentar Shikamaru yang masih telentang dengan kedua tangan yang dilipat di belakang kepalanya membuat Kiba mengangguk. Kiba lalu berbalik dan menutup mukanya dengan bantal.
Sasuke yang tidak mau ambil pusing berlalu menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti. Namun onyx-nya seketika terhenti ketika dirinya melewati cermin lemari. Ia mengembuskan napas dalam lalu menyentuh sebuah bekas berwarna merah. Grafiti dari gigi masih terlihat jelas di sana. "Jadi karena ini…."
"Shikamaru, kau tahu dari tempat tidur Sasuke aku mencium bau apa?" Kiba yang lebih memilih untuk tidur di ranjang tengah berbisik-bisik pada Shikamaru yang memilih untuk tidur di ranjang paling kiri. Paling dekat dengan kamar mandi dan pintu keluar.
"Apa?" Dengan ogah-ogahan Shikamaru balik bertanya.
"Aku mencium bau bunga Sakura…" Kiba menjawab dengan sangat hati-hati; takut terdengar oleh Sasuke walau sebenarnya bisik-bisik mereka itu lumrah sekali terdengar mengingat mereka hanya bertiga di ruangan itu dan mengingat bahwa Kiba berbicara tidak terlalu pelan.
Sasuke melabuhkan onyx hitamnya pada ranjang yang masih tak berbentuk. Malam ini dia akan tidur ditemani bau bunga Sakura yang menyeruak. Akan mengingatkan dirimu pada siapakah Sasuke-kun? Hehehe… Sakura berdecih dan merutuk gadis merah muda itu dalam hati.
Sementara itu, di kamar lain….
"Sakura! Sampai kapan kau akan berhenti memandangi cincinmu?" Ino yang sudah mulai jengah dengan lampu kamar yang masih menggembar-gemborkan sinarnya, ditambah dengan ekspresi Sakura yang terus-menerus tersenyum memandangi sebuah benda jujur saja malah membuatnya ngeri. "TIDUR SANAAAAAA!"
BUAKH!
Lemparan bantal Ino sukses membuat Sakura pingsan malam itu.
Selamat tidur, Sasuke-kun, Sakura-chan. Sampai bertemu lagi esok hari.
To be Continued…
AN:
Fiuh… syukurlah chapter ini bisa selesai dengan selamat ^^ Grohhhh… saya pikir chapter ini akan seperti chapter-chapter lalu di fiction saya yang lain, yaitu menyisakan sebagaian misteri untuk disambung di chapter selanjutnya. Tapi saya terpikir untuk menjaga balancing dalam menulis. Belajar dari pengalaman, keseringan membuat pembaca penasaran juga tidak bagus. Mereka bisa-bisa jengah dan bosan. Jadi sekali-sekali saya menyelangi dengan membuat chapter yang konfliknya langsung selesai dalam sekali pembahasan ^^
Hehehe… terima kasih kepada semua pembaca yang sudah menaruh perhatiannya pada fic sederhana ini. Semoga saya masih ada umur dan ide agar bisa menjaga kelangsungan hidup fic ini. Akhir kata, sampai berjumpa di chapter depan! ^^
