.

Internet university dot com

A SasuSaku fiction

Naruto©Masashi Kishimoto

Internet university dot com©Nurama Nurmala

Warning : Typo(s), OOC, Alternate Univers, Another 'abal' story


Cerita sebelumnya…

Kompetisi demi mendapatkan harta karun yang sudah disembunyikan pihak sekolah pun dimulai. Mereka tidak hanya berkompetisi dengan teman sekelas mereka, tetapi mereka juga harus melawan peserta dari kelas lain. Demi membentuk harmonisasi kerja kelompok maka secara sengaja para peserta dibentuk secara berpasangan.

Salah satu kelompok unik terbentuk adalah kelompok Sasuke-Sakura. Si pemilik peringkat tertinggi dan wanita paling berani dalam angkatan.

Karena kecerdikan Sasuke, mereka berhasil mendapatkan harta karun pertama berupa cincin berharga. Dan ketika semua orang telah terlelap, petunjuk menuju harta karun kedua kembali dilantunkan. Kemudian betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui ada seorang murid aneh yang mengaku berasal dari kelas E sementara sebilah pisau berkilah di genggaman tangannya.

Belum jelas mengenai maksud kedatangan lelaki itu. Sasuke dan Sakura lebih memilih menghiraukan lelaki itu dan fokus pada misi mereka. Akhirnya mereka berhasil membuka pintu gerbang, tapi karena kesalahan Sakura, gerbang kembali tertutup secara paksa dan menyebabkan mereka terjebak dalam lorong ke ruangan hukuman.

Dan Sasuke… terluka.


Internet_university dot com

Chapter 7


"Jangan memandangku dengan tatapan seperti itu," ujar Sasuke dengan nada tinggi di warna suaranya. Sakura masih terdiam berlutut di depan Sasuke. "Mau sampai kapan diam di tempat seperti ini? Kita harus menemukan ruang hukuman itu!" Sasuke kembali mengingatkan, jengah dengan sikap non efektif seorang Haruno Sakura yang senantiasa menghambat pergerakannya.

"Kau… bisa…."

"Aku masih bisa berjalan. Kau jangan seenaknya meremehkan orang," rikuh Sasuke yang muak dengan sikap lambat Sakura. Tak bisakah ia tidak mempedulikan apapun? Batin Sasuke kesal.

"…" Sakura terdiam sejurus kemudian. Ia tampak tidak setuju dengan arogansi Sasuke. Ia merasa ada sesuatu yang seharusnya diluruskan di sini. Tapi… apa yang harus ia luruskan? Sampai akhirnya Sakura hanya bisa diam—berpikir, mencari dan mencerna.

Perlahan, Sakura mulai beranjak dari duduknya. Ia beringsut mendekati Sasuke, lalu kembali menggapai lengan itu sekali lagi.

DRAP!

DRAP!

DRAP!

Langkah mereka bergema perlahan di lorong yang hening. Hanya bisu yang melibas mereka di sepanjang jalan dan keadaan yang tidak nyaman itu membuat Sakura diam terpekur—berpikir dan menyesapi keadaan yang menderanya saat ini.

Tangan Sasuke dingin. Ia diam merasakan.

Apa tangan seseorang yang sombong selalu seperti ini? Dingin? Dan… sepi?

Sudah lebih dari sepuluh menit mereka menelusuri dinding tanpa secuil pun penerangan. Sakura penasaran dengan seberapa parah luka Sasuke, kerongkongannya tercekat sementara gemuruh di hatinya tak urung reda. Ia menengadah ke atas, tapi bagai bertemu dengan malam tanpa bulan, ia kembali tak dapat melihat apa-apa. Ia merasa telah dipecundangi gelap—melangkah ke arah yang tak dapat digapai oleh emerald-nya.

Ia mendengus tertahan.

Beberapa menit kemudian, tangan Sasuke akhirnya menyentuh sebuah dinding kayu di belokan terakhir. Dinding itu berbeda dengan dinding beton yang selama ini ia raba, ia menarik kesimpulan mungkin itulah pintu menuju ruang hukuman yang sedari tadi ia cari.

"Aku menemukan sebuah pintu," tak menunggu tanggapan dari Sakura, setelah Sasuke menemukan pegangan pintu kayu itu, ia menarik pintu itu perlahan.

"Indah… sekali," ungkapan spontan Sakura menyentakkan lamunan Sasuke.

Ya.

Mungkin ini sisi melankolis dari seorang wanita. Tapi….

Sasuke segera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang tak begitu luas di depannya. Lebarnya tak lebih dari 10 meter, dan di dalamnya tak ada kursi, sofa, atau bahkan jendela. Ruangan itu benar-benar merefleksikan ruang hukuman pada jamannya. Pengap, lembab, dan menyiksa.

Lalu… apa yang membuat Sakura bergumam bahwa ruangan itu indah? Apa mungkin kepalanya telah terbentur ketika pintu masuk tadi tertutup secara paksa?

Tidak.

Alasan kenapa Sakura terejut kagum dan alasan kenapa Sasuke bisa melihat bahwa ruangan itu tak dihiasi dekorasi serupa dengan ruangan biasa adalah…

Sekuntum bunga berwarna putih bersinar terang di tengah ruangan. Atap ruangan itu terbuka tak begitu besar untuk memberikan sumbangsih sinar rembulan kepada sekuntum bunga mungil yang berdiri jumawa dengan bias sinar yang ia pendarkan ke seluruh ruangan.

Tep…

Tep…

Tep…

Tanpa sadar Sakura mulai mengayun langkah memasuki ruang hukuman itu. Derap kakinya membawa ia semakin dekat ke tempat bunga itu tertanam.

Bruk….

Ia menjatuhkan dirinya perlahan, lalu terduduk tenang menatap keindahan bunga legenda itu. "Indah sekali…" kagumnya sambil mengurai senyum lembut. Surai merah mudanya perlahan tersiur menepis udara, sementara sisa helaian rambutnya menganak di sebelah bahu.

Entah mengapa… efek dari sinar bunga itu malah menambah warna lain di ruangan itu.

Merah muda pastel.

Dan entah mengapa… warna itu yang menyadarkan Sasuke… bahwa ternyata di dunia ini ada warna lain selain hitam. Merah muda pastel.

Drap!

Drap!

Drap!

Lampaian langkah Sasuke nyaring terdengar, terlebih bunyinya timpang—tidak seperti langkah orang kebanyakan. Ah—benar juga. Sasuke harus menyeret kakinya agar ia bisa berjalan.

"Tidak ada harta karun di ruangan ini," ujarnya penuh selidik. Ya, tidak ada benda lain di ruangan ini selain bunga bersinar itu.

"Harta karunnya… ada di sini. Kau tak melihatnya?"

Iris emerald itu melayang lurus menusuk onyx. Tatapannya begitu ringan, begitu lembut, begitu hangat, dan… begitu menyenangkan.

Tidak. Apa sebenarnya yang kupikirkan?

"Bunga itu?" Sasuke bertanya penuh penghinaan.

"Ya," Sakura tersenyum kecil sementara kedua atensinya enggan beranjak dari sosok cerah di depannya. "Sedari tadi kita hanya menelusuri lorong gelap tanpa cahaya. Kita bertengkar, kita terdesak, bahkan… salah satu dari kita terluka," ketika menyebutkan kalimat terakhir itu… entah mengapa kerongkongan Sakura tercekat. "Dan dari sekian kesulitan yang mendera kita… akhirnya kita bisa menemukan secercah sinar. Lorong yang gelap itu kini tergantikan biasan sinar dari bunga legenda, kita bisa saling melihat kekhawatiran di wajah masing-masing, dan aku jadi bisa tahu seberapa parah lukamu…" Sakura terdiam beberapa saat. "Menurutku, bunga ini adalah harta sesungguhnya yang kita cari."

"…" entah apakah ideologi Sakura—si gadis biang onar itulah yang benar, atau stamina Sasuke yang terbatas urung untuk kembali berkompromi, tapi yang jelas… hingga penghujung malam ini, Sasuke memutuskan untuk menunggu dalam diam.

Pintu masuk ke ruangan ini telah terkunci dari luar. Perlu waktu beberapa jam untuk membongkarnya setelah mereka menyadari apa yang telah terjadi, dan jika hotel ini dilengkapi dengan kamera CCTV, tak akan lama bagi pihak universitas untuk mengetahui masalah yang terjadi di teka-teki ketiga. Perkiraan Sasuke… mereka membutuhkan waktu sekitar 1 jam (jika menggunakan peralatan yang mumpuni) untuk membongkar pintu depan. Dan ini… sudah menit ke-40 setelah mereka terjebak di lorong itu.

Bantuan akan tiba dalam waktu 10-20 menit lagi.

Bruukkk….

Sasuke ikut menjatuhkan diri di depan bunga bersinar ruangan itu—di samping Sakura.

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

"Hei, Sasuke…"

"Hn?"

"Apa hal yang paling kau cintai di dunia ini?"

"… kekuasaan."

"Kekuasaan?" Sakura bertanya untuk memastikan. "Bukan wanita, ibu, atau bahkan uang?"

"Tidak."

"Tsk. Kau orang yang ambisius rupanya."

"…" Sasuke tak menjawab hingga keheningan kembali menyergap mereka berdua. Di detik ke 20, akhirnya bibir dingin Sasuke bergerak, "Entah, apa aku tergolong manusia yang ambisius atau tidak. Tapi ketika kau mencintai sesuatu, rasa itu tidak sama dengan kau berambisi pada sesuatu."

"…" Sakura tercengang mendengar jawaban Sasuke. Ya. Dia lupa, kalau pertanyaan pembuka yang ia lontarkan adalah apa yang paling kau cintai di dunia ini? Dan kenapa tiba-tiba Sakura menyambungkan cinta dengan ambisi ketika Sasuke menjawab bahwa yang paling ia cintai di dunia ini adalah kekuasaan?

"Dari dulu aku senang membuat rencana. Puas dengan menganalisa dan lupa diri ketika sedang berspekulasi. Ketika aku membuat rencana dengan terperinci, merealisasikannya dan melihat rencana yang kubuat sukses, maka aku memiliki kontrol atas itu. Kekuasaan adalah kontrol terhadap sesuatu. Kekuasaan tidak akan pernah mengkhianatimu dan aku suka sisi setia dari kekuasaan."

Deg!

Debaran hati Sakura semakin bergemuruh. Apakah… setiap orang yang arogan selalu menarik seperti ini?

"Kau… tidak percaya pada manusia?" Entah apa yang dipikirkan Sakura, tapi sekonyong-konyong pertanyaan itu terlintas tanpa filter lebih dahulu. Sakura sendiri heran kenapa dia bisa mengajukan pertanyaan aneh seperti itu.

Hingga… tatapan menusuk itu balik menatap emerald dengan tajam.

"Tidak. Aku tidak percaya pada manusia."

"…"

Sakura terpana dengan tingkat apatisme Sasuke yang sudah terdeteksi sangat akut. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. "Haahhh…" dan embusan napas kuat keluar sebagai gantinya. "Tapi, Sasuke. Bukankah hidup seperti itu sangat sepi?"

"Sepi?" Sasuke balik bertanya dengan tampang—bingung, eh? "Sepi hanya bisa dirasakan ketika kau memiliki sesuatu, lalu karena suatu hal yang lain kau kehilangannya. Itulah yang dinamakan sepi. Itu tidak akan berlaku pada seseorang yang memang tidak memiliki sesuatu itu dari awalnya."

Sekali lagi… Sasuke membuat Sakura terdiam. Lalu… tanpa sadar, Sakura bergerak mendekati Sasuke, melepas jaket hangat yang membebat tubuhnya sedari tadi dan menelungkupkan jaket itu ke tubuh Sasuke yang terluka. Lalu tanpa sadar… tubuh ringkih milik seorang wanita itu memeluk tubuh Sasuke pelan.

"Kau bisa memilikiku," bisik Sakura perlahan, lembut, pasrah.

….

Kepala Sasuke terkulai ke depan—menunduk penuh kepedihan. "Jika kau jadi milikku, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku. Selamanya."

To be Continued….


Special Thanks To:

Lavender, blacklist935, meyo, haruchan, Benrina Shinju, Wattirah, Sheiyuki, Miaw-nyan, Uchiha Cesa, Unknowni, ZhaErza, Zezorena, Nara Seunghyun, Yumi Murakami, peyek chidori, rui chan, sonedinda2, ChieAkane ga log, Uchiha Sei, Sakuhime Chan, Vania, Edelwish, Kikyu RKY, Lhylia Kiryu, ELFightSJ, Chitanda Chi-Chan, Uchiha Cherry Rania17, Chic White, LastMelodya, Gita Zahra, Michelle Aoki, Queeny Qyu, Trancy Anafeloz, EsterhazyTorte, yvez, lockets, Tomat-23, piyo piyo-chan, Bunga Sakura, Khoerunnisa740, Hikari Ciel, wembell, V3, Irmawati Hasan, o. O rambu no baka, Seijuurou Eisha, sora azura, dan beberpa reviewer yang tampil sebagai Guest.