.
Internet university dot com
A SasuSaku fiction
Naruto©Masashi Kishimoto
Internet university dot com©Nurama Nurmala
Warning : Typo(s), OOC, Alternate Univers, Another 'abal' story
Sudah hampir dua minggu berlalu semenjak insiden UchiHaru itu bermula, dan hanya dalam waktu satu minggu saja insiden itu langsung terlupakan. Alasan berakhirnya kicauan atas suatu insiden hanya bisa diakhiri dengan insiden yang lain.
Ya, insiden baru yang melibatkan wanita Haruno itu lagi kali ini adalah insiden yang mengikis emosi. Tapi Sakura berpikir keadaannya sekarang jauh lebih baik daripada keadaan ketika ia terjebak dengan Sasuke.
Ya, lebih baik jika ia bersama Shino.
Internet_university dot com
Chapter 10
"Masa penyembuhanmu begitu cepat, padahal selama kau berada di sini kau tidak beristirahat sepenuhnya, Sasuke," ungkapan takjub itu turun begitu saja dari bibir Kakashi yang disaputi tabir penghalang. Sedangkan Sasuke yang berada di depannya terlihat sibuk mengganti pakaian rumah sakit dengan baju santai yang biasa ia pakai.
"Aku menepati janjiku, kau pun harus menepati janjimu," usut Sasuke di tengah aktivitasnya mengepak barang-barang keperluan sehari-hari. Walau tampak tidak begitu peduli, tapi keseriusan tersirat dari warna suaranya yang dalam dan mengancam.
"Ya. Aku berjanji jika kau bisa keluar dari rumah sakit ini kurang dari satu bulan, maka aku akan mengembalikan posisi semua orang seperti semula. Termasuk posisimu di tim yang sama dengan Haruno Sakura."
"Bagus."
"Tapi itu terjadi jika Sakura tidak keberatan."
"Apa?" Sasuke secara refleks menghentikan kegiatannya, kini onyx itu terpaku memandang lelaki jabrik berambut perak yang terduduk tenang di depannya.
"Jika Sakura tak keberatan untuk satu tim lagi denganmu, maka kau bisa kembali ke posisimu semula. Tapi jika dia merasa lebih nyaman bersama Shino Aburame, maka aku tidak bisa memaksakan kehendak. Biarkan ia dengan keinginannya."
"Aku tak percaya kata-kata itu keluar dari mulutmu. Sejak kapan kau jadi pribadi yang mementingkan perasaan orang lain?" pertanyaan Sasuke yang berujung sarkastik itu hanya membuat Kakashi menyipitkan matanya karena senyum yang ia buat.
"Aku jadi teringat sesuatu…" kini atensi sayu itu terlihat mengawang-awang, seperti terbang menuju memoar yang telah kunjung hilang; ditelan waktu. Namun dari garis ketegasan di wajahnya dapat diprediksi jika ingatan yang tak kunjung berlabuh itu dapat terikat oleh tali simponi yang diciptakan kenangan. Iris sayu itu mengedip sekali hingga akhirnya tertuju pada bocah Uchiha di depannya. "Ketika kau menolak untuk berada dalam satu kelompok bersama Haruno Sakura, tak berapa lama kau kembali lagi dan menyatakan kesediaanmu berada dalam kelompok yang sama dengan Sakura. Semua itu kau lakukan karena kau menemukan sesuatu yang menarik. Biar aku terka. Apakah sesuatu yang menarik perhatianmu… adalah Sakura itu sendiri?"
Sasuke hanya terdiam mendengar beragam spekulasi dan pertanyaan yang dilontarkan Kakashi. Ia tertunduk kuyu sementara kedua tangannya kebas; berada di samping tubuhnya.
"Itu bukan urusanmu."
"Aku tahu itu memang bukan urusanku. Tapi jika kau cuma berniat untuk bermain-main saja dengan Sakura, aku melarangmu untuk melakukannya," Sasuke terkesiap mendengar ucapan Kakashi. Ucapan itu bukan hanya gertakan, tapi berasal dari kesungguhan. Dan Sasuke menyadarinya dengan teramat jelas. "Sakura adalah tipe gadis yang serius dan bersungguh-sungguh. Ia akan loyal dan total pada sesuatu yang mengambil hatinya. Walau ia terlihat tidak begitu peduli atau berusaha menentang mati-matian, tapi jauh di dalam hatinya ia benar-benar peduli. Dan jika kau memang berniat bermain satu musim dengannya, itu malah akan melukai Sakura. Dan yang kutakutkan… di masa depan hatinya tidak terbuka lagi untuk siapapun."
"…."
Pembicaraan di siang itu berakhir dengan kebisuan Sasuke.
Kakashi yang sudah menyampaikan apa yang menjadi tujuannya menjenguk Sasuke di siang hari ini memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Sasuke dalam kebisuannya. Untuk merenung.
Internet_university dot com
Chapter 10
Sore hari yang menjadi jam pelajaran terakhir membuat para siswa terlelap dalam kelelahan. Terlebih lagi untuk siswi kelas E bernama Haruno Sakura yang seharian ini bergelung dengan urusan yang ditunjukan Shino Aburame.
"Malam ini kita keluar lagi."
"Ha? Untuk apa?" Sakura yang tak percaya dengan ajakan Shino—yang entah sudah ke berapa puluh kalinya hari ini—membelalakan emerald-nya tak percaya.
"Kita harus memecahkan teka-teki kedua. Teka-teki itu masih belum terpecahkan dan harta karunnya waktu itu belum kalian temukan, 'kan?"
"Aku tahu—kau sudah mengatakannya beratus kali dalam seminggu ini. Tapi, Shino… aku pun butuh istirahat."
"Kau bisa istirahat sebanyak yang kau inginkan setelah kita menemukan harta karun di teka-teki kedua."
Setelah berucap dengan nada yang menyebalkan, Shino melenggos pergi meninggalkan Sakura yang menjerembabkan kepalanya ke atas meja.
"Benar 'kan apa yang kubilang kalau Aburame itu adalah pertanda tak baik untukmu," sebuah komentar lain menyertai kepayahan Sakura yang sudah berada di ambang batas. Sakura tak mengangkat kepalanya, ya… tanpa melihat pun Sakura sudah tahu siapa pemilik suara ini.
"Gaara-kun, kudengar kau memiliki kakak yang berada di kelas A, kenapa kau tak menganggu mereka saja? Kenapa kau senang sekali dekat denganku?" Racau Sakura tak jelas. Kepalanya masih menghujam meja tempatnya belajar sementara riak rambutnya menutupi seluruh wajah letihnya.
"Aku merasa jika aku berada di dekatmu aku akan menyaksikan berbagai macam kejadian menarik."
"Apanya yang menarik dari gadis miskin seperti akuuuuu?"
"Sakura, ada yang mengganggu pikiranku."
"Apa lagi?"
"Sebelum bertemu di tempat ini, apa kau sudah kenal dengan Neji sebelumnya?"
"Oh, Neji? Ya. Tapi hanya sebatas hubungan di dunia maya. Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Tidak. Hanya saja… ketika kau masih bersama Sasuke, perhatiannya terfokus kepadamu. Tapi setelah kau bersama Shino, ia tak lagi memperhatikanmu. Neji mungkin berpikir jika kau bergabung bersama Sasuke, kalian akan menjadi halangan yang nyata—yang patut diperhitungkan sebagai rival. Dan setelah kau tidak lagi bersama Sasuke, Neji tidak lagi menganggapmu ada. Ya, jika Neji sampai berpikir seperti itu, berarti ada sesuatu dalam dirimu yang berpotensi menjadi penghalang baginya. Dan potensi itu akan teraktifkan jika kau bekerja sama dengan Sasuke. Berpikir bahwa Neji mengetahui kekuatanmu, aku menduga kalian memang sudah saling kenal sebelumnya."
"Heeee… Gaara-kun," Sakura perlahan mengangkat kepalanya yang sedari tadi terkulai tak berdaya lalu memandang Gaara dengan sebuah senyum manja. "Kau pintar juga ya. Tapi satu yang membuat dugaanmu menjadi sebuah kekeliruan besar," seperti biasa, Gaara hanya menatap Sakura tanpa ekspresi dan tanpa suara pertentangan. "Aku," Sakura menunjuk dirinya sendiri. "Dengan atau tanpa Sasuke, aku merupakan sabuah halangan. Halangan yang sangat besar!"
Internet_university dot com
Chapter 10
"Belum ada lagi teka-teki selanjutnya yaaaaaa?" Gaung Naruto di koridor panjang menuju kamar Kiba dan Shikamaru yang menyertainya di belakang.
"Alasan kenapa teka-teki ketiga masih belum diumumkan padahal sudah dua minggu berlalu sejak teka-teki kedua diumumkan adalah bahwa teka-teki kedua masih belum terpecahkan."
"Kau juga sependapat dengan manusia serangga itu, Shikamaru?" Kiba meneliti raut Shikamaru dengan tatapan kaget. "Aku kira Sasuke dan Sakura sudah berhasil memecahkan teka-teki waktu itu. Tapi aneh juga, ketika mereka ditemukan oleh tim penyelamat mereka tidak membawa benda apapun."
"Ya, karena itu kemungkinan bahwa teka-teki kedua masih hidup sangatlah besar."
"Aaaaaaaa! Aku sudah capek hanya dengan memikirkannya! Bagaimana kalau kita menyeduh ramen instan saja di kamar kalian?" Dengan bersemangat Naruto membuka pintu kamar Kiba dan Shikamaru, namun begitu terkejutnya mereka ketika atensi mereka menangkap sosok lain yang sudah lama tidak mereka lihat.
"SASUKEEEEEEEEEEEEE! KAU KEMBALIIIIII?" Naruto berlari menerjang Sasuke dengan semangat yang luar biasa menggebu-gebu. Namun sebelum Naruto benar-benar menabrakan dirinya ke arah Sasuke, Sasuke dengan sukses menghindar dari sergapan Naruto hingga…
.
.
DUAAKKKHHH!
.
.
Dengan naaas dan tragis Naruto menabrak dinding.
"Sasuke, kau sudah sembuh?" Kiba bertanya penuh antusias. "Bukankah kata dokter lukamu akan sembuh dalam sebulan? Kenapa kau sudah kembali?"
"Hn. Di luar perkiraan, lukaku membaik dengan sangat cepat."
"Hooo…" Kiba dan Naruto mengangguk bersamaan.
Srreeettttt!
Dengan santai Shikamaru menjatuhkan dirinya di atas ranjang yang berada di sebelah kiri dari ketiga tempat tidur yang berada di kamar itu. "Dengan kedatangan pria bernama Shino Aburame, posisimu jadi tergantikan dalam posisi tim. Setelah melihat kasus seperti ini, apa yang akan kau lakukan selanjutnya Sasuke?"
Sasuke tak langsung menjawab pertanyaan Shikamaru. Ia hanya diam dengan kepala terantuk udara.
"Aku merasa kasihan pada Sakura," ungkap Naruto prihatin. "Semenjak Kakashi-Sensei mengumumkan patner baru untuk Sakura, dan semenjak Kakashi-Sensei memberitahu bahwa patner baru Sakura; Shino Aburame adalah orang yang tidak sama dengan orang lain, itu membuat Sakura kewalahan dan kelelahan setiap harinya."
"Kewalahan dan… kelelahan?" Naruto mengangguk mengiyakan keheranan Sasuke.
"Patner baru Sakura adalah salah satu murid kelas E yang pada awalnya dianggap tidak bisa mengikuti pelajaran di lapangan karena masalah kesehatan. Sepertinya, semenjak kejadian malam itu—yang melibatkan kau dan Sakura, Kakashi-Sensei mempercayakan Shino Aburame kepada Sakura. Apa Sakura berstamina besar atau sangat kuat sampai bisa mem-back-up kekurangan Aburame?" Shikamaru memandang Sasuke dengan tatapan yang menyiratkan ketidakpenasaranan—sangat kontras dengan pertanyaan yang digawanginya.
"Begitulah," jawab Sasuke acuh tak acuh.
"Pantas saja kalau begitu."
"Apanya? Apanya?" Naruto yang tak mengerti dengan arah pembicaraan mendekati Shikamaru dan berunjuk di depannya.
"Alasan mengapa Sakura dipasangkan dengan Shino adalah untuk mem-backup kekurangan Shino sendiri. Kakashi-Sensei sempat bilang sebelum memperkenalkan Shino bahwa ia adalah seseorang yang rapuh. Secara terbuka ia meminta Sakura untuk menjaganya. Jadi tidak heran jika keadaan Sakura terpuruk begitu. Ia harus—" Sasuke tak lantas meneruskan kata-katanya, atensinya terpaku pada wajah melongo Kiba dan Naruto. "Apa maksud tatapan kalian?"
"Sasuke, kau memang dekat dengan Sakura ya…" selidik Naruto penuh tanda tanya.
"Aku tidak dekat dengannya."
"Tapi dari kata-katamu barusan, kau terdengar sangat memahami Sakura," kali ini Kiba yang berkomentar senada dengan yang dirasakan Naruto. "Kau benar-benar serius dengan Sakura ya?"
"Ha?" Sasuke yang tak mengerti mengapa mereka pun salah paham dengan hubungan—tak jelas bersama Sakura tiba-tiba teringat beberapa insiden yang mengantarkan pemahaman mereka pada pemahaman yang salah. Ya, Sakura beberapa kali sudah berguling-guling di atas tempat tidurnya, dan gigitan Sakura waktu itu… tak ayal lagi menimbulkan kesalahpahaman yang tak dapat diluruskan. "Hahh…" tarikan napas panjang Sasuke meradiasikan sebuah pilihan untuk tidak menjelaskan kesalahpahaman yang merepotkan ini. "Kalian tahu dimana aku bisa menemukan Sakura?" sebuah senyum puas diselingi seringai lebar tiba-tiba terlihat di wajah Naruto dan Kiba setelah mendengar pertanyaan terakhir Sasuke hari itu.
"Hehehe…."
Internet_university dot com
Chapter 10
Pukul 20. 45
Di Atap Gedung
"Kenapa kita harus mencari di sini? Ini 'kan tempat terbuka!" cercaan wanita berambut merah muda itu tak menyurutkan niat dari si lelaki bertudung abu-abu. Walau sudah berkali-kali berjerumat, meracau, bahkan mengumpat, tapi aksi Sakura tak dipedulikan sama sekali oleh pemuda Aburame. "Tidak ada harta di sini, kenapa kau bersikukuh untuk menyisir seisi vila?"
"Keganjilan karena menghilangnya harta karun di teka-teki ini yang tanpa clue sama sekali membuat seluruh peserta putus asa atau salah paham. Tapi selama harta itu belum ditemukan, kegiatan ini tidak akan pernah bisa dilanjutkan. Harus berapa kali aku menjelaskan ini padamu Haruno?"
"Tsk!" Sakura membuang muka pertanda kesal. Sudah lebih dari satu jam ia menyusuri atap gedung ini. Mengukur dan memeriksa lantai permeter; mengantisipasi adanya benda yang disembunyikan atau pintu rahasia lain. Memeriksa semua dinding, bahkan….
"Tinggal pagar atap yang belum diperiksa."
"Haa? Maksudmu aku harus memeriksa pagar atap juga?!"
"Ya. Aku harus kembali ke ruangan, udara di sini sudah mulai dingin. Yoroshiku ne, Haruno," setelah mengibaskan tangan kanannya, ia pun berbalik dan melenggos pergi meninggalkan Sakura yang terlihat syok sendirian.
"Orang ituuuuu!" Sakura berusaha menahan teriakan frustasinya dengan tangan yang terus mengepal. Ia sudah tak sabar lagi pada Shino, tapi instingnya mengatakan agar sebisa mungkin ia tak berurusan lebih dalam dengan Shino. Mau tak mau ia pun tetap menuruti keinginan Shino—salah, perintah Shino.
Sakura mulai beranjak dari rasa kesalnya, dan mulai menyusuri pagar atap satu persatu. Berusaha mencari sesuatu yang janggal dari pagar atap dengan gaya sederhana itu. Pagar itu hanya kumpulan dari serangkaian besi hasil ukiran dengan desain kerajaan pada masa Meiji yang dijadikan satu, terdapat ukiran naga pada setiap tubuh pagar itu, sementara pada ujungnya dilapisi pendulum berwarna emas dengan batu mata merah yang mengelilinginya.
Sakura telah hampir pada pertengahan pagar, sampai saat ini dia tak mendeteksi adanya hal aneh, namun beberapa detik kemudian, dia melihat sebuah kilatan di sana. Ia melihat sebuah kilatan bersinar satu meter di bawah pagar. Sekilas, ia seolah melihat setangkai bunga di sana—eh?
Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali, bayangan samar itu siapa tahu hanya penglihatan sekejap Sakura saja. Dan memang benar, penampakan itu kini menghilang dari ranah pandangnya. Ia mendengus penuh semangat.
Ia yakin benar bahwa harta karun dari teka-teki kedua adalah bunga itu—bunga Dafodil yang ia lihat bersama Sasuke di ruangan itu. Dan kini… bunga itu kembali menampakan dirinya dengan misterius di depan Sakura? Yang benar saja! Sakura tak akan melepaskan kesempatan ini!
Dengan penuh semangat Sakura berjongkok di balik pagar yang mengukungnya kemudian menjuntaikan tangannya ke bawah; berusaha menjangkau benda tak tampak yang beberapa detik lalu sempat muncul di sana.
"Tsk!" Sudah berkali-kali Sakura mencoba mengibas-ngibaskan tangannya, namun tangannya hanya mengais udara kosong. Nihil. "Apa tanganku terlalu pendek?" Ia mencoba berspekulasi. Sakura berpikir beberapa lama hingga ia memutuskan untuk sedikit nekat.
Sakura mulai memegang palang atap, lalu melompat pelan ke sisi lainnya. Setelah sukses berjuntai di sisi pagar yang membuat tubuhnya mengarah langsung ke arah tanah dari lantai lima seperti ini, Sakura tak urung berhenti, ia menggapai dasar pagar dengan tangan kirinya dan mencengkramnya erat agar tangan kanannya bisa menjangkau tempat yang paling bawah dari dinding di bawah pagar.
Manik emerald-nya lincah mencari-cari Dafodil bersinar itu di antara dasar pagar sampai dinding vila yang lengang, namun hanya pandangan kosong yang ada.
"Akh!" Sakura tanpa sadar menggendikan bahu kirinya. Tanpa disadari tangan kirinya mengebas sementara otot-ototnya saling menjepit. Ia lupa, bahwa sekuat apapun dirinya, namun karena selama ini ia berpatner dengan Shino Aburame—yang telah dengan sadis memberinya perintah-perintah gila seperti memeriksa sumur di belakang villa, memeriksa—sekaligus membersihkan gedung lantai empat, menyisir seluruh ruangan di villa, memeriksa taman villa dan tempat-tempat yang tak mungkin diperiksa lainnya, tanpa sengaja itu menguras tenaganya.
Kini tenaganya sudah mulai surut, dan sedikit mustahil untuk Sakura mengangkat kembali tubuhnya ke atas. Sudah mujur ia tergantung di sana—dengan sisa kekuatan yang ada. Apa ia harus menunggu pertolongan datang, atau berusaha menyelamatkan diri sendiri?
Tapi… tiap ia mengeluarkan tenaga agar tubuhnya bisa naik, otot di tangan kirinya memelintir perih—sangat menyakitkan.
"Ukhh!" Tanpa sadar ia meringis tertahan.
"Hm… begini ternyata kerjaan orang sibuk, bergelantungan di pagar atap vila," celotehan seseorang yang sudah dikenalnya membuat Sakura terperanjat kaget. Dengan tampang yang sulit dijelaskan, Sakura memandang seseorang yang sedang menopang dagu di atas pagar sana dengan pandangan sarkastik ke arahnya.
"Sa… Sasuke?" Sakura tergagap tak percaya. Sasuke yang harusnya sembuh dua minggu lagi… kini berdiri di dekatnya. "Ba-bagaimana kau bisa berada di sini? Ba-bagaimana sakitmu?"
"Aku berjalan ke sini, sakitku sudah sembuh. Terima kasih pada seseorang yang tak pernah datang menemuiku di rumah sakit."
"Eh?" Sakura terkesiap mendengar sindiran Sasuke. Kenapa? Kenapa dadanya kini berdebar keras sekali? Kenapa setelah Sasuke datang wajahnya jadi panas seperti kepiting rebus? Apa ada yang salah dengannya? "Ini bukan waktunya mempermasalahkan itu, Baka Sasuke! Cepat angkat aku!"
"…" Sasuke hanya terdiam menatap Sakura. "Hei, apa yang kau katakan waktu itu… serius?"
"Eh?"
.
.
.
Sasuke memandang serius wajah Sakura, sedangkan Sakura terlihat linglung dan bingung. "Kau berjanji untuk jadi milikku."
BLUSSHHH!
Kali ini Sakura yang sukses memerah semerah tomat. Ia tak lupa dengan yang aku katakan waktu itu. Sial! Waktu itu benar-benar memalukan sekali. "Su-sudah kubilang ini bukan saat yang tepat membicarakan masalah itu," sengit Sakura membuang muka karena salah tingkah.
"Tapi kau malah bersama Aburame itu."
"SA-SU-KEEEEE!" Sakura sudah habis kesabaran. Kalau Sasuke tetap bersikeras mengajaknya bicara tanpa menolongnya terlebih dahulu, Sakura pasti sudah terjatuh terlebih dahulu dengan kepala menghantam tanah.
"Hhh…" dengan enggan, Sasuke mengulurkan tangan kanannya. "Pegang tanganku," dan dengan susah payah Sakura menjangkau tangan kanan Sasuke.
Tanpa diduga Sakura, Sasuke menarik tubuhnya dengan sekejap. Tangan kanannya menarik tangan Sakura setinggi yang ia bisa, lalu tangan kirinya mengais pinggang Sakura cepat. Secepat kilat Sasuke menarik Sakura dalam pelukan hingga keduanya ambruk dan terduduk di lantai yang kotor.
"Sa-suke?" Napas Sakura saling memburu, detak jantung Sakura saling bertalu-talu. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan di saat seperti ini. Kenapa tenaga Sasuke begitu besar padahal ia masih dalam kondisi yang tidak fit? Kenapa Sasuke memeluknya seperti ini? "Sasuke, aku…"
Sasuke mempererat pelukannya pada Sakura—merengkuh tubuh Sakura semakin dalam. "Kau milikku, tak ada orang lain yang dapat memilikimu selain aku," tubuh Sasuke… terasa panas. Dan rasa panas itu semakin terasa ketika Sasuke mengecup tengkuk Sakura.
"Sa…" debaran dalam hati Sakura semakin tak berirama, jantung itu seolah ingin mengoyak raga yang rapuh ini dan keluar meneriakan nama orang di depannya; Sasuke. Namun Sasuke tak mengindahkan reaksi Sakura, ia hanya semakin dalam memeluknya sementara kepalanya terkulai di pundak Sakura demi menyesap wangi tubuh wanita itu.
"Biarkan aku seperti ini dulu untuk sementara."
Rajukan Sasuke di malam itu… menciptakan kesan lain tentang pemuda raven menjijikan yang selama ini dibenci Sakura. Sakura yang merasa kesedihan menelungkupi Sasuke selama ini membalas pelukannya dengan hangat. Dan setelah satu jam waktu berlalu, tinggal Sakura yang terkulai lemas—tertidur karena lelah di dada Sasuke. Sasuke enggan membangunkan gadis merah muda itu, tapi ia lebih enggan membiarkan gadis itu tertidur dalam dekapan udara dingin malam itu. Ia pun… akhirnya mengantar gadis merah muda itu ke kamarnya; yang membuat Hinata dan Ino terkejut setengah mati.
Tanpa sadar, dalam buaian sang mimpi yang bisa menciptakan apa saja… Sakura bertemu dengan bunga Dafodil yang selama ini ia cari dalam mimpinya.
Bunga Dafodil itu entah mengapa bercakap-cakap dengan Sakura. Dan anehnya, Sakura mengerti dengan semua ucapan bunga Dafodil itu.
Aku adalah bunga harapan.
Jika orang yang bersalah dikurung bersamaku, maka ia akan menerima ganjaran yang setimpal.
Jika ia bukanlah orang yang bersalah tapi dia dikurung bersamaku, maka ia akan dibebaskan dan akan aku antarkan ke tempat di mana ia bisa mewujudkan mimpi dan harapannya.
Begitupun dengan kalian.
Salah satu dari kalian mendambakan ketidaksendirian, dan salah satu yang lain mendambakan melenyapkan kesendirian orang lain.
Aku… akan mengabulkannya, karena aku… adalah bunga harapan.
Tapi… walaupun aku bisa mengabulkannya, jalan kalian menuju harapan kalian tidaklah mudah. Pribadi kalian saling bertentangan dan akan saling menyulitkan satu dengan yang lainnya, tapi jangan menyerah! Karena kalian…
Pembicaraan itu… terhenti sampai di sana. Selanjutnya Sakura dibuai mimpi lain yang menenangkan dirinya. Dan ketika Sakura terbangun nantinya… dia tidak akan ingat sedikitpun mimpi yang tersampir tadi malam.
Ruang Kepala Sekolah
Pukul 22.39
"Harta dari teka-teki kedua; harta yang mengabulkan harapan sudah berhasil diaktifkan walaupun tanpa mereka sadari," ujar seseorang berambut putih dengan seringai aneh yang membebat wajah mesumnya. "Sekarang kita bisa memulai teka-teki ketiga."
"Hai, wakarimashita," wanita berambut pirang di depannya mengangguk mengerti.
To be Continued
