"Erikaaaa~!"
Sesosok gadis bersurai ungu menghampiri Erika yang menguap lebar di koridor sekolah. Wajahnya yang cantik berseri-seri, berlawanan dengan sang sahabat yang memiliki sepasang kantung hitam di matanya. Erika tersenyum simpul, berusaha menghargai antusias sang sahabat yang kelihatan sekali ingin curhat.
"Bagaimana pestamu, Reika?" Tanya Erika, memutuskan untuk mengawali pembicaraan.
Reika tersenyum cerah. Bibirnya baru akan mengungkap rentetan perasaannya ketika akhirnya ia memutuskan untuk menatap Erika dengan khawatir. "Matamu kenapa, Erika? Belajar Sejarah kah?"
Jari telunjuk sang ponytail merah marun menyentuh pipinya dengan ragu. "Aah... itu..."
.
.
.
.
.
"Tidak ada apa-apa! Aku cuma terlalu larut tidur sehabis nonton bola!" Seru Erika, berapi-api seperti biasanya.
.
.
.
.
.
Am I Shotacon?
.
.
.
.
.
Ulangan Sejarah tidak jadi dilaksanakan. Murid-murid bersorak kegirangan. Guru yang tak terlalu mereka suka itu tidak masuk. Sementara tidak ada guru yang punya jam kosong saat itu yang sanggup menangani kehedonan penghuni kelas Erika. Gadis yang biasanya antusias pada saat-saat begini itu langsung menelungkupkan wajahnya ke mejanya yang keras. Ngantuk!
Reika yang sedari tadi ingin curhat berubah iba. Ia suka bola, tapi tidak pernah tahan tidur larut malam hanya demi menontonnya. Apalagi kurang tidur juga tidak baik untuk kesehatan—dan kecantikan. Jadi, dibiarkannya sang sahabat tidur di mejanya. Toh Shou sang ketua kelas mereka juga telah menghilang sejak diumumkan ketidakberadaan guru sejarah, sehingga tidak ada yang bisa memprotes Erika yang terlelap.
Tapi... kalau diperhatikan kasihan juga kalau Erika tidur di meja. Tidak baik untuk bentuk tulangnya, dan pastinya juga tidak nyaman. Reika pun membangunkan Erika perlahan. "Erika... bangun deh."
Diguncangnya sekali lagi bahu Erika. "Bangunn... pindah ke UKS aja, yuk? Tidur di sini nggak nyaman lho, Erika. Lagian nggak bagus buat tulang..."
Erika melenguh pelan. Menepis tangan Reika di bawah alam sadarnya.
"Ya ampun... Erika pasti sangat kelelahan. Erikaaa... ayo pindah ke UKS..." Bujuk Reika lagi.
Sret. Pintu geser kelas mereka terbuka. Keheningan mendadak tercipta karena mengira seorang guru datang. Tapi yang terlihat adalah sosok Furuya Ouzou dari kelas sebelah. Kontan para gadis penggemarnya memekik kesenangan.
"Shou ada?" Tanya Ouzou, setengah berteriak. Barisan para fans langsung berhenti, jadi enggan menghampiri sang idola. Tak sabar, iris obdisiannya menyapu seisi kelas. Anak yang bersuara paling nyaring itu tidak ada.
Reika maju ke depan. "Maaf, Shou tidak ada. Dia tiba-tiba pergi keluar kelas dari awal pelajaran... err.. waktu bebas ini." Jelasnya.
Sayang, mata Furuya termuda itu tengah menatap objek lain saat ini.
"Kamu ada perlu apa? Nanti aku sampaikan ke Shou." Tawar Reika. Gadis itu akhirnya menyadari sang Furuya sudah tidak berminat lagi. Diikutinya pandangan pemuda itu dan didapatinya ia sedang melihat Erika.
"Ah, Erika kecapekan. Kurang tidur, sehabis nonton bola semalam." Jelas Reika, tidak peka.
"Oh gitu." Gumam Ouzou sambil terus menatap Erika. "Tidur di meja kan keras."
"Iya. Makanya aku bangunin Erika tapi dari tadi dia tidak mau bangun. Padahal mau kubawa ke UKS." Keluh Reika.
Ouzou tersenyum. Menyeringai, lebih tepatnya. "Biar kubantu." Katanya, seraya melangkah menuju tempat duduk Erika.
Melihat seringai itu, Reika takut. Jangan-jangan pemuda itu akan membangunkan Erika dengan paksa!
"T-tunggu O..." Reika terhenyak melihat apa yang dilakukan andalan klub sepak bola mereka. Ia yang tadinya akan meluncurkan protes malah merona merah. Sahabatnya yang tertidur nyenyak sudah dalam dekapan Ouzou. Dengan gaya menggendong tuan putri.
Seisi kelas yang tadinya ribut kembali pun tercengang melihatnya. Apalagi fans Ouzou, jangan ditanya. Tanpa menunggu reaksi yang lebih heboh lagi—terlebih Erika cukup berat—Ouzou segera melesat menuju UKS. Reika hanya bisa berdiri lemas melihatnya.
Begitu sosok keduanya hilang dari pandangan, para fans Ouzou pun mengerubungi Reika.
.
.
.
"Mereka itu ada hubungan apa sih, Saionji?"
Reika hanya bisa menggeleng kuat-kuat.
"Teman satu tim, kok."
.
.
.
Selamat datang di UKS Momoyama Chuugakkou! Ruangan berbau lavender ini memiliki luas sembilan kali delapan meter dengan tiga tempat tidur single yang masing-masing dibatasi tirai, ruang terbuka untuk pengobatan ringan dan rak obat-obatan, serta ruang konsultasi kesehatan sekaligus kantor seorang perawat penjaga UKS. Ruangan ini terbilang mewah dan tempat peristirahatan yang sangat nyaman bagi seseorang yang kurang tidur.
Akan tetapi, alih-alih tidur nyenyak, Erika malah tidak bisa tidur walaupun kedua matanya terpejam. Dunia mimpinya yang gelap dan nyaman tiba-tiba terguncang oleh sesuatu yang hangat dan sempat diintipnya bahwa sesuatu itu adalah Ouzou yang baru saja merebahkannya di atas ranjang empuk UKS. Pemuda itu bukan membuat Erika nyenyak tidur malah membuat jantung Erika tidak karuan.
Dan Erika tidak cukup naif untuk mengakui apa artinya itu. Apalagi ketika dirasakannya tangan hangat Ouzou mengelus surai marunnya dengan lembut.
"Kulepas ya, kuncirannya. Nanti kepalamu sakit."
Lalu Erika merasakan helai demi helai surainya terurai. Ia dapat merasakan kuncirannya telah terurai sempurna, namun jari jemari Ouzou seperti tidak puas hanya dengan itu dan mulai menyisiri rambut Erika.
Erika bisa mati kalau jantungnya terus berdetak secepat ini.
"Erika." Jari-jari Ouzou berpindah dari helaian surai ke pipi sang gadis yang sedang berpura-pura tidur. Dielusnya pipi itu dengan lembut. Wajah tampannya mendekati wajah Erika-yang sangat disadari Erika berkat nafas sang pemuda yang semakin mendekat-dan berakhir dengan bisikan pelan di telinga kirinya.
"Hei, kamu tidak tidur, kan?"
Sepasang kelopak mata Erika membuka. Memperlihatkan bola matanya yang membelalak kaget. Menemukan bayangan wajah sang pemuda yang tertawa di hadapannya. Sepersekian detik berikutnya, pandangannya agak kabur. Entah karena kantuk atau kepalanya yang mulai pusing.
"Ugh..." Erang Erika. Reflek ia memegangi kepalanya dan merasakannya berdenyut tak normal. Ia benar-benar butuh tidur.
Ouzou menyalahartikannya. "Butuh minum? Hm." Pemuda penyuka warna merah itu bangkit lalu pergi meninggalkan Erika. Langkahnya agak terburu-buru. Tampaknya pemuda itu akan mengambilkan minum untuk Erika.
Erika bangkit dari ranjang lalu meminum air dari wastafel. Murah meriah. Dirasakannya tubuhnya kembali segar. Mungkin terlelap sekitar lima belas menit lagi tanpa kehadiran Ouzou akan membantu.
Krek krek
Suara ranjang berderit terdengar.
"Ada orang lain di sini?" Tanya sang suara, yang senantiasa berkumandang ketika pertandingan Momoyama berlangsung.
"Aku." Jawab Erika. Gadis itu menyibak tirai yang menyembunyikan Shou. "Oi, selamat pagi."
Shou tersenyum lebar. "Kamu juga tadi habis tidur, kan!"
Erika teringat Ouzou. "Uuh yaa... gitu. Masih ngantuk, nih."
"Lah, semalam bukannya kamu yang sempat ketiduran waktu first half? Waktu tidurmu lebih banyak, dong?"
Erika teringat lagi dirinya yang tertidur di bahu Shou semalam. Wajahnya memerah.
"Ooh.. jangan-jangan kamu pas masuk kamar malah nggak tidur ya gara-gara mikirin Aoto?" Goda Shou.
Nah, yang ini malah membuat wajah gadis itu makin memerah.
"Nggak, kok! Uh, udahlah pokoknya aku masih ngantuk. Nggak lagi-lagi deh nonton sama orang yang suka bikin ngemil!" Bantah Erika.
Shou tertawa keras. "Berarti masakanku enak, kan? Bisa jadi cadangan nih kalo nggak jadi pemain bola."
Erika terkejut mendengarnya. "Kamu nggak serius mau jadi pemain bola?"
"Hah? Serius kok. Cuma tetap harus menyiapkan rencana lain, dong." Jelas Shou.
"Iya, tapi nggak membuat orang gendut!" Gumam Erika, gusar. Ia kembali ke biliknya yang berada di sebelah ranjang Shou.
"Eh," Shou menyusul. "Salah sendiri kenapa mau juga makan."
"Aku kan kasihan kalau makanan tidak dimakan." Timpal Erika dengan enggan. Ia naik ke ranjangnya.
"Sudah aah. Aku mau tidur lagi. Kamu balik ke kelas aja, ribut banget." Usir Erika.
Shou diam. Ia menyentuh bahu Erika yang berbaring membelakanginya. "Erika, kamu nggak gugup ya semalam..."
Erika berbalik, mendapati Shou yang sedapat mungkin menutupi sebagian wajahnya. Malu.
"Ke.. kenapa?" Tanya Erika, yang jadi ikut-ikutan malu.
Melihat Erika dengan rambut terurai yang sedang berbaring menatapnya seperti tanpa pertahanan begitu membuat Shou merona.
"Ng.. nggak! Lain kali nonton bareng lagi ya kalau ada ayahmu!" Ujar Shou dengan senyum dipaksakan. Ia langsung melesat pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Membuat Erika bertanya-tanya.
Padahal, jauh di lubuk hati gadis itu juga mulai memandang sang kapten secara lain.
.
.
.
Ouzou membawa sebotol air mineral tanpa bisa bergerak selangkahpun dari balik tirai yang menutupi bilik Erika setelah Shou terburu-buru pergi.
Ia dengar. Ia dengar semuanya.
"Mereka ada hubungan apa?"
.
.
.
Tagi membungkuk dalam-dalam.
"Maaf Aoto! Serius aku... bener-bener nggak bisa!"
Sang blonde menatap Tagi tajam, tanpa ampun.
"Kamu bisa traktir aku lain kali!" Usulnya ceria, setelah berdiri tegak kembali.
Aoto menatapnya semakin tajam.
Tagi menyerah. "Oke.. kamu nggak usah traktir, deh."
Senyum manis Aoto terbentuk sempurna. "Bagus! Ayo ke restorannya Shou lagi kapan-kapan. Takatou bilang masih banyak menu enak lainnya."
Tagi tersenyum penuh makna. "He... kemarin ngobrol apa aja?"
'"Hn? Cuma obrolan sehari-hari." Jawab Aoto datar.
"Serius?" Pancing Tagi. Sahabat semata wayangnya ini memang paling susah dibuat mengaku.
"Iya, serius. Ternyata asyik juga. Dia satu-satunya perempuan yang nggak bawel dan mengerti banyak soal bola." Jawab Aoto.
Kenapa tiba-tiba Tagi bertanya begitu? Salahkan SMS yang masuk ke ponselnya di hari dimana ia seharusnya ditraktir Aoto. SMS itu dari Shou dan berisi permohonan sang kapten saat itu untuk membiarkan Erika berdua dengan Aoto. Jelas sekali kapten bersuara keras itu ingin mendekatkan keduanya. Tapi tidak berarti Erika suka sama Aoto sih, pikir Tagi.
Karenanya, ia jadi sangat penasaran hasil pengorbanan masa traktirnya itu. Ternyata tidak semudah membuat mie instan. Sahabat blondenya itu baru saja mengutarakan pendapat yang masih sangat Aoto. Dengan kata lain, memang tidak ada rasa apa-apa.
Atau mungkin Tagi hanya tidak menangkap sorot mata Aoto yang sempat berbinar ketika mengatakannya.
.
.
.
Reika memeluk Erika dari belakang dengan senyum sejuta watt. Erika membalasnya dengan tatapan curiga.
"Pasti mau tanya soal kejadian tadi di UKS." Kata Erika sebelum Reika sempat melontarkan maksudnya.
Gadis bersurai ungu itu menjawabnya dengan cengiran lucu. "Iya, hehe. Habisnya kok bisa sih tiba-tiba Ouzou jadi perhatian begitu? Tadi ngapain aja hayo di UKS?"
Erika mencubit pipi kenyal Reika dengan gemas. "Kamu masih punya utang cerita sama Kouta~!" Ujarnya, lebih kepada menghindar.
Mendengar nama sang ace Momoyama Predators disebut membuat pipi Reika memanas. Seketika bermunculan sekelebat peristiwa yang membuat hatinya berdesir. Terutama ketika di pesta...
"Ummm... itu... tidak ada yang spesial... sama seperti biasa kok, Erika."
Senyum Erika miring sebelah. "Ah, buat kamu kan semua yang dilakukan Kouta itu spesial."
Reika semakin malu dibuatnya. Erika semakin bersemangat menggali informasi. "Hayoo ngapain aja? Itu kan pesta, Reika. Jangan-jangan dia memberimu hadiah atau apa? Bunga misalnya?"
Tawa renyah Reika terdengar. "Itu kan pesta temannya mama—dan temannya keluarga mereka juga—jadi buat apa dia kasih aku hadiah? Malah dia menyuruhku mencopot semua perhiasan yang dipakaikan mama padaku. Katanya..."
"Umm... katanya aku akan jadi terlalu mencolok kalau memakai semua itu dan dia nggak ingin aku jadi sasaran kejahatan."
Erika tergelak bebas mendengarnya. Sekilas hanya seperti pesan seorang kakak laki-laki yang protektif, tapi bagi yang mengenal Kouta semua juga paham kalau pemuda itu cuma terlalu malu mengatakannya secara romantis. Untuk konteks percintaan dan ketakutan terhadap hal gaib, Kouta bisa kita sejajarkan dengan si kecil blonde Aoto.
Ah, mengingat Aoto, walaupun tidak segamblang Reika tapi setidaknya makan berdua dengan Aoto bisa dihitung kemajuan juga kan? Walau itu cuma kebetulan, sih. Cuma kebetulan.
"Cuma itu?" Tanya Erika, kembali pada urusan percintaan sahabatnya.
Reika memegangi sebelah pipinya yang memanas. "Yah, selebihnya seperti biasa. Ryuuji dan Ouzou menyisihkan kami berdua lalu aku makan kebanyakan lagi, hehe. Habis, banyak kue yang enak! Lalu Kouta bawel seperti biasa, dan... dia mengajakku jogging bareng supaya aku nggak gendut hehe."
Sepasang mata Erika melebar, teringat sesuatu. "Iya ya! Kalau diingat-ingat, tadi pagi kelihatannya kamu banyak berkeringat. Sekalian berangkat sekolah bareng yaa?"
Reika mengangguk. "Nahh, ayo sekarang kamu cerita, Erika."
Erika menggosok hidungnya. Ragu karena malu. Tapi bagaimanapun juga ia ingin cerita pada sahabat terbaiknya ini. "Umm... yaa jadi pulang latihan kemarin aku diajak Shou makan bareng di rumahnya. Gara-gara anak itu menggodaku terus dengan Aoto-yah walau memang benar aku suka sama cowok pirang itu."
"Pas aku sampai di sana, ternyata ada Aoto dan Tagi! Aku cari Shou, tapi entah kemana dia tiba-tiba malah tidak di rumah. Akhirnya... Aoto mengajakku gabung dengan mereka sambil aku menunggu Shou, hehe..."
"Nggak lama kemudian, Tagi ternyata ada urusan dan pulang duluan. Yaah karena satu dan lain hal akhirnya Aoto menraktirku. Aku nggak berani berharap kami bakal pulang bareng juga... dan ternyata memang kami berpisah di tengah jalan."
Erika berhenti sebentar. Mengingat kejadian berikutnya membuatnya lebih malu lagi.
"Lalu? Apa kamu ketemu Shou?" Tanya Reika, bersemangat.
"Uh, iya dia ternyata nguping setelah aku pulang dari restorannya. Akhirnya kuajak dia nonton bola di rumahku, bertiga sama ayah. Jadii dia menginap di rumahku dan... ugh... udahlah kita skip..."
"Ooh..." Reika menyeringai jahil. "Pasti ayahmu akhirnya tidak bisa nonton bareng lalu kalian nonton berdua, kan kan?"
"Aaaaa... itu memalukaan! Aku juga kan tidak berniat ketiduran di pundaknya... oh!" Menyadari ia telah kelepasan, Erika menghentikan gerutuannya.
Reika semakin lebar saja senyumnya. "Ooh... Lalu di UKS?"
Terbayang lagi obrolannya dengan Shou tadi yang rupanya juga kurang tidur, sama sepertinya. "Nggak ada apa-apa kok! Aku cuma ngobrol seperti biasa sama Shou!"
Reika menatapnya penuh arti. "Aku nanyain Ouzou lho, Erika. Sejak tadi, aku sebenarnya cuma nanyain Ouzou, lho. Aku bahkan nggak tau Shou ke UKS juga."
Erika membelalak kaget. Apa sih yang dilakukannya sejak tadi, hingga terus menceritakan semua yang ada Shou-nya? Gadis itu membuang muka, merengut malu.
"Uuh... Aku nggak suka sama siapa-siapa kok Reikaa... Bahkan Aoto juga cuma aku kagumi." Sangkal Erika. Tegas. Kelewat tegas, malah.
"Jangan menatapku seakan aku seorang shotacon—karena kamu pikir aku suka sama Shou—dong!" Tegur Erika, lebih ke pembelaan diri.
Reika menggeleng-gelengkan kepalanya. Heran dengan tingkah laku sahabatnya.
"Kamu nggak jujur, Erika. Lagipula memang kenapa kalau shotacon? Suka sama Aoto saja sudah termasuk shotacon, sebenarnya."
.
.
.
Erika terdiam. Lama sekali.
.
.
.
Sementara itu, seorang dari triplet demon Furuya—tepatnya si penggila warna merah—sedang menatap kedua lengannya yang pernah merengkuh seorang Takatou Erika.
"Jadi ini yang namanya masa remaja? Sepertinya aku harus berhenti menertawakan Kouta dari belakang."
"... Karena sekarang aku tahu rasanya."
.
.
.
tbc.
.
.
.
a/n : DASAR MASO #mukul diri sendiri# malah dijadiin tbc lagi mana diakhiri dengan kegalauan Ouzou sayang uhuhu #pelukOuzou coret#diciumAotocoret hehehe... maaf baru bisa update, soalnya abis dibombardir try out 2 nih huft.
akhir kata, review? Atau Langsung pm buat ngobrol gaje juga boleh hihi #heh
