Semua tahu Furuya Ouzou itu keren. Yah, kedua saudara kembarnya juga keren dengan daya tarik yang berbeda, tapi intinya Furuya Ouzou itu keren banget. Pemuda itu tampan dengan kemampuan sepakbola—dan atletik—yang luar biasa. Terlebih sikapnya yang santai dan terbilang ramah membuat banyak orang mudah dekat dengannya.
Selain itu, dengan kemampuan atletik yang terkenal itu bisa dipastikan Ouzou akan merajai ujian praktik break dance berkedok senam aerobik akhir tahun ini. Posisi yang selalu membuat para kaum hawa berdecak kagum.
Termasuk Erika.
Tahun lalu, seorang kakak kelas bernama Kageura Akira yang menduduki posisi ini. Sebenarnya posisi ini jelas tidak resmi apalagi mendapat piala, tapi begitu terkenal di seantero sekolah. Semua orang akan otomatis membicarakannya sepanjang sisa waktu sang raja berada di kelas tiga sebelum akhirnya lulus. Bahkan seorang Erika yang tidak biasa memuja cowok—kecuali Aoto, mungkin—sangat mengagumi Kageura yang membuatnya jadi menyukai jenis tari modern satu itu.
Ouzou melihat peluang besar di sini, untuk mengalihkan fokus hati Erika dari si kecil pirang.
Tapi, kepercayaan dirinya tiba-tiba hilang ketika melihat seorang pemuda bertubuh kecil berlatih bersama teman-temannya.
.
.
.
Ouzou bersumpah akan latihan setiap hari.
.
.
.
Am I Shotacon?
.
.
.
Senam itu jelas beda dengan sepakbola.
Erika menghela nafas berat. Dia seorang atlet sepakbola yang cepat, tapi rupanya tidak cukup cepat untuk menghafal gerakan-gerakan senam modern yang menjadi bahan uji praktikum olahraga di SMP Momoyama. Awalnya ia bisa mengikuti gerakan dengan baik, tapi ia dengan mudah melupakannya lalu terpaksa mengulang dan mengulang lagi. Reika yang sekelompok dengannya menjadi tutor khususnya. Gadis manis bersurai ungu itu melakukannya dengan baik terutama karena sebagian besar gerakannya ia yang membuatnya.
"Salah, Erika! Putarnya ke kiri dulu." Tegur Reika, entah untuk yang kesekian kalinya.
Erika mengikuti instruksinya dengan enggan. Namun, seenggan apapun dirinya, mengingat kecemerlangan senam Kageura tahun lalu membuat semangatnya kembali terbakar. Demi apapun dia sangat ingin bisa menari sebaik sang idola, di samping bermain sepakbola sebaik Kageura juga. Maka, Erika terus berlatih.
Lalu gadis itu jatuh ketika berusaha melompat sambil berputar ke depan dengan mata menerawang ke depan tak fokus. Reika yang panikan langsung menghampirinya dengan khawatir namun ia malah menemukan Erika sedang tersenyum.
"Ngomong-ngomong, apa kabar ya kelompok senamnya Aoto ya? Lucu juga kalau membayangkannya..."
Reika menepuk jidat kuat-kuat. "Erikaaaa!"
Erika bangkit lalu terbahak. "Maaf... Maaf... nah sekarang aku sudah ingat harus berputar kemana."
Reika tersenyum lega. "Akhirnya... aku tidak menyangka kalau Erika ternyata sangat lemah di bagian ini. Padahal kau kan paling cepat di antara Predators—saingan dengan Aoto."
"Ehehe... aku kurang suka melakukan senam ini—agak malu jika harus tampil di depan umum—jadinya aku agak grogi dan mudah lupa. Tapi aku suka sekali melihat senam tahun lalu, lho! Kak Kageura sangat keren!" Kilah Erika.
"Ooh jadi itu alasannya... Oh ya, tapi badanmu cukup kaku lho. Kamu harus lebih keras lagi berlatih, Erika!" Saran Reika.
"Iya, hehe... Aku tidak biasa. Maaf ya aku jadi menghambat kelompok kita." Ucap Erika. Tampak Reika mengangguk pelan. Dia sama sekali tidak keberatan harus mengajari sahabat baiknya yang sudah banyak membantunya dalam sepak bola itu.
"Setidaknya... Untunglah kelompok kita tidak ada Shou. Anak itu sangat ceroboh dan sama kakunya denganku soal begini." Dalih Erika.
Reika tersenyum miring mendengarnya. "Erika tahu banyak ya soal Shou?"
Wajah putih Erika seketika memerah. "Bu.. bukan gitu! Si maniak sepak bola bersuara besar itu kan cuma punya dua hal yang dia kuasai dengan baik, memasak dan memimpin tim! Bukan berarti aku dekat sama dia atau apa..."
"Iya, iya, aku paham kok Erika memang shotacon." Potong Reika.
"Ih, kan sudah kubilang aku tidak suka sama Shou!" Bantah Erika.
Reika terkekeh pelan. "Sekeren apapun Aoto di matamu itu sudah hitungan shotacon, tahu!"
Erika menggeram malu. Seumur hidupnya dia tidak pernah suka ketahuan punya barang-barang wanita yang manis dan lucu—tapi kadang kala ia memang suka memilikinya—apalagi ketahuan shotacon. Termasuk soal menyukai Aoto itu. Ia selalu berdalih menyukai Aoto karena performa kerennya di lapangan padahal dalam hati sangat ingin memeluk si kecil manis itu.
"Sudah ah! Lebih baik kau pikirkan Kouta-mu itu, Reika. Aku yakin dia yang cuma antusias sama hal berbau sepakbola juga sama buruknya denganku." Komentar Erika.
Reika mengingat-ingat. "Uh ya... sebenarnya dia memang sering mengeluh padaku soal keharusan senam ini membuatnya jengkel... Ta..."
"Tuhkan. Sudah kuduga di Predators memang tidak ada yang tertarik pada senam ini—kecuali dirimu Reika, maaf—jadi sia-sia sekali rasanya harus meliburkan latihan sehari-hari hanya demi senam ini! Ugh!" Keluh Erika.
"Sudahlah Erika... Biar begitu tidak ada yang bolos latihan bersama kelompoknya kan? Bahkan kau juga tetap latihan walau bisa mengajakku bolos." Sela Reika. "Ingat, penampilan senam Kak Kageura tahun lalu keren banget, dan kamu bisa sekeren itu Erika!"
Erika terdiam. Ketika nama sang idola disebut semangatnya mulai bangkit lagi.
"Kita masih punya dua minggu untuk tampil, sementara penampilan Aoto-mu minggu depan. Setelah melihatnya kamu pasti jadi lebih semangat Erika! Ayo!" Reika berusaha membuat Erika makin semangat. Erika malah tertunduk.
Dua wajah idolanya terlintas dalam benak Erika.
"Erika?" Sapa Reika ketika melihat sahabatnya tidak bergeming. "Kamu kena..."
"Yosh! Ganbatteru!" Potong Erika seraya mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan semangatnya. Namun malang bagi pipi Reika yang malah dikenai kepalan tangan kiri Erika.
"Hu... Huwaaa! Reikaaa!"
.
.
.
Esok harinya Reika harus bersusah payah meminta Kouta untuk tidak terus mengancam Erika dengan tatapan pembunuh sampai memar di wajahnya sembuh.
.
.
.
H-1 kelompok senam Aoto tampil.
Pagi ini—akhirnya—Momoyama Predators kembali latihan bersama. Cuma lari pagi sih, tapi setidaknya latihan. Sayangnya dua shota kesayangan Erika tidak hadir dan lolos latihan pagi ini dengan alasan latihan senam.
Ah kalau Erika tahu istilah itu dipakai untuk menyebut Shou dan Aoto, dia pasti ngamuk-ngamuk lagi.
Kembali pada bahasan awal. Erika sebenarnya sudah sangat rindu latihan bersama Aoto. Tapi dia sangat memaklumi karena besok Aoto akan tampil dan sudah membuat Erika berdebar khawatir sejak sekarang. Bukan khawatir karena performanya akan jelek atau apa, tapi tentu saja mengkhawatirkan bagaimana ia bisa menahan jeritan hatinya ketika melihat si kecil itu break dance di tengah lapangan.
Erika mengelus dada. Dia harus tsuyoi menghadapi godaan fangirling itu!
Tapi... di saat-saat seperti ini ia biasanya tidak sendirian. Shou tidak ikut latihan hari ini rupanya membuat suasana sepi juga. Dilihatnya kebelakang. Tentu saja ia takkan menemukan Shou. Sang kapten sekarang terbiasa berada di depan bersama Erika yang tercepat, untuk menjaga rute lari. Tidak berarti ia yang tercepat, karena kadang yang lain akan menahan kecepatan demi Shou yang sedikit mudah lelah.
Mudah lelah... Jangan-jangan Shou tidak ada sekarang bukan karena latihan senam tapi malah kecapekan karenanya? Mengingat beberapa gerakan break dance agak ekstrem, pasti orang-orang yang tidak biasa akan merasakan otot sakit setelahnya. Apalagi Shou yang juga mudah lelah.
Ah Erika perhatian sekali. Namanya juga sahabat.
Terlalu larut dalam lamunannya, tanpa sadar tiba-tiba seorang pemuda berperawakan tinggi setengah arab mengejar lari Erika. "Hai, Takatou." Sapanya.
"Ah.. Oh! Su.. Sugiyama sudah di depan saja.." Komentar Erika salah tingkah. Benar-benar baru kembali ke dunianya.
Tagi tersenyum. "Kamu larinya melambat, dan jadi lebih mudah dikejar. Melamun ya?"
Erika memalingkan wajah ketika ketahuan melamun. Tagi tersenyum makin lebar. "Oh, jangan-jangan gara-gara Aoto tidak ikut latihan?"
Mulut bawel Erika terbuka lebar. Jadi... Tagi tahu?!
"Seluruh Predators juga tahu, kok. Tapi tenang saja, Aoto sendiri tentu saja tidak tahu." Ujar Tagi, seperti menjawab tanda tanya besar dalam benak Erika.
"A.. aduh..." Gadis ponytail marun itu benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa. "Em.. Su.. Sugiyama.. Kamu jangan kasih tahu Aoto ya... Kumohon..."
Pemuda blasteran arab itu menyeringai. "Gimana ya... Sepertinya justru menarik kalau kuberitahu..."
Erika panik setengah mati. "Sama sekali nggak menarik! Astaga Sugiyama, kumohon, jangan beritahu Aoto!"
"Lho, siapa tahu kan dia malah suka sama kamu, Takatou." Saran Tagi.
Wajah Erika sontak memerah. "Ka.. kalau itu sih... Ugh, bukannya mustahil sih. Tapii.. aaah... tidak pokoknya aku tidak ingin dia tahu!" Tegas Erika.
"Ceritanya jatuh cinta diam-diam nih?" Goda Tagi.
Rasanya kalau di hadapannya ada meja ingin dibantingnya saja. "Iiih... Udah ah! Pokoknya kamu tidak boleh kasih tahu Aoto, ya, Sugiyama!"
Seulas senyum tipis menggantikan seringai jahil sang pemuda berkulit tan. Diubahnya fokus pandangannya kembali ke depan, ke jalur lari yang tengah mereka lalui. Menerawang, memikirkan sesuatu, yang sebenarnya tidak jauh dari inderanya saat ini. Kedua mata Erika menatap tatapan yang terasa sedikit sedih itu. Tiba-tiba hatinya jadi terasa tidak enak.
"Em... Sugiyama, maaf ya. Aku hanya suka saja kok, sama Aoto. Bukan berarti aku merebutnya dari sisimu, kan?" Timpal Erika.
Tagi menatapnya heran. "Hah?"
"Kalian kan selalu sama-sama... Jadi kupikir kamu takut kalau Aoto akan kuambil..." Jelas Erika, polos.
Gelak tawa Tagi terdengar puas. Astaga, dia dikira posesif rupanya.
"Tenang saja, Takatou. Aku tidak merasa kamu merebut dia kok. Malah sebaliknya dia yang... yah sebenarnya juga bukan merebut. Toh sejak awal memang bukan milikku..." Gumam Tagi.
Erika memberikan isyarat heran. Tagi tersenyum miris lalu menepisnya. "Sudahlah, anggap saja tadi aku tidak bilang apa-apa."
"Baiklah. Tapi, benar ya kamu tidak akan memberitahu Aoto?" Tanya Erika, memastikan sekali lagi.
Tampak Tagi menahan tawanya lagi. "Iya. Sayangnya ada syaratnya, hahaha..."
Pipi Erika menggembung. "Ugh.. apa? Lomba lari?" Tanya Erika, mengajukan tawaran itu lantaran ketika ia dan Shou saling berahasia, lomba larilah yang sering diadakan sebagai taruhan.
"Bukan." Tolak Tagi. "Sederhana saja, sebenarnya."
"Apa?" Tanya Erika, yang jadi makin penasaran.
Tagi tersenyum manis.
.
.
.
"Panggil aku Tagi."
.
.
.
Ouzou super geregetan.
Rencananya, begitu tahu tidak ada Aoto pada latihan hari ini, ia akan mengejar Erika dan mencoba melakukan apa yang sering anak muda katakan 'pendekatan'. Salahkan kerajinannya latihan senam hingga larut malam di rumahnya—demi ajang pamer, tentunya harus total, apalagi di depan Erika nanti—pagi hari Furuya termuda itu bangun dengan hampir seluruh ototnya sakit-sakit. Dalam hati sedikit mengutuki sang calon kakak iparnya yang mempunyai stamina terkuat setelah masa-masa diet besarnya lewat. Setelah Kouta dan Ryuuji—dengan sedikit banyak omelan—memberikan pijitan sebelum berangkat latihan, ototnya sudah baikan sekarang. Yang sialnya ternyata malah membuatnya sulit mengejar kecepatan lari Erika.
Kedua kembarnya melewatinya dengan seringai kemenangan. Apalagi Kouta, yang sekarang sepaket dengan sang gadis bersurai ungu. Bikin iri saja.
Akan tetapi, bukan Ouzou namanya kalau tidak bisa melewati latihan pagi macam lari begini saja—walau dengan otot sedikit sakit. Dengan tabah, pemuda itu terus berlari dan akhirnya, setelah sekian lama kecepatan lari Erika melambat juga. Kesempatan mendekati posisi pertamanya datang. Terlebih si cerewet Shou juga tidak ada hari ini. Dipastikan semakin mudah lagi mengambil perhatian Erika.
Terhitung lima langkah lagi sebelum mendarat di sebelah Erika, seorang mantan pebasket mendahuluinya. Yang sialnya bertujuan mengisi tempat landing-nya. Tidak tanggung-tanggung, ternyata pemuda blasteran arab itu meniru kedekatan Kouta-Reika dengan mengobrol begitu asyik di samping Erika.
Ouzou cuma bisa gigit bibir. Padahal kan dia kalau valentine dapat jauh lebih banyak cokelat dari para gadis dibanding Tagi yang cuma dapat dari Aoto—eh.
Di tengah kekesalannya itu, tiba-tiba pengganggu nomor satu datang. Siapa lagi kalau bukan Oota Shou?
"Oooi Teman-temaaan! Aku punya berita penting nih!" Teriak Shou, membahana seperti biasa.
Pelatih Hanashima pun langsung memerintahkan seluruhnya untuk jalan di tempat, karena duduk setelah lari itu malah bikin otot sakit. Shou pun mengatur napasnya yang terengah-engah. Sepertinya ia mengejar rombongan latihan pagi dari jauh.
"Tadi, aku baru dipanggil guru olahraga. Katanya, jadwal tampil senam kita diubah! Seluruh kelas akan tampil lusa!" Teriak Shou.
Dengungan protes terdengar dimana-mana.
"Tidak apa-apa." Pelatih Hanashima menengahi. "Mini-game rencana kita hari ini ditiadakan dulu—lagi pula anggota kita tidak lengkap—dan kalian kembali latihan senam saja. Dua hari lagi semuanya akan berakhir, kan?"
Anak-anak mengangguk setengah hati. "Aku sudah sangat kangen bola." Gumam Erika pelan, yang tentunya didengar Tagi yang masih berjalan di sampingnya. "Aoto juga pasti sama."
"Sepertinya tidak juga." Timpal Tagi
"Hah? Bukannya Aoto sangat menyukai sepak bola?" Tanya Erika, kaget.
Tagi tersenyum misterius. "Lihat saja nanti."
Percakapan singkat itu rupanya tidak luput dari telinga Furuya kita yang sedang jatuh cinta ini. Ia semakin dibuat gemas dengan perilaku seolah-olah dunia milik berdua itu. Lagi pula, sejak kapan si homo—eh—itu jadi suka mengeksploitasi Erika begini? Apa cuma karena Aoto-nya tidak datang lalu dia merasa tidak punya teman—lantas berkumpul dengan Erika yang kehilangan Shou?
Ah, iya juga ya. Biasanya pun Erika memang bukan miliknya. Terlebih kedua irisnya yang selalu berbinar hanya diarahkan kepada si kecil Aoto.
.
.
.
Rasanya Ouzou lebih suka kedua sahabat blasteran itu homo saja, dan tentunya dengan begitu Erika jadi bisa berbalik menyukainya kan?
.
.
.
AKHIRNYA, tulis Erika di timeline jejaring sosialnya. Tak lupa, ia juga memasukkan fotonya dan teman sekelompoknya yang akan bersiap senam aerobik—yang gerakannya pada akhirnya malah didominasi break dance demi kepentingan komersial. Ini lebih cepat dua hari dari jadwal yang seharusnya—dimana ada sembilan kelompok yang akan tampil dan setiap harinya hanya ada tiga penampilan, yaitu satu kelompok saat istirahat pertama, lalu satu saat istirahat kedua, dan satu saat pulang. Khusus momen ini akhirnya kepala sekolah memutuskan meliburkan satu hari belajar setelah momen sakral tes akhir semester yang berat dan menampilkan sembilan kelompok senam dalam satu hari berturut-turut.
Sialnya, karena jadwalnya jadi berubah maka diadakanlah undian urutan tampil untuk kesembilan kelompok. Kelompok Erika dan Reika tampil ketiga, setelah kelompok Ryuuji. Satu kelompok senam memakan waktu paling cepat lima belas menit. Kelompok Erika sebenarnya beruntung karena tidak perlu menunggu lama dan suasana pun belum terlalu panas. Tidak seperti kelompok Shou yang harus tampil terakhir, tepat pada tengah hari, karena senam dimulai jam delapan pagi dengan break setiap tiga kelompok selama lima belas menit. Setelah Erika ada penampilan kelompok Tagi, lalu dilanjutkan dengan penampilan kelompok Aoto—yang dinanti-nanti—dan satu kelompok lagi dari kelas lain. Setelah itu di sesi akhir ada kelompok Kouta dan Ouzou, salah satu kelompok dari kelas lain, lalu akhirnya ditutup dengan penampilan senam kelompok Shou.
"Ayo, Erika!" Reika menepuk bahu sahabatnya. Senyumnya tampak lebar, rasanya tidak sabar memamerkan kebolehannya di depan sang pacar. Apalagi ia sebagai center berkesempatan menunjukkan beberapa gerakan baletnya di sesi pendinginan—jangan komentar lagi, ini memang benar-benar sudah bukan senam aerobik lagi namanya—untuk menandingi betapa apiknya penampilan Ryuuji yang tampil sebelumnya.
Erika tersenyum semangat. "Yup! Semangat Erika!"
Keduanya pun berjalan menuju lapangan bersama sembilan anggota lainnya. Tampak banyak adik kelas di lantai atas begitu antusias menunggu penampilan mereka dan para peserta senam lainnya di lantai bawah.
"Coba kalau kita tanding bola bisa heboh seperti ini juga ya." Timpal Erika, sedikit miris.
Senam pun dimulai. Setelah berlari menuju formasi masing-masing, lagu mulai mengalun dan kelompok Erika mulai senam—baiklah, menari. Gerakannya cukup variatif, walau sebenarnya nanti pun pasti akan banyak yang mirip-mirip—bagaimanapun ini namanya tetap senam kan yang gerakannya mirip—dan tarian balet Reika menjadi ciri khas kelompok Erika. Gadis bersurai marun itu sendiri memilih tidak mencolok dan hanya melakukan gerakan yang seragam saja. Yang penting nilai praktiknya bagus.
Saat break, ketika Reika dengan baik hati menraktir semuanya minuman vending machine, di luar dugaan Erika bertemu Aoto.
"Hai." Sapa Aoto singkat. Erika memandangnya kaget. Demi apapun, selama ini Aoto yang lengket sama Tagi itu belum pernah menyapa dia begitu!
"Ha.. hai." Jawab Erika gugup. Dalam hati bersyukur kaleng lemon tea-nya sudah keluar, sehingga bisa menghindari tatapan manis Aoto.
Pemuda bersurai pirang itu malah melihat kaleng lemon tea Erika. "Minum itu habis senam tidak bagus." Komentarnya. Lalu dihampirinya vending machine dan pemuda blasteran itu membeli sekaleng susu murni tanpa rasa—low fat pula. Ditukarnya kaleng lemon tea Erika dengan susu yang dibelinya.
"Ini." Aoto menaruh susu itu di atas tangan Erika setelah ia mengambil lemon tea. Alih-alih kaget karena ditukar, Erika malah lebih kaget tangannya tersentuh tangan Aoto yang lembut.
"Ma.. makasih. Tapi kamu tampil habis Tagi, kan? Bukannya itu juga tidak sehat, ya, buatmu?" Tanya Erika.
Alis pirang Aoto terangkat satu. "Tagi...?"
"Ah, aku sekarang memanggilnya Tagi, karena..." Gila saja sampai Erika memberi tahu alasannya. "... yah pokoknya sekarang kupanggil Tagi. Tidak apa-apa kan ya, Aoto?"
Ekspresi Aoto mengeruh. "Yah, tentu saja tidak apa-apa. Memangnya aku siapanya sampai kamu tidak boleh panggil dia dengan nama kecilnya? Aku juga dipanggil dengan nama kecil kan." Jawab Aoto dengan nada sedikit meninggi.
"Habis kalau aku panggil Gon—seperti trio Furuya—atau Gonzales, atau Takuma, rasanya aneh saja, hehehe..." Erika beralasan.
"Ooh.." Respon Aoto. "Jadi cuma karena itu."
"Hah?" Erika memandang Aoto heran. Kenapa dia tiba-tiba jadi terdengar marah?
"Tidak. Jangan dipikirkan. Ayo balik ke pinggir lapangan, nonton kelompok Tagi tampil sama-sama." Ajak Aoto, yang dengan ajaibnya menarik tangannya menuju lapangan.
"Ba.. Baiklah..." Jawab Erika sekenanya, yang jika saja ia punya sayap maka ia sudah terbang sejak tadi.
Aoto tidak melepas tangan Erika sampai ke pinggir lapangan. Mereka menghampiri basecamp kelompok Tagi, dan bahkan sampai di sana pun tangan Erika belum juga dilepasnya!
"Tagi, ini kubawakan lemon tea-nya." Aoto melempar kaleng lemon tea ke arah Tagi dengan tangan kirinya. Ia bahkan tidak repot-repot melepas tangan Erika dan melempar dengan tangan kanannya.
Hal itu tidak luput dari pandangan Tagi. "Jahat kamu, Aoto. Lemparnya pakai tangan kanan dong supaya kontrolnya bagus." Sedikit bersungut-sungut, Tagi mengambil kaleng yang jatuh tepat di depan sepatunya.
"Sudah dibeliin kok masih protes." Balas Aoto. "Tangan kananku lagi sibuk."
Wajah Erika memerah lagi. Ternyata Tuhan baik sekali ya kalau Erika mau latihan senam, pikir Erika, bahagia.
"Kok kamu jadi marah gitu sih, Aoto." Tagi menghampiri Aoto dan Erika yang masih bergandengan tangan. "Ayo lepas, masa anak orang kamu paksa pegang begitu." Ujar Tagi dengan nada jenaka, walau tangannya berusaha memisahkan.
Kedua tangan itu akhirnya berpisah. Aoto baru saja akan berdalih lagi namun sudah waktunya kelompok Tagi tampil. Dengan berat hati ia membiarkan Tagi dan kelompoknya pergi sebelum ia sempat beradu lidah lagi dengan sang sahabat—eh—yang meninggalkan dirinya dengan Erika berdua di basecamp kelompok Tagi.
"A.. Ayo kita nonton kelompoknya Tagi, Aoto." Ajak Erika, sambil sesekali melirik tangan Aoto. Bisa dibilang kode secara tidak langsung. Sayang, pemuda blasteran Spanyol itu tidak menggandeng tangan si gadis marun lagi dan hanya mengajaknya maju ke bangku-bangku santai yang kosong. Kebetulan masih cukup banyak bangku strategis yang tersisa untuk menonton karena istirahat masih berlangsung.
Jadinya Aoto dan Erika cuma berdua, kan.
Gugup, Erika meneguk susu kalengnya untuk yang kesekian kali. Sebenarnya, ia baru saja teringat kalau ia dan kelompok senamnya akan menonton sisa penampilan senam bersama-sama, tapi kalau Reika tahu situasinya seperti ini pasti dia malah akan mengusirnya untuk berdua dengan Aoto, sih. Dipandangnya pemuda yang sibuk dengan pikirannya sendiri itu. Mungkin ia gelisah karena sebentar lagi gilirannya tampil.
"Aoto, kenapa kamu tidak berkumpul bersama kelompok senammu? Sehabis ini kan langsung penampilan kalian." Tanya Erika, memecah keheningan di antara keduanya.
"Ya, nanti. Tenang saja, kami juga tidak kompak-kompak amat kok. Seperti biasa, mereka cuma mengandalkan aku." Jawab Aoto seraya menerawang ke arah lapangan yang masih kosong.
Erika tertawa hambar, merasa bodoh karena malah menyinggung topik yang tidak menyenangkan. "Kamu memang paling akrab sama kami, ya. Terutama Tagi. Biarpun kamu bilang begitu, tapi sebenarnya kamu tidak ingin melewatkan penampilan Tagi, kan?"
Fokus Aoto berubah ke arah Erika. Ekspresi dinginnya agak mencair dan pipinya sedikit menggembung. "Tidak! Aku tidak sebegitu antusiasnya kok!"
"Tidak apa-apa kalau tidak mau mengaku kok, Aoto~."Goda Erika. Lama kelamaan muncul juga rona merah samar di pipi si kecil.
"Tujuan utamaku memang bukan itu!" Aoto bersikeras. "Pokoknya aku ingin memastikan sesuatu."
Erika membuka mulutnya kaget. "Whoa... aku tidak menyangka kamu cukup ambisius dalam urusan senam ini, Aoto. Bilang dari tadi dong kalau kamu utusan mata-mata dari kelompokmu!"
"Hah? Mata-mata? Tidak! Di kelompokku tidak ada yang begituan—atau mungkin aku cuma tidak tahu." Balas Aoto dengan dingin.
"Hee..." Tiba-tiba Erika menyeringai. "Aku tahu, aku tahu~ kamu pasti khawatir sama Tagi, kan? Misalnya apakah nanti dia tiba-tiba terkilir atau kenapa..."
Aoto menggembungkan pipinya lagi, walau tidak begitu terlihat. "Bukaan! Yah, sedikit sebenarnya. Aku... aku mau tahu reaksi seseorang ketika melihat penampilan senamnya Tagi."
Dada Erika berdesir mendengarnya. Reaksi seseorang? Satu-satunya orang yang sedang bersamanya sekarang kan Erika. Jangan-jangan Aoto tidak mau kalau Erika senang melihat penampilan kelompok senamnya Tagi. Erika tidak mengira bahwa sepasang sahabat yang sangat akrab itu ternyata bisa bersaing juga ya. Eh... tunggu... bersaing? Bersaing itu... apa maksudnya Aoto... cemburu?
Sekali lagi, Erika melihat tangan Aoto yang sempat menggenggamnya untuk kedua puluh kalinya hari ini.
"Ah, lihat. Mereka sudah mulai bersiap-siap." Seru Aoto ketika kelompok Tagi memasuki lapangan.
.
Erika boleh berharap kalau pemuda itu benar-benar cemburu karenanya kan?
.
Dan musik penanda mulainya penampilan senam Tagi pun berbunyi.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
.
A/N : SUMIMASEN DESHITA MINNA! Update-nya sangat lambat huhuhu sebenarnya menyalahkan UAS dan Try Out yang dilaksanakan secara berturut-turut memang tidak baik, tapi kenyataannya memang merekalah yang menghambat saya untuk melanjutkan fanfic ini, huhuhu.
Ngomong-ngomong, ini temanya saya ambil dari school-life saya sendiri HEHEHE dimana saya memang sedang menjalani latihan menuju ujian praktik senam. Dan tiba-tiba lahirlah ide ini ketika saya melihat sang pujaan hati—yang harinya tampil duluan—tiba-tiba entah kenapa lebih memukau pas break dance /jadi curhat kan.
Oh iya, kali ini bener-bener curhatan. Salah satu alasan lainnya kenapa fanfic-nya jadi lebih lama di update adalah karena saya baru aja selesai apply buat scholarship, minna! Saya sengaja share supaya para rekan senasib dan siapapun yang pengen scholarship ke Singapore jadi tahu. Atau mungkin kalian malah udah tahu.
Jadi, singkatnya beasiswa itu keren banget deh. Beasiswa itu untuk Undergraduate, dan kalian harus isi formulir dulu. Ngomong-ngomong, untuk tahun ini udah ditutup sih hehehe. Saya aja udah bener-bener mepet di hari terakhir ngumpulin semua berkasnya. Untuk lengkapnya PM saya aja ya, lupa alamat website-nya hehe.
Satu lagi, nggak penting sih, tapi episode Ginga e Kickoff minggu ini yang Reika kurus~! Yayy~!
Akhir kata, mind to review?
