Warning :

Masha and The Bear milik penciptanya di Rusia—Mengandung konten yang dibuat untuk membuat Anda sekalian fangirling

Ouzou tahu gilirannya masih lama, tapi rupanya tanpa gerakan pemanasan pun dirinya sudah cukup panas melihat seseorang lagi-lagi dekat dengan Erika. Tidak masalah deh jika itu pelatih Hanashima atau siapapun lah. Sayangnya justru orang yang paling diharapkan sang gadis lah yang sedang duduk berdua dengannya.

Furuya termuda itu jadi tahu bagaimana kesalnya sang kakak tertua terhadap si kecil Aoto.

Akan tetapi, ternyata hal itu malah membuatnya mendapat rancangan baru terhadap penampilan senamnya. Dengan sigap, dikumpulkannya seluruh kelompok senamnya dan dijelaskannya rencana terbarunya. Untungnya semua langsung setuju dan bersiap latihan menuju kelas kosong agar formasi mereka tidak ketahuan sebelum tampil.

Ouzou tersenyum puas.

.

.

.

.

Am I Shotacon?

.

.

.

.

.

Jantung Erika semakin mendekati kecepatan suara. Hidungnya mulai membaui dirinya lebih tajam. Apakah ia masih berbau keringat, apakah kulitnya sempat terbakar dan menghitam, apakah Aoto jadi tidak betah di dekatnya, dan berbagai pertanyaan lain yang menyatakan ketidakpercayaan dirinya. Setelah lagu dimulai Aoto memang tampak fokus ke arah kelompok Tagi, tapi keheningan itu malah membuat Erika gugup.

Gadis itu tidak punya cara lain mengalihkan perhatiannya kecuali dengan memerhatikan senam kelompok Tagi dengan fokus.

Kelompok Tagi memiliki anggota lima orang laki-laki dan empat orang perempuan termasuk Tagi sendiri. Mereka memakai konsep sesuai kartun luar negeri yang sedang booming saat ini, yaitu Masha and The Bear. Empat orang perempuannya berperan sebagai Masha dengan tudung violet mudanya dan mini dress selutut—dengan bahan yang nyaman tentunya—serta legging putih dan pantofel yang sewarna tudungnya. Empat laki-lakinya memakai kaus abu-abu dengan topi kepala serigala dan celana jeans hitam selutut serta sepatu hitam dan abu-abu. Sementara Tagi sendiri memakai kaus cokelat madu dan celana jeans warna krem.

Ketika lagu pemanasan dimulai, Tagi tampak di tengah lapangan—mengapit sebuah kotak—dengan empat perempuan di depan dan belakangnya masing-masing dua. Sementara para laki-laki berada agak jauh dari mereka. Kelompok itu pun mulai melakukan gerakan pemanasan biasa.

Selang empat menit kemudian, musik semangat yang ceria tiba-tiba berganti mencekam. Beberapa anak sekelas menyemprotkan spray pengganti asap. Drama dimulai. Para serigala mengelilingi anak perempuan. Keempat anak perempuan itu pun mundur perlahan—dengan gerakan sedemikian rupa yang sesuai gerakan heboh di inti senam—dan mengapit Tagi yang berwajah ketakutan di tengah lapangan. Keempatnya mengapit Tagi sangat dekat, seakan ingin melindungi diri kepadanya.

Aoto memandang Erika. Gadis yang sedang terbawa suasana dengan atmosfir kelompok itu kembali merasa salah tingkah.

"A.. Ada apa?" Tanyanya.

"Tagi dikelilingi empat perempuan." Jawabnya singkat.

Erika melihat ke arah Tagi yang mulai turun untuk berjongkok menyembunyikan diri di balik kepungan para anak perempuan, sampai tubuh tingginya akhirnya tidak terlihat Erika lagi. Tidak ada yang aneh dengan Tagi dikelilingi empat perempuan. "Memangnya kenapa?" Tanya Erika.

Aoto melengos sedikit kesal. "Tidak. Tidak apa-apa."

Erika tersenyum dalam hati. Barangkali Aoto hanya iri karena Tagi bisa akrab dengan orang lain selain dirinya.

Lalu fokus keduanya kembali lagi ke lapangan. Tagi yang tadinya tenggelam dalam kepungan anak perempuan, tiba-tiba berdiri dengan kostum beruang! Yah sebenarnya ia hanya memakai topi kepala beruang yang tampak garang. Para perempuan pun menyingkir dan membiarkan Tagi melawan keempat serigala dan mendukung dari belakang. Gerakan inti pun diisi dengan adegan pertarungan Tagi sang beruang dan para serigala yang diatur seperti gerakan inti senam dan para perempuan yang melakukan gerakan cheers untuk mendukungnya sampai akhirnya para serigala kalah dan berbaikan.

Erika tersenyum lebar melihatnya.

"Kenapa?" Tanya Aoto, penasaran.

"Tidak." Erika tersenyum lagi. "Lucu sekali melihat Tagi seperti itu. Kostumnya lucu. Aku juga tidak menyangka dia bisa melakukan gerakan-gerakan yang bagus begitu."

"Tentu saja ia berlatih keras." Timpal Aoto. "Aku juga. Semua juga. Kau juga. Sepertinya kamu terlalu menganggap remeh Tagi, Takatou."

Erika mengusap tengkuknya pelan. "Ehehe... maaf. Sejujurnya aku memang kurang suka senam—atau break dance—begini, jadi aku sudah mengekspektasi kalau kalian juga menganggap sama dan jadinya tidak serius latihan."

Aoto tak menjawab lagi dan kembali melihat ke arah lapangan. Lagu inti sepertinya sudah mau habis. Pemuda itu pun berdiri. "Pindah yuk, ke dekat Tagi."

"Karena sebentar lagi tinggal pendinginan, ya? Tapi di sana kan tidak ada kursi..." Protes Erika.

Aoto menarik tangan Erika. "Sudah, kalau pegal nanti duduk di dekat lapangan saja. Tidak kotor, kok."

Erika tidak bisa menolak begitu kulit lembut Aoto menyentuhnya lagi. Keduanya pun berpindah ke depan kelompok Tagi yang cukup ramai.

Lagu pendinginan pun dimulai, sebuah lagu jazz untuk dansa tipe waltz. Para serigala dengan tanggap menggandeng para anak perempuan untuk menari. Tinggal sang beruang seorang sendiri. Tagi tampak berakting kebingungan mencari pasangan, tapi jika kalian jeli maka akan terlihat sedikit ulasan senyum tipis di bibir anak blasteran itu. Tagi maju ke depan dan menemukan sosok Erika di samping Aoto. Tanpa basa-basi, ia menghampiri Erika—yang langsung saja diperhatikan seisi sekolah yang menonton penampilan senam Tagi—dan mengulurkan tangannya.

"Shall we dance, Erika?" Ucapnya.

Sontak wajah Erika memerah malu. Satu angkatan bersorak tanpa memberi kesempatan Erika untuk salah tingkah. Gadis berambut merah marun itu bingung, tapi wajah Tagi sudah agak sedikit memelas, sangat memohon bantuan Erika. Belum sempat ia menerima uluran tangan itu, dirasakannya Aoto memukul punggungnya pelan untuk maju.

"U.. uh... Oke... Tagi..." Terima Erika.

Seisi sekolah bersorak. Secara kilat, Tagi mengajarkan apa yang harus Erika lakukan. Gugup, sedikit banyak Erika menginjak sepatu Tagi. Setelah empat menit pendinginan dengan gaya dansa yang berbeda-beda, akhirnya Tagi sang beruang mengembalikan Erika—yang sangat kebetulan memakai jaket merah bertudung seperti red riding hood—bukan violet—seperti dansa sang beruang dengan si tudung merah. Pada akhirnya setelah penutupan kelompok—dan Aoto sudah tidak ada di tempat karena setelah Tagi kelompoknya akan tampil—Tagi menghampiri Erika dengan beribu maaf, sebotol lemon tea, dan mengajaknya duduk di bagian depan.

"Habis ini Aoto, kamu pasti ingin melihatnya dari dekat, kan?" Tanya Tagi, memastikan. Erika mengangguk senang, walau masih ada sisa-sisa malunya ketika melihat Tagi. Rasanya ketika dansa yang begitu lembut dan variatif tadi Erika agak sedikit takut kembali ke lapangan, walau akhirnya Tagi berhasil membuat gugupnya berkurang. Gadis itu dibuatnya nyaman berdansa bersamanya, dan juga gelisah karena sekarang marun Erika benar-benar tidak bisa memandang Tagi dengan sama lagi.

"Hai!"

Segerombolan anak Momoyama Predators datang berbondong-bondong ke kursi lebar itu, menyelamatkan kecanggungan Tagi dan Erika. Reika langsung mengambil duduk di sebelah Erika—untuk apalagi kalau bukan ikut menggoda sang sahabat. Semua ada, bahkan yang masih duduk di kelas dua.

"Ouzou yang memesannya, makanya kita bisa enak duduk di sini." Jelas Ryuuji. "Supaya bisa menyemangati dan membuat heboh senam yang ada anggota Predators-nya."

Ah, alibi sekali, Ouzou.

Yah, walau sedikit berdesakkan, selama Erika masih bisa menikmati penampilan Aoto sih tidak apa.

Musik pun dimulai. Kelompok Aoto menggunakan tema street dance. Masing-masing memakai kaus polos bebas warna dan celana cargo selutut berujung sempit yang juga bebas warnanya. Aoto memakai kaus biru tua dan celana cargo krem kecoklatan. Tak lupa rantai dan topi yang menggantung di bagian sabuk. Selain itu, para laki-laki memakai topeng rangers yang menutupi mata hingga hidung dan para perempuan memakai topeng pesta yang juga menutupi mata—dengan bulu-bulunya di sisi kiri topengnya. Semuanya berjumlah sebelas orang dengan tujuh laki-laki dan empat perempuan.

Pertama, di pemanasan semuanya masuk membentuk formasi—dimana lagi-lagi anak Predators berada di tengah. Setelah selesai membentuk formasi, mereka mulai pemanasan dengan gerak langkah patah-patah ala dance dan gerakan dance lainnya yang mirip-mirip gerakan pemanasan asli senam.

Ketika akhirnya mulai inti, Aoto yang berada di tengah mulai break dance sendirian lalu melepas dan melempar topengnya seraya menyemprotkan spray busa ke arah penonton, diikuti yang lainnya—walau minus gerakan menyemprot. Dengan cepat Aoto memakai topinya terbalik—tahulah, bagian runcing di belakang—bersamaan dengan yang lainnya.

Erika mau tidak mau berteriak histeris. Tidak ada waktu menahan malu melihat kekerenan Aoto saat break dance. Pemuda manis yang tsundere dan agak dingin itu sekarang terlihat agak nakal dengan topi terbaliknya, spray—pura-puranya pilox—dan break dance-nya.

Mereka pun melakukan gerakan inti dengan murni gerakan street dance. Di akhir bagian inti, seseorang—yang tentunya sudah di-setting—melempar bola sepak ke arah Aoto dan langsung saja dimainkannya bola itu dengan lihai. Menambah pesonanya sebagai seorang pemain Momoyama Predators—hitung-hitung promosi agar banyak yang menonton saat Future Cup. Erika yang sedang fokus jawdrop melihat Aoto, tiba-tiba ditepuk Tagi dan gadis itu melihat 'sang beruang' tengah siap dengan sarung tangan kipernya.

"Lihat ya, Erika." Ucapnya.

Ketika musik bagian inti tiba-tiba meneriakkan aba-aba yang disepakati Aoto dan Tagi, sang pemuda blonde menendang bola kuat-kuat ke arah Tagi. Tidak seperti Kouta yang kontrolnya kurang bagus, gerakan ini berhasil karena Aoto yang punya kontrol bagus dan Tagi yang tanggap menangkapnya. Seisi sekolah kembali kembali heboh. Selang beberapa detik kemudian, bola dilempar lagi lalu Aoto menendangnya lagi sampai berulang lima kali dan bagian inti selesai.

Erika jawdrop kagum lebih lebar lagi.

Tagi tertawa miris. "Tega juga dia ya, benar-benar menendang kuat-kuat."

Erika ikut tertawa. "Keren! Tapi kamu lihat kan ekspresinya tadi? Aoto benar-benar menikmatinya!"

"Ya, si pecinta bola itu. Kan sudah kubilang ia tidak akan rindu bermain bola karena memang setiap hari senamnya latihan dengan bola." Jelas Tagi.

Pendinginan pun dimulai dan dilaksanakan dengan baik. Tidak ada semacam dansa—padahal asyik juga kalau yang mengajak dansa itu Aoto dan bukannya Tagi, pikir Erika—tapi seperti halnya kelompok Erika yang menggunakan balet Reika sebagai ciri khas pendinginan mereka, kelompok Aoto juga punya ciri khas. Dua laki-laki mengambil seragam polisi yang mereka siapkan di lapangan lalu berakting mengejar yang lainnya dengan gerakan slow motion yang patah-patah. Pada akhirnya, di penutupan para street dancer tertangkap dan beradegan menghapus grafitti sambil dimarahi.

Tanpa diminta, Erika bertepuk tangan paling keras. "Ternyata senam begini asyik juga ya Reika." Komentarnya.

Reika tersenyum puas. "Iya kan? Coba kamu juga menikmati latihannya, Erika."

Setelah berfoto di lapangan, Aoto tidak bergabung dengan kelompoknya dan langsung menuju tempat duduk dimana para Predators berkumpul. Tentu saja semua langsung menyambutnya dengan sorakan heboh dan keren di mana-mana. Predators tampak bangga dengan penampilan keren Aoto.

Sayangnya, Kouta cemberut menahan kesal melihatnya dari sisi belakang lapangan. Tidak rela si kecil Aoto menang—bahkan dalam hal senam! Mengikuti emosi yang sudah memuncak, Kouta menghampiri guru penilai. Tanpa persetujuan teman sekelompoknya—dan Ouzou—yang panik melihatnya hampir mengamuk, Kouta meminta sang guru dengan sangat untuk menukar giliran kelompok setelah Aoto dengan kelompoknya sendiri.

"Kouta, jangan gila!" Cegah salah seorang temannya, menyuarakan suara hati anak-anak sekelompoknya yang lain.

"Memangnya kalian tidak panas melihat kelompok barusan? Kita harus lebih bagus darinya!" Dalih Kouta. "Makanya lebih baik kita lakukan secepatnya agar orang-orang bisa mudah membandingkan!"

Ah, Kouta. Itu sih dendam pribadi namanya.

Tapi, iya juga, pikir Ouzou. Ia bisa semakin cepat menjalankan rencananya.

"Tidak apa-apa teman-teman. Kita kan sudah latihan dengan baik sampai-sampai tidak melihat penampilan kelompok lain kecuali kelompok barusan. Ada baiknya juga kita cepat-cepat sebelum gugup lagi." Saran Ouzou, bijak terselubung.

Yang lain pun berpandangan dan akhirnya luluh pada ketenangan Ouzou. Sang guru penilai memberikan keputusan kepada kelompok yang tampil sebelum Kouta. Rupanya kelompok itu juga merasa belum siap benar dan malah bersyukur karenanya mereka bisa digantikan dulu. Jadilah kelompok Kouta dan Ouzou maju duluan.

Reika memijat kepalanya. Lagi-lagi si hot blooded itu berulah.

Kelompok Kouta dan Ouzou mulai persiapan. Mereka memakai tema pantomim dan berkostum seperti chaplin—walau Kouta menolak habis-habisan pemakaian kumis palsu dan akhirnya semua tidak pakai kumis palsu yang sangat menggambarkan Chaplin—dengan bawahan celana bahan yang pas namun tidak kaku untuk senam. Wajah mereka semua dicat putih dengan face painting. Kelompok itu terdiri dari lima laki-laki dan lima perempuan. Sembilan anggota membawa sebuah bingkai kaca seukuran mereka—bingkainya saja tanpa kaca.

Musik pun dimulai. Lagu tema terdengar mengalun tanpa lirik, dan mereka pun mulai berpantomim dengan gerakan senam. Membuat cerita kegiatan Chaplin dari pagi hingga malam. Pertama, seorang Chaplin yang kebingungan—Ini Ouzou—tengah melihat banyak kembarannya di refleksi 'cermin', menggambarkan kegiatan paginya yang bersiap pergi. Ia berakting sedang berkaca dan terlihatlah sosok teman-temannya—dan juga kembaran tertuanya—di bingkai yang dianggap kaca. Lalu semuanya keluar dari bingkai—malangnya, si bingkai dilempar begitu saja—dan menari pantomim dengan gerakan pemanasan bersama.

Pada jeda sebelum pemanasan, seluruh anggota melepas jas dan topi mereka. Jas dan topi diletakkan di sebuah tiang penggantung jaket di bagian belakang lapangan. Dengan cepat—dan untunglah jeda yang cukup lama—mereka membasuh muka hingga face painting hilang. Meraih sebuah tongkat hitam, lalu kembali ke lapangan dengan kaus putih polos dan celana yang sama. Menari dengan tongkat hitam dan melakukan beberapa gerakan rumit layaknya senam tongkat.

Pada puncaknya, Kouta dan Ouzou berputar dengan tumpuan satu tangan di tongkat dan kaki berputar horizontal di atas. Adegan itu dilakukan bergantian. Pertama Ouzou, lalu baru Kouta.

Seisi sekolah kembali histeris, apalagi ini dua dari trio Furuya yang terkenal—maaf saja karena Aoto anak baru pindah. Reika mau menangis, antara haru melihat kekerenan sang pacar dan khawatir sang pacar terkilir atau sakit karena gerakan itu. Pun dengan Erika. Ia tahu kalau Kouta dan Ouzou itu tampan dan terkenal—walau di matanya hanya ada Aoto, akunya—dan sekarang ia tahu dari mana semua itu berasal. Furuya memang berbakat menarik perhatian massa.

Mereka pun melakukan setengah menit senam tongkat lagi sampai tanda musik mulai pendinginan. Para laki-laki berjalan patah-patah dengan tongkatnya dan para perempuan berjalan anggun juga dengan tongkatnya, dengan langkah yang sama menyesuaikan dengan musik. Mereka berjalan ke belakang lagi lalu para lelaki memakai kembali jas dan topi mereka secepatnya sementara para perempuan menghiasi diri dengan pita merah besar. Para lelaki dan perempuan berjalan seperti tadi namun berpisah berlawanan arah, dimana laki-laki ke kiri dan perempuan ke kanan.

Musik mellow pun dimulai dan mereka membuat skenario Chaplin yang sedang mengajak seorang wanita makan malam, sambil sedikit menari tentunya. Namun, ketika Ouzou sedang berakting mengajak makan malam, gadis yang menjadi partner Ouzou menolaknya dengan gerak pantomim, sementara para gadis lain menerima ajakan para Chaplin partnernya. Sang gadis bersembunyi ke belakang sambil mengikuti tarian yang lain sementara Ouzou tersenyum percaya diri di tengah lapangan.

Dengan mantap, Ouzou melangkah ke depan. Melupakan gerak patah-patah pantomimnya. Sambil berjalan ia tampak sedang membetulkan jasnya. Setelah beberapa langkah, sampailah ia ke hadapan bangku para Predators. Dikeluarkannya setangkai mawar dari balik jasnya secepat sulap lalu disodorkannya mawar itu ke tangan Erika yang tadinya terkepal namun dibuka dengan lembut oleh tangan kiri Ouzou. Diletakkannya mawar itu seakan menyerahkan sesuatu yang berharga.

"Rupanya mawar ini lebih cocok dipakai Nona. Maukah Nona menerima ajakan makan malam saya?" Ucap Ouzou, yang suaranya langsung membahana ke seisi sekolah. Lagi-lagi seisi sekolah heboh, terutama para penggemar si Furuya pecinta merah itu.

Erika bahkan sudah tidak bisa merasakan tanah lagi saking gugupnya ia. Tidak cukupkah tadi Tagi mengerjainya dengan menjadikannya perhatian seisi sekolah? Kali ini, tanpa bingung Erika menolak bunga itu—sekaligus sekali lagi menolak masuk ke lapangan untuk disoraki teriakan iri para gadis. "Ma.. maaf..." ucapnya pelan.

Ouzou tersenyum profesional—sebenarnya ingin senyum miris tapi tiba-tiba kamera helikopter yang dikendalikan ekskul fotografi menghampiri mereka untuk mengabadikan momen ditolak sialan ini. Untung setelahnya kamera itu habis baterai dan jatuh ke lapangan—tenang, kamera mahal itu tahan banting—yang memberikan Ouzou kesempatan untuk melepas mikrofon kecil di jasnya dengan kasar lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Erika.

"Tapi, kalau kubilang aku menyukaimu, apakah kau akan menolaknya juga?" Bisik Ouzou tepat di telinga Erika.

Wajah Erika memerah seketika. Ia jadi tidak bisa membedakan mana kenyataan dan akting. Apakah Ouzou sedang dalam bagian dramanya atau... memang benar inilah yang dikatakannya? Pemuda itu melepas mikrofonnya agar seisi sekolah tidak tahu, jadi bisa saja ini memang bukan drama Ouzou ataupun khayalan Erika semata.

Berpacu dengan waktu, Ouzou tidak menunggu jawaban Erika. Ia kembali ke formasinya dengan mimik pantomim sedih. Gadis partner yang tadi menolaknya pun berlagak menghiburnya lalu menuju penutupan masing-masing partner berdansa.

Penutupannya? Erika bahkan tidak tahu karena sibuk membenamkan wajahnya dalam pelukan Reika. Yang memeluk sendiri kebingungan kenapa tiba-tiba Erika bertingkah aneh—dan tentunya Reika dapat merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Gadis manis bersurai ungu itu sebenarnya ingin memeriksa Kouta, tapi ia memilih menenangkan sahabatnya dan berulang kali bertanya apa yang dibisikkan Ouzou sampai Erika memeluknya emosional begitu.

Reika memandang Tagi yang juga berada di sebelah Erika dengan bingung, mengisyaratkan sebuah pertanyaan kepada sang kiper soal tingkah Erika yang aneh. Namun, pemuda tinggi dengan topi kepala beruang yang belum dicopotnya itu menggeleng pelan.

Bukan karena tidak dengar, tapi tidak ingin mengumumkan pernyataan cinta yang mendahului dirinya itu.

.

.

.

.

.

Memalukan.

.

.

.

.

.

"Hei, Reika. Shou dimana?"

.

.

.

.

.

Menurut Shou, tidak ada yang dapat mengobati kelelahan dan kegundahan sebaik yakiniku keluarganya. Rupanya majikan Zach juga setuju dengan sahabatnya itu. Karena itu, di tengah badai perasaan sebesar ini dia butuh sepiring yakiniku spesial keluarga Oota.

Pertama, badai perhatian dari Tagi. Pemuda blasteran itu tidak bilang sengaja atau tidak, tapi ia membuat Erika merasa malu karena berdansa berdua dengannya di tengah lapangan. Erika yakin saja Tagi memilihnya membantu kelancaran gerakan kelompoknya karena gadis yang ada di dekatnya yang dikenalnya hanya Erika saja. Keyakinan itu membantunya melupakan debaran yang sempat mampir di hatinya.

Akan tetapi, blame on the youngest Furuya, debaran itu datang lagi—bahkan jauh lebih cepat dan menyesakkan dari apa yang ia rasakan saat berdansa dengan Tagi. Terlebih tidak ada kejelasan apakah kalimat pernyataan cinta barusan itu benar dari hatinya ataukah lagi-lagi ia dipermainkan dalam drama senam kelompok lain!

Untuk sekarang, yang bisa Erika lakukan hanya terbenam dalam pelukan hangat Reika. Ia ingin sekali bisa bercerita soal perasaan ambigunya ini kepada putri satu-satunya keluarga Saionji itu, namun ketika Erika melepas pelukannya ia melihat Kouta yang pergelangannya sedikit terkilir menghampiri mereka dan memberikan kode 'Reika-tolong-obati-aku'. Kadang kemesraan Kouta yang tidak mau disentuh gadis selain Reika memang sedikit merepotkan.

"Berarti dari Predators tinggal penampilan kelompok Shou saja, ya." Timpal Pelatih Hanashima yang rupanya ada di situ juga. Tentu saja ia sepaket dengan Kyouko yang berfangirl ria karena berhasil mengoleksi foto-foto anak didik Masaru-nya dalam balutan seragam senam yang macam-macam.

Shou. Iya ya, selain Reika, Erika hanya bisa nyaman bercerita kepada Zach dan Shou—yang walaupun suaranya keras tapi pandai menjaga rahasia hati. Zach tentu di rumah dan terlalu jauh untuk mencurahkan semuanya sepihak kepada Zach. Lagi pula Erika butuh seseorang yang memberikan kejelasan terhadap bagaimana ia bertindak. Pas sekali karena Shou juga kapten Predators, yang harus memerhatikan hubungan anggotanya juga. Kan aneh kalau di lapangan nanti Erika tidak bisa mengatur hati di hadapan Ouzou atau Tagi.

"Shou dimana?" Tanya Erika, terdengar sedikit desperate.

Menebus rasa bersalah mengabaikan sahabatnya sebentar demi pacar, Reika menjawab. "Dia kan kelompok terakhir, jadi kurasa ia sedang latihan di basecamp-nya."

"Ooh..." Erika melihat sekeliling. Tidak ada Ouzou. Tagi bahkan sedang pergi—yang menurut kesaksian Aoto ingin membeli sekaleng lemon tea untuk membuat Erika merasa lebih baik, apapun yang dilakukan Ouzou padanya tadi. "Lemon tea-nya untuk Aoto saja. Aku... aku ada urusan sebentar."

Aoto mengangguk setuju dan Erika sang speed star langsung melesat pergi menuju basecamp Shou. Giliran tampil Shou terakhir, jadi masih ada waktu cukup lama untuk curhat. Lagi pula mereka juga tidak mungkin latihan terus menerus dari pagi, kan? Soalnya sejak pagi Erika memang tidak melihat Shou dan kelompoknya.

Sayang, ketika pintu basecamp dibuka, tidak ada siapapun di dalamnya.

Erika tertawa keras-keras.

Tuhan sayang sekali padanya ya.

Ingin mengujinya dengan cara seperti ini.

Ketika ia sedang dalam masalah yang tidak dapat ditanganinya sendirian, Tuhan mengambil sahabatnya untuk urusan mereka yang lain.

.

.

.

Demi apapun, Erika sangat kehilangan Shou sekarang.

.

.

.

Tidak tahu kegiatan lain apa yang bisa meredam detak jantungnya, Erika berlatih di lapangan sepak bola Momoyama. Sendirian. Bahkan tanpa Zach. Si pelari cepat itu menendang bola tak tentu arah ke gawang. Dilepasnya jaket tudung merah yang melapisi kaus putih polosnya. Kaus itu mulai basah akan keringat.

Erika kembali menendang bola tak terarah. Melampiaskan ketidakjelasan apa yang ia rasakan. Merenung dalam keheningannya dengan benturan bola dengan ujung-ujung tiang gawang.

Namun, sayup-sayup dari jauh terdengar sebuah lagu senam. Erika menghitung. Sejak sampai di lapangan ini, ia sudah mendengar dua lantunan lagu-lagu senam yang di-medley. Berarti ini pasti lagu dari kelompok terakhir, dengan kata lain kelompok Shou.

Ponsel Erika bergetar. Dari Reika.

"Erika! Kamu ke mana saja? Pulang? Ayo kembali lagi ke sini, lihat Shou sampai habis!" Bujuknya.

Erika diam. Ia jadi takut jangan-jangan sang kapten selaku sahabatnya malah akan mempermainkan dirinya betulan. Anak itu kan agak iseng terhadap Erika.

"Erika! Ayo! Tuh kan~ tadi lagi check sound, tapi sekarang sudah mulai!" Lapor Reika.

Gadis ponytail marun itu berpikir lagi. Mungkin sehabis ia senam aku bisa langsung curhat, pikirnya. Tapi jika ia datang tanpa melihat penampilan senamnya setelah capek-capek ia berlatih kan kasihan juga. Bagaimanapun sebelum curhat juga harus membuat sang pendengar nyaman dalam membuat obrolan.

"Baik, aku ke sana. Ada siapa saja?" Tanya Erika, takut Ouzou menanyakan jawabannya.

"Semua Predators ada kecuali kamu, tahu! Ayo!" Ajak Reika lagi. Tanpa ba bi bu lagi Erika pun akhirnya pergi dengan harapan Ouzou akan menagihnya lain kali—atau lebih bagus lagi, walaupun rasanya agak sakit, tapi ucapan suka tadi memang hanya akting. Memanfaatkan kecepatan larinya, Erika melesat menuju lapangan senam.

Sial buatnya, ia tertinggal pemanasan dan awalan gerakan inti.

Kelompok Shou memakai kaus bermotif sapi dengan empat laki-laki memakai motif cokelat krem yang melambangkan susu cokelat, tiga perempuan dan seorang laki-laki bishounen memakai motif gradasi merah muda yang melambangkan susu strawberry, serta Shou dan seorang gadis memakai kaus motif sapi normal hitam putih. Para perempuan memakai bawahan rok tutu sesuai warna kaus serta legging hitam dan laki-laki memakai bawahan celana cargo krem selutut—termasuk si bishie yang memakai kaus strawberry. Khusus Shou dan gadis partnernya, mereka memakai bawahan cargo hitam selutut untuk Shou dan rok tutu hitam serta legging hitam untuk sang partner. Tak lupa bando tanduk sapi pun mereka pakai.

Berani taruhan, ini pasti ide Shou untuk secara tidak langsung promosi restoran keluarga Oota.

Ketika Erika datang, gerakan inti mereka sedang memeragakan para sapi yang menari-nari sambil sesekali gerakan merumput. Shou yang masih berwajah kekanakan tampak lebih kekanakan lagi bertingkah begitu. Apalagi ketika suara 'moo'-nya yang sesekali diteriakkannya keras-keras.

Ah, si penghibur itu membuat Erika kembali tertawa tanpa beban.

Lalu, menjelang akhir dari gerakan inti, musik berubah menyeramkan dan para lelaki berubah jadi pemburu dari restoran yakiniku—tuh kan—kecuali Shou. Kapten Momoyama itu mundur perlahan sambil melindungi para pemakai kaus warna strawberry lalu ia pun melawan para pemburu yakiniku dengan melakukan break dance sekelas Aoto. Erika menutup mulutnya kaget. Shou? Shou yang kikuk itu?

Para pemburu yakiniku pun melawannya dengan break dance yang tidak kalah bagusnya juga. Namun di akhir pemanasan Shou memukul mundur pemburu yakiniku dengan tendangan capoeira dari posisi handstand. Kali ini Erika benar-benar kaget dan tidak bisa menahan teriakannya lagi. Ia bersorak sekuatnya untuk sahabatnya itu.

Pada awal pendinginan, setelah menjatuhkan pemburu yakiniku, Shou mengambil papan bertuliskan 'Jika ini dari restoran yakiniku Oota". Ia dan gadis partnernya menghampiri anak-anak berkaus motif strawberry dan berakting menyembelih mereka satu per satu dengan rapi dan tanpa kekerasan. Setelah dipotong, anak tersebut akan berbaring dan tersenyum di lapangan. Selanjutnya menyembelih bagian berkaus motif coklat yang sudah melepas baju pemburu mereka.

Untuk penutupan semuanya menari bersama sambil membawa papan dengan tulisan 'disponsori restoran yakiniku Oota'. Seisi sekolah pun bertepuk tangan melihatnya. Kelompok lain boleh keren, tetapi kelompok terakhir inilah yang paling sederhana namun mengundang tawa.

Erika jadi terbayang gerakan Shou tadi. Kok rasanya semua temannya melakukannya dengan bagus dan ia cuma biasa-biasa saja. Apalagi ketika gerakan break dance Shou, itu sangat keren dan tidak disangka si ceroboh itu bisa menari sebagus itu. Yah, kalau di-voting tentu saja Aoto lebih memesona, tapi Erika lebih tidak bisa melupakan Shou kali ini.

Mungkinkah karena sudah lama tidak ketemu ya, Erika?

Iya ya. Bukankah ia kembali karena ingin curhat pada sahabat'sapi'nya itu? Tanpa menunggu lama, Erika menghampiri Shou sambil bersyukur di tasnya ia masih punya sebotol minuman isotonik untuk bayaran mendengarkan curhatan Erika sehabis senam yang super capek. Anak bersurai cokelat itu sedang terduduk di pinggir lapangan—saking capeknya tak kuat berdiri, mungkin efek break dance yang tidak biasa—dan melenguh kecapekan.

Berharap Shou akan melihatnya dulu, Erika melambaikan tangannya sebelum sampai di hadapan Shou. Pemuda itu melihatnya dan melambai balik. Biasanya ia akan berteriak sih, tapi Erika paham saking capeknya pasti sementara waktu tidak ada dulu perintah bersuara keras di lapangan bola nanti.

Sampai di hadapan Shou, Erika langsung memberikan minuman isotoniknya kepada Shou. Memang bukan baru, sih. Tapi mereka memang sudah biasa berbagi ciuman tidak langsung begini.

Glek.

Kok Erika malah jadi berpikir ciuman tidak langsung, sih.

"Hei Shou, tadi keren kok. Pintar sekali ya sekalian iklan." Puji Erika.

Putra pemilik restoran yakiniku Oota itu pun menyengir lebar sambil mengusap hidungnya. "Iya dong." Suaranya jadi lebih serak dan rendah. "Kesempatan dalam kesempitan."

"Pantas kamu jarang kelihatan. Karena banyak latihan ini ya?" Tanya Erika.

Shou baru saja akan menjawab, tiba-tiba gadis partner Shou datang menghampiri keduanya. "Shou! Tidak boleh minum isotonik sehabis olahraga! Isotonik itu sedikit pun tidak terlalu bagus untuk tubuh, kan sudah kubilang."

Lagi, Shou menyengir lebar dengan ekspresi bersalah lalu menyerahkan botol isotonik kosong Erika ke tangan kanan gadis itu yang terulur. Setelahnya, gadis itu membantu Shou berdiri.

"Ayo, kita ada foto kelompok dulu di basecamp." Ajak sang gadis. Erika mengerut tidak suka. Apa-apaan ini? Jadi mentang-mentang mereka tidak sekelompok jadi diacuhkan? Erika kan juga teman sekelasnya.

"Hei." Shou berbalik menghadap Erika lagi. "Tunggu, aku belum bilang ke Erika." Lalu Shou melepas genggaman tangan sang gadis.

"E..eh... Maaf Erika. Aku akhir-akhir ini menghilang bukan hanya karena latihan senam, sih. Tapi, yah intinya saja deh. Aku dan Miyuki," Shou menunjuk gadis di sampingnya. "Sekarang—sebenarnya dari beberapa hari lalu—berpacaran."

Miyuki dan Shou tersenyum malu-malu.

Erika tersenyum miris.

.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

.

.

A/N : PANJANG SEKALI MINNA! Apalagi update-nya cepat hihi, namanya juga lagi free time. Terlebih ini baru aja kemarin (oke, saya ngetik ini sampe jam 2 pagi) saya selesai praktik senam~ keren-keren banget semuanya dan buat saya jadi semangat bikin chapter ini, yes!

Kayaknya ini bakal panjang .-. /tutup mata dari fic lain/ /kabur/ yah pokoknya selamat menikmati saja minna~! Semoga suka~!