' Untuk puluhan nyawa anak-anak Gaza. Untuk ribuan impian mereka yang mati di ujung senjata. '

.

.

~}{~

.

.

Hampir tengah malam dan Sehun masih terjaga. Ia memang sudah lelah, namun, ketiadaan Zitao di kemahnya membuat Sehun mengurungkan niat untuk tidur lebih awal. Sehun memang tidak begitu akrab dengan Zitao, tapi ada sesuatu di dalam diri Zitao yang membuat Sehun penasaran.

Sehun menerawang, ia terduduk di pinggir matras tidur yang di atasnya terlipat rapi kantung tidur milik Zitao. Ia kembali teringat wajah Zitao yang terlihat sangat tegas dan tajam sekaligus membuat kesan yang sempurna bagi seorang tentara. Juga rajutan otot-otot liat yang menonjol di balik kulit kecoklatannya menambah kesan gagah setelah bicep dan juga ABS sempurna miliknya. Bukan berarti Sehun tak memiliki bicep dan ABS, ia juga memiliki tubuh tinggi tegap layaknya Tao, hanya saja kulit putih albinonya terasa seperti kekurangan. Kulitnya tak bisa menjadi coklat seperti tentara lain jika terkena sengatan matahari, kulitnya justru akan menjadi rona kemerahan.

Sehun baru saja hendak mencari tahu kemana Zitao pergi, sampai telinganya menangkap sayup-sayup suara milik Zitao. Sampai di luar kemah ia memicingkan mata sekaligus menajamkan telinganya. Dari depan kemah ia melihat bayangan tubuh Zitao dengan seorang lainnya. Sehun mencoba untuk mendekat dan menangkap apa yang sedang Zitao dan orang itu bicarakan. Ia berjalan mengendap

" Dia tidak ada Tao—maka kembalilah! Kau pikir ini di mana?—Ini Israel! Di sini perang tak ada habisnya!"

Dia? Dia—siapa? Dan—itu siapa? Sehun mengerutkan dahi, alisnya tertaut, ia coba untuk mengingat-ingat apa yang sebenarnya Zitao benar-benar lakukan beberapa hari kemarin.

Camp jurnalis?

Sehun berpikir lebih keras, ia sebenarnya cerdas dalam taktik perang dan membaca koordinat perang. Di lain sisi, ia pun hanya pemuda berumur dua puluh satu tahun yang nekad terjun ke dalam dunia Angkatan Darat.

mungkinkah, Zitao sedang mencari seseorang dari Camp jurnalis?

Sehun kembali pada posisinya, bersembunyi di sisi lain tenda.

" Aku harus membawanya pulang, Kim! Tak peduli apa pun kondisinya!"

Itu suara Zitao, ya Sehun hafal suaranya. Suaranya ringan dan sedikit serak, aksen Chinanya tidak terjamah jika ia sedang berbicara dengan Bahasa Korea.

Ba—babahasa Korea?!

Sehun membekap mulutnya, ia terkejut menemukan orang Korea lainnya dalam Batalion Satu. Seingatnya, dialah satu-satunya orang Korea di sana. Dan sepuluh lainnya paling banyak berada di dekat perairan Laut Mediterania, menjaga jalur laut untuk masuk ke dalam Gaza.

Zitao sedang berbicara dengan orang Korea?! Di sini?!

Dan apa yang selanjutnya Sehun dengar, membuat Sehun terdiam dan sulit bernapas.


—Zitao side

" Aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak Zitao." Jongin memberi jeda, ia tak mau menyinggung perasaan teman sejawatnya ketika ia bersekolah di China. Ia kembali menerawang, mengingat peristiwa yang harusnya dia lupakan. Peristiwa yang mengikatnya di sini. Di tanah neraka ini.

" Yang aku tahu, ia menghilang ketika ia sedang meliput di dekat perbukitan, tepatnya di jalan Al Qaram, di Jalur Gaza. Sebuah rumah di kepung oleh IDF, dan di klaim sebagai markas militan Gaza. Aku sudah memperingatinya agar jangan terlalu dekat dengan tempat kejadian, namun aku terlambat."

Jongin memejamkan mata, mencoba mencari gambaran detik-detik terakhir ia bersama teman seperjuangan. Ia mengajak Zitao untuk duduk bersila di atas tanah berpasir yang kini mulai terasa dingin.

" Awalnya sebuah truk yang memuat selusin tentara IDF melintas di jalan depan rumah yang dikepung. Kemudian truk itu berhenti mendadak, dan para tentara turun. Mereka mulai mengobrak-abrik beberapa rumah penduduk di sana.

Aku tak mengerti apa yang selanjutnya terjadi, karena jarak kami yang lumayan jauh, dan bahasa mereka yang tak bisa kami pahami, kami hanya bisa menerka dari bahasa tubuh mereka.

Seorang lelaki dewasa di tembak mati oleh seorang tentara karena menghunuskan sebuah balok ke arah IDF, dan seorang lagi tertembak karena melawan untuk di interogasi."

Zitao masih setia mendengar cerita dari mulut Jongin. Siap tidak siap dia harus menghadapi kenyataan, bahkan yang terpahit sekali pun. Tanpa sadar, ia juga bagian dari Zionis kali ini. Jongin menatap manik kelam Zitao untuk meyakinkan, apakah Zitao siap mendengar cerita selanjutnya.

" Yang menarik perhatianku dan dia selanjutnya adalah, ada sesosok bocah perempuan yang melempari tentara dengan kerikil yang—Demi Tuhan yang aku Kasihi—tidak lebih dari sekepalan tangan bocah itu sendiri. Ia—bocah perempuan berumur sekitar tujuh atau delapan, dengan kain yang menutupi kepalanya, wajahnya basah akibat tangis dan keringat yang bercampur. Ada juga seorang wanita paruh baya di lantai dua sebuah bangunan, ia berteriak histeris melihat beberapa tentara yang mulai menginvasi beberapa pemuda lainnya.

Tentara yang terkena batu lantas menghampiri sang bocah dan menyeretnya tanpa welas asih. Bocah itu meronta, dan menyuarakan nama Tuhan-nya keras-keras. Dan pada saat itulah, sepupumu, Minho -sunbae berlari kearah bocah malang itu tanpa mengindahkan suaraku yang berusaha menahannya."

Zitao menegang. Minho—Choi Minho, mendengar nama hyung yang selama ini ia cari membuat dadanya terasa terbakar, napasnya berat dan dengan susah payah ia menelan bulat-bulat salivanya.

"—Minho-sunbae berteriak, ' aku pers! Lepaskan anak itu!' tapi tentara itu malah semakin menghalanginya. Entah karena mereka tidak mengerti Bahasa Inggris, atau memang mereka yang sudah tuli dengan teriakan kemanusiaan.

Aku sendiri harusnya berlari juga membantunya, tapi kawanan pers lainnya menahanku, dan mengatakan kebodohan besar yang di lakukan hyungmu.

Ketika Minho -sunbae telah meraih tangan bocah itu, perasaan lega melingkupi hatiku. Namun, sedetik kemudian, tentara IDF di hadapkan oleh sekelompok lelaki yang berpakaian hitam—hingga wajah mereka juga ditutupi kain hitam—membawa senjata laras panjang.

Setelah itu kami para jurnalis tak bisa melihat tempat kejadian lagi karena kami harus berlindung dari ledakan yang sahut menyahut di depan. Puing-puing berterbangan ke arah kami, sebagian dari kami bahkan terluka. Sampai akhirnya, sebuah truk berhenti di dekat kami."

Jongin tertawa miris, Zitao benar-benar menahan napasnya.

" Aku pikir, pihak Zionis mau membantu kawanan jurnalis yang terluka, tetapi tidak. Kami semua terjaring, selama berbulan-bulan kami di sekap di penjara Bersheva sampai akhirnya kami di interogasi satu per satu. Dan sejak saat itu, aku tak pernah melihat Minho-sunbae lagi. Bahkan—aku tidak berharap seperti ini—jika ia sudah mati, maka—di mana mayatnya."

" Setidaknya kau di sini. Dan, kau masih—hidup. " Zitao tercekat mengucapkannya. Ia tak bisa berpikir kali ini. Semua jadi terasa lebih rumit.

" Ya, aku masih hidup, setelah mati selama berbulan-bulan di dalam penjara Bersheva milik Zionis!" Jongin menggenggam erat kameranya, mengingat betapa kejam para Zionis menghukumnya. " Dan aku dihukum karena passpor dan visaku terbawa di dalam ransel hyungmu. Karena aku hanya punya surat tugas dan kartu tanda pers, mereka melepaskanku tapi aku tidak sanggup untuk pulang ke Korea, jadi aku bergabung dalam suatu media di Israel untuk mendapatkan uang."

Zitao menenggelamkan wajah di kedua tangannya. Jika saja ia tak ingat bahwa ia kini adalah seorang tentara, ia pasti sudah menangis. Tangannya beralih mengusap kasar wajah tirusnya lalu menyibakkan surai hitam legamnya ke belakang.

Tangan Jongin terangkat untuk mengusap punggung Zitao, berusaha menenangkannya.

" Apa rencanamu selanjutnya, Kim?" suara Zitao parau, ia menundukkan kepalanya tanpa berniat menatap Jongin.

" Aku akan mengumpulkan uang hingga cukup untuk berimigrasi ke Istanbul."

Zitao menoleh, matanya semerah mega pada langit sore. Alisnya terangkat seakan tak percaya, " Turki?"

" Iya. Aku akan berangkat dari sana. Menurutmu, jalur aman yang mana lagi yang harus ditempuh pendatang sepertiku? Mendapatkan passpor dan visa baru dari Kedutaan Korea di sana, lalu pulang—" Jongin tampak menghela napas berat. Setelah itu ia menatap bentangan langit malam yang terlihat mendung. " Aku merindukan Seoul—sampai rasanya aku mau mati."

Zitao dapat melihat kengerian yang masih tersirat di mata coklat milik Jongin. Peristiwa demi peristiwa pasti telah membuat luka di dalam ingatannya. Zitao rasa, sudah cukup informasi yang di berikan oleh sahabat lamanya ini. Zitao lalu bangkit dan menyuruh Jongin untuk kembali ke tempat tinggalnya sekarang karena semakin malam udara di sana semakin dingin.

Jongin tersenyum kecil, lalu ikut berdiri. Tubuhnya hampir setinggi Zitao dengan kulit kecoklatan eksotis yang membalut tubuhnya.

" Di Israel, aku aman selama aku punya kartu pers Israel. Jangan khawatirkan aku. Kau yang harusnya pulang, kau tak boleh di sini Huang!"

Zitao tersenyum tipis, ia lalu memeluk Jongin tiba-tiba, membuat tubuh Jongin limbung karena tarikan kuat yang Zitao lakukan. Hingga punggung mereka berdua berguncang halus diiringi suara sengau dari keduanya.

" Terima kasih, telah bersama dengan hyungku sampai akhir. Terima kasih Kim."

" Maafkan aku Zitao. Maaf."


.

~}{~

.

Seminggu setelah pertemuannya dengan Jongin, Zitao sudah mulai bertugas di perbatasan. Memeriksa truk-truk yang keluar masuk kawasan Tepi Barat. Sementara Sehun bertugas untuk mengendalikan radar dan membaca titik koordinat serangan darat dan udara.

Zitao tertegun melihat letupan-letupan bom udara yang di jatuhkan di tengah daerah Khuza'ah perkebunan zaitun di Gaza. Apa pun yang dilakukannya kali ini adalah sebuah tanggung jawab sebagai tentara sekutu. Seberat apa pun tugasnya, ia hanyalah raga yang hampir kehilangan setengah jiwanya—karena apa yang ia cari di sini telah hilang jejaknya.

Manik kelam Zitao melihat bentangan jarak padang pasir gersang, dengan suhu menyengat dan serangan yang tak ada habisnya. Roket-roket menyalah di angkasa layaknya bintang , lalu jatuh dengan debuman besar dan kepulan asap raksasa membumbung tinggi. Seketika lenyap oleh angin, dan menyisakan teriakan kepiluan.

Gaza, tempat itu adalah hamparan tanah yang tidak lebih luas dari 360 kilometer persegi. Berada di Selatan Palestina, terjepit antara tanah yang dikontrol oleh Zionis Israel, Mesir dan laut Mediterania, dan dikelilingi dengan dinding di sepanjang tanah.

Zitao menghembuskan napas berat. Ia menatap senjata laras panjang miliknya.

Apakah ia termasuk memiliki jiwa kejam yang seperti digambarkan Jongin, apabila—nanti—ia di haruskan membunuh anak-anak yang tak berdosa, dengan dalih mereka adalah penerus teroris seperti yang IDF katakan? Apa ia juga harus menghabisi para wanita Gaza agar berhenti melahirkan? Semua itu tugas yang teramat berat, serta berlawanan dengan hati nuraninya.

Zitao tahu, Israel telah lama bersemangat untuk menguasai wilayah Gaza. Alih-alih, bukannya dengan mudah menguasai—pikir Zitao—bahkan untuk dapat masuk ke dalam Gaza, tentara Israel harus menghujaninya terlebih dahulu dengan bom udara, serta harus menghunuskan senjata.

Bunyi sirine panjang dari salah satu menara pemantau menyadarkan Zitao dari lamunan panjang tentang pertentangan hatinya terhadap tugas dan hati nurani. Zitao terhenyak setelah ia mendengar namanya juga beberapa tentara sekutu lainnya di sebutkan melalui pengeras suara agar berkumpul mendapatkan tugas baru, yang menurut Zitao akan lebih mengerikan.

.

Pasuka Israel telah memblokade semua jalan menuju Jalur Gaza yang membuat penduduk Gaza sulit untuk mendapatkan makanan, obat-obatan, dan juga bantuan dari relawan. Tertutupnya gerbang Rafah di batas Mesir dan Gaza, serta serangan terhadap kapal Mavi Marmara yang membawa ratusan relawan dari berbagai negara di perairan Mediterania, menambah luka bagi mereka.

Sehun meninggalkan camp radar, mengangkat senjata, bersiap lalu berkumpul dalam satu pasukan dengan Zitao. Ia lebih terlihat tenang sekarang, tidak terlalu meletup-letup dalam gugup seperti yang sering ia lakukan. Mungkin karena ia sudah sering bergaul dengan tentara IDF. Jadi, Sehun terlihat lebih mantap untuk penyerangan kali ini.

Berbanding terbalik dengan Zitao. Gugup yang biasanya terasa kebas untuknya, kali ini justru mengaliri setiap denyut nadi Zitao. Ia khawatir dengan apa yang akan dihadapinya nanti. Berkali-kali ia menahan napas saat mendengar tugas demi tugas yang harus dijalaninya.

Mereka mulai membuat strategi untuk menghentikan serangan roket dengan menghancurkan terowongan-terowongan bawah tanah yang dibuat Hamas. Jendral tinggi IDF juga mulai merencanakan untuk mengepung beberapa kawasan hunian yang berpenduduk padat di timur Gaza.

Sehun sesekali melirik ke tempat Zitao berdiri. Dalam diam ia juga mengkhawatirkan keadaan emosi Zitao. Terhitung sejak beberapa hari lalu, sejak malam ia mendengar semua penuturan dari salah seorang teman Zitao—yang ia tahu bermarga Kim—Sehun tak lagi satu tenda dengannya.

Bukan karena mereka tak lagi berteman. Mereka masih saling menyapa saat makan siang, ataupun saat bersinggungan dalam patrol. Hanya saja, tugas mereka yang berbeda menjadi kendala Sehun untuk mendekati Zitao, meskipun hanya sebuah tepukan hangat di bahunya, Sehun ingin Zitao tahu, bahwa ia juga peduli padanya.

Zitao membeku. Ia dapat membayangkan kengerian macam apa yang akan ditimbulkan oleh operasi darat semacam ini. Penyerangan seperti biasanya diawali dengan gempuran tembakan artileri yang mengerikan bagi penduduk sipil.

Zitao sendiri tercengang ketika mengetahui ia akan berada di barisan paling depan. Ia akan menjadi yang pertama menghunuskan pedang pada kaum yang dibela sendiri oleh hyungnya. Gigil dalam kengerian tugas. Zitao harus bersiap walaupun hati terus merutuk keadaan.

Apakah Zitao harus memutilasi rasa kemanusiaan di dalam hati nuraninya?

Apakah ia juga harus menanamkan terror dan mimpi buruk, sekali pun bagi bocah-bocah tak berdaya di sana?

Mau tidak mau. Siap tidak siap. Zitao telah terikat takdir untuk berjalan di sisi Zionis.

Dan tanpa sadar, takdir itu sendiri yang akan memberi jalan untuk bertemu pada tujuan utamanya.

.

.

TBC

.

.


A/N :

Terima kasih buat respon positif kalian :) aku ngerti kok, fanfict kayak gini masih tabu dan gak semenarik fanfict lainnya. fiksi ini aku buat bukan untuk menyinggung kaum atau kelompok tertentu, aku hanya ingin menyampaikan kepedulianku pada mereka yang sampai saat ini masih berjuang untuk kemerdekaan sedikit terbawa emosi pas ngebuatnya. maaf.

Warn : Fiksi ini emang aku buat sesuai sama pemberitaan yang aku simak, tapi semua isinya pure fiksi buatan aku, dan gak ada sangkut pautnya dengan karakter perorangan maupun kelompok yang ada di sana. aku minta maaf jika ada yang gak berkenan dengan adanya fiksi ini.

.

.

balasan review :

sayangsemuamembersuju

" makasih udah mau mampir dan review :) nanti bakalan tau kok tujuan sebenernya tao itu apa. ia cenderung tentara yang kelewatan welas asihnya, hehe, jadii emang dari awal gak sependapat sama zionis. "

Arcan'sGirl

" aku juga suka review kamu :) yuk kita sama-sama berdoa biar mereka tetap tawakkal dan menang melawan ketidak adilan :") "

Shallow Lin

" makasih buat apresiasinya :) aku seneng banget :') emang fiksi beginian masih tabu banget ya buat fangirl kayak kita, mengingat budaya dan agama yang berbeda. kadang-kadang pemilihan cast juga jadi kendala tuh. hehe...

kadang suka takut, kalo-kalo sampe nyinggung agama lain, tapi bukan maksud seperti itu sih ya. aduh jadi serba salah :p, sekali lagi, makasih ya :)"

Xyln

" Siapa ya? hayooo tebak siapa? heheee.. di bab ini udah di kasih clue kok tentang siapa yg dicari Zitao sama siapa Jongin. makasih udah mampir buat review :) "

NS Yoonji:

" sayangnya di hamas bukan anak exo, maaf ya *upss... ini masih rahasia soalnya. hihihiii :p, makasih buat reviewnya, masih mau review lagi kan?"

EyebrowYes

" Awww! makasih dek :* :) ! kamu juga hebat udah bisa ngerti tulisan aku yang amatiran kayak gini :p di bab ini bakal di kasih tau siapa yang dicari zitao, udah tau kaaaan? deadchara ya? ehmmm,, mungkin bakal nyerempet kali ya? hehe, tunggu sampe end aja ya.

militan itu sama artinya kayak tentara, ungkapan itu kedengaranna tabu banget ya? soalnya cuma segelintir aja yang make ungkapan kyk gitu. kebanyakan sih pers sama novelis.

nyaaahhh XD aku juga gak sabar buat download tiap episodenya *eh? heheheee :p mudah-mudahan si taozi sehat terus ya di sana :)

masih mau review lagi kan? makasih ya :)) "

Kuro91 :

" Ayok! kamu juga yang semangat ya reviewnya, hehe.. insyaallah aku bakalan nyempilin dikit-dikit... karena gak semuanya ngerti dan faham arti intifadha itu sendiri. makasih banyak yaaa buat gagasannya :)"

.

.

at last...

Semoga dapat membangun rasa simpati kita pada teman-teman di Gaza sana. Doa kalian adalah wujud simpati yang sangat berharga bagi mereka, apapun agama kalian, kemanusiaan tetap diprioritaskan bukan?

#SaveGaza #SaveCHILDREN

PEACE,

Pansy :3