Warn! WAR CONTENT!

" They came with their tanks and their planes

With ravaging fiery flames

And nothing remains

Just a voice rising up in the smoky haze... "

( We Will Not Go Down- Michael Heart )

.

Menginvasi penduduk Gaza dan menciptakan teror.

Perintah itu terus terngiang di telinga Zitao. Malam di camp IDF terasa lebih lama dari biasanya, namun matanya enggan untuk sekedar terpejam. Seluruh strategi telah ia cerna lamat-lamat, mulai dari penyerangan mendadak di pagi buta, mengguyurkan ratusan ton bom dan memobilisasi semua kekuatan untuk cadangan tentara.

Targetnya adalah tujuh puluh bangunan di Palestina, termasuk lima tempat ibadah, stadion olahraga, dan rumah kepala militer Hamas.

Zitao kembali bergidik ketika mengingat opsi untuk penyerangan tambahan. Komandan Batalion IDF telah memerintahkan untuk menyiapkan kurang lebih dua ribu roket untuk di luncurkan melalui udara.

Ini gila!

Zitao mengangkat kedua tangannya yang gemetar, memandanginya seakan kedua tangannya adalah makhluk hidup yang bisa bicara.

Apa yang harus aku lakukan? Akankah tangan ini dikotori dengan darah orang-orang yang tak berdosa?

Zitao terhenyak ketika mendengar suara berdebam yang teredam jauh. Pecahan suara itu terngiang bertalu-talu berpacu bersama degupan jantung zitao yang menggila. Ia menatap nanar ke luar kemah. Memandang jauh daratan tandus yang kini terlapisi oleh gumpalan awan kelabu berhias jerit ketakukan dan tangisan. Perjuangan Zitao melawan hati nurani, dimulai subuh ini.

.

.

~}{~

.

.

Zitao terpaku di kemah medis milik IDF, memandang para tentara yang lalu-lalang keluar masuk tenda perawat untuk mendapat suntikan vitamin. Zitao terpaksa menyeret tubuhnya ke tenda medis ini setelah mendengar perintah untuk melancarkan serangan pagi-pagi buta. Pukul dua pagi waktu setempat, Sehun duduk di sampingnya dengan mata setengah terpejam. Sepertinya pemuda itu belum sepenuhnya terbangun.

Tanpa sengaja tatapan keduanya bertemu, onix kelam Zitao memandang gelisah pada manik lelah milik Sehun. 'Se—sehun—tolong—aku mau pulang saja!' Seperti lupa bahwa kini dirinya adalah seorang prajurit, batin Zitao merengek melalui cara pandangnya kepada Sehun.

Kegelisahan yang di sampaikan Zitao berhasil membuat mata Sehun membulat. Mulutnya gatal untuk segera menanyakan keadaan Zitao.

" Hey, ada apa denganmu, dude?" Sehun menatap serius ke wajah tegang milik Zitao.

" Aku—aku tidak—aku..." Zitao tergagap, ia tak lagi mampu menatap manik Sehun. Tidak—tidak! Zitao menggeleng lemah, ... apa sih yang aku pikirkan! Tidak boleh merajuk seperti ini! aku ini tentara, aku tak boleh lemah! Zitao merutuk pada dirinya sendiri, lalu ia menunduk, sebisa mungkin meredam ketakutan di dalam dadanya. "—Aku tak apa-apa."

Belum lagi Sehun melanjutkan pertanyaannya, suster yang berada di dalam kemah dokter keluar menyuarakan nama-nama tentara selanjutnya, di antara mereka ada nama Sehun dan Zitao. Keduanya bangkit bersama lima tentara lainnya memasuki tenda khusus dokter.

Tenda itu terlihat jauh lebih luas dengan nuansa putih bersih, dan aroma sejuk dari pendingin ruangan yang bertengger di sudut. Ada dua buah ruangan yang hanya disekat oleh sebuah gorden yang juga berwarna putih.

Mata Zitao seketika terbelalak melihat dokter yang bertugas di sana. Wajah oriental yang sering ia jumpai di setiap sudut Negeri China, Zitao pun sudah bisa menebak bahwa dokter khusus tentara IDF ini pasti orang Asia.

" Silahkan duduk tuan-tuan." Tuturnya dengan Bahasa Inggris yang fasih. Gerakan dokter itu anggun dan teratur, merogoh daun laci pada meja menariknya pelan lalu mengeluarkan sekotak penuh botol-botol mungil seukuran ibu jari.

" Sebagian dari kalian mungkin sudah tahu apa tujuan kalian di kumpulkan di sini bukan? Atau mungkin kalian sudah ada yang pernah mendapatkan satu suntikan dari zat ini?" Jemari lentiknya mengangkat sebotol cairan bening, lalu menimangnya menghadap tentara di sana.

Mata cantiknya menangkap dua siluet asing berdiri tegap lengkap dengan seragam khas IDF. Sebelah alisnya terangkat, seperti telah menyadari tatapan kaget dari Zitao. Lantas, pandangan dokter itu tak terlepas dari tubuh tegap Sehun dan Zitao.

Setelah itu, dokter berwajah oriental ini memerintahkan dua suster untuk menyuntikan zat itu pada lima tentara IDF asli Israel. Sehun dan Zitao segera melangkah ke hadapan dua suster, setelah kelima tentara tadi selesai. Namun, langkahnya terhenti karena sebuah suara.

" Biar aku yang menangani mereka. Kalian keluar saja." Titah sang dokter pada dua suster itu. Sang dokter pun berdiri berhadapan dengan dua prajurit asing dengan senyuman yang lebar.

" Senang rasanya bertemu dengan saudara setanah air. Tapi keadaannya kurang tepat." Ujarnya dengan Bahasa Korea yang fasih.

" Anda seorang dokter dari Korea?" Pertanyaan polos Sehun di sambut tawa renyah oleh dokter itu.

" Aku keturunan China yang bersekolah di Korea, komandan!" Ujarnya seraya mendekat ke arah Sehun. Tangan kurusnya merapihkan seragam Sehun lalu menepuk bagian dada bidang Sehun dengan lembut sebelum meneruskan lagi penjelasannya dengan wajah dingin. " Tapi aku sudah menjadi warga negara Amerika sekarang."

" Apa maksudmu dokter? Kau bukan lagi orang Asia?" Suara Zitao serak dan datar, manik kelamnya masih terus menatap dokter itu sangsi.

Entah apa yang membuat Zitao kesal. Otaknya merespon sikap tak suka terhadap dokter itu, bukan—bukan karena perlakuan genitnya terhadap Sehun. Demi Tuhan—yang tak dimiliki oleh para Zionis—dokter itu adalah seorang pria! Dan dia kini tengah merayu Sehun yang juga seorang pria terang-terang di hadapan Zitao. Apa sudah tak ada lagi wanita di sini?!

" Panggil aku Lay. Aku keturunan China, nama Chinaku Zhang Yixing. Aku lahir dan besar di Korea—Negaramu tampan." Dokter yang mengaku bernama Lay itu menjawil hidung bangir milik Sehun, membuat si empunya hidung mengernyit tak menyenangkan. " Tapi, sejak aku kuliah di Amerika, aku mengubah kewarganegaraanku menjadi orang Amerika, dan aku bahagia menjadi bagian dari negara hebat itu."

" Apa maksudmu dokter Lay? Aku tidak mengerti tentang status kewarganegaraanmu itu." Sehun masih bertahan di posisinya, ia tak bergerak sedikit pun, meski perlakuan dokter Lay di luar nalar kelaki-lakian Sehun.

Lagi-lagi tawa renyah yang disuguhkan oleh dokter Lay. Zitao hendak mengutarakan sesuatu, namun kata-katanya tertahan ketika Lay secara perlahan menunjukkan dua botol dari zat yang mereka bilang vitamin.

" Kalian tahu apa tentang zat kimia ini?"

" Vitamin." Jawab Sehun terlalu jujur. Lay tersenyum miris mendengarnya, ia sudah menduga dua remaja ini benar-benar belum tahu jalan apa yang mereka pilih dan mereka jalani sekarang.

" Ini zat kimia yang menarik, asal kalian tahu." Lay kini berbalik menuju mejanya, lalu berdiri menyandar pada sisi meja, menyilangkan tangan di dada seraya menatap kedua remaja itu dingin.

" Kalian akan kehilangan kesadaran, bergerak tanpa menggunakan nalar, layaknya boneka puppet yang di gerakan oleh dalang—tidak merasakan sakit atau pun nyeri; sekalipun timah panas menembus daging kalian. Zat kimia ini setara dengan alkohol maupun morphin dengan dosis tinggi. Dan ini sudah di gunakan oleh mereka sejak lama. Dan di sinilah aku—meracik zat ini dengan sentuhan magis kedokteran milikku—dan abracadabra! ."

Melihat Lay tersenyum mengerikan sesudah menjelaskannya membuat Zitao bergidik untuk kesekian kalinya.

" Lalu, apa kami memerlukannya untuk serangan kali ini?" Zitao sontak menoleh ke arah Sehun, menatap wajah pucat Sehun tak percaya. Sehun bertanya seolah zat itu adalah multivitamin yang tak apa jika dikonsumsi kapan saja.

" Memang harus, tapi—" Lay kembali melangkah ke hadapan dua pria tampan yang berseragam itu. "Aku tidak akan memberikannya pada kalian."

" Kenapa?" satu lagi pertanyaan polos keluar dari mulut Sehun, mengundang tawa kecil Lay dan tatapan tajam Zitao.

" Aku ingin kalian membuka mata lebar-lebar, dan dengan keadaan yang sangat sadar melihat; menyaksikan apa yang sebenarnya kalian hadapi. Karena jujur saja—" Lay menoleh, memandang jenuh meja kerjanya.

"—aku sudah lelah dengan ini semua. Aku ingin segera pulang ke New York, dan membuka klinik kecil di sana. Bekerja selama dua belas jam sehari lalu kembali pulang ke apartemen kecil milikku sendiri. Tanpa tekanan dan tanpa rasa bersalah."

Zitao menatap punggung Lay yang kini menunduk di depan meja kerjanya. Sedikit demi sedikit Zitao mengerti apa yang dirasakan oleh dokter ini. Menjadi sekutu predator sejenis Zionis, dan harus patuh di bawah kuasanya memang sangat memuakkan. Terlebih yang kau lawan adalah sekelompok manusia yang tak bersalah.

" Aku mengerti, dok." Zitao memberikan senyum terbaiknya saat Lay menoleh ke arahnya. Zitao sudah tak bengis macam tadi. " Setelah menemukan apa yang aku inginkan, aku akan segera membawanya pulang. Dan—tak akan pernah kembali ke tanah neraka ini." ujar Zitao pasti, Lay menepuk bahu tegap milik Zitao ia membalas senyuman Zitao.

" Dari mana bisa kau tahu kalau Minho-ssi—masih hidup?"

DEG!

Pertanyaan itu membuat Zitao terhenyak, ia menoleh ke arah Sehun yang berdiri tak jauh darinya. Mata Zitao membulat melemparkan tatapan antara bingung dan tak percaya ke wajah Sehun.

" Bagaimana bisa—kau tahu tentang Minho hyung, Tuan Korea?" Sehun sadar, mulutnya telah sembarang bertanya. Sekarang ia berhadapan dengan wajah terluka milik Zitao, tentara China yang dikaguminya sejak awal.

" Well. Aku—tak sengaja mendengar percakapan kalian di belakang tenda tempo hari. Maafkan aku." Sehun ingin meraih bahu Zitao, memberikan perhatian dan ketenangan. Namun, belum lagi tangan Sehun menyentuh bahu Zitao, Zitao sendiri telah melangkah ke belakang; menghindari sentuhan Sehun.

" Sejauh apa yang kau tahu?" tatapan Zitao menajam, seolah mengintimidasi rekan satu Batalionnya.

" Hanya sekedar tahu. Dia adalah jurnalis asal Korea yang hilang di tengah baku hantam perang. Kau mencarinya karena dia, hyung mu. Hanya itu." Sehun menatapnya khawatir. Takut-takut Zitao tak mempercayai ucapannya.

" Hanya itu?" tatapan Zitao perlahan melunak, ia membuang pandangannya dari mata Sehun. " Berjanjilah, kau tak akan ikut campur dengan urusanku. Dan jangan beritahu siapa pun tentang hal ini, Tuan Korea!"

Sehun menghela napas berat, ia menatap sendu bahu Zitao yang memunggunginya. Sekilas ia melihat Lay yang memandang mereka khawatir. Ia bisa saja berjanji, namun, ia tak ingin meninggalkan Zitao sendirian menjalankan tujuannya.

" Aku berjanji untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hal itu. Tapi—aku tidak bisa untuk tidak ikut campur tentang urusanmu Huang Zitao. Ini terlalu berbahaya, jika terkait tentang—"

" Cukup Oh Sehun!" Zitao berbalik, menyarangkan kedua tangannya di kerah seragam pemuda Korea tersebut, Zitao menatap Sehun lamat-lamat sehingga napasnya memburu. " Jangan pernah sedikit pun mengasihaniku. Itu mutlak urusanku, dan tak ada satu orang pun yang berhak ikut campur—camkan itu albino!"

Dengan satu hentakan Zitao melepas cengkramannya. Sehun tetap bungkam di tempat memandang perih punggung Zitao yang perlahan hilang di balik tenda. Pemuda albino itu mengusap kasar wajahnya yang hampir memerah menahan emosi.

Lay menghampirinya, menepuk bahunya lembut. " Biarkan ia menyelesaikan apa yang ia yakini sekarang. Di saat seperti ini yang terpenting, kau selalu ada ketika ia kesusahan."

Sehun mendongak melihat wajah tenang milik Lay, yang sangat berbeda ketika pertama kali ia melihatnya. Lay tersenyum hangat, Sehun baru sadar, Lay mempunyai lesung pipi manis di pipi kanannya. Ia juga berusaha tersenyum, namun matanya masih menyiratkan kekhawatiran.

" Tenanglah, dan hadapi semuanya bersama-sama. Aku harap kau bisa membantu meskipun tanpa sepengetahuannya. Kau mengerti maksudku?"

Sehun mengangguk lemah. Lay benar, Zitao sangat sensitif saat membahas tentang hyungnya. Sesuai dengan apa yang disarankan oleh dokter manis ini. Sehun akan membantu Zitao, meski Zitao tak melihatnya. Ia harus membantu pemuda China itu, apapun resikonya.

.

.

Mereka bergerak pada pukul tiga pagi, dengan truk-truk yang dipenuhi oleh ratusan tentara menuju perbatasan. Ratusan pesawat tanpa awak segera dikerahkan untuk serangan udara. Puluhan tank juga telah siap luncur, mereka bersiap di garis pertahanan pada perbatasan antara Gerbang Rafah dan Gaza.

Zitao dan Sehun berada di antara mereka, memeluk senjata serta berdesakkan di dalam truk. Sehun sesekali melirik Zitao dari sudut matanya. Pemuda itu terlihat lebih tenang, setelah pertengkaran kecil di tenda dokter genit yang bernama Lay. Mata Zitao masih menyiratkan kegelisahan, yang membuat perasaan bersalah masih betah bersarang di hati Sehun.

Segala yang ada di diri Zitao menarik perhatian Sehun. Pemuda itu terlihat sekuat karang dan sebengis serigala kutub saat berdebat. Namun, ketika ia gelisah semua kesan bengis dan tegarnya seakan runtuh, tergantikan dengan sosok tak berdaya yang ingin sekali Sehun lindungi. Zitao layaknya seorang adik bagi Sehun, walaupun nyatanya Zitao lebih tua satu tahun dari Sehun.

Sehun terperanjat melihar ekspresi Zitao yang mendongak menatap nyalang pada langit kelam di atasnya. Lantas, Sehun mengikuti arah pandang Zitao. Ada sebuah pijaran yang melintas jauh di atas truk mereka, meluncur cepat ke arah perbatasan yang di jaga tentara Zionis.

Setelahnya, bunyi berdebam yang Zitao dengar malam tadi terulang. Itu serangan balasan militan Hamas atas serangan pada malam hari tadi, membuat seisi truk tentara itu ricuh. Dari radio Komandan Batalion yang berada di perbatasan mengabarkan, lima serdadu Israel tewas oleh serangan tersebut, dan militer Israel membalasnya dengan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza. Dentuman bom terdengar di mana-mana.

Umpatan dan hardikan diteriakan oleh para tentara lain, sedang Zitao masih terpaku memandang kepulan asap dari rudal yang baru saja menghantam sebuah gedung berukuran sedang tak jauh dari truknya.

Di tengah kericuhan tentara, Sehun mendekati tempat duduk Zitao. " Ini bagus bukan?"

Zitao menoleh, memandang aneh pada wajah Sehun yang tersenyum tipis menatap tujuan mereka di depan.

" Apa yang kau katakan?"

" Serangan kita terbaca oleh para militan Hamas, buktinya mereka membalas serangan saat kita secara diam-diam akan menjalankan invasi. Bukankah ini bagus? Kita akan menghadapi para pejuang itu, dan kau bisa bertanya tentang keadaan Minho-ssi pada mereka."

Pernyataan itu membuat suasana hati Zitao makin buruk. Lagi-lagi ia menarik kerah seragam Sehun, dan menatapnya bengis. " Atas dasar apa kau memberitahukan hal itu padaku? Sudah kukatakan, jangan pernah mencampuri urusanku Sehun-ssi."

Zitao berdesis ketika melepaskan cengkramannya, " Lagi pula, Minho hyung belum tentu bersama mereka, bukan?" ia berbalik membelakangi Sehun yang masih terpaku karena perbuatan dan perkataan Zitao. " Jangan bertindak gegabah, dan jangan campuri urusanku Tuan Korea!"

Ketika truk berhenti, Zitao langsung melompat turun diikuti oleh puluhan tentara lainnya. Di atas mereka yang sedang berlari ke arah pemukiman, kapal tak berawak milik Israel terbang, kemudian terdengar dentuman bom silih berganti.

Zitao bergerak ke dalam pemukiman, ia sama sekali tak berniat mempersiapkan senjata. Laras panjang miliknya hanya bertengger di pundaknya. Ketika suara tembakan dan teriakan teredam dengan dentuman bom, Zitao mulai waspada.

Di tengah kekacauan ini, Zitao masih mampu mendengar gema dari frase-frase Ketuhanan yang biasa penduduk setempat teriakan.

Takbir! Allahu Akbar!

Zitao menoleh ketika suara-suara itu mendekat. Seorang pemuda mengangkat sebuah balok panjang hendak menghantam Zitao, ia justru berlari menghindari serangan warga yang memang selalu waspada dengan kegiatan seperti ini.

Pemuda rumahan biasa dengan membawa ketapel besar melempari para tentara dari atap rumahnya. Lima dari kawanan Zitao terluka oleh lemparan tersebut, ketika seorang tentara di belakang Zitao juga terantuk batu pada tangannya, ia lantas menghunuskan senjata pada pemuda tersebut. Rentetan suara senjata membuat telinga Zitao berdengung tak nyaman, menjatuhkan pemuda tadi ke bawah tanah dengan lubang-lubang peluru di sekitar kepala dan lehernya.

" Kenapa kau bunuh dia?! Target kita adalah Hamas, bukan penduduk lokal!" Zitao berteriak di wajah pemuda Israel itu, dan dibalas seringai jahat oleh pemuda itu.

" Apapun—siapapun yang menghalangi tugas ini, harus dimusnahkan, man! Meskipun itu hanya seorang bocah—"

BANG!

DARR!

" Aaarrghh—"

Zitao tersentak, pemuda itu baru saja melepaskan tembakan ke arah belakang. Zitao menoleh mendengar sebuah jerit tercekat, bibir mungil itu mulai merengek kesakitan. Demi Tuhan—yang tak dimiliki oleh para Zionis terkutuk—ia hanya seorang bocah yang sedang menggenggam sebuah batu.

Pemuda Zionis itu berlalu begitu saja dengan seringaian penuh kemenangan. Sepertinya anak kecil itu hendak melempari Zitao dengan kerikil, namun, ia lebih dahulu tertembak oleh pemuda di hadapan Zitao.

Bahu mungil itu bersarang peluru panas aktif yang mengalirkan cairan merah kental ke seluruh lengannya. Bibir bocah itu bergetar, terisak meneriakan perih dan nyeri di bahu kanannya. Zitao tak tahan lagi, ia hendak melangkah ke arah bocah kecil yang ringkih itu, namun langkahnya tertahan sebuah uluran tangan.

Sehun—dia menahan langkahnya. Zitao menatap tak percaya, Sehun berdiri di belakangnya mencengkram pergelangan tangannya.

" Lepas—" Zitao berdesis sengit seraya menghentakkan genggaman itu.

" Tidak! Jangan sekarang Zitao, jangan—" Sehun berbisik. Zitao melihat peluh yang membasahi kening Sehun, pemuda itu terengah sambil menggeleng cepat. Ujung senjatanya telah menghitam, tampaknya Sehun juga telah ikut menyarangkan pelurunya.

" Apa kau tak lihat?! Dia kesakitan, Sehun! Aku harus menolongnya!" Zitao terus meronta pada genggaman Sehun, wajahnya mengeras dan matanya nyalang menatap nanar pada sosok mungil yang masih terisak di antara lalu lalang tentara. Wajah malaikat sang bocah basah oleh keringat dan air mata yang bercampur debu.

" Jangan Zitao—kau hanya mempersulit keadaanmu!" Suara Sehun meninggi, namun teredam oleh desingan peluru yang menderu. Ia hanya tak ingin kawan satu Batalionnya mendapati masalah karena sifat naifnya.

" Kumohon Sehun! Dia hanya seorang bocah yang tak bersalah! Aku harus menolong—"

BANG!

" Zitao! Arrgh—"

" —arrgh!"

DARR! DARR! DARR!

Tiga buah granat mendarat tak jauh dari dua pemuda Asia itu berdiri, menghempaskan tubuh mereka hingga terpelanting ke pojok tepat di samping bocah yang tadi terisak. Tubuh mereka terasa kebas—panas dan nyeri bercampur ke seluruh tubuh Sehun dan Zitao. Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok Zitao. Tak jauh di sisi kirinya, sesosok tubuh tak bergerak dengan darah yang mengalir di keningnya.

Sehun hendak beranjak dari tempatnya terjatuh, menghampiri rekan sejawat yang kiini terbaring tak sadarkan diri sebelum—

BUGH!

Sebuah reruntuhan menghantam kaki kiri Sehun, menciptakan erangan panjang dari pemuda Korea itu ketika hendak merangkak ke arah Zitao. Sementara Zitao masih tak sadarkan diri, tergeletak tengkurap tak jauh dari sampingnya.

" Arrgh—Zitao?! Hey, Zitao! Ku mohon! Sadarlah—"

Tubuh Zitao bergerak perlahan menangkap samar-samar suara yang memanggil namanya, ia berusaha mengangkat kepalanya. Matanya setengah terbuka, ia mendesis ketika pening merajai kepalanya. Berusaha untuk duduk dan melihat sekitar, ia terlalu terkejut untuk menganalisa situasi.

"—Zitao"

Nggiiing—

Telinganya berdengung karena gerakan tiba-tiba, nyeri merambat ke seluruh kepalanya membuatnya mencengkram rambutnya erat. Seluruh penglihatannya kabur, hanya sebuah bayangan yang berusaha menghampirinya.

" Zitao—kau berdarah."

Suara itu—suara Sehun...Dia di mana?

Zitao mengedarkan pandangannya bayangan Sehun merangkak ke arahnya semakin jelas terlihat. Zitao reflek menghampiri Sehun yang masih merangkak ke arahnya.

" Sehun, kau terluka?!" Zitao mencoba memapah Sehun, darah segar yang menetes dari dahi hingga pipi tak dihiraukannya.

" Kau berdarah Tao—kepalamu—" tangan Sehun terulur untuk menyeka cairan merah pada pipi Zitao, namun di tepisnya.

" Bodoh! Lihat! Kakimu luka, jangan khawatirkan aku albino!" suaranya serak dan bergetar, Sehun tahu Zitao sedang panik, terlihat dari gerakan gusar tubuhnya yang menahan perih di kepala. Namun, lagi-lagi Zitao tak menghiraukan rasa sakitnya, ia mendudukkan Sehun di samping tubuh ketakutan milik bocah yang masih berdarah bahunya.

" Kau bisa membalutnya sendiri, 'kan?" Zitao bertanya seraya mengeluarkan sebuah handuk kecil miliknya dari saku celana. Sehun hanya meringis sambil mengangguk cepat.

Zitao beralih pada bocah di samping Sehun. Bocah itu meneriakinya dengan bahasa yang tak Zitao mengerti, kemudian perlahan mundur dari duduknya menghindari Zitao. Dari gelagatnya Zitao faham, anak ini mengira Zitao adalah bagian dari Zionis yang mau membunuhnya.

" Tenanglah—aku akan membantumu.." bisik Zitao lirih. Hampir saja ia hancur oleh tatapan penuh benci yang di lemparkan bocah itu. Lagi-lagi bocah itu melemparinya dengan sebuah kalimat yang sama—mungkin Zitao sampai hapal—namun kini semakin keras hingga bocah itu tersedak oleh air liurnya sendiri.

' Laknatullah 'alaih! Wallahi—laknatullah 'alaih!'—terkutuklah engkau! Demi Tuhan—terkutuklah engkau!'

Bocah laki-laki itu ketakutan oleh sentuhan Zitao, bibirnya bergetar tak henti menguntai satu frase lain yang tak masih Zitao mengerti, tapi dengan jelas Zitao tangkap 'Astaghfirullah...Allah—Allah!' ia ucapkan lirih di tengah isakannya, lalu menjerit sakit ketika lengan kanannya berhasil diraih dan di angkat oleh Zitao.

Di tengah rengekannya bocah laki-laki itu, ia terisak dengan bahasa Inggris yang seadanya. " Tuan, tolong jangan sakiti aku—jangan... hiks!"

" Tenang, aku hanya menghentikan pendarahanmu. Aku tak akan menyakitimu." Zitao melepas seragamnya lalu merobek paksa menggunakan belati yang bertengger manis di pinggangnya, kini ia hanya mengenakan kaus singlet tanpa lengan. Ia membalut bahu mungil yang bergetar hingga isakan bocah itu mereda, ia masih menatap Zitao dengan wajah ketakutannya.

" Jadi ini ya rasanya—" bisik Sehun yang masih duduk membalut luka pada kakinya sendiri. Ia tersenyum misterius saat melihat Zitao. " Kau sudah tahu 'kan rasanya, Zitao? Berada di posisi seperti Minho-ssi."

DEG!

Pandangan Zitao meredup, ia teringat cerita Jongin tentang bagaimana aksi nekad hyungnya dalam menyelamatkan bocah di tengah perang. Zitao mengelus sayang rambut basah milik sang bocah ketika rentetan desingan peluru kembali terdengar bersamaan dengan jerit ketakutan penduduk sekitar.

Apakah begini rasanya hyung? Rasa sakit dan tertekan karena melihat penderitaan mereka secara langsung?

.

Flashback.

.

.

" Apa tak ada orang lain yang bisa menggantikanmu? Apa harus benar-benar kau yang berangkat, hyung?" Zitao bertanya dengan nada malas. Ini adalah Sabtu terakhir yang ia miliki di Seoul, sebelum berangkat ke China esok pagi untuk persiapan upacara pelantikan sebagai Angkatan Darat. Zitao muda telah memutuskan untuk menjadi siswa sekolah kemiliteran sejak ia lulus Junior High School.

Di kebun belakang rumah milik nenekda tercinta, dua pemuda ini menikmati lusinan biskuit susu buatan ibu Tao, Choi Jinri—atau mungkin sekarang namanya Huang Jinri, setelah ia menikah dengan Huang Zhoumi—dan secangkir kopi yang telah menghangat.

" Padahal minggu depan adalah pelantikanku, oh! Ayolah hyung—apa tak menunggu acaraku selesai dulu baru kau berangkat?" seharusnya Zitao merasa malu untuk merengek mengingat dirinya sekarang adalah calon tentara Republik Rakyat China yang sangat di banggakan oleh paman dan ayahnya.

Tapi jika dengan kakak sepupunya yang satu ini, Zitao tak akan pernah malu, bahkan jika harus merengek sesering apapun.

Yang lebih tua tersenyum setelah meneguk habis kopinya. " Kalau aku bisa, aku pasti akan hadir, tapi malam ini aku harus benar-benar berangkat Xiao Huang, kau tahu benar 'kan, ini adalah impianku."

" Soal misi kemanusiaan tak akan ada habisnya jika dibahas bersamamu, kau itu rajanya, Reporter Choi Minho." Zitao mengunyah biskuitnya gusar, Minho adalah satu-satunya sepupu yang ia miliki. Mengingat ia sendiri adalah anak semata wayang dari pasangan Choi Jinri dan Huang Zhoumi, dan hyungnya ini juga anak satu-satunya dari pamannya, Choi Siwon.

Minho justru terkikik melihat gestur Tao. Ia meraih sebuah tape recorder seukuran telepon genggam, hadiah yang diberikan oleh ayahnya saat pertama kali ia di terima bekerja di sebuah stasiun tv sebagai reporter. Dengan selembar kain lembut ia menggosok tape recorder itu hingga bayangan wajahnya terpantul dari sisi perak perekam suara itu.

" Misi yang aku dan timku ciptakan hanya sebuah langkah kecil, Zitao. Aku hanya ingin dunia bisa membuka mata dan hati saat melihat keadaan di sana."

Zitao menghentikan kunyahannya, ia menyeruput cairan hitam hangat itu seraya memperhatikan gerak-gerik Minho yang begitu asik dengan tape recordernya.

" Apa kau siap?"

Minho terdiam. Ia menghentikan gerakan menggosoknya, lalu menoleh ke arah Zitao. Belum ada jawaban, hanya helaan napas berat yang ia lakukan dan terlihat sangat lelah.

Jeda beberapa menit, hingga pertanyaan sama yang Zitao lontarkan. " Apa kau benar-benar siap?"

" Tidak." Jawab Minho, cepat dan lugas.

Zitao mengernyit heran dan akan protes lagi—namun ia terdiam ketika Minho meneruskan kata-katanya. "—Tidak. Aku tidak siap. Dan tak akan pernah siap. Kau pikir, mana ada orang yang siap meliput di medan seperti itu? Medan yang bisa merenggut nyawamu kapan pun."

" Lalu kenapa kau masih terobsesi dengan segala macam yang berbau dengan kemerdekaan Palestina?" Suara Zitao meninggi, ia kesal dengan sifat keras kepala milik hyung nya ini.

" Bukankah kau tak ingin membahas soal kemanusiaan padaku, hm?" Minho justru tersenyum jahil, sambil mencolek dagu lancip Zitao.

" Rasanya kalau begini, aku ingin sekali punya seorang adik—dibanding kau, orang yang keras kepala dengan pekerjaanmu!" dan rengekan Zitao seolah hiburan yang membuat Minho tertawa terbahak.

Satu yang Zitao belum sadari, bahwa Sabtu sore di Seoul saat itu adalah terakhir kalinya melihat Minho tertawa lepas sebelum menghilang di tengah perang.

.

.

End of flashback.

.

Mengingat semua itu, membuat Zitao semakin membulatkan tekad dalam manjalankan janjinya.


.

Serangan yang bertubi-tubi. Tak tanggung-tanggung, ratusan bom di lemparkan melalui udara. Salah satunya hampir merobohkan sebuah bangunan terbesar di daerah Gaza. Teriakan frase-frase Ketuhanan menggema, saling bertubrukan di udara. Kalimat-kalimat itu dianggap Zitao seperti sebuah mantra yang mampu menguatkan semangat penduduk lokal Palestina. Sontak Zitao menutup mata si bocah—ia tak akan membiarkan anak kecil itu lebih terluka mentalnya.

Dengan cepat Zitao dan Sehun berusaha menyembunyikan sang bocah ke dalam bangunan ruko—yang sebagian bangunannya sudah runtuh akibat ledakan granat—ketika belasan tentara IDF melintasi tempat mereka.

" Kita harus terus bergerak, Zitao. Sebelum siang—sebelum banyak tentara yang melihat kita." Sehun berbisik, matanya terus mengawasi dari celah reruntuhan. Wajahnya semerah tomat, menahan sakit pada kakinya.

" Kau masih sanggup berjalan? Kulihat, sepertinya lukamu sangat serius." Zitao mengernyit melihat noda darah pada perban yang ada di kaki kiri Sehun.

Sehun mengikuti arah pandang Zitao, ia mendesah kecil, " Eih, aku baik-baik saja. Tenanglah."

Zitao menangguk lemah, ia beralih memandang bocah di dekapannya. Wajah malaikat kecil itu sudah tak setakut saat pertama Zitao melihatnya, walaupun wajahnya masih menyiratkan rasa perih pada bahunya, Zitao akui bocah sekecil itu hebat karena mampu menahan nyeri akibat timah panas yang menembus dagingnya.

" Siapa namamu?" Zitao dengan hati-hati mengeja Bahasa Inggrisnya, berharap sikecil mengerti pertanyaannya.

" Namaku Afaf, tuan. Afaf Alqadri." Meskipun Bahasa Inggrisnya tidak begitu fasih, tapi Zitao masih memahaminya.

Raungan sirine ambulan, gempuran roket Israel, dan jeritan penduduk sekitar kembali terdengar. Zitao kembali memeluk Afaf yang bergetar, dan Sehun mengedarkan pandangannya mencari tempat aman untuk bersembunyi.

Berdiam di dalam reruntuhan gedung memang bukan pilihan yang cerdas. Bisa saja, tempat mereka menjadi sasaran roket Israel. Tapi mau bagaimana lagi, hanya puing-puing ini yang tersisa. Tak sengaja mata Sehun menangkap sebuah pintu yang hampir terhalang oleh beberapa reruntuhan.

" Lihat! Di sana ada pintu, mungkin kita bisa beristirahat di sana. Ayo!" Sehun berjalan lebih dahulu, menyingkirkan puing-puing yang ada di hadapannya. Sementara Zitao memutuskan untuk menggendong Afaf yang sepertinya sudah lelah menahan perih. Yang Zitao takutkan hanya, jika Afaf akan pingsan karena luka di bahunya.

Selangkah lagi, Sehun akan menggapai pintu di balik puing itu tapi langkahnya dikejutkan oleh kedatangan orang-orang berpakaian serba hitam dengan senjata.

Ada sekitar delapan hingga sepuluh orang. Wajah mereka di tutupi oleh kain, kecuali bagian matanya. Sehun mulai waspada, menyadari bahwa ia dan Zitao kini sudah tak bersenjata lagi. Dekapan Zitao pada Afaf menguat, padahal pening di kepalanya semakin menjadi-jadi.

" Hamas—" desis Sehun yang masih terdengar oleh Zitao.

" Serahkan anak itu! Kalian sekutu Zionis!" teriak salah satu yang berbadan tambun dengan Bahasa Inggris yang fasih, seraya mengacungkan senjata ke arah Zitao yang menggendong Afaf yang mulai lemah.

" Kami tidak menyakitinya, justru kami menolongnya!" Sehun berdiri menghadang ujung senjata yang berada di hadapan Zitao. Afaf berangsur-angsur melemah, bibir mungilnya tak henti mengucakan lafal Ketuhanan yang sama tiap detiknya. Kalimat itu yang sering terngiang berulang-ulang di telinga Zitao, menciptakan perasaan aneh di hatinya.

" Tolonglah anak ini terlebih dahulu, ia semakin melemah akibat tembakan! Demi Tuhan! Kami tidak menyakiti siapa pun!" Zitao hampir terisak, ia sudah tak tahan lagi melihat kondisi Afaf di dekapannya. Jejak darah dari kening hingga pipinya telah mengering, Zitao bahkan tak menghiraukan kondisinya sendiri.

" Kami tidak percaya pada sekutu Zionis!" Sehun dan Zitao terhenyak, kini bukan hanya satu senjata, seluruh militan Hamas di sana mengacungkan senjata ke arah mereka.

" Kumohon percayalah! Anak ini akan mati jika tak segera ditolong oleh tim medis!" Jerit Zitao semakin keras. Membuat Afaf tersentak dalam pelukan Zitao. Kembali Zitao mengusap lembut punggung Afaf, berharap ia dapat mengurangi rasa sakitnya.

Satu yang Zitao sesali adalah emosi Sehun yang meledak-ledak, serta tindakannya yang gegabah. Dalam hitungan detik Sehun dapat menghantam salah satu militan Hamas dengan tangan kosong, dan merebut senjatanya untuk diacungkan balik kepada mereka.

" Cepat tunjukan jalan untuk ke rumah sakit terdekat!" Desis Sehun seraya mengancam dengan jemari yang tertaut di pelatuk senapan.

Zitao sekarang mengerti mengapa para pejuang ini tidak pernah mempercayai sekutu Zionis. Kesengsaraan warga sipil yang menjadi korban Zionis yang membabi buta sudah Zitao lihat sendiri. Jadi hal wajar, jika militan Hamas kini melepaskan sebuah tembakan peringatan ke arah sisi kiri tempat Sehun berdiri. Beruntung, Sehun hanya tergores, timah panas itu tidak bersarang di dalam tubuhnya.

Satu desingan senapan mengundang kedatangan prajurit IDF yang kebetulan melintas. Ada empat prajurit mereka semua menghunuskan senjata kepada para militan Hamas. Aksi tembak menembak pun tak terhindari.

Zitao segera melindungi tubuh mungil Afaf, membawanya ke balik pintu yang berada di dekat mereka. Tak lupa ia menarik serta tubuh jangkung Sehun untuk berlindung.

" Kau tunggu di sini bersama Afaf, aku akan ke depan mencari ambulan." Zitao hendak melenggang keluar dengan merampas senapan dari tangan Sehun. Mendengar ucapan Zitao, Sehun menahan lengannya.

" Kau yang di sini! Aku yang akan memanggil tim medis!" Sehun kembali akan mengambil alih senapan dari tangan Zitao, tapi segera Zitao jauhkan dari lengan Sehun yang mencoba meraihnya.

" Apa yang kau katakan Oh Sehun bodoh! Kau lebih banyak terluka! Kau yang seharusnya di sini!"

" Kau—"

DARR! DARR! DARR!

Allahu Akbar!

DARR!

" Dengar?! Di luar sangat berbahaya! Kumohon, jagalah Afaf untukku." Zitao mencoba mengiba pada Sehun. Untuk sekali ini saja, biarkan ia yang menjaga dua orang yang kini telah menjadi sangat berharga untuknya. Untuk sekali ini saja biarkan ia menawarkan perdamaian yang selalu diimpikan oleh hyungnya, walaupun terlihat tidak mungkin. Senjatanya tak akan dihunuskan kepada jiwa-jiwa yang tak berdosa.

BANG!

Allahu Akbar!

DARRRRTTT!

BRAKK!

Zitao dan Sehun berjengit ketika pintu di ruangan itu hancur terdobrak oleh rentetan peluru. Dua orang prajurit berseragam sama dengan Sehun—dengan tidak diperkirakan mengacungkan senjatanya dan hendak menarik pelatuknya.

" Kalian penghianat!" Desis salah satu dari mereka.

DARR!

Satu tembakan lolos, Zitao dan Sehun merunduk lalu mencari tempat berlindung sebagai tameng dari tembakan yang bertubi-tubi.

Sial!

Zitao terus merutuk dalam hati. Bagaimana bisa ia lupakan Afaf yang masih berbaring lemah pada sudut ruangan. Beruntung sebuah meja menutupi tempat bernaungnya. Namun, tak lama, selayaknya desingan peluru yang memekakan telinga, kegaduhan membuat Afaf terperanjat lalu mulai histeris. Zitao panik, jangan sampai prajurit sialan itu menemukan Afaf.

Sehun mencoba meraih senapan yang terjatuh di dekat kakinya. Setelah dapat,adu tembak pun tak terelakan. Sepersekian detik, Zitao memang tak pernah bisa mengerti keadaan, semuanya benar-benar terjadi dalam waktu sesingkat itu. Sebuah letusan membuat Zitao terbelalak. Semuanya terjadi dengan tiba-tiba, luka di kepalanya mulai bereaksi. Pening, nyeri, dan ngilu meramba hingga telinganya kembali berdengung di tengah baku hantam senjata.

Ia dapat mendengar sayup-sayup teriakan Sehun memperingatkan dirinya agar tidak berlari di tengah baku tembak tak seimbang yang Sehun lakukan. Namun, emosi Zitao mengalahkan apapun. Ia segera bergerak mendekat ke tempat Afaf. Zitao ingin segera memeluk bocah itu, agar tidak kembali menangis.

Satu prajurit tumbang akibat timah panas Sehun. Hanya tinggal satu lagi. Sehun menahan perih karena luka di lengannya yang kembali mengeluarkan darah.

Afaf menangis, ia menjerit layaknya seorang anak yang ketakutan. Zitao hampir tak bisa meraihnya, ia merasa mengambang meski Afaf ada di dekapannya. Ia kembali mencari sosok Sehun yang masih bertahan melindungi dirinya juga Afaf.

" Hold on, Afaf... it's gonna be okay, soon!—bertahanlah Afaf... ini akan baik-baik saja, segera!—" gumam Zitao di telinga sang bocah. Zitao berharap sang bocah dapat mengerti perkataannya, meskipun kenyataannya tidak mungkin.

DARR!

"—Arrgh!"

Itu su—suara Sehun?!

Mata Zitao terbelalak melihat peluru kembali bersarang tepat di luka lengan Sehun. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, Sehun terkapar dengan luka yang semakin melebar.

" Zi—tao ... la—ri!" Suara Sehun hampir seperti sebuah rengekan dan bisikan. Zitao hendak beranjak—tentunya bersama Afaf yang masih menangis di pelukannya—namun kembali ia tak bisa menahan lagi rasa nyeri yang bersarang di kepalanya. Kekuatannya hampir habis, ia hampir saja kembali tersungkur karena tak lagi kuasa menahan bobot tubuhnya juga tubuh Afaf.

Napas Zitao hampir hilang ketika ia melihat dengan nyalang prajurit itu kembali menghunuskan senjatanya ke arah Sehun yang sudah tergeletak tak berdaya. Afaf pun kembali berteriak dengan bahasanya, yang Zitao—tentu—tak akan pernah bisa mengerti.

DARR!

" Se—hun!" Jerit Zitao hampir tercekat. Namun, tanpa diduga olehnya, justru malah tubuh prajurit itu yang tumbang dengan lubang terhunus peluru di kepalanya. Sehun terkesiap, ia tak memegang senjata apapun, ia segera menatap Zitao, dan Zitao tidak pula memegang senjata. Sehun memberikan tatapan, lalu siapa yang menembak?

" Akbar!" Teriak Afaf semangat setelah sesosok pemuda—dengan kain membentang di wajahnya, terkecuali mata—masuk dengan senjata yang masih siaga di genggamannya. Pandangan Zitao kabur, namun ia masih sanggup untuk mendengar.

" Akbar! Akbar, tolong kami! Tolong kami!" panggil Afaf, ia setengah meronta dari balik dekapan Zitao.

Sehun sebenarnya hendak bersyukur—ia tak jadi mati di tembak oleh IDF—sebelum pemuda yang di serukan oleh Afaf bernama Akbar tadi mengacungkan senjata tepat di depan wajah Sehun.

" Akbar, jangan!" seru Afaf kembali. Afaf merengek ingin segera bangkit dari rasa sakit, ia ingin mendekat pada pemuda Akbar, namun tak tahu bagaimana caranya memberi tahu Zitao karena terbentur oleh bahasa. Ia sedikit meronta, ingin segera bangun. Akhirnya, Zitao, dengan sisa-sisa kekuatannya mencoba berdiri, berjalan tertatih ke arah Sehun. Belum lagi ia dapat selangkah, pemuda Akbar itu memindahkan acungan senjatanya pada wajah Zitao yang lesu.

Sehun terhenyak, ia ingin segera bangkit untuk menyelamatkan Zitao. Namun, emosinya kalah oleh kondisi tubuhnya yang mengeluarkan banyak darah.

Pandangan Zitao kembali menajam, ia memicingkan mata sipitnya menatap pemuda yang hampir lebih tinggi dari dirinya. Pandangan Zitao tertuju pada kedua mata coklat sang pemuda Akbar.

Mata itu—

Apakah dia ...

Zitao seakan terhipnotis oleh tatapan hangat dari pemuda Akbar yang masih mengacungkan senjata padanya. Zitao tidak bodoh, ia juga tak lupa bagaimana sosok yang mempunyai mata serupa dengan pemuda Akbar di hadapannya.

Zitao perlahan mendekat, ia masih mendengar Afaf memanggil pemuda itu dengan sebutan Akbar. Afaf juga hanya berkomunikasi dengan bahasa Inggris seadanya kepada pemuda Akbar itu.

Siapa dia? Mengapa aku merasa sangat mengenalnya? Zitao membatin.

Kedua mata bulat itu masih menjamah Zitao, bahu Akbar bergetar hebat. Senjata di tangannya terjatuh tepat di kakinya, membuat Sehun mendongak dan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Pemuda itu bergerak maju, mendekat ke arah di mana Zitao berjalan terseok menujunya.

Kini jarak keduanya hanya sebatas lengan, namun tubuh Zitao sudah tak kuasa lagi. Ia sudah tak sanggup menahan nyeri di kepalanya. Zitao limbung bersama dengan Afaf yang masih di dalam gendongannya. Tubuhnya terbentur lantai, sengaja memberi tumpuan agar tubuh Afaf tidak terbentur lantai.

Semuanya perlahan kabur dan hilang. Perlahan suara-suara desingan peluru dari kejauhan bersambut bersama teriakan frase Ketuhanan serta jeritan pilu penduduk terdengar lebih lambat seiring tubuhnya merasa ringan dan syarafnya terasa kebas.

Tubuh Zitao sudah benar-benar menyerah

" Zitao!"

Itu bukan suara Sehun, suara itu—suara dia...

" Xiao Huang—bangun!"

Dia—di sini ...

" Bertahanlah!"

Zitao dapat merasakan tubuhnya diangkat oleh sosok pemuda Akbar yang beberapa saat tadi mengacungkan senjata kepadanya. Zitao pun masih bisa menangkap siluet Afaf yang meringkuk ke dalam pelukan Sehun.

Suara-suara di sekitar Zitao menjelma menjadi wujud gaung yang mengapung lalu lenyap teredam oleh suara desingan senapan, ledakan-ledakan yang tak henti juga raungan ambulan yang perlahan mendekat.

Sebelum pandangannya meredup, untuk pertama kali dalam pencariannya Zitao dapat menatap wajah itu lagi. Wajah teduh berkulit tan sama seperti kulitnya. Zitao tersenyum dalam terpejam ia merasakan kedamaian yang telah lama ia harapkan.

Hyung? Kaukah itu? Kau di sini?

Mengapa di sini begitu dingin? Mengapa di sini begitu sepi? Apa kau benar-benar sudah meninggal hyung? Apa kau mau menjemputku? Aku takut hyung, aku takut—

Hyung—

Ayo kita pulang—


.

a/n :

thank you very much chingudeul for the respons of this short fiction…

spesial buat rizqibilla ;makasih buat inspirasinya :3

thaks for all the reviewer :3 I LOVE YOU GUYS! maaf gak bisa bales di bab sekarang ya.

Mudah-mudahan dalam empat hari ke depan fiksi ini bakal selesai ya. Aku hanya buat 4 bab untuk fiksi singkat ini. Maaf untuk misinformasi juga kelancangan bahasa di dalamnya. Aku harus benar-benar ikutin semua berita tentang Gaza dari semua sosmed.

Akhir kata, mind to review again?