Kali ini saya ga bakal banyak cincong. Sudah mulai masuk ke intrik nya. Semoga ga pada bingung. Maaf kalau chapter kemarin mengecewakan. Segala macam kritik diterima. Feel free to review.
Enjoy ya Minna-sama '-')/
Warning: OOC, OCC, OC, OO #Duakh, Typo(s), Alur pake NOS, Cerita mudah ditebak. I've warned you
Disclaimer: Naruto punya saya tapi boong
Langit yang sedikit gelap sama sekali tidak kontras dengan perasaan Ritsu Uchiha pagi ini. Hari ini ia akan menjalankan misi nya ke Suna. Ini memang bukan kali pertama ia pergi kesana. Hanya saja ia mencium bau petualangan hari ini. Dan hujan hanya akan menurunkan semangatnya saja. Ia tidak terlalu suka basah. Lagipula suhu udara sepertinya turun dengan cepat mengingat Musim Gugur akan segera berakhir.
Ritsu segera menyiapkan perbekalan ninja dibutuhkan lalu mengenakan baju ninja terbuka yang menampilkan kaos bahan jaring-jaring ringan dan rok sepaha dengan celana ninja dibaliknya.
Ritsu segera turun untuk sarapan.
"Ohayou." Sapanya.
Ritsu melirik orang yang sudah ada di ruang makan sekaligus dapur itu. Hanya ada ayahnya, Sasuke Uchiha. Sasuke membaca gulungan besar dengan serius. Sasuke bahkan tidak membalas sapaan Ritsu.
Ritsu tidak perduli.
Ritsu memutuskan untuk menyibukan diri. Ia mengambil gulungan misi dalam ranselnya. Saat Ritsu baru saja akan membuka gulungan keterangan misi itu sekali lagi, Ibunya –Sakura, datang dengan sang bungsu. "Ah, Ohayou Ritsu-chan."
"Ohayou, Kaa-san, Momo-chan"
Sakura mengambil tempat duduk dihadapan Sasuke. "Ayo, Momo. Katakan 'Ohayou' pada Nee-chan." Sakura melambai-lambaikan lengan kecil Momo Uchiha dalam gendongannya.
"O-ha-you." Momo kecil tersenyum dan membalas sapaan Ritsu. Ritsu balas tersenyum.
"Nah, Ritsu, tolong jaga adikmu. Kaa-san akan menyiapkan sarapan kalian."
Sakura bangkit dari kursinya, menyerahkan Momo dalam dekapan Ritsu. Momo tertawa senang.
Momo meraih apa saja yang bisa ia raih dalam dekapan Ritsu. Gulungan-gulungan misi yang sempat dikeluarkan Ritsu ia genggam dalam jemarinya. Merusak dan membuatnya berserakan.
"Ah, Momo-chan, jangan!" Ritsu memekik dan segera menjauhkan hal-hal yang bisa di raih Momo.
Sasuke yang melihat Ritsu sedikit kerepotan dengan benda-benda dihadapannya dan Momo dalam dekapannya memutuskan untuk membantu anak sulungnya. Ia meraih Momo dalam dekapan Ritsu agar Ritsu bisa merapihkan barang-barangnya. "Kau akan pergi menjalankan misi?" Tanya Sasuke.
"Ya." Jawabnya singkat.
"Ibumu sudah tahu?"
"Sudah."
"Kenapa ayah belum tahu?"
"Karena ibu akan memberitahu ayah."
"Bagaimana kalau ibu lupa memberitahu ayah?"
"Ayah akan bertanya pada ibu."
Sasuke pegal. Rasanya seperti sedang berlari marathon. Ia menahan kekesalannya menghadapi Ritsu. Ritsu tidak seperti Hiroshi yang mudah dijatuhkan. Bukan berarti ia ingin menjatuhkan anaknya dengan melukai mereka. Bukan. Justru karena Sasuke sangan menyayangi mereka. Sasuke ingin mereka menyesal karena apa yang mereka lakukan.
Sasuke memang sudah tahu Ritsu akan menjalankan misi dari Naruto, tapi bukankah memang seharusnya Ritsu memberitahunya jika ia akan melakukan perjalanan misi? Bukankah anak tidak boleh membuat orangtuanya khawatir? Sasuke hanya ingin Ritsu menyesal dan memberitahunya. Bukan berdebat.
"Ayah tidak akan bertanya."
Ritsu menghela nafasnya. "Baiklah ayah, aku akan pergi menjalankan misi dengan kelompok 6." Kata Ritsu malas.
"Berapa lama?"
"Seminggu. Bahkan bisa lebih. Atau bisa kurang."
Pembicaraan mereka terhenti sampai disitu karena Sakura sudah menghidangkan makanan dimeja. Hiro dan Ai mucul paling terakhir.
"Ritsu, semua sudah siap?" Sakura membuka pembicaraan disela acara makan mereka.
"Ya. Aku sudah mempersiapkannya semalam." Jawab Ritsu.
"Kau terlihat bersemangat hari ini."
"Ya. Aku mencium bau petualangan dalam misi ini."
Aizawa tertarik dengan kata petualangan yang diucapkan Ritsu. "Petualangan seperti apa Nee-san?"
"Entahlah. Hanya saja aku pikir ini ada hubungannya dengan Yuuji atau Paman Naruto."
Sasuke dan Sakura tampak sedikit terkejut. Walaupun dengan alasan keterkejutan yang berbeda.
"Kenapa kau berpikir begitu?" Aizawa semakin tertarik. Bocah yang haus petualangan ini terus mendesak.
"Ekspresi sedih paman Naruto dan wajah terkejut Yuuji. Memang tidak beralasan, tapi aku akan mencaritahu."
Sasuke dan Sakura tampak semakin terkejut. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Ritsu menyadari orangtuanya yang tiba-tiba membisu mengerutkan alisnya heran. "Kaa-san? Tou-san?"
"A-ah, Jangan lupa untuk menceritakannya setelah kau kembali Ritsu." Sakura tersenyum. Ritsu menatap sang ibu penuh selidik.
"Hm? Ada Apa Ritsu?"
Ia memutuskan untuk memikirkannya nanti. "Tidak." Ia kembali melanjutkan sarapannya. Ia butuh cukup energi hari ini.
Setelah yakin tidak ada barang yang tertinggal, Ritsu segera mengenakan ranselnya. Tujuannya adalah Suna. Lama perjalanan ke Suna adalah 3 hari. Semoga dalam perjalanan ia tidak bertemu bandit. Itu akan memperlambat laju mereka.
"Ittekimasu!" Ritsu mengucapkan salam perpisahan pada keluarganya
"Itterasai!" Sakura, Ai, dan Momo melambai dari dalam rumah.
Ritsu melangkahkan kakinya ketempat perjanjian mereka seperti biasa. Sudah ada Yuuji, dan Shikamaru disana.
"Ohayou." Sapanya.
"Ohayou, Ritsu-chan." Balas Shikamaru.
"Tumben kau tidak terlambat."
Ritsu mendelik. Malas menanggapi Yuuji yang selalu mencari masalah dengannya. Yuuji juga diam saja di acuhkan Ritsu. Ia seperti memikirkan sesuatu.
Beberapa saat menunggu, orang terakhir muncul dengan anjingnya –Rairi. "Yo, Minna! Maaf terlambat."
Rairi mengonggong kecil sebagai salam. Anjing berbulu coklat muda ini tidak terlalu besar. Hanya seukuran lutut Kenta. Wajahnya juga tidak garang sama sekali. Kau bahkan ingin mengelus bulunya jika melihatnya. Tapi akan merepotkan jika Rairi menjadi lawanmu.
"Baiklah. Berangkat!" Sebuah aba-aba dari Shikamaru dan mereka semua berlari menuju gerbang konoha. Melompati rumah-rumah warga sebelum melompati dahan-dahan pohon yang mengelilingi konoha.
Sementara itu, di kantor Hokage, Naruto menatap jauh dari jendela ruangan itu. Ia menerawang ke kejadian semalam.
Hembusan angin malam terasa dua kali lebih dingin menyentuh kulit Naruto yang tidak tertutupi jubah Hokagenya. Ia tidak beranjak dari atap kantor Hokage sambil menerawang, kebiasaan barunya. Sudah saatnya ia pulang ke rumahnya yang hangat. Tapi ia tidak bisa. Kegelisahan hatinya menahannya untuk pulang. 'Ini' tidak bisa ia genggam sendiri. Biasanya ia akan membaginya dengan wanitanya, istri dan ibu dari anak-anaknya. Tapi kali ini, Naruto tidak bisa membaginya dengan Hinata. Ia tidak ingin menyayat pisau pada luka lama. Ia tidak ingin Hinata khawatir.
Naruto merasakan keberadaan seseorang disebalahnya. Sosok yang sama tinggi dengannya. Sahabatnya. Keluarganya.
"Naruto." Panggil sosok itu.
Naruto menghiraukan panggilan Sasuke. Ia terlarut dalam pemandangan kota Konoha. "Tim Toki membawa kabar bahwa misi di Suna ada hubungannya dengan Tragedi 17 tahun lalu."
Sasuke hanya diam mendengarkan keluh kesah sahabatnya. Kalimat pertama Naruto sudah sarat akan kesedihan. Sasuke tidak tahu harus mengatakan apa.
Naruto melanjutkan. "Dan misi ini kuserahkan pada Shikamaru dan timnya. Maaf melibatkan putrimu, teme."
"Aa." Sasuke hanya membalas singkat. Ungkapan bahwa ia tidak keberatan "Apa Hinata mengetahui ini?"
"Tidak." Angin kembali berhembus menerpa wajah mereka berdua. Walau malam semakin larut, lampu-lampu Konoha tidak padam. "Aku tidak ingin memberinya harapan tinggi. Kakashi-sensei tidak terlalu yakin dengan ini."
Sasuke ingat Tim Toki yang diutus Naruto mengusut kasus 17 tahun lalu dipimpin oleh Kakashi. Tim Toki hanya berisi 3 orang. 2 diantaranya adalah Anbu kepercayaan Konoha.
"Lagi-lagi, Sasuke." Ada jeda dalam kalimat sang Hokage. Ia sama sekali belum berpaling dari pemandangan kota Konoha dari atap itu. "Tepat setelah kurasa sudah tidak ada lagi harapan, harapan itu datang. Apa menurutmu aku masih bisa bertahan ketika aku tahu harapan ini palsu?"
Sasuke terkejut. Sahabatnya sudah serapuh ini tanpa ia sadari. "Kau harus kuat Naruto. Ini demi Hinata. Demi anak-anakmu."
"Ya. Tentu. Aku harus kuat. Kau tahu teme, rasanya aku ingin langsung berlari ke pertemuan bodoh itu ketika mengetahui kabar ini. Andai Gaara tidak mengirimiku permintaan misi, mungkin aku akan mencarinya sendiri."
"Ini bukan salahnya Naruto."
"Ya, aku tidak menyalahkan Gaara atau apa. Hanya saja, aku sangat ingin tahu sudah seperti apa anak itu. Apa ia makan dengan benar? Apa ia tidur dengan layak? Apa ada yang merawatnya ketika ia sakit? Apa ia punya teman?" Sasuke kembali dikejutkan ekspresi Naruto. Pria itu mengeluarkan air dari matanya. Naruto menangis tanpa isakan.
Sasuke merasa iba. Ia menolak menatap Naruto, ia mengarahkan fokusnya ke arah lain. Melihat kesedihan di wajah pria pirang membuatnya terbawa. Ia tidak suka terlihat lemah.
Tidak lama Naruto meneteskan air mata, ia menggosok matanya dengan punggung tangan. "Aku menugaskanmu menjadi tim bantuan, Teme. Berangkatlah setelah mereka. Kutitipkan anakku."
"Aa."
Sasuke berlalu dari atap kantor Hokage. Sementara Naruto, masih banyak yang ingin ia pikirkan.
Apa ini masuk akal? Apa ia sedang dipermainkan takdir? Apa ia berdosa? Mengapa ini terjadi padanya? Setelah ia pikir manusia bisa saling mengerti? Saling memahami? Kenapa ini terjadi? Naruto pulang ke rumahnya tanpa tahu jawabannya.
Wuzz! Wuzz! Tap! Wuzz!
Suara angin yang terbelah menghiasi pendengaran Ritsu Uchiha. Belum ada kendala sejauh ini. Mereka sudah berlari hampir seharian. Sekarang mungkin sudah akan senja. Sepertinya mereka terlalu terburu-buru mengingat mereka belum makan siang. Ritsu sendiri sebenarnya sudah merasa lapar. Tapi tidak ada keputusan istirahat dari Shikamaru-sensei. Apa mungkin senseinya lupa?
Tap!
Shikamaru berhenti. Suara langkah yang membentur tanah bermunculan satu demi satu setelah suara langkah Shikamaru. Mereka berhenti "Yak. Sepertinya kita bisa istirahat disini."
Mereka semua turun dari dahan pohon. Ada sedikit ruang di antara pepohonan yang bisa mereka jadikan perkemahan kecil dadakan. Hari sudah senja. Matahari beranjak menghilang membawa sinarnya.
"Biar aku cari kayu untuk perapian." Ucap Kenta. Ia bangkit dari tempatnya dan pergi lebih kedalam.
Ritsu, Yuuji, dan Shikamaru membuka ransel mereka dan mengeluarkan bekal yang mereka bawa. Peraturan nomor satu di tim 6, tidak ada yang bisa makan jika mereka semua tidak makan. Jadi, tidak ada yang bisa makan jika Kenta belum kembali.
Cukup lama Kenta belum kembali, Yuuji sudah merebahkan diri di atas rumput untuk merilekskan otot-ototnya yang tegang. Sementara Ritsu sudah menenggak air yang dibawanya sampai hampir habis untuk menahan rasa lapar.
"Kemana si Inuzuka itu?!" Pikir Ritsu geram.
Ritsu tersedak ludah sendiri. Mereka sedang dalam misi saat ini. Anggota yang tidak kembali berarti terjadi sesuatu padanya. Ritsu mengutuk kebodohannya yang baru menyadari ini.
Tapi ia tidak ingin membuat kelompoknya panik. Pasalnya, Kenta memang sering berbuat ceroboh. Mungkin ia hanya tersesat. "Sensei, sebaiknya aku menyusul Kenta."
Shikamaru pikir Ritsu ingin cepat makan maka ia menyusul Kenta. Jadi ia mengijinkan. "Aa. Tolong ya, Ritsu-chan"
Ritsu berjalan memasuki hutan. Kegelapan sudah cukup menyelimuti tempat ini. Ia mempertegas seluruh indranya untuk mencari Kenta.
"Kenta." Ritsu memanggil sesekali. Berharap mendapat respon dari rekannya itu
Srekk! Srekk!
Ia mendengar suara gemerisik dedaunan dari arah timur. Ia melangkah mendekat berharap itu Kenta. Sambil mengendap ia mengeluarkan kunai dari kantung senjata di belakangnya. Bersiap menghadapi resiko terburuk.
Ia bisa melihat cahaya. Oh tidak. Mata Ritsu membulat. Ada kelompok lain yang sedang berkemah disini. Masih mengendap Ritsu memindai kelompok itu apakah Kenta ada disana. Ia tidak ingin mengambil resiko me–
–Tang!
Ritsu melompat mundur.
Ia baru saja diserang dari belakang. Beruntung ia segera menyadarinya. Tadi itu membuat adrenalinnya terpacu capat.
"Kau pikir aku tidak menyadarimu?" Sosok yang menyerang Ritsu berujar meremahkan. Alisnya di tarik naik. Ritsu mengepalkan tangannya keras.
Ia memperhatikan sosok itu. Seorang wanita? Rambutnya berwarna semerah darah. Umurnya? Mungkin sedikit lebih tua dari ibunya. Kacamata membingkai mata si wanita merah. Rabun ternyata.
"Karin? Kau disana?" Shit! Satu demi satu bermunculan anggota kelompok yang tadi diintainya.
"Ya~ Aku menemukan se-ekor kelinci tersesat disini." Si wanita merah yang dipanggil Karin itu merespon.
Ritsu menghitung sekelompok orang yang muncul di hadapannya. Satu, Dua, Tiga... Tujuh! Delapan dengan si wanita berambut merah. Sepertinya 7 orang pria yang muncul hanya bandit. Tapi wanita ini... Ritsu berpikir keras apakah bijak melawan mereka seorang diri?
"Ada apa ini? Baru saja si anak anjing, sekarang se-orang gadis kecil? Apa keberadaan kita sudah di ketahui?" Bandit dengan codet pada pipinya bertanya pada Karin.
"Entahlah." Ada nada main-main dalam kalimat Karin. Ia memandang penuh selidik pada Ritsu di hadapannya. "A~ Aku juga merasakan 2 orang ninja di dekat sini. Sepertinya anak-anak ini tidak datang sendiri."
"Apa?!" Para Bandit dan Ritsu terkejut.
"Shimatta! Tipe Sensor!" Batin Ritsu.
Brakk! Srakk!
Kenta dan Rairi muncul dan melompat dari tempat perkemahan kelompok bandit. "Ritsu-chan!" ia segera menarik Ritsu untuk pergi dari sana. Mereka berlari ke arah Shikamaru dan Yuuji.
"Kejar!" Segera setelah ada aba-aba, para bandit itu segera mengejar.
Pertarungan tidak terelakan. Ritsu berhenti berlari dan berbalik keras. Suara gesekan alas kaki dengan tanah di bawahnya berbunyi keras. "Kau pergilah duluan! Panggil bantuan! Aku akan menahannya disini!"
"Aa!" Kenta berlari secepat yang ia bisa bersama Rairi. Ia yakin Ritsu akan baik-baik saja. Yang penting, ia harus segera menginformasikan pada Shikamaru-Sensei.
Segera setelah Kenta pergi, Ritsu membentuk segel jutsu.
Jurus Api! Semburan Naga Api!
Kobaran api besar membakar bandit yang berlari paling depan. Sementara bandit di belakangnya berjatuhan. Beberapa dapat menghindari serangannya.
"Satu tumbang." pikirnya.
Ia mengambil kunainya dan memulai pertarungan jarak dekat. Beberapa bandit dipersenjatai dengan Katana, Dagger, atau bahkan Gadah. Ia dikepung oleh 4 orang bandit.
Ritsu melawan dengan sekuat yang ia bisa. Menahan serangan pedang salah satu bandit dengan kunainya lalu menendang kaki si bandit yang segera terjatuh. Menahan kemudian menyerang. Begitu terus. Ia tak menyangka para bandit ini cukup lumayan. Bahkan ada yang berukuran tubuh seperti raksasa.
Ritsu merasakan dua bandit akan menyerangnya bersamaan. Oh tidak. Sepertinya ia akan kena salah satu. Atau bahkan dua, mengingat ia sendiri sedang menahan serangan Katana panjang yang datang dari atas.
–Tang!
Ritsu membulatkan matanya. Ia pikir senjata-senjata itu akan menyayat kulitnya. Tapi ia tidak merasakan apapun.
"Yo, Ritsu-chan, maaf sudah menunggu lama."
Ritsu memandang sekeliling. Shikamaru dan Yuuji sudah berada di belakang melindunginya dari serangan bandit.
"Aa. Arigatou, sensei." Ritsu melompat mundur. Yuuji, Shikamaru dan Kenta melawan para bandit yang tersisa.
Shikamaru merasakan sebuah kunai melesat ke arahnya. Ia melompat menghindar. Seorang pria cukup tua dengan pakaian seperti bandit menatap Shikamaru dihadapannya. Shikamaru sadar lawannya ini bukan bandit. Dia ninja.
–Sett
Ritsu melepaskan sebuah kunai ke arah belakangnya. Tidak mengenai apapun. Padahal ia yakin merasakan keberadaan seseorang dibelakangnya.
Ia kembali berbalik menghadap pertarungan bandit sebelum ia mendengar sebuah suara "Hallo, bocah."
Ritsu terkejut, refleks ia melompat mundur. Wanita rambut merah yang dipanggil Karin sudah ada di hadapannya. Dan jarak mereka cukup dekat tadi. Jika Karin mau, ia sudah bisa memukul Ritsu telak.
Tidak ada piliha. Ritsu harus melawan Karin. Ia melemparkan sebuah kunai ke arah kaki Karin. Karin segera melompat mundur. Kunai tersebut meledakkan tanah kosong. Ritsu mendecih. Pertarungan jarak jauh tidak cocok dengan tipe sensor.
Ritsu kembali menyerang Karin. Kali ini dengan kunai ditangan. Ia mencoba menusukan kunainya kearah Karin. Wanita itu terus mundur menghindari serangan Ritsu. Ritsu berhenti mengejar. Wanita ini tidak serius melawannya?
"Apa? Apa kau pikir aku tidak serius? Tentu saja aku tidak serius. Untuk apa melawan bocah ingusan sepertimu. Lihat, bahkan tidak ada seranganmu yang mengenaiku." Karin mengejek Ritsu. Ia tertawa meremehkan dengan tambahan gerakan tangan yang mengibaskan udara.
Ritsu berang. Ia akan serius kali ini. Sulung Uchiha memejamkan matanya sesaat. Ketika ia membuka kelopak matanya, mata merah dengan tiga tomoe hitam menghiasi bola matanya. Ia mengambil nafas dalam mulai menyerang.
Karin tentu terkejut. "Uu~ Uchiha ternyata." Ia kembali melompat mundur. Menghindari serangan-serangan Ritsu. Kali ini kecepatan serangan Ritsu meningkat. Karin terpojok. Ia mengeluarkan juga kunainya. Ia memutuskan untuk menangkis, tidak lagi menghindar.
–Tang!
Kunai Ritsu terpental setelah beberapa kali ditangkis oleh Karin. Pertahanan Karin terbuka karena Karin menggunakan tangannya untuk mementalkan senjata Ritsu. Gadis Uchiha ini tidak membuang kesempatan. Ia memusatkan chakranya pada tangannya, lalu memukul wajah Karin keras. Sayang, Karin yang menyadarinya masih sempat melindungi diri dengan tangan yang bebas. Tapi pukulan keras Ritsu membuat Karin terpental cukup jauh.
Ritsu mengikuti arah terpentalnya Karin. Keluar dari rimbunan pohon hutan. Ia menemukan sebuah sungai. Ternyata ia cukup terpisah jauh dengan tempat pertarungan tadi.
Ritsu berdiri tegap di sisi sungai. Menunggu. Dihadapannya Karin terbaring tidak bergerak. Sulung Uchiha kembali dengan posisi siaga. Ia yakin Karin tidak semudah itu dikalahkan.
"Heh-hahahahahahahahaha." Karin tertawa menyeramkan. Wanita itu bangkit dan menatap Ritsu. Ritsu tidak bisa mengartikan tatapan Karin.
Karin membentuk segel ditangan. "Sampaikan salamku pada Sasuke, bocah."
"Ap–" Belum sempat Ritsu menyelesaikan kalimatnya, Karin menyemburkan asap berwarna merah muda.
"Racun!" batin Ritsu. Ia segera melompat mundur dan menutupi hidung dan mulutnya. Karena terlalu fokus untuk tidak menghirup racun dan karena penglihatannya memudar tertutup asap Ritsu tidak sadar apa yang ia pijak. Ritsu terjatuh ke dalam sungai yang mengalir cukup deras.
Karena panik, ia berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya karena takut tenggelam. Tapi itu memperburuk keadaan. Udara yang bercampur racun masuk ke pernafasan Ritsu. Ia merasa tubuhnya sedikit lumpuh tak bisa di gerakan. Kemudian semuanya gelap
"Uhuk –Uhuk. Arrgh..." Ritsu mengerang. Ia merasakan tenggorokannya sakit. Saluran pernapasannya juga sedikit nyeri jika ia mengambil nafas. Syukurlah ia masih hidup.
Ritsu mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Ia diserang bandit. Lalu bertemu dengan wanita bernama Karin. Setelah melawan Karin, ia terseret arus sungai dan terpisah dengan teman-temannya. Dan sekarang terdampar di tempat yang tidak ia kenal.
Ritsu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia terbaring diatas rumput dengan selimut yang cukup tebal. Disebelahnya terdapat danau yang tidak terlalu besar. Sepertinya ia datang dari danau itu. Pakaiannya yang basah masih bisa ia rasakan di beberapa tempat. Ia tidak kehilangan barang apapun, kantung senjata masih menempel di belakangnya. Sepertinya ada yang menolongnya.
Melihat kabut dan suhu yang dingin, Ritsu menebak sekarang masih pagi. Walaupun tertutup kabut, ia masih bisa melihat danau ini dikelilingin hutan yang cukup rindang. Tidak terlalu lebat.
Ritsu yakin orang yang menyelamatkannya pasti masih ada disekitar danau. Ia harus segera berterima kasih dan pergi dari sini. Teman-temannya pasti khawatir padanya. Sulung Uchiha bangkit dan beranjak dari tempatnya.
Ritsu berjalan semakin kedalam. Kabut mulai menghilang ketika ia meninggalkan danau. Sinar matahari bersinar terang. Anak gadis Uchiha itu terpaku pada apa yang dilihatnya.
Seorang pemuda duduk bersila di atas rumput dengan Kelinci, Rusa, dan beberapa burung berada bersamanya. Sinar matahari yang menembus celah-celah daun pohon di atas pemuda itu membuatnya seperti dihujani sinar. Indah sekali.
Ritsu memperhatikan pemuda itu. Surainya berwarna biru sebahu yang dipotong tidak rata menimbulkan kesan liar. Usianya mungkin sedikit lebih tua darinya. Warna rambutnya mengingatkannya pada seseorang. Tapi siapa? Ritsu sulit menebak.
Wajahnya lembut bercengkrama dengan hewan-hewan lucu itu. Ia sedang memberi makan pada hewan? Entahlah. Pakaian pemuda itu hanya celana panjang hitam dan kaus biru yang serasi dengan warna rambutnya. Tubuhnya tidak besar tapi Ritsu bisa melihat ada otot-otot tercetak di kausnya. Seperti...seorang pangeran? A-Apa Ritsu baru saja memikirkan apa yang ia pikirkan?! Tidak mungkin!
Pemuda itu menoleh pada Ritsu yang berdiri mematung memandangnya. Mereka berdua mematung. Bibir si surai biru menarik satu garis lurus. Ia menjatuhkan buah yang akan diberikan pada se-ekor rusa disana.
Pemuda itu menatap Ritsu yang tenggelam dalam pikirannya. "I-ini tidak seperti yang kau pikirkan loh." Ucap pemuda itu datar. Suaranya yang berat dan lembut menyihir Ritsu. Ada apa ini?
"Hahahahahaha." Tampang konyol pemuda itu membuat Ritsu terbahak. Wajah seperti itu ternyata bisa membuat ekspresi sekonyol menarik bibir datar. "Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?" Ya, Ritsu juga berpikir tidak mungkin yang ia pikir itu benar. Seorang pangeran? Jangan bercanda.
"Y-ya seperti aku adalah seorang putri konyol yang memberi makan hewan atau bicara dengan mereka." Ucap pemuda itu masih dengan ekspresi konyolnya.
"Behahahahahahahaha." Jawaban pemuda itu semakin membuat Ritsu terpingkal. Yang ia pikirkan adalah pangeran, dan pemuda itu bilang putri? Putri?! Lagi pula, ekspresi apa itu? Ritsu tidak bisa menghentikan tawanya. Bahkan ia rasa ia sudah OOC sekarang.
"Oy, tidak sopan menertawakan orang seperti itu." Kali ini ekspresi pemuda itu seperti marah dan tidak terima.
"Wahahaha maaf, maaf." Ritsu mengusap matanya yang berair karena tertawa dengan punggung tangan. "Apa kau yang telah menyelamatkanku? Terima kasih banyak." Kali ini ia bisa beterima kasih dengan benar. Ia tersenyum dan sedikit membungkuk seperti putri bangsawan jepang. Ayahnya yang sering mengajarkan tradisi Uchiha tidak lepas dari cara berterima kasih. Dan pemuda itu mengakui senyuman Ritsu manis sekali.
"A-ah ya. Bukan masalah." Pemuda itu tersenyum 5 jari sebagai balasan.
"Namamu?"
"Ha?"
"Namaku Ritsu. Namamu?"
"Moriya." Moriya? Nama yang langka. Tapi aku seperti pernah mendengarnya.
"Senang berkenalan denganmu, Moriya. Kau tinggal disini?"
"Tidak. Hanya kebetulan lewat."
"Begitu." Sesungguhnya ia masih iangin bicara dengan Moriya. Tapi ia tidak ingin membuat teman-temannya semakin khawatir. "Baiklah, aku harus pergi. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku."
"Apa kita bisa bertemu lagi?"
"Tentu. Kita akan bertemu lagi." Ritsu tidak tahu mendapat keyakinan dari mana ia akan bertemu lagi dengan pemuda yang mengaku bernama Moriya ini. "Sampai jumpa."
"Aa."
Dengan itu, Ritsu berlari dan melompat menuju Suna. Berlalu dari danau dan pertemuannya dengan pemuda bernama Moriya itu.
TBC
OKE! Ga nyangka bakal update tiap minggu gini. Lagian pengerjaanya Cuma satu hari. Ternyata chapter ini pendek bgt. Buat Actionnya saya sendiri ga ngerti ini situasinya gemana. Pokoknya seru dah pertarungannya tergolong sengit. Chap depan masih ada action. Saya cukup menikmati menulis fic ini. Tapi juga cukup kecewa sama kepercayaan diri saya yang mikir cerita ini menarik hahaha timelinenya gokil menurut saya fic ini. Baru dua hari loh men wkakaka
Terus kalo kalian ngeliat ada yang kira-kira ga masuk akal, masuk akalin aja ya. hehe namanya juga fiksi
Jaa, Review is very appreciate. So, click the review button
