Thanks buat semua masukannya. Akan saya pertimbangkan.
Anw, mungkin saya kurang jelas ngegambarin Moriya. Rambutnya ga spike. Rambutnya lebih panjang, jatuh sebahu. Tapi ga klimis. Mirip rambutnya Takishima Kei atau Usui Takumi kalau kalian tahu. Tapi sedikit lebih panjang.
Yang bingung sini pegangan saya =_=)/ cerita ini ga serumit atau se complex yang kalian bayangkan okey. Saya pen nerbitin drabble lagi abis ini ngeeeng semoga next generation cepet tamat. Atau saya harus ganti judul yang ga nyambung ama crita inti ini. Saya benar2 penulis amatir =_=
Thanks buat semua yang udah review. I lop yu ol key
Enjoy, Minna-sama! '-')/
Warning: OOC, OCC, OC, OO #Duakh, Typo(s), Alur pake NOS, Cerita mudah ditebak. I've warned you
Disclaimer: Naruto punya saya tapi boong
Seorang pemuda berjalan di lorong rumah besar yang bergaya sangat tradisional. Langkahnya di ikuti dua orang pria yang mengenakan hakama bewarna gelap dengan atasan senada dengan hakamanya. Di depannya seorang pria lain mengenakan hakama berwarna hijau gelap dengan atasan putih menuntun jalan. Sang pemuda yang seperti 'digiring' itu tampak tanpa ekspresi, datar, dan sulit ditebak. Rambut birunya bergoyang seiring pergerakan tubuhnya. Ia terlihat santai dengan mengenakan baju berbahan kaus dan celana panjang hitam.
Selang beberapa menit, pria berhakama hijau berhenti di depan sebuah pintu. Sang pemuda dan orang-orang dibelakangnya otomatis berhenti.
"Tanaka-sama." Pria itu berujar di depan pintu. Memanggil tuannya yang berada di ruangan bergaya sangat tradisional itu.
"Masuk." Suara berat seorang pria dewasa merespon pria berhakama hijau.
Pria berhakama hijau membuka pintu geser itu setelah sang Tuan mengijinkan. Ia memberi ruang pada pemuda di belakangnya untuk masuk terlebih dahulu. Ia segera menutup pintu setelah mereka berdua berada di ruangan. Sementara dua orang lain dibelakangnya berdiri berjajar di depan pintu berjaga agar tidak ada hal-hal yang tidak mereka inginkan terjadi.
Ruangan itu di dominasi warna kuning bambu dan coklat kayu. Tidak terlalu besar. Si pemuda mengambil tempat duduk yang sudah tersedia. Ia duduk bersimpuh. Dihadapannya sudah duduk bersila seorang pria tua dengan kimono biru gelap yang dipanggil 'Tanaka'. Dua orang wanita muda berkimono cerah terbuka mengapitnya.
"Apa kau sudah menyesal sekarang, Mori?" suara berat Tanaka terdengar di telinga pemuda bernama lengkap Moriya Tanaka itu.
Moriya bergeming tidak berniat menjawab.
"Moriya! Kau mendengarku!" Suara pria itu naik beberapa oktaf. Kalimat Tanaka lebih seperti sebuah pernyataan dari pada pertanyaan. Ia tahu Moriya sudah mendengar pertanyaannya dan dia menuntut jawaban. Tentu saja jawaban yang mengesankan.
Moriya tetap diam. Ia mengarahkan fokusnya pada meja rendah yang membatasinya dan Tanaka. Sama sekali tidak melihat wajah Tanaka.
Tanaka berang. Ia mengambil Katana panjang tak jauh dari tempat duduknya. Menarik sarung pedang lalu mengarahkannya pada Moriya.
"Tanaka-Sama!" pria berhakama hijau segera bergerak maju menghentikan aksi yang kiranya akan dilakukan tuannya. Ia terkejut Tuannya semarah itu. "Tanaka-sama! Tanangkan diri anda!" ia menahan tangan sang tuan hendak menurunkan Katana yang diacungkan pada Moriya.
"Lepaskan, Shigeru! Anak ini harus diberi pelajaran!" Tanaka berusaha berontak dari cekalan tangan pria berhakama hijau yang dipanggil Shigeru itu.
"Tanaka-sama! Moriya hanya seorang remaja tanggung. Maafkan ke-tidak dewasaannya." Shigeru masih berusaha membujuk si tuan untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu.
"Hah!" Tanaka menurunkan pedangnya bersama dengusan keras. Ia beralih menatap pemuda yang masih menatap meja seakan meja rendah itu sesuatu yang sangat menarik. "Rupanya hukuman kurungan tidak cukup untukmu."
Tanaka kembali duduk. "Aku sama sekali tidak keberatan kau tidak mengikuti peraturan di rumah ini. Aku juga tidak keberatan kau main di luar sana dan tak pulang. Tapi aku tidak mentolerir orang-orang yang merusak rencanaku."
Ia melanjutkan. "Jika ini memang benar hanya karena ketidak dewasaanmu. Kuberi kau kesempatan sekali lagi." Tanaka mengambil jeda. "Cukup katakan pada rekan kita bahwa pertemuan akan di percepat. 4 hari dari hari esok, ditempat yang sama, tepat tengah malam. Terlambat maka perjanjian batal."
Moriya tidak mengeluarkan suara apapun. Tapi Tanaka yakin Moriya mendengar. "Dan aku tidak menerima kegagalan, Moriya. Kau boleh pergi." tambahnya.
Moriya bangkit dari duduknya, meninggalkan ruangan serba kuning yang membuat matanya silau. Ia tidak habis pikir, Matsumoto Tanaka, ayahnya, menyukai warna-warna kuning atau emas. Terlepas dari semua bangunan tradisional yang sebisa mungkin harus menggunakan bambu kuning terbaik, ruangan ayahnya memiliki lebih banyak benda kuning dan emas. Sungguh melambangkan sebuah ketamakan.
Ia melangkah menjauh menuju kamarnya di rumah itu. Nanti saja minta penjelasan untuk apa yang diminta ayahnya tadi. Sekarang ia ingin mandi dan beristirahat. Mungkin ia akan berangkat besok pagi. Ia malas jika harus berjalan di tengah kegelapan malam.
"Kau sungguh berani."
Sebuah suara menghentikan langkah Moriya. Ia menoleh kebelakang ke arah sumber suara. Ternyata Shigeru berjalan menyusulnya.
"Aa." Moriya tersenyum lima jari.
"Apa menurutmu kau akan mati kalau aku tidak ada disana?" Ujarnya ketika sudah berjalan sejajar bersama Moriya. Anak yang sudah di kenalnya.
"Hei, mati ya mati saja, paman. Tidak perduli kau ada disana atau tidak."
-Bletak!
Bogeman mendarat di kepala Moriya.
"Dasar bodoh. Tidak sayang nyawa rupanya." Shigeru menambahkan.
Moriya tertegun. Ia memikirkan kalimat Shigeru. Yah, memang tidak ada yang menarik di dunia ini untuknya. Ia masih hidup karena tidak ada alasan untuk mati. Entahlah. Ia tidak ingin di cap tidak bersyukur karena bisa hidup sampai hari ini sementara di luar sana banyak orang yang agar memberikan apa saja agar bisa tetap hidup.
Sungguh, Moriya adalah anak yang sangat bisa bersyukur. Tapi hidup di keluarga Mafia atau Yakuza seperti ini tidak memberikan alasan untuknya untuk tetap hidup. Memiliki ayah yang membesarkannya, paman yang menyayanginya, atau teman-temancoretanakbuah yang selalu ada di sampingnya tentu di inginkan semua orang.
Tapi untuk seorang Moriya, hal itu terasa salah. Ayahnya memang membesarkannya. Tapi hatinya sangat dingin. Ayahnya tak pernah memeluknya ketika ia kecil. Mengajarkan cara-cara menjadi mafia dan ilmu bela diri dengan keras padanya. Ia berlatih siang dan malam. Satu demi satu, sedikit demi sedikit, setiap jenis bela diri diajarkan padanya. Ia dituntut untuk menjadi kuat karena ia adalah satu-satunya penerus kelompok mafia besar Tanaka.
Terlintas dalam pikiran Moriya andai Kami-sama menjemputnya sebelum ayahnya. Hati kecilnya tidak mengijinkannya menjadi mafia. Tentu saja pekerjaan mafia bukan memberi sumbangan kepada desa yang sedang dilanda musibah atau membantu orang yang kesusahan.
Kelompok mafia besar Tanaka cukup terkenal di balik bayangan. Menggelapkan, menipu, menyuap, meminjamkan uang dengan bunga besar, atau bahkan membunuh. Beberapa kali ia menggagalkan rencana sang ayah. Naas, kali ini ia tertangkap basah. Dikurung di kamar sendiri tanpa makanan seminggu sama sekali bukan masalah. Melihat org lain menderita karena ulah ayahnya itu lain cerita. Rasanya ia tidak bisa.
Sejak Moriya lahir, ia diajarkan cara menjadi mafia.
"Kau harus medapatkan apapun yang kau inginkan, Moriya."
"Jangan pernah tundukan kepalamu pada orang lain."
"Lakukan apapun untuk kelompok kita."
Moriya sangat ingat ajaran-ajaran Tanaka. Ia tumbuh menjadi anak yang dingin.
Hingga Moriya berumur 10 tahun, karena rasa penasarannya ia pergi keluar rumah. Ia dilarang pergi keluar tanpa pengawasan. Tapi rasa penasaran Moriya mematahkan perintah ayahnya. Ia pergi diam-diam ke desa terdekat dari rumah itu. Hari itulah ia melihat kenyataan. Satu kali ia pergi keluar. Kemudian dua kali. Tiga kali. Empat kali. Ia sering belajar dan bersosialisasi di luar rumah tanpa diketahui Tanaka.
Moriya menemukan rumah ini sangat dingin. Di luar sana ia bisa mendapatkan makanan dan pelukan hangat orang asing. Ketika Moriya bertanya, mengapa mereka memberinya makanan?
"Aku tidak tahu mengapa manusia saling menyakiti, tapi, tidak perlu alasan untuk menyayangi sesama manusia."
Itulah jawaban yang Moriya dapatkan dari seorang nenek yang tinggal di sebuah rumah reyot dengan cucu perempuannya. Ia sadar, ini salah. Melihat senyum orang lain menghangatkan hatinya. Moriya tanpa sadar tersenyum mengingat hal itu.
"Apa ada sesuatu yang menyenangkan?" kalimat Shigeru membuyarkan lamunan Moriya.
"Ah, tidak. Aku hanya teringat Kanade Baa-chan. Haaa aku merindukannya." Ujarnya sambil bertampang sedih komikal.
"Dasar anak bodoh." Ujar Shigeru lelah. Pria yang sedikit lebih muda dengan Matsumoto Tanaka ini memang sudah seperti paman Moriya. Shigeru lebih mengenal Moriya daripada ayahnya sendiri. Ia juga tahu Moriya sering keluar rumah bertemu dengan seorang nenek bernama Kanade dan cucu perempuannya bernama Yui.
Shigeru juga mengerti ekspresi sedih komikal yang ditunjukan Moriya adalah untuk menutupi kesedihannya yang sebenarnya pada nenek itu. Nenek yang tak lagi ada di dunia ini untuk menemaninya.
Mereka sampai di depan kamar Moriya. "Sebaiknya kau segera pergi menemui kelompok rekan Tanaka-sama. Mereka sudah dalam perjalanan ke Sunagakure. Kurasa sudah dalam perbatasan. Kau bisa mampir ketempat nenekmu itu setelah menyelesaikan permintaan Tanaka-sama."
"Sekarang? Tapi aku ingin makan dan tidur. Besok pagi saja aku akan berangkat." Moriya lemas. Ia merajuk. Sebelum ke ruangan ayahnya ia memang sudah makan. Tapi rasanya ia masih lapar dan tertidur dengan perut kenyang adalah hal terindah yang diinginkannya. Karena setelah kenyang ia tidak akan memikirkan hal-hal yang menganggunya. Ia akan tidur dengan nyenyak.
"Sudah kukatakan padamu. Kelompok rekan ayahmu itu sudah dalam perbatasan. Akan sulit untukmu mencari mereka jika sudah berada dalam Suna. Ini!" Shigeru melemparkan sesuatu. "Jangan lupa bawa tanda pengenalmu." Tambahnya.
Moriya memperhatikan benda yang disebut tanda pengenal itu. Hanya papan kayu persegi panjang sekepalan tangan dengan tulisan berwarna emas dan beronamen. Ia merungut tidak suka.
"Walaupun Tanaka-sama bilang 'rekan', tapi mereka tidak lebih dari sekelompok bandit dan beberapa missing-nin. Segeralah bersiap. Aku menunggumu disini."
"Baiklah, baik. Aku akan pergi sekarang. Tidak perlu mengantarku. Aku akan langsung berangkat setelah mengganti baju dan mengambil katanaku." Katanya sebelum menghilang di balik pintu geser kamarnya.
Shigeru menghela nafas lelah. Anak itu selalu seenaknya. Pertama kali ia ditemukan sering pergi ke luar rumah, Tanaka sangat berang. Ia memukul Moriya dengan rotan panjang. Anak itu tidak jera. Ia kembali pergi keluar. Kali ini Tanaka menggunakan katana dari kayu untuk memukul Moriya. Semua itu tidak berguna. Moriya kembali menemui sang nenek di rumah kecilnya.
Tanaka tidak punya jalan lain. Ia menyuruh anak buahnya mengobrak-abrik rumah nenek tua itu dan kembali melarang sang anak pergi keluar. Hal itu berhasil. Tanaka cemas melihat ini. Orang lain ternyata menjadi kelemahan anaknya. Is sudah lengah dan melonggarkan pengawasannya dan membuat hal ini terjadi.
Lain Tanaka, lain Shigeru, sang tangan kanan Tanaka yang selalu menaruh perhatian penuh pada Moriya. Menurutnya, Moriya menjadi kuat dengan caranya sendiri. Ia tidak pernah menangis ketika dipukul ayahnya. Tubuh kecilnya yang memar tidak membuat air matanya mengalir. Ia juga tidak takut dengan kemarahan ayahnya. Tapi ketika Tanaka menyakiti Kanade, Moriya diam-diam menangis di sudut kamarnya. Shigeru bisa mendengar isak tertahannya yang menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada Nenek tua itu.
Shigeru memutuskan untuk meninggalkan Moriya. Ia yakin anak itu bisa menjaga dirinya sendiri. Walaupun terlihat kekanakan, Moriya bisa menjaga diri sendiri.
Shigeru melangkahkan kakinya menjauh dari kamar penerus tunggal kelompok mafia Tanaka.
Moriya berjalan santai menenteng kudanya menuju perbatasan Sunagakure. Jaket tanpa lengan yang menutupi lehernya tidak mampu mengusir rasa dinginnya angin malam. Negara berpasir itu cukup jauh dari tempatnya. Satu malam dengan berkuda membuatnya pegal. Ia rasa pagi hampir tiba walaupun sekarang masih gelap.
Tba-tiba Moriya berhenti. Bau air dalam jumlah besar tertangkap indra penciumannya. Danau.
Moriya segera mengikat kudanya di salah satu batang pohon kokoh. Ia memutuskan untuk berisitarahat di pinggir danau tersebut. Ia melepas jaketnya dan meninggalkan semua perbekalan yang ia bawa pada sang kuda.
Ia menuju danau dan mengambil air untuk menyegarkan wajahnya. Dinginnya air danau yang jernih menyengat kulit Moriya. Memaksanya tetap terjaga walaupun ia merasa sedikit mengantuk.
Setelah beberapa kali membasuh wajahnya, Moriya mengedarkan pandangannya ke sekeliling danau. Pepohonan yang rindang namun jarang, ratusan bintang dilangit yang tercermin di permukaan danau, dan seseorang yang terapung dengan memeluk batang kayu sebagai penopang. Sungguh danau yang indah.
Eh? Sepertinya orang yang terapung tidak termasuk dalam keindahan alam. Atau termasuk? Tapi apa orang itu tidak merasa dingin berendam di danau ini?
Moriya memutuskan untuk bertanya langsung pada orang itu. "Hooiiii! Apa kau tidak dingin berendam disana?!" Moriya sedikti berteriak agar orang tersebut dapat mendengarnya.
". . ."
Moriya memiringkan kepalanya. Orang itu tidak sadarkan diri.
Dengan cepat Moriya berenang menghampiri orang yang terapung-apung dengan batang kayu itu. Sesuai dugaan, danau itu dingin sekali menyengat kulitnya.
Ia membaringakan orang itu di pinggir danau. Ia mengamati orang itu. Seorang gadis. Lebih muda darinya. Ia rasa umurnya sama dengan umur Yui. Pakaiannya yang terbuka memperlihatkan kulit putihnya yang keriput karena terlalu lama berendam dalam air.
Moriya memeriksa nafas dan nadi gadis itu. Masih hidup. Ia segera mengambil alas tidur yang ia tinggalkan bersama kudanya. Ia segera membungkus tubuh gadis itu. Berusaha memberikan rasa hangat.
"Urrrgh.." Moriya tersentak. Ia sedikit menjauhkan tubuhnya. Gadis itu mengerang.
Lama ia memperhatikan gadis itu yang tak kunjung sadar setelah mengerang. Ia rasa gadis itu tertidur. Rambut panjang hitamnya masih meneteskan beberapa titik air. Dari pakaiannya, Moriya yakin orang yang telah ia selamatkan itu seorang kunoichi. Dan ia yakin kunoichi ini tidak sedang berendam atau bahkan mandi di danau itu.
Moriya memeriksa tubuh gadis itu. Bukan maksud untuk bersikap kurang ajar, hanya saja, ia takut gadis itu memiliki luka lain yang tersembunyi. Tidak menemukan yang ia cemaskan, Moriya mengehela nafas lega. Apa harus ia tinggalkan saja gadis ini disini? Ia tidak punya cukup banyak waktu. Kelompok rekan ayahnya akan tiba di Suna jika ia tidak segera menyusul.
Moriya menatap gadis kunoichi itu sekali lagi. Wajah damai gadis itu membuat Moriya ingin terus berada disana. Ia rasa tidak sopan meninggalkan orang yang ditolongnya begitu saja, kan? Bukan karna gadis itu sedikit manis dengan wajah bulat dan kulit bersih kenyalnya. Hahahaha bukan.
Lama menunggui gadis itu terbangun, tanpa sadar matahari muncul membawa sinarnya perlahan. Pagi sudah tiba. Moriya menghela nafas. Ia yakin tidak akan menemukan kelompok yang dicarinya di perbatasan. Ia harus terus berjalan ke Suna. Ia memutuskan untuk membereskan perlengkapannya. Ia akan berangkat segera setelah gadis itu sadar.
Kruyuuuuk~
Perut Moriya berbunyi komikal.
"Haaaaaaa." Moriya lemas. Ia ingat ia belum makan apapun sejak semalam. "Sudah kuduga. Harusnya aku makan dan tidur saja semalam." Moriya berjalan terseok memasuki hutan di dekat danau. Mencari buah yang bisa ia makan.
Wajahnya berbinar menemukan pohon yang berbuah seperti apel. "Yatta!" ia memetik beberapa dan makan dengan lahap di bawah pohon itu.
Tiba-tiba beberapa hewan menyembul keluar seolah mengerti acara makannya. Ia berkedip menatap hewan-hewan itu. Ia memeringkan kepalanya bingung. "Kalian mau?"
Lalu ia menyerahkan beberapa buah yang baru saja ia petik. Hewan-hewan yang ia kenali sebagai Kelinci dan Rusa itu pun bergerak mendekat memberanikan diri mengambil buah ditangan Moriya.
Sang kelinci sedikit mengendus buah di tangan Moriya kemudian mulai menggigitinya. Moriya tersenyum, ternyata hewan-hewan ini tidak takut padanya. "Yosh, yosh." Beberapa burung juga mendarat mendekati Moriya. Moriya semakin tersenyum melihat hewan-hewan jinak itu, hingga, ia merasakan keberadaan seseorang.
Moriya menolehkan fokusnya pada seorang gadis yang sedang menatapnya. Gadis kunoichi yang ia selamatkan itu berdiri mematung. Sepertinya ia sedang tenggelam dalam pikirannya. Moriya bingung. "I-ini tidak seperti yang kau pikirkan loh."
"Hahahahahaha." Gadis kunoichi itu tertawa. Tidak. Terbahak? Apa yang lucu? Moriya semakin bingung. "Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?"
"Y-ya seperti aku adalah seorang putri konyol yang memberi makan hewan atau bicara dengan mereka." Moriya sering mendengar dongeng dari nenek Kanade tentang seorang putri dari sebuah kerajaan yang sangat akrab dengan hewan-hewan. Tidak salah kan jika ia berfikiran bahwa gadis itu mengiranya seorang putri yang identik dengan pengakraban diri pada hewan?
"Behahahahahahahaha." Si gadis semakin tertawa keras. Ia semakin yakin gadis ini memang sedang mengirinya sebagai seorang putri. Apa seharusnya ia tidak memberi makan hewan-hewan itu? Ini memalukan.
"Oy, tidak sopan menertawakan orang seperti itu."
"Wahahaha maaf, maaf." Gadis itu menghentikan tawanya. "Apa kau yang telah menyelamatkanku? Terima kasih banyak." Gadis bersurai hitam panjang itu tersenyum dan sedikit membungkuk. Manis sekali. Sepertinya Moriya bertemu putri sungguhan.
Ia mencoba tenang dan tersenyum gugup. "A-ah ya. Bukan masalah."
"Namamu?" tanya gadis itu.
"Ha?" Moriya masih belum bisa menenangkan hatinya yang terpesona dengan senyum sang gadis ninja. Apa tadi gadis itu bertanya namanya?
"Namaku Ritsu. Namamu?" Untunglah gadis itu kembali bertanya.
"Moriya." Kali ini Moriya menjawab dengan cepat. Tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Siapa tadi namanya? Ritsu? Nama yang sangat biasa untuk gadis luar biasa ini.
"Senang berkenalan denganmu, Moriya. Kau tinggal disini?"
Apa ia tinggal disini? Di hutan ini? Tentu saja tidak. "Tidak. Hanya kebetulan lewat."
"Begitu." Ritsu mengangguk mengerti. "Baiklah, aku harus pergi. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku." Tambahnya.
Ah, gadis itu akan pergi. "Apa kita bisa bertemu lagi?"
"Tentu. Kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa."
Mereka akan bertemu lagi? Benarkah? Moriya akhirnya memutuskan untuk percaya pada gadis ninja itu. "Aa."
Moriya manatap punggung Ritsu yang berlari melompati dahan demi dahan. Menjauh dari tempatnya berdiri. Ia akan percaya bahwa ia akan bertemu gadis itu lagi.
Moriya melanjutkan perjalanannya. Ia mengenakan kembali jaket tanpa lengan dengan kerah tingginya dan menunggangi kuda menuju Suna. Nasib buruk mengikutinya. Ia tidak menemukan kelompok bandit yang dikatakan Shigeru sepanjang perjalanan. Ia menghela napas lelah.
Ia sudah menunggang kuda 2 hari 2 malam. Yang ia makan hanya buah dan tanaman liar. Ah, ia sempat mampir ke kedai teh dalam perjalanannya tadi. Tapi makanannya tidak enak. Mungkin kedai itu memang hanya untuk para pengembara yang melepas lelah sambil minum teh. Tapi setidaknya buatlah makanan yang enak untuk orang-orang seperti Moriya ini. Moriya menangisi ketidak beruntungannya.
"haah.. Aku ngantuk. Aku lapar." Gerutunya. Mungkin sedikit ramen atau sukiyaki terdengar enak. Atau nasi kare pedas boleh juga. Air liur Moriya menetes tanpa sadar.
Moriya sudah sampai di depan gerbang kota Suna. Akhirnya ia harus mencari sendiri orang-orang itu Suna. Yang membuat ini lebih buruk adalah ia hanya punya waktu dua hari untuk memberi tahu kelompok itu atau ayahnya akan benar-benar membunuhnya. Semoga ia menemukannya.
"Selama pagi, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
Seorang penjaga gerbang menghampiri dan menyapa Moriya. Tentu saja orang asing harus diperiksa bukan? Bagaimana jika ia adalah mafia yang akan menghancurkan Sunagakure? Penjagaan adalah hal yang penting.
"Ah, aku seorang pengembara. Aku hanya ingin beristirahat disini selama beberapa hari. Terlalu sering menginap di bawah langit membuatku kurang sehat." Ia rasa ia tidak sepenuhnya berbohong.
"Apa anda mempunyai tanda pengenal?"
"Tidak, sejak kecil aku sudah berpindah-pindah." Maafkan kebihingannya, Kami-sama.
"Baiklah. Ini kuberikan izin untuk memasuki Sunagakure sebagai turis. Tunjukan pada penjaga yang bertanya pada anda. Dan izin ini hanya berlaku satu minggu, tuan." Penjaga berpakaian ninja dengan ikat kepala Suna itu memberinya sebuah gulungan kecil. Moriya menerimanya. Ok. Penjagaan memang bukan hal penting.
"Terima Kasih."
"Ah, tunggu." Moriya baru akan berlalu ketika sang penjaga kembali menghentikannya.
"Ya?" Moriya mencoba bersikap tenang,
"Senjata dilarang untuk turis. Silahkan anda menitipkan benda-benda tajam atau hal-hal yang bisa menjadi senjata. Anda bisa mengambilnya kembali ketika meninggalkan Suna." Ok. Penjagaan adalah hal penting.
"Oh, tentu."
Moriya memberikan semua senjatanya walaupun senjata yang ia miliki hanya katana panjangnya. Yah, ia harap tidak menemui hal-hal yang harus menggunakan katana panjang hitam itu.
Moriya mengamati kota Suna. Walaupun di luar kota Suna tidak ada yang bisa ia lihat selain pasir, disini, ia bisa melihat tanah batuan. Walaupun terlihat udara yang sedikit berdebu membawa pasir, tapi Suna tidak jauh seperti kota-kota di negara besar lainnya.
Moriya tidak tahu harus kemana, maka ia hanya berjalan lurus. Di kanan dan kiri jalan terdapat toko-toko yang menjual berbagai hal. Semakin kedalam, toko-toko berubah menjadi jejeran kedai-kedai. Ia bisa mencium bau makanan dari tempatnya berdiri, kembali mengingat perutnya belum terisi.
"Yatta!" Moriya berlari memasuki salah satu kedai ramen yang menarik perhatiannya.
"Selamat datang." Seorang wanita menyambut kedatang Moriya.
Moriya mengambil tempat duduk ditengah. Kedai yang hanya menggunakan satu kursi panjang itu membuatnya duduk berdampingan dengan orang lain yang sedang makan disana. "Ah, tolong ramen pedasnya ya."
"Segera datang!" seru sang wanita. Wanita itu tidak sendirian. Ia mengolah kedai itu dengan seorang pria. "Ah, tuan, saya tidak pernah melihat anda. Anda orang asing?"
Karena duduk paling tengah, ia jadi berhadapan dengan wanita pengelola kedai tersebut. "Aa."
"Anda berasal dari mana?"
"Aku seorang pengembara."
"Ah, seorang petualang rupanya." Wajah wanita itu berbinar. Ia menambahkan, "Jika anda pernah berkunjung ke Konohagakure anda pasti pernah mendengar Kedai Ichiraku Ramen. Ramennya adalah nomor satu di dunia. Semua kage lima negara besar pernah mencoba ramen Ichiraku atas saran Hokaga Konoha karena beliau adalah langganan spesialnya."
"Hee...Apa benar? Hebat sekali. Aku juga ingin mencobanya." Sebenarnya Moriya bingung kenapa wanita ini menceritakan ini padanya. Apa ia tidak merasa kedainya akan tersaingi? Ah mungkin wanita itu sudah percaya diri dengan ramen dikedainya. Atau mungkin ia mengagumi kedai yang diceritakannya dan membuat kedai ramen ini.
"Jangan khawatir, tuan. Anda akan segera mencicipinya. Ramen kami tidak ada perbedaan dengan kedai Ichiraku Ramen."
"Benarkah?" Moriya mengerutkan alisnya.
"Tentu saja, karena ini juga Ichiraku Ramen cabang Sunagakure, tuan." Moriya terkejut. Ia memang tidak memperhatikan nama plang kedai ini. Jadi kedai ini sangat terkenal?
"Hei, ayame. Berhentilah mengoceh. Biarkan tamu kita menikmati makanannya. Silahkan, Tuan." Pria yang mengelola kedai itu pun datang menyajikan semangkuk ramen dengan uap mengepul di udara.
"Mou, Dai-kun! Aku hanya menceritakan kedai yang dibangun ayahku pada pemuda tampan ini." Wanita yang dipanggil ayame itu mengerutkan bibirnya kesal.
"Ingat ayame. Berselingkuhlah di belakang. Jangan di depan mata suamimu ini." Ujar pria itu. Sepertinya mereka sepasang suami istri. Apa mereka sedang bertengkar?
"Aku hanya menemaninya. Bukan berselingkuh, Dai-kun."
Dan Moriya tidak ingin ikut campur dalam perdebatan yang menurutnya manis itu. Ia makan dengan lahap. Ramen ini memang enak. Apa ia perlu tambah? Hm, patut dipertimbangkan.
"Silahkan datang kembali!"
Moriya melangkahkan kakinya keluar dari kedai ramen ichiraku cabang Suna setelah menelan habis 2 mangkuk ramen pedas. Mungkin ia harus mencari penginapan. Ia tidak ingin tidur dijalan. Hari memang siang. Matahari masih berada dipuncak kepalanya. Ia bisa merasakan terik panas matahari.
Suna memang negara dengan musim panas sepanjang tahun. Walaupun tinggal di bawah terik matahari, penduduk kota Suna tidak terlihat berkulit hitam. Apa mereka menggunakan semacam lotion anti sinar matahari? Atau itu sudah termasuk kedalam salah satu bakat penduduk Suna?
Moriya berjalan dengan memikirkan banyak hal yang tidak penting. Sampai ia tiba di sebuah penginapan tak jauh dari kedai ramen tadi. Setelah diperhatikan, dari gerbang utama Suna berjalan lurus kau akan menemukan Kantor Kazekage. Tentu saja kau harus berjalan ketengah desa. Dan penginapan itu tak jauh dari kantor pemimpin Sunagakure tersebut.
Moriya memutuskan untuk memesan kamar terlebih dahulu. Lalu ia akan mencari kelompok bandit perintah ayahnya. Setelah ia pikirkan lagi. Moriya sendiri tidak mengerti rencana ayahnya kali ini. Bahkan dengan bandit. Apa yang ayahnya akan lakukan? Penyerangan terhadap Suna? Walaupun terdengar mustahil, tapi Moriya akan memikirkan kemungkinan yang terakhir. Jika itu tentang Tanaka, ia pikir apapun bisa terjadi.
Baru saja ia akan memutar pintu kayu kamar penginapan itu ketika ia mendengar langkah kaki melewatinya. Ia menoleh.
"Ritsu?" Moriya terkejut.
"Moriya?!" Pekik Ritsu, sama terkejutnya dengan Moriya. Ia tidak menyangka akan bertemu secepat ini. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya gadis itu.
"Umm, menginap. Aku sedang berkunjung ke Suna. Hahaha" Moriya berusaha menutupi kenyataan dengan tawa tidak jelasnya. "Lalu kau?"
"Ah, aku sedang menjalankan misi. Dan hari ini sedang menginap disini."
Kalau dilihat, Ritsu memang tidak berasal dari Suna. Hitaitenya lain dengan penjaga gerbang Suna. Moriya tidak tahu Ritsu berasal dari negara mana karena ia tidak pernah memperhatikan hal-hal sedetil itu.
"Ah, begitu."
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Hm, tidak ada. Mungkin sedikit berjalan-jalan."
"Apa kau keberatan aku menemani?" Apa tadi dia bilang? Apa ini ajakan kencan?
Moriya gugup. "A-ah. Ya. Aku tidak keberatan."
"Baiklah, aku akan berganti baju. Tunggu aku ya."
"A-aa."
Ini gila. Ia bertemu seorang gadis ninja. lalu berkenalan. Kemudian kencan. Apa ini? Roman picisan murahan? Ia tidak tahu harus merasa beruntung atau heran. Apa ada maksud lain dari gadis itu? Moriya lama berpikir sambil merapihkan barang-barangnya di kamar penginapan yang dipesannya.
Moriya segera keluar dengan kaus berlengan panjang. Ia meninggalkan jaket tanpa lengannya di kamar penginapan. Tidak lama kemudian, Ritsu keluar dengan baju yang sama persis dengan yang pertama kali Moriya lihat. Moriya semakin curiga. Jika ini memang kencan, apa gadis itu tidak ingin sedikit bersolek? Apa Ritsu merasa percaya diri dengan penampilannya? Walaupun menurut Moriya Ritsu sudah cukup cantik sekarang. Tapi ini mencurigakan.
"Apa kau menunggu lama?" Tanya gadis itu setelah sampai dihadapan Moriya.
"Tidak."
"Ayo!"
Moriya memutuskan untuk mengikuti permainan gadis ini. "Kita akan kemana?" tanyanya.
"Hanya berjalanan-jalan. Apa kau sudah makan?"
"Sudah."
"Apa kau keberatan menemaniku makan?"
"Tentu tidak. Dan berhenti bertanya tentang apa aku keberatan."
Ritsu tertawa kecil. "Baiklah, baiklah. Mori-kun, temani aku makan sukiyaki di kedai sana ya."
"Ha'i. Ha'i."
Mereka berjalan beriringan. Lalu mengambil tempat duduk secara acak di kedai sukiyaki tersebut. Mereka menunggu setelah memesan.
"Ne, Mori-kun. Ceritakan tentang dirimu."
Moriya mencoba untuk tidak menaruh kecurigaan pada Ritsu. "Aku hanya seorang pengembara. Bagaimana denganmu? Ceritakan tentang dirimu."
"Namaku Ritsu Uchiha dari klan Uchiha Konoha." Konoha? Gadis ini ninja dari negara api ternyata. "Aku anak sulung dengan 3 adik."
"Hmm.. Kau ninja?"
"Ya, aku hebat, kau tahu?"
"Oh ya?"
"Ya. Kau ingin sparring dengaku?"
"Tidak, aku bukan ninja."
"Heee.. sparring buakn hanya untuk ninja. kulihat kau cukup terlatih."
Makanan pesanan mereka akhirnya datang. Satu porsi besar sukiyaki dengan 2 mangkuk nasi. 2 ocha hangat juga menemani acara makan mereka.
"Tapi aku tidak sebanding denganmu."
"Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya."
"Baiklah kalau kau memaksa."
"Lalu, kau berasal dari mana, Mori-kun? Tempatmu dilahirkan mungkin."
"Kusagakure." Hm, Motiya menikmati sukiyakinya. Ternyata enak.
"Ah, cukup dekat dengan Konoha."
Mereka malanjutkan makan dalam diam. Tampaknya Ritsu kehilangan kata-katanya. Ia bingung apa yang harus ia bicarakan dengan pemuda dihadapannya itu. Akhirnya mereka kembali keruangan masing-masing setelah acara makan dan sedikit berjalan-jalan.
Malam di Suna cukup dingin. Walaupun siang hari terasa panas menyengat kulit, tapi ketika malam tiba, Suna tidak ada bedanya dengan malam-malam ditempat lainnya.
Malam itu juga Moriya memutuskan mencari kelompok bandit yang menyusahkannya. Waktunya tidak banyak. Ia mengancingkan jaket tanpa langannya sampai ke dagu. Menutup seluruh lehernnya, menghalau dinginnya angin malam.
Ia berjalan di pusat kota Suna. Menerawang kedai-kedai minuman yang masih beroperasi.
Lama berjalan, ia menemukan kedai di sudut kota dengan pengunjung yang mencurigakan. Ia memasuki kedai itu.
Walaupun belum umurnya memasuki kedai sake, tapi ia tetap melangkah dan duduk di salah satu kursi dan meja kosong yang tersedia. Ini bagus, kedatangannya menarik perhatian pengunjung kedai. Mungkin mereka heran dengan seorang bocah yang seharusnya sudah terlelap di kamarnya yang nyaman. Itu bagus.
Moriya mengambil tanda pengenal yang diberikan Shigeru padanya. Ia meletakannya begitu saja diatas meja. Ia bergeming di kursinya, tidak memesan apapun atau berkata apapun.
Satu persatu pengunjung kedai itu duduk disebelahnya. Tiga di hadapannya, dan dua mengapit tubuhnya. Moriya mengamati wajah-wajah itu sebelum berujar. "Besok. Tepat tengah malam. Tanaka mempercepat pertemuan."
Moriya mengambil tanda pengenalnya lagi, lalu berdiri meninggalkan tempat itu. Tugasnya sudah selesai. Waktunya untuk pulang. Tapi apa benar ia akan pulang? Rasa penasaran Moriya kembali menghantui. Mungkin tetap tinggal dan melihat pertemuan yang dimaksud ayahnya tidak buruk juga.
Akhirnya Moriya memutuskan untuk beristirahat sampai malam pertemuan.
TBC!
Okeh! Episode yang paling membosankan dari 4 chapter wkakakak -_- saya rasa semakin lama ini menjadi konsumsi saya pribadi. Karena saya menikmati menulis fic ini.
chap depan akan rilis dalam waktu dekat. dan saya rasa chap depan itu klimaks. wakakakak hikz -_- drabblenya nanti lah, abis ini tamat
Anw, ada yg tahu FMS(Feel My Soul)? Itu fic kemana ya? ;;;;A;;;; fic SasuHina favorit aku huweeee aku nyari kok udah ga ada ya ngeeeng
Jaa, jangan lupa meninggalkan jejak anda jika sudah membaca atau terlanjur baca. Walaupun tanpa nama, atau hanya memfav atau follow, saya sangat menghargainya. '-')b
Special Thanks To: sekai no yami, Putera, pamyuu-pamyuu, Red devils, kkkk, Hadinamikaze, mantika mochi, NamikazeARES, Sarutobi RianMaru, Guest-tachi
