Gokigenyou, minna-sama. #bow

Lama juga ga update. Ga sesuai janji, jadi enak nih(?) -_- moga ni cerita belom basi.

Tadinya mau manjangin lagi, tapi yaudah lah, biar cepet tamat, ga punya utang lagi e kan.

Saya berusaha ngasih 'feel' disini. Semoga feelnya dapet. Kalau ga dapet? Coba lagi. -_-v

Masukannya jangan lupa di review, tp saya ga nerima review macem judger yang nge claim fic saya plagiat. Hello oemjii saya buat fic ini berdasarkan ke egoisan saya liat masa depan naruto dkk kaya gemana karna saya ga yakin masashi kishimoto bakal bikin future anime naruto.

Terus itu, walaupun saya bilang ceritanya ga serius bkn berarti ga ada intriknya sama sekali orz maap kan saya orz saya bawel bgt sih pake ngomong abcd yak sama readers orz #iniudahngebawellagi orz

Enjoy, Minna-sama!

Warning: OOC, OCC, OC, OO #Duakh, Typo(s), Alur pake NOS, Cerita membosankan. Cerita mudah ditebak. I've warned you

Disclaimer: Naruto punya saya tapi boong


"Penawaran yang kami tawarkan sudah yang paling terbaik untuk kita semua. Kita tidak bisa lagi mengulur waktu."

Malam di pinggir kota Suna cukup dingin. Dan bertambah dingin di lokasi dua kelompok pria dengan jumlah 6 dan 8 orang. Pasir-pasir yang berterbangan tersapu angin malam sama sekali tidak mengganggu aktivitas diskusi mereka.

"Kami hanya ingin yang terbaik. Kami bukan orang baik, kau tahu." Salah satu pria yang terlihat paling tua dari kelompok dengan jumlah lebih banyak mengangkat sebelah alisnya. Ia menantang kubu lawan.

"Ambil atau tinggalkan, Pak tua." Pria dari kubu lawan dengan kimono tradisional menerima tantangan. Ia tak akan kalah.

"Cih, anak muda jaman sekarang memang tidak sopan. Tidak perlu jual mahal, bocah ingusan. Kami tahu kalian membutuhkan kami."

"Ternyata kau sudah mengerti, Pak tua. Tidak ada lagi yang bisa kutawarkan padamu. Aksi balas dendam dan uang. Bukankah itu banyak?"

"Ya, tapi melihat kejadian 17 tahun yang lalu, aku ingin kelompok kami mempunyai suara. Kalian harus berdiskusi dengan kami dalam mengambil keputusan. Kita setara. Berkerja sama."

Wajah pria dengan kimono yang biasa dipanggil Shigeru-san oleh anak-anak buahnya mengeras. Ia dan beberapa anak buahnya memang bertugas untuk berdiskusi dengan kelompok bandit dan missing-nin. Diskusi ini tentu saja atas permintaan kelompok bandit dan missing-nin.

"Aku tidak bisa menjanjikan itu, Pak tua. Mafia Tanaka bukan mafia kacangan." Shigeru menggerakan tangannya meremehkan. Ia melanjutkan. "Apa menurutmu, di dunia ini bandit hanya kelompok kalian? Kami pikir, berkerja sama dengan orang yang kompeten membuat kemungkinan keberhasilan lebih besar. Tapi, jika ternyata kalian berfikir seperti itu, maka kami tidak bisa melanjutkan ini."

Sang pria tua semakin marah. "Cih."

Shigeru memperhatikan para calon rekan-rekannya. Empat bandit yang terlihat marah. Dan empat missing-nin yang terlihat datar namun serius. Shigeru bisa melihat satu-satunya wanita di kelompok itu. Shigeru tidak ingin permasalahan ini berkembang lebih besar dengan berinteraksi dengan missing-nin. Sama sekali tidak membuat kontak apapun. Sudah cupuk dengan bandit yang banyak maunya.

"Pemimpin cukup seorang saja. Terlalu banyak pemimpin menyebabkan perpecahan. Bukankah kita semua ingin berhasil?"

Tentu saja tidak ada yang menjawab pertanyaan retorik Shigeru. Walaupun sepertinya missing-nin hanya tertarik dengan bayaran, tapi tentu kemungkinan menang membuat nyawa mereka lebih aman.

"Baiklah, saya sebagai perwakilan Tanaka-sama, senang bisa mendengarkan anda. Segera hubungi saya jika masih ada yang ingin anda sampaikan."

Shigeru dan anak buahnya berbalik dan segera beranjak dari tempat yang cukup sulit dipijak itu. Beberapa langkah kemudian ia berhenti dan berujar. "Ah, dan kami menjanjikan pembayaran dua kali lipat jika kita berhasil menghancurkan Suna."

"Whoops~"

Shigeru bisa mendengar suara seorang wanita setelah kalimatnya. Ia berbalik ke arah sumber suara.

Duarr!

Ledakan melambungkan tubuh Shigeru.

–Tang!

Kemudian suara padang dan suara pasir yang berhamburan.

Shigeru mengerjap dan berusaha mencaritahu apa yang terjadi. Kejadiannya begitu cepat. Ia segera berdiri dan memasang kuda-kuda. Penglihatannya tertutup oleh debu pasir. Ia tidak yakin siapa yang menyerang. Apakah para bandit dan missing-nin itu memberontak?

Shigeru merasakan seseorang melompat dan menyerangnya. Ia memasang posisi bertahan dengan katana panjang.

–Tang!

Katana panjangnya membentur sesuatu. Sebuah kunai. Ninja? Para missing-nin itu membelot? Atau ada orang lain?

Debu pasir yang berterbangan perlahan menghilang. Ia bisa melihat musuh dihadapannya. Seorang anak muda. Bahkan lebih muda dari Moriya, yang sudah ia anggap anak sendiri. Wajahnya seperti bocah ingusan. Tapi posturnya cukup tinggi tegap. Shigeru meremehkan pemuda di hadapannya.

Pertarungan tidak bisa dihindari. Shigeru bisa melihat dari ekor matanya anak-anak buahnya melawan seorang bocah lainnya. Dan para bandit dan missing-nin yang juga melawan musuh lainnya. Sepertinya pergerakan mereka sudah diketahui. Musuhnya adalah ninja Konoha kalau dilihat dari hitaite yang dikenakan pemuda ini. Shigeru cemas.

Shigeru adalah samurai. Ia bertarung dengan pedang. Ia handal dan sangat terlatih. Tinjunya juga tidak bisa dikatakan lemah. Bocah kuning dihadapannya beberapa kali menggunakan bunshin membuatnya cukup kesulitan karna harus melawan 2 orang dengan kekuatan yang sama.

Cukup lama, pertarungan mereka cukup sengit. Tidak ada serangan si bocah kuning yang mengenainya telak. Tapi staminanya terbatas.

Shigeru terluka. Beberapa kali ia hanya dapat menahan serangan lawan tanpa bisa menyerang balik. Bocah ini tidak bisa diremehkan.

–Tangg!

Katana Shigeru terlempar. Inilah akhir hidupnya. Ia sempat menatap katana yang terlempar itu dengan ekor matanya. Salahkan jari-jarinya yang sudah melemah menggenggam katana kesayangannya itu. Ah, dasar bodoh. Ia masih punya dosa yang harus ditebusnya. Seharusnya ia tidak berakhir disini.

Shigeru memejamkan mata. Bersiap menerima apapun itu karna sudah tidak memiliki pertahanan. Semoga tidak terasa sakit. Inginnya sih, langsung mati saja.

–Tangg!

Suara dentingan besi menghiasi pendengarannya. Terdengar sangat dekat. Ia membuka mata.

"Mori..." Shigeru terkejut.

Moriya berdiri menahan kunai yang dilancarkan bocah kuning dengan katana panjang miliknya. Mayoritas mafia Tanaka memang dipersenjatai dengan Katana.

"Apa yang kau lakukan disini?" Shigeru khawatir. Ia tidak ingin melibatkan Moriya dalam kasus ini.

"Kau tidak apa-apa, paman?" Moriya bertanya pada Shigeru. Bocah kuning yang sedikit lebih pendek dari Moriya melompat mundur sambil mendecih. Ternyata serangan terakhirnya gagal.

Shigeru bangkit. Ia memegangi bisepnya yang terluka. "Aa. Yang lebih penting, apa yang kau lakukan disini? Bukankan kau diperintahkan segera pulang setelah menyampaikan pesan dari Tanaka?"

"Berwisata. Dan berkencan." Jawab Moriya asal.

"Aku serius! Kau harus segera pergi dari sini! Disini sangat berbahaya!"

"Ya, sangat berbahaya. Perhatikan depanmu, paman. Dia datang."

Bocah kuning kembali memunculkan bunshin. Keadaan menjadi dua lawan dua yang tidak seimbang.

Shigeru berhasil meraih katananya yang terpental cukup jauh. Tapi pertarungan dengan satu tangan sangat sulit.

–Tangg!

Shigeru kembali kehilangan katananya. Katana naas itu terlempar cukup jauh. Shigeru mengumpat dalam hati. Lain kali mungkin ia harus memilih katana yang lebih ringan.

Bocah pirang itu melompat mundur segera setelah katana Shigeru melambung jauh. Ia melemparkan kunai yang sudah disertai kertas peledak. Shigeru dalam bahaya.

"PAMAN!"

Moriya melompat menghalau terbangnya kunai. Posisi melompatnya yang terlihat panik dan terburu-buru tidak bisa membalikan kunai.

"YUUUJII!" teriak seorang gadis.

–DHUARR!

Kunai meledak. Walaupun pertarungan Moriya dengan bunshin bocah pirang sangat sengit, Moriya bisa melihat katana Shigeru yang terlempar dilanjutkan dengan kunai yang melesat ke arah pria yang kelewat serius itu.

Moriya berusaha menyelamatkan pamannya, posisinya tidak bagus.

Kunai meledak.

Shigeru terpental namun ia tidak mendapat luka serius. "Moriyaa!" ia mencoba bangkit dan melihat keadaan Moriya yang terbaring di atas pasir. Tubuhnya kaku. Ia tidak bisa merasakan kakinya. Kebas.

Ninja-ninja konoha menghentikan pertarungan mereka dan berkumpul dengan bocah pirang.

"Apa yang kau lakukan, Yuuji?!" sang gadis berteriak marah. Rasanya ia ingin menampar orang dihadapannya.

"Tenanglah, Ritsu-chan. Yuu tidak sengaja, ya kan?" pemuda yang lainnya menengahi. Sementara bocah kuning yang dipanggil Yuuji tidak membalas atau menampilkan ekspresi yang dapat diartikan.

Karena pertarungan terhenti, situasi ini dimanfaatkan para bandit dan missing-nin yang merasa pertarungan ini percuma. Mereka memilih mundur untuk sementara.

"Ya, sebaiknya kita lihat keadaan anak itu." Satu-satunya pria dewasa di kelompok ninja Konoha itu bergerak menuju Moriya.

–Srakk!

Tiba-tiba dua orang dari kelompok Shigeru melompat dan menghadang laju ninja Konoha yang mendekati Moriya.

–Duaar!

Mereka melempar peledak.

Pria Konoha dewasa berambut nanas itu melompat mundur. Ia mengerutkan dahinya. Anak yang terbaring tidak sadarkan itu berharga bagi kelompok mafia besar?

Dua orang anak buah Shigeru berdiri melawan ninja-ninja Konoha dengan berani. Katana panjang melekat erat ditangan mereka, siap bertarung dengan siapapun yang berusaha mendekati putra sang pemimpin besar mafia Tanaka.

Shigeru ditemani 5 anak buah terbaiknya dalam diskusi kali ini. Tiga diantaranya luka parah. Hanya Tashigi dan Koji yang masih bertahan.

Salah satu anak buah Shigeru yang berusaha menyelamatkan Moriya itu memandu rekannya yang lain. "Kalian, cepat bawa Shigeru-san dan pergi dari sini. Biar aku dan Koji yang menyelamatkan Moriya-san." Ujarnya memimpin.

"Shigeru-san, Ayo kita segera pergi dari sini." Anak-anak buah Shigeru yang mengerti situasi segera membawa Shigeru untuk mundur.

"Dasar bodoh! Cepat tolong Moriya! Jangan perdulikan aku!" Shigeru menolak di ungsikan ketempat yang lebih aman.

Anak-anak buah Shigeru segera mengangkatnya. "Nanti kami akan menjemputnya."

"Dasar bodoh! Turunkan aku! Moriya! Moriyaaa!"

Shigeru yang tidak bisa berbuat banyak akhirnya dibawa dengan paksa. Karena Shigeru juga termasuk petinggi mafia Tanaka, mereka harus menyelamatkan Shigeru untuk pergerakan selanjutnya.

Sementara itu, Tashigi dan Koji yang berusaha menyelamatkan Moriya yakin tidak bisa mengalahkan 4 orang ninja Konoha. Walaupun mereka melihat salah satu dari ninja-ninja itu adalah seorang gadis kecil, si rambut pirang dan bocah anjing yang berdiri berdampingan tidak bisa di anggap mudah. Di tambah seorang ninja dewasa diantara kawanan musuh membuat tingkat keberhasilan mereka menjadi minus.

Mereka harus memikirkan cara lain.

Tashigi melihat ini tidak bagus. Ia harus mengambil keputusan. Ia berujar pelan, agar hanya Koji yang mendengarnya. "Kita akan menyerang dengan serangan jarak dekat. Setalah benturan pertama, segera lemparkan peledak dan melompat. Selamatkan Moriya-san dan segera pergi dari sini."

"Apa?! Tapi–"

"Ini perintah. Kau masih muda. Masih banyak belajar. Aku akan mencoba sebisaku agar bisa pulang."

Koji memikirkan kata-kata Tashigi. Pikirannya melayang, Koji memang yang paling muda dari 5 rekannya yang lain. Ia juga bergabung sebagai mafia belum lama. Tapi bakatnya membuatnya bertemu dengan Tashigi dan lainnya. Ia dengar Tashigi-san mempunyai keluarga. Tashigi mempunyai orang-orang yang menunggunya kembali pulang. Tidak seperti dirinya yang hidup sebatang kara sejak kecil. Harusnya ia saja yang menjadi umpan. Tashigi orang yang baik, ia belum sempat bertanya bagaimana Tashigi bisa berada di kelompok mafia jahat seperti ini.

Untuk orang seperti Koji, mafia mungkin cocok. Karena sejak kecil Koji cukup sering mencuri dan berkelahi untuk bisa bertahan hidup. Sebelum bergabung dengan mafia Tanaka, hidupnya adalah mimpi buruk. Ketika perang berakhir, semuanya tidak baik-baik saja. Bahkan terjadi kekacauan karna negara kecilnya kekurangan sumber daya manusia. Orang tuanya meninggal dalam perang.

Koji sering tertawa dengan rekan-rekannya walaupun–

"KOJII!"

-Duarr!

Tubuh Koji terpental sepuluh meter lebih. Koji lengah. Bocah anjing menggunakan jurus ninja bersama dengan anjingnya menyerang Koji yang tanpa pertahanan. Sementara Tashigi sendiri menahan serangan pria nanas tidak bisa berbuat banyak.

Tashigi menggeram marah. Ia menyerang membabi buta. Serangannya yang terbawa emosi justru membuatnya semakin terpojok.

Tashigi pun berakhir. Ia masih mempunyai kesadarannya tapi tak lagi bisa bergerak. Ia belum mati. Sebelum kehilangan kesadaran, ia melihat Koji yang tergeletak dan Moriya yang dibawa pergi.

Sial! Ini semua salahnya.

Dan semuanya menjadi gelap.


"Kau sudah sadar?"

"U..ugh."

Moriya mengerjap. Matanya terasa berat. Beberapa bagian tubuhnya terasa perih. Kimono yang dikenakannya sudah berubah dengan kimono dari penginapan yang dipinjamkan pada tamu penginapan di Sunagakure tersebut.

Setelah Moriya dapat memfokuskan manik birunya, ia melihat Ritsu dan ninja-ninja Konoha yang ia lawan memandangnya intens. Moriya terkejut. Adrenalinnya terpacu. Ia berada di teritori lawan. Tapi setidaknya ia tidak dalam situasi terpojok atau dalam kondisi akan terbunuh.

Tangan, dada, dan perut Moriya terbalut perban. Jadi ia bisa menyimpulkan ia sedang disembuhkan setelah pertarungan. Oke, ini masih bisa ia kendalikan. Musuh tidak membunuhnya berarti ia berharga. Yang perlu dilakukan adalah memikirkan cara pergi dari sini. Ia harus tenang.

Moriya pernah beberapa kali mendapati kondisi seperti ini. Diculik dan disekap. Berada jauh di dalam teritori musuh. Menjadi mafia tentu saja memiliki banyak musuh. Dan musuh akan memanfaatkan berbagai macam cara untuk menjatuhkan lawannya. Termasuk, menculik penerus kelompok mafia terkenal. Ya. Terkenal. Tidak sedikit orang yang tahu Moriya adalah seorang penerus. Dan tidak sedikit juga rumor yang beredar tentangnya.

"Kau tidak apa-apa?" Ritsu bertanya. Gadis itu tampak khawatir.

Ia rasa ninja-ninja Konoha ini tidak berniat melukainya. Tapi ia tidak boleh terlalu yakin. "Ah, aa." Moriya bergumam tanda ia baik-baik saja.

"Aku hanya memberi obat racikan ibuku. Aku bukan ninja medis. Tapi syukurlah kau tidak apa-apa." Gadis itu tersenyum.

"Aa. Terima Kasih."

"Namamu Moriya?" tiba-tiba pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya bertanya padanya. Jumlah mereka bertambah satu. Pria ini tidak ikut dalam pertempuran itu. "Moriya Tanaka?"

"Ya." Moriya menjawab singkat.

"Namaku Sasuke. Sasuke Uchiha. Ini putriku, Ritsu. Pria disana itu, Shikamaru, kemudian bocah kuning dengan wajah jeleknya itu bernama Yuuji. Sedangkan bocah dengan anjing bernama Kenta dan anjingnya bernama Rairi." Sasuke mengenalkan teman-temannya pada Moriya.

"Yosh! Salam kenal, Moriya." Ujar Kenta dengan senyum bersamaan dengan gonggongan kecil Rairi. Merespon positive perkenalan singkat dari Sasuke.

Sementara yang lain hanya tersenyum pada Moriya. Kecuali Yuuji yang memalingkan wajahnya.

"Aa. Senang berkenalan dengan kalian." Moriya tersenyum.

Ninja-ninja Konoha tidak akan menyakitinya. Ia yakin itu. Ninja-ninja Konoha tidak salah menyerang mereka mengingat niat mereka datang ke Suna. Moriya pun ingin menghentikan ayahnya. Tapi tidak dengan cara melukai kelompoknya sendiri. Bahkan sampai melukai paman Shigeru. Lebih baik ia yang mati.

"Baiklah. Aku tidak akan berbasi-basi. Moriya Tanaka. Apakah kau benar putra Tanaka Matsumoto?"

Moriya tidak berniat berbohong. "Aa."

"Lalu siapa ibumu?"

Ibu? Ayahnya tidak pernah memberi tahukan nama ibunya? Dan Moriya sendiri melihat ayahnya banyak bersama perempuan. Apakah salah satu perempuan-perempuan itu adalah ibunya?

Moriya sadar. Ia sedang di introgasi. "Tidak ingat." Jawab Moriya. Ia tidak ingin memberikan jawaban 'tidak tahu' pada ninja-ninja ini.

"Benarkah?"

"Ya."

"Apa kau ingat sesuatu seperti sebuah kalung?"

Moriya bingung. Apa yang sedang berusaha mereka katakan sebenarnya? "Tidak." Moriya berusaha untuk tidak menampilkan ekspresi penasaran dan bingung. Mungkin ia lebih baik tidak tahu apa yang sedang ninja-ninja ini bicarakan. Tapi takdir berkata lain.

"Mori-kun, kan?" Shikamaru memanggil Moriya. Berusaha untuk akrab. Ia melanjutkan. "Bagaimana ya mengatakannya." Shikamaru menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Mori-kun, apa kau tahu Naruto Namikaze?" Tanya Ritsu.

"Tidak."

"Paman Naruto adalah seorang pahlawan perang. Ia mengorbankan banyak hal demi warga. Paman Naruto itu sangat kuat. Ia ninja yang hebat walaupun yah..sedikti konyol. Tapi beliau orang yang menyenangkan." Moriya menyimak. Walaupun tidak mengerti, tapi ia tetap mendengarkan.

Tiba-tiba Sasuke melanjutkan. "Dan kau adalah putra sulungnya."

Satu detik. Lima detik. Tidak ada kalimat lanjutan dari Sasuke, Ritsu, atau ninja-ninja Konoha lainnya. Moriya memiringkan kepalanya. Menarik bibir garis lurus komikal. Ia tidak mengerti.

"Behahahaha. Mori-kun. Tidak lagi! behahaha" Ritsu terpingkal. Wajah Moriya yang tampan terbanting dengan ekspresi konyolnya.

Sasuke dan Yuuji sweat drop.

"Cih. Dasar bodoh." Ucap Yuuji sarkastis.

Moriya membenarkan duduknya. "Ah, tapi aku tidak mengerti. Baiklah, kita buat ini mudah. Kalian akan menangkap mafia Tanaka?"

"Emm..Ya." Shikamaru menjawab. Memang itulah misi awal timnya.

"Baiklah. Aku adalah penerus Tanaka Matsumoto. Pilihan kalian tidak salah. Tetapi membunuhku tidak akan menghentikan aksi mereka."

"Ah, kau benar-benar tidak mengerti rupanya."

"Biar aku yang mengatakannya, Shikamaru."

"Silahkan."

"Dengar, bocah. Aku mempunyai sahabat. Ia kehilangan anaknya 17 tahun yang lalu. Putra pertamanya, Shuutaro Namikaze, hilang pada kejadian penyerangan Konoha. Ia frustasi, sedih, jatuh. Gelar-gelar dan kemampuannya terasa tidak berguna ketika Shuutaro hilang. Istrinya gila sesaat." Sasuke mengambil jeda. "17 tahun ia mencari. Berusaha tidak kehilangan harapan. Dengan terus mengingat tanda lahir, dan sosok bayi yang baru lahir, ia mencari dengan sedikit petunjuk yang ada. Sekarang. Ia menemukannya. Menemukanmu."

Moriya mengernyitkan dahinya. "Siapa?"

"Kau. Shuutaro Namikaze."

Hah? Apa?

"Kau bisa melihat tanda lahir di belakang bahumu kalau kau tidak percaya padaku. Dan kau tidak ingat ibumu? Ibumu adalah seorang Hyuuga. Hinata Hyuuga. Tentu saja kau tidak ingat. Kau terpisah darinya sejak kau lahir." Shikamaru seolah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lewat di kepala Moriya.

Bukankah ia anak seorang pemimpin mafia? Sekarang ia menerima kenyataan bahwa ia seorang anak pemimpin desa besar dan anak seorang pahlawan? Ninja-ninja Konoha pasti sudah gila. Tapi, mungkin ini bukan kenyataan. Mungkin ini bualan mereka yang ingin mejebak kelompok mafia Tanaka.

Puk.

Moriya merasakan sebuah tepukan di bahunya. Ritsu menyadarkannya dari lamunannya.

"Kau boleh memikirkannya dulu, Mori-kun. Atau Shuutaro Nii-san." Ujar gadis itu. Tersenyum.

"Ya, lagipula, apa kau benar-benar tidak ingat kalung batu sapphire?"

"A –tidak."

"Yah, kita harus melaporkan ini pada ayahmu –Naruto. Ia akan tiba disini segera setelah laporanku sampai."

Lalu Sasuke meninggalkan ruangan.

"Orang tuamu adalah teman-temanku, nak. Aku juga seorang ayah. Aku mengerti rasanya kehilangan seorang anak walaupun aku belum pernah mengalaminya. Jadi, jangan ada dalam benakmu 'mengapa Naruto baru menemukanmu sekarang'. Bahkan ibumu meninggalkan desa diam-diam hanya untuk mencarimu. Pikirkanlah terlebih dahulu."

"Mori-kun, aku ada di ruangan sebelah kirimu, dan Shikamaru sensei dan yang lainnya ada di ruangan sebelah kananmu. Katakan pada kami jika kau butuh sesuatu."

Ritsu dan yang lainnya akhirnya pergi. Meninggalkan Moriya sendiri di ruangan itu.

Moriya menunduk. Tangannya terkepal. Apa yang harus ia lakukan?


Ritsu duduk bersila di kamar penginapannya di Sunagakure. Ia menumpukan siku tangan dan bertopang dagu, berpikir. Ritsu cemas. Ia mencoba mengingat hal-hal yang sudah dialaminya.

Flashback

Ristu yang terhanyut arus air, menyusuri sungai yang membawanya. Tujuannya adalah tempat pertarungannya tadi. Ia rasa teman-temannya mencarinya dan ia yakin mereka tidak akan pergi ke Suna dan meninggalkan Ritsu. Jadi, ia memutuskan kembali ke awal tempatnya berpisah.

Lagipula, ia sudah tidak makan seharian penuh. Ritsu berhenti dan mencari beberapa buah. Staminanya sudah habis. Lapar hanya akan membuatnya sulit berlari. Sementara tas perbekalannya tertinggal bersama teman-temannya yang lain.

Akhirnya Ritsu sampai di tepi sungai tempat pertarungannya dengan wanita bernama Karin. Ia melihat sekeliling, kemudian memasuki hutan.

Setetah beberapa saat mencari, ia mendengar suara pria. "Ya, Aku datang atas misi tambahan. Ini permintaan Naruto. Ia sangat menghawatirkan putra sulungnya."

'Ayah!' Batin Ristu.

Ritsu mendengar suara ayahnya. Ia segera berlari menuju sumber suara.

Ritsu berlari dan melihat punggung Shikamaru-sensei sebelum terhenti dan membatu mendengar kalimat lanjutan dari sang ayah. "Putranya yang hilang masih hidup dan menjadi anggota kelompok mafia besar pada kejadian 17 tahun lalu."

Ritsu berusaha mencerna kalimat ayahnya. Putra paman Naruto adalah Yuuji. Dan Yuuji tidak hilang. Lalu? Siapa tadi?

"Aa. Kau datang tepat waktu. Tapi maaf, kami terpisah dengan putrimu, Sasuke."

"..."

Sasuke tidak merespon. Manik mata Sasuke menangkap sosok lain di belakang Shikamaru.

Shikamaru yang menyadari fokus Sasuke pada arah belakangnya menegang. Seperti tersentak baru menyadari kehadiran seseorang. Shikamaru menoleh. Ia melihat Ritsu dengan ekspresi penuh tanya.

Sensei yang terkenal dengan rasa malasnya itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ahh..Merepotkan."

Ritsu mendekat. "Ayah, apa Yuuji seorang mafia?" Ia angkat bicara.

Sang ayah, Sasuke, menatap Ritsu intens. "Bukan."

Ritsu bukan gadis polos. Ia bisa menangkap –atau menebak– kesimpulan kalimat ayahnya.

"Apa Yuuji satu-satunya putra Paman Naruto?"

"Tidak. Dengar Ritsu, mengetahui kenyataan akan membuatmu berubah. Apa kau, yakin, mengesampingkan rasa ingin tahu remajamu, tetap perduli dan tidak akan berubah?"

Ritsu berpikir. Sekali lagi, mencoba menangkap maksud kalimat ayahnya yang menurutnya berputar-putar. Apakah ia hanya ingin memuaskan rasa ingin tahunya? Ritsu memang penasaran, tapi ini menyangkut paman Naruto. Tentu ia perduli. Paman Naruto adalah keluarga, teman, rekan, dan seorang pemimpinnya.

"Aku akan mengambil resiko itu."

Sasuke dan Shikamaru menaikan alisnya. Shikamaru memang tidak berhak bicara sekarang. Lagipula, Ritsu bertanya pada Sasuke. Sasuke lah yang berhak memutuskan apakah putrinya layak tahu.

Ritsu melanjutkan. "Kalaupun aku berubah, aku akan mengambil resiko itu." Ia mengambil jeda. "Karena ini tentang paman Naruto. Karena aku perduli pada paman Naruto, aku ingin berbuat sesuatu. Karena paman Naruto adalah keluarga, teman, rekan dan pemimpinku, ayah. Aku ingin membantunya. Ingin melakukan sesuatu untuknya. Tapi aku tidak bisa melakakukannya tanpa mengetahui kenyataan. Maka dari itu, ayah, tolong beri tahu aku."

"Hahahahahaha."

Tiba-tiba Shikamaru terbahak.

"Apa-apaan ini, Sasuke. Putrimu serius sekali. Behahahaha." Shikamaru tertawa komikal. Sasuke kesal.

–Plakk!

Jitakan mendarat di kepala nanas.

.

.

.

Flashback end

Itulah hal pertama yang Ritsu ketahui. Mereka mampir disebuah kedai persinggahan. Sasuke dan Shikamaru memutuskan untuk mengatakan semuanya pada anak-anak didik mereka. Mereka semua berhak tahu. Walaupun Sasuke berpikir, Yuuji tidak pantas mengetahui kenyataan ini dari dirinya. Narutolah yang seharusnya menceritakan ini pada putranya.

Kemudian, Ritsu menangis mendengar cerita Sasuke dan Shikamaru.

TBC

Walaupun ini pendek. Saya menikmati menulis ini. mengingat cerita Naruto sendiri akan segera tamat, menulis future fic sangat menyenangkan.

Chapter depan banyak flasback. 17 tahun lalu akhirnya terungkap.

Ada gambar nya Moriya di cover fic ya. Saya based on gambar itu ngegambarin Moriya. Credit gambar liat di gambar

Buat yang ngasih info tentang fms, tengkyu berat ya :B ternyata ada fans yg sama '-')/

Reply readers:

Nay: eh? Kembaran saya? Mungkin maksudnya kembaran Yuuji ya? Kalao saya lebih nempatin diri jadi Saya Hyuuga.

Anw, saya tahu tempe anda sudah baca, jadi harus review #maksa

Matta na!