Tittle : Live By My Side Till The Day I Die
Author : Mr_KHC
Genre : Romance, Humor of sense, Hurt, YAOI, etc.
Main Cast :
Park ChanYeol
Byun BaekHyun – Wu BaekHyun
Other Cast :
Kris aka Wu Yi Fan
Kim JongIn
Do Kyungsoo
Oh Sehun – Park Sehun
Xi LuHan
Rate : M.
Pairing : ChanBaek , KaiSoo, HunHan, ChanKris.
Disclaimer : Ide cerita adalah hasil pemikiran otak saya, no plagiarism, bila ada kesamaan tempat, jalan cerita, dll, mohon dimaafkan, karena otak manusia tak dapat ditebak. Semua cast hanya milik Tuhan, dan saya hanya meminjam...
Enjoy it!
Warning : typo menyebar dan tercecer, bagi yang tak Suka YAOI silahkan hengkang.. :D
Maafkan atas keterlambatan saya mengupdate FF ini, itu karena saya harus membagi otak saya menjadi beberapa bagian, agar bisa menyeimbangkan kekuatan alam /slap
Becanda..itu karena saya terlalu fokus dengan FF 'This Is Overdose', jadi kedua FF ini 'Live By My Side Until The Day I Die' dan 'I Need U Deer' akhirnya terbengkalai, tapi dengan perjuangan dan semangat empatlima, akhirnya FF 'Live By My Side Until The Day I Die' ini lanjut juga..walau lama..hehe...
Hope u all enjoy this...
Thank you...
-KHC---
.
.
.
.
.
.
.
. "Sepertinya kau memang membutuhkannya Yeol.." ucap Kris mengeluarkan smirk-nya, sembari melihat ChanYeol menghilang dari pandangannya. Entah apa yang sedang Kris rencanakan saat ini.
.
.
.
.
.
.
Part 3 : At First Meeting
.
.
.
.
.
Live By My Side Until The Day I Die..
Tak kurang dari 30 menit kemudian, ChanYeol telah sampai di kantornya, ia berlari di lobby seperti orang kerasukan, memencet frustasi tombol lift yang tak kunjung membuka dirinya, kegiatannya suskes membuatnya ditatap aneh oleh seluruh pegawainya yang berada di lobby, setelah sang General Manager yang berlarian, sekarang giliran sang Presdir berlari dan tak mengenakan pakaian formal-nya.
Ia segera memasuki lift yang telah terbuka, ChanYeol menghela nafas panjang saat pintu lift itu tertutup. Dan menunggu lift ini sampai di depan ruangannya dengan tak sabar.
"Ayoo..palli...palli..." gumamnya, melihat tombol angka yang ada di dalam lift
'TING'
Pintu lift terbuka, ia segera keluar dari lift, sesaat ia merasa aneh, kenapa tak seperti jalan menuju ruangannya, ChanYeol berbalik dan melihat papan angka yang tertera tepat diatas pintu lift, "Oh shit.." umpat ChanYeol, kenapa ia bisa mendadak sebodoh itu lupa akan letak lantai ruangannya, sebelum pintu lift menutup ia memasuki lift secepat kilat, dan menunggu sampai ke lantai yang seharusnya ia tuju.
'TING'
Pintu lift terbuka, ia melihat sekitar "Haah..ini benar.." ucap ChanYeol dengan helaan nafas panjang. ChanYeol keluar dari lift, berlari menuju ruangannya, lalu menguncinya, sekretaris yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, memaklumi kelakuan kelakuan sang PresDir. Ia berjalan kearah lemari yang berada tepat di samping kamar mandi, membukanya, lalu mengambil satu stel pakaian formal yang biasa ia kenakan di kantor sehari-hari, sengaja memang ia menaruh lemari pakaiannya disini, karena ia memang jarang pulang kerumah, yeah you know he's single man..
ChanYeol segera menanggalkan pakaian kasual-nya, dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang telah ia ambil sebelumnya. Menatap pantulan dirinya di cermin wastafel sembari memasang dasi dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mengambil tissue di samping wastafel mengusapkan kewajahnya, setelah dirasa cukup menyenangkan untuk dipandang, ia segera keluar dari ruangannya, dan berjalan cepat kearah ruang meeting besar, setelah sebelumnya JongIn mengirimkan pesan kepada ChanYeol bahwa mereka sedang berada di sana.
'CKLEK'
Semua mata penghuni ruangan tersebut seketika menoleh ke arah suara seseorang yang sedang membuka pintu.
ChanYeol memasuki ruang rapat dengan investor asing, tak lupa memberi salam dan membungkuk-kan badannya. "Sorry for my late".
ChanYeol menatap sahabatnya dan juga adiknya yang terlebih dahulu telah menangani rapat dadakan. "Gomawo JongIn-ah, telah menangani mereka" ucap ChanYeol. "Thank's Sehun" lanjutnya, dibalas anggukan oleh sehun.
ChanYeol berbincang sejenak dengan para investor, lalu mengambil berkas yang ada di hadapannya, dan melanjutkan kembali rapat yang tertunda.
Sekitar 2 jam rapat telah usai, para investor asing telah keluar dari gedung berlantai 15 ini, ChanYeol beserta JongIn dan sehun telah berada di ruangan ChanYeol sedang membahas masalah kesepakatan kerjasama bersama investor asing tadi, bersama tumpukan-tumpukan berkas yang tadinya di bawa oleh investor asing tersebut.
"Haah..kenapa ini sungguh mendadak sekali" ucap ChanYeol menyandarkan punggungnya di kursi ruangannya, sambil memijit pelipisnya.
"Are you okey Yeol...?" tanya JongIn dengan nada khawatir karena melihat sahabatnya sangat tertekan.
"Not for now JongIn-ah.." balas ChanYeol, menutup matanya sejenak.
"Hyung, kalau kau membutuhkan bantuanku, aku siap membantumu.." ucap sehun, ChanYeol melirik kearah sehun.
"Really..?" tanya ChanYeol memastikan
"Nde..aku siap dengan itu semua.., dan aku akan mencoba melupakan seseorang yang menggangu pikiranku.."
"Bagus..itu baru adikku..hahaha..." tawa ChanYeol yang terasa hambar di telinga kedua orang yang berada di hadapannya sekarang. Dan dibalas tatapan datar dari keduanya.
"Kau tak sakit kan Yeol..?" tanya JongIn
"Tentu saja tidak JongIn sayang..." Kai bergidik ngeri saat ChanYeol memanggilnya dengan sebutan 'sayang'
"JongIn, hubungi Kris..aku ambil tawarannya tadi.."
"Tawaran apa..?" tanya sehun dan JongIn serempak
"Hei kau sehunnie, jangan ikut campur urusan orang dewasa, kembali sana ke ruanganmu shu..shu.." ucap ChanYeol melambai-lambaikan tangannya, bermaksud mengusir sehun.
"Arra..arra...orang dewasa..." sehun beranjak dari tempat duduknya, dan keluar dari ruangan sang kakak.
"Jadi..apa tawaran Kris..?" tanya JongIn penasaran
"Liburan ke china..." jawab ChanYeol
"Kau akan berlibur kesana..?"
"Yap..sekalian aku mencari LuHan..kau mau ikut?"
"Kau gila yeol..tentu saja aku mau ikut...kau tau festival pertengahan musim gugur itu keren.." ucap JongIn menggebu-gebu
"Yak..kupikir kau akan berkata apa, ternyata..aishh.."
"Hehehe..." cengir JongIn.
ChanYeol mengeluarkan smartphone-nya dari balik saku jas-nya, menelepon seseorang yang seharusnya ia telepon sedari tadi
'Wae..?'
"Aku ambil tawaranmu tadi.."
'Haha...sudah dapat kutebak bersama JongIn kan.? Okey, bersiaplah besok pagi aku akan menjemputmu dan JongIn di apartemen-mu'
"Okey..thanks Mr. Wu.."
'Most welcome Mr. Park.'
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, JongIn dan ChanYeol telah bersiap dengan koper-koper yang dapat memuat baju mereka selama 5 hari liburan di china, mereka menunggu Kris di Lobby apartemen, karena memang mereka berdua tinggal di gedung apartemen yang sama.
ChanYeol duduk di sebuah kursi panjang yang berada di lobby, sambil memainkan smartphone-nya, sesekali membalas pesan dari sang adik Sehun. Dan juga JongIn yang menatap smartphone-nya sambil tersenyum aneh.
Tak selang berapa lama kemudian, Kris datang menghampiri kedua makhluk yang sedang asik dengan dunianya, "Dasar autis.." gumam Kris.
"Yo..kau sudah datang..?" tanya ChanYeol yang sudah mengalihkan dunianya dari smartphone
"Yeah...let's we go.." Kris berjalan mendahului mereka berdua, yang sedang menggeret koper besar mereka.
Setelah sampai di mobil Kris, mereka berdua membuka bagasi mobil dan memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi. Lalu masuk ke dalam mobil, ChanYeol duduk di samping Kris yang sedang mengemudi, dan JongIn di kursi penumpang di belakang.
Ketika semua sudah masuk kedalam mobil, Kris segera melajukan mobil mewahnya kearah bandara, tak sampai 30 menit mereka telah sampai di Bandara Internasional Incheon. Mereka bertiga keluar dari mobil, ChanYeol dan JongIn mengambil koper mereka di bagasi.
"Ini tiket dan passport kalian, kalian akan berangkat pukul 11 pagi ini, setelah sampai disana kalian akan di jemput oleh anak buahku, ketika sampai di apartemen kuharap kalian tak lupa menghubungiku.." terang Kris, sebelum kami memasuki bandara
"Siap bos.." ucap ChanYeol dan JongIn serempak.
"Ah..aku hampir lupa..ini buku panduan bahasa china, kuharap kau mempelajarinya selama di dalam pesawat, karena ini akan sangat berguna.." ucap Kris, lalu merogoh saku mantelnya, dan mengeluarkan sebuah buku yang bersampul merah dengan tulisan china-korea di sana
"Berikan saja pada ChanYeol, aku sudah bisa menggunakan bahasa china.." tolak JongIn
"Siapa juga yang akan memberikannya padamu kim JongIn.."
"Baiklah...selamat bersenang-senang di chinaaaa..." lanjut Kris, lalu memasuki mobilnya dan meninggalkan kedua orang yang di juluki autis oleh Kris.
.
.
.
ChanYeol dan JongIn duduk di kursi tunggu, sembari menunggu jadwal keberangkatan mereka. Seperti biasa, mereka sibuk dengan dunianya masing-masing, sepertinya predikat 'autis' yang diberikan Kris kepada mereka berdua memang berlaku. ChanYeol yang sedang sibuk membaca buku panduan bahasa china. Dan juga JongIn yang sedari tadi memainkan smartphone-nya dan sesekali tersenyum seperti orang gila. Beruntunglah tak ada yang begitu memperhatikan JongIn saat ini.
"Pesawat dengan nomor penerbangan KA-864SK dengan tujuan Beijing-China akan segera berangkat dalam waktu 20 menit, terima kasih"
.
.
Tepat pukul 11.00 AM penerbangan menuju ke china berangkat, beruntung ChanYeol dan JongIn tak tertinggal pesawat. Karena saat pengumuman keberangkatan pesawat ChanYeol mendengarkan dengan seksama.
Mereka berdua duduk bersebelahan, JongIn yang masih setia dengan posisi autisnya, dan ChanYeol yang tengah jengah dengan keadaan JongIn yang sedang autis. "Yak, berhentilah tersenyum sendiri kau terlihat seperti orang gila.."
"Diamlah, kau menganggu kesenanganku.."
"Oh ayolah mau sampai kapan kau melihat foto kyungsoo-mu itu hah..?!" Oke cukup untuk ChanYeol memperingatkan sahabatnya yang sedang kasmaran itu, ChanYeol mengambil i-pod-nya, memasang earphone di kedua telinga-nya, lalu mendengarkan lagu favoritnya, perlahan ChanYeol menutup kedua matanya, dan ia sukses tidur. Setidaknya ia bisa mengistirahatkan badannya yang hampir remuk karena tak mendapatkan tidur teratur selama ia menjadi PresDir beberapa bulan lalu.
.
.
.
.
.
.
5 jam mereka menempuh perjalanan dari korea menuju china.
ChanYeol yang telah bangun 10 menit sebelum mereka sampai tujuan.
"Huah..ini mulai terasa dingin.." ucap ChanYeol memakai kacamata hitamnya dan mengeratkan mantel coklatnya, lalu keluar dari pesawat dan disusul oleh JongIn di belakangnya.
Mereka berjalan ke dalam bandara yang memang jaraknya tak terlalu jauh, menuju ke petugas bandara, lalu mengambil koper mereka.
"Hmm..diamana anak buah Kris..?" gumam ChanYeol sambil mengedarkan pandangannya kesegala arah untuk mencari seseorang yang membawa papan yang bertuliskan namanya dan JongIn. Hingga ada seseorang yang menepuk bahunya, ChanYeol berbalik dan melihat seseorang yang menepuk bahunya tadi, seorang namja lumayan tinggi bermata panda dengan rambut red fire-nya dan piercing cross di kedua daun telinganya. "Park ChanYeol..?" tanya orang tadi.
"Tao.. kaukah itu..?" tanya ChanYeol saat ia menurunkan kacamata-nya, dan mendapat anggukan serta senyuman polos dari Tao.
"Hmm...kenapa kau yang menjemput kami..?" tanya ChanYeol
"Itu karena Kris mengatakan padaku bahwa kalian berdua akan berlibur disini...mungkin aku bisa menjadi tour guide kalian..jika kalian mau..?" tawar tao, yang notaben kekasih Kris, dan beruntungnya ia juga bisa berbahasa korea, walaupun tak sebaik Kris, tapi setidaknya ia mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Wah..beruntungnya aku hari ini.." ucap ChanYeol bersemangat
"Baiklah..akan kuantar kalian ke apartemen Kris, kami sudah membersihkannya untuk kalian.." Mereka bertiga bergegas keluar dari bandara, mobil jemputan mereka telah datang dan mereka segera masuk kedalam mobil.
Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di apartemen Kris. Tao membantu membawakan barang-barang yang mereka bawa.
Setelah sampai di depan pintu kamar yang bernomor 88, tao memencet security code yang berada di samping pintu.
'CKLEK'
Sebuah apatemen mewah dengan ornamen khas negeri tirai bambu ini ternyata bersembunyi di balik pintu sederhana di gedung ini, JongIn dan ChanYeol dengan tak elitnya melotot dan mulut mereka telah menganga hingga berbentu 'O'
"Semoga kalian betah tinggal disini, selama beberapa hari ini.." ucap tao, sembari mempesilahkan JongIn dan ChanYeol untuk masuk kedalam. Mereka bertiga masuk kedalam lalu tao menutup pintunya.
"Oh..shit..ini yang Kris bilang bilang sederhana..? aku rasa otaknya tak bisa membedakan mana yang mewah mana yang sederhana..ini lebih dikatakan rumahku dalam bentuk mini.." ujar ChanYeol
"Ba-bagaimana bisa ini masuk kedalam gedung apartemen yang tak bisa di bilang elit..?" ucap JongIn sambil menunjuk-nunjuk barang antik yang berada di dalam apartemen Kris
"Haha..ini dikarenakan, padatnya penduduk di china, jadi walaupun apartemen ini terkesan biasa saja di depan, tapi mereka yang menempati memiliki cara tersendiri agar nyaman dengan ruang yang terbatas" jelas tao, sambil terkekeh
"Woah..Kris memang tidak bisa diajak menjadi orang yang sederhana.." ujar JongIn
"Hey ini sudah sederhana untuknya JongIn-ah.." elak ChanYeol. Tao hanya terkekeh karena sedari tadi melihat teman kekasihnya sedang beradu argumen.
.
.
.
.
.
Setelah lelah beradu argumen dengan sahabatnya JongIn dan juga tao telah pulang, ChanYeol memasuki kamarnya, membuka kopernya lalu memindahkan baju-bajunya kedalam lemari, tak ada satupun setelan jas yang ia bawa, hanya pakaian casual, sweater, jaket dan beberapa mantel tebal untuk menghadapi pertengahan musim gugur.
"Done.." ucap ChanYeol memasukkan mantel terakhirnya kedalam lemari, lalu menutupnya.
Ia mengambil handuk lalu bergegas ke kamar mandi yang menjadi satu ruangan dengan kamarnya, dan memulai ritual mandinya. Tak lama hanya sekitar 15 menit ia berkutat didalam kamar mandi, itu sudah sangat cukup untuknya membersihkan diri, dan terlihat segar kembali.
Ia berjalan kearah lemari pakaian, mengambil T-shirt dan jeans, lalu memakainya, terlihat casual bukan.
ChanYeol keluar dari kamarnya dan melihat pemandangan yang membuat wajahnya datar kembali, yeah ini berulang lagi, saat dimana JongIn kembali menjadi sosok yang 'autis' dimata ChanYeol, JongIn yang sedang duduk di depan TV, menyalakannya tanpa melihatnya, dan asik dengan smartphone-nya. "Yha..kenapa tak kau telepon saja dia..?" tanya ChanYeol.
"Aku lupa meminta nomornya.." jawab JongIn dengan raut wajah memelas
"Err...Stupid..." ChanYeol melempar smartphone-nya kearah JongIn, dengan sigap JongIn menangkap smartphone ChanYeol
"Cari saja namanya disana, dan kau akan mendapatkannya.." lanjut ChanYeol, ia berjalan ke dapur dan mencari sesuatu yang bisa membasahi kerongkongannya yang sedang kering saat ini.
"Aish..ternyata tak ada apapun di sini..eoh JongIn kau ikut aku membeli beberapa makanan dan minuman..?" tanya ChanYeol. Merasa tak mendapat jawaban, ia kembali ke tempat JongIn berada, dan benar dugaannya, ia sedang menelepon kyungsoo –sepertinya.
"Aigoo..anak ini.." ChanYeol berkacak pinggang lalu merebut smartphone-nya, lalu memutus sambungan telepon.
"Yha, kenapa kau merebutnya..?" teriak JongIn
"Gunakan milikmu sendiri..aku mau keluar, mencari makan, kau mau ikut atau tidak tak peduli, okey.." geram ChanYeol, kemudian ia masuk kedalam kamar dan keluar memakai mantel hitam. Untuk melindungi tubuhnya dari serangan dinginnya udara malam hari.
ChanYeol melihat JongIn sedang menelepon kembali kyungsoo, ia memutuskan pergi sendiri untuk membeli makanan dan minuman, sekalian berbelanja untuk keperluannya beberapa hari di china, setidaknya ia juga bisa berjalan-jalan dan melihat pemandangan yang sempat ia lihat di mobil walau sebentar.
ChanYeol memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantel, dan berjalan-jalan di sekitar gedung apartemen sambil mencari supermarket dan juga café yang dapat ia kunjungi untuk sekedar meminun America Latte, atau memakan chesse cake.
"Hmm..tempat ini..tak buruk juga.." gumam ChanYeol dengan langkah lebarnya berhenti di salah satu café yang berada tak jauh dari gedung apartemennya, lalu memasukinya.
'KLING'
"Woah, ramai sekali.." ucap ChanYeol saat memasuki café yang ramai, ia lupa bahwa hari ini adalah hari sabtu, yeah...sepertinya banyak pasangan yang sedang kencan di tempat ini.
Ia segera mengantri di kasir. "Huānyíng, yào dìnggòu? (selamat datang, ingin pesan apa?)" tanya sang kasir yang berada di hadapan ChanYeol, beruntunglah ChanYeol cepat menangkap ucapan sang kasir, yeah efek membaca buku yang diberikan Kris saat ia diantar oleh Kris di bandara.
ChanYeol melihat papan daftar menu. "Chocochinno please.."
Tak butuh waktu lama pesanannya telah datang, ChanYeol mengambil gelas cup besar berisi chocochinno panas, lalu membayarnya. Ia berjalan mencari kursi kosong, karena ia baru ingat bahwa ia harus menelepon seseorang. Hanya ada satu tempat yang bisa ia duduki sementara, ChanYeol menghampiri seseorang yang berbadan mungil dengan rambut wine dengan highlight berwarna grey yang sedang dalam pose menunduk, entah apa ia namja atau yeoja, tapi sepertinya ChanYeol tak peduli, karena ia hanya membutuhkan tempat duduk kosong yang berada di hadapan orang yang menunduk itu untuk sekedar menelepon.
"Yuànliáng wŏ, wŏ kěyĭ zuo zài zhèlĭ..? (permisi, bolehkah saya duduk disini?)" tanya ChanYeol kepada orang yang berada di hadapannya. ChanYeol mendecih, akhirnya ia duduk lalu meletakkan cup chocochinno-nya diatas meja, karena ia sedang terburu-buru akan menelepon.
Merasa ada yang seseorang di depannya, orang itu mendongakkan kepalanya, ia melihat seorang namja berbadan bak tiang listrik sedang duduk di hadapannya sambil menempelkan benda kotak pipih berwarna putih di telinganya, ia menatap lelaki itu dengan tatapan horor lalu melepas satu earphone yang terpasang di telinganya.
"Siapa kau..?" tanyanya. ChanYeol tak kunjung menjawab pertanyaan orang itu, karena memang ia sedang menelepon.
"Yeah, aku sudah sampai di china.."
'...'
"Ya..tadi kekasihmu yang menjemput kami.."
'...'
"Oke..nanti aku akan datang kefestival itu..tapi entah JongIn ikut atau tidak, dia terlihat seperti anak autis, aku jamin itu.."
'...'
"Hmm..ada Se- YAK!" Smartphone ChanYeol telah berpindah tangan sekarang, berada di tangan berjari lentik milik seseorang yang berada di hadapannya. ChanYeol terpaku pada sosok malaikat yang ada di hadapannya, meneliti setiap inchi lekukaan wajahnya yang sempurna, kulitnya yang bak porselain, dengan mata yang berhias eyeliner membuatnya terlihat lebih tajam, oh jangan lupa bibir cherry dan leher jenjang-nya yang menggiurkan yang bisa setiap saat membuat siapapun ingin menerkamnya saat ini.
"HEI AHJUSSI MESUM APA YANG KAU LIHAT HAH..?!" Bentaknya yang sukses mengembalikan kesadaran ChanYeol.
"Kurang ajar sekali kau bocah memanggilku ahjussi mesum!" bentak ChanYeol tak mau kalah
"Yak, aku bukan bocah, aku namja berusia 23 tahun dan tak sepantasnya kau memanggilku BOCAH!"
"Tunggu, kau namja..?"
"Kau pikir apa hah? Dasar ahjussi mesum"
"Berhenti memanggilku ahjussi mesum!" geram ChanYeol
"Baiklah, setelah kau berhenti menatapku seperti anjing kelaparan.." ucapnya, lau menyilangkan kedua tangannya. ChanYeol langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Tunggu, kau bisa berbahasa korea..?"
"Wae..?"
"Aish.. kembalikan handphone-ku" pinta ChanYeol
"Tak bisakah kau menjawab pertanyaanku hah..?! kau itu siapa tiba-tiba duduk di tempatku..?!"
"Kau lihat disini, tempat ini sangat penuh, dan hanya tempat duduk ini yang kosong, dan tadi aku sudah permisi padamu, tapi tak kau hiraukan, hei kembalikan handphone-ku, aku belum selesai berbicara dengannya" terang ChanYeol, lalu mengambil paksa handphone-nya, dan melihat layar smartphone-nya ternyata sambungannya belum di putus.
Other Side
Kris yang sedari tadi mendengar percakapan di telepon hanya tersenyum dan mendengarkan dengan seksama, karena ia tak merasa asing dengan suara seseorang yang sedang membentak ChanYeol.
"Kalian bertemu juga ternyata.. tak kusangka secepat ini..." gumam Kris tanpa mematikan sambungan teleponnya.
'Yo..maaf kau jadi mendengarnya..' ucap ChanYeol
"Hahaha...bodoh, kau melihat apa sampai dia berkata kalau kau menatapnya seperti anjing kelaparan hah..? hahahaha"
'Berhentilah tertawa itu tak lucu!'
"Oke, harga diri seorang CEO dari perusahaan ternama di korea akhirnya hilang hanya karena seorang namja yang mengatakan 'ahjussi mesum' padamu, hahahaha..."
'Stupid' ChanYeol langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Hahaha.. bersenang-senanglah yeol.." ucap Kris lalu meletakkan kembali smartphone-nya di meja kamarnya.
.
.
.
"Stupid" ChanYeol menutup sambungan teleponnya lalu menghembuskan nafas panjang.
"Mau sampai kapan kau duduk disini ahjussi..?!"
"Berhenti memanggilku ahjussi"
'KLING'
Suara lonceng dari pintu masuk, tandanya ada orang yang masuk kedalam café ini. Namja yang berada di depan ChanYeol melihat keara pintu masuk.
"LuHan Ge~" ucapnya sambil melambai-lambaikan tangannya, lelaki yang ia panggil LuHan itu tersenyum lalu menghampiri seseorang yang memanggilnya. ChanYeol yang menyadari bahwa namja yang berada di depannya memanggil seseorang dengan nama 'LuHan' ia berpikir apakah itu LuHan yang ia cari atau bukan.
"BaekHyun-ie..apa kau lama menungguku..?" tanya LuHan, lalu ia menatap namja tinggi yang duduk di depan bakhyun yang notaben adalah sepupunya.
LuHan terkejut, saat ia melihat ChanYeol ada di café itu, "ChanYeol-sshi..?" ChanYeol langsung mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang memanggil namanya, dan Bingo! Itu benarlah LuHan yang ia cari.
"LuHan..? kau benar LuHan..Xi LuHan..?" tanya ChanYeol memastikan
"Yeah..tentu.." jawab LuHan
"Akhirnya..aku bisa bertemu denganmu juga.."
"Memang ada apa..?"
"SeHun gila tanpamu.."
"Ahh..anak itu.." ucap LuHan lalu duduk di hadapan ChanYeol
"Hei Baekki, kenapa kau bisa duduk bersama ChanYeol..?" tanyanya
"Molla, ahjussi itu tiba-tiba saja duduk disitu dan menatapku seperti ahjussi mesum"
"Mwo..? sekali lagi kau mengatakan itu, akan kubunuh kau.."
"Sudah..sudah..BaekHyun-ie kau tak menganalnya..?" tanya LuHan
"Untuk apa aku harus kenal dengan ahjussi itu.." ucapnya cuek
"Hei hei..dia itu CEO perusahaan alat-alat pengembangan teknologi 'Park Corporation' dia teman Kris"
"Apa..? hyung-ku teman ahjussi mesum ini..?"
"Mwo..? HYUNG..? jadi Kris adalah Hyung-mu..? pantas lidah kalian sama pedasnya"
"Berani kau mengatakan hal jelek tentang hyung-ku..akan kupatahkan lehermu ahjussi" ucap BaekHyun dengan tatapan tajamnya kearah ChanYeol.
"Eh..?"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Maaf kalau ceritanya kurang greget.. efek otak udah soak...harap maklum.. XD
Dan untuk semua yang telah meninggalkan Review..saya sangat berterima kasih...
Dan saya akan menjawabnya di Chapter berikutnya... see ya at next Chap... bye.. :D
