Minna, kita ketemu lagi di chapter 2. Saya update fic ini secepat yang saya bisa. Hehehe... Semoga chapter 1 cerita saya memuaskan kalian. Terima kasih bagi yang sudah review atau pun baca chapter 1. Saya akan lebih berusaha lagi untuk chapter 2. Dan mungkin cerita ini bakal nyampur-nyampur antara modern ama kuno. Juga ada lagunya dikit (gak yakin dikit atau ngak). Ok, nikmati ceritanya. Hehehe... Semoga pembaca puas dengan chapter 2-nya. Saya harap ada yang review cerita ini lagi.
Di chapter ini, saya mengambil sedikit adegan episode 15 Shingeki no Kyoujin. Lalu sisanya bakal melenceng. Mulai dari chapter ini bakal ada lagu. Fungsinya buat menghibur aja. Saya akan ambil lagu yang artinya gak jauh beda dari alur cerita Shingeki no Kyoujin atau yang artinya berhubungan ama kegiatan yang sedang dilakukan karakter. Sebenarnya saya terinspirasi bikin fic ini dari episode 14 ama 15. Makanya saya buat dengan ngambil beberapa adegan 2 episode itu.
Summary: Elica diserahkan kepada pasukan Survey Corps. Dia akan membuktikan perkataannya tentang membantu umat manusia. Membunuh semua titan di dunia ini dengan menjalankan misi keluar dinding. Sebelum itu, ia perlu terbiasa dengan pasukan Survey Corps. Contohnya menjalankan tugas-tugas yang diberikan Levi. RnR please...
Title: Lifesaver From Future
Chapter: 2
Rate: T sedikit K
Disclaimer: Shingeki no Kyoujin milik Hajime Isayama-sensei. Kecuali juga plot yang berubah dan percakapan yang berubah. Lagu Calendar Girl milik Star Anis (Waka, Fuuri, Sunao)
Warning: OOC (mungkin), typo (mungkin), kata-kata yang belum sempurna, plot yang kurang bagus, mengandung beberapa kata-kata ambigu, dan lain-lain.
Pair: Levi x OC
Kalian pernah bertanya sebenarnya berapa markas pasukan Survey Corps? Ada yang menjawab 1. Ada juga yang menjawab 2. Yup, jawaban yang benar adalah 2. Tapi, markas yang mereka datangi sekarang bukan markas pasukan Survey Corps yang sekarang. Tapi markas pasukan Survey Corps yang lama. Markas itu tidak lebih dari istana tua yang direnovasi. Bentuknya memang terlihat sangat menawan. Namun lokasinya jauh dari dinding dan semua sungai yang ada. Dan hal tersebut membuat bangunan ini sangat tidak berguna bagi pasukan Survey Corps. Mungkin karena itu gedung ini jadi tidak terpakai lagi. Tapi kini, para pasukan Survey Corps sedang menuju ke sana dengan menaiki kuda masing-masing.
"Siapa yang menyangka kalau ternyata kita memakai tempat ini untuk tempat persembunyianmu?" Auruo mengoceh sementara Elica melihat ke sekeliling. Sesekali ia menengok ke belakang dan mendapati Levi memperhatikannya dengan tatapan normalnya. Tampang datar sekaligus menyebalkan dan minta dihajar. Author berat mengakui kalau tampang Levi memang seperti itu. Oke, lupakan yang tadi. Tidak mau berlama-lama memandang wajah Levi, Elica segera kembali menghadap ke depan.
"Jangan sok kau, anak baru" Auruo kini berkuda di dekat kuda yang sedang Elica tunggangi.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Elica tidak mengerti. Ya, sejak awal dia tidak mendengar ocehan Auruo.
"Aku tidak peduli kau membantu pasukan Survey Corps atau tidak. Tapi kami tidak bisa mengizinkan Levi-heichou mengasuh-" lidah Auruo tergigit karena kudanya salah menginjak. Elica pun tertawa.
"Ahahahaha... Kalian menarik sekali. Merupakan pilihan yang benar aku datang ke sini. Hahahahaha..." tawanya.
Cukup lama mereka berjalan hingga akhirnya mereka sampai di markas lama pasukan Survey Corps. Begitu sampai, semuanya turun dari kudanya lalu menikmati pemandangan sebentar. Sudah lama mereka tidak ke sini. Karena itu mereka memutuskan untuk menikmati pemandangan sebentar. Tapi ada juga yang sibuk sendiri seperti Elica yang sedang diajak ngobrol oleh Eren yang penasaran dengan dunia luar dan masa depan, juga Petra yang menceramahi Auruo.
"Itu akibatnya kalau kau mengoceh sambil menunggangi kudamu" omel Petra.
"Kesan pertama itu hal yang paling penting. Anak baru itu langsung ketakutan" kata Auruo.
"Apanya yang takut? Dia akhirnya menertawaimu karena kebodohanmu. Kau berharap sekali shinigami akan takut pada kita yang manusia" kata Petra.
"Tapi tetap saja semua berjalan sesuai dengan rencana" ucap Auruo.
"Nee, gaya bicaramu tidak pernah seperti tadi. Kau mencoba meniru-niru gayanya Levi-heichou ya? Aku sarankan kau berhenti melakukannya. Kalian berdua itu 100% berbeda tapi tetap saja-" perkataan Petra dipotong.
"Heh... Kau itu selalu mencerewetiku ya, Petra? Kau itu cocok lho jadi istriku" kata Auruo yang sukses membuat Author terbatuk-batuk. #abaikan yang itu.
"Semoga kau mati kehabisan darah karena menggigit lidahmu sendiri. Kau juga sok berkoar-koar tentang berapa banyak titan yang sudah kau bunuh. Jumlah titan yang anak baru itu bunuh juga hampir menyaingimu. Aku terkejut kau masih bisa bangga dengan jumlah titan yang kau bunuh" ucap Petra.
"Memangnya kenapa? Setidaknya jumlah titan yang anak itu bunuh tidak melebihi jumlah titan yang aku bunuh. Lagipula, aku juga berkoar-koar tentang kalian" kata Auruo.
Elica yang dari tadi sedang menceritakan tentang dunia luar kepada Eren langsung berhenti lalu menatap Auruo dan Petra. Juga Gunther dan Erd yang sedang berjalan-jalan di sekitar markas. Eren yang penasaran langsung mengikuti arah tatapan Elica. Ia langsung mengerti lalu mengenalkan anggota Squad Levi pada Elica satu per satu.
"Mereka itu anggota Regu Operasi Khusus di pasukan Survey Corps. Secara umum dikenal dengan sebutan Squad Levi" kata Eren.
"Kau menyedihkan!" omel Petra pada Auruo. "Perempuan yang di sana, namanya Petra Ral. Membunuh 10 titan sendirian. Membunuh 46 titan secara berkelompok. Laki-laki yang sedang berdebat dengannya, Namanya Auruo Bossard. Membunuh 39 titan sendirian. Membunuh 9 titan secara berkelompok. Mereka itu elite dari elite. Lalu laki-laki berambut pirang di sana, namanya Erd Gin. Membunuh 14 titan sendiri. Membunuh 32 titan secara berkelompok. Laki-laki di sebelah Erd-san, namanya Gunther Schultz. Membunuh 7 titan sendiri. Membunuh 40 titan secara berkelompok. Mereka adalah jajaran orang-orang teratas dalam pasukan Survey Corps, orang-orang pilihan Levi-heichou" Eren menjelaskan.
"Hee... Mereka orang-orang yang cukup menarik" gumam Elica.
"Gedungnya sampai terselimuti lumut. Parah sekali. Gedung itu sudah tidak terpakai dalam waktu yang sangat lama. Di dalam, kemungkinan lautan debu sudah menanti kita" kata Erd.
"Itu benar-benar masalah yang serius. Kita harus segera membersihkannya" ucap Levi yang berada di belakang Erd dan Gunther. Sisi Clean Freak Levi sudah muncul.
"Uh-oh... Sepertinya akan ada tugas bersih-bersih dari Levi-heichou" gumam Eren.
"He? Tugas bersih-bersih? Kenapa tidak bilang? Aku sering bersih-bersih di masa depan" Elica melepas jubah hijau berlambang sayap kebebasan milik pasukan Survey Corps yang dipinjamkan Levi padanya. Memperlihatkan belt yang selalu digunakan oleh semua anggota militer, kemeja abu-abu lengan panjang, juga celana panjang berwarna putih dan boots coklat. Ia lalu menggulung lengan kemeja abu-abunya sampai di atas siku. "Yosh, ayo bersih-bersih" ucapnya bersemangat.
.
.
Lifesaver From Future
.
.
Kegiatan bersih-bersih markas sedang berlangsung. Levi terlihat sedang membuka jendela di sebuah ruangan. Petra sedang menyapu. Auruo sedang memasang lilin di tempat lampu. Erd dan Gunther sedang bergelantungan dengan 3D Manuver Gear mereka membersihkan jendela dari luar markas. Dan yang paling menikmati tugas bersih-bersih itu adalah Elica. Ia segera menghampiri Levi yang sedang membersihkan jendela sebuah kamar.
"Heichou, kami sudah selesai membersihkan lantai atas. Ada lagi yang bisa aku kerjakan?" tanya Elica. Levi yang sedang membersihkan jendela langsung menatapnya. "Ngomong-ngomong, aku tidur di mana nanti?" tanya Elica.
"Di kamar ini" jawabnya datar.
"Benarkah? Aku bisa melihat keluar dari sini. Pemandangannya di malam hari pasti sangat indah" Elica langsung melihat keluar tapi gagal karena Levi menarik kerah kemeja abu-abunya dari belakang. "Tapi, berjanjilah satu hal. Jangan buat pergerakan yang macam-macam tanpa perintah dari kami" suruh Levi.
"Ok, kau bisa percaya padaku, Heichou" Elica tersenyum.
"Aku akan melihat-lihat ruangan yang lain. Kau di ruangan ini, Elica" suruhnya lagi.
"Baik~" jawab Elica. Setelah Levi pergi, ia langsung melihat keluar. Wajahnya sedikit cemberut. Kecewa karena Levi belum bisa mempercayainya.
"Kau terlihat kecewa, Elica" Petra masuk ke ruangan itu.
"He?" Elica terlihat sedikit kaget.
"Ah, aku akan memanggilmu Elica. Levi-heichou juga melakukan hal yang sama. Begini, kata-katanya itu adalah perintah" kata Petra.
"Iya.. Aku tidak masalah dengan itu. Tapi memang wajahku tampak kecewa?" tanya Elica.
"Itu sama sekali bukan hal yang mengagetkan. Dia tak tampak seperti sosok pahlawan yang sempurna dan tak terkalahkan seperti yang dikatakan orang-orang kan? Sosok Levi-heichou yang sebenarnya itu ternyata bertubuh pendek, bertempramen, kejam, dan susah diajak bicara" kata Petra.
"Bukan itu yang aku maksud. Aku heran kenapa dia begitu curiga kalau aku akan bertindak yang macam-macam ketika dia sedang mengawasiku. Kenapa dia bisa patuh dengan keputusan para petinggi? Menurutku, wajah seperti Levi-heichou bukanlah wajah orang yang akan mematuhi peraturan" kata Elica.
"Memang kau pikir, kalau dia kuat dan wajahnya seperti itu, lalu dia tidak peduli soal pangkat atau rangkai komando?" tanya Petra.
"Iya juga sih. Aku pikir dia tidak sudi mengikuti perintah siapa pun" gumam Elica.
"Aku sendiri juga tidak tau detailnya, tapi aku dengar memang aslinya dia sudah seperti itu. Sebelum bergabung dengan pasukan Survey Corps, dia adalah penjahat yang terkenal di kalangan dunia bawah tanah" kata Petra. 'Ternyata bukan hanya pasukannya saja yang menarik. Ketuanya juga menarik' batin Elica.
"Kalau begitu, kenapa?" tanya Elica penasaran.
"Aku juga tidak tau pasti apa yang terjadi. Dulu dia dimasukkan ke dalam pasukan Survey Corps di bawah pimpinan Erwin-danchou" ucap Petra.
"Danchou itu?" tanya Elica.
"Hei, Elica!" Levi sudah kembali. Petra langsung berpura-pura menyapu.
"I-Iya?" Elica menjawab panggilan Levi. 'Jangan-jangan dia menguping?' batin Elica panik.
"Percuma. Sapu semuanya" sepertinya Levi terlihat marah.
.
.
Livesafer From Future
.
.
"Jadi, dalam 30 hari ke depan, kita akan pergi ke luar dinding untuk membangun benteng pertahanan untuk rantai suplai? Di tambah lagi, nantinya akan ada para pemula bersama kita" ujar Mike. Ia sedang berbicara dengan Erwin sekarang.
"Itupun kalau ada yang mendaftar" Erwin menanggapi kata-kata Mike sambil menggaris sesuatu di atas sebuah kertas rencana.
"Menurutku, ini sangat terburu-buru" kata Mike.
"Posisi Elica saat ini sifatnya masih sementara. Kita harus bertindak cepat dan halus untuk membuktikan bahwa dia berguna. Kalau tidak, cepat atau lambat, Kepolisian yang akan bertindak-" perkataan Erwin dipotong.
"Tak bisakah kau lepas topeng itu setidaknya untukku, Erwin?" tanya Mike. Erwin menatap Mike. Yang ditatap hanya membuang muka. Erwin tersenyum.
"Kau benar-benar hebat kalau urusan mencium hal-hal seperti ini, Mike" kata Erwin.
"Sayangnya kau tidak punya bau seperti itu" kata Mike.
"Aku berani taruhan kau akan menciumnya nanti" ucap Erwin.
Hari sudah malam. Sementara itu, kita lihat Squad Levi. Mereka termasuk Elica sedang berkumpul di ruang makan. Eren kembali mengobrol dengan Elica. Dan obrolan itu berhenti ketika Levi bilang bahwa diskusi akan segera dimulai. Erd yang membuka diskusi tersebut. Sepertinya diskusi tentang misi ke luar dinding. Elica berusaha menyimak dengan baik.
"Kita akan diperintahkan untuk bersiap-siap selama beberapa hari lagi. Tapi ku dengar kita akan melakukan ekspedisi diluar tugas resmi dalam skala besar. Dan selain itu kita juga menyertakan para kandidat baru dalam tugas itu" kata Erd.
"Benar begitu, Erd? Tidak lama lagi kan? Meski aku akui mereka mengatasi serangan titan terakhir kemarin dengan cukup baik" kata Gunther.
"Tapi ku dengar, para pencuci baju sampai kewalahan mencuci celana mereka untuk membersihkan ompolan" kata Auruo sambil menyesap kopinya.
"Benar begitu, heichou?" tanya Petra.
"Aku tidak disertakan dalam perencanaan kita kali ini. Cuma Erwin. Dia nampaknya memperhitungkan soal kemungkinan beragamnya masalah yang muncul" kata Levi datar.
"Memang benar kita saat ini berada dalam situasi yang belum pernah kita alami. Di satu sisi kita sudah kehilangan rute perjalanan menuju dinding Maria yang sudah kita bangun dengan susah payah. Tapi di sisi lainnya, kita mendapat setitik cahaya harapan yang tak terduga" Erd menatap Elica.
"Eh?" Elica sedikit terkejut. Semua ikut memandangnya. Tak terkecuali Levi. Elica cuma menunduk. Menyembunyikan senyum kecil bahagianya.
"Sampai sekarang aku masih susah untuk mempercayainya. Kau membantu pasukan Survey Corps, apa kau punya maksud tertentu?" tanya Erd.
"Tidak juga. Menuai jiwa memang tugas shinigami. Tapi kami juga bertugas membantu manusia. Jadi, jangan dipikirkan. Kami membantu kalian tanpa pamrih. Tidak ada maksud apa-apa. Kalian para manusia belum pernah berurusan dengan para shinigami sebelumnya. Jadi, kami ke sini bukan untuk balas dendam" kata Elica.
"Kalian juga tau soal ini. Kita tak mendapat informasi baru lainnya dari dia selain yang sudah tertulis pada laporan. Tapi dia tetap tidak mau menyerah. Sifat penasarannya itu bisa membunuhmu, Elica" kata Levi.
"Dia?" tanya Elica tidak mengerti.
"Uwaah..." mereka mendengar suara Hanji yang berada di luar. Petra segera membuka pintu.
"Selamat malam, saudara-saudara dari unit Levi. Apa kalian sudah merasa nyaman di istana ini?" tanya Hanji.
"Tumben kau lebih awal" kata Levi.
"Mana bisa aku lama-lama menunggu sekarang?" Hanji menghampiri Elica.
"Hanji-buntaichou?" gumam Elica.
"Maaf sudah menunggu, Elica. Aku diberikan tanggung jawab untuk meneliti 2 titan yang kami tangkap hidup-hidup di kota waktu itu. Aku minta kau membantuku dalam eksperimen besok. Aku datang kemari untuk meminta izin" kata Hanji.
"Eksperimen? Memangnya aku harus melakukan apa?" tanya Elica.
"Apa lagi kau bukan mempelajari titan itu lebih dalam? Aku akan menjelaskan semua detail tentang titan yang aku tau kepadamu. Lalu kita bisa buat hipotesa bersama dan kita bisa saja mengetahui rahasia titan seperti yang kau katakan itu" kata Hanji penuh antusias.
"Uh... Aku mau saja. Tapi aku tidak bisa memutuskan sendiri untuk ini. Soalnya aku sendiri tidak punya wewenang untuk itu" kata Elica.
"Levi, memangnya Elica ditugaskan apa besok?" tanya Hanji.
"Aku berencana menyuruhnya bersih-bersih dan memberinya 'latihan' besok" jawab Levi.
"Kalau begitu, sudah diputuskan!" Hanji memegang tangan Elica. Seperti waktu itu. Tangan Elica transparan dan membuat anggota Squad Levi kaget.
"Elica, kau transparan?!" tanya Erd.
"Apa kau hantu?" tanya Eren polos.
"Apa kau akan segera menghilang?" tanya Petra.
"Sebaiknya kau tidak menghilang dulu, anak baru. Selesaikan dulu tugasmu baru kau boleh menghilang" ucap Auruo.
"Shinigami bisa seperti itu ya?" tanya Gunther. Hanji sih sudah terbiasa. Elica tidak dapat menahan tawanya.
"Ahahahahahaha... Kalian semua lucu sekali... Hahahahaha... Aku tidak tahan... Hahahaha...- Ittai~" tawa Elica terhenti karena Levi memukul kepalanya. "Ugh... Shinigami memang transparan kalau di tempat yang sedikit gelap seperti di ruangan ini. Jadi kalian jangan heran. Aku tidak akan menghilang kok. Tenang saja" kata Elica.
"Aku berharap padamu besok, Elica" ucap Hanji.
"Baik. Serahkan saja padaku" kata Elica semangat. "Tapi sebenarnya eksperimen seperti apa yang dilakukan pada titan itu?" tanya Elica penasaran.
"Oi, hentikan. Jangan tanyai dia" suruh Auruo pelan.
"Ah, sudah ku duga. Ekspresimu barusan kau terlihat ingin tau" ucap Hanji. Sisi Titan-freak Hanji sudah keluar rupanya.
Levi bangkit lalu keluar dari ruangan itu diikuti oleh anak buahnya. Menyisakan Elica dan Hanji di ruangan itu. Hanji mulai menjelaskan penelitiannya terhadap 2 titan itu selama ini. Elica terlihat menyimak dengan serius. Dalam kepalanya mulai tersusun beberapa hipotesa tentang titan. Sepertinya Elica mulai mendapat sesuatu yang baru dari yang selama ini ia tau. Dan ia mendapat beberapa ide gila untuk menjalankan tugasnya. Mungkin ia akan coba mendiskusikannya dengan Hanji. Atau mungkin Levi? Atau langsung diskusi dengan Erwin. Rasanya pilihan paling tepat jatuh di antara Hanji dan Erwin. Levi sudah pasti akan menolak ide gila-nya itu.
"Buntaichou, apa Survey Corps pernah melakukan ekspedisi saat malam hari? Atau saat cuaca sedang buruk? Jika sumber energi titan adalah matahari, berarti beberapa titan akan kurang aktif di malam hari. Dan mungkin aktifitas titan akan terhambat kalau cuaca sedang buruk. Kalau kita menyerang di 2 keadaan tersebut, mungkin saja kita bisa mengalahkan mereka. Juga, mungkin anda bisa melaporkan kemajuan dari eksperimen anda. Aku rasa itu akan berguna kalau aku mempelajari mereka di eksperimen yang akan datang" ucap Elica antusias.
"Hm... Malam hari dan cuaca sedang buruk ya... Sepertinya tidak pernah. Tapi, bisa saja dicoba. Lalu, di eksperimen sebelumnya, aku memang melewat beberapa hal kecil di rangkumanku. Kalau begitu, akan aku informasikan semuanya sekarang. Dan mungkin ini akan memakan waktu yang agak lama" kata Hanji.
"Tidak masalah. Aku tahan tidak tidur semalaman" kata Elica sambil tersenyum.
"Saat pertama kami menangkap titan, aku membuat 1 hipotesa..." Hanji mulai menjelaskan. Elica menanggapi dengan serius.
.
.
Lifesaver From Future
.
.
Tak terasa hari sudah pagi. Levi hendak menuju ruang makan. Ia belum melihat Elica keluar dari ruang makan sejak kemarin. Levi yakin ia sudah tertidur karena mendengar penjelasan Hanji yang panjang lebarnya bukan main kalau sudah menyangkut titan. Begitu sampai, Levi masuk dan dia kaget. Elica masih terjaga dan masih bisa menanggapi penjelasan Hanji dengan baik. Selama ini, belum ada satu orang pun yang tahan mendengar penjelasan Hanji kecuali Erwin dan dia. Ia takjub dengan Elica. Sepertinya niat Elica untuk membantu Survey Corps memang kuat. Terbukti dari hipotesa yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Kalau begitu, harusnya kita lakukan ekspedisi di malam hari kapan-kapan. Kami para shinigami aktif di malam hari sementara titan kurang aktif di malam hari dan kami bisa dengan mudah membunuh titan-titan itu" kata Elica.
"Yosh, aku akan coba menyampaikan hal ini pada Erwin. Huwwah... aku tidak sabar" Hanji langsung pergi menuju kantor Erwin.
Levi menatap horror shinigami yang duduk tak jauh di depannya. Elica yang merasa ditatap menengok ke pintu masuk dan ia sedikit terkejut lalu mengucapkan selamat pagi padanya. Tak lupa ia memberi hormat. Levi hanya membalasnya dengan anggukan kecil lalu menghampirinya. Elica adalah orang kedua yang berhasil membuat Hanji menghentikan penjelasannya setelah Levi. Yah, walau metode yang mereka pakai berbeda. Kalau Levi langsung blak-blakan menyuruh Hanji berhenti, Elica malah menanggapi penjelasan Hanji sampai pembicaraan itu selesai.
"Sihir apa yang kau gunakan?" tanya Levi.
"Sihir? Khuhuhu... Aku tidak memakai sihir, Heichou. Shinigami bukan penyihir" jawab Elica.
"Cepat pakai jubahmu dan ikut aku. Kita ke tempat eksperimen Hanji" suruh Levi.
"Hee... Kau bukan tipe orang yang suka pergi ke tempat itu. Ada apa tiba-tiba?" tanya Elica.
"Ikut saja" Levi keluar. Elica mengikutinya. Setelah Elica memakai jubahnya, ia menaiki kudanya lalu mengikuti anggota Survey Corps yang lain untuk menuju ke tempat eksperimen Hanji.
Begitu sampai, Elica turun dari kudanya. Begitu juga yang lain. Hanji sudah ada di sana. Elica melihat sekeliling. Penjaga dari pasukan gerbang ada di sana. Dan yang terpenting 2 titan berukuran masing-masing 4 meter dan 7 meter terikat dan terpaku di sana. Elica segera menghampiri Hanji yang terlihat sedang mencoba melakukan komunikasi dengan 2 titan itu. Elica harus mengatakannya. Kalau tidak, Hanji bisa menjerit histeris keesokan harinya. Dan Elica tak mau hal itu sampai terjadi.
"Buntaichou, aku sarankan kau tingkatkan penjagaan pada 2 sampel eksperimenmu ini. Kami bisa sedikit melihat masa depan. Dan aku melihat kalau 2 sampel-mu ini akan terbunuh besok pagi" kata Elica pelan.
"Eh? Benarkah? Kalau begitu, aku akan minta penjaga berjaga ketat di sini nanti malam" Hanji menghampiri asistennya yang kalau tidak salah namanya Moblit.
Setelah cukup lama, mereka memulai eksperimen. Elica terlihat melakukan beberapa percobaan bersama Hanji. Dan eksperimen itu berlangsung sampai sore. Anggota squad Levi tercengang. Setelah semalaman mendengar penjelasan Hanji, Elica masih bisa melakukan eksperimen bersamanya sampai sore. Elica benar-benar hebat. Setidaknya itu yang ada di pikiran anggota Squad Levi. Dan eksperimen pun selesai setelah Elica berkata bahwa ia akan mencari eksperimen lain untuk titan-titan ini dan meminta eksperimen hari ini cukup sampai di sini saja.
"Ah... Eksperimen titan memang cukup menarik. Tidak seperti masa depan yang eksperimennya cukup membosankan" kata Elica sambil meregangkan tubuhnya.
"Sudah selesai?" tanya Levi.
"Yup. Sudah selesai. Tinggal menunggu sampai eksperimen berikutnya" kata Elica.
.
.
Lifesaver From Future
.
.
POV Elica
Namaku Arleigh Elica. Warna rambutku hijau tua. Warna mataku hijau seperti warna rambutku. Statusku: Shinigami, juga Prajurit Survey Corps. Tinggiku 153 cm. Hampir setinggi Levi-heichou. Beratku 50 kg. Aku datang dari masa depan untuk membantu umat manusia memperoleh kebebasannya dengan cara membasmi seluruh titan yang ada di dunia ini. Dalam 29 hari ke depan, aku bersama pasukan Survey Corps akan menjalankan misi ke luar dinding untuk membuktikan dedikasiku. Tapi sebelum itu, aku perlu terbiasa dulu dengan pasukan Survey Corps. Tentu saja mereka juga harus terbiasa denganku. Contoh seperti yang satu ini.
"Kau yakin dengan ini, Elica? Heichou pendek itu tidak akan marah kan?" tanya perempuan berambut merah di sebelah kiriku, Alva Amery.
"Lagipula, nanti kau bisa di beri banyak pertanyaan oleh bocah Jeager dan Titan freak itu" ujar perempuan berambut biru muda di belakangku, Brune Charles.
"Tidak masalah. Aku suka menjelaskan masa depan pada mereka" aku sedang mengatur alat musik yang ada di tanganku.
"Apa kau benar-benar yakin kalau lagu ini akan membangunkan mereka? Normalnya, manusia selalu bangun pukul 5 di pagi hari. Sementara ini baru jam 04.45" kata perempuan berambut pink di sebelah kananku, Clarimond Cort.
"Hah... Aku ingin cepat kembali keluar dinding dan membantai titan-titan itu" gumam perempuan berambut ungu di sebelah Clarimond, namanya Elsie Ghislain.
"Ya. Kalian boleh kembali setelah membantuku membangunkan mereka" kataku.
Tebak apa yang akan kami lakukan. Yup, kami akan menyanyi untuk membuat mereka bangun. Alva bermain bass. Aku menyanyi sambil bermain gitar, Brune bermain drum. Clarimond bermain bass juga. Elsie akan memainkan keyboard. Kalian pasti bertanya-tanya dari mana alat musik ini berasal. Aku meminta mereka membawanya dari masa depan. Aku berencana mengenalkan masa depan kepada para pasukan Survey Corps. Jika mereka terbiasa dengan masa depan, maka tugas kami akan jadi lebih mudah.
"Yoshh... Survey Corps, ayo bangun!" kami mulai bermain.
POV Author
Yup, di pagi-pagi buta, Elica sudah bangun dan langsung menelepon teman-temannya di masa depan untuk membawa alat musik band kemari. Ia berencana membangunkan anggota Survey Corps sekaligus mengenalkan masa depan pada mereka. Ia yakin Eren dan Hanji akan bahagia karena melihat alat-alat masa depan nanti. Soal lagu, Elica sudah menyiapkannya. Lagu yang ia yakini akan membuat mereka bangun.
'Sunday Monday Chu-Chu Tuesday
Mekutte calendar girl, watashi no mainichi
Wednesday Thursday Friday Saturday
Tsunagatte, brand-new week'
(Minggu, Senin, Chu-Chu SelasaSetiap hari aku membalik halaman seperti gadis kalender
Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu
Kemudian minggu yang baru)
Levi yang mendengar suara nyanyian disertai suara musik itu langsung terbangun dari tidurnya. Siapa yang berani berisik di pagi-pagi bolong begini? Ini masih jam 04.45 dan semuanya masih berada di mimpi masing-masing. Kecuali satu orang. Ya, hanya satu orang yang bisa berisik di pagi-pagi seperti ini. Levi segera memakai kemeja putih dan celana panjangnya lalu keluar dari kamarnya. Semuanya terlihat terbangun karena suara nyanyian dan musik itu. Bertanya-tanya dari mana asalnya.
"Heichou, anda juga terbangun?" tanya Eren menghampirinya.
"Siapa yang membuat keributan pagi-pagi begini?" tanya Levi.
"Aku tidak tau. Tapi aku belum pernah mendengar lagu ini. Yang jelas, asalnya dari ruang makan" jawab Eren.
Levi dan anggotanya menuju ke ruang makan. Suara lagu dan musiknya makin lama makin keras. Pertanda asalnya memang dari ruang makan. Begitu sampai, ia pun masuk dan melihat Elica sedang menyanyi sambil memainkan alat musik yang tidak ia ketahui namanya. Eren dan yang lainnya menatap dengan kagum penampilan Elica dan teman-temannya. Mereka tidak pernah melihat penampilan seperti itu sebelumnya. Tidak lama kemudian Hanji menyusul ke ruang makan dan matanya berbinar-binar melihat alat-alat di depannya.
Nante koto nai mainichi ga, kakegaenai no
Otona wa sō iu keredo, imaichi pin to konai yo
Calendar mekutte kyō mo, watashirashiku are, maemuki ni
Shikai ryōkō, ohayō minna
(Hari lancar tak tergantikan adalah apa yang orang dewasa katakan
Tapi aku tidak begitu mengerti
Aku hanya membalik satu halaman lagi di kalender dan menghadap depan sebagai diriku sendiri
Aku suka apa yang aku lihat
Selamat pagi semuanya!)
Elica mengakhiri lagunya. Semuanya masih sibuk tercengang. Kecuali Levi. Ia menatap Elica dengan tatapan antara marah dan seakan-akan meminta penjelasan tentang ini. Elica yang bisa membaca tatapannya hanya tersenyum kecil. Ia menyuruh teman-temannya kembali ke masa depan sementara ia mulai membuka suara untuk menjelaskan semuanya. Dari lagu, musik, sampai siapa yang punya ide untuk membangunkan Survey Corps dengan cara seperti ini. Cara masa depan.
"Semuanya, selamat pagi. Bagaimana lagunya? Aku sudah tau kalian akan bangun dengan lagu ini. Rencanaku berhasil" kata Elica.
"Lagu apa ini, Elica? Kami tidak pernah mendengar lagu ini sebelumnya" kata Hanji antusias.
"Ini lagu masa depan. Hehehe... Aku berencana membawakan banyak lagu masa depan untuk kalian. Supaya kalian terhibur" ujar Elica.
"Benarkah lagu masa depan sebagus ini? Wah, aku tidak sabar untuk mendengar lebih banyak lagu lagi" kata Eren.
"Lalu, alat-alat di belakangmu itu apa?" tanya Hanji.
"Hm? Ini? Ini alat musik masa depan. Karena alat musik masa depan ini lah, lagu masa depan menjadi lebih bagus daripada musik dulu" jawab Elica.
"Keren... Ajarkan aku cara memainkannya nanti ya" pinta Hanji dengan mata berbinar-binar.
"Baik. Sudah, sebaiknya kalian cepat mandi. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian. Kalau kalian masih di sini, nanti Heichou bisa mengamuk" suruh Elica.
Yang lain hanya bisa menurut. Kalau sudah menyangkut Levi, mana ada yang berani melawan. Kini hanya ada Levi dan Elica saja di ruang makan. Elica yang baru saja mau menuju dapur langsung ditahan oleh Levi. Elica pun kaget. Levi menatapnya sebentar. Elica hanya membalas tatapan Levi dengan tatapan bingungnya. Ia pun terpaku. Ternyata, Levi lumayan keren kalau dilihat dari dekat. Padahal tampangnya begitu menyebalkan kalau dilihat dari jauh. Tapi Elica tidak menyangka kalau Levi akan begitu keren kalau dilihat-
"Kenapa kau menatapku dengan tatapan linglung seperti itu?" tanya Levi.
"E-Eh? Bukannya heichou yang menatapku duluan?" Elica salah tingkah dan merona tipis.
"Tch. Lupakan itu. Ngomong-ngomong, kau bisa membuat sarapan?" tanya Levi.
"T-tentu saja. Orang-orang masa depan sangat pandai memasak. Dan aku akan membuat sarapan masa depan untuk kalian. A-Aku yakin kalian akan seperti melayang di surga" Elica segera menuju dapur. Tanpa menyadari kalau sang Heichou tersenyum sangat tipis. Entah karena apa heichou tersenyum tipis.
.
.
Lifesaver From Future
.
.
"E-Elica, sarapan apa ini?" tanya Hanji. Ia menatap sarapannya penasaran.
"Rinderwurst. Sosis yang terbuat dari daging sapi. Aku mencoba mengkombinasikannya dengan roti dan telur. Rasanya tidak terlalu buruk. Untuk minum, aku menyediakan kopi" kata Elica sambil menuangkan kopi ke gelas Levi.
"Mari makan" Semuanya memakan sarapan Elica kecuali Levi.
"Sial! Enak sekali" umpat Erd.
"Masa depan hebat sekali bisa membuat makanan seperti ini" kata Gunther.
"Aku belum pernah makan makanan seenak ini" kata Eren.
"Enak..." gumam Petra. Auruo tidak berkomentar sama sekali.
"Uwwaah... Ini benar-benar enak sekali..." Hanji melahap sarapannya.
"Benar kan, Heichou? Makanlah" suruh Elica.
Sarapan Levi raib tak berbekas. Elica pun kaget. Sepertinya Levi memakannya selagi ia mendengar komentar yang lain tentang masakannya. Kini, Levi tengah menyesap kopinya. Elica hanya menghela nafas pelan. Ia kembali menatap sekelilingnya. Semuanya tengah menikmati masakannya. Bahkan ada yang sampai menambah. Terutama Hanji dan Eren.
"Elica, aku tambah lagi" pinta Hanji.
"B-Baik" Elica baru saja mau menuju dapur. Tapi, ia berhenti karena Levi memanggilnya.
"Elica"
"Y-Ya?" jawab Elica.
"Tambahkan kopiku" suruh Levi.
"B-Baik" Elica melesat menuju dapur.
Selagi Elica berada di dapur, mereka kembali mengobrol. Eren menjelaskan tentang masa depan yang ia ketahui dari Elica ke Hanji. Petra menceramahi Auruo lagi. Erd dan Gunther entah sedang mengobrol tentang apa. Levi sendiri baru saja menghabiskan kopinya. Jujur, dia sedikit terkejut dengan kopi buatan Elica. Pahit dan manis di saat yang bersamaan. Dan itu memberi sensasi tersendiri untuknya. Tak lama kemudian, Elica kembali dengan membawa sepiring Rinderwurst juga sebuah teko yang sepertinya berisi kopi.
"Aku senang anda suka kopi buatanku, heichou" kata Elica sambil menuang kopi ke gelas Levi.
Setelah membawakan makanan Hanji, Elica pamit untuk kembali ke kamarnya. Ia ingin membersihkan diri. Setelah itu, mungkin Elica akan tidur lagi. Ia cukup lelah tidak tidur semalaman demi mendengar penjelasan Hanji yang panjang lebarnya bukan main. Lalu melakukan eksperimen dari pagi sampai sore. Sekarang ia bangun pagi lagi untuk mengejutkan Survey Corps. Tidur semalam saja tidak cukup untuk memulihkan tenaganya. Elica butuh tidur lebih dari 1 hari. Air dingin mengucur dan mulai membasahi tubuh Elica.
Elica mempercepat mandinya agar ia bisa segera menyentuh kasur empuknya lalu menuju alam mimpi. Setelah mandi, Elica segera memakai kemeja putih dan celana panjangnya. Ia berencana tidur dengan memakai itu. Begitu Elica keluar, harapannya untuk tidur sirna seketika. Bagaimana tidak? Levi ada di kamarnya. Sedang bersandar di dekat pintu. Elica akhirnya membatalkan tidurnya. Semoga saja Levi hanya ingin bicara dan tidak menyuruhnya bersih-bersih. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.
"Jangan harap kau bisa istirahat. Hari ini kita latihan" ucap Levi dingin. Elica membeku sejenak.
'EEEHHH?!' jerit Elica dalam hati.
"S-siapa yang mau istirahat. Aku cuma mandi kok. Aku akan ke lapangan sekarang" Elica segera memakai belt, boots, juga 3D Manuver Gear (sebenarnya Elica tidak mau memakainya. Tapi karena Levi memaksa, apa boleh buat. Heichou satu ini tidak terima penolakan sih). Setelah memakai seragam militer-nya, Elica segera menuju ke lapangan diikuti Levi di belakangnya.
'Sepertinya aku harus menunda tidurku. Aku harap aku masih kuat' batin Elica.
Begitu sampai di lapangan, Elica bisa melihat anggota Squad Levi sudah berkumpul di sana. Sekarang Elica penasaran. Kira-kira latihan apa yang akan Levi berikan pada anggota Squad-nya? Rasa mengantuknya menguap entah ke mana. Elica tidak tau latihan seperti apa yang akan ia dapat nanti. Hanya Levi dan author yang tau. Khekekeke *tawa ala Hiruma Youichi* #plak author ditabok massa. Abaikan itu. Levi memberi komando pada anggota Squad-nya untuk berkumpul.
"Kita sparring hari ini. Elica, kau lawan 5 orang sekaligus" suruh Levi. Elica diam-diam menyeringai.
"Eh? Heichou, itu berlebihan" protes Petra.
"Tidak apa-apa. Aku ingin menguji fisikku lagi. Hehehe..." Elica menyengir.
Sparring di mulai. Levi memperhatikan dari pinggir lapangan. Auruo terlihat menyerang dari bawah. Elica berhasil menghindar dengan bersalto ke belakang. Tapi Erd sudah ada di belakang Elica. Siap dengan tinjunya. Hanya saja, sebelum tinju Erd mengenai Elica, Erd sudah terbanting karena gerakan cepat Elica. Kontan mereka kaget. Erd kalah duluan? Biasanya Erd yang bertahan paling lama. Erd sendiri juga kaget karena dia cepat sekali kalah. Apalagi yang mengalahkannya adalah seorang gadis.
"Teknik bela diri masa depan, Judo" ucap Elica.
"Tch. Jangan sombong kau, anak baru" terjadi adu tinju antara Auruo dan Elica.
Elica berusaha menangkis semua serangan Auruo yang mengarah padanya. Dia tidak mendapat kesempatan menyerang sama sekali. Gunther menyerang kaki Elica untuk menghilangkan keseimbangannya. Tapi, alhasil malah membuat kaki Elica terkilir. Sakit langsung melanda kaki kanannya. Elica berusaha menahan sakitnya lalu fokus melawan Gunther setelah berhasil menyingkirkan Auruo dengan cara yang sama seperti menyingkirkan Erd. Ia sengaja menendang Gunther dengan menggunakan kaki kirinya.
"Petra" Gunther seperti memberi signal. Ia melompat ke samping.
Tendangan Petra sudah menyambut. Elica tidak sempat menghindar hingga akhirnya ia terkena tendangan Petra lalu terpental ke belakang. Ketika ingin bangkit, rasa sakit di kaki-nya tidak tertahankan lagi. Petra segera menghampiri Elica dan memeriksa keadaannya. Setelah itu, Petra langsung menghampiri Levi dan mengatakan kalau Elica terkilir.
.
.
Lifesaver From Future
.
.
POV Levi
Tch. Aku butuh kopi. Ini sudah tengah malam. Bocah-bocah itu pasti sudah ada di alam mimpi masing-masing. Terpaksa aku harus membuat kopi sendiri. Aku melangkahkan kakiku menuju dapur. Di sana gelap. Hanya cahaya bulan dari jendela yang menerangi dapur. Aku yang baru mau membuat kopi langsung berhenti karena aku menangkap sesuatu berwarna hitam di ruang tamu. Dapur ini memang mengarah ke ruang tamu tapi juga bisa mengarah ke ruang makan. Aku menuju ruang tamu untuk melihat siapa itu.
Sesuatu berwarna hitam itu terbaring di sofa. Orang kah? Siapa yang masih terjaga malam-malam begini? Aku yakin bocah-bocah itu sudah tidur. Begitu melihat apa itu, aku cuma berdecak pelan. Dia sudah di beri kamar, malah tidur di sofa. Aku langsung mengenali rambut nyentriknya. Sedang apa bocah ini tidur di sini? Tch, jangan bilang kalau dia terlalu malas kembali ke kamarnya. Aku hendak membangunkannya. Tapi, dia transparan. Tidak bisa aku sentuh. Tempat ini tidak terang sih. Aku harus menyalakan lampu supaya dia bisa aku sentuh.
"Oi, bocah, bangun" aku menepuk pelan pipinya.
"Ngh... Ini masih malam... Aku masih mau tidur... Aku capek..." gumamnya. Tch, katanya kuat tidak tidur semalaman. Sekarang energimu habis, heh?
"Jangan tidur di sini. Kalau sakit, kau akan merepotkan anggota Survey Corps" kataku.
Bocah itu akhirnya membuka matanya. Dia langsung tersentak lalu otomatis terduduk. Dia juga meringis kesakitan karena kakinya membentur bantal kecil yang ada di sofa. Tch, begitu saja sakit. Aku terkejut bocah lembek sepertimu bisa jadi shinigami dan di tugaskan ke dunia mengerikan ini. Aku cuma berdecak pelan melihat reaksinya. Dia berlebihan sekali. Hening menyelimuti. Akhirnya yang memulai percakapan adalah bocah itu.
"H-Heichou sedang apa di sini? Bukankah kau sudah tidur?" tanya bocah itu, Arleigh Elica.
"Kau sendiri sedang apa di sini? Aku yakin aku sudah memberimu kamar" balasku.
"Aku terkilir dan aku agak susah berjalan ke kamar dengan kondisi kaki seperti ini. Jadi, aku memutuskan untuk tidur di sini. Hanya untuk semalam. Ah, aku tau. Heichou, aku yakin kau butuh kopi" kata Elica.
Bagaimana dia bisa tau? Jangan-jangan dia membaca pikiranku? Bocah ini melempar sesuatu padaku. Aku menangkapnya lalu melihat apa yang dia lempar padaku. Sebuah kaleng berwarna biru bercampur coklat dengan tulisan yang tidak bisa aku baca sama sekali. Apa ini tulisan masa depan? Tunggu, apa dia mau bilang kalau ini kopi? Bagaimana cara membuka kaleng ini? Aku aku harus memakai pembuka kaleng? Aku menatap bocah ini. Dia hanya tertawa pelan. Hoo... kau menghinaku? Belum pernah kena fabulous kick dari-ku rupanya.
"Kau tinggal buka bagian atasnya, Heichou. Ini kopi masa depan. Mereka menjual kopi dalam bentuk kalengan seperti itu. Tapi aku yakin kopi buatanku lebih enak dari itu" bocah ini percaya diri sekali.
Sesuai apa yang dia katakan. Aku membuka bagian atas kaleng itu lalu meneguknya. Rasanya tidak buruk. Dan aku rasa dia benar. Kopi buatannya lebih enak. Hampir menyaingi Petra. Aku yakin dia tidak membuatkanku kopi karena kakinya yang terkilir itu. Makanya dia memberiku kopi kalengan. Tch... Aku menghabiskan kopi kalengan ini lalu membuang kalengnya ke tempat sampah. Bocah ini tersenyum penuh kemenangan. Dia benar-benar membaca pikiranku ya?
"He-Heichou, apa yang kau lakukan? Turunkan aku" suruh Elica. Kalian sudah bisa menebak apa yang aku lakukan. Aku juga tidak percaya aku melakukan ini padanya. Aku sedang menggendongnya ala bridal style.
"Kembalilah ke kamarmu. Aku tidak mau anggota Survey Corps menemukanmu tidur di ruang tamu" suruhku.
"He? T-Tapi, aku bisa berjalan sendiri" dia mencari alasan.
"Tadi kau sendiri yang bilang kalau kau agak kesulitan berjalan" kataku datar.
"Bukan berarti aku tidak bisa berjalan, heichou" balasnya tidak mau kalah.
"Diam saja dan jangan buat aku menjatuhkanmu" aku mulai berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Bocah ini benar-benar langsung diam. Dia takut dijatuhkan rupanya. Begitu sampai, aku menendang pelan pintu kamarnya yang langsung terbuka. Ku lihat bocah ini sudah tidur. Tch, sepertinya aku menguras tenaganya hari ini. Tapi, salahnya juga mendengarkan penjelasan Hanji sampai pagi. Aku membaringkannya di kasur lalu keluar dari kamarnya.
"Heichou" panggilannya menghentikan langkahku.
"Apa lagi?" tanyaku dengan nada yang bisa dibilang cukup menyebalkan.
"Arigatou" mendengar ucapan itu, aku tak mengatakan apa-apa. Hanya keluar dari ruangan bocah nyentrik ini.
.
.
To Be Continue
Ini cuma perasaanku atau memang chapter 2 ini jadi kurang bagus. Huwwwaa... Minna-san, gomen nasai... Kayaknya saya malah mengecewakan senpai tachi yang udah review dan kasih aku arahan juga readers yang udah baca chapter 1. Honto ni gomen nasai... T-T saya akan mencoba lagi di chapter 3. Please jangan flame saya... Ehm... mungkin chapter 2 ini juga bisa di bilang panjang. Haiya... ini pelampiasan. Stress ama PR SBK yang di kasih sekolah. Susahnya minta ampun. Ah... Saya harap ada yang tidak keberatan meninggalkan review, kritik dan saran sekali lagi. Bila ada kesalahan yang berkenan di hati, mohon dimaafkan. Sampai jumpa di chapter 3. Mohon maaf sekali lagi kalau chapter 2-nya kurang bagus. Saya masih akan berusaha update kilat juga.
