Disclaimer: Naruto by Kishimoto Masashi


Faith

Chapter 2: From Yesterday

"Kembali ke topik utama kita, kurasa kau tidak sepintar yang kuduga... aku sudah bilang kalau kita bertemu lagi, akulah yang akan memegang pisau ini, bermain-main denganmu sebentar dan membunuhmu dengan perlahan tentunya."

Sakura merinding dibuatnya. Kata-kata itu sama persis dengan apa yang ia ucapkan tadi. Dan yang pembunuh itu kembali memainkan pisau kotor milik Sakura.

"Tapi ada satu hal yang berbeda darimu, aku tidak tahu apa aku menyukainya atau tidak, kau cukup ulet. Tidak menyerah semudah itu. Akan kuberi satu hadiah untukmu, Sayang."

Napas bedebah itu menari-nari di kulit lehernya. "Capricorn."

Sakura tidak mengerti. Belum.

"Oh, ya, Jalang... apa kau mau mengulangi permainanmu itu dari awal atau langsung ke intinya saja?"


"Akh!"

Sebuah tembakan listrik mengenai punggung Kakashi dari belakang, mengirim sengatan listrik langsung menuju syaraf-syaraf di tulang punggungnya. Tubuh Kakashi pun menegang, sedetik kemudian tembakan dari Taser itu berhasil melumpuhkannya. Tembakan kedua, ketiga, dan entah berapa kali dia terkena. Dia merasa bingung, sakit dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Morino Ibiki menembakkan sengatan yang terakhir ke leher samping Kakashi dan membuatnya tak sadarkan diri.

Sekelompok orang bersenjata menampakkan diri mereka. Dengan sigap mereka menghampiri Kakashi yang tergeletak di lantai dapur apartemen Sakura. Borgol pun terpasang di kedua tangan dan kaki Kakashi. Dengan cepat pula mereka membawanya pergi dan di kelilingi oleh acungan berbagai macam senjata.

Sakura membulatkan matanya, sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Detak jantungnya pun kini sudah menurun, kembali ke keadaan normal, begitu juga dengan napasnya yang tidak sadar ditahannya. Ibiki sendiri yang menghampirinya.

"Kau baik-baik saja?" Tanyanya sambil memberikan segelas air untuk menenangkan Sakura dan membantunya duduk di salah satu kursi di dapur itu.

"Ya." Dihabiskannya air itu. Lalu memandang atasannya itu dengan penuh tanda tanya. "Bagaimana kau bisa tahu kalau dia ada di sini."

"Kau bisa menyebutnya intuisi."

Sakura tersenyum. 'Tentu saja.'

"Urusanku sudah selesai di sini. Aku punya anjing liar yang harus kujinakkan."

"Aku tahu." Sakura berhenti sejenak. "Kupikir aku akan mengambil cuti untuk dua hari kedepan."

Ibiki menatapnya dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. "Baiklah. Kurasa kau perlu menenangkan dirimu sebentar."

"Terima kasih."

"Aku pergi dulu."

Sakura mengalihkan pandangannya dari Ibiki yang kini sudah menutup pintu apartemennya. Helaan napas yang cukup keras menandakan dirinya yang kini sudah lega. Lalu dia pun tenggelam dalam pikirannya sendiri. Jam di dindingnya sudah menunjukkan kalau hari akan berganti sebentar lagi. Dengan pikiran yang masih bergelut, Sakura berjalan menuju kamarnya. Diambilnya telepon genggamnya dan melihat daftar kontaknya.

'Halo, Sakura.'

"Haku, aku butuh bantuanmu."


Sasuke pagi ini menjemputnya. Sudah agak lama sejak ia melakukan hal itu, maka, pagi itu pun Sakura terlihat sangat senang saat Sasuke datang dengan sepeda motornya di depan apartemennya.

Sakura segera menghampiri Sasuke yang sudah menyodorkan helmnya. "Selamat pagi, Sasuke-kun."

"Pagi."

"Bagaimana kabar paman dan bibi?"

"Baik." Sasuke bersiap untuk menjalankan motornya lagi. "Pegangan."

"Iya, aku tahu."

Sasuke menjalankan motornya setelah Sakura naik dan sudah berpegangan padanya. Walau wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, Sakura tahu kalau dia merasa senang hari ini, seperti dirinya.

Ketika sampai di perempatan terakhir sebelum mereka tiba di kantor polisi, Sakura menengokkan kepalanya dan dia tidak menemukan pria yang dulu sering dilihatnya itu. Sudah lebih dari satu minggu sejak Sakura melihatnya terakhir kali.

"Ada apa, Sakura?" Pertanyaan Sasuke membuatnya mengalihkan pandangannya dari bangku itu. Wajah Sakura menunjukkan kekhawatiran dan rasa rindu yang tidak ia ketahui.

"Tidak ada apa-apa, Sasuke-kun." Jawabnya dengan sedikit cepat. Sasuke hanya memandangnya dengan heran. Sakura pun tersenyum canggung dan merasa sedikit bersalah karena mengkhawatirkan pria yang tak dikenalnya, padahal ada kekasihnya di dekatnya. Keheningan di antara mereka semakin membuat Sakura merasa tidak enak.

Lampu lalu lintas akhirnya berubah warna. Sasuke kembali fokus ke depan, meninggalkan Sakura sendiri dengan pikirannya.


Malam itu Sakura akan makan malam di sebuah restoran romantis bersama Sasuke. Sasuke pasti sudah menunggunya, mengingat dia adalah orang yang sangat menghargai waktu. Sayangnya, Sakura yang baru pulang dari rumah ibunya di belahan kota yang lain terjebak macet di jalan. Dia pun kembali kesal. Coba kalau dia tadi naik kereta bawah tanah saja, mungkin dia sudah sampai di sana, walau harus berdesak-desakan di kereta.

Sesampainya di restoran itu yang belum banyak pengunjungnya itu, Sakura malah melihat Sasuke duduk berhadapan dengan seorang wanita berambut merah dan memakai kacamata. Sasuke terlihat bingung dan wanita itu hendak menangis. Samar-samar terdengar kalimat yang keluar dari mulut wanita asing itu, bersamaan dengan air mata yang akhirnya mengalir dari matanya.

"Aku hamil, Sasuke, jadi tolong menikahlah denganku."

Dia terpaku di tempat, kakinya seperti tidak bisa digerakkan. Entah dia mau menghampiri meja mereka dan menampar wanita itu atau berlari keluar dan melupakan segalanya.

"Aku ..."

"Sasuke-kun ..."

Kedua orang yang duduk di meja itu pun menolehkan kepala mereka ke arah Sakura berdiri. Sasuke langsung berdiri menghampiri Sakura dengan wajah yang sangat kaget, meninggalkan wanita yang juga terkejut itu menangis sendirian.

Sasuke segera menggandeng tangan Sakura dan menyeretnya keluar dari restoran itu. Mobil Sasuke sudah menunggu di lapangan parkir. Sementara Sakura masih belum bisa mencerna apa yang dia katakan.

"Sakura, aku bisa menjelaskan semuanya. Namanya Karin, dia temanku dulu-"

"Dan dia memintamu untuk menikahinya sekarang." Sakura memotong kalimatnya. Matanya kosong, tidak melihat Sasuke yang masih menggenggam erat tangannya, memaksanya berhenti di depan restoran.

"Bukan begitu, Sakura. Aku tidak akan pernah melakukannya. Hanya kau yang kusayangi, hanya aku yang akan menikahimu. Dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya temanku."

"Lalu kenapa dia memintamu untuk menikahimu, Sasuke?" Tanya Sakura yang kini sudah bisa mengendalikan dirinya. Dilepaskannya genggaman Sasuke, lalu tangannya mengepal di samping. Segala macam emosi tercampur di dalam dadanya.

"Dia ... dia dulu memang kekasihku. Tapi, aku sudah tidak menyayanginya lagi. Hanya ada kau, Sakura. Dia hamil, dan orang yang melakukan itu sudah meninggalkannya. Dia memintaku untuk menikahinya, tapi aku bersumpah, aku tidak akan menikahinya. Dia hanya masa laluku. Sakura-"

Sasuke mencoba mendekatinya, tetapi, Sakura menjauh. Ditampisnya tangan yang mencoba menyentuhnya dengan lembut itu. "Kumohon maafkan aku."

"Aku harus pulang." Kata Sakura dengan sangat pelan, seolah tidak menggubris perkataan Sasuke sebelumnya. Dan Sasuke tidak tahu harus melakukan apa. Ia harus meyakinkan Sakura. Ia tidak akan pernah melepaskannya. Sakura-nya.

Akhirnya dia hanya megatakan apa yang ada di pikirannya. "Izinkan aku untuk mengantarmu."

"Tidak, Sasuke. Ada wanita lain yang bisa kau antar pulang malam ini."

Dia tidak bisa berkata apa-apa. Sakura meninggalkannya.


Pagi-pagi sekali Sakura terbangun. Setelah mandi dan memakan sarapan yang sederhana, Sakura menuju kamarnya lagi dan mengambil apa yang ia butuhkan hari ini. Kejadian tadi malam terus terulang-ulang di kepalanya. Sungguh jelas sekali.

Hari ini ia akan menemui Haku, seorang anggota mafia yang tinggal di Negara Ombak. Tidak, dia tidak akan mengkhianati negaranya.

Hari ini Sakura aakn mencari tahu apa yang dinamakan kebenaran.


Note:

Taser gun atau stun gun adalah alat setrum yang menghasilkan listrik ribuan volt, dengan ampere yang sangat kecil, sehingga menghasilkan daya kejut ke aliran listrik di otak jika disentuhkan ke makhluk hidup, tanpa mematikan atau membuat cacat permanen. Jika digunakan sesuai petunjuk, maka alat ini hanya akan menyebabkan kejang, kaku, atau pingsan untuk beberapa saat. Stun gun saat ini merupakan standard alat keamanan pribadi di Amerika Serikat dan beberapa negara lain.

Terima kasih :)