Minna-san~ kita bertemu lagi. Gomen nasai sepertinya saya selalu mengecawakan kalian. Saya harus lebih berusaha lagi. Semoga chapter 4 yang lalu bikin kalian puas... Walau saya gak yakin. Tapi, sepertinya saya meninggalkan misteri baru soal Elica. Dan sini, saya bakal bikin mimpi buruk Elica pergi. Dengan memasukkan OC baru, plus kayaknya Hanji bakal bikin penemuan baru berkat temen-temennya Elica #dibakar karena menebar spoiler# Anyway, nikmati cerita-nya ya... Tentu saja saya akan memasukkan lagu. Tapi sepertinya saya akan kesulitan. Ya gak apa-apa deh. Demi pembaca

Saya hanya berharap pembaca mau meninggalkan review lagi... Dan mulai sekarang, jangan ragu salurkan ide kalian ke saya. Saya akan coba memasukkan ide kalian ke cerita saya ^_^

Disclaimer lagu: Smile Magic - Ittoki Otoya (Uta no Prince Sama)

Summary: Elica memutuskan untuk menyelinap dari markas Survey Corps lalu pergi ke sebuah market di tengah kota untuk mencari udara segar. Saat sedang berjalan, ia melihat seorang anak berumur 7 tahun sedang menangis karena tersesat. Elica pun memutuskan untuk membantu anak itu. Sementara yang lain mencoba mencari cara untuk membuat Elica berhenti bermimpi buruk setelah mendengar cerita dari teman-teman Elica. Batas waktu mereka sampai saatnya me-rekruit kandidat baru. Tepatnya besok malam.

Title: Lifesaver From Future

Chapter: 5

Rate: T

Disclaimer: Shingeki no Kyoujin milik Hajime Isayama sensei. Kecuali OC dan plot yang berubah.

Warning: OOC (mungkin), typo (mungkin), kata-kata yang belum sempurna. plot yang kurang bagus, mengandung beberapa kata ambigu, dll.

Pair: Levi x OC


Sejak kejadian di kantor Levi, Elica masih saja bermimpi buruk. Yang lain sudah tau kalau Elica mengalami mimpi buruk. Mereka pun khawatir dengan Elica yang tidak makan dan hanya keluar untuk berlatih saja. Mereka memutuskan untuk bertanya pada teman-teman Elica soal ini. Kebetulan saat itu, teman-teman Elica datang untuk memberikan sesuatu pada Elica. Di saat mereka ingin kembali, para anggota Survey Corps mencegah mereka. Yaitu Eren, Armin, Mikasa, dan Hanji. Teman-teman Elica menatap mereka dengan tatapan bingung.

"Tunggu sebentar!" suruh Eren.

"Ng? Ada apa?" tanya Alva.

"Ano... Ada yang ingin kami bicarakan" kata Armin. "Ini soal Elica-san" lanjutnya.

"Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Brune.

"Tidak enak bicara di sini. Ayo kita ke ruang makan" ajak Hanji.

Mereka saling menatap satu sama lain. Seakan tau apa yang terjadi pada Elica. Akhirnya mereka mengangguk. Mereka pun menuju ke ruang makan. Alva, Brune, Clarimond, dan Elsie berjalan sambil berbisik-bisik. Mereka sedang beradu terhadap sesuatu. Tak lama kemudian, mereka sampai di ruang makan dan duduk. Hening pun menyelimuti. Tidak ada yang memulai percakapan. Teman-teman Elica tidak berniat memulai karena mereka sepertinya tau ke mana pembicaraan ini menuju.

"Etto... Elica-san... Apa dia sering bermimpi buruk?" tanya Armin. Ia memutuskan untuk memulai percakapan.

"Elica? Iya. Dia sering bermimpi buruk. Kenapa?" tanya Clarimond balik.

"Bukannya kami tidak sopan. Tapi, apa sesuatu terjadi pada Elica-san sampai dia mengalami mimpi buruk?" tanya Eren.

Jleb! Mereka pun terdiam. Pertanyaan yang mereka pikirkan akhirnya keluar. Mereka meminta waktu untuk berdiskusi sebentar. Alva pun menarik mereka ke pojok ruangan lalu membentuk lingkaran dan mulai berbisik-bisik. "Oi, bagaimana ini?" tanya Brune. "Apa kita jawab saja?" tanya Elsie. "Tapi dia tidak suka ada orang yang tau soal 'itu' selain kita kan?" tanya Clarimond. "Kita harus mengatakannya. Kalau tidak, mereka malah akan bertanya pada Elica nanti. Dia tidak akan pernah menjawab pertanyaan seperti itu" kata Alva.

Mereka kembali ke meja. Memutuskan untuk mengatakannya pada mereka. "Akan kami katakan. Tapi, berjanjilah jangan pernah mengungkit ini di depan Elica" kata Alva. Mereka menganngguk. Alva menatap teman-temannya lagi sebelum mulai bicara. "Elica itu-" kata-kata Alva terpotong oleh suara seorang Heichou yang kita kenal. "Apa yang kalian lakukan di sini? Aku pikir harusnya kalian bersih-bersih sekarang" kata Levi dingin.

"Oh tidak. Heichou pendek kita sudah datang" bisik Clarimond.

"Kami sudah selesai, Heichou. Sekarang, kami sedang bertanya soal Elica pada mereka" kata Eren.

"Apa lagi yang bocah nyentrik itu lakukan sekarang?" tanya Levi.

"Dia bermimpi buruk terus beberapa malam ini. Kami khawatir padanya" jawab Armin.

Levi terdiam. Ia cukup penasaran dengan keanehan Elica belakangan ini. Dan keanehan ini ternyata disebabkan oleh mimpi buruk? Levi pun duduk di sebelah Eren. Pertanda ia juga ingin mendengarkan pembicaraan ini. Teman-teman Elica hanya menghela nafas. Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan mereka. "Ingat, jangan ungkit-ungkit ini di depan Elica. Dia tidak suka ada orang tau soal 'ini' selain kami berempat" mereka mengangguk.

"Elica itu..."


POV Elica

Aku sedang ada di market. Sedang mencari udara segar. Aku bosan berada di Survey Corps. Kalau aku tetap di sana, aku yakin aku akan jadi gila. Jadi lebih baik aku mencari udara segar di sini. Hm? Aku memakai baju biasa. Tenang saja. Aku tidak mungkin keluar degan memakai seragam Survey Corps. Itu namanya bunuh diri. Aku pun mendengar sebuah suara. Seperti suara tangisan. Aku pun mencari asal suara itu. Dan aku menemukan seorang anak kecil berumur 7 tahun sedang menangis. Tersesat kah? Aku pun menghampirinya dan berjongkok untuk mensejajarkan tinggiku dengannya.

"Nee, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanyaku.

"Hiks... Aku... Aku tersesat" jawabnya sambil menatapku.

"Bagaimana bisa? Waktu ke sini, kau bersama siapa?" tanyaku.

"Aku bersama bibi Alise" jawabnya.

"Hm... Kalau begitu, aku akan membantumu mencari bibi-mu. Bagaimana?" tanyaku sambil mengelus kepala anak itu.

"Eh? Benarkah?" dia terlihat bersemangat lagi.

"Yup" kataku.

Senyuman pun menghiasi wajah anak berusia 7 tahun di depanku. Aku pun menggandeng tangannya lalu berkeliling pasar untuk mencari bibi yang bersama anak ini. "Nee, kenapa baju kakak aneh sekali?" tanya anak yang sedang aku gandeng sekarang. Mungkin bajuku memang terlihat aneh. Habis aku memakai baju masa depan di zaman dulu. Aku juga terpaksa. Habis, aku tidak memiliki 1 pun baju masa lalu. Aku pun tertawa pelan sambil menatap anak itu.

"Ini bukan aneh. Ini baju paling terkenal di masa depan" kataku sambil tersenyum.

"Eh? Memang masa depan itu ada? Kakak sudah tau masa depan itu seperti apa?" tanya anak itu.

"Siapa bilang masa depan itu tidak ada? Masa depan itu ada. Dan kakak sudah tau masa depan itu seperti apa" kataku.

"Kakak mencoba membohongiku? Orang dewasa bilang masa depan itu tidak ada" kata anak itu. Wah, di masa lalu, manusia masih menghasut orang ya... Pantas saja manusia masa depan seperti itu. Nenek moyang mereka seperti ini sih.

"Hah... Kau ini percaya saja dengan kata-kata orang dewasa. Kau tau, orang dewasa tidak semuanya benar. Mereka hanya diselimuti rasa takut hingga berpikir masa depan itu tidak ada" kataku.

"Eh? Jadi kakak tidak takut?" tanya anak itu.

"Selama kita punya keberanian, rasa percaya dan kekuatan, tidak perlu takut. Kau pasti bisa melihat masa depan" kataku.

Tak lama kemudian, kami sampai di depan sebuah rumah yatim piatu. Anak itu terlihat senang. Jangan-jangan tempat anak ini ada di sini. Anak itu berlari masuk ke dalam. Teman-temannya terlihat senang menyambutnya pulang. Enaknya... Tiba-tiba sebuah bayangan masa lalu melintas di pikiranku. Aku menggelengkan kepalaku untuk menghilangkan bayangan itu dariku.

"Kakak... Ayo masuk ke dalam. Bibi Alise ingin bicara denganmu" panggil anak itu. Sekilas aku mendengar nama anak itu. Lucas ya? Nama yang bagus.

"Ok..." Aku masuk ke dalam. Seorang wanita berusia 30 tahun menyambutku.


POV Author

Hanji, Eren, Mikasa, Armin, dan Levi baru saja selesai mendengarkan cerita masa lalu Elica. Mereka semua jadi kasihan padanya. Elica hanya orang biasa yang bahkan belum tau rasanya hidup bahagia itu bagaimana. Di umur yang masih kecil, dia dipaksa menanggung beban yang seharusnya tidak ditanggung oleh anak kecil. Di saat semua sedang terdiam memikirkan cerita tadi, handphone Alva berbunyi membuat yang lainnya kaget. "Dari Elica" gumamnya. "Cepat jawab" suruh Clarimond.

"Halo?" jawab Alva.

"Nee, sekarang kalian di mana? Kita punya pekerjaan sekarang" Alva bisa mendengar suara Elica sedikit bercampur dengan suara anak-anak. Ia langsung mengerti apa yang di maksud dengan pekerjaan.

"Pekerjaan? Di masa ini juga ada yang mau melihat penampilan kita?" tanya Alva.

"Yup. Waktu kalian 5 menit untuk menuju ke sini" kata Elica dari telepon.

"Hah?! Kau gila?! 5 menit?" tanya Alva setengah berteriak.

"Baiklah. 10 menit" kata Elica.

"Di mana kau?" tanya Alva lagi.

"Kalau kau melacak aura-ku, kalian pasti bisa menemukanku" kata Elica. Alva bisa membayangkan Elica sedang tersenyum kecil di seberang sana.

"Baiklah. Kami segera ke sana" kata Alva lalu menutup telepon.

"Benda apa itu? Kau terlihat berbicara dengan seseorang lewat benda itu" Hanji penasaran.

"Ah... ini benda untuk berkomunikasi dengan yang lain. Namanya handphone" kata Brune.

"Kau bicara dengan siapa?" tanya Eren.

"Elica" jawab Alva. Levi tiba-tiba bangkit. "Apa maksudmu? Jadi dia kabur?" tanyanya dengan nada dingin khas-nya. "Bukan begitu. Dia tidak bermaksud kabur. Hanya saja-" kata-kata Alva dipotong. "Kalian akan pergi menemuinya kan? Aku ikut dengan kalian" kata Levi. "Hah..." mereka berempat hanya menghela nafas.

Mereka pun pergi sementara Hanji menarik Eren, Mikasa, dan Armin ke lab-nya untuk membuat sesuatu. Levi melesat mengikuti Alva, Brune, Clarimond, dan Elsie menuju ke tempat Elica berada. Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah rumah yatim piatu. Elica sudah menunggu di sana. Mereka menghampiri Elica terlihat mendiskusikan sesuatu. Levi sendiri sedang berdiri di samping kudanya.

"Ah, Heichou. Anda ke sini untuk menonton?" tanya Elica sambil tersenyum. Ia seakan lupa dengan kejadian di kantor Levi.

"Aku tidak tau apa yang kau maksud. Yang jelas aku hanya ke sini untuk membawamu kembali ke markas" jawab Levi dengan nada khas-nya.

"Ah begitu. Aku akan kembali. Tapi setelah pertunjukkan ini" Elica dan yang lainnya masuk ke dalam. Mau tidak mau, Levi juga ikut masuk ke dalam. Anak-anak terlihat berkumpul di sebuah ruangan kosong. Sementara Elica dan yang lainnya sedang mengeluarkan alat musik yang waktu itu dipakai untuk membangunkan para anggota Survey Corps. Anak-anak yang penasaran pun banyak bertanya soal alat musik dan pertanyaan mereka langsung terjawab berkat Elica.

"Nah, karena kalian terlihat tidak bersemangat dan murung, kakak akan membuat kalian tersenyum dan bersemangat lagi" kata Elica.

"Bagaimana caranya?" tanya Lucas. Elica cuma tersenyum.

"It's show time" kata Alva.


attakai MERODI
mou sabishiku wa nai yo
"shinjiru" o uta e

Musik mulai bermain. Anak-anak pun terpukau. Levi sendiri kaget. Ia belum pernah mendengar lagu seperti ini sebelumnya. Elica sendiri memainkan gitarnya dengan penuh senyuman dan sangat menikmatinya. Teman-temannya sendiri hanya tersenyum sambil menatap Elica. Mereka sudah sering melihat Elica seperti ini di masa depan.

dare mo inai KUROSURŌDO de
hitori tachitsukusu
(Hold Me x2 kokoro o
Hold Me x2 yasashiku)
nukumori motometa migite gutto nigitte sa
(Tell Me x2
oshiete… nukumori o)

Anak-anak bersorak. Elica yang sedang menyanyi terlihat seperti orang yang hidup tanpa beban. Levi tidak mengerti. Bagaimana bisa Elica menghibur orang lain padahal dia sendiri menanggung beban besar dan tidak ada yang mau menghiburnya kecuali teman-temannya sendiri? Elica adalah orang yang penuh misteri. Tatapan Levi dan Elica bertemu. Levi segera menatap ke arah yang lain.

But I Found It
(I Believe You) kitto
(You Believe Me) omoi tachi wa
(HĀMONĪ ni) kawaru
tsutaetai hitokoto ga arunda
"kimi wa ne, mou hitori janai" to

namida wa yagate oozora e maiagatte
kumo ni kawatte ukabu
soshite ame ni nari hikaru taiyou o abi
kirei na niji ni natte
soshite sa… egao e

(Lalala…)
(Lalala…Uh)
(Lalala…)
arigatou… Thanx To My Friends


"Elica, kenapa kau menyanyikan lagu itu?" tanya Alva penasaran.

"Aku bisa melihatnya dari mata mereka" jawab Elica.

"Melihat apa?" tanya Brune.

"Rasa kesepian" jawab Elica pelan. Mereka semua langsung terdiam sampai Elica kembali bicara. "Aku ingin mereka tau. Kalau mereka tidak sendirian. Mereka punya teman yang senasib dengan mereka" kata Elica.

"Hm... Begitu rupanya" gumam Clarimond.

Mereka pun sampai di markas. Elica segera turun dari kudanya lalu masuk ke dalam. Tiba-tiba Hanji muncul dan memeluk Elica. Yang dipeluk pun terkejut dan menatap Hanji. "Elica~ aku dengar kau sering bermimpi buruk belakangan ini. Jadi aku membuat sesuatu supaya kau bisa tidur dengan tenang" katanya dengan nada ceria.

"Eh? Apa yang kau buat, Hanji-buntaichou?" tanya Elica.

"Masuk ke kamarmu dan lihatlah sendiri" suruhnya lalu pergi.

Elica pun menurut. Ia menuju ke kamarnya. Begitu sampai, ia pun masuk ke dalam. Sesaat kemudian, Elica sedikit rileks. Aroma di kamarnya jadi terasa menenangkan. Mungkin ini yang Hanji maksud. Entah kenapa Elica jadi terasa mengantuk. "Mungkin aku akan melewatkan makan malam. Mandi lalu tidur" Elica pun menjalankan niatnya. Ia masuk ke kamar mandi. 10 menit kemudian, ia sudah keluar lalu tumbang di kasurnya hanya dengan memakai celana pendek berwarna merah dan kaos berwarna putih polos.

"Aku.. merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi" gumamnya sebelum terlelap.

Sementara itu di luar, Alva, Brune, Clarimond, dan Elsie hanya tersenyum. Hanji, Eren, Mikasa, dan Armin ada di sebelah mereka. "Idemu menggunakan aroma terapi tidak buruk juga, ilmuan" komentar Clarimond. "Selama pikirannya teralihkan dan selama pikirannya tenang, dia tidak akan bermimpi buruk. Aku yakin itu" kata Hanji.

"Ngomong-ngomong, sampai kapan Elica-san akan tertidur? Besok sudah saatnya me-rekruit kandidat baru dan Elica harus hadir di saat rekruit kandidat baru" kata Armin.

"Tenang saja. Aku yakin Elica bisa bangun tepat waktu. Atau mungkin Shorty yang akan membangunkannya" jawab Hanji. Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di kepala Hanji.

"Siapa yang kau panggil pendek hah?" Levi ada di belakangnya.

"Heichou, pelankan suaramu. Elica-san sedang tertidur" suruh Eren.

Skip Time

Keesokan siangnya, Elica bangun dan menguap. Ia tidak pernah merasakan tidur se-nyenyak ini sebelumnya. Mungkin ia harus berterima kasih pada Hanji karena sudah membuat tidurnya nyenyak. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Levi masuk ke dalam dengan nampan berisi makanan. Ia duduk lalu menyerahkan nampan itu ke Elica.

"Makan. Kau sudah melewatkan makan malam kemarin, sarapan dan makan siang hari ini. Nanti malam akan ada acara rekruit kandidat baru. Pastikan kau hadir dan jika aku menerima laporan dari Erwin tentangnya hilangnya dirimu, kau tau sendiri akibatnya" katanya.

"Jadi anda memaksaku?" tanya Elica sambil mengambil nampan makanannya.

"Lakukan perintahku kalau kau mau tujuanmu tercapai" suruh Levi.

"Ya aku mengerti" jawab Elica lalu makan.

"Setelah makan, bersihkan dirimu, kau kotor sekali. Temui aku di kantor kalau kau sudah selesai mandi" Levi pun keluar.

"Hah... Dasar Clean Freak" Elica pun memakan makanannya.

To Be Continue


Gagal lagi kah? Argh... Saya stress. Gara-gara tugas kelas 9 nih. Saya akan lebih berusaha. Dan saya sudah memasukkan lagu di sini. Di chapter depan, saya akan coba memasukan 2 lagu. Itung-itung hutang karena gk memasukkan lagu di chapter sebelumnya. Ada yang sudah bisa membayangkan masa lalu Elica seperti apa? Biasanya alur saya gampang ke tebak sih... Anyway, nantikan chapter selanjutnya ya... Mungkin saya akan sedikit telat update berkat kewajiban saya sebagai anak kelas 9. Sampai jumpa di chapter selanjutnya minna-san... Jangan lupa review ya... Jangan lupa salurkan juga ide kalian. Bakal coba saya masukin ke cerita.

Rikka Tatsuko :)