OH!_2

"Namaku Tifa Lockhart. Senang berkenalan dengan kalian semua, kuharap kita bisa berteman baik."

Tidak lama setelah berkata begitu, Tifa membungkukkan badannya sesaat dan kembali menatap teman-temannya sambil tersenyum. Kelas ini begitu besar. Total muridnya saja mungkin bisa empat puluh orang lebih. Yang didominasi dengan murid perempuan. Seperti sekolahnya yang begitu mewah, murid-murid di sini banyak sekali yang fashionable. Beberapa murid perempuan (kecuali Aerith) di sini mengenakan anting merek terkenal, dan mereka juga berdandan. Sementara yang laki-laki, ada yang mengenakan jam tangan bagus atau cincin. Sungguh berbeda dengannya yang penampilannya polos tanpa polesan sedikitpun.

"Baiklah, ada yang mau bertanya?" tanya Kasumi.

Seorang murid perempuan yang duduk paling belakang mengacungkan tangannya.

"Darimana kau berasal? Sepertinya kau bukan dari kota ini."

"Ya, aku berasal dari Nibelheim, kota yang terletak di sebelah timur Gaia."

Salah seorang murid lain mengacungkan tangannya. Kali ini adalah murid laki-laki.

"Boleh minta nomor ponselmu?" tanyanya dengan wajah genit.

Sontak, pertanyaan itu membuat seisi kelas langsung dipenuhi gelak tawa. Sumpah, laki-laki itu geer sekali. Kalau saja laki-laki itu adalah teman lama atau teman dekatnya, mungkin Tifa sudah memasang wajah jijik. Tetapi kali ini dia memutuskan untuk menahan rasa jijiknya dan tetap tersenyum. Senyuman paksa lebih tepatnya.

Setelah beberapa pertanyaan yang tidak penting, akhirnya Tifa dipersilahkan untuk duduk. Tifa duduk di depan bersebelahan dengan Aerith. Dengan tujuan agar mudah bagi Aerith untuk membantunya. Pelajaran yang sedang berlangsung sekarang adalah Matematika. Lebih tepatnya adalah mengenai Integral. Tifa mengambil tas jinjingnya dan mengambil sebuah buku cetak tebal berwarna biru tua bertuliskan 'EVEN MONKEY CAN DO IT : MATH'. Dengan gambar depan yang sama, yaitu monyet. Gambar monyet yang telah didesain dengan imut.

Integral berada di bab tiga, dan seperti yang Tifa duga sebelumnya, bab ini memang susah. Matematika memang bukan keahlian Tifa dari dulu.

"Apa kau bisa?" tanya Aerith.

"Ah, aku nyaris menyerah soal ini."

Aerith tertawa kecil. "Kau bisa bertanya kalau tidak mengerti."

"Trims."

Pelajaran Matematika terus berlangsung hingga jam setengah sebelas, atau jam istirahat kedua. Di sela waktu dua puluh menit ini, Aerith mengajak Tifa untuk berkeliling. Meski tidak bisa semua tempat dia tunjukkan karena keterbatasan waktu. Pertama-pertama, Aerith membawa Tifa ke kantin yang berada di lantai satu. Kantin berukuran besar yang dipenuhi oleh murid-murid dan penjual. Ada juga yang membawa bekal makanan dari rumah, hanya saja jumlahnya tidak banyak. Kalau Tifa, mungkin dia akan membawa makanan dari rumah.

Setelah observasi singkat, Aerith mengajak Tifa untuk melihat ke lapangan besar tak jauh dari sana. Katanya selain untuk upacara dan olahraga, lapangan ini juga berfungsi sebagai tempat diselenggarakannya konser musik, dari anak ekskul band atau mungkin artis yang diundang sekolah. Tidak hanya itu, kontes kecantikan tahunan sekolah juga sering diadakan di lapangan ini. yah, seperti kontes miss begitu deh. Pemenangnya selain mendapat beasiswa, juga akan mendapat bonus berupa ketenaran. Lapangan kini sedang dipenuhi oleh anak laki-laki yang tengah bermain basket. Dan di antara pemain basket itu, Tifa melihat seseorang yang familiar. Eh tidak, sangat familiar malahan.

Yah, dia melihat kakak kelasnya, Cloud Strife, yang tengah bermain dengan wajah dinginnya.

Tetapi hanya sesaat, toh Cloud sendiri juga tidak melihatnya. Tetapi ketika Tifa menoleh ke arah Aerith, dia malah tengah bengong. Kedua matanya sedang terfokus pada salah satu dari sepuluh pemain basket itu. Tetapi dia tidak menatap Cloud. Melainkan pada murid laki-laki berambut hitam lurus sepundak tak jauh dari Cloud. Dan dia tidak mengenakan seragam, apa dia alumni?

Tifa (entah kenapa) malah membiarkan Aerith terus bengong seperti itu sampai akhirnya bunyi bel yang begitu keras berbunyi. Aerith langsung tersentak karena kaget, sementara Tifa hanya tertawa. Ternyata dugaannya memang benar, daritadi dia tengah menatap pria itu.

"Ah, harusnya kau menyadarkanku tadi," kata Aerith sambil mengerucutkan bibirnya.

"Tidak apa-apa, aku tidak mau mengganggu... privasimu? Yah, anggap saja begitu."

"Ada-ada saja kau ini."

"Kalau boleh tahu, dia siapa?"

"Ah, tidak usah dipikirkan. Ayo, kita sudah harus kembali ke kelas."

"Tidak usah malu-malu. Walau kita baru bertemu, tapi kau bisa mempercayaiku kok."

"Sungguh, bukan apa-apa kok."

"Oke, aku percaya."

Aerith hanya tersipu malu, dan kemudian mereka berjalan kembali ke dalam kelas. Sama seperti ketika mereka naik ke lantai tiga sebelumnya, tangganya sungguh penuh. Ketika mereka masuk ke dalam kelas, ternyata guru sudah datang. Gawat, mereka terlambat. Sudah berapa lama semenjak guru masuk ke kelas?

Untungnya, mereka tidak dihukum dengan berdiri di koridor atau semacamnya. Pelajaran terakhir adalah Biologi. Dan sepanjang pelajaran, mereka disuruh untuk meneliti mengenai jenis-jenis bakteri yang bisa merugikan dan menguntungkan manusia. Jenis-jenis tumbuhan yang dapat dijadikan obat dan lain sebagainya. Guru yang mengajar baik, namun sangat tegas. Dia tidak segan-segan untuk langsung menegur murid yang ketahuan mengobrol meski hanya dalam bentuk bisikan. Wah, tipe guru yang sulit didekati nih. Dan di hari pertama Tifa bersekolah, dia sudah menerima tugas. Aerith bilang, guru yang satu ini memang terkenal seperti itu. Jadi, lebih baik Tifa belajar untuk terbiasa.

Waktu berjalan dengan begitu cepat hingga akhirnya pelajaran hari ini selesai juga. Setelah menolak dengan halus ajakan Aerith untuk berkeliling lagi, Tifa segera membereskan buku-buku miliknya dan keluar kelas. Sekarang sudah jam satu, berarti jam pulang sekolah ini lebih cepat setengah jam dibanding sekolahnya yang dulu. Tifa menolak ajakan Aerith bukannya tanpa alasan, tetapi dia harus membantu ibunya beres-beres, kan mereka baru saja pindahan. Selain mengurus pindahan, Tifa dan ibunya juga menunggu datangnya kiriman barang-barang untuk keperluan usaha nanti.

Tifa berjalan menuruni tangga dan menyusuri lapangan besar untuk menuju gerbang. Saat dilihat, ternyata lapangan itu lagi-lagi dipenuhi oleh siswa-siswa yang bermain basket. Dan lebih hebatnya lagi, orangnya juga sama, lengkap dengan alumni (mungkin) yang ditaksir Aerith. Tetapi Tifa memutuskan untuk tidak memperdulikannya.

"Awas!" teriak seseorang tiba-tiba dari belakang.

Tifa menoleh ke arah teriakan itu berasal. Dan tidak jauh di depannya, terdapat sebuah bola basket yang meluncur lurus tepat ke arahnya. Tifa langsung menutup wajahnya karena dia sudah tidak bisa lari lagi, sambil bersiap-siap untuk merasakan rasa sa...

Eh? Kenapa dia tidak merasa sakit sama sekali?

Perlahan-lahan, Tifa membuka matanya, dan dia sungguh kaget ketika melihat sosok laki-laki yang tengah melindunginya.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.

Dan orang itu adalah kakak kelasnya, Cloud Strife.

"Ma—maaf! Kau tidak apa-apa?" tanya salah seorang murid pada Tifa. "Aku tidak sengaja, sungguh!"

"Kau kurang latihan," kata Cloud. "Tidak seperti biasanya lemparanmu sampai melenceng jauh seperti itu."

"Maaf, senpai. Tadi aku memang lupa pemanasan, jadi tanganku agak..."

"Kau tidak seharusnya melupakan hal sepenting itu."

Tifa hanya memperhatikan ketika Cloud menegur salah seorang pemain itu. Tak disangka kalau ternyata dia adalah sosok yang tegas, selain dingin.

"Kalian mainlah kembali," kata Cloud yang setelah itu membalikkan tubuhnya. "Tadi kau belum menjawab pertanyaanku, kau tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa, justru aku yang seharusnya bertanya begitu padamu."

"Aku sudah terbiasa dengan yang seperti ini. Kau sungguh tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa, sungguh."

...

Zack Fair menatap juniornya yang tengah berbicara dengan wanita sambil tersenyum, tersenyum sambil berkata 'hoo' dalam hati. Semenjak dia masih menjadi siswa sekolah ini hingga akhirnya dia lulus dan menjadi pelatih, baru kali ini Zack melihat Cloud menghampiri seorang wanita. Eh, maksudnya BISA menghampiri seorang wanita, bahkan untuk sebuah alasan sekalipun. Lagipula, wanita itu bisa dibilang cantik.

Cloud dan wanita itu berbincang sebentar sampai akhirnya sang wanita pergi sambil menganggukkan kepalanya. Cloud berjalan kembali ke arah Zack sambil menundukkan kepalanya. Sementara Zack sendiri, dia hanya senyum-senyum. Tanda bahwa dia akan mulai menggoda Cloud.

"Berapa nomor teleponnya?" tanya Zack.

"Hah?"

"Berapa nomor teleponnya? Kau tadi menanyakan itu, kan?"

"Oh, jangan samakan aku denganmu, Zack."

"Hei," kata Zack sambil merangkul Cloud. "Dia cantik juga loh, rugi kalau kau tidak merebutnya."

Cloud menghela napas dan melepas rangkulan Zack.

"Cloooooooud, aku serius loh."

"Terserah kau, Zack."

"Ya ya, kita main lagi kalau begitu?"

"Tidak usah, aku mau pulang dulu. Kau bisa kan melatih mereka sendirian?"

Zack mengangguk sebagai jawaban. Dan setelahnya, Cloud berjalan ke tempat parkir yang berada di basement tak jauh dari lapangan. Dasar, sikap dinginnya belum juga berkurang. Meski Zack sudah bersamanya semenjak mereka masih kecil, tetapi masih sulit bagi Zack untuk mengetahui penyebab sikap dinginnya itu. Mungkin lebih tepatnya, semenjak Cloud menginjak kelas satu SMA. Dia jadi dingin bahkan hampir ke semua orang.

"Cloud Strife, apa perlu kupanggil detektif untuk menyelidikimu?" gumam Zack sambil melipat tangannya.

"Zack senpai! Kita latihan lagi?"

"Eh? Ah ya, kalau begitu kalian bertanding lagi. Aku akan mengawasi kalian dari sini."

Tapi yah, sepertinya dia hanya bisa membiarkannya sekarang. Entah kapan dia bisa bertindak, entah kapan sahabatnya bisa berubah. Setidaknya, sampai bisa tersenyum sedikit.

...

"Ah, tak kusangka kalau jalanan akan semacet itu."

Tifa melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari halte bus dan memasuki sebuah gang. Tifa memutuskan untuk naik bis karena dia ingin mempelajari rute-rutenya. Dan ketika dia naik, tanpa disadari malah terjadi macet yang cukup parah. Tahu begini, lebih baik dia jalan saja seperti sebelumnya. Toh, hanya makan waktu lima belas menit.

Setelah berjalan melewati beberapa rumah dan tetangga yang baru saja dikenalnya, akhirnya terlihat juga rumah Tifa. Rumah dua tingkat sederhana yang berwarna cokelat. Di depan terdapat sebuah taman kecil, dan di dalamnya juga cukup luas. Setidaknya, luas untuk ukuran dua orang. Dengan dua kamar tidur, satu WC, dan satu kamar mandi. Ibu Tifa mencari rumah ini dengan susah payah.

"Sudah kubilang, keluarkan dia!"

Tifa langsung terhenti ketika mendengar sebuah teriakan. Yang ternyata berasal dari depan rumahnya. Ada seorang laki-laki bertubuh besar tengah berdiri di depan rumahnya. Dia bertingkah seperti seorang penagih hutang.

"Dia sedang sekolah, dan untuk apa kau ke sini ? !"

Muncul seorang wanita berambut cokelat panjang yang diikat dari dalam. Yang juga adalah ibu Tifa.

"Aku akan membawanya pulang, kau sama sekali tidak berhak untuk mengurusnya, Evelyn!"

"Apa maksudmu, Liam! Sudah jelas pengadilan memutuskan kalau akulah yang berhak mengasuh Tifa!"

Apa katanya? Liam? Apakah maksudnya laki-laki yang ada di depan rumahnya itu adalah...

"Tou-san?"


Mohon isi kotak review di bawah ya. Maaf kalau ada salah.