A/N : Ah, akhirnya update juga! Maaf ya kelamaan. Mohon read dan review, maaf kalau kurang bagus atau ada kesalahan dalam pengetikan. Dan berdasarkan salah satu review yang saya lihat akhirnya saya mau menambahkan : maaf kalau OOC.
OH_3
"Minggir! Biar aku masuk ke dalam mencarinya!"
Dengan sekali dorongan tangan dari Liam, Evelyn langsung terjatuh dengan wajah yang nyaris mengenai aspal. Tifa langsung berlari dengan cepat menuju ibunya. Dengan kekuatan tubuhnya yang tidak terlalu besar, Tifa merangkul ibunya dan membantu ibunya berdiri kembali. Dari dalam Tifa dapat mendengar suara ayahnya yang tengah meneriakkan namanya berkali-kali. Ya Tuhan, mendengar suaranya saja sudah membuat Tifa takut. Suara itu sama persis dengan ketika sang ayah memukulnya.
Evelyn terbatuk-batuk terlebih dulu sebelum akhirnya dia berbicara. Sepertinya tadi dia didorong dengan kencang dibagian dada. Tadi Tifa tidak melihatnya dengan jelas, tetapi sepertinya memang begitu. Padahal tubuh ibunya sudah begitu lemah, tetapi tega-teganya sang ayah malah mendorongnya lagi.
"Kaa-san, kenapa tou-san ada di sini?" tanya Tifa. "Kenapa dia bisa tahu kalau kita pindah ke sini?"
"Kaa-san juga tidak tahu, tiba-tiba Liam berteriak. Kaa-san kira dia seorang pelanggan."
"Mau apa tou-san kemari?"
"Dia... dia ingin agar kau tinggal bersamanya," kata Evelyn. "Ayahmu sudah menemukan kekasih baru, dan dia membeli sebuah rumah di kawasan Edge. "
Tifa langsung memasang ekspresi kaget. Bukan karena mendengar 'dia ingin agar kau tinggal bersamanya', melainkan karena ia mendengar 'Dia telah menemukan kekasih baru'. Belum lama mereka bercerai, dan kini ayahnya sudah menemukan kekasih baru lagi? Tangan Tifa langsung mengepal. Rasanya dia ingin sekali meninju wajah ayahnya sekarang juga. Apa dia belum puas membuat ibunya sakit hati?
Suara pintu yang digeser hingga menabrak tembok membuat Tifa dan Evelyn mengalihkan pandangan mereka. Liam dengan napas yang terengah-engah segera berjalan keluar secara perlahan. Dia ingin berteriak lagi, tetapi niat itu langsung ia batalkan ketika melihat Tifa yang tengah menatapnya dengan rasa benci. Liam langsung tersenyum dan menghampiri Tifa dengan kedua tangan yang direntangkan. Dengan segera Tifa berjalan mundur beberapa langkah sambil menggandeng ibunya. Tifa masih merasa tidak sudi.
Melihat reaksi puterinya, Liam sama sekali tidak memperlihatkan amarahnya. Tetapi tangan kanannya langsung merogoh kantung celananya dan mengeluarkan segepok uang yang terdiri dari lima puluh lembar uang seratus ribu gil. Tifa langsung memikirkan apa maksud dari perbuatannya itu?
"Tifa, tou-san semalam memenangkan judi dan sebuah rumah mewah. Lihatlah semua ini, Tifa! Tou-san bisa membiayaimu lebih dari ibumu!"
"Apa?" tanya Tifa heran.
"Ikutlah dengan tou-san, Tifa. Kau lihat uang ini? Aku bisa memberimu apa saja dengan uang ini," kata Liam. "Ibumu tidak akan bisa terus membiayaimu dengan usaha sekecil ini."
Amarah langsung tercipta dalam benak Tifa. Tetapi sebelum dia sempat meluapkan amarahnya, Liam langsung mengeluarkan bergepok-gepok uang lagi.
"Lihatlah ini Tifa! Kau senang, kan? Kau bisa membeli apa saja dengan uang ini. Mungkin ponsel, bahkan rumah! Rumah yang lebih besar dari ini! Lihat ibumu, dia tidak akan bisa!"
Perkataan ayahnya sungguh membuat emosi Tifa makin naik. Apalagi, dia mengejek ibunya.
"Ayolah Tifa, kau mau kan?"
Tifa memandang wajah ayahnya, dan kemudian dia membungkuk dengan jari yang seperti menulis. Liam dan Evelyn memandang Tifa dengan heran. Dan tidak lama kemudian, tangan kanan Tifa mengambil sebuah batu kerikil, yang langsung dilempar tidak lama kemudian oleh Tifa ke ayahnya (jangan ditiru yah). Ekspresi Liam dan Evelyn langsung berubah seratus delapan puluh derajat, dari heran menjadi kaget.
"AKU TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU PERGI!" teriak Tifa sambil mengambil beberapa batu kerikil, dan kemudian ia melemparnya lagi.
"A—apa?! Hentikan!"
"PERGI SANA! KAU—"
Mata Tifa mengeluarkan air mata. Setelah menggertakkan giginya untuk beberapa saat, dia pun berteriak,
"KAU BUKAN AYAHKU!"
Kalimat itu bagaikan pisau yang menusuk sanubari Liam yang terdalam. Dan di sekeliling mereka, perlahan muncul banyak orang yang berbisik-bisik sambil mengamati mereka bertiga. Mereka, tak lain dan tak bukan, adalah para tetangga baru yang Evelyn temui pagi ini. Astaga, baru saja mereka pindah, tetapi mereka sudah memperlihatkan kesan yang buruk. Sepertinya Evelyn dan Tifa harus siap menjadi bahan gosip bagi mereka.
Liam yang tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju motornya. Wajahnya terlihat sedih, dengan campuran kesal dan marah, dia menyalakan mesin motor dan langsung menancap gas. Kepergian Liam juga menjadi akhir dari 'tontonan' yang menegangkan itu, sehingga para tetangga juga ikut bubar dan kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing yang sempat tertunda. Evelyn menghembuskan napas lega, sementara Tifa... dia menangis cukup keras.
"Tifa, sudah tidak apa-apa," kata Evelyn sambil memeluk Tifa. "Ayahmu sudah pergi, sudah tidak apa-apa."
Tifak tidak menjawab dan terus menangis.
"Ayo kita masuk dulu, tidak enak jika dilihat tetangga."
Tifa menganggukkan kepalanya, dan tanpa melepaskan pelukan ibunya, mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah sudah lebih ramai dan lebih rapi, perabotan-perabotan yang tadinya masih disimpan di dalam kardus sudah dikeluarkan dan ditata. Bingkai foto, vas bunga, meja, kursi, semua diatur sendiri oleh Evelyn dengan bantuan para pekerja. Sehingga rumah ini menjadi lebih indah. bahkan, Evelyn juga mengganti warna cat rumah ini, meski masih belum selesai seluruhnya.
Setibanya di ruang tamu, Evelyn mengajak Tifa untuk duduk dan menuangkan segelas jus jeruk buatannya sendiri. Tifa sudah sedikit lega meskipun rasa sedih masih terlihat jelas di wajahnya.
"Sudah lebih baik?"
"Lumayan," jawab Tifa. "Tapi, kenapa tou-san bisa tahu kita di sini?"
"Entahlah, kaa-san juga tidak tahu. Rasanya kaa-san tidak pernah memberitahu siapa-siapa tentang kita mau pindah kemana."
"Berbahaya sekali kalau begitu."
"Tifa, jangan bicara seperti itu. Biar begitu dia ayahmu, kau tidak akan ada jika tidak ada ayahmu."
"Aku tahu, tapi..." air mata Tifa mulai mengalir kembali. "Kenapa tou-san bisa berubah? Kenapa dia bisa menjadi gila uang seperti itu?"
Evelyn tidak menjawab. Lagipula, dia juga tidak mengetahui jawabannya.
"Kenapa? Kenapa dia bisa begitu? Kemana tou-san yang dulu?"
Akhirnya tangis Tifa tidak lagi tertahankan. Dan yang bisa dilakukan Evelyn adalah kembali memeluk anaknya sambil membisikkan kata,
"Tenanglah, ada kaa-san di sini. Kau tidak perlu takut lagi dan khawatir akan ayahmu. Kita berharap saja semoga dia bisa berubah."
Mereka berdua terus seperti itu dalam waktu yang cukup lama. Tanpa disadari, jam sudah menunjuk ke angka lima, sudah waktunya untuk mempersiapkan makan malam.
"Bisa bantu kaa-san memasak dan menyiapkan piring?" tanya Evelyn sambil tersenyum.
"Iya, sangat bisa," jawab Tifa sambil menghapus air matanya. "Maaf kaa-san, kelihatannya aku sangat cengeng."
"Ah, siapa bilang," jawab Evelyn. "Kau adalah wanita yang kuat dan tegar, sampai-sampai bisa melempari ayahmu dengan batu."
Tifa langsung memperdengarkan tawa kecilnya. Astaga, benar juga ya.
"Tetapi, kuharap kau jangan melakukan itu lagi, mengerti? Itu adalah perbuatan yang sangat kurang ajar. Sebisa mungkin, kau harus tahan."
"Iya, aku mengerti."
...
"Pulang telat, Cloud?"
Cloud melepaskan ransel miliknya dan melemparnya begitu saja ke atas sofa. Dia sungguh merasa perjalanan pulang setelah main basket, dia harus bersabar dalam menghadapi macet yang sangat panjang. Tidak terlalu lama memang, tetapi itu sudah cukup untuk membuat pengendara jengkel. Bagaimana tidak? Sudah cuacanya panas, ditambah klakson terdengar dimana-mana, pasti membuat kebanyakan orang jengkel. Tetapi mau tidak mau, Cloud harus bisa sabar.
Jarak yang biasanya dapat ditempuh selama lima belas menit bertambah menjadi hampir setengah jam. Karena itulah ketika dia dapat melihat bayangan rumahnya, dia langsung bernapas lega. Langsung saja dia memarkir motornya di garasi, melepas helm, masuk ke rumah, dan melemparnya ke sofa bersama tas. Di dalam ada ayah Cloud, Sephiroth, yang tengah mengetik-ngetik sesuatu di laptop miliknya. Sebuah novel baru, karena Sephiroth adalah seorang penulis novelis misteri.
Cloud membuka kulkas dan mengambil sebotol jus jeruk. Dan kemudian dia meminumnya habis dalam beberapa tegukan.
"Iya, tadi macet di jalan."
"Macet? Tidak biasanya macet. Apa ada sesuatu?"
"Entahlah, tiba-tiba saja macet," kata Cloud sambil melempar botol kosong ke tempat sampah. "Aku ma mengerjakan pr dulu di atas."
Sephiroth diam saja sebagai tanda bahwa dia mengiyakan. Dengan langkah pelan, Cloud menaiki tangga dan berniat untuk memasuki kamarnya. Ketika dia tiba di lantai di lantai dua, mata Cloud terpaku pada bingkai foto wanita yang ada di ujung lorong. Wanita cantik dengan mata biru dan rambut pirang panjang. Cloud langsung mengerutkan keningnya.
"Cantik sekali, kan?" tanya Sephiroth yang tiba-tiba muncul dari belakang. "Aku sengaja menyimpannya sebagai kenang-kenangan."
"Apa-apaan itu?"
Cloud memalingkan wajah dan tangannya meraih kenop pintu. Tetapi sebelum dia masuk, tiba-tiba Sephiroth sudah berdiri di sampingnya. Dengan memasang senyum sedih di wajahnya. Astaga, Cloud langsung berpikir bahwa ayahnya pasti akan mengatakan hal itu lagi.
"Kau masih belum bisa memaafkannya, Cloud?"
"Dia meninggalkan kita, tou-san," jawab Cloud. "Untuk apa aku memaafkan seseorang yang meninggalkan kita demi harta?"
"Ada banyak alasan, Cloud."
"Kau terlalu baik, tou-san," kata Cloud. "Bagaimana mungkin kau masih mencintainya setelah kejadian dua tahun lalu?"
Sephiroth hanya memandang tanpa menjawab. Dua tahun lalu ketika Cloud masih kelas satu SMA, Cloud yang baru saja pulang sekolah dikejutkan dengan teriakan ibunya. Cloud yang penasaran segera melepas sepatunya dan berjalan ke arah suara itu berasal, ruang tamu. Di sana, tampak kedua orangtuanya yang tengah bertengkar. Meski sepertinya istilah bertengkar kurang tepat, karena ibu Cloud terlihat lebih mendominasi adu mulut di sini, sementara Sephiroth lebih banyak diam dan tidak tahu harus menjawab apa.
Cloud yang masih polos hanya bisa terdiam sampai akhirnya sang ibu menyambar sebuah tas berwarna hijau dan berniat untuk keluar dari rumah. Ketika mata mereka bertemu, ibu Cloud entah kenapa seperti... jijik? Ya, dia seperti memasang ekspresi itu dan kemudian keluar sambil membanting pintu. Cloud sama sekali tidak tahu apa salahnya dan ayahnya, tetapi satu hal yang pasti, hidup mereka menjadi berubah semenjak hari itu. Dari tiga orang berkurang menjadi dua orang. Selama seminggu, mereka berdua menjalani kehidupan hanya dengan diam. Mereka sungguh terpuruk, terutama Sephiroth. Dia selalu berusaha untuk membahagiakan keluarganya, tetapi kenapa sang isteri tega untuk meninggalkannya?
Sejak itulah Cloud jadi sangat membenci ibunya. Apalagi ketika dia mengetahui alasan atas kepergian ibunya bahwa dia pergi karena ingin mencari pria yang lebih kaya. Cloud sungguh benci, benci, dan benci. Sampai-sampai dia membakar semua foto ibunya dan menghapus nomor ponsel ibunya. Dan ketika ditanya mengenai keluarganya, Cloud langsung menjawab bahwa dia tidak punya ibu. Dan ketika disuruh membuat kisah mengenai ibu, Cloud sama sekali tidak mau melakukannya. Hanya satu kalimat yang ditulisnya : 'Aku tidak punya ibu dan aku membenci ibuku'.
"Aku tidak akan memaafkan kaa-san," kata Cloud. "Dan kuharap, tou-san jangan pernah mengungkit-ungkit lagi."
Sebuah bantingan pintu menjadi tanda bahwa dia tidak ingin mendengar jawaban ayahnya lagi. Sementara Sephiroth, dia menghela napas sambil memasang wajah kecewa. Dengan langkah lemas, dia turun lagi ke lantai satu dan melanjutkan pekerjaannya.
Pikirannya dengan anaknya sungguh berbeda.
Jujur, Sephiroth masih mencintainya isterinya. Sangat cinta malah. Meski dia telah diperlakukan seperti itu, namun di dalam hatinya Sephiroth masih percaya bahwa isterinya pasti masih memiliki rasa cinta pada dirinya. Dan dia juga memiliki harapan untuk menyatukan keluarga ini suatu saat nanti.
Namun sayangnya, jurang antara Cloud dan ibunya seperti tidak dapat dirapatkan.
"Anagaby, apakah kau tahu bahwa anak kita sangat membencimu?" tanya Sephiroth sambil melihat bingkai foto isterinya di atas meja. "Kuharap kau bisa segera pulang."
Di dalam kamar, Cloud tengah mengganti seragamnya dengan selembar t-shirt putih polos dan celana selutut berwarna biru. Dengan malas, dia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sambil memandang langit-langit, dia merenungkan kembali apa yang dia ucapkan. Jujur, Cloud merasa sedikit bersalah, pada ayahnya. Meskipun memang benar bahwa ibunya telah meninggalkan mereka, tetapi rasa cinta Sephiroth sama sekali tidak sirna sedikitpun. Mungkin nanti dia memang harus minta maaf.
Dengan mata yang setengah terpejam, Cloud berusaha untuk tetap terjaga tanpa alasan. Tidak ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, tidak ada tes dimana dia harus belajar, dan dia tidak dalam mood untuk mengulang pelajaran-pelajaran di sekolah. Dan akhirnya, Cloud memutuskan untuk mengambil ponsel miliknya dari dalam ransel dan menyetel musik dengan volume sedang. Alunan musik itu berhasil membuatnya terlelap tidak lama kemudian.
Other things may change us, but we start and end with the family...
Sesuatu bisa mengubah kita, tetapi kita mulai dan berakhir bersama keluarga kita...
-Anthony Brandt-
Mohon isi kotak review yang dibawah ya, hehe. Makasih banget.
