A/N : mohon read and review ya, maaf juga kalau ada salah ketik a.k.a typo atau ceritanya kurang bagus. Thanks a lot...

OH_5

"Aku pulang."

Sambil melepas sepatunya, Cloud berjalan masuk ke dalam rumahnya sambil sesekali melakukan dribble. Rasanya dia tidak akan melupakan kejadian hari ini, dimana dia menangkap seorang pencopet dan mengembalikan barang milik adik kelasnya. Tidak cuma itu, bahkan dia sampai mengantarkannya pulang. Setelah mengantarkannya pulang, Cloud memutuskan untuk langsung pulang dan tidak lagi melanjutkan bermain basket. Entah kenapa, dia merasa aneh.

Cloud berjalan ke ruang tamu dan menyimpan bola basketnya ke dalam laci besar yang ada di bawahnya. Sekarang sudah jam delapan lewat sedikit. Padahal dia hanya main basket sebentar, sisanya yah... begitulah.

Sephiroth sepertinya belum pulang. Berhubung sekarang masih terlalu dini baginya untuk tidur, Cloud memutuskan untuk melakukan aktivitas lain. Tetapi apa itu, Cloud sendiri juga bingung. Tidak mungkin kembali lagi ke lapangan untuk bermain basket lagi, kesannya seperti benar-benar kurang kerjaan.

Selagi masih bingung mau melakukan apa, tiba-tiba dia mendengar ponselnya berdering. Sebuah telepon, dan itu dari Zack. Kenapa juga dia menelepon malam-malam begini?

"Halo?"

"Hei, Cloud. Kau sedang apa?" tanya Zack dengan anda santai.

"Aku baru pulang bermain basket. Mengapa?"

"Tidak... besok siang kau mau bermain dengan teman-temanku? Di lapangan depan Midgar University. Kebetulan kelasku ada jam kosong dari jam dua sampai jam empat."

"Entahlah, aku tidak tahu. Nanti akan kuberitahu lagi."

"Baiklah, tetapi kuharap kau mau menerimanya, karena aku kurang orang."

"Aku mengerti, nanti akan kukabari lagi."

Cloud memutuskan panggilannya, dan kemudian, dia berjalan ke kamarnya mempersiapkan pelajaran untuk besok. Ah iya juga, kenapa hal ini tidak terpikirkan dari tadi? Selain itu, dia juga belum mengerjakan pekerjaan rumah miliknya. Ya ampun, padahal sudah jam segini dan dia belum mengerjakan PR? Sepertinya dia akan tidur saat tengah malam. Berhubung pekerjaan rumah kali ini adalah Matematika, dan cukup banyak.

Sambil mendesah, Cloud menginjakkan kakinya pada anak tangga pertama. Di saat bersamaan, terdengar suara pintu depan yang dibuka. Cloud menolehkan kepalanya dan melihat sosok Sephiroth yang tengah menenteng laptop serta sebuah buku novel tebal. Wajahnya terlihat lelah. Saat wajah mereka bertemu, Sephiroth hanya tersenyum dan kemudian ke dapur untuk membuat kopi kesukaannya.

"Kenapa tou-san baru pulang? Biasanya jam tujuh tou-san sudah ada di rumah."

"Ah ya," kata Sephiroth. "Tadi aku benar-benar buntu ide, jadi aku memutuskan untuk berpikir lebih keras. Tadi kau pergi main basket lagi?"

Cloud menganggukkan kepalanya.

"Aku masih ingin melanjutkan pekerjaanku, kalau kau mungkin langsung tidur ya?"

"Tidak, aku masih ingin mengerjakan PR," jawab Cloud. "Malam, tou-san."

Sephiroth menjawab dengan mengangguk, dan kemudian dia hanya berjalan ke dalam kamarnya. Cloud agak heran, biasanya sih ayahnya lebih cerewet, tetapi kali ini dia lebih diam. Mungkin karena terlalu lelah?

Memutuskan untuk tidak memikirkan lebih jauh, Cloud membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kamarnya. Di dalam, dia melihat jadwal dan memasukkan buku-buku untuk pelajaran besok ke dalam ransel abu-abu miliknya. Tidak lama setelahnya, dia mengerjakan pekerjaan rumah. Astaga, baru melihat soal pertama saja dia sudah merasa malas. Tetapi dia memaksa dirinya untuk mengerjakannya.

Hingga tanpa disadari, dia malah jatuh tertidur karena lelah.

Selagi Cloud jatuh tertidur, Sephiroth tengah menelepon seseorang di kamarnya. Nada bicaranya berubah-ubah, terkadang khawatir, terkadang tiba-tiba berubah menjadi tegas. Entah siapa lawan bicaranya, dan selagi Sephiroth berbicara, dia tidak sadar bahwa waktu telah berjalan dengan cepat. Dari jam sembilan, sekarang sudah jam dua pagi. Tetapi sepertinya Sephiroth tidak ada capek-capeknya dan terus saja berbicara.

Pagi hari akhirnya tiba dengan matahari yang muncul dari ufuk timur. Cloud, yang kepalanya terbaring di atas buku tulisnya, membuka matanya secara perlahan dan kedua matanya segera menangkap ponsel yang tak jauh di depannya. Sudah jam berapa sekarang? Dalam kondisi mata yang masih belum terbuka sepenuhnya, Cloud mengambil ponselnya dan melihat jam yang tertera. Jam 06:30, waktu dimana dia biasa bangun pagi.

Cloud mengangkat kepalanya dan dia langsung menguap lebar. Astaga, niatnya untuk membuat PR malah berakhir seperti ini, kalau begini dia tidak ada pilihan lain selain dihukum oleh gurunya, atau dia harus menyalin pekerjaan rumah milik temannya. Tetapi... sepertinya itu tidak akan terjadi, berhubung gurunya cukup baik dan cukup sering memberi kelonggaran. Bukannya Cloud berniat menyalahgunakan kebaikan gurunya sih.

Meregangkan kedua tangannya, Cloud kemudian berjalan menuju lemari dan mengambil sesetel seragam baru serta handuk. Hari ini hari Jumat, dan tiap hari ini sekolahnya pulang lebih cepat karena ada rapat guru mingguan. Sementara Sabtu, sekolah hanya untuk beberapa kegiatan ekstrakurikuler, basket adalah salah satunya.

Baru saja Cloud mau keluar kamar, tiba-tiba saja dia mendengar suara gedebak gedebuk dari bawah. Dari suaranya sih sepertinya itu adalah suara koper, dan... sedang apa ayahnya mengeluarkan koper? Ingin menjawab rasa penasarannya, Cloud segera keluar dari kamar dengan handuk tergantung dilehernya. Dan ternyata benar, ayahnya tengah menderek koper besar berwarna cokelat. Koper itu kalau tidak salah pernah dipakai Sephiroth sewaktu dia diundang ke acara di Costa Del Sol. Buat apa lagi ia mengutak-atiknya?

Sebelum Cloud sempat bertanya, Sephiroth menyadari kehadiran putranya dan langsung tersenyum.

"Pagi, Cloud."

"Tou-san sedang apa?"

"Ini? Oh, hanya sekedar beres-beres."

"Apa ada urusan mendadak?"

"Yah... bisa dibilang begitu," kata Sephiroth. "Aku harus pergi, ada urusan mendadak di Junon."

"Junon? Kota itu kan jauh sekali, memangnya masih sempat pesan tiket pesawat?"

"Tenang saja, aku sudah punya tiketnya kok. Kau bisa kan menjaga rumah ini sampai aku pulang?"

"Kapan?"

"Mungkin sekitar tiga sampai empat hari. Apa itu terlalu lama untukmu?"

Cloud menggelengkan kepalanya. "Tou-san kan pernah meninggalkanku selama seminggu sewaktu pergi ke Wutai, waktu itu aku masih kelas 3 SMP."

Mendengar itu, Sephiroth hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Aku memang ayah yang buruk. Oh ya, kau bisa membuat sarapan sendiri? Sepertinya aku akan sibuk mengepak barang sampai siang nanti."

"Ya, tenang saja," jawab Cloud. "Aku mandi dulu."

Cloud membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke kamar mandi. Sambil berjalan, Cloud juga memikirkan rasa curiganya. Meski bukan pertama kalinya ayahnya pergi meninggalkannya di rumah sendirian, tetapi kali ini sepertinya... agak mendadak.

Sepuluh menit kemudian, Cloud keluar dari kamar mandi sambil mengelap rambutnya yang tetap jabrik meskipun sudah disiram air shower hangat. Di ruang tamu, ayahnya masih mengepak, hanya saja sudah hampir selesai. Untuk sarapannya, Cloud hanya sekedar minum segelas susu cokelat.

"Tinggal apa lagi tou-san?"

"Hanya... beberapa setel baju, buku, dan... apa ya?"

"Mau kubantu? Masih ada waktu sampai berangkat sekolah nanti."

"Ah, tidak apa-apa, kau berangkat duluan saja."

"Aku tidak keberatan kok, mau kuambilkan apa?"

"Tidak perlu, sungguh. Lagipula ada beberapa hal yang ingin kukerjakan sendiri."

Cloud mengangkat bahunya dan kemudian mengganti baju santai yang dikenakan dengan seragamnya. Saat turun, Sephiroth tengah beristirahat sambil menikmati secangkir kopi panas. Cloud mengucapkan 'aku pergi dulu' pada Sephiroth yang kemudian dijawab dengan 'hati-hati di jalan'. Sesampainya di garasi, ia segera menyalakan motor miliknya dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi menuju ke sekolah.

Sephiroth, setelah memastikan anaknya telah pergi, segera mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah kertas putih kecil yang isinya terdapat nomor ponsel dan nama sebuah penginapan. Dan entah karena kesal atau apa, Sephiroth menggenggam kertas itu sampai akhirnya kusut.

"Aku tidak menyangka kalau kau akan berbuat sejauh ini."

...

Tifa tengah melihat-lihat brosur yang kini tengah dia pegang. Bukan brosur belanja dari supermarket, melainkan brosur yang berisi daftar klub-klub sekolah. Aerith memang pernah memberitahu sebelumnya, tetapi hingga sekarang Tifa masih belum memikirkan klub mana yang tepat untuk dirinya. Hingga sekarang sih, yang menarik perhatiannya adalah klub Martial Arts dan cheerleader. Mengapa Martial Arts? Karena semenjak dia dicopet kemarin, dia belajar bahwa lingkungan tidaklah selalu aman, karena itu dia harus bisa menguasai ilmu bela diri. Sementara cheerleader, itu karena Tifa sering melihat aksi mereka di televisi.

Saat masih asyik melihat-lihat, tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara bel yang berbunyi dengan keras. Semua murid segera masuk dan duduk di kursi masing-masing, dan tidak lama kemudian masuklah wali kelas mereka. Tifa buru-buru memasukkan kertas itu ke dalam ranselnya dan mulai menyimak.

Pelajaran hari ini entah mengapa begitu cepat selesai. Matematika, Biologi, Fisika, serta olahraga, semua itu berlalu dengan cepat sampai membuat Tifa sendiri sempat merasa heran. Tidak lama setelah bel pulang berbunyi, Tifa menghampiri Aerith yang masih duduk disampingnya. Tifa ingin bertanya mengenai kegiatan klub, terutama mengenai bagaimana cara bergabung.

"Aerith, boleh bertanya?"

"Boleh, ada apa?" tanya Aerith yang kemudian pandangannya beralih ke brosur yang dipegang Tifa. "Ah... kurasa aku tahu kau mau menanyakan apa."

"Aku harus bagaimana jika ingin bergabung?"

"Kau mau masuk klub apa dulu? Tergantung soalnya."

"Sampai sekarang sih aku tertarik untuk masuk klub Martial Arts dan cheerleader."

"Martial Arts... kalau tidak salah, kau bisa mendaftar di aula olahraga yang ada disebelah gedung ini. Sementara cheerleader, kau hanya bisa mendaftar besok karena hari ini klubnya sedang tidak beraktivitas."

Tifa menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia mengerti.

"Apa kau ingin masuk dua klub sekaligus?"

"Apakah tidak bisa?"

"Bisa sih, tapi apa kau sanggup? Apa orangtuamu juga tidak keberatan?"

"Tidak masalah, lagipula aku mau kok. Ibuku juga selalu memberiku kebebasan dalam memilih."

Aerith menganggukkan kepalanya. "Oke, kalau begitu ayo kuantar ke klub karate dulu, cukup dekat kok dari sini."

Mereka berdua keluar kelas dan kemudian berjalan menuju ke aula olahraga. Jam tangan Tifa menunjukkan pukul tiga sore, dan kata Aerith, selain klub Martial Arts terdapat juga klub renang, badminton, dan paduan suara yang tengah beraktivitas hari ini. Semua klub juga diwajibkan untuk selesai paling telat jam setengah tujuh malam, dan sebelum jam dua siang, kegiatan klub tidak boleh berjalan, kecuali hari Sabtu.

Gedung olahraga yang jaraknya tidak begitu jauh akhirnya berada di depan mereka. Dari luar saja sudah terdengar suara 'HIAT!', 'HAH!', dan 'OSU!' berkali-kali. Tifa berpikir wah, sepertinya latihannya keras sekali ya? Aerith membuka pintu secara perlahan dan memperlihatkan sejumlah besar murid yang tengah berlatih. Jumlah murid yang ikut mungkin sekitar lima puluh, campuran laki-laki dan perempuan (meski didominasi laki-laki), dan paling depan terdapat seorang pria setengah baya yang sepertinya adalah pelatih mereka.

Tifa hanya bisa memandang dengan decak kagum.

Mereka berdua terus memandang proses latihan ini dengan serius. Sampai akhirnya, tiba-tiba saja sang pelatih menghentikan kuda-kudanya.

"Baiklah, istirahat dua puluh menit!" teriaknya.

Pria setengah baya itu mengelap keringatnya dan berniat untuk duduk di kursi yang terletak diujung kanan, sementara para muridnya langsung terjatuh begitu saja di atas lantai, mereka benar-benar kelelahan. Diluar pengawasan Aerith, tiba-tiba saja Tifa sudah menghilang dari sisinya dan tengah berjalan menuju sang pelatih.

"Anu, selamat siang," sapa Tifa sopan. "Apa anda pelatih di sini?"

"Ya, namaku Zangan. Kau kelas berapa?"

"Em, saya kelas 2-3, nama saya Tifa Lockhart," kata Tifa sambil membungkuk. "Saya ingin bergabung di klub ini."

Mendengar itu, Zangan segera berdiri sambil memperlihatkan senyumnya. "Wah, kau mau bergabung? Kebetulan sekali karena jumlah murid perempuan yang mengikuti klub ini bisa dibilang sangat kurang."

"Ya, saya mau bergabung!"

"Baiklah kalau begitu," kata Zangan. "Cissnei!"

Tifa membalikkan badannya dan melihat seorang perempuan cantik dengan rambut pendek berwarna orange. Tatapannya juga terlihat agak dingin.

"Tolong berikan kertas formulir pendaftaran kepada anak ini, dia juga ingin bergabung dengan klub kita."

Cissnei menatap Tifa terlebih dulu, baru kemudian dia kembali menghadap Zangan. "Baik, sensei."

Cissnei melakukan semua itu dengan cepat, sampai akhirnya dia kembali dengan selembar kertas dan sebuah pulpen di kedua tangannya.

"Kamu isi formulir ini, dan ingat untuk mengambil baju karate minggu depan," kata Zangan. "Latihan karate berjalan setiap hari Senin dan Kamis, di gedung olahraga ini, datanglah mulai minggu depan."

"Baik."

"Satu lagi, kuharap kau bisa konsisten dalam berlatih. Jangan sampai kau berhenti di tengah jalan dengan alasan tidak kuat atau semacamnya."

"Baik, sensei, aku mengerti."

Tifa mengisi formulir dan setelah selesai ia memberikannya pada Zangan. Kemudian, dia memberi hormat dan berjalan kembali ke Aerith. Aerith hanya senyum-senyum saja melihat Tifa yang begitu gembira.

"Dasar, bahkan kau sampai meninggalkanku hanya untuk mendaftar," kata Aerith. "Kuharap kau juga seperti itu saat mendaftar cheerleader. Aku tidak akan sungkan untuk melatihmu loh."

"'Aku'?"

"Yep, aku, aku adalah salah satu coach di sana."

Tifa mengatakan 'ah...' dengan wajah seperti tak percaya.

"Habis ini kau mau langsung pulang?"

"Begitulah, aku harus..." kata Tifa. "Ah! Ibuku baru saja membuka usaha restoran. Apa kau mau mencoba?"

"Restoran?"

Tifa mengangguk. "Aku bisa meminta ibuku memberikan menu gratis untukmu."

"Ah tidak usah sampai seperti itu," kata Aerith sambil tertawa kecil. "Tapi tawaranmu boleh juga."

"Kalau begitu kau mau?"

"Boleh, boleh."

Sambil mengobrol, mereka berdua berjalan menuju gerbang sekolah dan belok kanan. Tetapi tiba-tiba saja, mereka dikagetkan dengan sosok seorang laki-laki berambut pendek berwarna hitam yang tengah bersandar. Mata birunya tengah menatap ponselnya, sementara tangan kirinya ia masukkan ke dalam kantung celananya. Tifa tahu siapa orang ini, dia adalah orang yang menarik perhatian Aerith beberapa hari lalu, bahkan... hingga sekarang.

Pria itu memasukkan ponselnya dan menyadari Aerith serta Tifa. Wajahnya menjadi ceria ketika matanya menangkap wajah Aerith.

"Em Tifa, tidak apa-apa kan jika—"

"Tidak, tidak apa-apa," kata Tifa. "Aku pulang dulu kalau begitu."

"Maaf ya, hati-hati di jalan."

Tifa menjawabnya dengan senyum, dan kemudian dia pergi meninggalkan mereka berdua. Sepertinya memang benar kalau Aerith menyukai orang itu, dan sang pria juga sepertinya juga memiliki perasaan yang sama, sepertinya sih. Tifa terus berjalan sambil menahan diri untuk tidak menengok ke belakang. Ketika jaraknya sudah agak jauh, barulah Tifa tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak menengok. Mereka berdua tampak akrab sekali, Aerith yang terkadang memukul pelan sang pria, sementara sang pria sendiri meresponnya dengan bercanda atau membisikkan sesuatu. Ah, Tifa sungguh iri sekali dengan mereka.

...

Sephiroth tengah berjalan menuju ke kafe penginapan. Dua jam yang lalu ia sudah tiba di bandara Costa Del Sol, dan kemudian dia dijemput oleh seseorang menuju penginapan ini, seorang supir. Sesampainya di penginapan, sang supir memberikan sebuah kertas kecil, isinya bukan lagi nomor telepon serta alamat, melainkan '16:00', yang adalah waktu perjanjian untuk bertemu. Sekarang sudah mau jam 4, dan jujur saja, Sephiroth sangat tegang. Karena yang ditemuinya kali ini bukanlah klien atau editor, melainkan...

"Lama tidak bertemu ya, Sephiroth."

Suara anggun seorang wanita membuat Sephiroth menoleh. Sosok seorang wanita berambut pirang dengan mata hijau, rambutnya diikat dengan ikat rambut manik-manik, sementara untuk bajunya, dia memakai dress berkilauan berwarna biru. Semua itu membuatnya sungguh terlihat lebih muda dari usia seharusnya.

"Sudah kuduga itu kau," jawab Sephiroth. "Anagaby."


Mohon isi kotak review di bawah ya hehehe, makasih.