A/N : Maaf untuk update yang sangat lama, karena kuliah sungguh menyita waktu. Btw, ini updatenya! Maaf ya kalau misalnya kurang bagus atau ada typo, please read and review!
OH_6
Sepulang sekolah, Tifa melihat bahwa restoran kecil-kecilan milik ibunya dipenuhi oleh banyak pengunjung. Evelyn terlihat tengah merebus mie yang masih belum matang. Sembari menunggu, ia memotong sayuran terlebih dahulu. Belum cukup sibuk, Evelyn juga membuat beberapa buah pangsit dan segera merebusnya setelah selesai memotong sayur. Tifa sungguh tidak menyangka bahwa pada hari pertama dibuka, restoran milik ibunya sudah begitu ramai.
Melihat sang ibu yang begitu sibuk, Tifa mempercepat langkahnya ke restoran yang letaknya di depan rumah. Sambil mengangguk pada setiap pelanggan yang ia temui, Tifa berjalan mendekati ibunya dan langsung memeluknya dari belakang sehingga Evelyn kaget.
"Maaf aku terlambat pulang, Kaa-san," kata Tifa sambil melepas pelukannya. "Hari ini restoran ramai sekali?"
"Iya, begitulah. Bagaimana sekolah?"
"Tidak ada kejadian apa-apa," jawab Tifa. "Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu, baru aku akan membantu."
Evelyn mengangguk, dan kemudian Tifa berjalan ke kamarnya. Ia mengganti seragamnya dengan kaus santai berwarna putih polos dan celana hot pants berwarna abu-abu. Tifa menuruni tangga dengan sedikit buru-buru dan kemudian langsung menuju kembali ke restoran. Jika sang ibu bertugas memasak, maka tugas Tifa adalah membereskan dan mencuci piring-piring kotor. Jumlahnya cukup banyak, apalagi ada beberapa pelanggan yang memesan beberapa kali dalam sehari.
Mereka berdua bekerja keras untuk waktu yang cukup lama, dan setelah matahari terbenam, akhirnya waktu tutup restoran tiba juga. Tifa benar-benar kelelahan, tetapi ia masih lebih baik jika dibandingkan dengan ibunya. Evelyn seepertinya sudah hampir tidak mampu menggerakkan tangannya, dan itu tidak mengherankan. Hampir dua jam, Tifa sendirian mencuci piring, mangkuk, serta gelas-gelas.
Selesai bersih-bersih, Tifa dan ibunya akhirnya masuk ke dalam rumah. Ketika Evelyn memutuskan untuk kembali ke kamarnya, maka Tifa ingin menonton televisi terlebih dahulu. Masih jam delapan lebih, waktu yang agak pagi untuknya tidur. Tidak lupa, dengan makanan kecil sebagai pendampingnya.
Sebuah program berita muncul tidak lama setelah Tifa menekan tombol power. Sebenarnya Tifa tidak begitu menyukai berita, tetapi biar saja deh.
"Selamat malam, kita berjumpa lagi di H-News dan kami akan menyiarkan berita terbaru hingga satu jam ke depan," kata sang pembaca berita. "Berita pertama adalah berita yang berasal dari dunia olahraga."
Tifa terus menonton sambil mengunyah makanan kecilnya. Dunia olahraga ya? Mungkin mereka akan menyiarkan mengenai klub sepakbola Red Canyon yang berhasil memenangkan turnamen sepak bola nasional beberapa hari yang lalu.
"Baru-baru ini Midgar United Sport tengah mencari dan menyeleksi anak-anak muda untuk bergabung dengan mereka, dan melalui pencarian selama tiga bulan, mereka berhasil menemukan lima belas calon dari lima SMA," katanya, "salah satunya adalah seorang siswa SMA Midgar yang bernama Cloud Strife."
Mulut Tifa hampir saja memuntahkan makanannya ketika mendengar nama 'Cloud'.
"Cloud Strife adalah putra tunggal dari Sephiroth, seorang penulis ternama, dengan seorang wanita cantik bernama Anagaby. Mereka sudah bercerai sejak beberapa tahun lalu, dan kini Cloud tinggal bersama ayahnya. Cloud Strife memiliki ketertarikan pada basket saat berusia sembilan tahun, dan sejak itu..."
Gambar Cloud yang tengah bermain basket muncul, dan Tifa masih belum bisa mengatupkan mulutnya yang masih menganga. Astaga, apakah ini sungguhan? Apakah pria berambut kuning jabrik yang ada di televisi sungguhan kakak kelasnya? Berkali-kali Tifa mengucek matanya, dan akhirnya dia tahu bahwa yang dia lihat tidaklah salah.
Berita mengenai Cloud selesai tidak lama kemudian, tetapi mulut Tifa tidak dapat berhenti menganga. Rasanya masih tidak percaya karena orang yang ia kenal bisa masuk berita. Saking konsentrasinya, Tifa nyaris tidak menyadari bahwa ponsel yang berada di kantong celananya bergetar. Ada sebuah pesan masuk.
Hai Tifa! Ini aku, Aerith. Maaf mengganggumu malam-malam begini, tapi apakah besok kau mau langsung mendaftar di klub pemandu sorak?
Pemandu sorak? Oh, benar juga. Sepertinya bisa, memang ada apa?
Ah, tidak. Soalnya di tasku ternyata ada selembar formulir yang tersisa. Aku lupa memberikannya untukmu.
Sungguh? Baiklah, aku akan mengisinya besok.
Oke :D
Tifa memasukkan ponselnya ke kantong dan kembali melihat berita. Berita kali ini adalah mengenai Junon yang dilanda badai yang cukup besar. Tetapi entah kenapa, berita ini tidak begitu menarik perhatian Tifa dibandingkan berita mengenai Cloud tadi. Akhirnya, Tifa mengganti saluran ke acara komedi kesukaannya.
...
"Hei, apa kau lihat berita? Ada kau loh di televisi!"
Cloud membiarkan Zack berbicara macam-macam sementara ia melanjutkan mengerjakan pekerjaan rumahnya, berhubung dia menyetel loudspeaker. Cloud tadi juga menonton acara berita yang dimaksud oleh Zack, dan Cloud menjadi agak kesal. Mengapa? Karena media mengambil gambar dirinya tanpa izin. Sudah diambil, disiarkan pula, memangnya itu akan membuatnya senang?
"Aku sama sekali tidak senang," kata Cloud. "Mereka sungguh merepotkan."
"Oh ya? Kau sungguh aneh, padahal biasanya orang senang jika masuk televisi."
"Sayangnya aku tidak."
"Tetapi apa kau benar-benar direkrut?"
Mendengar pertanyaan Zack, Cloud menoleh pada selembar kertas yang terdapat di dalam tasnya. Selembar kertas yang berjudul 'FORMULIR PENDAFTARAN', yang tentu saja berasal dari lembaga itu. Cloud sebenarnya susah menerimanya jauh-jauh hari, tetapi dia masih belum menggubrisnya hingga sekarang. Malah bisa dibilang, dia sama sekali tidak tertarik. Baginya, dia bermain basket hanya untuk menyalurkan bakatnya, titik.
Baru saja Cloud mau mengambil kertas itu, tiba-tiba saja dia dikagetkan oleh suara Zack yang masih berbicara dengannya.
"Hei jabrik, kau ikut atau tidak?"
"Entahlah," kata Cloud. "Kurasa sih... tidak."
"Ah... sudah kuduga."
Mereka berdua terus mengobrol hingga akhirnya lima belas menit kemudian Zack memutuskan panggilannya. Zack bilang, dia ada semacam rapat untuk pertandingan basket antar dua kota, Costa Del Sol dengan Midgar. Zack ditunjuk menjadi panitia karena panitia yang sebelumnya tiba-tiba mengundurkan diri, alasannya sih karena ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Rapat kali ini juga bisa dibilang mendadak karena adanya pembahasan mengenai penambahan anggaran.
Selesai menelepon, Cloud segera melanjutkan tugas bahasanya. Tugas kali ini adalah membuat pidato, dan baginya ini sangat menyusahkan. Temanya sih bebas, tetapi hingga sekarang dia masih belum mendapat ide sama sekali. Apa yang sebenarnya harus dia tulis? Mengenai krisis energi yang mulai mengancam Gaia? Mengenai kehidupan konflik cinta remaja? Mengenai... keluarga?
Cloud langsung meremuk kertas HVS yang ada di depannya ketika mengingat kata 'keluarga'. Sial, sudah berkali-kali dia mencoba, tetapi setiap mendengar kata 'keluarga', wajah ibunya selalu terbayang. Wajah yang... cantik, rambutnya yang panjang, kata-kata manisnya, tangannya ketika menyentuhnya, semua itu masih teringat meski Cloud sudah seperti menutup hati untuk ibunya. Hingga sekarang masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
Mengapa ibunya tega meninggalkan mereka hanya demi harta?
Cloud menundukkan kepalanya, dan kemudian dia menghela napasnya. Sepertinya karena ia menyerah, akhirnya dia mengambil kembali ponselnya dan melihat-lihat pesan yang masuk. Tetapi sayangnya, tidak ada orang lain yang mendominasi selain Zack dan ayahnya, Sephiroth.
Di tengah-tengah kebosanannya, tiba-tiba saja terdengar suara guntur yang begitu keras dari luar?
Ah, tiba-tiba turun hujan besar, tumben sekali ya?
Cloud, kau tahu apa arti rintik-rintik itu?
Cloud menggumamkan 'ah' pelan. Kata-kata itu, ayahnya yang mengucapkannya ketika ia masih kecil.
Apa itu, Tou-san?
Rintik-rintik hujan itu adalah harapan manusia. Konon katanya, rintik-rintik itu melambangkan jumlah manusia di seluruh dunia yang memanjatkan harapan pada Dewa.
Oh ya? Kalau begitu harapanku juga termasuk?
Pasti, memangnya apa harapanmu?
Aku... em...
Cloud ingat betul percakapan mereka berdua. Selagi bernostalgia, mata Cloud hanya terus memandang rintik-rintik hujan itu, seolah sedang menghitung jumlahnya yang tiada batas. Perkataan ayahnya itu sama sekali tidak benar. Karena waktu kecil, dia berharap bahwa dia akan bisa terus bersama-sama kedua orangtuanya hingga dia besar nanti. Tetapi nyatanya, harapan itu sungguh berbanding terbalik.
Membalikkan tubuhnya, Cloud berniat ke dapur untuk membuat roti bakar, tetapi tiba-tiba saja ponselnya berdering sebagai tanda ada telepon masuk. Cloud segera mengambilnya dan melihat nama yang tertera di layar. Ayahnya.
"Halo?" tanya Cloud.
"Hei, bagaimana denganmu setelah kutinggal pergi?"
"Baik-baik saja, Tou-san sendiri bagaimana di sana?"
"Aku tidak apa-apa, begitu sampai aku langsung ke hotel," jawab Sephiroth. "Cuaca di Junon sungguh berbeda dengan Midgar, di sini anginnya kencang."
"Oh... lalu bagaimana dengan urusan Tou-san itu?"
Sephiroth tiba-tiba saja terdiam ketika mendengar pertanyaan Cloud, dan karena itu Cloud sempat mengira apakah panggilannya terputus.
"Tou-san?"
"Masih belum selesai, kan belum lama aku sampai di sini."
"Begitukah?"
"Ya, tentu saja. Kau mau kubelikan oleh-oleh?"
"Tidak usah, tidak apa-apa."
Sephiroth tertawa kecil. "Baiklah, kalau begitu sudahan dulu ya. Jaga dirimu ya, Cloud."
Telepon berakhir sampai di situ. Sambil memandang heran layar ponselnya yang bertuliskan 'Call Disconnected', Cloud merasa curiga dengan ayahnya.
Apakah ayahnya menyembunyikan sesuatu darinya?
...
Tifa mengedipkan matanya berkali-kali dan kepalanya langsung menghadap kaca jendela. Karena dia baru bangun tidur, dia tidak dapat melihat dengan begitu jelas. Tifa mengulet sambil mengucek matanya pelan, dan mendapati bagian luar kaca jendelanya basah oleh tetes-tetes air, hujankah? Untuk memastikannya, Tifa segera bangun dan mendekati jendela. Benar, di luar tengah turun hujan, dan langitnya sangat gelap sampai Tifa tidak tahu apakah sekarang adalah pagi atau malam.
Meraih ponselnya, Tifa melihat jam yang tertera di kanan atas layar dan jam menunjukkan pukul enam pagi. Menyadari bahwa ternyata hari sudah pagi, Tifa segera bangun, membereskan tempat tidurnya, dan kemudian turun ke bawah. Tetapi aneh, kenapa dia tidak mencium bau sarapan seperti biasanya? Padahal setiap pagi hari, bau makanan seperti roti bakar sekalipun pasti tercium.
Di bawah, lampu ruang tamu dan dapur ternyata masih padam. Hal ini semakin membuat Tifa heran, dan sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Tifa berjalan ke arah pintu untuk melihat keadaan di luar. Sesuai dugaannya, restoran belum disiapkan. Tifa juga mengintip ke dalam kamar, tetapi ibunya juga tidak ada.
"Kaa-san, Kaa-san dimana?" gumam Tifa.
Tifa terus mencari ke seisi rumah, tetapi entah kenapa dia tidak bisa menemukan ibunya. Hingga akhirnya Tifa berniat untuk menghubungi polisi karena dia takut terjadi apa-apa.
Tangan Tifa baru saja meraih gagang telepon ketika pintu depan tiba-tiba saja terbuka. Dari balik pintu, perlahan-lahan terlihat sosok seseorang yang tengah mengenakan jas hujan yang sangat basah. Jas itu segera dilepaskan dan memperlihatkan sosok seorang wanita yang wajahnya basah kuyup, Evelyn. Oh, Tuhan. Tifa langsung menghembuskan napas lega dan menghampiri ibunya.
"Kaa-san! Astaga, kemana Kaa-san pagi-pagi begini? Hujan-hujanan pula."
"Maaf, maaf. Tadi Kaa-san sedang mengantar beberapa bungkus sampah ke mobil sampah."
"Kalau hujan-hujan begini lebih baik tidak usah, cuaca di luar buruk sekali!"
"Ah, tidak apa-apa, ini sudah biasa," jawab Evelyn. "Oh ya, kau belum makan ya?"
"Daripada sarapan aku lebih mencemaskan Kaa-san."
"Ha ha ha, maaf mencemaskanmu tetapi Kaa-san tidak apa-apa kok. Tunggu, biar Kaa-san memasak sesuatu untukmu."
Evelyn melepas sepatu botnya dan berjalan menuju dapur. Kini dia kembali berpenampilan menjadi seorang ibu rumah tangga biasa, dari sebelumnya yang terlihat seperti... yah pemungut sampah.
"Telur atau pancake?" tanya Evelyn sambil memakai celemek.
"Telur," jawab Tifa sambil mengeluarkan sekotak susu dari kulkas. "Oh ya, apa Kaa-san tahu kalau aku mengikuti dua klub di sekolah?"
"Dua?" tanya Evelyn sambil memecahkan telur. "Kau mengikuti dua klub sekaligus? Kau yakin kalau kau akan sanggup?"
Tifa tidak langsung menjawab, dia meminum seteguk segelas susu cokelatnya terlebih dahulu.
"Sanggup kok, dan hari ini aku baru mau mendaftar klub pemandu sorak, klub keduaku."
"Jangan memaksakan diri, nanti kau malah sakit."
Tifa menjawab dengan menganggukkan kepalanya, dan kemudian dia menarik kursi untuknya duduk. Sambil meneguk susunya perlahan, akhirnya telur goreng buatan Evelyn selesai juga. Berniat lebih kreatif, Evelyn juga menambah beberapa macam sayuran lagi. Karena sejak kecil, Evelyn selalu mengingatkan Tifa untuk selalu makan sayur yang banyak, bahkan saat makan pagi sekalipun. Tetapi karena Tifa tidak bisa makan banyak saat pagi, tentu saja porsinya diatur.
Selagi Tifa menikmati sarapannya, hujan di luar semakin lama semakin deras. Selain hujan, terdengar juga suara angin yang semakin kencang bahkan disertai dengan halilintar. Tifa dan Evelyn sempat kaget ketika mendengar suara halilintar menyambar yang pertama.
"Hati-hatilah saat ke sekolah nanti," kata Evelyn. "Hujan besar seperti ini, mungkin kau lebih baik tidak usah masuk sekolah saja."
"Ah, tidak apa-apa, kan ada payung."
"Tidak akan cukup jika hanya itu, kau mau diantar?"
"Tidak, tidak usah," jawab Tifa sambil mengangkat piring kosong. "Terima kasih makanannya."
Tifa meletakkan piringnya dan kemudian segera menuju kamar mandi. Sementara Evelyn, dia membuka restorannya dengan cukup sulit karena hujan dan angin yang cukup kencang.
Sekitar lima belas menit kemudian, Tifa selesai mandi dan mengganti seragamnya dengan cepat. Hujan di luar masih belum reda juga, dan karena itu ia mengambil sesetel jaket dari lemari karena udara pasti sangat dingin. Setelah merasa semuanya sudah siap, Tifa segera turun ke bawah dan mendapati ibunya yang juga baru saja selesai membuka restorannya.
"Hati-hati ya," kata Evelyn. "Kau sungguh tidak mau diantar?"
"Tidak apa-apa," jawab Tifa sambil membuka payung kecil yang baru saja diambilnya. "Aku pergi dulu."
Tifa melangkahkan kakinya keluar dari rumah dan memulai perjalanannya ke sekolah. Hujan sepertinya turun semakin deras, karena itulah Tifa mempercepat langkahnya agar dia tidak lebih lama 'menikmati' derasnya hujan ini.
Di jalan raya, Tifa terus berjalan dan berjalan sambil berhati-hati agar tidak terkena cipratan genangan kotor dari kendaraan yang melewatinya dengan cepat. Selain dirinya, ada murid sekolah lain yang juga tengah berangkat ke sekolah sepertinya. Ada yang pergi sendiri, ada juga yang pergi bersama-sama, kebanyakan mereka mengenakan seragam dari sekolah lain. Suasana di sekitar jalan raya juga bisa dibilang sepi, para pedagang atau penjaga stand yang biasanya selalu berjualan di pinggir jalan tidak ia temui. Ah, kalau saja mereka ada, Tifa ingin sekali membeli sekaleng teh hangat untuknya selama perjalanan. Tadi pagi dia minum susu dingin sih, jadinya dia tidak merasa hangat.
Setelah melewati jalan raya dengan sukses, kini Tifa memasuki sebuah gang yang lebarnya lebih sempit. Tifa biasa lewat sini sebagai jalan pintas menuju ke sekolahnya, selain itu tempat ini begitu sepi dan rindang, lebih baik daripada lewat jalan raya yang dipenuhi oleh polusi asap kendaraan serta suara klakson. Tifa melihat jam tangannya dan masih ada dua puluh menit sampai dia masuk, masih lama. Tetapi tetap saja, Tifa tidak mau memperlambat langkahnya.
Tifa berjalan terus hingga akhirnya dia berada di tengah-tengah gang. Namun tiba-tiba saja, sebuah mobil sedan berwarna hitam muncul dari ujung gang, mobil itu berjalan perlahan dan mempersempit jarak diantara mereka. Tifa pikir mungkin pengemudi mobil itu juga ingin mengambil jalan pintas sepertinya, jadi dia biarkan saja. Tetapi karena gang ini tidak cukup luas, Tifa membalikkan badan dan memutuskan untuk keluar gang untuk membiarkan mobil itu lewat terlebih dahulu.
Tetapi ternyata, di belakangnya juga terdapat sebuah mobil yang sama.
"Apa-apaan ini?" gumam Tifa dalam hati.
Kedua mobil itu semakin lama semakin mendekati Tifa hingga akhirnya membuat Tifa tidak bisa bergerak lagi. Pintu mobil belakang terbuka, dan memperlihatkan sosok tiga pria kekar dan tegap memakai setelan berwarna hitam dengan kacamata berwarna senada. Sementara mobil yang dari depan, dari dalam muncul dua orang pria dengan ciri-ciri yang sama, dan masih ada satu orang lagi yang keluar dari kursi belakang. Ia mengenakan sebuah kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, bersamaan dengan itu, salah satu dari pria yang memakai setelan segera membuka payung untuk melindunginya dari tetesan air hujan.
"Kita bertemu lagi, Tifa," katanya dengan suara berat khasnya. "Kau tidak bisa lari lagi."
"Tou-san?!"
Mohon isi kotak review di bawah ya, makasih :)
