A/N : Akhirnya update juga, mohon read and review ya, thanks banget. Maaf jika kurang bagus atau ada kesalahan pengetikan. Semua bisa dijelaskan melalui review.

OH_7

Tifa sungguh tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dua buah mobil mewah berwarna hitam mengepungnya, lalu muncul pria berbadan besar, dan terakhir... muncul sosok ayahnya. Sang ayah yang tengah mengenakan pakaian mewah bagaikan pemimpin perusahaan yang tengah dipayungi oleh pria bertubuh besar di sampingnya. Wajahnya tersenyum, tetapi bagi Tifa, senyum itu terasa menakutkan.

Liam mengambil payung dari tangan pria di sampingnya dan berjalan mendekati Tifa. Tetapi semakin mendekat, Tifa malah semakin mundur. Mundur, hingga akhirnya tubuhnya terhalang mobil yang menutupi jalan. Liam menjulurkan tangannya untuk menyentuh Tifa, tetapi Tifa langsung menunjukkan ekspresi menolak.

"Tou-san sungguh senang bisa bertemu denganmu lagi, Tifa."

"Mau apa Tou-san menghalangiku?"

"Aku tidak bermaksud menghalangimu," jawab Liam. "Aku hanya rindu sekali denganmu."

Tifa memasang ekspresi jijik di wajahnya. "Padahal belum lama ini Tou-san datang."

"Aku tidak puas, apalagi kau melempariku batu waktu itu."

"Memangnya Tou-san kira itu gara-gara siapa?!" teriak Tifa. "Itu semua karena Tou-san dengan seenaknya mendorong Kaa-san!"

Liam terdiam mendengar perkataan Tifa, dengan mata yang sedikit melebar.

"Aku mau pergi ke sekolah, jadi Tou-san jangan menghalangiku."

"Memangnya bisa?"

Liam mencetikkan jarinya, dan kemudian para pria yang ada di sekelilingnya itu berjalan. Sepertinya mereka adalah para bodyguard. Hati Tifa mulai dipenuhi oleh rasa panik, apalagi ketika Liam mundur dan membiarkan para bodyguard itu mendekati Tifa.

"Ikutlah bersama Tou-san, Tifa," kata Liam. "Kita hidup bersama berdua, Tou-san bisa memberi yang kau mau."

Tifa menggelengkan kepalanya."Tidak, aku tidak mau."

"Kumohon, Tifa. Aku tidak tahan melihatmu hidup di rumah kecil itu."

"Jika rumah kecil lalu kenapa?" tanya Tifa. "Masih jauh lebih baik daripada harus hidup dengan Ayah yang tidak bertanggung jawab."

"Ti—"

"Apapun yang akan Tou-san katakan, aku tetap tidak mau," lanjut Tifa. "Jangan kira aku sudah lupa dengan apa yang sudah Tou-san lakukan pada kami berdua. Semua itu bagaikan membekas dikepalaku."

Keheningan kembali melanda mereka berdua. Dan memang, momen beberapa tahun lalu itu masih suka terbayang dikepalanya. Suatu malam ketika Tifa dan sang ibu tengah makan malam, mereka dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dengan begitu keras. Saat dilihat, ternyata itu adalah sang Ayah yang tengah mabuk berat. Rona wajahnya sungguh merah, pakaiannya berantakan, tingkah lakunya juga tidak karuan.

Sang Ibu berusaha menenangkannya, tetapi karena mabuk berat, yang ada dia malah dipukul. Tidak hanya sekali, tetapi sampai tiga kali. Setelah memukul, Liam juga masuk ke rumah dan mencari Tifa. Tifa yang ketakutan langsung berlari menuju ke kamarnya, dan untunglah dia sempat kabur sebelum sang Ayah meraihnya.

Tetapi, ia harus mendengar suara jeritan sang Ibu yang tengah dianiaya.

Kejadian itu terus terulang hingga satu minggu. Mungkin karena sudah tidak tahan dengan perlakuan sang suami, Evelyn akhirnya melayangkan gugatan cerai. Meski proses perceraian sempat alot, tetapi dalam waktu dua minggu akhirnya mereka resmi bercerai. Selain urusan harta yang telah terbagi secara adil, pengadilan juga memberikan hak asuh anak pada Evelyn.

Semenjak bercerai, Evelyn dan Tifa memutuskan untuk pindah secara diam-diam. Mereka pindah ke kota yang jauh karena tidak ingin mengulang kenangan buruk itu. Tetapi apa daya? Ternyata Liam berhasil menemukan mereka berdua, bahkan hingga sekarang.

Dia sungguh tidak ingin kembali ke Ayahnya. Dia tidak mau, dia tidak mau.

Dia harus kabur dari sini, tetapi bagaimana caranya?

"Tou-san tidak akan menyakitimu," ucap Liam. "Ikutlah, kita memulai hidup baru bersama."

Perkataan itu secara tidak langsung menjadi perintah bagi para bodyguard. Di tengah waktu yang sangat sedikit ini, Tifa berusaha untuk memikirkan cara untuk kabur. Di depannya ada empat orang bodyguard bertubuh besar, di belakangnya ada mobil, ditangannya hanya ada payung yang entah bisa disebut sebagai senjata atau tidak.

Tifa juga celingak-celinguk, tetapi itu semua tidak membantu sama sekali.

"Kau membuat Tou-san tidak memiliki pilihan lain."

Liam mencetikkan jarinya, dan para bodyguard itu langsung bergerak cepat dengan tangan yang bersiap menangkap Tifa. Tetapi kali ini, badan dan pikiran Tifa berpacu lebih cepat. Dengan cekatan, ia memanjat ke bagian depan mobil dan menaikinya hingga akhirnya ia kini berada di belakang mobil. Benar, kenapa juga dia tidak melakukan cara ini daritadi?

Tetapi ternyata cara Tifa segera diikuti oleh para bodyguard itu. Tifa mempercepat larinya dan bahkan dia juga melempar payungnya., masa bodoh dengan air hujan yang mengenai tubuhnya, yang penting dia harus lari dan kabur. Jika dia sampai di sekolah, bodyguard itu pasti tidak akan bisa mengganggunya lagi.

Tifa belok kiri yang juga adalah arah menuju ke sekolah, tetapi sayangnya sekolah masih cukup jauh dari sini. Tifa sendiri juga tidak yakin apakah dia bisa terus lari dari kejaran para bodyguard itu, tetapi yang pasti, larinya mulai perlahan-lahan melambat.

"Hei berhenti!" teriak bodyguard itu dari belakang, dan ketika Tifa menoleh, jarak di antara mereka masih agak jauh. Entah ia harus senang atau tidak.

Tifa terus-terusan berlari, tetapi entah kenapa dia belum sampai sekolah juga. Padahal biasanya tidak makan waktu selama ini. Tetapi apa peduli dengan itu, anggap saja sekarang dia adalah tokoh utama di sebuah film aksi dengan adegan dimana ia tengah dikejar-kejar gerombolan penjahat. Tetapi sepertinya, dia terlalu lemah untuk menjadi tokoh utama.

Sama seperti ketika dia mengejar copet waktu itu, Tifa tidak sanggup berlari lebih lama. Kakinya yang cukup jenjang ternyata tidak membuatnya mampu berlari.

Yah, dia memang sudah tidak sanggup lagi.

Dia sudah tidak sanggup melarikan diri lagi.

"Kaa-san, maafkan aku," ucapnya pelan.

Tifa diam dan pasrah, dan dia bisa mendengar langkah para bodyguard yang mulai terdengar. Suara itu juga sebagai tanda bahwa 'penculikan' terhadap dirinya akan segera tiba. Seandainya dia benar-benar tertangkap, entah akan dibawa kemana dia, entah akan diapakan dia, entah apa yang...

Selagi ia berpikir begitu, tiba-tiba terdengar suara kendaraan—sepertinya motor—berjalan sepertimendekatinya. Tetapi Tifa pikir itu tidak mungkin, lagipula siapa juga yang akan menolongnya? Mungkin saja dia hanya seorang pengendara yang sekedar numpang lewat.

Suara motor yang menarik perhatiannya entah mengapa semakin jelas dan menutupi suara langkah para bodyguard itu, dan tiba-tiba saja, sebuah motor besar (sungguhan) ada di sampingnya.

"Naiklah," kata sang pengendara. "Akan kubantu kau lari."

Tifa tidak bisa melihat siapa yang... menolongnya? Karena ia memakai helm dan tubuhnya memakai jas hujan berbentuk jubah. Dan karena memakai helm juga, suaranya sedikit seperti tersamarkan.

"Kalau kau tidak naik, kau akan menyesal nantinya," katanya lagi. "Naiklah, sebelum mereka menggapaimu."

Tifa menoleh ke belakang dan mendapati para bodyguard yang jaraknya sudah semakin dekat, malah lari mereka semakin cepat ketika melihat sang pengendara motor ini. Rasa panik dan bimbang menyelimuti hatinya, tetapi rasa paniknya lebih mendominasi disituasi ini, jadi dia memutuskan untuk menerima ajakan sang pengendara dan naik motor. Mau dibawa kemana, terserah.

"Berpeganglah yang erat."

Motor digas tanpa ampun. Dalam sekejap, mereka berdua berhasil kabur dari kejaran pria-pria berbadan besar itu. Tifa bisa bernapas lega, karena akhirnya dia tidak jadi 'diculik' oleh Ayahnya. Setidaknya, dia selamat untuk hari ini.

Tetapi karena saking senangnya telah lolos, Tifa sampai nyaris lupa bertanya dia akan dibawa ke mana. Dia juga tidak tahu siapa yang menawarinya bantuan dan memboncenginya. Ya ampun, kenapa juga dia seperti ini?

"Hei," ucapnya. "Kau ini... siapa?"

Tidak ada jawaban. Tifa mencoba untuk bertanya sekali lagi.

"Maaf, kau ini siapa ya?"

Lagi-lagi tidak ada jawaban, dan karena merasa sudah dicueki dua kali, Tifa memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Semoga saja, orang yang ada di depannya ini bukanlah penculik kedua.

Motor terus berjalan melewati arus kendaraan yang sangat padat. Dan karena motor melaju dengan cepat, hanya butuh lima menit sampai akhirnya mereka tiba disebuah bangunan besar yang gerbangnya dipenuhi oleh banyak remaja yang tengah memakai payung. Selain itu, ada juga seorang petugas keamanan yang berjaga di depan sambil mengatur beberapa mobil yang keluar-masuk.

Sekolah?

Dia diantar ke sekolahnya? Bagaimana dia tahu kalau ini adalah sekolahnya?

Motor berjalan masuk ke dalam parkiran. Berhubung sekolah ini menyediakan parkir basement, maka setiap staf atau murid memarkirkan kendarannya di sana. Hujan deras ternyata membuat orang malas menggunakan motor, sampai-sampai tempat parkir begini sepi. Sepertinya mereka lebih memilih jalan kaki atau 'nebeng' teman naik mobil.

Setelah motor diparkir, Tifa reflek turun dan memeriksa dirinya. Basah. Seragamnya basah kuyup karena selama dia dibonceng, dia tidak tertutupi oleh jas hujan, payungnya juga sudah dia lempar. Tetapi memakai payung saat naik motor juga bukan ide yang baik.

Selagi bingung memikirkan cara untuk mengakali seragamnya, sang pengendara sendiri juga tengah bersiap-siap. Ia melepaskan helm, dan kemudian ia melepaskan jas hujannya. Berhubung masih basah, ia menggantungnya di motor. Kini, Tifa dapat melihat sosok penolongnya.

Dan dia sangat terkejut.

"Cloud-senpai?!"

...

Mengapa dia begitu kaget?

Begitulah pikiran Cloud ketika gadis yang ada di depannya berteriak. Seolah-olah yang ada di hadapannya adalah artis terkenal yang sudah memenangkan penghargaan. Memang sih dia belum menunjukkan wajahnya hingga sekarang, tetapi Tifa seharusnya tidak perlu sekaget itu, kan?

Tetapi sebenarnya, Cloud masih heran dengan apa yang baru saja dia lihat. Maksudnya adalah ketika Tifa dikejar oleh empat pria bertubuh besar dan memakai setelan jas. Sebenarnya waktu itu Cloud tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi entah kenapa dia langsung reflek memberhentikan motornya untuk menolong Tifa.

Sekarang, mereka berdua telah tiba di sekolah. Haruskah dia menanyakan hal itu padanya sekarang? Apakah dia akan dianggap ikut campur jika dia menanyakannya?

Setelah selesai merapikan jas hujan dan helmnya, Cloud memperhatikan penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. Bajunya basah, sangat basah. Astaga, kenapa dia tidak menutupinya dengan jas hujannya tadi? Kalau begini, kesannya dia jadi setengah-setengah dalam menolong. Cloud membalikkan tubuhnya sambil menggerutu, menggerutu sebagai tanda bahwa dia bingung.

"Senpai, kenapa kau menolongku?"

Pertanyaan Tifa membuat Cloud membalikkan tubuhnya kembali. "Apa?"

"Kenapa kau menolongku?"

"Kenapa kau bertanya begitu? Wajar kan jika aku menolong seseorang yang kelihatannya butuh bantuan?"

"Memang sih, tapi senpai membuatku kaget. Tiba-tiba muncul seperti itu, bahkan dengan penampilan yang sangat tertutup. Kukira, aku akan diculik lagi."

Cloud menyipitkan matanya. "Diculik? Jadi, yang mengejarmu tadi penculik."

"Yah... bisa dibilang begitu."

"Penampilan mereka terlalu elit untuk seorang penculik."

Cloud melepas kunci bagasi motornya dan... oh iya, seragam Tifa. Entah bagaimana caranya untuk mengganti seragamnya yang basah itu. Seandainya saja dia bawa seragam tambahannya, dia bisa meminjamkan bagian atasnya saja. Huh, menyebalkan.

"Senpai, bukankah seharusnya kita masuk sekarang?" tanya Tifa. "Uh, dingin sekali."

Jelas saja dia kedinginan. Akhirnya sebagai langkah terakhir, Cloud merogoh ranselnya yang agak besar dan mengeluarkan jaket. Memang sih tidak dapat membantu seutuhnya, tetapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali, kan? Selain itu, Cloud juga memberikan handuk kecil yang biasa ia gunakan untuk mengelap keringat setelah berolahraga.

Tifa menerima semua itu dengan wajah tidak percaya sekaligus senang. Ia segera mengelap rambutnya dan mengenakan jaket yang begitu kebesaran ditubuhnya.

"Ayo kita ke kelas," ucap Cloud. "Kurasa kita sudah hampir terlambat."

Tifa mengangguk, dan kemudian mereka mulai menaiki tangga. Ketika mereka tiba di lantai satu, Cloud melihat wali kelasnya yang baru saja datang dengan payung basaf di genggamannya. Ah, ternyata dia belum terlambat. Jujur saja, wali kelasnya sangat bawel jika ada salah satu murid yang terlambat, bahkan jika hanya semenit sekalipun.

Kebalikan dengannya, raut wajah Tifa malah terlihat tidak tenang. Belum juga bicara apa-apa, Tifa hanya tersenyum dan buru-buru lari menuju ke atas. Sepertinya itu adalah tanda bahwa dia terlambat. Akhirnya, Cloud hanya membalas dengan mengangguk. Dan karena buru-buru, Tifa nyaris saja jatuh karena tersandung tangga.

Setelah pergi ke toilet sebentar, barulah Cloud menuju ke kelasnya. Pelajaran pertama dan kedua berjalan dengan membosankan, terutama Bahasa. Gurunya yang bernama Genesis itu selalu menjelaskan dengan menggunakan perumpamaan, dan lagi dia selalu membawa-bawa buku berwarna merahnya. Entah apa itu, Cloud tidak tahu dan tidak mau tahu. Jadinya dia hanya mengikuti pelajaran sambil mencorat-coret buku tulisnya.

Selagi mengikuti pelajaran selanjutnya, Cloud juga memperhatikan keadaan di luar melalui jendela. Masih hujan, padahal sekarang sudah mau pelajaran jam ketiga. Tetapi jika dia mengingat perkataan ramalan cuaca yang ia tonton tadi pagi, sekarang memang sudah mau memasuki musim hujan. Jadi, sepertinya dia harus bersiap-siap untuk menghadapi cuaca seperti ini beberapa hari ke depan.

Waktu istirahat pertama akhirnya tiba juga. Dan karena hujan masih turun, Cloud hanya menghabiskan waktunya di dalam kelas. Tangan kanannya merogoh tas dan mengambil ponsel beserta sebuah headset dari dalam ranselnya. Setelah menyetel lagu kesukaannya dengan volume cukup keras, Cloud terus seperti itu sampai waktu istirahat selesai. Dia tidak seperti murid lain yang lebih memilih untuk ke kantin, lagipula biasanya dia juga main basket.

Selagi asyik mendengar lagu sambil menatap jendela, Cloud tidak menyadari bahwa ada sosok yang tengah mendekatinya. Baru ketika sosok itu menaruh kedua tangannya di atas meja, Cloud menolehkan kepalanya dan melepas headset yang menempel di telinganya. Zack.

"Hei," sapa Zack. "Sayang sekali ya, hari ini kau tidak bisa bermain."

"Biasa saja."

"Kurasa pelajaran hari ini membosankan seperti biasa?"

"Begitulah," jawab Cloud. "Ada apa kemari?"

"Tidak, hanya saja..."

Tidak lama setelahnya, Zack mengeluarkan selembar kertas berwarna putih yang di baliknya terdapat tulisan. Zack menyerahkannya pada Cloud untuk dibaca.

"Tadi aku dikirimi ini."

"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau."

"Yah, memang, tetapi sepertinya mereka tidak mau menyerah begitu saja."

"Aku tetap menolak."

"Meski ini juga tentang basket?"

"Aku bermain basket hanya untuk hobi, bukan sampai seperti itu."

"Tetapi bayaran untuk atlet biasanya tinggi loh, apalagi untuk taraf nasional."

"Sudah kubilang tidak, aku tidak tertarik dengan semua itu," jawab Cloud lagi. "Lagipula kau mengapa tiba-tiba jadi pemaksa seperti ini? Kau dibayar ya?"

Zack langsung menggeleng. "Hanya penasaran, karena biasanya orang lain langsung menerimanya."

"Kau sudah menanyakannya itu sebelumnya," kata Cloud. "Apa cuma itu yang mau kau katakan?"

"Oh ya, aku hampir lupa. Sebenarnya, sekolah mau mengadakan pertandingan sekitar seminggu lagi. Jadi mulai hari ini, setelah sekolah akan ada latihan. Tetapi tentu saja harus melihat cuaca lebih dulu."

"Lalu kegiatan klub?"

"Khusus untuk yang bertanding nanti tidak ada kegiatan klub, dan latihannya bukan di gedung olahraga, melainkan di lapangan dekat sekolah."

"Siapa lawannya?"

Seolah menunggu pertanyaan ini, Zack langsung menjawab dengan senang. "Lawanmu berasal dari SMA Junon, kau masih ingat Johnny?"

Wajah Cloud langsung merenggut ketika mendengar nama itu. Nama saingannya, nama orang yang juga sering bertingkah menyebalkan ketika sebelum pertandingan. Salah satu yang tidak pernah Cloud lupakan adalah ketika Johnny datang ke tengah lapangan dan meneriakkan sindiran kepada tim Cloud. Berhubung waktu itu pertandingan diadakan di SMA Junon, maka tentu saja penonton mendukung saja apa yang dikatakannya. Akibat dari sindiran dan teriakan penonton, tim Cloud hampir saja kalah dan pertandingan berakhir seri.

Tetapi yang membuat Cloud kesal bukannya hasil yang seri itu, melainkan cara Johnny yang sangat licik. Sebenarnya Cloud tidak ingin melawan dia lagi, tetapi Kepala Sekolah tetap ingin mempertandingkan sekolahnya dengan SMA Junon. Alasannya? Mudah, karena 'harga diri'. Tetapi 'harga diri' ini juga yang merepotkan Cloud beserta timnya.

"Baiklah, aku mengerti," kata Cloud sembari mengubah topik pembicaraan.

"Oh, kau tidak mau bertanya lebih lanjut?"

"Aku sudah cukup tahu banyak sampai tidak perlu tanya lagi."

Setelahnya, bel masuk berbunyi. Zack langsung melambai pelan pada Cloud dan berjalan keluar dari kelas. Cloud hanya membalas dengan sebuah anggukan, sambil memasukkan kembali headset serta ponsel miliknya.

"Sial, mengapa harus dia lagi?"

Cloud mengikuti pelajaran selanjutnya dengan menggerutu. Dan mungkin karena menggerutu, dia jadi tidak sadar bahwa pelajaran sudah selesai. Cloud membereskan buku-bukunya dan menenteng ranselnya keluar kelas. Hujan sudah reda, berarti hari ini ada latihan seperti yang tadi diberitahu oleh Zack.

Turun tangga, keluar sekolah, dan kemudian ia berjalan melewati lapangan karena basement berada di sampingnya. Di lapangan tengah ada sejumlah perempuan yang tengah berlatih, dari gerakan dan formasinya, kelihatannya itu adalah klub cheerleader. Cloud berjalan begitu saja karena biasanya dia memang tidak peduli.

Setidaknya, sampai kedua matanya tanpa sengaja menangkap salah satu sosok yang juga tengah latihan.

Rambut panjangnya diikat model ekor kuda, dan dia mengenakan kaos putih yang dipadukan dengan hot pants biru muda. Tubuhnya yang proporsional mengikuti irama lagu dengan lincah, sembari mengamati sang instruktur yang tengah mengajar di depan.

Sosok itu membalikkan tubuhnya, dan saat itu, mereka berdua saling bertatapan. Dengan ekspresi seolah saling tak percaya dengan apa yang mereka lihat.

"Tifa?"