A/N : Hai! Maafkan untuk update yang sangat lama ini, tetapi saya punya alasan kok. Meski update saya lama, tetapi saya tidak menghentikan fic ini di tengah jalan, jadi sabar dan tenang saja. Mohon read dan review ya, saran kritik mohon sampaikan lewat review.
OH_8
Banyak yang mengatakan bahwa yang namanya kebetulan hanya terjadi sekali dalam sehari. Dalam sehari pun, sebenarnya kecil sekali kemungkinan bahwa kebetulan itu akan terjadi. Bahkan tidak ada yang dapat mengira bahwa kapan kebetulan akan terjadi. Ada orang yang percaya, dan ada juga orang yang tidak percaya. Tifa adalah salah satu yang tidak percaya, setidaknya setelah kejadian ini.
Untuk kesekian kalinya, dia bisa berjumpa lagi dengan kakak kelasnya, Cloud Strife. Sudah dua kali ia bertemu dengannya secara tidak sengaja, dan sebenarnya bukan hanya pada hari ini saja. saat hari-hari sebelumnya, bahkan ketika mereka pertama kali bertemu juga seperti ini. Ya ampun, kenapa juga dia bisa tidak menyadarinya sebelumnya?
Pria tampan yang ada di hadapannya sepertinya juga memikirkan hal yang sama. Buktinya, dia tidak berbicara hingga sekarang. Awalnya Tifa masih sanggup 'beradu pandang' dengannya, tetapi akhirnya dia menolehkan kepalanya karena malu. Tatapan Cloud entah mengapa terasa begitu kuat, bahkan ketika Tifa tidak menolehnya lagi, Tifa tahu bahwa Cloud masih menatapnya. Memangnya ada yang salah dengan penampilannya?
Diam-diam, Tifa sedikit menoleh. Tidak sampai bisa melihat wajah Cloud seutuhnya, tetapi setidaknya mampu melihat mulut Cloud. Mulut Cloud terlihat seperti ingin berbicara, tetapi selain itu juga tampak keraguan di sana. Ingin bicara, tetapi tidak jadi. Ingin bicara lagi, tetapi tidak jadi lagi. Selama beberapa menit, mereka terus saja seperti itu.
Sampai akhirnya Cloud membuka mulutnya, barulah Tifa menatap Cloud kembali seutuhnya.
"Oh," hanya kata itulah yang ternyata berhasil diucapkannya. Membuat Tifa memiringkan kepalanya karena heran.
Mereka berdua kembali terdiam. Ketika Tifa hendak mengatakan sesuatu untuk memecah keheningan, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Tifa, ayo kembali latihan!" teriak Aerith dari belakang. "Semua sudah siap lho!"
Tifa menoleh ke belakang, dan kemudian dia kembali memandang Cloud. "Anu..."
"Tidak apa-apa, kembalilah latihan."
"Maaf."
"Hati-hatilah."
Cloud mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan Tifa menuju ke tempat parkir. Sementara Tifa, ia membalikkan tubuhnya dan kembali latihan bersama anggotanya yang lain. Tifa sungguh merasa aneh. Baik pada Cloud, mau pun pada percakapan mereka berdua yang kedengarannya sangat canggung.
Latihan klub berlangsung hingga jam lima sore. Cukup banyak yang Tifa pelajari dari klub ini, terutama dalam hal menari, berhubung Tifa belum pernah menari sebelumnya. Untunglah dia sudah melakukan pemanasan sebelumnya, sehingga tubuhnya tidak terlalu pegal dan sakit. Awalnya Tifa ingin mengajak Aerith pulang bersamanya, tetapi Aerith ternyata ada janji sehingga kali ini dia harus pulang sendiri. Padahal Tifa sebenarnya ingin sekali ditemani karena ia takut jika sang ayah masih ngotot untuk mengejarnya.
Setelah ganti baju, Tifa melihat jam tangannya dan ternyata lima belas menit sudah berlalu. Sekolah tentunya sudah sepi, paling hanya tinggal anggota klubnya saja yang bersiap untuk pulang. Oh ya, anggota klub ini baik-baik. Kebanyakan adalah senior, sementara yang seumur dan lebih muda dari Tifa lebih sedikit. Sepanjang latihan, Aerith adalah pelatihnya dan ia bilang Tifa memiliki bakat. Benar atau tidak, kita lihat saja nanti.
Tifa mengangguk pada petugas keamanan di depan gerbang dan kemudian berjalan meninggalkan sekolah. Ia tidak melihat tanda-tanda bahwa ayahnya ada di sekitar sini, sepertinya untuk sementara ini situasinya aman. Tetapi untuk berjaga-jaga, Tifa memutuskan untuk naik bus yang ada di dekat sekolah. Kalau tidak salah, hanya berjarak dua halte saja lalu berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya.
"Hm, tiket sekali perjalanan 200 gil," gumamnya.
Tifa mengeluarkan uang dari dompetnya dan kemudian membeli tiketnya dari mesin penjual otomatis. Selain dirinya, ada dua orang wanita yang juga tengah menunggu. Seorang sedang membawa kantong belanja dari Supermarket, sementara yang satu lagi sedang bermain-main dengan ponselnya.
Ketika Tifa sedang duduk di kursi halte, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ada SMS masuk dari ibunya.
Kau ada di mana?
Aku sedang menunggu bus pulang.
Bus? Biasanya kau jalan kaki.
Tidak apa-apa, hari ini saja aku ingin naik bus. Ada apa Kaa-san?
Kaa-san ingin belanja bahan makan malam, soalnya ada tamu yang mau datang.
Tamu? Siapa?
Pamanmu.
Tifa melotot ketika melihat kata 'paman', dan kemudian dia langsung tersenyum lebar.
Maksudnya Paman Jake yang dari Rocket Town?
Betul, kebetulan dia sedang ada pekerjaan di Midgar, jadi bisa menginap selama tiga hari.
Kalau begitu biar aku saja yang belanja, kebetulan di dekat sini ada Supermarket.
Oh, kebetulan. Nanti Kaa-san kirim daftar belanjanya, tidak terlalu banyak kok.
Setelah melihat daftar makanan yang harus dibeli, Tifa segera berjalan menuju Supermarket yang jaraknya sangat dekat dengan halte. Bus belum menunjukkan tanda-tanda akan datang, jadi seharusnya tidak masalah jika dia belanja sebentar.
Tifa sungguh senang karena dia bisa bertemu dengan pamannya. Sejak ia masih kecil, ia sudah sangat dekat dengan pamannya yang kebetulan sering main ke rumahnya. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga akhirnya sang paman sudah menikah diusia 12 tahun. Tetapi sepertinya sang paman belum mengetahui kabar perceraian kedua orangtuanya, atau mungkin baru belum lama ini diberitahu. Mungkin setibanya di rumah, akan ada momen 'a shoulder to cry on'. Ya sudahlah, lagipula dia juga sudah sangat kangen dengan pamannya.
"Total 5600 yen," kata sang penjaga kasir.
"Ini uangnya."
"Terima kasih, datanglah lagi."
Sambil menenteng sebuah kantong plastik berukuran besar, Tifa berjalan kembali menuju halte bus. Ah, kebetulan sekali, Tifa melihat sebuah bus yang hampir tiba di halte bus. Ia langsung berlari dan memperlihatkan tiketnya pada kondektur. Setelahnya, ia mencari tempat duduk di bagian belakang.
"Ah, rasanya lelah sekali," gumam Tifa sambil bersandar pada kursi.
Rasanya mata Tifa sudah mau menutup, tetapi keinginannya untuk bertemu sang paman menahan matanya untuk menutup.
...
"Baiklah, latihan cukup sampai di sini!"
Sambil menghela napasnya, Cloud berjalan ke pinggir lapangan dan duduk. Kaus tanpa lengan yang dikenakannya menempel ditubuhnya karena basah oleh keringat, rasanya tidak nyaman. Cloud merogoh ranselnya dan mengambil sebotol air mineral dari sana. Dia sungguh merasa lelah karena latihan kali ini lebih keras dari sebelumnya. Mulai dari latihan fisik sampai bertanding, semuanya hampir dilakukan nonstop.
Di sela-sela latihannya, Zack datang menghampiri Cloud dengan peluit yang bergantung dilehernya. Kali ini Zack memang menjadi pelatih mereka, kaus putih polos serta celana sport berwarna biru muda. Di balik wataknya yang ceria, siapa yang akan menduga bahwa dia lumayan keras dalam melatih? Jujur saja, Cloud hampir pingsan ketika disuruh lari mengelilingi lapangan dua puluh kali. Selesai lari, kakinya langsung tidak sanggup untuk menahan beban tubuhnya. Parahnya lagi, istirahat hanya lima belas menit sampai pemanasan berikutnya dimulai.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Zack sambil menepuk pundak Cloud.
"Kau gila, bisa-bisanya memberi latihan seberat itu."
"Hei, anak muda, aku pernah mengalami yang lebih berat dari itu!"
Cloud tidak menjawab dan kembali meneguk air mineralnya.
"Berhati-hatilah, Cloud. Kudengar Johnny sudah bertambah kuat daripada sebelumnya. Jangan sampai kau menjadi pecundang di hadapannya."
Mendengar itu, tiba-tiba saja Cloud berhenti meneguk minumannya.
"Aku pernah menyuruh salah seorang temanku untuk diam-diam mengamati latihannya, kabarnya mereka sedang melakukan latihan rahasia. Sudah seperti sedang melakukan eksperimen rahasia, eh?"
Cloud tidak menjawab dan kemudian ia berdiri sambil mengambil ranselnya.
"Cloud, sebelum kau pergi," ucap Zack. "Ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui."
"Aku tidak ingin tahu."
"Johnny masuk ke perkumpulan atlet nasional itu, kau tahu?"
Rasa kaget muncul diwajah Cloud, dan kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadap Zack.
"Itulah sebenarnya alasan lain aku melatih kalian dengan keras," kata Zack. "Lagipula, aku juga yakin kalau dia akan menambah beberapa atlet dari liga itu untuk pertandingan nanti."
"Menambah atlet dari liga? Bukankah itu curang?" tanya Cloud sambil menyipitkan matanya.
"Begitulah, sepertinya... terjadi kongkalikong antara sekolah itu dengan liga."
"Temanmu tidak melaporkannya ke polisi?"
"Tak ada bukti, lagipula kan ini baru 'sepertinya'. Tetapi tidak bisa dibilang tidak mungkin."
Cloud menggelengkan kepalanya, dan kemudian ia menaiki motornya untuk segera pulang ke rumahnya. Raut kesal nampak diwajahnya, tetapi itu wajar, atlet mana juga yang tidak kesal ketika lawannya memiliki taktik curang untuk melawannya nanti (meski hingga kini belum ada bukti pastinya)? Tetapi apapun taktik atau cara yang digunakan Johnny, Cloud merasa dia mampu mengalahkannya kali ini. Dia harus bisa membalas hasil seri dipertandingan sebelumnya.
Memikirkan pertandingan membuat Cloud tidak sadar bahwa waktu begitu cepat berlalu, kini ia sudah hampir sampai ke rumahnya. Tetapi ada yang aneh, kenapa lampu yang ada di dalam rumahnya terlihat menyala? Padahal sebelum ke sekolah, dia ingat betul sudah mematikannya. Apakah jangan-jangan... ada pencuri yang masuk?
Anggapan itu langsung buyar seketika ketika Cloud melihat sebuah taksi diparkir di depan rumahnya. Taksi itu bagian bagasinya terbuka, dan terlihat seorang pria tua memakai seragam—supir taksi, mungkin—tengah sibuk mengangkat koper dari dalam. Sementara di depan rumah terdapat seorang pria berambut panjang silver yang mengenakan kaus berwarna hitam dengan mantel berwarna abu-abu.
Sephiroth? Cloud melebarkan matanya karena heran. Kenapa hari ini ayahnya sudah pulang? Bukankah seharusnya masih beberapa hari lagi?
Suara motor Cloud yang kencang mengalihkan perhatian Sephiroth. Ketika melihat anaknya, wajahnya yang sempat terlihat lelah langsung menjadi senang. Setelah taksi itu pergi, Cloud segera memarkirkan motornya di garasi.
"Selamat datang, Cloud," kata Sephiroth.
"Harusnya aku yang bilang begitu," kata Cloud. "Kenapa Tou-san pulang lebih awal tanpa memberitahuku?"
"Aku tidak mau merepotkanmu dengan menyuruhmu ke bandara, dan sepertinya keputusanku memang tepat."
"Tidak juga, aku sebenarnya juga tidak keberatan jika harus menjemput Tou-san."
Tangan Cloud meraih salah satu koper Sephiroth dan membawanya masuk ke rumah, sementara Sephiroth sendiri, dia membawa tas yang ukurannya tidak terlalu besar. Mereka berdua segera merebahkan tubuh mereka di sofa setelah meletakkan kedua barang itu di tengah-tengah ruang tamu.
"Jadi," kata Sephiroth memulai pembicaraan. "Apa saja yang kau lakukan selama aku pergi?"
"Tidak ada yang spesial, paling-paling hanya bermain basket seperti biasa. Tou-san sendiri?"
"Sama saja, tidak ada yang spesial, tetapi aku masih sempat membelikanmu oleh-oleh."
"Apakah di sana sangat sibuk?"
"Lumayan sibuk."
"Kalau boleh tahu, ada urusan apa di sana?"
Untuk pertanyaan yang satu ini, entah mengapa Sephiroth diam saja alias tidak menjawab. Hal ini membuat Cloud memiringkan kepalanya karena heran. Apakah barusan dia menanyakan hal yang salah?
Ketika Cloud mau menanyakannya sekali lagi, mulut Sephiroth tiba-tiba saja terbuka.
"Aku bertemu orang yang penting."
"Orang penting?"
Sephiroth mengangguk. "Yep, sangat penting."
"Pekerjaan baru?"
"Yah..." ucap Sephiroth sambil berdiri. "Oh ya, aku ingin ke kamarku dulu. Aku ingin istirahat karena perjalanan kali ini melelahkan sekali."
Lagi-lagi Cloud memiringkan kepalanya, tetapi dia memutuskan untuk mengangguk dan diam saja sambil melihat sosok ayahnya yang tengah naik ke lantai atas. Sekitar beberapa menit kemudian, barulah Cloud juga menuju ke kamarnya, lagipula dia juga harus mandi. Tetapi seperti sebelumnya, Cloud merasa bahwa sang Ayah tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Setelah mengambil baju ganti, Cloud menuju kamar mandi dan mandi secepatnya. Awalnya setelah mandi Cloud ingin langsung tidur, tetapi tiba-tiba saja perutnya berbunyi minta diisi, jadi Cloud turun dan berjalan menuju dapur. Meski sebenarnya di dapur sendiri tidak ada banyak makanan. Selama ditinggal Sephiroth, dia benar-benar lupa mengenai urusan belanja, jadi yang tersisa hanyalah bahan makanan seadanya. Untunglah masih ada roti beberapa helai serta sekotak susu.
Cloud menuangkan susunya ke sebuah gelas dan mengambil dua helai roti tanpa dipanaskan terlebih dahulu, tanpa dipanaskan? Yep, dia sudah terlalu malas untuk melakukannya. Cloud membawanya ke ruang tamu untuk memakannya sambil menonton televisi. Di sana tidak ada Ayahnya, sepertinya memang sudah tidur.
Baru saja dia duduk di sofa, tiba-tiba saja perhatiannya teralihkan pada sebuah amplop berwarna putih yang tergeletak di atas lantai. Cloud meletakkan susu dan rotinya dan kemudian tangannya meraih amplop itu. Amplop itu tidak dilem, dan ketika isinya ditarik, tampak sebuah kartu dengan campuran warna putih dan krem. Di tengah-tengah kartu itu juga ada tulisan yang dibuat dengan begitu indah dan menarik.
"Wedding Invitation?"
Mohon isi kotak review di bawah, makasih.
