A/N : Maaf untuk update yang sangat lama. Waktu itu saya update fic lain, menulis novel karya sendiri, dan kebetulan fic ini lagi gak ada ide. Jadi saya mohon maaf sebesar-besarnya, sya sungguh miinta maaf. Tetapi saya mohon kesetiaannya untuk memberikan kritik dan saran ya lewat review. Sekali lagi, saya mohon maaf.
OH 9
Hari ini perasaan Tifa sungguh senang sekali. Rasanya momen ketika ayahnya mati-matian mengejarnya hilang sudah setelah ia melihat wajah sang paman, Jake Lockhart. Ketika ia baru saja masuk rumah, sang paman ternyata sudah menunggunya di ruang tamu dengan banyak sekali barang. Dan barang-barang itu sebagian besar adalah hadiah yang sudah disiapkan oleh Jake. Salah satu hadiah yang diberikan oleh Jake adalah sebuah gaun lengan panjang berwarna putih dan berkilauan. Tifa langsung suka ketika melihat gaun itu. Sudah lama sekali semenjak dia ingin memiliki gaun sendiri.
Ah ya, Jake adalah anak bungsu di keluarga Lockheart. Sebagai anak yang paling kecil dari lima bersaudara (ibu Tifa adalah anak kedua), Jake memiliki selisih umur dua belas tahun dengan Evelyn. Semenjak kecil, Jake dan Evelyn sangat dekat. Karena itulah Jake adalah orang yang paling khawatir akan perpecahan yang menimpa keluarga Evelyn. Dan karena itu juga, Jake sangat dekat dengan Tifa yang merupakan keponakannya. Baginya, Tifa sudah seperti anaknya sendiri.
Belum sempat ganti baju, Tifa langsung duduk di sofa dan mengobrol banyak dengan pamannya. Seperti isi sms ibunya, sang paman memang kebetulan sedang ada pekerjaan di sini. Karena pemimpin perusahaan ini ingin membuka cabang di Midgar, dan Jake ditugaskan untuk memantau lokasi. Setelah memantau, Jake sekalian mampir dan menginap di sini. Untung saja Jake masih menyimpan alamatnya. Karena ponsel lama Jake rusak, maka nomor telepon rumah Tifa tentu saja... hilang.
"Sekolahmu bagaimana?" tanya Jake.
"Lumayan, teman-temanku baik padaku."
"Wow, kau benar-benar memiliki kemampuan sosialisasi yang bagus. Dulu paman malah butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri."
Tifa hanya tersenyum.
"Bagaimana dengan ibumu?"
"Oji-san tidak bertanya tadi?"
"Lebih tepatnya sih tidak berani bertanya. Tetapi sepertinya keadaan ibumu sudah jauh lebih baik."
Tifa menundukkan kepalanya. "Iya, begitulah."
Suasana menjadi hening sejenak, dan untuk memecah keheningan, Tifa menyalakan televisi. Kebetulan televisi tengah menyiarkan berita, eh bukan, ramalan cuaca sebenarnya. Kemungkinan besok akan turun hujan seharian. Tetapi karena besok hari Minggu, maka Tifa tidak perlu khawatir. Paling-paling dia hanya diam di rumah saja sambil menemani paman dan ibunya.
"Berapa lama Oji-san menginap di sini?"
"Sekitar tiga-empat hari, kebetulan direktur hanya selama itu memberi hari libur."
Tifa menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya besok kita tak bisa jalan-jalan ya? Padahal aku barusan menemukan tempat yang bagus."
"Oh ya? Karena aku sendiri belum lama tinggal di sini, jadinya aku tidak tahu."
Ketika mereka berdua mengobrol, tiba-tiba mereka mendengar suara pintu depan yang dibuka. Dan ternyata itu adalah Evelyn yang baru saja pulang berbelanja. Memang sebelumnya dia sudah meminta Tifa, tetapi ternyata ada yang kelupaan. Tidak ingin merepotkan Tifa, maka Evelyn memutuskan agar dia saja yang kali ini pergi. Apalagi Tifa kangen sekali dengan sang paman. Sehingga Evelyn ingin memberi waktu untuk mereka berdua. Evelyn pulang dengan membawa dua buah kantong belanjaan yang penuh. Tifa menatap pamannya dan kemudian membantu ibunya membawakan salah satu kantong belanjaan ke dapur.
"Bagaimana pamanmu?" tanya Evelyn sambil mengeluarkan salah satu belanjaanya. "Kalian mengobrol tentang apa?"
"Banyak. Rasanya senang sekali."
"Kalian ada rencana jalan-jalan besok?"
"Kelihatannya tidak karena perkiraan cuaca bilang besok akan turun hujan."
Evelyn menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu... mungkin Kaa-san bisa mengajakmu ya?"
"Ke mana?"
"Nanti Kaa-san akan bicarakan, sekarang lebih baik kita ke ruang tamu. Kurasa pamanmu sudah lama menunggu."
Tifa memiringkan kepalanya karena penasaran. Tetapi akhirnya dia hanya menurut saja dan berjalan ke ruang tamu.
Untuk beberapa lama, mereka bertiga mengobrol mengenai banyak sekali hal, terutama Jake. Katanya, dia berencana untuk berhenti bekerja sekitar dua tahun lagi. Alasannya simpel, karena dia menemukan pekerjaan yang lebih cocok daripada pekerjaan yang sekarang ini. Semenjak remaja, Jake selalu ingin menjadi seorang reporter. Sebenarnya sudah semenjak setahun lalu Jake mencoba melamar, tetapi sayangnya ditolak karena kurang pengalaman. Kini setelah memperlajari mengenai jurnalistik, Jake ingin mencoba lagi tahun depan. Rencana ini, tentu saja didukung oleh Evelyn dan Tifa.
Jake juga menanyakan mengenai ekstrakurikuler yang kini tengah diikuti oleh Tifa. Selain takjub, Jake juga sangat kaget karena Tifa mampu mengikuti dia klub sekaligus. Dan yang membut Jake lebih takjub lagi adalah Tifa menjadi calon kuat anggota baru untuk pemandu sorak sekolahnya, padahal dia belum lama bergabung. Tifa sendiri juga sebenarnya tidak percaya. Padahal yang dia lakukan selama ini hanya mengikuti perintah pelatihnya alias Aerith. Dan menurut desas desus yang Tifa dengar, ia tengah dipersiapkan untuk ikut mendukung pertandingan basket sekolahnya nanti. Benar atau tidak, Tifa tidak mau berharap banyak.
Dua jam asyik mengobrol, Jake tiba-tiba saja merasa kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk tidur. Sementara Evelyn dan Tifa, mereka masih ingin mencuci piring terlebih dulu. Selain piring dan gelas yang digunakan barusan, masih ada lagi cucian dari restoran yang belum sempat dicuci. Evelyn tidak tega untuk meminta bantuan Jake karena dia tahu Jake begitu lelah setelah perjalanan jauh.
"Jadi, nanti Kaa-san mau mengajakku kemana?"
"Hm?" tanya Evelyn. "Oh, soal itu. Kaa-san mau mengajakmu ke sebuah pesta."
Tifa menyipitkan matanya. "Tidak biasanya Kaa-san mengajakku pergi ke pesta. Pesta apa?"
"Ada pesta reuni dengan teman-teman SMA," jawab Evelyn. "Dan lagi, kami semua janjian untuk membawa anak kami masing-masing"
"Oh... jadi aku pergi menemani, begitu?" tanya Tifa sambil meletakkan piring yang sudah dicuci. "Yah, seharusnya sih bisa. Kebetulan, Oji-san baru membelikanku gaun."
"Wow, itu justru membuat situasi bertambah bagus."
"Dimana tempatnya?"
"Di Midgar Hotel," jawab Evelyn. "Dan sebenarnya, ada satu hal lain lagi."
"Kenapa?"
"Sebenarnya, Kaa-san juga mau memperkenalkanmu pada anak laki-laki teman Kaa-san."
Mendengar itu, Tifa hampir saja menjatuhkan piring yang sedang dicucinya. Astaga, apakah sang ibu mau menjodohkannya di pesta pernikahan itu?
...
Cloud sungguh tidak tenang hari ini. Di kamarnya yang agak berantakan ini, Cloud sama sekali tidak bisa tidur. Sudah hampir jam dua belas malam, tetapi matanya sama sekali tidak bisa menutup. Otaknya sungguh dipenuhi oleh rasa penasaran akan unadangan pernikahan yang belum lama ia temui. Segelnya masih rapi, karena itulah Cloud sempat ragu-ragu untuk membukanya diam-diam atau tidak. Meski rasanya tidak mungkin sih ayahnya akan memarahinya habis-habisan hanya karena melihat sebuah undangan pernikahan. Dan lagi, entah mengapa baru kali ini Cloud bisa merasa sebegitu ingin tahunya pada sebuah undangan. Padahal, mungkin saja itu hanya undangan teman ayahnya saja, kan?
Setelah bersusah payah untuk tertidur namun tidak berhasil, akhirnya Cloud memutuskan untuk bangun. Sial, ada apa sih dengannya? Bisa-bisanya dia jadi tidak bisa tidur hanya karena masalah sepele. Kini, dia sungguh tidak tahu harus melakukan apa untuk membuang waktunya. Bermain komputer? Ah, tidak. Belajar? Apalagi, dia tidak akan konsentrasi. Bermain basket? Meski itu adalah kesukaannya, tetapi tidak deh jika harus memainkannya sekarang. Makan? Cloud paling tidak bisa makan jam segini.
Berpikir terus sungguh tidak ada gunanya, dan tiba-tiba saja dia merasa haus. Berjalan keluar dari kamar, Cloud turun dan pergi menuju dapur. Karena lampu dimatikan, suasana dapur begitu gelap gulita. Tetapi cahaya yang terpancar dari sela-sela kamar ayahnya lumayan membantu. Entah apa yang dilakukan sang ayah malam-malam begini? Mungkinkah ada naskah yang belum selesai? Tetapi seingat Cloud, ayahnya sudah menyelesaikan novelnya belum lama ini. Dan karena dia sibuk, Sephiroth jarang melakukan aktivitas lain karena dia sudah ingin istirahat. Tetapi... ya sudahlah, untuk apa juga dia mengurus hal-hal kecil?
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Cloud mengambil gelas dan minum air. Setelah dahaganya hilang, ternyata dia masih belum merasa mengantuk juga. Dan kali ini (entah mengapa) Cloud memutuskan untuk berjalan menuju ke ruang tamu. Sama seperti dapur, ruang tamu sungguh tidak kalah gelapnya. Di kegelapan, entah bagaimana caranya Cloud masih dapat melihat undangan itu. Tetapi kali ini Cloud tidak mau membukanya, bahkan mengambilnya saja tidak.
"Cloud?"
Cloud nyaris saja menjatuhkan gelasnya karena kaget. Astaga, bisa-bisanya ayahnya tiba-tiba muncul seperti itu. Kok Cloud juga tidak mendengar suara pintu kamar yang dibuka ya?
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Sephiroth. "Dan apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
"Aku tak bisa tidur. Tou-san sendiri? Ada naskah yang belum selesai?"
"Tidak juga, Tou-san juga tidak bisa tidur."
Sephiroth kemudian duduk di sofa. "Bagaimana kalau kita mengobrol?"
Cloud mengangguk, dan kemudian ikut duduk di sofa. Boleh juga menggunakan cara ini untuk menghabiskan waktu, apalagi sebenarnya ada beberapa hal yang ingin Cloud tanyakan.
"Sebenarnya..." kata Cloud memulai. "Di Junon, Tou-san bertemu siapa?"
"Hm? Hanya sekedar klien kok. Kenapa?"
"Tidak, soalnya..." lanjut Cloud yang sempat terhenti perkataannya, pikirannya terfokus lagi pada undangan itu. "Hanya ingin tahu saja."
Sephiroth memandangnya heran, tetapi akhirnya dia melanjutkan lagi.
"Cloud... sebenarnya, aku ingin menanyakan sesuatu."
"Ya?" tanya Cloud yang sedang minum.
"Bagaimana seandainya... jika aku dan Ibumu menikah lagi?"
Cloud langsung memuntahkan air yang baru saja masuk ke tenggorokannya. Sephiroth sendiri juga kaget karena tidak menyangka bahwa reaksi Cloud sampai seperti itu.
"Tou-san, apa-apaan itu?!" kata Cloud sambil menyeka mulutnya. "Jangan bercanda!"
"Yah..."
Sephiroth berdiri, dan kemudian dia berjalan ke hadapan Cloud. Sephiroth juga berlutut untuk mensejajarkan pandangannya dengan Cloud.
"Mungkin kau belum mengerti, tetapi jika seseorang sudah menjalin kasih selama beberapa lama, maka perasaan cinta dan sayang tidak akan semudah itu hilang," kata Sephiroth. "Bahkan ketika sudah berpisah sekalipun."
"Tou-san, aku... maksudku untuk apa juga masih memikirkan itu?"
"Jawabannya sama seperti yang kukatakan tadi."
Setelah berkata begitu, Sephiroth berdiri dan kemudian berjalan masuk ke kamarnya. Dan tidak seperti tadi, lampu kamarnya kali ini juga dimatikan. Cloud hanya bisa menatapi punggung sang ayah dengan heran, sekaligus berpikir, mengapa juga sang Ayah berkata seperti itu? Cloud memang tahu betul bahwa sang Ayah adalah sosok yang begitu lembut apalagi kepada perempuan. Tetapi... Sephiroth sendiri juga sebenarnya sudah berkata, bahwa demi dirinya dan Cloud, dia berusaha untuk melupakan peristiwa perceraian itu. Dia harus bisa bangkit dan terus menjalani hidupnya. Lalu apa maksud perkataan Ayahnya itu?
Obrolan singkat itu ternyata menghabiskan cukup banyak waktu, dan rasa kantuk itu mulai terasa. Baiklah, sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk tidur. Cloud bangun dengan tangan kanan yang memegang gelas, dan kemudian mulai berjalan menuju dapur. Besok hari Minggu, dan sebenarnya Zack merencanakan latihan dari jam dua belas siang sampai jam empat sore. Tetapi seandainya ramalan cuaca benar, maka latihan sudah pasti harus dibatalkan. Yah, begitulah kalau sedang sering-seringnya hujan.
Tetapi sebenarnya, ada sesuatu yang Cloud tidak sadari. Bahwa di sofa tempatnya barusan duduk, ada sesuatu yang tidak ada.
Ya, undangan itu telah menghilang.
...
Sementara itu, disuatu tempat.
"Bagaimana jadinya? Kau masih belum bisa menangkapnya?"
"Yah, entah mengapa dia selalu berhasil kabur. Aku sungguh bingung bagaimana cara yang bagus untuk menangkapnya."
"Kau harus bisa menangkapnya, kau bilang kau sangat menyayanginya, kan?"
"Ya, tetapi bagaimana?"
"Aku ada ide."
"Oh ya, apa?!"
"Itu..."
Mohon isi kotak review di bawah ya, hehehe. Makasih, dan untuk ketiga kalinya, saya minta maaf.
