A/N : Akhirnya bisa update juga. Mohon anda-anda semua read dan review ya, makasih banyak. Oh ya, anggap saja mata uang Gil itu sama kayak Rupiah di Indonesia. Karena memang lebih mirip sama Rupiah sih dibandingkan Dollar.
OH_10
Perkiraan cuaca sungguh tepat. Baru saja jam tiga pagi, Tifa sudah terbangun oleh suara rintik-rintik dari luar. Awalnya hanya sekedar gerimis, tetapi dalam waktu dekat hujan makin lama makin deras. Bahkan ketika Tifa bangun lima jam kemudian, hujan masih turun dengan begitu lebat. Sungguh bukan awal yang baik untuk memulai hari Minggu. Kalau begini, memang sudah seharusnya dia diam saja di rumah untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya. Lagipula, sang paman juga enak kok untuk diajak mengobrol.
Lain anak, lain juga ibunya. Jika Tifa memilih untuk bersantai di rumah, maka Evelyn sudah pergi berbelanja dari pagi-pagi sekali. Meski di luar hujan turun begitu deras, tetapi Evelyn tetap bersikukuh untuk berbelanja. Kulkas nyaris kosong, katanya. Tifa baru percaya omongan ibunya ketika ia membuka kulkas. Berhubung sang ibu juga belum menyiapkan sarapan, akhirnya Tifa memasak seadanya. Meski kata 'memasak' itu sedikit berlebihan karena yang Tifa buat hanyalah empat potong roti bakar beserta dua telur dadar. Dan baru Tifa sadari, bahwa Jake masih belum bangun hingga sekarang.
Tifa mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan selagi membuka lemari. Oke, dia menemukan mentega, lalu telur juga ada, dan satu lagi yang juga adalah yang terpenting, roti tawar... tidak ada. Tifa mencoba untuk mencari lagi dengan lebih teliti, tetapi ternyata memang tidak ada. Entah sang ibu tahu atau tidak, tetapi kalau begini tentu saja Tifa tidak bisa membuat sarapan. Dengan dilanda kebingungan, Tifa akhirnya terburu-buru ke kamar untuk mengambil dompet dan berniat untuk berbelanja sebentar. Meski di luar hujan turun cukup lebat, tetapi tidak apa deh. Dia kan bisa pakai payung. Tidak lupa, dia juga menuliskan pesan pada ibu dan pamannya pada sebuah kertas tempel.
Biasanya sang ibu berbelanja di swalayan yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya, karena kebetulan supermarket dekat rumah tidak terlalu lengkap. Tetapi tentunya Tifa tidak perlu pergi ke swalayan yang sama dengan ibunya, cukup ke supermarket tempat dia sempat dijambret beberapa waktu lalu. Dijambret? Ah... benar juga, Tifa benar-benar sudah nyaris melupakan kejadian itu.
Tanpa mengganti baju tidur yang dikenakannya, Tifa mengenakan sandal, membuka payung, dan pergi keluar tanpa lupa mengunci pintu. Tanpa mempedulikan suasana di sekitar yang dipenuhi rintik-rintik air hujan, Tifa terus berjalan hingga akhirnya dia sampai juga di supermarket. Supermarket terlihat baru bersiap untuk buka berhubung waktu masih sangat pagi, petugasnya saja terlihat begitu sibuk mengangkat barang-barang di dalam. Tetapi ketika Tifa membuka pintu untuk mengintip, untunglah ia diperbolehkan masuk.
Tifa segera memilih roti yang tanggal kadaluarsanya paling lama dan membayarnya. Oke, sekarang sudah waktunya pulang. Ketika Tifa melihat jam dinding yang tergantung, sudah sepuluh menit berlalu semenjak dia pergi.
"Oke, harus segera pulang," gumamnya, sambil membuka payungnya lagi.
Mungkin hanya perlu setengah dari waktu berbelanjanya untuk pulang kembali ke rumah. Tetapi sepertinya ada sesuatu yang lain, yaitu restoran yang sedang bersiap-siap untuk buka. Oh, apa mungkin ibunya sudah pulang? Dan memang, dari dalam rumah, muncul sosok sang ibu yang tengah mengangkat sebuah kardus berukuran sedang dan berisi bahan-bahan makanan. Ditambah lagi, Jake yang sudah bangun juga ikut membantu membawa peralatan memasak serta mangkuk. Penampilannya sungguh berantakan dengan kaus putih tanpa lengan serta celana panjang. Wajah mereka berdua terlihat lega ketika melihat Tifa—yang sebenarnya tidak kalah berantakan—tengah berlari menuju rumah di tengah hujan begini. Lho? Memangnya mereka tidak membaca pesannya tadi?
"Ya ampun, kau kemana saja tadi?" tanya Evelyn. "Aku sungguh syok ketika tidak menemukanmu dimanapun."
"Maaf, tadinya aku ingin membuat roti bakar. Tetapi ternyata rotinya habis," jawab Tifa. "Memangnya Kaa-san tidak membaca pesanku?"
"Tidak tuh, soalnya Kaa-san langsung siap-siap buka restoran sih."
Tifa menganggukkan kepalanya.
"Dan lagi, Kaa-san juga langsung membangunkan pamanmu yang tukang tidur ini. kalau tidak dibangunkan, paling jam sebelas dia baru keluar kamar."
"Ayolah, Kak. Aku lelah karena kemarin seharian bekerja," jawab Jake.
"Tidak, itu kebiasaanmu sejak masih SMP."
Tifa hanya tertawa melihat mereka berdua. "Baiklah, aku masuk dan mandi dulu. Ada yang perlu dibantu lagi?"
"Tidak ada, kau santai-santai saja dulu," jawab Evelyn. "Lagipula di luar masih hujan. Mungkin pelanggan juga tidak akan langsung datang."
Tifa menganggukkan kepalanya, dan setelah meletakkan roti tawar di dapur, Tifa mengambil selembar T-shirt abu-abu serta hot pants hitam untuknya ganti baju setelah mandi. Dia sungguh merasa segar karena sejak tadi tubuhnya terasa begitu lengket.
Hujan masih belum reda juga sampai sekarang. Membuat bisnis Evelyn sedikit seret karena pastinya orang-orang lebih memilih untuk diam di rumah daripada keluar. Tifa sendiri, dia juga hanya bisa diam sambil melahap roti bakarnya, serta tontonan televisi sebagai hiburan tambahan. Tetapi sayangnya, hari Minggu tidak menjadi jaminan bahwa televisi akan dipenuhi oleh acara-acara menarik. Karena kenyataannya nyaris tidak ada acara yang bagus. Paling-paling yang bisa ditonton hanya berita, atau acara bincang-bincang alias talkshow.
Sambil melahap sarapannya perlahan-lahan, mata Tifa tidak berpaling dari acara bincang-bincang pagi yang sedang ia tonton. Sang pembawa acara adalah seorang perempuan bertubuh pendek namun begitu pandai berbicara. Acara kali ini membahas mengenai pemuda-pemudi berprestasi di Midgar, yang salah satunya ditandai dengan munculnya pebisnis-pebisnis dari berbagai kalangan, serta bidang. Ada sekitar puluhan pengusaha muda, tetapi yang paling terkenal adalah gadis berusia 14 tahun yang sukses dengan bisnis internetnya. Dengan berjualan baju rancangannya sendiri, dia mampu meraup keuntungan sebesar tiga belas juta gil perbulannya. Mungkin Tifa harus mencobanya juga, berbisnis sendiri berjualan... sandal. Yah, sandal juga pasti bisa menghasilkan uang, kan?
Setelah bisnis, kali ini adalah prestasi olahraga. Baru-baru ini, Gaia dikejutkan dengan berita mengenai kesebelasan dari Nibelheim yang meraih juara pertama di turnamen internasional. Hm, olahraga? Mendengar kata 'olahraga', Tifa jadi teringat dengan kakak kelasnya, Cloud. Kalau tidak salah ingat, Cloud adalah salah satu pebasket handal di sekolah. Pada awal mereka bertemu, Tifa sempat takut untuk berbicara dengannya, tetapi dalam waktu beberapa hari saja, dia terlihat lebih ramah. Masih segar di ingatan Tifa ketika Cloud menolong dengan mendapatkan kembali dompetnya dari jambret. Dan untuk kedua kalinya, Cloud menolongnya lagi dari kejaran pengawal ayahnya. Seandainya Cloud tidak menolongnya, mungkin Tifa sudah kehilangan dompet dan terkurung di sangkar emas ayahnya.
Jujur saja, Tifa belum pernah mengalami yang namanya 'cinta pertama'. Apalagi semenjak sang ayah berubah, rasa sensitif Tifa terhadap laki-laki menjadi meningkat drastis. Bukan dalam arti benci, tetapi lebih ke... takut. Apalagi ketika dia melihat atau dihampiri oleh pria seumuran ayahnya. Sang ayah sungguh menghancurkan imej laki-laki di matanya.
Tetapi di sisi lain, Cloud seolah membangkitkan kembali imej yang telah hancur itu. Memang dia tidak banyak bicara dan untuk bertemu pun sangat jarang, tetapi Tifa tidak merasa takut sama sekali terhadapnya. Kepribadiannya memang berbanding terbalik dengan Jake yang ceria dan banyak bicara, tetapi... ah, entah bagaimana mengatakannya. Namun yang pasti, Tifa harus mengakui bahwa Cloud adalah tipe pria yang sungguh lain daripada yang lain. Tampan, atletis, agak dingin, dan...
Seolah tersadar dari lamunannya, Tifa segera menggelengkan kepalanya dan memakan sisa roti bakarnya yang tinggal seperempat. Ya ampun, kenapa dari acara bincang-bincang tahu-tahu malah menjurus ke kakak kelasnya?
"Tifa, apa kau tahu dimana garam? Tadi ibumu lupa mengambilnya."
"Di rak dapur, kedua dari kiri," jawab Tifa. "Bungkusan bertuliskan Ocean Taste"
"Oke, terima kasih," jawab Jake sambil berjalan menuju dapur.
"Memangnya sudah pelanggan ada yang datang?" tanya Tifa sambil sedikit berteriak.
"Sudah ada tiga orang tadi, dan baru bertambah tiga lagi," jawab Jake yang kembali tidak lama setelahnya. "Makanan ibumu sepertinya enak sekali ya?"
"Syukurlah kalau begitu."
Jake berjalan menuju pintu depan, tetapi tiba-tiba dia berhenti. Dengan ekspresi seperti baru mengingat sesuatu, ia berkata, "oh ya, kudengar di toko dekat sini yang menjual boneka Chocobo. Nanti sore akan kubelikan kau sebuah."
"Boleh, terima kasih, Oji-saan," jawab Tifa sambil tersenyum.
Chocobo adalah hewan sejenis ayam namun berukuran jauh lebih besar. Biasanya berwarna kuning, tidak bisa terbang terlalu tinggi, dan sangat suka makan lobak. Hewan yang satu ini juga sangat bersahabat dengan manusia. Dan dengar-dengar, telah dibuka peternakan Chocobo di suatu tempat yang cukup jauh dari Midgar. Entah dimana, tetapi Tifa akan mencarinya di internet. Oh ya, dan jabrik kunik hewan itu juga membuatnya terlihat lebih lucu.
Dan bicara soal jabrik, entah mengapa Tifa menjadi teringat akan Cloud lagi. Berhubung model rambut Cloud adalah jabrik dan warnanya juga kuning. Hahaha, kok bisa ya mirip seperti itu?
Kali ini, Tifa hanya tertawa ketika membandingkan kakak kelasnya dengan seekor hewan. Tanpa menyadari bahwa ini adalah kali kedua dia memikirkannya.
...
Cloud Strife tengah membaca buku novel di dalam kamarnya sambil menatap hujan di luar sesekali. Sungguh bosan rasanya hanya membaca buku seperti ini. Sebenarnya hari ini juga dijadwalkan akan ada latihan, tetapi berhubung hujan yah terang saja tidak mungkin. Sekarang entah sedang musim apa, tetapi jika hujan terus menerus turun, maka tentu saja mereka akan sulit untuk latihan. Tidak mudah juga untuk meminjam aula olahraga sekolah. Karena aula olahraga sendiri juga sering dipakai oleh klub drama untuk latihan. Apalagi, klub drama juga tengah mempersiapkan salah satu drama terbaru mereka nanti.
Menutup bukunya, Cloud menghela napas dan melemparnya begitu saja ke atas kasur. Sudah jam sebelas siang, dan hujan ini masih tidak reda-reda juga. Mungkin untuk selanjutnya, Cloud harus membuat teruterubozu* dan menggantungnya di jendela kamarnya. Meski sebenarnya Cloud setengah percaya setengah tidak akan hal itu. Memang benar kata orang, rasa bosan terkadang bisa membuat seseorang memikirkan hal yang aneh-aneh, bahkan sangat aneh sekalipun.
(*teruterubozu : boneka penangkal hujan)
Tanpa turun ke bawah, Cloud dapat menebak bahwa Sephiroth tengah minum teh sambil melanjutkan menulis novel serinya. Berbeda dengan dirinya, Sephiroth menyukai pemandangan hujan. Baginya, melihat air hujan yang membasahi jendela dapat memberikannya inspirasi. Kedengarannya aneh? Tapi begitulah kenyataannya. Seorang novelis seringkali memiliki kebiasaan yang di luar dugaan atau sangkaan orang-orang. Sebenarnya masih ada lagi kebiasaan Sephiroth yang lain, tetapi Cloud tidak mau memikirkannya.
Diam terus di kamar memang bukan ide yang bagus. Akhirnya, Cloud memutuskan untuk turun ke lantai satu dan mencoba melakukan aktivitas lain. Sesuai dugaannya, sang ayah tengah melanjutkan novelnya, lengkap dengan secangkir teh lemon di samping laptop miliknya.
"Bosan, Cloud?" tanya Sephiroth tanpa memalingkan wajah dari laptop.
"Begitulah. Sedang melanjutkan pekerjaan?"
Sephiroth menjawab dengan mengangguk.
"Seharusnya aku ada latihan hari ini, tetapi batal karena hujan," lanjut Cloud. "Aku sungguh bingung mau melakukan apa."
"Diam saja sambil menonton televisi atau apalah."
"Tetap tidak mempan."
Sephiroth tertawa kecil. "Ya sudahlah, sesukamu saja."
Sepertinya Cloud memang tidak punya pilihan lain. Dan tidak lama kemudian, Cloud merasakan getaran dari ponsel yang terletak di kantong celana panjangnya. Ada sebuah pesan singkat dari Zack. Zack? Mau apa dia mengirim pesan? Seharusnya dia juga tahu bahwa hari ini latihan jelas-jelas tidak bisa dilaksanakan. Cloud menekan tombol 'open' untuk membaca pesan Zack.
Hari ini ada latihan, kau bisa datang?
Cloud menyipitkan matanya. Hujan begini?
Tenang, aku barusan diberitahu pihak sekolah bahwa klub drama sedang tidak berlatih hari ini. Jadi, kita bisa memakai aula olahraga hari ini.
Jam berapa?
Jam dua siang sampai jam lima. Bagaimana? Kau bisa?
Baiklah.
Memasukkan kembali ponselnya, Cloud segera ke kamar untuk ganti baju dan menyimban sesetel baju ganti di dalam ranselnya. Berhubung di luar juga hujan, maka Cloud juga memutuskan untuk memakai jaket tahan air.
Setelah pamit dan hendak keluar rumah, tiba-tiba saja Cloud melihat sebuah amplop cokelat besar yang tergeletak di atas rak sepatu di samping pintu. Amplop itu sungguh berbeda dengan amplop-amplop sebelumnya yang berukuran lebih kecil dan isinya hanya berupa tagihan-tagihan. Sekarang belum masuk awal bulan depan, jadi sudah pasti bukan tagihan. Jadi apa isi amplop itu? Di sekelilingnya tidak ada alamat pengirim yang jelas.
Cloud membukanya secara perlahan, dan di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas berwarna putih. Baru melihat judulnya saja, Cloud sudah menghembuskan napas. Astaga, apakah mulai dari sekarang dia sudah harus memutuskan ini?
"Dari universitas lagi ya?" tanya Sephiroth dari belakang. "Dengan begini, sudah tiga kali amplop itu dikirim."
Cloud tidak menjawab dan hanya melempar amplop itu ke lantai.
"Tapi ada baiknya kau sudah mulai memilih lho, dan sepertinya ada formulir beasiswa juga ya?"
"Aku belum siap untuk memutuskan, lagipula masih tengah-tengah semester awal."
"Tapi tetap saja kau sudah tahun terakhir, memangnya temanmu juga belum mendaftar."
Kali ini Cloud hanya menjawab dengan mengangkat bahunya.
"Sebenarnya, ada baiknya juga kalau kau mulai berpikir dari sekarang," kata Sephiroth. "Lagipula, kau masih belum memikirkan jurusan apa yang akan kau pilih nanti."
Dengan bibir sedikit cemberut, Cloud hanya diam sambil mendengarkan perkataan Ayahnya yang sayangnya memang benar. Sebenarnya Cloud bisa dibilang sangat terlambat karena masih belum memikirkan kuliahnya nanti secara masak-masak. Padahal kebanyakan teman-teman sekelasnya sudah memilih jurusan kesukaan mereka.
Sebenarnya, Cloud sendiri bukannya tidak peduli pada masa depannya. Dia juga bukannya tidak memiliki cita-cita dan impiannya sendiri. Cloud punya, hanya saja dia tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. Tetapi impiannya itu nyaris tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran yang ia pelajari di sekolah, mungkin lebih tepatnya yang teori seperti Geografi atau Sejarah. Dan bukan berarti, impian Cloud ada hubungannya dengan hitung-hitungan bak Matematika atau Fisika.
Bukan teori, bukan juga hitungan, karena cita-cita Cloud adalah menjadi... atlit basket profesional.
Karena Cloud ingin menjadi atlet, tentunya dia tidak akan melanjutkan ke universitas. Melainkan ke tempat khusus untuk melatih atlet-atlet berbakat, yakni 'District of Gaia'. Tempat yang sudah terbentuk semenjak dua puluh lima tahun lalu itu adalah tempat lahirnya tlet-atlet berbakat dari berbagai macam cabang olahraga, salah satunya tentu saja adalah... basket. Jika saja Cloud masuk tempat pelatihan itu, maka cita-citanya untuk menjadi seorang atlet profesional akan selangkah lebih dekat.
Tetapi sayangnya, semua itu tidak semudah yang dikira. Setelah Cloud mengumpulkan berbagai macam informasi lewat internet, dia harus bisa memikirkan penyelesaian untuk masalah-masalah yang muncul. Dan masalah-masalah itu adalah jarak serta biaya. 'District of Gaia' terletak di Nibelheim, kota yang tidak terlalu besar namun terkenal akan rumah besar tuanya. Rumah itu bisa dibilang sebagai salah satu obyek wisata Nibelheim. Konon katanya, rumah besar itu adalah rumah milik penjabat-penjabat terdahulu. Sang penjabat terkenal suka mengoleksi barang-barang antik dan unik. Karena itulah semenjak sang penjabat meninggal, rumah besar itu diputuskan untuk dijadikan sebagai museum. Oke, kembali ke pokok masalah, Nibelheim adalah kota yang sangat jauh. Butuh waktu sekitar enam jam, tiga jam naik pesawat ke Cosmo Canyon dan tiga jam perjalanan darat ke Nibelheim. Berhubung luas Nibelheim tidak begitu besar, dan di belakangnya terdapat banyak gunung tinggi nan curam, maka kota ini tidak bisa didirikan bandara.
Lalu masalah biaya, sudah menjadi rahasia umum bahwa pelatihan profesional seperti itu membutuhkan biaya tak sedikit. Untuk biaya masuknya saja sudah tinggi, dan ditambah dengan biaya perbulannya, maka biayanya menjadi semakin tinggi lagi. Cloud tidak ingin makin merepotkan Sephiroth, tetapi dia sendiri juga masih belum bisa mencari uang sendiri. Sehingga sampai sekarang, dia masih belum memikirkan bagaimana baiknya. Bahkan untuk membicarakannya dengan Ayahnya saja Cloud merasa ragu.
"Nanti aku akan memikirkannya lagi," kata Cloud, yang setelahnya pergi keluar.
Setelah menutupi kepalanya dengan tudung jaket, Cloud segera menuju garasi dan menyalakan mesin mobilnya. Hujan memang belum berhenti, tetapi tidak begitu deras. Sepertinya hanya memakai jaket kedap air ini juga tidak apa-apa.
Lima belas menit kemudian, Cloud akhirnya sampai juga di sekolahnya. Di tempat parkir ia segera memarkir motor miliknya, dan dengan langkah cepat berjalan menuju aula sekolah. Di dalam sudah ada banyak orang yang datang, tetapi latihan belum mulai. Mereka masih melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi aula ini, ada juga yang meregangkan tubuh. Melihat Cloud yang baru saja tiba, Zack langsung tersenyum dan menghampirinya.
"Kehujanan ya?" tanya Zack.
"Sudah jelas, kan?" jawab Cloud. "Bingung juga kenapa bisa hujan sederas itu."
"Ya sudahlah, yang penting kau sudah datang," jawab Zack. "Cepatlah bergabung dengan yang lain, karena latihan tidak berlangsung lama."
"Kenapa tumben sekali?"
Zack memiringkan kepalanya karena heran.
"Ada sesuatu yang penting?"
"Tentunya, mereka harus belajar untuk ujian masuk universitas."
Universitas lagi, universitas lagi. Entah mengapa hari ini Cloud selalu merasa dipojokkan oleh kata itu.
"Jangan bilang kau belum memikirkannya."
Cloud tidak menjawab dan ikut melakukan pemanasan. Tetapi ternyata respon ini malah membuat Zack semakin penasaran. Hingga akhirnya, tiba-tiba saja Zack menarik Cloud dari tim dan menyuruh yang lain untuk sementara pemanasan dan latihan sendiri. Cloud yang kalah tinggi dan besar tentunya tidak bisa melawan hingga pada akhirnya dia dibawa ke belakang.
"Seharusnya kau mulai memikirkannya, kau tahu? Memangnya kau masih satu SMA apa?"
"Sudahlah, Zack. Aku memiliki rencanaku sendiri."
"Hooo," jawab Zack. "Dan bicara soal rencana, sebenarnya kepala sekolah berniat untuk menambahkan pemandu sorak untuk pertandingan nanti."
"Untuk?"
"Memeriahkan suasana, karena kudengar sekolah yang menjadi lawan kita juga berencana sama."
Cloud hanya menghembuskan napas. Dalam hatinya, ia merasa bahwa menambahkan klub pemandu sorak itu tidak ada efeknya untuk permainan timnya nanti. Toh, yang dilakukan pemandu sorak hanyalah menari sambil terkadang berteriak, ya kan? Sejak dulu, Cloud tidak terlalu suka dengan mereka.
Hm? Tunggu dulu, bicara soal pemandu sorak, kalau tidak salah Tifa juga adalah anggota klub di sana.
"Bagaimana menurutmu, Cloud? Apakah itu hal yang bagus?"
Cloud lagi-lagi menghembuskan napasnya. "Terserah kau saja."
Setelah berkata begitu, Cloud meninggalkan Zack dan kembali berlatih bersama timnya. Sambil berpikir, mengapa tiba-tiba dia bisa terpikir akan Tifa?
Mohon isi kotak review di bawah ya, makasih.
