A/N : haiii, maaf untuk update yang agak lama. Dan sebagai permintaan maaf, saya tulis chapter ini lebih banyak hehehe. Seperti biasa, saya mohon kritik serta sarannya, karena fic saya tidak ada yang sempurna. Saya juga tengah menulis novel, dan karena itulah saya mesti pintar-pintar atur waktu. Olek karena itu, saya mohon dukungannya ya :) Mohon read and review juga untuk chapter ini, makasih banyak hehehe.
OH_11
Hari demi hari berlalu, dan kini, tibalah hari dimana ia pergi menemani ibunya ke pesta. Sekarang jam menunjukkan pukul lima sore, dan Tifa tengah bersiap-siap di depan meja rias di kamarnya. Sebenarnya pesta dimulai jam tujuh malam lebih, tetapi namanya juga wanita. Wanita memiliki persiapan yang jauh memakan waktu dibandingkan dengan laki-laki. Dan salah satunya adalah... berdandan. Kebanyakan dari wanita menghabiskan waktunya dengan berdandan. Karena bagi mereka, berdandan sudah menjadi kodrat dan bahkan kebutuhan, apalagi ketika hendak berpergian ke suatu tempat. Siswi yang ingin berangkat ke sekolah atau mahasiswa yang ke universitas saja ada yang berdandan. Malah ada juga yang meski di rumah tetapi tetap berdandan. Kedengarannya memang tidak masuk akal, tetapi memang itu faktanya. Meski Tifa sendiri bukan tipe yang suka berlama-lama di depan cermin.
Tifa baru saja selesai mengoleskan bibirnya dengan lip-gloss pink cerah, selain itu, hanya dandanan sederhana yang menghiasi wajahnya. Tetapi meski sederhana, Tifa tetap tampak begitu cantik. Rambutnya dibiarkan lurus dan tergerai, sementara di kedua telinganya terpasang sepasang anting sederhana berwarna putih. Ah, kini Tifa mengenakan gaun pemberian sang Paman. Awalnya Tifa mengira gaun itu kekecilan, tetapi ternyata sungguh pas. Waktu itu Tifa tidak melihat gaunnya dengan begitu teliti, tetapi ketika melihat dengan seksama, gaun itu terlihat begitu indah. Belahan dadanya memang agak rendah, tetapi masih bisa ditolerir. Dan ternyata selain berlengan panjang dan berkilauan, terdapat ikat pinggang yang cukup tipis dan berwarna silver. Meski tidak pernah berani memuji dirinya sendiri, Tifa harus mengakui bahwa dirinya terlihat sangat cantik.
Setelah merasa semuanya sudah lengkap, Tifa berdiri dan berjalan ke hadapan cermin besar yang satu set dengan lemari pakaiannya. Dia mengecek penampilannya untuk kedua kalinya, dan barulah setelah itu dia keluar kamar. Seumur-umur, baru kali ini dia berjalan dengan menggunakan gaun. Rasanya agak susah sehingga dia seperti dipaksa untuk berjalan layaknya seorang model, lambat namun anggun. Bahkan untuk turun tangga saja, Tifa harus mengangkat roknya agar tidak terinjak dan akhirnya jatuh dari tangga. Aduh, jangan sampai deh.
Jake, sang Paman, sudah pulang sejak Kamis malam lalu. Berhubung memang waktu liburnya sudah habis, maka dia sudah harus bekerja lagi. Apalagi, ada sebuah proyek besar yang harus ia perkenalkan pada pengusaha-pengusaha nanti. Dan kalau ia berhasil, ia sudah pasti naik pangkat dan sampai berjanji akan mentraktir makanan enak. Hati Tifa cukup senang ketika mendengar ucapan sang Paman, tetapi di sisi lain, dia juga merasa kesepian. Karena jarang dia bisa mendengar celotehan Jake. Sayang celotehan itu hanya bisa didengarnya selama empat hari.
Di bawah, sang Ibu juga sudah menunggunya. Meski sudah tidak muda lagi, tetapi sang Ibu tetap terlihat anggun dan menawan. Berbeda dengan Tifa, Evelyn mengenakan gaun lengan pendek, atau mungkin sebenarnya bukan gaun. Ia mengenakan dress lengan pendek berwarna biru muda dan di pinggangnya terpasang kain panjang berwarna senada, sehingga terlihat seperti gaun. Rambut Evelyn ditata dengan rapi dan dandanannya juga tidak menor. Evelyn tampak begitu takjub ketika melihat putrinya.
"Tifa, kemarilah," kata Evelyn. "Kau cantik sekali."
"Terima kasih, Kaa-san."
"Aku tidak menyangka bahwa Jake ternyata ahli dalam hal seperti ini, seleranya sungguh bagus! Mungkin aku harus memintanya membelikanmu gaun lagi."
"Ah, tidak usah. Ini saja sepertinya sudah cukup mewah," kata Tifa sambil melihat gaunnya. "Oh ya, kita naik taksi ke sana?"
Evelyn mengelengkan kepalanya. "Ada teman Kaa-san yang menjemput nanti."
Tifa memiringkan kepalanya.
"Kebetulan dia tinggal tidak terlalu jauh dari sini, sehingga bisa sekalian berangkat dengan kita," kata Evelyn. "Dan dia juga merupakan penyelenggara pesta ini."
Penyelenggara pesta? Berarti sudah bisa dipastikan kalau teman Ibunya adalah orang yang sangat kaya. Kalau tidak salah ingat, tempatnya di Midgar Hotel.
"Tidak apa-apa, kau bisa dengan cepat melihat anak teman Kaa-san itu. Kudengar, dia adalah anak yang sangat tampan."
Oh, benar juga, kenapa dia bisa lupa bahwa itu adalah tujuan kedua sang Ibu mengajaknya ikut? Tiba-tiba saja perut Tifa menjadi mulas. Bukan karena gaunnya yang terlalu ketat, tetapi karena gugup. Terkadang dia memang seperti itu jika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya, apalagi jika dia adalah laki-laki, frekuensinya biasanya lebih sering. Seperti sekarang ini, apalagi meski tidak dikatakan secara langsung, sang Ibu berniat untuk menjodohkannya. Aduh, rasanya Tifa tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Selagi Tifa tengah melamun, dia tidak sadar bahwa Evelyn tengah mengenakan sesuatu ke lehernya. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk permata di tengahnya. Kalung itu tampak begitu cantik dan antik.
"Itu kalung peninggalan nenekmu," kata Evelyn. "Sudah Kaa-san tidak pakai lagi, jadi berikan saja untukmu."
"Eh, tapi..."
Evelyn menggelengkan kepalanya. "Pakailah, lebih cocok dipakai olehmu."
Tifa akhirnya mengangguk juga. Dan setelahnya, dia duduk sambil membetulkan posisi kalung yang terasa agak kurang nyaman baginya. Tidak sampai sepuluh menit, sang Ibu sudah datang lagi sambil membawakan sebuah kotak berwarna putih. Dibukanya kotak itu, dan mata Tifa langsung begitu takjub ketika melihat sepasang sepatu hak tinggi berwarna krim di dalamnya. Ketika melihat ekspresi sang anak, Evelyn segera menyunggingkan senyum. Dia segera mengeluarkan sepatu itu dan mengeluarkannya dari dalam kotak.
"Cantik, kan?" tanya Evelyn. "Diam-diam, Pamanmu juga membelikan ini."
"Ya ampun, Oji-san," kata Tifa sambil menepuk kepalanya pelan. "Dia sampai membelikanku ini."
"Yep, dia sangaaaat memanjakanmu. Tetapi Kaa-san tidak bisa membayangkan perasaannya ketika masuk ke toko sambil melihat-lihat. Maksudku, mungkin saja dia akan dianggap pria aneh, kan?"
Tifa memperdengarkan tawa kecilnya.
"Coba kau pakai."
Tanpa banyak omong, Tifa mengambil sepatu hak tinggi itu dan mencobanya. Ukurannya pas, tidak disangka. Ternyata selama empat hari ini sang Paman tidak hanya datang berkunjung, tetapi juga mencari tahu mengenai ukuran sepatunya? Oh, sungguh 'romantis' sekali. Tifa juga berdiri dan mencoba berjalan, terasa agak berat karena dia sendiri juga tidak begitu terbiasa. Tetapi untunglah itu bukan masalah besar. Tetapi karena gaun ini memiliki rok yang cukup panjang, jadinya sepatunya tertutup.
Tidak butuh kata-kata lagi untuk mengekspresikan kepuasan Evelyn untuk sang putri, dan seolah tidak mau kalah, ia juga memakai sepatu hak tingginya yang lama. Sepatu hak tinggi—tetapi tidak setinggi milik Tifa—bermodel sederhana dan berwarna hitam. Ah, Tifa sangat mengenal sepatu itu. Evelyn selalu mengenakan sepatu itu ketika mendatangi acara resmi. Tetapi hebatnya, sepatu itu tetap terlihat cocok dipadu dengan gaun-gaun miliknya, apapun modelnya. Selain itu, Evelyn juga membawa tas kecil. Untuk Tifa, Evelyn sudah membuat tas berbentuk dompet berwarna senada dengan gaun Tifa. Katanya, tas itu dibuat dari tas bekas miliknya dan Evelyn hanya mengutak-atiknya.
Mereka menungu sekitar lima belas menit, hingga akhirnya terdengar suara klakson dari luar. Evelyn dan Tifa segera berjalan keluar dan sungguh terkejut ketika melihat mobil Lymousine putih tengah menjemput mereka. Eh, sedikit revisi, hanya Tifa yang terkejut. Sementara Evelyn hanya menyapa dengan akrab seorang wanita seumurannya yang entah sejak kapan sudah keluar dari mobil. Begitu melihat dandanan wanita—yang kemungkinan besar adalah teman Ibunya—itu, Tifa langsung gelen-geleng kepala, menor sekali! Dia mengenakan gaun serba merah—termasuk lipstiknya—yang kelihatan sangat mencolok dengan rambut kuningnya.
"Oh, apa itu puterimu, Evelyn?" tanya si wanita. "Cantik sekali! Mirip sekali denganmu!"
"Ah, biasa saja," jawab Evelyn sambil menggandeng Tifa. "Tifa, dia adalah Myranda, teman baik Kaa-san semasa SMA."
"Senang bertemu dengan Anda," kata Tifa sambil mengulurkan tangan, dan dibalas oleh Myranda.
"Ah, tidak usah terlalu formal, sayang. Maaf ya kalian menunggu lama, karena macet tadi."
Tifa hanya tersenyum.
"Ah ya, masuklah! Di dalam sudah ada anakku menunggu di dalam. Kurasa dia akan senang ketika melihatmu, mari masuk!"
Ah, kini tibalah saatnya Tifa bertemu dengan pria yang akan dijodohkan dengannya. dengan langkah yang sedikit ragu, Tifa terlebih dulu memasuki mobil mewah dan super panjang itu, di barisan yang sama dengan Myranda dan anak laki-lakinya. Ah, jika Ibunya saja berdandan menor seperti ini, Tifa tidak bisa membayangkan bagaimana anaknya. Mungkin saja anaknya adalah pria gemuk yang memakai baju warna-warni sebagai penampilan untuk pergi ke pesta.
Dan ternyata, dugaannya sungguh salah. Salah, salah, dan salaaaah besar.
Pria yang tengah duduk di ujung kiri itu adalah pria yang sangat... yah, tampan. Rambutnya pirang sama seperti Ibunya dan bermodel shaggy. Ia mengenakan kemeja berwarna hitam yang dipadu dengan blazer berwarna putih, sementara celana dan sepatunya berwarna senada dengan blazer yang dipakainya. Warna matanya hijau dan tampak begitu dingin, mengingatkannya pada Cloud. Tetapi Rufus masih mengangguk dan menyunggingkan senyum ketika melihat dirinya memasuki mobil, berbeda dengan Cloud yang ekspresinya lebih kaku. Bahkan ia juga berinisiatif untuk memperkenalkan diri. Pertama-tama pada Evelyn, baru setelah itu Tifa.
"Rufus," katanya, "senang berkenalan denganmu."
"Em, aku Tifa."
Hanya melihat mereka berkenalan saja, Tifa bisa mendengar cekikikan dua 'Ibu-Ibu' yang ada di sampingnya. Kenapa mereka bisa begitu senang? Toh, Rufus sendiri tidak—atau mungkin lebih tepatnya belum—menunjukkan rasa apa-apa terhadap dirinya, mereka kan hanya sekedar bersalaman semata. Rufus sendiri langsung menatap jendela setelah menyalaminya.
Tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi akhirnya berjalan. Sepanjang perjalanan, Evelyn dan Myranda sudah asyik mengobrol satu sama lain. mereka berdua mengobrol mengenai masa-masa ketika SMA. Tifa tidak begitu mendengar dengan jelas, tetapi salah satu pengalaman yang mereka obrolkan adalah ketika belajar bersama di perpustakaan. Karena ketika belajar, mereka tiba-tiba melihat seorang pria tampan yang akhirnya malah membuyarkan konsentrasi mereka. Akhirnya? Mereka tidak jadi belajar. Sementara mereka tertawa, Tifa hanya mengangkat alisnya sambil menghadap ke depan. Meski kesannya tidak penting, tetapi entah mengapa dia jadi begitu tertarik melihat lalu lintas yang cukup lancar.
Berbanding terbalik dengan sang Ibu, Tifa merasa begitu canggung di dalam mobil. Baik ia maupun Rufus sama sekali tidak melontarkan satu kata pun. Sedari tadi, Rufus hanya bertopang dagu sambil menatap jendela. Dia sama sekali tidak meliriknya, bahkan menolehkan pandangannya juga tidak. Tifa ingin mengajak bicara, tetapi niat itu langsung ia batalkan. Selain gugup, dia juga tidak tahu harus bicara apa. Apalagi, baik Myranda atau Evelyn sama sekali tidak membantu. Mereka terlanjur asyik dengan obrolan mereka, sampai-sampai anak-anak mereka seolah lupakan.
Suasana yang begitu canggung membuat perjalanan terasa begitu membosankan. Sementara perjalanan menuju Midgar Hotel masih memakan waktu sekitar setengah jam lagi. Tetapi hingga sekarang, baik Evelyn atau Myranda sama sekali tidak ada kehabisan topik untuk dibicarakan. Tifa sungguh dibuat heran dan kagum, tetapi Rufus yang juga terus berada dalam posisi yang sama sepertinya jauh lebih hebat. Menghela napasnya, Tifa mengambil tasnya dan mengeluarkan ponselnya dari sana. Tifa merasa, dia harus bisa melakukan aktivitas sekecil apapun.
"Kudengar kau masih SMA."
Suara Rufus membuat Tifa hampir menjatuhkan ponselnya. "Em, ya. Kau sendiri?"
"Aku sudah dua puluh tiga tahun, sekarang aku tengah melanjutkan bisnis keluargaku."
Tiga mengerucutkan bibirnya dan mengangguk. Ternyata pria yang akan di... dekatkan dengannya ini lebih tua darinya.
"Kau pernah ke Midgar Hotel?" tanya Rufus, yang dijawab dengan sebuah gelengan. "Kalau begitu kurasa kau akan kaget setibanya di sana."
"Memang ada apa di sana?"
Rufus tersenyum. "Kau akan tahu sendiri nanti."
"Sepertinya bukan tempat yang akan kusuka, ya?"
"Tergantung, kau suka keramaian atau tidak?"
"Lumayan, tetapi jelas tidak suka kalau tidak terlalu ramai. Kalau boleh tahu, ada berapa orang yang akan diundang nanti?"
Rufus mengangkat bahunya. "Entahlah, mungkin seratus lebih. Ibuku adalah tipe yang suka berteman dan mencari teman lebih banyak. Karena itulah semasa sekolah, dia memiliki banyak teman."
Tifa menghembuskan napasnya, rasanya dia tidak akan suka dengan pesta ini. Bagaimana juga dia akan berkomunikasi dengan seratus lebih orang itu? Setibanya di sana mungkin dia hanya akan duduk sambil makan dan minum saja.
"Sudah berapa lama kau tinggal di Midgar?"
"Belum lama, setengah tahun juga belum."
"Kalau begitu, kau masih belum terlalu terbiasa ya?"
Tifa menganggukkan kepalanya.
"Kuharap kau cepat terbiasa kalau begitu, terutama dengan kemacetannya. Midgar sering sekali macet apalagi kalau di hari biasa."
Tifa lagi-lagi menganggukkan kepalanya, percakapan ini terkesan kaku, tetapi setidaknya masih mending daripada tidak mengobrol sama sekali.
Percakapan yang agak canggung itu terus berlanjut hingga tanpa disadari, di dekat mobil sudah terlihat gedung yang menjulang tinggi dan dihiasi lampu warna-warni. Di depan terdapat banyak sekali orang yang keluar masuk, paling sering adalah bapak-bapak yang tengah merangkul dua wanita berpakaian seksi. Bisa ditebak, wanita itu pasti wanita sewaan. Dasar, ternyata dia harus datang ke tempat seperti ini? Kenapa juga reuninya harus diadakan di sini sih? Sepertinya Tifa tidak akan betah berlama-lama di dalam. Karena Tifa sepertinya bisa menebak seperti apa isinya.
"Siap untuk masuk?" tanya Rufus.
"Tidak juga."
...
Di sebuah kafe yang bernama 'Midkhaf', Cloud Strife tengah menyesap kopi panasnya sambil membaca beberapa lembar kertas di tangannya. Kertas itu adalah iklan mengenai 'District of Gaia', sekolah khusus atlet yang juga merupakan sekolah incaran Cloud setelah lulus SMA. Di kertas itu tertulis mengenai fasilitas yang tersedia, pelatih, alamat, serta biaya yang diperlukan. Tiap cabang olahraga memiliki biaya masuk yang berbeda. Semakin sulit olahraganya, maka semakin mahal biaya masuknya. Untuk cabang basket sendiri, biayanya termasuk salah satu tiga cabang olahraga termahal. Salah satu alasannya adalah karena mereka menyewa seorang pelatih yang sangat terkenal, sehingga bayarannya pasti juga sangat tinggi.
Hati Cloud benar-benar semakin galau. Cloud tahu bahwa sang Ayah adalah penulis yang cukup terkenal, sehingga pasti tidak akan begitu sulit untuk membiayainya masuk sekolah itu. Tetapi Cloud juga memiliki rasa tahu diri. Dia tidak bisa dengan enaknya berkata 'Ayah, aku mau masuk District of Gaia' pada sang Ayah. Malah sempat terpikir di benak Cloud bahwa dia ingin membiayai sendiri kuliahnya. Tetapi... untuk sekarang sepertinya masih belum mungkin. Cloud juga tidak tahu harus bekerja apa.
Oh ya, Cloud mendapatkan formulir ini dari Zack. Kebetulan hari ini ada latihan dari jam sepuluh pagi dan selesai jam setengah dua siang. Berhubung masih ada banyak waktu dan hari ini juga adalah hari Minggu, maka Cloud memutuskan untuk tidak pulang lebih dulu. Dia ingin membaca kertas-kertas itu. Dan agar tidak ketahuan sang Ayah, maka Cloud memutuskan untuk mencari tempat lain yang lebih nyaman. Akhirnya, dipilihlah kafe ini. Kafe ini terletak di pusat kota, dan Cloud belum pernah kemari sebenarnya. Tetapi berhubung kafe ini suasananya cukup tenang, maka kesan pertama Cloud terhadap tempat ini cukup baik.
Melihat brosur itu memang menyenangkan, tetapi semakin lama dia semakin 'mupeng'. Cloud meletakkan brosur itu di atas meja dan bertopang dagu. Cloud meraih ponselnya yang ada di saku kanan celananya, dan melihat jam. Cukup mengejutkan, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam lebih. Hal itu menandakan bahwa dia sudah berada di kafe ini selama lebih dari tiga jam. Dia memakan waktu satu jam lebih perjalanan untuk menuju ke kafe ini tadi. Dan memang, sang Ayah sudah mengirim banyak pesan singkat bahkan meneleponnya.
Kenapa kau belum pulang, Cloud?
Cloud mengetikkan SMS-nya dengan cepat. Aku sedang berada di kafe.
Hm? Tumben sekali kau ke kafe?
Aku sedang diajak temanku.
Kau sedang di kafe mana?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Cloud sempat bingung harus berbohong atau jujur. Tetapi pada akhirnya dia memutuskan untuk berbohong. Karena Ayahnya adalah orang yang agak mudah khawatir. Kafe di dekat tempat latihan, tidak begitu jauh.
Kalau begitu, kau bisa makan malam di sana saja? Kebetulan aku ada acara sekarang.
Cloud mengerutkan dahinya. Acara apa?
Aku mau berkunjung ke rumah temanku, ada sedikit urusan mendadak, mungkin jam sebelas atau dua belas malam aku baru pulang.
Baiklah, aku mengerti.
SMS berhenti sampai di situ, dan karena Sephiroth ada acara, maka dia bisa berlama-lama lagi di kafe ini. Dengan begitu, kemungkinan dia akan menemukan cara terbaik untuk masuk ke District of Gaia akan semakin besar. Tetapi sebelum berpikir, tahu-tahu perutnya sudah berbunyi sebagai tanda minta diisi. Ah, padahal Ayahnya baru saja menyuruhnya untuk makan di sini, hebat juga ya bisa kebetulan seperti itu. Tangan kanan Cloud mengambil buku menu yang ada di sampingnya dan segera memeriksa makanan dan minuman yang tersedia.
Setelah kurang lebih lima menit melihat-lihat, akhirnya Cloud memutuskan untuk memesan sepiring kue Tiramisu ditambah dengan secangkir kopi susu hangat. Entah mengapa Cloud tidak ingin makan makanan berat kali ini. lagipula makanan di kafe ini bisa dibilang lumayan mahal. Harga yang sepertinya cukup sesuai untuk kafe di pusat kota. Lihat, harga semangkuk Katsudon saja dihargai empat puluh ribu gil. Di warung pinggiran dekat rumahnya saja harganya hanya setengahnya saja. Pesanan makanan Cloud datang tidak lama kemudian berhubung tidak ada banyak orang di sini.
Selagi menikmati kue pesanannya, pandangan Cloud juga sesekali menghadap jendela. Rasanya agak aneh melihat suasana jalan raya yang begitu padat. Baik dari bangunan, kendaraan, maupun orang-orang yang berlalu-lalang. Tidak pernah tinggal di pusat kota sungguh memberikannya pandangan yang berbeda, bahkan bisa dibilang dia merasa agak janggal melihat semua itu. Bangunan yang begitu tinggi membuatnya pusing dan kagum di saat bersamaan, mobil-mobil yang begitu mewah serta keluaran terbaru, lalu orang-orang yang terdiri dari latar belakang berbeda-beda. Sungguh berbeda rasanya dengan Nibelheim, kota kecil yang juga adalah kota kelahirannya.
Ah, Cloud memang berasal dari Nibelheim. Dia tinggal di sana sampai umur sepuluh tahun, dan karena alasan pekerjaan Ayahnya, maka ia pindah ke Midgar ini. Meski sudah bertahun-tahun tinggal di kota terbesar se-Gaia ini, tetapi Cloud masih belum terbiasa sepenuhnya. Malah bisa dibilang, Cloud sungguh kangen dengan kampung halamannya. Sudah lama sekali dia tidak pulang ke Nibelheim. Suasana Midgar yang jauh lebih ramai dan modern tetap tidak bisa menggantikan Nibelheim di hatinya. Dia ingin sekali sesekali meninggalkan kesumpekan kota dan kembali menikmati keindahan alam dari kota kecil. Tanpa banyak mobil, tanpa banyak asap, dan tentu saja tanpa polusi.
Dalam enam kali suap, Cloud berhasil menghabiskan makanannya. Tetapi Cloud tidak langsung beranjak dari kursinya. Terlalu lama duduk ternyata membuatnya malas untuk bangun. Jadi dia memutuskan untuk bersantai sejenak sambil menyesap kopinya. Lagipula di luar masih hujan, dan kelihatannya tidak akan cepat reda dalam waktu dekat. Meski hujannya tidak bisa dibilang besar.
Selagi pandangan Cloud masih memandang ke jendela, dia melihat sebuah mobil hitam mewah yang tiba-tiba melaju dari kanan. Mobil itu berhenti di depan bangunan besar, dan kemudian keluar seorang pria berpakaian rapi dan berkacamata hitam, Cloud rasa dia supir. Dengan gayanya yang kaku, ia membuka kursi belakang dan tangan yang satunya lagi memegang payung yang baru saja dibukanya. Cloud tebak, itu pasti mobil milik pengusaha kaya. Seharusnya Cloud tidak heran atau terkejut melihatnya.
Tetapi ternyata, dugaan dia salah.
Karena orang yang keluar dari kursi belakang itu adalah... sang Ayah.
Cloud mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa pandangannya salah. Tetapi pria itu sungguh adalah Ayahnya! Rambutnya yang panjang berwarna perak, matanya yang berwarna hijau, serta tubuhnya yang begitu tinggi. Semua itu adalah ciri dari Ayahnya. Sambil dipayungi oleh supir, Sephiroth berjalan masuk ke dalam gedung besar yang ada di dekatnya.
Rasa curiga mulai tumbuh di hati Cloud, bukankah tadi sang Ayah mengatakan ingin pergi ke rumah teman? Kenapa Dia malah pergi ke gedung besar itu?
"Entah mengapa, Tou-san akhir-akhir ini jadi aneh," pikir Cloud.
Setelah meletakkan uang bayaran, Cloud segera merapikan barang-barangnya dan keluar dari kafe. Jarak dari kafe ke gedung itu tidak jauh, mungkin lebih baik dia biarkan motornya diparkir saja di sini. Tanpa mempedulikan tetesan air hujan yang membasahi tubuhnya, Cloud meneruskan langkahnya hingga pada akhirnya ia tiba juga. Cloud tidak sempat melihat nama gedung ini, tetapi selain Ayahnya, ada banyak orang yang juga keluar masuk. Kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian yang sangat mewah dan kelihatan mahal. Sungguh berbanding terbalik dengan Cloud yang hanya mengenakan kaus putih biasa, jaket berwarna senada, jeans biru, serta sepatu olahraga berwarna putih. Tetapi Cloud masa bodoh dengan semua itu, toh orang-orang yang ada di sekitarnya juga tidak mempedulikan penampilannya.
Begitu masuk, mata Cloud langsung 'dimanjakan' oleh suasana mewah gedung ini. Di ruang tengah, Cloud dibuat seakan dia tengah berada di era zaman dulu. Mengapa? Karena dekorasinya yang terkesan klasik, elegan, namun tetap tidak melupakan sisi modernnya. Di langit-langit terdapat lampu gantung raksasa yang bagian lampunya dibentuk seperti lilin, lalu ada kaca-kaca besar dengan gambar-gambar kerajaan, bahkan elevatornya juga didesain seperti jendela istana. Siapapun yang mendesain, dia patut diacungi jempol. Karena benar-benar bisa membuat orang yang ada di dalam menjadi terbawa suasana. Bahkan di dekat Cloud, ada seorang ibu-ibu norak yang juga tengah terkagum-kagum. Dengan semangat, dia menceritakan apa yang dia lihat—bahkan hal yang sepele sekalipun—kepada suaminya yang berusaha untuk terus sabar dan tersenyum.
Tetapi Cloud tidak mau berlama-lama terbuai. Dengan mengandalkan nalurinya, Cloud terus mencari dan berusaha untuk menyelidiki Ayahnya. Tetapi sepertinya, dia agak terlambat memasuki gedung ini. Karena dia tidak menemukan Sephiroth baik di segala penjuru ruangan. Apakah dia sudah pergi ke lantai lain? Seandainya benar, mungkin Cloud harus menyerah karena dengan sekali lihat, Cloud langsung tahu bahwa gedung ini sangat tinggi dan besar.
Tidak mau menyerah, Cloud segera berjalan ke lorong sebelah kiri. Baru saja dia mau masuk, dia sudah dikagetkan dengan sosok Ayahnya yang tengah mengobrol dengan seseorang. Sepertinya sih dia seorang pelayan, terlihat dari seragamnya yang... unik.
"Apakah Anda yang bernama Sephiroth?" tanya sang pelayan.
"Ya, betul."
"Kebetulan sekali, silahkan ikuti saya. Pestanya diadakan di lantai delapan, ruangan Gold."
"Ada berapa orang yang diundang?" tanya Sephiroth.
"Tidak begitu banyak, mungkin sekitar tiga puluh orang."
"Wow, kukira akan lebih banyak?"
"Begitulah, berhubung yang menikah adalah salah satu pengusaha sukses di Midgar, dan dia tidak begitu suka untuk mengekspos pernikahannya. Anda termasuk orang yang beruntung, Tuan."
Sephiroth tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dan setelahnya, si pelayan menekan tombol elevator. Mereka berdua masuk ke dalam tidak lama kemudian.
Cloud memasuki lorong setelah pintu elevator tertutup. Berdasarkan apa yang dia dengar, Ayahnya menuju ke lantai delapan, maka dia segera memasuki elevator yang ada di sebelah dan menekan tombol angka delapan. Di dalam elevator ini tidak ada orang, cukup aneh untuk ukuran gedung yang dipenuhi banyak orang. Tiga menit Cloud menatap pintu elevator, akhirnya terdengar bunyi 'ting' yang menandakkan bahwa Cloud sudah sampai di lantai tujuannya. Cloud mengira begitu dia keluar dia akan langsung tiba di ruangan Gold seperti yang dikatakan pelayan itu, tetapi ternyata tidak. Sekeluarnya dari sini, dia masih harus menelusuri lorong yang dipenuhi orang-orang. Selain itu, terdapat tiga aula berbeda. Cloud segera membaca nama-nama aula itu, ada Diamond, Emerald, dan yang terakhir... Ruby?
Diamond, Emerald, Ruby? Hei, dimana aula yang bernama Gold kalau begitu?
Cloud mengecek lantai tempat dia berada, dan benar, dia berada di lantai delapan. Kalau begitu kemana aula Gold berada? Tidak mungkin aula itu menghilang begitu saja, kan?
Ketika ia masih tengah kebingungan, tiba-tiba saja ada seorang pelayan wanita yang tengah membawa setumpuk piring-piring yang baru dicuci. Spontan, Cloud segera berjalan menuju ke arahnya untuk bertanya.
"Maaf, nona. Apa kau tahu di mana aula Gold berada?"
"Gold? Setahu saya... tidak ada aula bernama itu di sini. Hanya ada tiga aula di sini saja," jawab si pelayan.
Cloud memasang wajah tidak percaya. "Sungguh?"
"Iya, setahu saya memang seperti itu."
"Lalu... bagaimana dengan yang di lantai lain?"
"Lantai lain... sepertinya tidak ada. Untuk aula, selain lantai ini hanya ada di lantai enam. Itu pun juga tidak ada aula yang bernama Gold."
Apa? Kenapa bisa begitu? Rasanya Cloud ingin menanyakan pelayan ini lagi, tetapi sepertinya percuma. Jadi dia hanya berterima kasih sambil memberikan senyum kecil. Astaga, apakah kedatangannya kemari menjadi sia-sia? Rasanya dia seperti petinju yang langsung kalah di awal-awal pertandingan. Rasanya malu, tetapi juga tidak terima di saat bersamaan.
Merasa kecewa, Cloud memutuskan untuk benar-benar menghentikan 'penyelidikannya' dan pergi ke toilet. Dia ingin cuci muka dan menyegarkan diri lebih dulu. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia merasa lelah. Padahal dia hanya jalan sebentar, menguping, naik elevator, dan bertanya beberapa hal pada seorang pelayan. Tetapi entah mengapa dia merasa sangat lelah. Mungkin karena kali ini dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi, ditambah dengan rasa takut akan ketahuan.
Ketika Cloud baru saja mau masuk ke toilet, tiba-tiba dia dikagetkan dengan seorang wanita yang mendadak keluar dari toilet sebelah, alias toilet wanita. Sebenarnya Cloud pada awalnya tidak peduli, sampai pada akhirnya dia melihat wajah si wanita yang sangat familiar baginya.
"Tifa?"
Wanita yang tadinya menunduk itu mengangkat kepalanya. Dia juga tampak kaget seperti Cloud. "Senpai?"
Yap, ternyata benar bahwa wanita itu adalah Tifa. Astaga, entah mengapa pikirannya minggu lalu terwujud menjadi sebuah kenyataan hari ini?
"Kenapa Senpai ada di sini?"
"Aku... aku em, ada sedikit urusan."
"Tapi pakaianmu..."
Belum sempat Tifa selesaikan ucapannya, Cloud sudah buru-buru menanyakannya lagi. "Kau sendiri? Kenapa kau ada di sini?"
"Oh, aku menemani Ibu ke acara reuni teman sekolahnya. Tetapi bisa dibilang, aku tidak betah berada di sana."
Cloud menganggukkan kepalanya dan mulutnya menggumamkan 'oh' tanpa suara.
"Lalu... apa urusan Senpai sudah selesai?"
"Em..." Cloud berusaha memikirkan kata yang tepat. Karena dia berbohong secara 'mendadak', maka sebisa mungkin jangan sampai dia salah bicara. "Bisa dibilang sudah, apa kau mau kembali lagi ke Ibumu?"
Tifa menggelengkan kepalanya. "Tidak, deh."
"Lalu Ibumu bagaimana?"
"Tidak apa, dia sedang asyik mengobrol dengan temannya. Dia tidak akan ingat bahwa aku juga diajak ke sini."
Cloud mengangkat alisnya sebagai tanda heran.
"Ah, ternyata barusan hujan ya?" tanya Tifa sambil menghadap jendela.
"Iya, tetapi... sepertinya sudah reda."
Mendengar itu, tiba-tiba saja Tifa langsung tersenyum. "Kalau begitu Senpai mau ikut denganku ke teras? Sejak tadi aku ingin ke sana melihat pemandangan."
"Teras? Em... boleh."
Tifa memperlihatkan senyumnya untuk yang kedua kali, dan setelahnya mereka berdua berjalan menuju teras. Lantainya agak basah karena hujan sehingga mereka berdua harus berhati-hati dalam berjalan. Tetapi sepertinya hal ini sangat sulit bagi Tifa, berhubung dia mengenakan gaun. Ah benar juga, kenapa Cloud baru menyadari bahwa Tifa mengenakan gaun?
Dan entah mengapa, Cloud juga merasa bahwa Tifa terlihat begitu... cantik.
Lamunan Cloud buyar ketika Tifa berada di ujung teras dan pandangannya menghadap ke kota. Berhubung mereka berada di lantai delapan, mereka bisa melihat pemandangan lampu-lampu bangunan kota Midgar yang berwarna-warni. Tifa terlihat terkagum-kagum dan senang sekali melihatnya. Sampai-sampai Cloud juga ikut berdiri di sampingnya memandang pemandangan itu.
"Indah ya?" tanya Tifa, yang dijawab dengan anggukan dari Cloud. "Ngomong-ngomong, aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengobrol dengan Senpai."
"Oh ya?"
"Iya, meski Senpai sudah dua kali menolongku, tetapi aku masih merasa... asing tentang dirimu."
"Oh," jawab Cloud singkat.
"Kalau begitu, apa kau juga berasal dari Midgar?"
"Tidak," jawab Cloud. "Aku berasal dari Nibelheim."
"Nibelheim? Hei, aku juga berasal dari Nibelheim!"
Cloud menolehkan kepalanya pada Tifa. "Oh... ya?"
Tifa menganggukkan kepalanya. "Wah, aku sungguh tidak menyangka kalau ternyata kita berasal dari kota yang sama!"
Melihat Tifa yang tersenyum lebar padanya, entah kenapa membuat Cloud menjadi gugup sendiri. Sehingga dia kembali memandang ke depan untuk menghindari pandangan langsung dengan mata Tifa.
"Senpai suka tinggal di sini? Atau lebih suka di Nibelheim?"
"Em... kalau boleh jujur, aku lebih suka tinggal di Nibelheim."
"Oh," jawab Tifa. "Tetapi... kenapa Senpai pindah ke sini?"
Untuk pertanyaan ini, entah kenapa Cloud tidak mau menjawabnya. Mungkin karena dia masih belum percaya sepenuhnya pada gadis yang ada di sampingnya ini. Hal itu bisa dimaklumi berhubung mereka memang belum begitu dekat.
"Ah... sepertinya aku terlalu ikut campur," kata Tifa. "Maafkan aku, Senpai."
"Ya."
Mereka berdua hening untuk beberapa saat, dan tiba-tiba saja angin malam bertiup. Berhubung Cloud sudah memakai jaket, maka angin itu tidak terlalu berpengaruh baginya. Tetapi sepertinya hembusan angin malam itu cukup membuat Tifa menggigil kedinginan. Apa boleh buat, selain bagian atas gaunnya sedikit terbuka, bahan gaun ini juga agak tipis. Sungguh bukan atribut yang tepat untuk menghadapi angin malam. Menggelengkan kepalanya, Cloud melepas jaket yang dikenakannya dan memakaikannya di pundak Tifa. Tifa sempat kaget, namun pada akhirnya dia berterima kasih.
"Ah, terima kasih Senpai."
"Hm."
"Anginnya kencang sekali, mungkin karena kita berada di lantai delapan," kata Tifa sambil menggosok-gosok tangannya. "Senpai, bisakah kita masuk? Aku sudah cukup puas melihat-lihat."
"Ya, terserah kau saja," jawab Cloud. "Dan lagi, Tifa."
"Ya?"
"Umurmu tujuh belas, kan?"
Tifa menganggukkan kepalanya.
"Jangan panggil aku Senpai kalau begitu, karena aku sebenarnya seumuran denganmu."
Mohon isi kotak review di bawah ya, makasih hehehehe.
