ABOUT ABNORMALITY – Chapter 1
Pairing: Kakashi Hatake x Anko Mitarashi
Anime/Manga: Naruto
Genre: Romance, 'lil bit humor maybe?
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei
Rate: M.
Warning: OOC, OTP, miss typo.
.
.
.
Konohagakure. Negeri dimana para shinobi hebat berkumpul. Dan setelah alur kehidupan kelam yang sempat membayanginya, kini tempat itu kembali menjadi desa kecil yang damai. Damai dan tenang.
Kini tidak ada lagi hal yang perlu dikhawatirkan. Segala sesuatunya sudah kembali normal. Kekacauan yang bisa dibilang cukup hebat semalam –sudah berakhir. Ya, terasa seperti baru terjadi semalam.
Dan sekarang seluruh penduduk desa tengah memupuk kembali harapan mereka. Harapan akan hidup yang lebih baik di dalam kedamaian dan ketenangan. Kehilangan, kehancuran, trauma dan penyesalan, semua seakan sudah menjadi lembar lama dalam kehidupan mereka. Terutama para shinobi Konoha. Inilah saatnya untuk menyempurnakan impian-impian tertinggal yang masih bisa untuk diwujudkan. Harapan yang baru segera muncul. Perubahan, adalah kata yang sangat familiar saat ini. Berubah untuk menuju hidup yang lebih baik.
.
.
.
Desa Konoha masih terlihat tenang. Namun tidak dengan akademi di mana Naruto dan kawan-kawan menuntut ilmu. Ilmu tentang bagaimana untuk menjadi pelindung desa. Bagaimana untuk menjadi shinobi sejati sambil membaptiskan hidup mereka dalam kesetiaan tinggi dan tanggung jawab terhadap kedamaian Konoha. Para shinobi kini sedang risuh dengan sebuah perubahan signifikan dari seorang jounin populer, Kakashi Hatake.
Kakashi Hatake? Pria dengan penutup wajah khas itu? Ada apa dengannya? Well, let's see.
Siang itu seorang kunoichi muda tengah berjalan dengan santai. Menuju kantor berkas akademi. Sebelum sampai di sana ia harus melewati begitu banyak pintu.
Sambil mengunyah butiran dango terakhirnya, ia bergumam tidak jelas. Yang pasti, gadis yang tak lain adalah Anko Mitarashi itu tengah menyuarakan betapa nikmatnya sedikit suapan dango manisnya di sela-sela pekerjaannya yang sibuk. Dango yang manis, meskipun sedikit, sudah pasti akan sangat menghiburnya, memompa semangatnya. Sama ketika ia sedang berada di dekat pria yang dikaguminya. Pria berambut perak bertopeng yang memiliki imej positif sekaligus negatif dimata para shinobi lain.
Tiba-tiba Anko merasa tertarik dengan sebuah ruangan yang ia lewati. Ruangan dengan pintu hitam terbuka itu sedikit berbeda dari biasanya. Dan itu membuat Anko penasaran. Mencoba masuk untuk sekedar mencari tahu atau mencuri dengar isi dari keramaian didalamnya.
"yang benar saja! Itu tidak mungkin!" ucap seorang kunoichi yang –Anko lupa namanya, tetapi adalah staf administrasi perkantoran akademi- berambut ikal.
"iya, itu benar, Haruka! Kau saja yang ketinggalan informasi" seorang kunoichi lain menimpali. Rupanya gadis berambut ikal tadi bernama Haruka.
"bagaimana mungkin bisa seperti itu? padahal aku kira Kakashi adalah seorang pria yang normal" orang ketiga dari para wanita pengobrol itu kemudian menambahkan argumen yang semakin memanaskan tungku api diantara obrolan mereka.
Apa? Anko sedikit kaget mendengar selentingan obrolan para gadis itu. Sepertinya mereka sedang membicarakan Kakashi, lebih tepatnya –menggosipkannya.
Tak lama kemudian para gadis yang berusia sedikit lebih muda dari Anko itu tertawa cekikikan. Namun mereka tidak menyadari kalau Anko senior mereka berjalan masuk dan mendekati konferensi tidak resmi mereka itu.
"Kakashi payah!" celetuk seorang gadis lagi. Dan tak ayal, suara cempreng orang itu melekat ke dalam telinga Anko. Anko mendengarnya.
"Heh!" tegur Anko. "kalian sedang membicarakan apa?!" ucap Anko dengan nada tegas seperti menghakimi. Ia memang tengah memergoki para juniornya membicarakan sahabatnya Kakashi.
"eh? A-Anko-san!" sahut salah satu suara. Anko memandangi mereka bertiga dengan sedikit bengis. Zaman memang telah berubah. Kualitas para personil akademi kini semakin payah. Inikah yang disebut dengan perubahan? Inikah revolusi? Hanya karena sekarang segalanya telah terasa damai, lalu boleh muncul bibit-bibit muda yang tidak berkualitas seperti para gadis payah ini? Anko menggerutu di dalam hati.
Ketiga gadis staf administrasi tadi terdiam. Mereka gugup setengah mati mengetahui Anko Mitarashi sedang memergoki mereka. Memergoki ketiganya tengah menggosipkan Kakashi.
Bisa mati kalian semua. Siapa yang tidak tahu perihal tenaga dahsyat Anko ketika tengah marah. Kunoichi tomboy itu memang cukup disegani. Bukan karena ia adalah cucu dari tetua Hokage. Bukan itu. Anko memang wanita dengan kualitas pribadi yang berbeda. Jangan anggap remeh ia. Sebagai seorang perempuan ia samasekali tidak bisa dikatakan lemah.
Kembali ke plot.
Ketiga gadis tadi masih terdiam. Wajah mereka sedikit memucat. Habislah mereka, masih menyandang staf junior tapi sudah berani besar mulut, berani menggosipkan senior yang sudah banyak berjasa pada desa Konoha.
"aku ulangi, kalian sedang membicarakan apa?!" ucap Anko lagi dengan tempo dan nada tidak lebih tinggi dari sebelumnya. Namun begitu jelas diketahui bahwa gadis itu tidak suka dengan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya.
"ah, tidak Anko-san. Kami hanya –"
"aku dengar kalian sedang membicarakan Kakashi" potong Anko yang kini berdiri di antara mereka –tiga gadis kurang ajar tadi.
Sang gadis yang tadi berusaha menjawab kini malah menelan ludah.
"kalian menggosipkan apa, tentang Kakashi?!" lanjut Anko. Menantang para juniornya. Ia tidak akan pergi sebelum ia mengetahui hal buruk apa yang sedang difitnahkan (baca:dibicarakan) mereka mengenai sahabatnya itu.
Masih hening. Tidak ada jawaban. Dan Anko tidak akan segera pergi karenanya. Bahkan, gadis itu tidak segan-segan akan menyakiti para junior tersebut jika masih berani mendiamkannya.
"jawab aku!" ucap Anko tiba-tiba sambil menggebrak meja. Cukup nyaring. Tetapi hanya pada level untuk mengagetkan ketiga gadis itu.
"ka-kami dengar ada sebuah gosip tidak mengenakkan tentang Kakashi-san, Anko-san!" cetus salah seorang gadis nekat dengan gugup.
"oh ya? Apa itu?" Anko cukup penasaran.
"kami tidak yakin kau akan senang mendengarnya" lanjut yang lain. Bahkan mereka tidak yakin akan bisa selamat dari kemarahan Anko setelah mendengar pengakuan mereka selanjutnya.
"Apa!? Cepat katakan!" bentak Anko lagi.
Ketiga gadis itu saling berpandangan. Ada rasa ragu di kepala mereka untuk memberitahukannya kepada Anko. Karena bisa-bisa Anko pasti marah besar.
"kami dengar Kakashi-san adalah seorang pria yang tidak normal. Pria homoseks".
.
.
.
Hari berikutnya. Anko sudah mengumpulkan bertumpuk-tumpuk buku tebal. Ia menumpuknya menjadi sebuah garis vertikal. Terlihat sangat berat dan tentu saja, merepotkan.
Anko sedang berada di dalam perpustakaan umum akademi. Dan Anko akan segera membawa keluar buku-buku merepotkan itu, memberikannya kepada Tsunade-sama atau Shizune, dan selesailah pekerjaan singkatnya hari ini.
Namun semua itu sedikit tertunda ketika Anko melihat sebuah judul buku yang tertera pada sebuah buku yang tersusun rapi di rak. Buku yang diposisikan berdiri dan terhimpit puluhan buku lainnya.
Tentu saja bukan Icha Icha Tactics atau Icha Icha Paradise. Buku bodoh itu tidak mungkin berada di perpustakaan akademi. Buku terkutuk itu hanya ada di rumah Kakashi Hatake.
LOVE AND RELATIONSHIP. Hmm. Anko bergumam tidak jelas ketika membaca judulnya. Entah apa yang membuat Anko tertarik untuk memperhatikan judul buku itu. Mungkinkah ia sedang jatuh cinta? Ya, sekali lagi zaman memang telah berubah. Setiap orang butuh episode kehidupan baru bukan? Dan sekaranglah saatnya. Anko tengah memikirkan masa depannya. Anko tengah memikirkan sebuah perasaan yang telah lama ia rasakan, yaitu cinta.
Tanpa pikir panjang Anko segera mengambil buku itu. Entah karena iseng atau karena ingin membacanya. Anko berniat untuk sekedar melihat-lihat isinya. Apakah bagus atau tidak. Apakah berguna atau tidak. Yang jelas tidak mungkin buku itu membuatnya jadi berpikiran mesum nan kotor seperti seseorang yang kerap membaca seri Icha Icha. Anko hanya berharap ada sedikit alur pembimbing baginya tentang bagaimana menjalin hubungan romantis dan istimewa dengan seseorang. Memang, ia belum resmi berpacaran dengan lelaki yang ia taksir. Tapi kepercayaan diri Anko cukup tinggi. Mungkin saja pria idamannya itu juga merasakan hal yang sama dengannya saat ini.
Buku terbaru tadi diletakkannya dibagian atas tumpukan buku tebal yang hendak ia bawa. Kini Anko menuju ruangan Tsunade, sang Hokage wanita.
"ah, terima kasih Anko!" sahut suara seorang gadis yang menyambutnya di ruangan itu, yang tak lain adalah Shizune.
Anko mengangguk sambil tersenyum. "mana Tsunade-sama?"
"sebentar lagi ia akan naik ke sini kok" jawab Shizune sambil tersenyum. Lalu menuju buku-buku tebal yang kini terletak di atas meja. Sebuah buku tipis menyita perhatian Shizune. Sepertinya buku itu tidak seharusnya berada di situ.
Anko tersadar, dan langsung buru-buru mengambil buku miliknya. Shizune lagi-lagi tersenyum melihat Anko yang tersenyum canggung padanya, sambil mencoba menyembunyikan buku tadi. Dasar bodoh, Shizune sudah melihat judulnya, tahu!
Anko menghela nafas lega. Barusan tadi terasa cukup memalukan. Anko merasa canggung bila orang lain mengetahuinya tengah mendalami buku tentang cinta. Mungkin meminjam buku itu adalah ide yang benar-benar gila. Tapiii, mungkin saja tidak. Tepis gadis itu dalam batinnya yang berperang kecil.
Di tengah perjalanan di dalam sebuah lorong akademi, ia bertemu Tsunade. Wanita yang bisa dikatakan tua –namun fisiknya masih muda- itu tersenyum kecil pada Anko. Anko membalas senyumannya dan sedikit membungkuk untuk menunjukkan etika hormatnya pada pemimpin Konoha itu. Tsunade mengangguk dan meneruskan perjalanannya. Begitupun dengan Anko.
Kini gadis itu duduk di sebuah bangku panjang kosong di alun-alun akademi Konoha. Di sana kosong. Para shinobi sedang bekerja dan sibuk dengan urusannya masing-masing.
"untung saja waktu luangku banyak belakangan ini!" ucap Anko pada dirinya sendiri. Ia telah duduk dan mencoba membuat posisi duduknya terasa santai. Dan tak lama kemudian ia mengeluarkan buku barunya tadi. Berniat untuk membacanya.
Tunggu dulu, kalau tidak salah, Anko memang seorang shinobi yang selalu berpengetahuan dasar lengkap sebelum memulai sesuatu. Itu artinya Anko adalah seseorang yang selalu melengkapi pengetahuannya sesuai dengan hal yang akan segera ia lakukan. Baik secara teori, maupun prakteknya.
Dan hal itu sebenarnya agak sedikit rancu dengan Anko yang aslinya tidak terlalu gemar membaca buku ini.
Tapi, yah, itulah pergerakan yang diciptakan oleh arus yang namanya jatuh cinta. Hal yang tabu pun akan dilakukan oleh seorang anak manusia jika ia sedang dilanda asmara. Anko akan membaca buku.
"duduk sendiri di tempat yang tenang sambil membaca buku. Ckck. Aku ini seperti Kakashi saja!" Anko terkekeh sendiri. Tapi ia tidak sudi bukunya disamakan dengan buku rendahan milik Kakashi. Tidak sudi. Enak saja.
Anko tenggelam dalam bacaannya. Gadis itu memang mengeja dan menghafal dengan cepat setiap kalimat yang dibacanya. Tidak perlu waktu lama bagi Anko untuk menyelesaikan hobi barunya ini. Anko memang berotak cerdas nan cemerlang. Tapi tidak berkilau seperti gigi Guy Maito dan berkilat seperti tatapan mata Rock Lee, ya.
Di tengah keasyikannya mendalami ilmu barunya, kini Anko mengerutkan dahinya. Halaman 57. Tertulis sub-judul 'Cari Tahu apakah pasangan anda seorang pria homoseksual, atau tidak'.
Apa? Kalimat yang benar-benar melantur. Menyimpang. Gila. Tidak normal. Berlebihan. Dan Anko merasa geli karenanya. Geli yang dimaksud adalah jijik.
Tapi tunggu, kemarin kan kalau tidak salah…..
'kami dengar Kakashi-san adalah seorang pria yang tidak normal. Pria homoseks'. Begitulah yang ia dengar dari pengakuan seorang gadis juniornya.
Brengsek. Gadis kurang ajar itu memang benar-benar kelewatan. Umpat Anko di dalam hati. Berani-beraninya mereka menghina Kakashiku!
Tapi, apa benar?
Angin utara mungkin sudah masuk meracuni otak Anko. Bodohnya, gadis itu mulai memikirkan gosip murahan yang ia dengar kemarin. Homoseksual? Yang benar saja! Kakashi itu normal! Tapi… kenapa aku jadi takut begini? Pekik gadis berambut gelap itu di dalam hatinya.
Pelan-pelan, dibacanya isi buku yang dirasanya sudah mulai menyimpang dari norma kesopanan itu. Ia sebenarnya tidak ingin. Namun otaknya yang logis memerintahkannya untuk menghafal isi dari petuah buku yang tidak diketahui pengarangnya oleh Anko tersebut. Sekedar untuk berjaga-jaga. Untuk menambah pengetahuan.
.
.
.
"1. Pria gay umumnya tampan dan menarik. Berkharisma atau semacamnya. Tetapi, kenapa setelah sekian lama ia masih jomblo? Kesendirian dari pria lajang tampan adalah suatu hal yang mencurigakan. Anda patut waspada!"
Hmm. Anko berdehem sendiri. Poin satu dari sub judul mengenai keabnormalan pasangan telah ia hafal diluar kepala. Ya, diluar kepala. Meskipun setengah mempercayainya dan setengah laginya tidak, gadis itu heran dengan informasi unik yang sudah tercatat lengkap di kepalanya tersebut.
Anko kini berjalan menyusuri jalan desa. Tak seberapa lama kemudian bertemulah ia dengan Kurenai, gadis ber-imej merah tua sahabat wanitanya itu. Rupanya mereka memang telah berjanji untuk melakukan pertemuan.
"Anko, ada apa memanggilku untuk bertemu hari ini?" Tanya Kurenai. Ia memperhatikan Anko. Gadis bermantel cream itu memasang wajah datar yang agak ceria di hari ini. Sama seperti biasa.
"tidaak…. Aku hanya ingin meminta informasi darimu mengenai seorang calon chuunin yang bernama –"
"Sakuga Kanto?" potong Kurenai cepat.
"ah, iya, iya benar"
"eh, tapi kenapa kau cepat sekali mengetahuinya? Padahal aku belum menyebutkan namanya!?" protes Anko pada sahutan Kurenai.
Kurenai tersenyum lebar. "kau ini meremehkanku, Anko!"
Anko tertawa sebagai bentuk responnya.
"iya, Sakuga Kanto kan anak didikku. Dia memang cukup terkenal"
"cukup terkenal karena memiliki sebuah potensi" Kurenai menjelaskan lebih lanjut.
"iya itu benar. Maka dari itu….. aku minta maaf sebelumnya sudah memanggilmu kesini" jawab Anko. Kini keduanya duduk di atas bangku kayu yang terlihat sudah agak kotor.
"tidak apa-apa kok Anko. Kita ini kan teman!" Kurenai lagi-lagi tersenyum.
"oh iya Anko, tumben belakangan ini kau sering sendirian?"
Anko menoleh. Merasa bingung dengan pertanyaan Kurenai barusan.
"maksudmu?" tanyanya memastikan.
Kurenai malah menjawab dengan sebuah pertanyaan lain "mana Kakashi?".
Anko tertegun. Oh, iya, Kakashi. Sahabat dekatnya. Satu-satunya sahabat laki-laki yang paling dekat dengannya.
"ng…aku tidak tahu" sahut Anko pendek. Ia memang berkata jujur. Belakangan ini ia dan Kakashi masing-masing sibuk sendiri. Hampir tidak ada waktu lagi untuk bertemu satu sama lain.
"oh, begitu" Kurenai mengangguk-angguk.
"tapi Anko –"
Apa? Bibir Anko yang tidak bersuara sudah diwakilkan oleh wajahnya yang bertanya dengan tiga huruf itu.
"apa gosip itu benar?" Tanya Kurenai lagi. Hari ini Kurenai seolah-olah terlalu banyak bertanya.
"gosip apa?"
"ituu –"
"masa' kau tidak tahu? Kau benar-benar tidak mendengarnya?"
Gosip? Mengenai Kakashi? Ah, ya. Iya benar. Gosip murahan yang kemarin ia dengar dari para shinobi juniornya. Selentingan berita hina yang samasekali tidak mungkin untuk ia percayai.
"mengenai Kakashi?" Anko berusaha untuk memastikan maksud tersembunyi pikiran Kurenai.
Kurenai mengangguk cepat.
"apa benar?" Kurenai memasang tampang cemas, sekaligus penasaran. Dan, oh, ada sedikit aura prihatin dari wajah wanita itu.
Tunggu! Yang benar saja? Kurenai percaya pada gosip murahan itu? Bahkan rekan dekatnya pun mulai terjerumus –mulai mempercayai gosip terbaru Kakashi itu? Oh tidak! Suara hati Anko bergemuruh.
Anko menghela nafas. Berusaha untuk tidak terlalu heboh untuk menjawab pertanyaan rekannya. Tapi usaha itu gagal.
"Kurenai, kau sudah gila ya! Mana mungkin Kakashi itu seorang ga –"terputus. Kalimat Anko terputus.
Asuma datang. Ya, ada Asuma disana. Mengganggu dua orang wanita yang sedang seru membicarakan –ah, memperdebatkan mengenai kenormalan seorang Kakashi Hatake.
"mau apa kau kesini!?" ucap Anko tidak senang pada kedatangan pria macho itu. Pasti lagi-lagi untuk menculik Kurenai berkencan. Mengganggu Anko. Mengganggu mereka untuk kesekian kalinya. Dasar pasangan dimabuk asmara yang keterlaluan!
"tidak perlu marah begitu, Anko!" sahut Asuma santai. Sebenarnya ia sedikit merasa tidak enak pada sahabat kekasihnya itu. Tapi mau dikata apa lagi, ia sudah berjanji untuk menjemput Kurenai, yang kebetulan juga tengah diseret Anko ke dalam pertemuan singkat di siang ini.
"kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Asuma kemudian.
Penasaran karena Anko tadi tengah menghentikan bicaranya. Yang sedikitnya terlihat cukup seru di mata Asuma.
"tidak. Tidak membicarakan apa-apa!" sahut Anko mencoba membela diri, menutupi pembicaraanya dengan Kurenai yang menurutnya –agak terlarang.
"dasar perempuan!" gumam Asuma jengkel, tapi lelaki itu masih tetap tersenyum.
"kita pergi sekarang saja" ucap Asuma kemudian pada Kurenai.
Kurenai tampak bingung. "tapi urusanku dengan Anko belum selesai. Bagaimana ini?"
"sudah…dilanjutkan nanti saja! Ayo!" Asuma menarik tangan kanan Kurenai.
"eeh!? Enak saja!" suara Anko meninggi. Gadis ini memang selalu tidak segan membuat imejnya buruk di mata sebagian besar pria, kecuali Kakashi tentunya.
"Kurenai baru saja bersamaku, tahu! Kami sedang membicarakan sebuah hal yang penting!"
Asuma menyipitkan matanya. "kan bisa ditunda? Besok aku ada misi yang memakan waktu lama. Ayo Kurenai!" ajaknya lagi pada kekasihnya.
Kurenai merasa tidak enak pada Anko –yang wajahnya sudah berubah bagaikan naga marah yang siap menyemburkan api besar panas kepada mereka berdua.
"kau ini bagaimana sih, Kurenai? Mana yang lebih penting, aku sahabatmu atau pria tua berjenggot ini?!" bentaknya pada Kurenai, penuh dengan perasaan kesal.
Tapi pria tua berjenggot itu adalah kekasihnya. Dan pria itu belum terlalu tua. Lalu, juga bisa dibilang tubuhnya yang tinggi besar itu cukup macho untuk membuat Kurenai tetap berada di sisinya sebagai seorang kekasih.
"maaf ya Ankoo!" Kurenai menjawab dengan nada memohon. Tentu saja ia memilih untuk berkencan dengan Asuma, karena besok pria itu akan meninggalkannya untuk sementara.
Asuma tersenyum penuh kemenangan. Anko yang cerewet itu kalah darinya. Ia senang sekali.
"sana pulang saja. Atau….temani Kakashi saja! Kudengar orientasi seksnya sudah mulai menyimpang tuh! Mungkin karena kau sekarang jarang menemaninya" cerocos Asuma panjang lebar –sambil menggandeng Kurenai- sambil terkekeh geli.
Apa?! Asuma sialan. Kurang ajaaar.
Tak ayal, aura api besar mulai muncul dari sekeliling tubuh Anko. Mirip tokoh di seri Dragon Ball Z. Hanya saja kali ini tokohnya adalah perempuan.
Bletak. Sebuah sepatu-tanpa pasangan-sudah mendarat dengan keras di kepala Asuma. Membuat rokok yang selalu menempel di mulut pria itu terjatuh tanpa sengaja.
Kurenai hampir tertawa. Tapi belum sempat keluar tawa dari bibir merah wanita itu, lengannya sudah ditarik oleh Asuma. Mereka melesat. Pergi dengan cepat meninggalkan Anko yang berdiri mematung sendirian –dengan tatapan kemarahan kepada kekasih Kurenai itu.
"Kurenai! Bagaimana dengan informasi chuunin ituu!" teriak Anko yang baru tersadar akan urusannya yang belum selesai alias tertunda bersama gadis itu.
"maaf! Nanti malam aku ke rumahmu saja! Maaf ya Ankoo!" sahut Kurenai sayup-sayup.
Menghilang. Dua orang tadi sudah menghilang. Langkah seribu Asuma sukses membuat Kurenai terseret dan tergopoh-gopoh mengikutinya.
Menyisakan Anko yang terdiam seorang diri. "aah….menyebalkan!" desisnya pada dirinya sendiri. Wajahnya menyiratkan penyesalan.
.
.
.
T B C
A/N:
Saya nggak bermaksud nge-bash Kakashi-san. Sebaliknya, saya justru sukaaa banget sama dia.
Apalagi dipasangkan sama Anko Mitarashi.
Hum. Bulan ini ulang tahun Kakashi-san….
RnR?
Gomen chapter ini kurang seru.
