A/N : Akhirnya bisa update juga, maaf jika memakan waktu lama. Mohon read and review ya, maaf kalau kurang bagus. Jika ada kritik dan saran, silahkan sampaikan melalui review. Namun mohon diingat agar menggunakan bahasa yang sopan. Terima kasih.

OH_12

Seperti yang diduga oleh Tifa sebelumnya, dia sama sekali tidak cocok dengan suasana pesta. Kemegahan yang disajikan oleh hotel ini, kemeriahan acara, serta sekerumunan orang-orang, semua itu sungguh tidak membuatnya senang sama sekali. Tifa masih ingat ketika dia baru saja sampai di hotel ini. Tiba-tiba saja muncul perasaan gugup yang begitu hebat dalam hatinya, bahkan jauh lebih gugup daripada ketika dia menunggu akan dijemput. Lebih parahnya lagi, sang Ibu benar-benar menjadi cuek sekali padanya. Biasanya Evelyn selalu tahu kalau terjadi apa-apa pada putri semata wayangnya. Tetapi hari ini... sikap Evelyn sungguh membuat Tifa geleng-geleng kepala. Sifat Rufus juga tidak jauh berbeda, seturunnya dari mobil, Rufus hanya diam.

Setibanya di aula bernama 'Diamond', Tifa segera dikejutkan dengan banyaknya orang-orang yang hadir. Entah berapa orang, mungkin jumlah sekitar ratusan. Di sana, Tifa hanya tersenyum pada orang-orang yang dikenalkan Ibunya. Selain pandangan kagum, Tifa juga dihujani pujian dari mereka. Tifa hanya tersenyum sebagai ganti ucapan 'terima kasih', dan ternyata senyumannya malah membuat dirinya dihujani lebih banyak pujian lagi. Ah, rasanya sungguh serba salah.

Acara semakin 'panas' ketika MC naik ke atas panggung sebagai tanda bahwa acara akan segera dimulai. Tifa pikir, mungkin dia akan merasa terhibur ketika menyaksikan acara-acara yang akan disajikan. Tetapi sayangnya... tidak. Acara hanya didominasi oleh nostalgia masa lalu, ocehan tidak penting sang MC, lawakan yang (bagi Tifa) terdengar tidak lucu, dan lain sebagainya. Tetapi lagi-lagi, Evelyn sepertinya senang-senang saja berada di sini sambil melihat semua itu. Mungkin karena beda zaman, maka beda selera pula.

Tidak tahan lagi mendengar semua itu, akhirnya Tifa bangun dan memutuskan untuk pergi ke toilet. Begitu keluar dari aula, entah mengapa dia langsung merasa lega. Pergi ke toilet juga sebenarnya bukan karena Tifa ingin buang air, melainkan hanya sekadar menghabiskan waktu. Untungnya, di dalam toilet tidak ada banyak orang. Sehingga tidak ada yang memandangnya aneh karena Tifa hanya berdiri diam di dalam sana. Tetapi untuk jaga-jaga, akhirnya Tifa masuk ke dalam salah satu kloset.

Tetapi sayangnya, hanya duduk di sini memang bukan ide yang baik. Setelah lima belas menit berada di dalam, Tifa akhirnya menyerah dan keluar. Berada di dalam kloset dan hanya duduk sungguh membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Sehingga akhirnya Tifa keluar dari toilet dan...

"Tifa?"

Bertemu dengan sang kakak kelas, Cloud Strife. Hingga pada akhirnya, mereka berdua mengobrol bersama di beranda.

"Jangan panggil aku Senpai, karena aku seumuran denganmu," kata Cloud.

"Hah?" tanya Tifa. "Memangnya... umur Senpai juga 17 tahun?"

Cloud menganggukkan kepalanya. "Aku memang lebih awal masuk sekolah. Karena itulah aku menjadi siswa termuda di angkatanku. Meski secara fisik, aku terlihat sama dengan mereka."

Mulut Tifa menggumamkan 'oh' tanpa suara sambil mengangguk.

"Karena Ayahku merasa aku memiliki otak yang cerdas, maka dia nekat memasukkanku ke TK meski usiaku belum begitu cukup," kata Cloud. "Kau sendiri?"

"Aku?"

"Kenapa kau pindah ke sini?"

"Ah..." jawab Tifa sambil memalingkan pandangannya. "Ada urusan keluarga, atau lebih tepatnya... masalah keluarga."

"Masalah keluarga?"

"Orangtuaku bercerai, sehingga Ibuku mengajakku untuk pindah ke kota ini," kata Tifa. "Tetapi Ayahku terus berusaha untuk mengajakku ikut bersamanya."

"Kau tidak mau?" tanya Cloud, yang dijawab dengan gelengan kepala dari Tifa.

"Ayahku berubah, dia sama sekali bukan Ayah yang kukenal waktu kecil."

Ketika membicarakan mengenai sang Ayah, tanpa sadar air mata Tifa mengalir. Cloud memang tidak melihat Tifa meneteskan air mata, tetapi dia tahu kalau topik ini pasti sensitif baginya. Sehingga dia memutuskan untuk tidak melanjutkannya lagi. Setidaknya sampai akhirnya Tifa memulai pembicaraan kembali.

"Ah ya, kudengar besok ada pertandingan basket ya?" tanya Tifa dengan nada yang lebih ceria.

"Em... ya, begitulah."

"Ah... kalau begitu, pantas saja," kata Tifa sambil menganggukkan kepalanya, Cloud hanya memandang Tifa dengan heran. "Besok aku akan menyemangati tim kalian."

"Maksudmu?"

"Kan aku anggota pemandu sorak, dan kami ditunjuk untuk menyemangati kalian di pertandingan nanti."

Cloud menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia mengerti.

Tidak lama setelahnya, mereka berdua kembali masuk ke dalam hotel. Entah sudah berapa lama mereka berdua mengobrol, tetapi suasana di luar tetap ramai. Tifa merogoh ponselnya dari tas dan kemudian melihat jam, jam setengah sembilan malam, saat dia ke toilet jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Berarti... sudah satu jam dia mengobrol. Ternyata cukup lama juga mereka mengobrol, padahal sepertinya percakapan mereka tidak begitu banyak dan juga tidak panjang. Tetapi di sisi lain, Tifa sendiri juga merasa kalau satu jam ini masih belum memuaskannya. Karena masih ada waktu satu setengah jam lagi sampai akhirnya pesta ini selesai. Dan parahnya lagi, Evelyn serta Rufus juga terlihat tidak menyadari bahwa Tifa tidak ada di dalam aula.

"Kau mau kembali ke sana?" tanya Cloud.

"Sebenarnya sih, tidak," jawab Tifa. "Aku tidak suka berada di tengah keramaian seperti itu. Kau sendiri mau kemana?"

Mendengar pertanyaan itu, Cloud berpikir sejenak. Benar juga, pada awalnya dia berniat untuk mengejar sang Ayah. Tetapi berhubung dia sudah kehilangan jejak, maka tentunya dia sudah tidak ada tujuan lagi di sini. Haruskah... dia pulang?

"Sebenarnya kalau boleh jujur, aku berharap ada seseorang yang mengajakku pergi dari sini," tambah Tifa. "Setidaknya sampai jam sepuluh."

Cloud menatap Tifa, sama sepertinya, Tifa juga tidak menyukai tempat ini. Dan lagi, sang Ayah juga sempat memberitahunya bahwa dia akan pulang sekitar jam sebelas atau dua belas malam. Langsung pulang juga sepertinya sangat membosankan, lagipula Cloud tidak yakin dia bisa tidur pulas ketika masih diranda rasa penasaran akan kemana Ayahnya pergi. Berhubung Cloud juga tidak pernah ke pusat kota sebelumnya, mungkin ini bisa menjadi kesempatan yang bagus untuk menjelajah. Dan ditambah lagi, karena Tifa bosan, mungkin dia bisa mengajaknya juga.

"Tifa."

"Hm?"

"Mau ikut denganku mengelilingi kota?" tanya Cloud. "Kau bosan kan berada di sini?"

Tifa memiringkan kepalanya dengan heran. "Menjelajahi kota?"

"Ya, kebetulan... em, urusanku juga sudah selesai. Kau mau, kan?"

Cloud sebenarnya heran juga kenapa dia bisa menanyakan hal seperti ini. Mungkin lebih tepatnya, kenapa juga dia bisa berani mengajak seorang wanita untuk pergi bersamanya? Padahal sebelumnya dia bukanlah tipe yang suka banyak bicara, apalagi mengajak orang lain—wanita lain, lebih tepatnya—untuk pergi bersama. Cloud juga sempat ragu apakah Tifa akan menerima ajakannya. Tetapi rasa ragu itu hilang perlahan-lahan ketika melihat wajah Tifa yang akhirnya menyunggingkan senyum.

"Boleh! Kebetulan aku juga belum pernah ke pusat kota."

"Kau mau?" tanya Cloud tidak percaya. "Tapi penampilanmu..."

Tifa meggelengkan kepalanya. "Tidak usah dipikirkan, aku tidak mempermasalahkannya kok."

Cloud sempat kehabisan kata-kata, dalam arti tidak menyangka bahwa dia akan sebegitu mudah menerima ajakannya. Tetapi akhirnya dia hanya menggumamkan 'oh' pelan dan mengajak Tifa turun ke lantai bawah. Sekeluarnya dari hotel, Tifa terlihat sangat antusias, apalagi ketika melihat motor Cloud yang diparkir di kafe seberang. Melihat Tifa yang seperti itu, tanpa sadar membuat Cloud menyunggingkan... senyum.

...

Cloud dan Tifa sungguh dibuat terpana dengan suasana pusat kota Midgar. Bak surga dunia, kota ini menyediakan begitu banyak hiburan dalam berbagai jenis. Ada kasino, restoran, game center, pertunjukkan breakdance di trotoar, sulap keliling, bahkan gerobak makanan ringan. Sebelumnya Cloud dan Tifa memang tidak suka keramaian, tetapi entah mengapa mereka menyukai atmosfer tempat ini. Bahkan lima belas menit kemudian setelah mereka mulai berkeliling, Cloud serta Tifa memutuskan untuk memarkir motornya (lagi) dan mulai berjalan-jalan. Gaun yang dikenakan Tifa memang mencolok di tengah keramaian, tetapi Tifa nyaris tidak peduli dengan itu. Dan tidak hanya dirinya, bahkan orang-orang yang di sekeliling mereka juga sama.

"Ah, menyenangkan sekali," kata Tifa. "Coba saja dari dulu aku ke sini."

"Iya," jawab Cloud. "Aku juga tidak menyangka."

"Oh ya, Senpai."

"Cloud."

Tifa langsung menutup mulutnya. "Ah ya, Cloud. Em... bagaimana persiapan untuk besok?"

"Biasa saja, meski latihan terasa lebih keras."

"Oh..." kata Tifa. "Sama sepertiku, Aerith juga menambah durasi latihan kami seminggu terakhir ini."

Pembicaraan mereka terhenti sampai di sana, dan kemudian mereka kembali dibuat terpana oleh ramainya pusat kota. Tetapi yang paling terkagum adalah Tifa. Mungkin karena dia tinggal di kota ini belum lama, dan Nibelheim tidaklah sebesar serta seramai ini, maka Tifa benar-benar merasa 'norak'. Ah, seandainya dia membawa baju ganti, mungkin dia bisa menjelajahi pusat kota ini lebih leluasa. Tidak begitu nyaman menggunakan gaun, dan lagi karena berada di luar, maka suasananya terasa agak panas. Untungnya, gaun Tifa agak tipis, sehingga masih ada celah untuk angin masuk.

Saking terkagum-kagumnya, Tifa sampai tidak sadar kalau Cloud sudah tidak lagi berada di sisinya. Terkejut, Tifa segera menoleh ke kanan dan ke kiri. Ya ampun, kok bisa-bisanya sih dia menjadi begitu teledor? Rasa panik langsung memenuhi dirinya, terutama ketika dia semakin dikelilingi oleh kerumunan orang-orang. Situasi semakin bertambah parah ketika Tifa menyadari bahwa dia tidak memiliki nomor ponsel Cloud.

Sentuhan dingin yang tiba-tiba menyentuh pipinya membuat Tifa kaget. Ketika ia menoleh, ternyata sentuhan dingin itu berasal dari eskrim yang dipegang oleh Cloud. Napas lega langsung terhembus keluar dari hidung Tifa, sementara Cloud, dia hanya mengangkat alisnya.

"Ini untukmu," kata Cloud. "Kau suka vanilla?"

"Em, ya... terima kasih. Tadi kau kemana?"

"Membeli eskrim tentunya," jawab Cloud yang kemudian menjilat eskrim rasa cokelatnya. "Kenapa kau terlihat begitu panik?"

"Tidak, kukira aku tersesat. Meski aku juga meleng sih tadi."

Cloud tersenyum ketika mendengar itu. "Tenanglah, toko eskrim itu dekat kok dari sini. Dan memang agak ramai, sehingga agak sulit untuk memberitahumu untuk menungguku."

Tifa menjawab dengan anggukan.

"Kau mau duduk?" tanya Cloud.

"Hm?"

"Kurasa kau capek berjalan terus," kata Cloud.

Ah, benar juga. Tifa byaris lupa kalau dia memakai hak tinggi daritadi. Dan karena terus berjalan tanpa duduk, Tifa harus mengakui kalau kakinya terasa pegal dan kesemutan. Tawaran Cloud benar-benar pas sekali.

Mereka berdua berjalan menuju kursi kosong yang terletak di taman. Taman yang ukurannya cukup besar itu memiliki air mancur di tengahnya, dan di sekeliling air mancur itu tersedia banyak sekali kursi. Banyak orang yang juga menghabiskan waktu di sini, salah satunya adalah anak-anak. Ah, ternyata anak-anak Midgar tetap aktif saat malam hari. Kalau Tifa sih, dari kecil hingga sekarang langsung tidur jika sudah lewat jam delapan malam. Selain anak-anak, ada juga pasangan-pasangan kekasih yang tengah bermesraan.

Cloud dan Tifa duduk di kursi paling ujung. Di sana mereka berdua sama-sama menikmati eskrim mereka yang tinggal setengah. Sebenarnya Cloud sempat menawarkan lagi untuk membelikan minuman, tetapi Tifa menolak.

Sambil menikmati eskrimnya, Tifa mengambil kembali ponselnya dari dalam tas. Sekarang sudah jam sembilan lewat seperempat, dan ada beberapa pesan yang dikirim oleh Ibunya. Tifa merasa lega, setidaknya sang Ibu ternyata masih ingat padanya. Selain pesan singkat, Evelyn juga sudah meneleponnya lima kali. Dan agar tidak membuat sang Ibu semakin cemas, akhirnya Tifa membalas pesannya dengan... sedikit berbohong. Di pesan singkat itu, Tifa mengatakan bahwa dia tengah di lantai lain berkeliling. Balasan langsung datang tidak lama kemudian, dan Evelyn percaya saja pada perkataannya. Tifa juga menambahkan 'aku akan kembali jam sepuluh nanti' di bagian terakhir. Setelah selesai mengirim pesan, Tifa kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Cloud."

"Hm?" tanya Cloud setelah menghabiskan eskrimnya.

"Terima kasih."

Cloud memandang Tifa. "Untuk?"

"Mengajakku berkeliling," jawab Tifa. "Rasanya aku tidak pernah merasa sesenang ini."

"Oh ya?"

Tifa menganggukkan kepalanya. "Tapi aku tidak boleh lupa kalau jam sepuluh nanti aku harus kembali ke hotel."

"Jam sepuluh?" tanya Cloud yang kemudian melihat jam tangannya. "Kalau begitu, kita harus berangkat sebentar lagi."

Tifa menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.

"Besok kau berangkat jam berapa ke stadion?" tanya Cloud. "Dan lagi... apa kau tahu jalannya?"

"Em, sebenarnya tidak. Memangnya di stadion mana ya?"

"Stadion Shinra, kau tahu?"

Tifa menggelengkan kepalanya, wajar saja jika dia tidak tahu. Parahnya lagi, Aerith juga sama sekali tidak memberitahu apa-apa mengenai hal ini. Entah lupa atau apalah alasannya, bahkan memberitahu lewat pesan singkat juga tidak.

"Kalau begitu, kau mau naik apa ke sana?" tanya Cloud.

"Entahlah, naik bus mungkin? Mungkin saja ada rute di sana," kata Tifa. "Kau tahu stadionnya dimana?"

Cloud menganggukkan kepalanya. "Sebelumnya aku pernah bertanding di sana, jadi aku tahu."

"Oh."

"Aku bisa mengantarmu kalau kau mau."

Mendengar itu, tiba-tiba saja Tifa tertawa kecil. "Ya ampun, Cloud. Kau mau mengantarku berapa kali sih?"

"Apakah itu salah?"

"Bukan begitu maksudku," jawab Tifa. "Ternyata... anggapanku padamu selama ini salah besar ya?"

"Anggapan apa?"

"Waktu bertemu pertama kali denganmu, aku mengira bahwa kau adalah orang yang dingin. Tetapi meski begitu, tanpa terduga kau menolongku tidak lama setelahnya, bahkan sampai tiga kali. Kesanku padamu membaik sejak saat itu, meski aku masih mengira kalau kepribadianmu dingin."

Tifa menghembuskan napasnya terlebih dulu sebelum melanjutkan ucapannya.

"Tetapi ternyata, melihatmu hari ini membuktikan kalau dugaanku sangat salah. Iya kan, Cloud?"

Melihat Tifa yang memandangnya serta mendengar perkataannya, entah kenapa membuat Cloud malu sendiri. Dan meski dia tidak bisa melihat wajahnya sendiri, tetapi Cloud tahu bahwa wajahnya memerah. Cloud buru-buru memalingkan wajahnya dan berdiri dari kursi.

"Mungkin lebih baik kita kembali sekarang," kata Cloud. "Sudah mau jam sepuluh, nanti Ibumu cemas."

"Ah! Benar juga!"

"Dan... aku akan menjemputmu besok."

Wajah Tifa memperlihatkan ekspresi terkejut ketika mendengar kata-kata itu. Tetapi pada akhirnya dia tersenyum.

Dibandingkan saat pergi tadi, suasana jalanan kali ini terasa lebih sepi. Sehingga perjalanan kali ini memakan waktu yang lebih singkat. Di depan Midgar Hotel sendiri, sudah ada orang-orang yang keluar dan naik mobil untuk pulang. Beberapa di antaranya mungkin berasal dari pesta yang dihadirinya tadi. Tifa meminta Cloud untuk menurunkannya di gerbang hotel karena dia tidak ingin Cloud membayar biaya parkir. Biaya parkir hotel ini kan sangat mahal meski hanya sebentar.

"Terima kasih untuk hari ini," kata Tifa sambil tersenyum. "Meski singkat, tapi aku sangat senang."

"Sama-sama," jawab Cloud. "Besok kujemput kau jam tujuh pagi."

"Baiklah, hati-hati."

"Ya, sampai besok."

Tifa melambaikan tangannya. Dan setelah memastikan Cloud sudah pergi, Tifa segera berjalan memasuki hotel dengan ceria.


Mohon isi kotak review di bawah ya, makasih hehehe.