ABOUT ABNORMALITY – Chapter 2
Pairing: Kakashi Hatake x Anko Mitarashi
Anime/Manga: Naruto
Genre: Romance, 'lil bit humor maybe?
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei
Rate: M.
Warning: OOC, OTP, miss typo.
.
.
.
Dimana Kakashi? Anko membatin resah. Rasa rindu yang selalu menyelimuti hatinya sudah mulai membuatnya tidak tahan. Ia harus bertemu dengan Kakashi hari ini juga. Sudah hampir tiga minggu ia belum bertemu dengan pria yang sering bersikap dingin itu. Baginya sudah sangat lama, bagaikan beribu-ribu tahun lamanya. Ini namanya penyiksaan. Penyiksaan batin. Rindu memang menyakitkan.
Anko sudah menyusuri seluruh sudut akademi. Bahkan Anko sudah memata-matai rumah Kakashi. Namun hasilnya nihil. Kemana pria itu pergi?
Anko tahu Kakashi sedang bebas dari misi. Belakangan hanya misi dengan kesulitan rendah yang jounin itu lakukan. Tahu sendiri bukan, Konoha tengah diliputi kedamaian?
Sambil berjalan putus asa gadis itu menuju kedai langganannya. Setusuk dango mungkin akan memberinya sebuah keajaiban. Biasanya ia selalu makan bertusuk-tusuk penganan manis itu. Tetapi, jika ingin mendapat khasiat yang istimewa, makanan bulat berwarna-warni itu harus dimakan hanya dengan jumlah satu tusuk.
Hah? Kepercayaan macam apa itu? Itu adalah kepercayaan konyol yang dibuat sendiri oleh Anko. Kekonyolan membuat siapa saja bisa bertahan hidup. Itu pulalah salah satu prinsipnya. Prinsip yang konyol. Benar-benar konyol ya? Ya, itu diciptakan saat Anko tengah mabuk.
Dan benar saja, ketika Anko menyelesaikan kunyahan terakhirnya akan dango yang berjumlah sedikit di hari itu, ia melihat sesuatu yang istimewa tengah terjadi.
Itu Kakashi!
Anko langsung melompat dari bangkunya, berjalan dengan cepat, setengah berlari keluar kedai. Akhirnya, pencariannya yang ia kira akan abadi itu usai sudah. Ia sangat beruntung, akhirnya bisa menemukan Kakashi!
"Hey, bayar dulu dong!?" pekik sang pemilik kedai karena gadis itu main pergi ngeloyor dengan seenak perutnya.
"Oh, iya! Maaf, maaf pak!" sahutnya malu. Ia berbalik arah sejenak untuk menyerahkan uangnya pada yang bersangkutan.
"Kakashi!" panggil Anko dengan penuh semangat membara. Kini ia bisa melesat dengan tenang dari kedai Dango tersebut.
Pria yang dipanggil tidak merespon. Hanya terus berjalan dengan tenang. Dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya.
"Kakashi! Kakashi, tunggu!" panggil Anko lagi dengan suara nyaring yang cukup mengganggu. Gadis itu berlari dan melesat cepat ke belakang Kakashi Hatake.
"Kau ini tuli ya? Kenapa tidak menghiraukanku?!" Anko langsung menghakimi Kakashi.
Pria itu masih diam, hanya meliriknya untuk sesaat. Anko mulai sedikit kesal karenanya. Gadis itu menghentikan langkah Kakashi dengan menahan salah satu lengannya.
"Ada apa Anko?" Kakashi kembali memutar bola matanya dengan malas, mencoba menatap Anko. Suaranyapun sudah terdengar malas. Seperti bukan Kakashi yang biasanya. Seperti bukan Kakashi yang dulu. Ada apa denganmu, Kakashi?
"Kau.. kenapa tidak menggubrisku?" suara Anko mulai dipelankan. Menjaga agar Kakashi yang sepertinya sedang bad mood tidak bertambah buruk perasaannya.
Tuan Hatake tertegun. Seperti baru saja menyadari sesuatu. Ditatapnya lekat gadis di sampingnya itu. Anko tidak seceria biasanya. Entahlah, mungkin karena sudah cukup lama ia tidak bertemu dengan gadis itu.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang malas" sahut Kakashi kemudian.
Apa? Malas? Malas untuk menghiraukanku? Batin Anko berkecamuk.
Seketika itu pula air wajah Anko berubah murung. Merasa sedikit kecewa. Dan Kakashi menyadarinya.
"Maaf Anko. Aku hanya sedang tidak enak hati. Dan belakangan…aku merasa sedikit kelelahan"
Sorot mata Anko perlahan mulai berubah. Ah, harapan itu memang selalu ada. Keajaiban yang diciptakan oleh setusuk dango.
"Oh ya? Tidak apa-apa kok Kakashi. Aku yang seharusnya minta maaf!" jawab Anko mulai kembali ceria.
"Ngomong-ngomong, kau mau pergi kemana?" Tanya gadis itu lagi. Semakin meng-ekspilisitkan kecerewetannya pada lelaki berambut putih keperakan itu. Dan hal itu tidak menarik minat Kakashi.
Beberapa detik berlalu. Barulah Kakashi menjawab.
"Aku hendak beristirahat" sahutnya pendek.
"Pulang kerumah?" tanya Anko lagi antusias.
"Tidak. Hanya mencari sebuah tempat yang nyaman untuk berbaring"
Anko terdiam. Diikutinya langkah Kakashi di sisi samping. Pria itu tidak berkomentar atas aksinya membuntuti dirinya. Sebenarnya di dalam hati Anko, bisa mengiringi Kakashi seperti ini adalah hal yang sangat membahagiakan. Maklum saja, dia sudah lama tidak bertemu pria itu. Tetapi berjalan berdua dalam keheningan seperti ini terasa agak sedikit berbeda. Ya, dulu tidak seperti ini. Dahulu obrolan mereka selalu terasa lebih bersahabat.
Tak seberapa lama kemudian sampailah mereka di sebuah sudut hutan. Hanya sebuah hutan kecil. Tidak berbahaya. Hanya sebuah tempat yang sunyi dan tenang. Tadi Kakashi bilang ia menginginkan tempat yang nyaman bukan? Tempat yang tenang adalah tempat yang nyaman bagi Kakashi.
Di bawah sebuah pohon besar dan rindang, mereka berhenti. Dan tanpa mengajak Anko, Kakashi berbaring. Naungan jutaan daun hijau tua yang bergemerisik merdu di atas mereka itu dengan sukses membuat Kakashi mulai mengantuk. Dan dengan berbantalkan kedua tangannya yang dilipat di bagian belakang kepalanya, lelaki kharismatik itu mulai memejamkan matanya. Menyisakan Anko yang merasa gundah karena terus tidak diajak bicara.
"Kau mengantuk, Kakashi?" Tanya Anko memberanikan diri memulai percakapan lagi. Terasa agak canggung. Seperti bukan berbicara kepada Kakashi, pikir gadis itu.
"Kau pikir mengapa aku berbaring seperti ini?" Kakashi menjawab pertanyaan Anko dengan pertanyaan pula.
Anko terdiam. Sepertinya Kakashi tidak ingin berbicara lebih lanjut dengan dirinya. Harga dirinya terasa sedikit terluka.
Hening. Rupanya Kakashi sudah tertidur.
Fuuh. Anko menghela nafas panjang. Disandarkannya tubuhnya pada batang pohon besar itu. Matanya tak henti untuk menatap jounin di dekatnya. Pria itu berbaring dengan nyaman, seolah hanya seorang diri dan tidak ada samasekali yang dapat mengganggu kenyamanannya tidur.
"Kakashi?" panggil Anko pelan. Sebuah percobaan untuk mengetes apakah Kakashi benar-benar sudah tertidur.
Tak ada jawaban. Yap. Lagi-lagi Anko menghela nafas panjang. Aku benar-benar tidak dihiraukan, batinnya sedih.
Matanya masih saja terus memperhatikan Kakashi. Kakashi yang lebih tua beberapa tahun darinya. Kakashi yang telah lama menjadi sahabatnya. Kakashi yang diam-diam selalu ia kagumi. Dan belakangan ia menyadari perasaan istimewa yang lahir dari kekagumannya itu, tak lain adalah cinta.
Meskipun tidak begitu digubris, Anko tetap bersyukur bisa berada di dekat Kakashi. Dan setelah sekian lama menatap wajah damai Kakashi yang tertidur, muncullah ide gila dalam benak Anko.
Tetapi tunggu, itu cukup beresiko! Dari yang ia dengar, tidak pernah ada yang sukses untuk berhasil melakukannya. Tidak ada satupun. Dan itu terdengar mengerikan. Seperti sesuatu yang sangat tidak mungkin untuk dilakukan.
Tetapi, apa salahnya dicoba? Ya, Anko memang nekat. Gadis itu memang pemberani. Karenanya tidak salah kalau ia kerap dekat dengan imej gadis ular, secara harafiah.
Anko mulai mendekat ke arah Kakashi. Lebih dekat. Dan lebih dekat lagi. Dengan gerakan yang sangat tidak terdengar. Begitu perlahan seakan sebutir debu dengan ukuran sangat mikro pun tidak akan bergeser karena pergerakan Anko.
Anko menelan ludah. Yang akan ia lakukan ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Apalagi dengan bad mood Kakashi yang tadi sudah ia cermati, bisa-bisa ia akan didepak dengan kasar oleh pria itu. Entahlah.
Ayo, beranikan dirimu Anko! Pekik gadis itu dalam hati untuk menyemangati dirinya. Tangan kanannya terasa sedikit gemetar karena gugup. Tetapi otaknya dengan cepat memerintahkan organ tubuh bagian luar itu untuk tidak menghasilkan getaran.
Sedikit lagi, batin gadis itu. Kira-kira, aksi apakah yang akan dilakukan gadis itu?
Sebuah tindakan kecil yang tidak berarti. Anko hanya ingin membuka topeng penutup wajah Kakashi. Hanya itu.
Hanya itu? Itu kan sesuatu yang lancang. Apalagi jika dilakukan tanpa permisi.
Jantung Anko hampir berhenti berdetak karena kegugupan yang ia ciptakan sendiri. Entah kenapa rasanya slow motion ini cukup menyiksa. Ingin berteriak rasanya 'sudah cukup hentikan!'.
Tap. Tepat ketika ujung jari telunjuk Anko menyentuh wajah bermasker Kakashi, dan saat itu pulalah Anko menyadari bahwa tangannya sudah ditahan oleh sebelah tangan Kakashi.
Anko langsung merasa lemas. Aksinya ketahuan.
"Kau mau apa, Anko?" Tanya Kakashi tenang. Kedua matanya masih terpejam, seolah sedang tidur dalam damai.
"Aah, Kakashi…. Tidak, aku hanya….." Anko menggantung ucapannya. Tangannya masih di posisi sama dengan sebelumnya. Anko pun merasa keki. Apalagi dengan sikap dingin Kakashi yang terasa sangat menusuk itu.
"Pergilah Anko, aku ingin tidur" perintah Kakashi sambil melepaskan genggamannya. Nada suara pria itu masih datar, sukses membuat Anko hilang rasa takutnya. Rasa takut untuk dihardik oleh Kakashi.
"Hmm. Baiklah" ucap Anko malas. Ia sedikit menjauhi tubuh Kakashi. Namun gadis itu tidak langsung menghilang.
"Tunggu apa lagi?" tagih Kakashi lagi masih dengan suara yang tenang.
"Iya, iya, aku tahu!" jawab Anko kesal sambil berjalan dengan malas. Meninggalkan Kakashi sendirian berbaring di bawah pohon.
"Aku diusir. Untung saja dengan sopan. Huuuh" gadis itu menggerutu dalam langkah gontainya.
G – a – g – a – l. Batinnya pasrah.
.
.
.
Malam hari. Hawanya cukup sejuk dan bisa membuat siapa saja bisa mengantuk dengan mudah. Namun tidak dengan Anko Mitarashi. Ia baru saja meminum bercangkir-cangkir kopi guna menjaga kedua matanya tetap fresh. Padahal ia memang mengantuk. Tapi bungkusan-bungkusan kopi instan yang tadi siang ia beli itu ternyata cukup berguna juga.
Anko sadar, beberapa hari yang lalu ia gagal total dalam usaha percobaannya melepas topeng Kakashi. Ia hanya sekedar ingin membuktikan apakah Kakashi itu memang tampan, itu saja, tidak lebih.
Dan malam ini, Anko ingin mencobanya lagi.
Gadis itu melirik jam tangannya. Sudah pukul sebelas malam tepat. Dan sekarang sudah cukup sepi. Ya, ia akan segera berangkat! Pergi menuju kediaman Kakashi yang damai. Ia akan mengadu nasibnya sekali lagi. Ia akan kembali nekat kali ini.
"Hmmm. Apakah sebaiknya aku ganti kostum saja?" gumamnya ragu. Ia lantas bergerak dan berjalan menuju lemari pakaiannya.
Kini disebelah tangannya menggenggam sebuah kain hitam. Anko lantas membukanya dari lipatannya yang rapi. Sebuah kostum ketat berwarna hitam. Lengkap dengan topeng kain yang juga hitam untuk dipakai di bagian wajah, dengan menyisakan empat lubang besar dibagian dua mata, hidung, dan mulut.
Sontak Anko membayangkan dirinya sedang memakai kostum aneh itu. Begitu tertutup, terlihat kejam dan mencurigakan. Bagaikan perampok kampungan yang suka mengambil paksa uang dari kasir berbagai minimarket.
"Tidak..tidak! Bisa-bisa Kakashi menghajarku, karena mengira aku penjahat!" gadis itu menggeleng-geleng tidak jelas. Lalu membuang baju itu ke sembarang arah.
Kini tangannya menemukan sesuatu yang lain lagi. Tak diragukan lagi, itu adalah kostum hijau ketat seperti yang digunakan Guy Maito beserta anak emasnya. Pakaian lentur berwarna hijau gelap yang khas, dan membuat pemakainya terlihat seksi. Seksi-seksi menjijikkan. Yah, kira-kira begitulah.
"Kenapa baju sial ini ada disini!?" pekiknya jengkel dengan rona wajah menunjukkan kejijikan. Rupanya Anko lupa bahwa dua hari yang lalu ia sempat salah mengambil bajunya dari laundry. Pakaiannya tertukar dengan milik Guy. Dan kini ia bisa memperkirakan bahwa pria berpenampilan aneh itu pasti belakangan sedang menangisi koleksi kostum payahnya yang hilang satu.
Setelah membongkar hampir seluruh isi lemari pakaiannya, Anko menyerah. Dalam desahan penuh keputus asaan ia memandang sekeliling. Melihat kamarnya yang kini berantakan.
Gadis itu duduk ditepi ranjang, mengingat sesuatu.
"Ah, andai waktu itu Yugao mau meminjamkan topeng Anbunya…." Ucapnya lemas. Masih begitu jelas, pernah ketika itu Anko mendatangi si cantik Yugao untuk meminjam topeng dan kostum Anbu milik gadis itu. Malang, bukannya mendapat sambutan manis, tetapi malah dimarahi serta menerima jotosan keras dari tangan Yugao Suzuki.
Anko sweatdrop meskipun hanya mengingatnya. Sepertinya gadis Anbu itu terlalu frustasi karena ditinggal Hayate, pikirnya.
Karena menyayangkan waktu yang terus berjalan, akhirnya Mitarashi memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri.
Tidak perlu memakai kostum yang macam-macam, yang penting itu –niat. Ucapnya sambil tersenyum bangga. Dan tanpa membereskan kamarnya yang mirip kapal pecah, gadis itu melesat dalam kecepatan kilat.
"Misi kali ini, Ke rumah Kakashi dan membuka topengnya! Hahaha!" tukasnya dengan konyol. Sementara tetangga sebelah lantas menanggapi kata-kata itu dengan sahutan "Berisiiik!".
.
.
.
Tik. Tik. Tik.
Bunyi jarum jam yang mengayun dengan gontai. Menjadi saksi dari sebuah peristiwa besar yang baru saja terjadi.
Kakashi mendelik, dahinya mengernyit. Pandangannya penuh dengan rasa jengkel. Kerisuhan ini benar-benar mengganggunya. Lagi-lagi, ia diganggu oleh Anko ketika hendak tidur.
Dipandanginya gadis bermantel cream yang terduduk di lantai itu. Gadis berambut gelap itu mengusap-usap kepalanya yang terasa agak sakit. Mulutnya pun tampak menggumamkan ekspresi kesakitan.
"Sebaiknya kau tidak menjadi penyusup seperti ini lagi, Anko!" Kakashi berucap dengan nada tegas. Ia baru saja-tanpa sengaja –memberikan siksaan kecil pada Anko. Gadis itu kembali hendak merusak privasinya di malam itu.
Kakashi tadi hendak pergi tidur. Ia sudah berbaring di atas kasur ketika muncul sebuah gangguan kecil yang sama seperti beberapa waktu lalu –Anko hendak membuka topengnya. Kali ini lebih parah, kunoichi itu nekat mencobanya di dalam rumah Kakashi! Dan Kakashi yang refleks –tanpa tahu bahwa itu Anko karena saking lelahnya di hari itu- melayangkan beberapa pukulan ringan. Cukup ringan untuk membuat Anko merasakan sedikit benjolan di atas kepalanya.
"Aduuuh…" desis gadis itu masih meratapi nasib kepalanya. Sakitnya hanya sedikit. Tetapi benjol. Ah, dia hanya malu mengakuinya kalau yang baru dia rasakan adalah benar-benar sakit. Benar kata Kakashi, ini memang penyiksaan.
"Kenapa lagi sih, Anko? Lagi-lagi kau –"
"Maaf! Aku minta maaf, Kakashi! Jangan marah padaku, ya?" potong Anko sambil tersenyum memelas yang ceria. Berharap Kakashi yang memang benar kelihatan lelah itu tidak menyiksanya lebih lanjut. Lebih tepatnya menyiksa batinnya dengan serangan kata-kata tajam.
Kakashi melengos. Gadis ini hampir membuatnya habis kesabaran. Kalau saja itu bukanlah Mitarashi Anko, andai saja itu Naruto atau Iruka, mungkin Kakashi tidak akan menahan diri seperti ini. Tetapi orang di hadapannya ini adalah Anko Mitarashi. Mitarashi Anko. Yah, sama saja.
"Kenapa kau sebegitu ngototnya…." Lanjut Kakashi menurunkan tinggi nada suaranya. Terdengar kembali santai seperti yang seharusnya.
Anko tersenyum sambil merasa bersalah. Memutuskan untuk diam dan membiarkan Kakashi melanjutkan kata-katanya.
"Kau hanya iseng?"tanya Kakashi dalam tebakan pertama.
Anko menggeleng cepat.
"Kau tidak punya hal lain lagi untuk dilakukan?"
Lagi-lagi Anko menggeleng. Kini wajahnya tampak sedikit polos seperti Hinata Hyuuga.
"Kau taruhan dengan yang lain, bahwa kau bisa melihat wajah dibalik topengku ini?!" tebak Kakashi lagi.
"Tentu saja tidak! Memangnya aku cewek apa'an! Terakhir taruhan cuma waktu ujian Chuunin!" sahut Anko dalam nada keki.
"Oh ya? Sama siapa?" Eh, Kakashi malah bertanya.
"Kurenai, Iruka dan Asuma!" jawab Anko cemberut.
Kakashi kini menghela nafas. Ia harus fokus pada penginterogasiannya saat ini.
"Lalu kenapa, Anko?"
"Apa hanya karena rasa penasaran?" tebak Kakashi lebih lanjut.
Anko terdiam. Lalu mengangguk pelan. Gadis itu kini sedikit tertunduk.
"Baiklah kalau begitu" Kakashi berucap dengan malas.
Apa maksudnya? Pikir Anko. Ia mendongak lagi menghadap ke arah wajah Kakashi.
"Bangun dari dudukmu!" perintah Kakashi. Anko menurutinya.
"Kau boleh melihat wajahku, Anko…" lanjut Hatake itu. Anko langsung memasang muka berbinar-binar.
"Tapi setelah itu kau harus menjadi babu untukku!" cetusnya.
Aura wajah ceria gadis itu pun memudar. "Tidak, aku tidak serius" ralat Kakashi kalem. Anko menghela nafas setelahnya.
"Lima detik" ucap Kakashi. Aku hanya akan memperlihatkan wajahku dalam waktu selama itu"
What? Ingin sekali rasanya Anko melonjak girang. Ia merasa sangat bahagia. Tidak, mungkin ialah orang yang paling bahagia dan beruntung di dunia ini. Kami-sama, ini adalah keajaiban!
Anko menatap Kakashi dengan penuh debaran di dadanya. Meskipun ia sudah terkena penyakit impian 'wajah tampan di balik topeng', ia tetap sangat penasaran dengan rupa asli jounin yang satu ini. Wajah tampan Kakashi yang selama ini hanya fatamorgana baginya dan hanya khayalan total di dalam pikirannya, kali ini akan segera terbuktikan.
Dalam lima detik, segalanya akan berubah drastis. Sebuah pembuktian. Apa benar Kakashi itu tampan? Jangan-jangan ia hanya MENGIRA Kakashi itu tampan.
Benar saja, dalam lima detik yang singkat itu, Anko bagaikan telah melihat surga. Sesuatu di dalam khayangan yang kini akhirnya dilihat oleh seorang manusia.
Wajah Kakashi memang benar-benar sempurna! Dan wajah gadis itu kini dipenuhi semburat merah yang menyatakan kekaguman. Anko tidak mampu berkata apa-apa lagi.
.
.
.
T B C
A/N:
Gomen jika humornya garing. Hihihi.
Arigatou buat pecinta KakaAnko yang masih setia bersama saya.
Karya abal ini memang sedikit tragis –mungkin tidak banyak yang mau baca.
Heheheh.
