A/N : Maafkan untuk update yang lama, mohon read n review yah, makasih banyak.
OH_13
Setibanya di rumah, Tifa langsung diberikan pertanyaan oleh Evelyn. Mulai dari kemana saja dia pergi, bagaimana dengan pestanya, bagaimana dengan teman-teman mainnya, dan tentunya... bagaimana dengan Rufus. Tifa menjawab satu persatu pertanyaan Ibunya dengan sabar, tetapi dia tidak memberitahu bahwa dia diajak jalan-jalan oleh Cloud. Sebagai gantinya, Tifa cukup mengatakan bahwa dia berjalan-jalan ke seisi hotel. Untungnya, Evelyn mudah saja percaya, atau mungkin lebih tepatnya... diperdaya. Suasana saat perjalanan pulang tidak jauh berbeda dengan saat pergi. Evelyn dan Myranda tetap mengobrol meski tidak seekstrim sebelumnya, sementara Rufus tetap diam bak patung. Sungguh membosankan dan bertolak belakang ketika dia tengah berjalan-jalan dengan Cloud.
Tetapi, itu kejadian kemarin. Kini hari sudah berganti dan tibalah saat Tifa mendukung tim Cloud bermain basket nanti. Untuk persiapan, dia bangun jam lima pagi, membantu Ibunya mempersiapkan buka toko, sarapan, mandi, ganti baju, dan... menunggu di depan rumahnya dengan kostum uniknya. Sebenarnya tidak 'unik' sekali sih, hanya seperti baju basket warka kuning yang dipadu dengan rok mini berwarna senada, lalu di punggungnya terdapat nomor '19'. Untuk alas kakinya, dia diberi sepatu boot putih yang tingginya sepergelangan kaki, dan ada tambahan sayap kecil mungil. Semua ini diberi Aerith di hari terakhir mereka latihan. Tidak lupa, ada sarung tangan pom-pom berwarna kuning keemasan yang tersimpan di tas selempangnya.
Tifa menatap jam tangan yang terpasang di tangan kirinya, sudah jam tujuh kurang. Jika Cloud adalah orang yang tepat waktu, seharusnya dia akan datang tidak lama lagi. Di dalam hatinya dia merasa agak gelisah. Dia bersama anggota lainnya memang sudah latihan keras beberapa hari terakhir, tetapi entah mengapa di dalam hatinya terdapat semacam rasa ragu. Memang benar kata orang, latihan dengan praktek nyata sungguh berbeda. Tifa hanya bisa berharap kalau dia bisa menari dengan baik setibanya di stadion nanti.
Derung motor mulai terdengar dari kejauhan, dan perlahan-lahan, sosok Cloud yang tengah mengendarai motor terlihat. Cloud terlihat agak berbeda dengan seragam basket yang dikenakannya. Di tubuhnya terdapat sebuah tas selempang hitam yang ukurannya agak besar, sementara kedua kakinya mengenakan sepasang sepatu olahraga besar berwarna putih. Tifa buru-buru merapikan kembali penampilannya, walau sebenarnya tidak ada yang berantakan.
"Hei," sapa Cloud. "Lama menunggu?"
Tifa menggelengkan kepalanya.
"Pertandingan mulai jam sembilan, dan sekarang masih jam tujuh," ucap Cloud yang melihat jam tangannya. "Pakailah ini."
Tifa menatap heran sampai ketika dia melihat Cloud mengeluarkan sebuah helm berwarna kuning, dan kemudian menyerahkan padanya.
"Aturan dasar jika kau naik motor," kata Cloud. "Pakailah, kita akan segera berangkat."
"Oh, baiklah."
Tifa mengenakan helm dan segera naik motor, dan kemudian, Cloud segera memacu dengan kecepatan tinggi.
Selama ini Tifa selalu menggunakan transportasi umum atau jalan kaki jika dia ingin pergi ke suatu tempat. Dan kini ketika dia naik motor, kesannya terasa berbeda meski mereka berdua melewati tempat yang itu-itu saja. Rasanya lebih tegang, karena Cloud bisa dibilang agak ngebut dalam membawa motornya. Apalagi ketika mereka melewati satu demi satu kendaraan, rasanya Tifa takut sekali jika Cloud ceroboh dan pada akhirnya mereka menabrak. Untungnya, Cloud dapat membawa motornya dengan baik. Sehingga yang Tifa lakukan hanyalah menutup kedua matanya agar dia tidak terlalu tegang. Dan meski malu, kedua tangan Tifa juga memeluk pinggang Cloud. Setiap dia merasa tegang, dia langsung mempererat pelukannya. Maklum, karena ini adalah pengalaman pertamanya naik motor.
Cloud yang ngebut ternyata dapat menghemat banyak sekali waktu. Entah sejak kapan, kini mereka berdua sudah tiba di lokasi pertandingan. Masih belum waktunya pertandingan untuk mulai, tetapi sudah ada banyak sekali orang yang mengantri, baik yang dari sekolah atau luar sekolah. Mereka membawa spanduk, poster, payung, atau apalah yang menjadi simbol dukungan bagi tim favorit mereka masing-masing. Bisa ditebak, situasi akan semakin memanas ketika tim pemandu sorak Tifa akan menari nanti.
Setelah memarkir motornya di lokasi yang tepat, Cloud dan Tifa berjalan menuju ruang khusus yang terletak tidak jauh dari pintu masuk. Kebetulan, pemain dan pemandu sorak berada di satu ruangan. Ruangan lain digunakan untuk menyimpan peralatan-peralatan yang dibutuhkan seperti pengeras suara. Sementara ruangan lain digunakan untuk ruang tunggu tim sekolah lain, yang juga adalah lawan dari sekolah mereka.
"Pertandingan sepertinya akan terasa ramai," kata Tifa sambil berjalan.
"Ya, aku sendiri juga tidak menyangka akan seramai ini."
"Rasanya aku tegang."
Cloud tersenyum. "Kan aku yang akan bertarung nanti."
"Kan kita berdua juga akan dilihat semua orang. Meski kebanyakan pasti akan fokus pada pertandingan."
Baru saja Cloud mau menjawab, tiba-tiba saja muncul seseorang dari arah depan. Rambutnya pendek berwarna cokelat muda, tinggi tubuhnya kira-kira sma dengan Cloud, atletis, dan mengenakan bandana berwarna merah di kepalanya. Baju basket yang dikenakannya juga berwarna merah, dan di belakangnya terdapat angka tujuh yang di atasnya terbordir nama 'Jonny'.
Yep, pria yang kini sudah berada di hadapan Cloud adalah Jonny. Saingan terberat Cloud dalam basket, yang selama ini pertandingan mereka selalu berakhir dengan hasil seri. Mereka berdua saling memberikan tatapan tajam, yang membuat Tifa heran serta takut di saat bersamaan. 'Apa yang mereka lakukan?', begitulah isi pikiran Tifa.
"Kau sudah siap untuk mengaku kalah, Strife?" tanya Jonny sambil memberikan senyum mengejek. "Kurasa hari ini bukan hari keberuntunganmu."
Cloud tidak menjawab.
"Kau akan rasakan nanti, aku sudah mempelajari pola permainanmu dan bagaimana cara melawannya balik. Dan aku juga mendapat banyak taktik baru dari pelatihku," lanjutnya, "kurasa, kali ini pertandingan akan berakhir dengan kekalahanmu."
Cloud masih tidak menjawab, dan kemudian pandangan Jonny beralih pada Tifa.
"Ah ... aku tidak tahu kalau kau sudah punya pacar," kata Jonny sambil berjalan mendekati Tifa. "Siapa namamu?"
"Hah? Tidak, aku..." jawab Tifa yang menundukkan kepalanya.
"Kau cantik juga, kenapa kau harus menjadi kekasihnya?"
Tifa sebenarnya ingin menjawab, namun entah mengapa dia merasa begitu takut. Sebelum Jonny membuat situasi menjadi lebih buruk, Cloud segera bergeser ke tengah-tengah mereka berdua.
"Cukup, Jonny. Lebih baik hentikan ocehanmu dan kita buktikan nanti di pertandingan. Dan jangan mengatakan hal omong kosong padanya."
"Omong kosong? hah!" jawab Jonny. "Baiklah, kalau kau bisa berkata begitu, akan kulihat performamu nanti. Akan kulihat apakah kau bisa mengalahkanku atau mungkin aku yang akan membuatmu terlihat seperti pecundang!"
Jonny pergi meninggalkan Cloud dan Tifa setelah menggumamkan 'cih' yang cukup keras. Tifa langsung bernapas lega, namun dia juga sangat kesal. Selain sombong, sepertinya orang yang bernama Jonny itu adalah seorang buaya darat, omong besar pula! Untunglah Tifa tidak satu sekolah dengannya, rasanya tidak sudi jika Tifa harus menari dan mendukung si Jonny itu. Lebih baik dia langsung keluar saja dari grup pemandu sorak.
Cloud tidak berkata apa-apa setelah dikata-katai dan diancam oleh Jonny. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tetapi ekspresinya berubah menjadi serius, sehingga Tifa sendiri juga tidak berani berkata apa-apa. Dalam diam, mereka berdua berjalan menuju ruang tunggu untuk peserta dari SMA Midgar. Di dalam, para anggota grup basket beserta pemandu sorak sedang mengobrol santai. Tifa dapat melihat Aerith yang tengah merapikan rambutnya, sementara Cloud dapat melihat Zack yang tengah melakukan dribble. Lagi-lagi tanpa bicara, Cloud meninggalkan Tifa dan bergabung dengan timnya. Membuat Tifa juga tidak ada pilihan lain selain bergabung dengan tim pemandu soraknya.
"Hai Tifa!" sapa Aerith. "Untung kau tidak terlambat, Cloud yang mengantarmu ya?"
Tifa menganggukkan kepalanya.
"Hm? Ada apa denganmu? Sepertinya kau tidak bersemangat," tanya Aerith sambil mendekati Tifa. "Apa kau bertengkar dengan Cloud?"
"Eh? Bukan itu masalahnya, mengapa juga aku bertengkar dengan dia?"
Aerith memiringkan kepalanya sebagai ganti pertanyaan 'lalu?'.
"Tadi aku dan Cloud bertemu dengan seseorang yang bernama Jonny," kata Tifa sambil duduk di kursi di belakangnya. "Harus kuakui, dia menyebalkan sekali."
"Jonny memang seperti itu," jawab Aerith yang duduk di sebelah Tifa. "Sewaktu Zack masih menjadi tim basket sekolah dan Jonny masih junior, omong besarnya sudah kelihatan."
Tifa menaikkan sebelah alisnya.
"Percaya atau tidak, itulah kenyataannya," bisik Aerith. "Oh ya, lebih baik sekarang kuperbaiki penampilanmu. Tetapi ... sepertinya itu tidak perlu, ya? Kau sudah sangat cantik."
"Ah, kau bisa saja."
"Benar kok, tinggal tambah ini."
Aerith mengeluarkan sekuntum kelopak bunga tulip kuning dan menyelipkannya di telinga kanan Tifa.
"Sempurna," bisik Aerith.
"Kau ini apa-apaan, sih? Ampun deh."
"Jangan dilepas!" kata Aerith. "Dan bukan hanya kau, tetapi yang lain juga akan mengenakan bunga itu saat tampil nanti."
Tifa menghela napas. "Baiklah, aku mengerti."
Setelah berkata begitu, Tifa tidak mempedulikan Aerith yang tertawa dan menatap Cloud yang tegah berbicara dengan Zack. Ekspresinya masih sama dengan tadi, terlihat begitu serius. Zack terlihat terus menyemangatinya, tetapi sepertinya usahanya belum berhasil membuat Cloud menyunggingkan sedikit senyum. Di dalam ahtinya, Tifa berharap semoga Cloud bisa melupakan kejadian tadi dan mengalahkan tim Jonny di pertandingan nanti, semoga!
"Oh, kita harus gladi resik sebentar lagi," kata Aerith. "Kau siap?"
Tifa menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
...
Waktu terus berlalu, dan kini tinggal menunggu waktu hingga pertandingan akan dimulai. Tim basket Cloud dan tim pemandu sorak Tifa sudah berada di lapangan dalam. Dapat terlihat dengan jelas, para penonton sudah padat memenuhi seluruh stadium. Dan mereka semakin ramai lagi ketika melihat tim basket dan tim pemandu sorak yang berjalan masuk. Tifa merasa begitu gugup dan deg-degan, seumur-umur baru kali ini dia dilihat begitu banyak orang. Tetapi hal itu sepertinya tidak berlaku bagi anggota lain. Mereka tampak tenang dan terus tersenyum, sambil bersiap-siap pada posisinya masing-masing. Ah, Tifa nyaris lupa kalau mereka akan menari sebentar lagi. Kini mereka sudah berada dalam formasi berbentuk bintang. Tifa menghembuskan napas sambil meregangkan tubuhnya.
Tidak lama setelahnya, musik dimainkan. Musik yang merupakan remix atau gabungan dari beberapa judul musik. Tifa sedikit terkejut, namun dia akhirnya tersenyum dan mulai menari. Tatapan penonton serta sorak sorai mereka nyaris membuat Tifa salah menari, bahkan ada juga yang bersiul dengan sangat keras padanya, butuh usaha keras bagi Tifa untuk tidak mempedulikan semua itu. Untung saja, Aerith menyadari kegelisahan Tifa dan langsung berpindah posisi ke depan Tifa untuk menutupinya. Tifa langsung membisikkan kata 'terima kasih'.
Empat menit yang melelahkan akhirnya berakhir, setelah melakukan finishing style, tim pemandu sorak SMA Midgar memberikan hormat dan berjalan menuju pinggir lapangan. Tifa sungguh merasa kelelahan, keringatnya keluar begitu banyak sampai-sampai bajunya menempel pada tubuhnya. Tifa melangkah lebih cepat dari yang lain dan langsung duduk di kursi, di sana Tifa menyandarkan punggungnya sambil mengatur napas. Tidak disangka kalau menari empat menit bisa lebih melelahkan dari membantu Ibunya beres-beres toko yang bisa memakan waktu satu sampai dua jam. Untuk selanjutnya, mungkin dia harus berlatih untuk meningkatkan stamina.
Selagi Tifa masih mengatur napasnya, tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu yang dingin di pipi kirinya. Sontak, dia langsung kaget dan menghindar. Reaksi Tifa membuat Aerith tertawa, dan ternyata yang barusan menempel di pipi Tifa adalah sebuah minuman dingin.
"Kau dapat melakukannya dengan baik," kata Aerith. "Bagus sekali."
"Terima kasih, tapi aku masih payah kalau mengenai stamina."
Setelah berkata begitu, kini giliran tim pemandu sorak sekolah lawan yang beraksi. Berkebalikan dengan mereka, tim lawan mengenakan kostum yang didominasi oleh warna hitam. Tarian yang mereka perlihatkan tidak kalah hebatnya dengan tim Tifa, bahkan tarian mereka malah terlihat lebih ... ekstrim? Yah, sepertinya memang begitu. Karena ada saat-saat dimana beberapa anggota melakukan split secara bersamaan, sementara anggota yang tersisa membuat formasi menara. Agak mengerikan dan mengkhawatirkan melihatnya, tetapi untungnya mereka berhasil. Rasanya tidak bisa dibayangkan kalau mereka gagal dan satu persatu dari mereka terjatuh, oh ... pasti sakit sekali.
Penampilan tim pemandu sorak dari masing-masing sekolah berakhir sudah, para penonton sepertinya sudah dibuat cukup 'panas'. Dan kini, saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu pertandingan basket. Riuh penonton semakin keras ketika melihat kedua tim basket berjalan memasuki lapangan. Tifa dapat melihat Cloud berada di posisi paling depan, sementara dari tim lawan, yang berada di posisi paling depan adalah ... Jonny. Tifa langsung memasang ekspresi jijik ketika melihat wajah Jonny yang tersenyum licik dan menatap Cloud. Kalau saja sarung tangan pom-pom miliknya sekeras bola basket, pasti sarung itu akan langsung dia lempar langsung ke wajahnya.
Tidak lama kemudian, jarak Jonny dan Cloud hanyalah tinggal beberapa sentimeter. Mereka berdua saling bertatapan dan tidak teralih sedikitpun. Sampai-sampai nyaris tidak mempedulikan wasit yang berada di tengah-tengah sambil memegang bola. Bahkan ketika wasit membacakan aturan, mereka juga sepertinya tidak mendengarkan.
"Yak, pertandingan akan mulai dalam hitungan tiga, dua..." kata wasit sambil mengarahkan bola basket ke langit-langit. "Satu!"
Bola dilemparkan, dan ketika bola itu turun, Cloud serta Jonny segera melompat untuk meraih bola itu. Dan yang berhasil meraihnya terlebih dahulu adalah ... Cloud. Ya, Cloud berhasil menguasai keadaan lebih dulu! Tifa yang tadinya duduk langsung berdiri agar bisa melihat Cloud lebih jelas. Baru kali ini dia melihat Cloud bermain, dan harus diakui olehnya bahwa gerakan Cloud sangat lincah. Sambil melakukan dribble, Cloud dapat berlari menerobos lawan-lawannya tanpa menemui banyak kesulitan. Hal ini tentu saja membuat Tifa dan yang lainnya semakin senang dan tegang, apalagi ketika melihat Cloud yang sudah hampir mencapai ring basketball. Kesempatan terakhir untuk mencetak angka.
Tetapi sayang, kesenangan mereka harus terhenti ketika melihat sosok Jonny yang mendadak muncul di hadapan Cloud. Gerakannya yang begitu cepat membuat Cloud tidak sempat mengamatinya, dan dengan sekali ayunan tangan kanan Jonny, bola basket itu berhasil direbut dari Cloud. Seketika, ekspresi wajah Cloud dan Tifa langsung berubah menjadi panik. 'Sial, padahal tinggal sedikit lagi', begitulah pikir Tifa.
Jonny memiliki kecepatan yang sama atau bahkan melebihi Cloud. Sama seperti dirinya, Jonny dapat melewati tim-tim lawannya dengan mudah, sementara Cloud sendiri terus berusaha untuk mengejarnya. Dan ketika jarak di antara mereka sudah dekat, Cloud segera meregangkan tangan kanannya untuk meraih kembali bola basket itu. sambil berharap dalam hati, semoga saja dia akan berhasil. Dan lagi, teman-teman tim basket Cloud juga ikut menghampiri Jonny.
Namun sayangnya, usaha Cloud dan yang lainnya gagal. Karena pada akhirnya, Jonny berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Yang juga berarti dua angka untuk timnya. Tifa langsung menutup wajahnya sebagai tanda kecewa, sementara Zack yang berada di ujung kursi berteriak 'ah' pelan. Rasanya tidak percaya kalau Cloud yang hebat permainannya masih dapat ditembus. Para penonton serta tim pendukung lawan juga memperdengarkan teriakan mereka dan terlihat jelas bahwa mereka menjadi lebih panas daripada sebelumnya.
Berbeda dengan Zack dan Tifa, Cloud tidak mau membuang-buang waktu untuk kaget dan kecewa. Ketika bola turun, Cloud segera merebut bola itu dan berlari dengan cepat ke ring lawan. Dia tidak menghiraukan senyum mengejek Jonny yang barusan ditunjukkan padanya dan lebih memilih untuk mengembalikan keadaan, dan sepertinya usahanya kali ini lebih membuahkan hasil dibanding sebelumnya. Seperti sebelumnya, Cloud mampu berlari dengan cepat dan melakukan dribble tanpa kesalahan sedikit pun, benteng yang dibuat oleh tim musuh juga seolah bukan apa-apa baginya. Jonny tentunya juga mengikuti Cloud, dan sebelum Jonny merebut bolanya lagi, Cloud segera melompat sambil bersiap untuk melempar bolanya. Namun di saat bersamaan, Jonny juga ikut melompat tepat di samping Cloud, bahkan tangan kanannya hendak meraih bola itu. Menyadari bahwa keadaan ini membahayakan, tangan kanan Cloud segera melemparkan bola itu. Dan hasilnya... bola itu masuk!
Wajah Tifa langsung berubah cerah, dan dia tidak ragu-ragu untuk berteriak kegirangan sambil melompat-lompat. Tidak disangka, ternyata Aerith juga berdiri di sampingnya daritadi, mereka berdua melakukan hal yang sama. Selain mereka berdua, Zack dan pendukung tim SMA Midgar juga memperdengarkan teriakan kebahagiaan mereka.
Babak pertama tanpa disadari sudah berakhir, dan kini adalah waktu istirahat, kedudukan sementara adalah 2-2. Cloud yang paling berperan besar menyumbangkan nilai terlihat begitu kelelahan. Tanpa disuruh atau diminta, Tifa mengambil selembar handuk kecil dan sebotol air mineral dingin, lalu dia berjalan ke arah Cloud.
"Ini," kata Tifa. "Kau sudah berjuang keras, aku sempat tegang waktu Jonny berhasil mencetak angka."
"Terima kasih, tenanglah, aku tidak akan membiarkannya. Setidaknya, tidak semudah itu."
Tifa tersenyum. "Aku tahu, aku percaya padamu kalau kau pasti bisa."
Mendengar itu, Cloud balas menatap Tifa dan dia juga ikut tersenyum. "Semudah itu kau percaya padaku? Bukannya kau baru hari ini melihatku bermain?"
"Memang betul, tetapi kau akan andalan sekolah. Bahkan tanpa menyaksikan lebih jauh, aku tahu kalau kau adalah pemain yang handal."
"Kau terlalu menganggap tinggi aku," jawab Cloud yang setelahnya meminum seteguk air dingin dari botol. "Tadi saja aku gagal menghalangi Jonny memasukan angka."
"Tidak apa, aku yakin kau bisa mengembalikkan keadaan nanti," kata Tifa sambil menepuk pundak Cloud. "Bagiku, yang penting kau dan seluruh tim sudah berusaha keras."
"Sayangnya Zack mengharapkan lebih dari 'berusaha keras', dia selalu ingin tim kita menang."
Tifa menggumamkan 'ah' tanpa suara, dan kemudian dia melanjutkan perkataannya lagi. "Kurasa dia tidak serius mengatakan itu, ya kan?"
Cloud hanya menjawab asal-asalan dan kemudian meminum minumannya seteguk lagi. Tidak lama setelahnya, terdengar suara pluit dari wasit sebagai tanda bahwa babak kedua akan segera dimulai.
"Sudah mau mulai?" tanya Tifa.
"Ya, begitulah," kata Cloud sambil memberikan botol minuman kembali pada Tifa. "Sekali lagi, terima kasih, Tifa."
Tifa menerima kembali handuk dan botol minum yang tadi diberikannya, dan kemudian dia menatap punggung Cloud yang perlahan-lahan menjauh. Mengingat-ingat perkataannya tadi, rasanya aneh juga mengapa dirinya bisa begitu perhatian pada Cloud. Apakah hanya karena dia kakak kelasnya dan anggota tim basket sekolahnya? Sepertinya tidak sesimpel itu alasannya.
Ketika Tifa berjalan kembali ke tempat duduknya bersama tim pemandu sorak, babak kedua sudah dimulai kembali. Tifa menaruh handuk dan botol minuman kembali ke dalam tas, dan ketika Tifa mengalihkan perhatiannya kembali ke pertandingan, dia mendengar suara cekikikan dari samping. Yang tidak lain berasal dari Aerith dan anggota tim pemandu sorak lainnya.
"Ada apa? Kenapa kalian tertawa?" tanya Tifa.
"Sepertinya kau dan Cloud semakin akrab ya?" bisik Aerith. "Kurasa akan ada akhir yang baik untuk kalian."
Mendengar itu, muka Tifa langsung memerah. Sampai-sampai dia tidak mampu untuk menjawab perkataan Aerith dan memaksakan dirinya untuk kembali fokus ke pertandingan.
Namun, alangkah kagetnya Tifa. Karena justru yang dilihat Tifa adalah sosok Cloud yang terbaring di lapangan sambil memegangi lengan kanannya. Wajahnya terlihat kesakitan.
Mohon isi kotak review di bawah ya, makasih hehehe.
